Chapter 2.
Kim Taehyung itu bangsat.
Bayangkan hingga pukul tiga pagi suara erangan itu masih saja terdengar hingga lantai dua!
Jungkook tak habis pikir jika ia menikahi seorang hiper sex seperti Taehyung. Kadang kala Jungkook berpikir, usia pernikahannya yang baru memasuki satu bulan dan sudah lebih dari sepuluh jalang yang di bawa Taehyung kerumah.
Jungkook kadang menyumpahi Taehyung untuk mengebirinya agar tak membawa jalang-jalang murahan itu di rumahnya. Tapi Jungkook masih sadar batasan amarahnya.
Pukul delapan pagi, dan Jungkook masih setia bergelung dengan selimut bergambar ironman miliknya.
Memang ada bagusnya jika kau bekerja di perusahaan milikmu sendiri, karena yeah, kau bisa mengambil cuti beberapa hari lebih lama setelah pernikahan.
Namun suara alarm sialan yang Jungkook lupa setel ulang membuat Rabu paginya tidak sesuai ekspektasi; bergelung selimut hingga malam tiba.
Tangan Jungkook merambat, meraba-raba meja nakas dan menekan tombol agar suara alarm miliknya tidak berdering lagi. Ia membuka selimutnya, menampakkan wajah dengan kantung mata tebal dan— oh, jangan lupa muka kucel serta rambut berantakannya.
Jeon Jungkook pada pagi hari benar-benar mirip dengan hantu di film Ju-On.
Ia berjalan gontai kearah kamar mandi, menatap sekilas wajahnya yang benar-benar mirip setan di kaca wastafel sebelum membuka pakaiannya dan membersihkan diri.
Setelah bersih-bersih —Termasuk kamarnya juga— Jungkook menuruni tangga, berjalan ke arah dapur untuk sekedar membuat roti panggang dengan selai nanas di atasnya.
Jungkook menatap sekeliling, tak ada kehadiran Taehyung.
Jungkook pikir, Taehyung sudah pergi bekerja pagi-pagi sekali, namun suara pintu terbuka seolah menampik seluruh hipotensi Jungkook.
"Pagi." Jungkook berucap malas, memilih menghabiskan rotinya dan segera pergi menyerahkan desain-desain terbaru untuk pameran bulan depan kepada Meme-nya.
"Aku tidak pulang malam ini, ada urusan kantor." Taehyung berucap tanpa menoleh sedikitpun pada Jungkook. Mengambil cangkir kopi dan mengisinya lalu membawa kembali ke kamarnya.
Kala pintu kamar Taehyung tertutup, Jungkook memekik kecil.
"Yes! Tidak ada erangan malam ini!" ia mengepalkan tinjunya keudara, tersenyum senang karena tak akan ada lagi jalang yang pria bodoh itu bawa.
Buru-buru Jungkook mengambil ponsel di sakunya,
Jeon Jungkook.
Ingin main malam ini? 09.45am
Aku kosong :p 09.46am
Jungkook menggigit sisi lain dari roti bakarnya, sekedar menunggu balasan SMS sang kekasih.
Beloved Prince
Ingin menggoda? 09.52am
Baiklah, aku akan pulang awal. 09.53am
Kau yang minta sayang, jangan salahkan aku jika... Ya, kau tau 'kan? 09.55am
Jungkook terkikik geli melihat balasan dari kekasihnya. Sudah lama sejak terakhir kali Jungkook bermain dengan Mingyu, pernikahan yang tidak di rencanakan ini benar-benar menyiksa Jungkook.
Jeon Jungkook.
Ay ay captain! 09.58am
Jungkook beranjak dari dapur, ia sedikit mendengus kala bau sperma masih sedikit tercium mengingat posisi dapur yang dekat dengan ruang tamu.
—No Promises—
Kantor milik memenya tampak lenggang pagi ini, mungkin akibat dari pameran busana di paris kemarin. Jungkook berjalan ke arah resepsionis dengan sebuah map berwarna biru yang ia tenteng.
"Meme ada?" resepsionis tersebut tampak membolak-balik beberapa halaman buku di hadapannya, sedikit mengernyit sebelum mendongakkan kepala menghadap Jungkook. "Ibu sepertinya sedang keluar, kata ibu jika tuan datang membawa desain baju, suruh memberikan kepada saya."
Jungkook hanya mengangguk sekilas, menyerahkan map biru yang berisi gambaran-gambaran baju yang ia buat musim dingin lalu.
BRAKK!
Jungkook terjengat, hampir saja menjatuhkan lembaran-lembaran desain jika saja sang resepsionis tak sigap menangkapnya.
Ia menoleh ke asal suara, menatap sengit kearah pemuda berjas dengan beberapa pengawalnya yang memegangi seorang lelaki parubaya dengan darah yang merembes di dahinya.
Sontak mata Jungkook membelalak menyaksikan kejadian tersebut. Buru-buru ia menaruh map birunya dan berlari ke asal suara, "Tuan jangan—"
Teriakan sang resepsionis pun tak Jungkook hiraukan, yang ia inginkan adalah menendang wajah songong yang kini menatap jijik ke lelaki parubaya tersebut.
"Bajingan! Kalian pikir ini gang sempit apa?! main adu jotos seenaknya aja!" Jungkook berteriak, menepis tangan pengawal sang pemuda berjas yang semula memegangi kedua tangan bapak yang kini duduk bersandar di loker.
"Oy, mas, ini kantor Meme saya. Jaga attitude dong kalau mau bertamu kesini, jangan seenaknya main pukul-pukul karyawan saya. Kalau misal karyawan saya masuk rumah sakit, tidak ada yang menggantikan, mas mau perusahaan Meme saya rugi?!"
Jungkook berkata menggebu-gebu, jari telunjuknya menunjuk-nunjuk ke arah pemuda berjas yang kini melepaskan kacamata hitamnya lalu menyimpannya ke saku jasnya. "Bukan urusan saya dong, saya disini cuma suruhan, disuruh menghabisi tikus got sialan ini."
Pemuda tersebut menunjuk ke arah bapak-bapak yang tadi menjadi bulan-bulanan mereka. "Tikus got? Mas tidak lihat jika dia ini manusia? Mata mas tuli ya, sampai tidak tahu tikus got mana dan manusia mana!"
Jungkook mengggeram, meremat tangannya di hadapan sang pemuda berjas akibat amarah yang telah meluap-luap, namun di balas cekikikan oleh pengawal sang pemuda di belakangnya.
"T1, bilang pada kantor pusat kita sudah menemukan tikus gotnya. Tapi seorang wanita sok tahu malah membela bajingan tersebut." lelaki itu berkata pada pengawalnya dengan melirik Jungkook pada bagian 'wanita sok tahu'.
"Wanita katamu?!"
"Baik, tuan." pengawal tersebut mengeluarkan walki-talki dari celananya, sedikit berbisik yang membuat Jungkook menggeritkan gigi.
"Nah, Nyo— maksud saya, Tuan sok tahu, kami belum selesai soal ini. Jadi lain kali, jangan mengganggu pekerjaan kami jika anda tidak mau di ganggu."
Pemuda tersebut merapikan jasnya, memakai kaca mata hitamnya kembali dan berlalu pergi meninggalkan gedung utama.
Jungkook membantu pria parubaya yang sedari tadi duduk bersandar di loker untuk berdiri, menuntunnya menuju ruang kesehatan yang tidak jauh dari tempat kejadian.
Selepas dokter menangani pria tersebut, Jungkook dengan sigap menunggu hingga selesai, sampai dokter muda tersebut keluar, Jungkook baru masuk ke dalam ruang kesehatan.
"Bapak kenal orang-orang tadi?" Jungkook membuka suara, nada suaranya benar-benar mengintimidasi. Tersirat rasa ketakutan di mata pria tersebut, giginya bergemeletuk ketakutan, tangannya bergetar dan pandangannya seakan waswas dengan keadaan sekitar.
"Saya minta maaf tuan. Saya minta maaf. Saya tidak tahu jika akhirnya akan seperti ini. Saya minta maaf, tapi tolong jangan keluarkan saya dari sini."
Pria tersebut tiba-tiba memohon dengan suara kerasnya, menarik-narik kemeja maron yang digunakan Jungkook. Menangis dengan kedua tangan yang seolah meminta pengampunan membuat Jungkook tambah penasaran akan masalah orang-orang tadi.
"Katakan siapa—" Jungkook meremat pundak pria tersebut, "—orang-orang tersebut."
Jungkook menatap tajam keiris pria tersebut, menjadikannya semakin ketakutan.
"Mereka—"
BRAKK!
Pintu ruang kesehatan terbuka, menampilkan pengawal pemuda berjas sebelumnya namun kini dalam jumlah yang lebih banyak.
"Maaf tuan, namun pria ini harus kami bawa." pengawal yang berwajah meras berbicara, menyelonong masuk diikuti petugas lainnya. "Hey! Dia karyawanku, kalian harus meminta ijin dulu padaku!"
Jungkook berteriak nyaring namun tak di gubris, mereka menuntun pria parubaya tersebut hingga keluar ruang kesehatan, menyisakan satu pengawal yang tadi berbicara pertama. "Saya disuruh oleh bos saya, jadi tidak perlu ijin anda jika ada karyawan bajingan seperti dia. Terimakasih, semoga hari anda baik-baik saja."
Pengawal tersebut membungkukkan badan, berlalu pergi dengan setelan hitamnya.
"Jungkook?"
—No Promises—
"Meme kenapa membiarkan orang seperti mereka masuk sih?" Jungkook menggerutu, —setelah di panggil untuk mengikuti ibunya ke kantor—
"Mereka orang baik, nak." Sang ibu menyesap kopi yang di berikan oleh pelayan beberapa menit lalu. Mengintip Jungkook dari atas cangkir yang ia minum, menatap putranya yang sepertinya tidak senang akan jawaban dari Memenya. "Meme tidak lihat? Mereka membawa karyawan Meme setelah memukulnya hingga babak belur."
"Ini namanya kekerasan." Jungkook mengehela napas panjang, menyender ke sofa dengan tangan yang memijat pelipisnya. "Dia jahat nak, Meme sudah tahu dari awal. Meme sudah memberinya kesempatan untuk tidak melaporkannya pada pihak yang berwenang namun ia tetap saja bertindak jahat."
Jungkook sontak menegakkan badannya dari senderan sofa, dahinya mengernyit tanda bingung. "Orang jahat?"
Ibu Jungkook tersenyum penuh arti pada putranya, seolah mengatakan 'anak kecil tidak boleh tahu,' pada Jungkook.
"Nanti kamu tahu sendiri, nak."
—No Promises—
hey hoyy gimana gimana? mianek tida ada moment pikuknya wehe ;-;
dan buat yang nebak pacarnya Jungkook itu Mingyu, selamet deh.
aku pingin buat kayak jadwal updatenya gitu, kayak seminggu sekali upnya. soalnya kalau aku up sebulan sekali, kadang feelnya ndak kerasa nanti ;-;
jadi doain bakal fast update yeu (3)
rnr juseyooo terimakasih.
formyv-
