Bleach (c) Tite Kubo

With Or Without You

Part #3

.


.

Whitesoul Palace, sebuah istana dengan dominasi warna putih terlihat megah di kelilingi area pertamanan. Tembok-tembok kokoh dan tinggi memagari bangunan tersebut sehingga tak seorangpun mampu memandang ke dalam lingkungan istana.

Matahari terik perlahan beranjak naik dengan kepulan-kepulan awan putih berlabuh di langit. Aura mencengkam begitu terasa di sebuah ruang pribadi Kaisar. Seorang lelaki tua renta berumur tujuh puluh tahunanan dengan janggut putih sedang bertukar pandang dengan seorang lelaki yang lebih muda beberapa puluh tahun darinya.

Seperti ada petir di siang bolong, keduanya masih saling membisu. Si pria tua memaku mata pada si pria muda tanpa ampun. Ia menatap ganas pada putra sulungnya, mengingat-ingat kebodohan masa lalu yang berakibat sampai sekarang. Tidak perlu bersikap hormat pada putra sendiri, sekalipun sang putra adalah kepala Negara yang membuat beribu rakyat harus tunduk untuknya.

Sepulang dari kediaman keluarga Kurosaki, mereka tidak menemukan siapapun di sana. Yang didapatkan hanya selembar foto keluarga yang tergeletak di atas meja. Kedua orang itu mengenal orang di dalam foto. Isshin dan Masaki bersama dua anak perempuan juga seorang anak laki-laki.

Selain itu sebuah memo tertulis di belakang foto.


Sahabatku, Sousuke Aizen. Lama tidak bertemu. Aku senang kau bisa menemukanku. Kau mencariku hingga ke pelosok negeri dan sudut dunia, padahal aku berada di kota yang sama denganmu. Dasar bodoh, kukira setelah jadi tua kau bisa sedikit pintar. Sekarang aku benar-benar pergi, sayangnya tanpa adikmu. Aku meninggalkannya di Karakura, entah sekarang ia ada dimana. Sebaiknya cari dia sebelum terjadi sesuatu padanya. Kutinggalkan foto ini agar kau tahu seperti apa adikmu sekarang. Ia tumbuh menjadi seseorang yang lebih tampan darimu, bukan? Sahabat yang mencintaimu, Kurosaki Isshin.

P.S. Oh iya, apa kau masih suka menggigiti kuku jarimu? :P


"Dia benar-benar," rutuknya dengan gigi begemulutukan.

"Semua ini gara-gara kau, Aizen!"

Sang kaisar bergidik ketika menyadari ada uap-uap emosi berterbangan di atas ubun-ubun ayahnya.

"Ayah," sesalnya dengan gugup.

"Kalau saja kau tidak menjadikan adikmu sebagai taruhan bermain shogi! Kalau saja kau pintar dan tidak dibodohi Isshin! Semua ini tidak akan terjadi!"

"Cuma karena patah hati ditolak Masaki, kau dengan bodohnya menyerahkan Ichigo untuk mereka? Oh Tuhan! Betapa bodohnya kaisar negeri ini!"

Dengan senyum meringis, Aizen mencoba berpaling dari semburan sang ayah. Menyesal di kemudian hari memang tidak berguna. Sekarang mereka harus kembali ke titik nol lagi, mencari Ichigo. Negeri ini memang kecil, tetapi tetap saja semua membutuhkan waktu.

.


Dulu saat berusia dua puluh empat tahun, Aizen muda sebagai calon kaisar bermain shogi dengan sahabat baiknya Isshin. Tanpa pikir panjang karena kesal sang pujaan hati—Masaki, lebih tertarik dengan Isshin daripada dirinya, jadilah kedua sahabat itu bertaruh.

"Kalau kau menang, aku akan menolak perasaan Masaki dan menyerahkannya untukmu. Tapi bagaimana kalau aku yang menang? Apa yang akan kau pertaruhkan?"

"Jabatanku sebagai kaisar, apa kau mau?"

Ledakan tawa Isshin bergemah, "Bagaimana mungkin! Aku tidak mau menjadi kaisar, lagipula hal seperti itu tidak bisa diserahkan dengan seenak jidatmu, bodoh!"

Aizen berkerut dahi, meski tidak terima sebutan bodoh untuknya, ia tetap mengutuki Isshin hanya dalam hati demi wibawa. "Katakan saja apa yang kau inginkan?"

Mata Isshin melirik pada sosok bocah kecil berusia tiga tahun yang tengah bermain bersama pengasuh-pengasuhnya. Dengan jahilnya Isshin berkata pelan, "Kalau aku menang, kau harus memberikan adikmu untukku."

Sontak Aizen memelototi Isshin yang memasang senyum sumringah.

"Kau tidak berani, kan?" ujar Isshin sambil menyentuh-nyentuh lubah hidungnya, "Karena kau yakin akan kalah."

"Baik! Aku setuju!"

Pertarungan shogi pun dimulai dengan mempertaruhkan orang-orang yang berharga bagi keduanya. Dan hasil akhir dari pertarungan ini, tentu saja sudah bisa diketahui.

.


.

Kurosaki Family. Rumah ini sudah kosong. Aku tidak bisa menemukan ayah, Yuzu dan Karin dimana-mana. Ketika kutanya Takugawa-san, tetangga kami, ia mengatakan kalau mereka sudah pindah sejak kemarin. Ia sempat heran kenapa aku masih di sini dan menanyakan hal itu, tetapi aku meninggalkannya begitu saja. Aku berjalan dengan kepala tertunduk, kepalaku berat dan beban di bahuku seakan bertambah.

Aku tinggalkan rumahku yang dulu itu dengan perasaan yang berkecamuk. Pikiranku terus-menerus terkekang dengan pertanyaan yang sama, mengenai alasan keluargaku mengusirku dari rumah.

.

Sesampainya di pasar, aku mememilih berdiri di sebelah Rukia yang sibuk berjualan. Ia tampak menatapku khawatir, tapi tidak terlalu kupedulikan apapun yang tengah ia khawatirkan padaku.

"Jeruk, jeruk, jeruk~"

Kuperhatikan Rukia yang berteriak-teriak mencoba menawarkan buah segarnya. Menyebalkan, ini semua membuat otakku lelah. Sungguh sial. Aku tidak tahu, tapi saat Rukia menjual jeruk-jeruknya dengan suara lantang, kenapa aku jadi tersinggung seperti ini.

"Hei, Rukia. Kau bisa Bahasa Inggris tidak?"

"Bahasa Inggris…"

"Bisa kau ganti ganti kata 'jeruk' dengan kata 'orange' saja?"

"Tidak mau," cepat-cepat gadis itu menggeleng. "Aku mungkin mengerti, tapi belum tentu semua orang-orang di pasar ini mengerti."

Ghrrr, sialan. Aku berdiri di sebelah Rukia, tidak ada kerjaan yang harus kulakukan. Kuamati jeruk-jeruk yang tertata di atas lapak yang kami bentangkan di atas meja jual. Bersih dan mengkilat, hoho tentu saja, karena semua itu aku yang membersihkannya.

"Berapa jeruknya, Nona?"

"Satu kilo, empat belas ribu."

Akhirnya ada juga pembeli yang mampir. Seorang ibu muda tengah menggenggam jemari anak laki-lakinya yang berumur tujuh tahun.

"Ibuuu, aku mau jeruk yang itu!" anak kecil tersebut dengan polosnya menunjuk-nunjuk ke arah rambutku dengan senyum mengejek sambil merengek-rengek.

Muncul lipatan-lipatan sempurna di dahiku ketika anak kecil itu mengganti rengekkannya dengan tawa renyah. "Wah! Kepala kakak memang seperti jeruk ya," dia tertawa-tawa sehingga membuat orang-orang pasar memperhatikan keberadaanku yang tengah menyimpan marah.

.

Usai menjajakan buah-buah, kami duduk beristirahat. Hal itu lebih pantas untuk Rukia karena aku tidak melakukan apa-apa seharian ini. Ia membujurkan kaki di bawah atap ruko pasar berlindung dari panas matahari. Sudah hampir memasuki musim panas, pantas saja suhu udara naik beberapa derajat dibandingkan hari-hari sebelumnya.

"Kalau kau ingin jeruk, ambil saja."

Tawarnya tanpa melihatku. Ia tampak tidak nyaman karena sejak tadi kuperhatikan. "Aku tidak suka jeruk."

"Ne, kenapa kau tidak suka dirimu sendiri?"

"A… apa…"

Rukia tertawa pelan mendengar geramanku. Si beruang salju ini suka sekali mempermainkanku!

"Rukia, Rukia, Rukia, Rukia!"

Kali ini terdengar teriakan, berulang-ulang seorang anak lelaki berambut putih berlari ka arah kami, lebih tepatnya ia menghampiri Rukia sembari membawa sebuah kantung hitam.

"Ini makan siangmu," ia menyodorkan kantung hitam tersebut pada Rukia.

"Terima kasih, Shiro."

Dengan patuh anak yang dipanggil Shiro mengangguk, mata hijaunya menatapku tajam. "Siapa orang ini?" tanyanya dengan suara menakutkan, seperti pria yang tengah memergoki pacarnya berselingkuh. Yah, persis seperti itu.

"Namaku Kulochaki Ichigo," tantangku seraya menyebutkan nama.

"Kuperingatkan saja ya Kulochaki, Rukia itu punyaku. Kau jangan coba-coba merebutnya."

Dasar anak kecil. Sontak Rukia membekap mulut anak laki-laki yang lebih pendek beberapa senti meter darinya. Pipinya bersemu seraya menatapku untuk meminta maaf. Anak itu yang salah, kenapa dia yang harus minta maaf. Aku mengibaskan tangan, memaklumi omong kosong si anak kecil berambut putih itu.

Aku mana mungkin punya minat pada perempuan seperti si beruang salju. Masih banyak pilihan lain di luar sana yang jauh lebih menarik darinya. "Tenang saja, aku tidak berminat dengan perempuan seperti Rukia," ujarku sejujur mungkin. Pandanganku mencari-cari perempuan cantik yang berkeliaran di pasar, "Nah itu dia! Tipe kesukaanku yang seperti itu tuh."

Kutunjuk pada mereka dua orang wanita cantik berbadan sintal dengan dandanan manis, juga berbusana santun yang tengah memilih bunga-bunga di sebuah toko bunga.

Shiro kembali tenang, ia seakan menghembuskan napas lega lalu berbalik memandangi Rukia. Seketika sikapnya berubah sopan di depan Rukia, ia menunduk memberi salam kemudian berlalu pergi.

Setelah ditinggal pergi Shiro, Rukia membuka isi kantung lalu mengeluarkan dua bungkus bekal makan siang. Ia memberikan yang satunya padaku, sementara yang lainnya ia buka untuk segera dimakan sendiri. Aku berterima kasih, sembari duduk di sebelahnya untuk mengisi perutku yang memang sudah lapar sejak tadi.

Nasi putih dengan telur dadar di atasnya menjadi santapan kami.

Di sela-sela kegiatan santap menyantap, kami kembali mengobrol. Rukia bilang bahwa Shiro sudah ia anggap seperti adik sendiri, bicaranya memang tajam tapi anak itu sebenarnya baik hati. Ia selalu memesan makan siang pada ibu Shiro dan membayarnya di akhir bulan. Ia sudah berlangganan sejak lama dengan ibu Shiro, dan Shiro lah yang rajin mengantarkan makan siang ini untuknya.

"Kau suka yang mana, Ichigo? Yang berambut kuning atau hijau?"

Tiba-tiba Rukia membahas tentang dua perempuan cantik yang kutunjukkan pada Shiro tadi. Seorang wanita berkulit eksotis dengan rambut pirang potongan pendek, meski tampak lebih dewasa dariku, namun ia terlihat seksi sekali. Sedangkan yang satu lagi, perempuan muda berambut hijau berukuran panjang, ia juga seksi dan lebih segar tentunya.

"Yang hijau," jawabku cuek.

"Kalau kau mau, biar kukenalkan dia padamu."

"Kau mengenal mereka?"

Rukia mengangguk antusias, "Si pemilik toko bunga itu temanku. Dan perempuan itu setiap hari suka membeli bunga-bunga segar di sana. Aku bisa meminta Urahara-san mengenalkannya padamu."

Niat sekali dia. Aku memang tertarik, tapi kurasa tidak perlu seserius itu Rukia.

"Tidak perlu. Aku bukan orang yang suka mengejar-ngejar para gadis. Aku ini contoh spesies pria yang dikejar-kejar para gadis."

Sambil menghabiskan makanannya, Rukia hanya mengidikkan bahu sebagai balasan dari ucapanku.


.

Sore mulai menjelang. Rukia tampak enggan untuk pulang, karena jeruk-jeruknya belum semuanya terjual. Meskipun begitu kami tetap membereskan semua jeruk untuk dimasukkan kembali ke dalam karung. Kelopak matanya terlihat begitu lelah saat memandangi jeruk-jeruknya.

.

Sampai di stasiun kami menunggu di bangku seperti yang dilakukan oleh calon penumpang lainnya yang berharap kereta cepat datang.

Aku merasa haus sekali. Sebelum kereta datang, aku mencari mesin minuman untuk membeli jus. Meninggalkan Rukia yang duduk bersabar di bangku stasiun.

Pilihan bagus. Strawberry juice. Kupikir Rukia sudah terlalu puas memakan jeruk, jadi kupilih rasa stoberi saja untuknya sedangkan aku sendiri sekaleng cokelat hangat. Mesin minuman kutinggalkan dengan membawa dua buah minuman untuk kami berdua. Petugas bilang kereta akan datang pukul tujuh malam. Syukurlah… kami tidak perlu menunggu kereta sampai besok pagi.

Bayangan pria berambut biru berkelebat di depanku. Dia berjalan tergesa-gesa kemudian frekuensinya berubah lebih cepat. Bukankah, dia… Aku melihat Rukia berlari mengejar sambil terus menjeritkan sebuah nama.

"Grimmjow! Kembalikan uangku!"

Orang itu lagi. Segera kususul Rukia dan dengan mudah aku sudah mampu menggapai lengannya.

"Kau tunggu di sini saja," kuserahkan dua minuman tadi pada Rukia kemudian segera berlari menjauh. Biar aku saja yang mengejar preman sialan itu!

Warna biru kian menusuk-menusuk indera penglihatanku. Sepertinya itu akan jadi warna yang kubenci. Kulewati kerumununan manusia yang hilir mudik di jalan raya, berlari menyusuri trotoar jalan yang seakan-akan tak ada ujungnya. Menangkap si kakak tak tahu malu lalu menghajarnya.

Keringatku sudah bercucuran di sekujur tubuh. Bajuku basah kuyup, napasku mulai tersengal-sengal setelah sekian puluh menit mengejar namun belum terkejar. Lari kami sama-sama cepat, dan kami sama-sama tidak mau berhenti hanya untuk melepas lelah.


"Berhenti kau preman sialan!"

Grimmjow mulai kewalahan, kakinya sudah letih untuk terus berlari seperti buronan. Lelaki asing, teman adiknya itu tidak mau menyerah memburu dirinya. Uang yang ia dapatkan susah payah dari Rukia harus ia pertahankan demi idola kesayangannya.

Terserah! Apapun yang dunia katakan, ia harus bisa membeli album Girls Generation yang katanya sih, limited edition. Harganya pun mahal. Upah yang akan ia terima hanya bisa diambil di akhir bulan, dan ketika meminta Rukia untuk mau meminjamkan uang padanya, adiknya itu selalu menolak dan marah-marah tidak jelas. Padahal dia kan hanya berhutang, setelah upah didapat ia pasti akan membayar.

Namun Grimmjow tidak menyadari kalau sudah tiga kali ia mengambil paksa uang Rukia, namun hingga sekarang ia belum mengembalikan uang-uang itu sepeserpun. Belum lagi termasuk kasus pencurian uang tabungan sang ayah.

Dia menggenggam erat-erat tas ransel kecil keabuan tersebut, ketika mata birunya memandang resah tembok gang di depannya. Jalan buntu! Ia tidak bisa memanjat karena terlalu tinggi, sementara itu si pria berambut jingga sudah berada di belakang.

"Tertangkap kau," desis Ichigo sembari mengatur napasnya yang nyaris hilang.

"Kau ini pacar adikku ya?"

Mereka sama-sama dalam mode mencari asupan udara. Dada kedua pria keren itu naik-turun mengatur napas. Ichigo menggigit bibir bawahnya saking merasa geram dengan wujud pria berandalan di depannya yang bertanya dengan wajah tak bersalah.

"Bukan urusanmu. Sebaiknya kau kembalikan uang Rukia."

"Hei, kita bisa membaginya kalau kau mau."

Bruk.

Ichigo melepas pukulan tepat di rahang Grimmjow. Ia mengganti pukulannya dengan tendangan hingga menyebabkan tubuh kakak Rukia itu terpelanting membentur tembok di belakangnya. Segera Ichigo merebut kembali tas kecil bergambar kelinci tersebut dari tangan Grimmjow yang tengah menyeka luka di sudut bibir.

"Tidak tahu malu. Seharusnya kau melindungi adikmu, bukan malah menyulitkannya seperti ini."

Diabaikannya senyum sinis Grimmjow, Ichigo berbalik pergi. Namun langkahnya kembali ditahan, "Ayolah teman, aku membutuhkan uang itu."

Bruk.

Kali ini Grimmjow yang melayangkan pukulan hingga mengenai hidung Ichigo. Sontak darah pun mengucur. Kembali Ichigo membalas dengan menendang perut Grimmjow, dan perkelahian tidak bisa dielakkan lagi. Keduanya tidak mau mengalah demi mempertahankan diri.

Dengan kekuatan penuh Ichigo mengepalkan tangan kemudian meninju hidung Grimmjow. Tak sempat mengelak, Grimmjow lagi-lagi tersungkur. Ia segera bangkit lalu dengan cepat menendang dada Ichigo, Ichigo sendiri tidak mampu menghindar dan punggungnya terbentur di tembok.

Grimmjow tersenyum mengejek. Dia mendekati Ichigo sembari terus memukuli pipi Ichigo, beruntung di pukulan ke tiga Ichigo berhasil menunduk menghindari pukulan beruntun tersebut. Grimmjow meringis kesakitan karena pukulannya tidak mengenai kepala Ichigo, tetapi mengenai tembok di belakang kepala Ichigo.

Kesempatan itu segera diambil Ichigo. Ia berpindah hingga dirinya sudah berada di belakang punggung Grimmjow, kemudian menendang lelaki berambut biru itu dan mendorong kepala Grimmjow agar tertempel di tembok. Selanjutnya dengan leluasa Ichigo membekuk pergelangan tangan Grimmjow, berusaha sekuat tenaga mengunci pergerakan.

Sayangnya, mereka sama-sama kuat. Saat dengan gesit Grimmjow menggerakkan kaki-kaki panjangnya hingga mengenai lutut si lawan, Ichigo pun lengah, tangannya kembali dipelintir Grimmjow. Keadaan pun berbalik. Walau begitu, kedua orang itu masih punya taktik bertarung, sehingga perkelahian belum bisa diselesaikan dengan mudah.

Setelah menit berlalu, Ichigo dan Grimmjow sudah babak belur.

Akhirnya mereka kelelahan. Ichigo terduduk bersandar di tembok sembari terus merebut oksigen. Sementara itu, Grimmjow terkapar di jalan dengan tubuh terlentang, napasnya memburu kepayahan.

"Ambillah uang itu. Kuharap ini terakhir kalinya kau mengganggu adikmu."

Grimmjow terkekeh, "Kau ini memang sedang ingin berkelahi ya. Setelah babak belur begitu, kau justru menyia-nyiakan uangnya."

"Kubilang ini untuk terakhir kalinya, sialan!"

Ichigo berniat berdiri, tubuhnya sempoyongan berusaha bangkit menahan rasa sakit di sekujur tubuh.

"Untuk uang ini, kuberi satu rahasia padamu tentang Rukia."

Ichigo menangkap keseriusan Grimmjow melalui ekor mata, "Aku tidak butuh rahasianya."

"Kalian ini berpacaran, kan?"

Seraya menghela napas, Ichigo menggelengkan kepala lemah. Ia sudah pegal meladeni Grimmjow.

"Kami berdua bukan saudara kandung. Rukia itu sebenarnya… Putri dari Perdana Menteri negeri ini."

Seperti yang dulu sering dilakukan sang ayah padanya, Ichigo mengikuti kebiasaan Isshin dengan melepaskan satu sepatunya kemudian—tluk! Alas kaki tersebut tepat mengenai wajah tampan Grimmjow.

"Kau kira aku akan percaya! Dan aku bukan pacarnya Rukia, preman sialan!"

Anjing-anjing di sekitar mereka melolong seiring pekikan Ichigo. Bulan purnama mendadak muncul dan setan-setan sepertinya bergegas pergi setelah menikmati pertarungan kedua pria itu.


Rukia tertunduk lemah. Matanya sayu memandang cemas jam dinding stasiun yang hampir menunjukkan pukul delapan. Sebentar lagi kereta terakhir akan datang dan Ichigo belum juga kembali.

Tak beberapa lama dipikirkan, yang ditunggu pun datang. Ichigo menyeret langkah, punggungnya terbungkuk menahan nyeri di perut. Sedangkan tangan kanannya menahan darah yang masih berbercak di hidung.

Ichigo meringis menahan sakit, ketika Rukia terburu-buru menyentuh luka di sudut bibir dan pipinya.

"Kau berkelahi dengannya?"

"Sudah tahu, masih bertanya."

Dengan napas tercekat, Rukia berniat marah namun ia tidak sempat melakukannya, karena kereta keburu datang. Sebenarnya ia berterima kasih pada Grimmjow yang mau menjadi lawannya malam ini, ia memang sedang kesal, melepaskan kemarahan dengan berkelahi berhasil membuat pikirannya tenang.

Keluarganya sudah pergi entah kemana, meninggalkan dirinya terkatung-katung di jalan sekalut ini. Mengusir tanpa berusaha mencari keberadaannya. Fakta bahwa ia memang dibuang tanpa mengetahui penyebab yang jelas, terang saja Ichigo sangat ingin menghajar siapapun yang menantangnya. Dan Grimmjow ternyata lawan yang setimpal.


Bersambung


.

Apa ini bisa dibilang update kilat, Sakura Yuki-san? Saya senang kamu masih meluangkan waktu untuk fiksi ini. Terima kasih juga untuk Plovercrest, senpai yang baik hati sekali. Chappy dan Guest (berkeberatankah dirimu memberi nama untuk meriviuw di fiksi ini?) terima kasih sudah hadir dan membaca, saya menyadari fiksi ini belum layak menerima komentar panjang dari kalian. Tapi sungguh, saya menghargainya :D