Disclamer by: Masashi Kishimoto

but this story is mine.

*#*

*#*

*#*

Warning!: typos, OOC, EYD tidak baku, AU dan sebagainya. Pokoknya masih belum sempurna.

*Cupid*

*Cupid*

*Cupid*

Happy Reading!!!

*#*

*#*

*#*

Cupid

@••@

@••@

@••@

Hinata sudah putus dari Naruto Uzumaki sejak lama dan enggan memulai hubungan lagi sejak saat itu. Tetapi sebuah bisikan lirih yang ia dengar membuat hidup dan ideologinya berubah sejak saat itu.

/"Apa itu karena aku mirip seseorang yang kau benci sekaligus cinta?"/"Jatuh cinta lah pada orang yang tepat."/"Aku?!"/"Kau?!"/"A... Siapa, ya...? Aku tidak mengenalmu, nona. Maaf,"

#*#

#*#

#*#

Sebelumnya di Cupid...

'HA-LO!!!'

"Si-siapa kau?"

'Aah... Aku seorang dewa. Keturunan Mars dan Venus.'

"Ti-tidak mungkin…"

"S-S-Sakura… A-aku bisa jelaskan—"

"Jelaskan apa?"

"Namaku—"

"Namanya adalah Boruto! Boruto Hyuuga!" potong Hinata. Boruto mengernyit lalu mengangguk. Boleh juga…. Begitu pikirnya.

"Sebagai tanda maafku, bagaimana kalau kita makan ramen?"

"Ramen?"

"Makanan. Nanti kau juga pasti tahu.

*Cupid*

*Cupid*

*Cupid*

Slurup

"Fuwah!!! Oishi…" Boruto berucap puas sambil geleng-geleng takzim. Hinata menatap Boruto dengan tatapan datar. Dewa juga bisa bersikap konyol, ya? Begitu tanya Hinata dalam hati. Sakura tertawa renyah ketika melihat Boruto makan dengan sangat lahap.

"Apakah di sana tidak ada makanan enak?" Tanya Sakura sambil menahan nada geli.

"Ada, sih. Tapi menurutku tidak seenak ramen!" Boruto hendak mengusap kuah ramen di sekitar bibirnya dengan lengan baju, namun ditahan Hinata.

"Jangan bersikap bodoh di Konoha atau kau bisa dibodohi oleh orang asing." Nasihat Hinata sambil mengambil tisu dan mengusap kuah ramen di bibir Boruto. Seperti seorang ibu, tetapi tertutup oleh sikap ketusnya.

"Wah… Aku tertegun melihat kalian. Lebih cocok jadi ibu-anak daripada sepupu." Komentar Sakura. Hinata menatap sengit Boruto lalu melepas tangan Boruto yang ia tahan.

"Tidak sudi."

Boruto mengernyit tidak suka, "Memangnya kamu saja yang tidak sudi? Aku lebih tidak sudi!"

Sakura hanya diam, lebih senang memperhatikan mereka beradu argumen dibanding menengahi. Mereka terlihat sangat lucu.

"Bisakah kamu tidak memancingku?"

"Kamu duluan yang me—" Boruto terdiam, saat manik shapirrenya melihat seorang gadis sebayanya bersama seorang laki-laki. Ia menelan ludah. Mati aku.

"Boruto?" Sakura melihat sesuatu yang tidak beres, ikut menatap sesuatu yang membuat Boruto membisu. "Hei, bukankah itu teman satu kuliah kita dulu, Hinata?" Sakura menunjuk seorang pria berkulit tan sedang celingak-celinguk mencari bangku kosong.

Hinata melirik, lalu kembali sibuk makan misonya yang belum habis, "Jangan ajak dia ke sini, Sakura. Aku sedang badmood." Gumam Hinata datar, sementara Boruto menunduk dalam.

"Oh, ayolah, aku tidak pernah reuni kecil-kecilan dengan satupun teman kuliah kita. Hei, Naruto Uzumaki!!!" pekik Sakura, membuat pria dan gadis di sampingnya menoleh.

Sakura memberi isyarat untuk mendekat sambil menunjuk dua bangku kosong di meja mereka. Naruto menghampirinya namun sejenak agak terkejut. Entah karena melihat Hinata atau Boruto, pastinya Naruto sangat terkejut. Gadis di sampingnya tak kalah terkejut.

"Kau?!" gadis itu menunjuk Boruto marah. Ketiga manusia dewasa di sana agak heran. Boruto terjengit kaget lalu spontan mendongak.

"A… Siapa, ya…? Aku tidak mengenalmu, nona. Maaf,"

"Beraninya bicara seperti itu padaku! Akan kulaporkan pada Ibunda, agar panah dan busurmu dibakar!!!" pekik gadis itu berapi-api membuat yang ada di sana menelan ludah susah payah.

'Kau pikir untuk apa kamu diturunkan ke bumi, hah?! Cepat selesaikan tugasmu atau ratingmu terus-menerus turun!'

'Tu-tunggu dulu, kau tidak lihat gadis di sampingku? Dia Hinata Hyuuga! Ini termasuk rencanaku untuk menjadikan mereka bersatu! Ini tidak semudah yang kau bayangkan, saudariku yang cantik…'

Mereka berdua bercakap melalui telepati, tanpa mengubah ekspresi mereka yang berbeda. Gadis itu terpejam lalu melipat tangan seraya mengetuk sepatunya diatas lantai.

'Oke, jadi kita impas. Kau awasi Hinata Hyuuga, sementara aku akan mengawasi Naruto Uzumaki. Awas saja jika kamu berleha-leha lagi! Kupotong jari-jari kesayanganmu agar tidak bisa menarik panah!'

Boruto mengangguk kaku sambil menyembunyikan jemarinya. Gadis itu melengoskan wajahnya. Naruto yang melihat mereka jadi tidak nyaman.

"Ano… Maafkan aku… Perkenalkan, ini saudari jauhku, Himawari Uzumaki." Naruto menggaruk tengkuknya kikuk. Himawari mengubah wajah judesnya menjadi wajah manis.

"Salam kenal, onee-chan…"

"I-iya…" balas Hinata dan Sakura bebarengan dengan gugup melihat perubahan drastis ekspresi Himawari.

"Ng… Bolehkah kami bergabung dengan kalian?" Tanya Naruto seraya tersenyum lima jari. Hinata memalingkan wajah, enggan menjawab.

"Oh, tentu saja boleh."

Naruto dan Himawari pun duduk dan setelah pelayan datang menanyakan pesanan, mereka pesan makanan dan suasana kembali hening.

"Mhh… Omong-omong, Naruto, Hinata, sepupu-sepupu kalian terlihat mirip. Ganjil sekali menurutku—maksudku… jika sepupu itu mirip dengan kalian masing-masing, itu sama sekali tidak masalah, tetapi ini justru Himawari mirip Hinata, dan Boruto mirip dengan Naruto. Aku baru menyadarinya." Komentar Sakura lagi sambil mengangkat sebelah alis. "Oh, dan tadi reaksi Himawari dan Boruto seperti orang yang sudah kenal sejak lama. Aku semakin curiga dengan hal ini."

Hinata melirik Naruto yang balas meliriknya. Saling melempar pertanyaan lewat tatapan meski akhirnya hanya gelengan sebagai jawaban mereka.

"Etto, onee-chan… aku sudah mengira bahwa ini akan jadi kesalahpahaman, dan biar aku menjelaskan. Sebenarnya rambutku ini bewarna pirang, karena aku keturunan Eropa sama seperti Naru-nii, tetapi karena aku gugup untuk tinggal di Jepang yang mayoritas berambut gelap, aku mewarnainya jadi indigo." Jelas Himawari membuat Sakura ber-oh ria. Naruto menghela napas lega. Maafkan aku, dewa Zeus… Ayah… Ibu… Tapi ini tuntutan wujud manusiaku… hiks…

"Ano… sebenarnya, aku dan Himawari itu kawan bermain sejak kecil dan saat kami kebetulan bertemu di sini, Himawari sepertinya merajuk. Ha ha ha…" Boruto menjelaskan tidak jelas, namun Sakura menerimanya begitu saja, karena tidak ingin memperpanjang masalah.

"Oke… Mari kita rayakan dengan semangkuk ramen lagi!!!"

--Cupid—

--Cupid—

--Cupid—

"Kenapa kamu mengikutiku?" Hinata berujar datar sambil tetap berjalan. Boruto mengangkat kedua alisnya, menatap punggung kecil berlapis mantel tebal berwarna lotus tersebut.

"Kita, kan memang serumah, sepupu…" ucap Boruto usil lantas mensejajarkan langkahnya dengan kaki kecil Hinata.

Hinata mendelik, tetap memberikan deathglare andalannya meski harus mendongak. "Tidak sudi."

"Ayolah… Kau tega membiarkan pemuda tampan sepertiku menjadi seperti dia?" Boruto menunjuk seorang tunawisma yang sedang mengorek tempat sampah.

Hinata mengerutkan alisnya jengkel, "Aku tidak peduli. Kau dewa. Lakukanlah sesukamu."

"Aku memang dewa, tapi aku tidak bisa sesuka hati berlaku seenaknya jika dalam wujud manusia. Ayolah, aku tahu kau hidup sendiri sementara keluargamu ada di luar kota." Bujuk Boruto. Hal ini ia lakukan guna mengawasi dan menjalankan rencananya sebagai biro jodoh.

Gadis bersurai indigo itu menghela napas, memalingkan wajah dari raut memelas Boruto yang sebenarnya sangat imut. "Terserah kau sajalah…. Aku sedang tidak ingin debat."

"Harusnya kau katakan itu sejak tadi!!!" pekik Boruto gemas. Apa semua gadis bersikap membingungkan?!

--Cupid—

--Cupid—

--Cupid—

Pria berambut pirang itu sibuk dengan ponsel yang ia genggam, mengabaikan keadaan bis yang sepi. Sebuah foto digital terlihat pada layarnya. Seorang gadis cantik dengan tatapan tajamnya dan senyum manis yang terulas membuat pria itu sulit untuk memalingkan wajah.

"Sudah kubilang jangan memperhatikan foto wanita lain!" Himawari memperingati sambil merebut ponsel Naruto. Naruto hendak mengambil ponselnya, tetapi ia urungkan. Dasar dewi kecil menyebalkan!

"Siapa elo siapa gue?" ucap Naruto datar sambil menyandarkan kepalanya pada jendela, enggan menatap Himawari. Gadis dengan rambut pendek berwarna indigo di sampingnya mendengus lalu menghapus foto-foto wanita yang sekiranya menghalangi pekerjaannya.

"Kalian sudah ditakdirkan bersama. Benang merah sudah menghubungkan kalian sejak dulu dan itu tidak bisa kau elak lagi! Mengerti?! Belajarlah jadi lelaki sejati!"

Naruto menoleh cepat lalu mentap Himawari kesal, "Takdir bisa diubah! Dan aku sendiri yang akan mengubahnya. Akulah yang bertanggung jawab atas hidupku, gadis kecil!"

"Aku seorang dewi! Dasar tidak sopan!" Himawari meninju perut Naruto, membuat pria itu mengaduh kesakitan. Tenaga gadis itu tidak bisa diremehkan.

Sekitar mereka memperhatikan dengan heran. Mereka ini sepasang kekasih atau orangtua dan anak?

"Jangan berlagak sok playboy. Aku tahu kamu masih mencintai Hinata Hyuuga." Ujar Himawari sambil memainkan ponsel Naruto seenaknya. Naruto menatap Himawari.

"Aku? CLBK? Norak!"

Himawari balas menatap Naruto tajam, "Aku tidak paham dengan manusia. Hanya karena ego, bisa semudah itu memutuskan janji yang mengikat kalian. Benang merah itu mahal! Sekali kalian terikat, jika benang itu putus, maka satu kebahagiaan kalian akan hilang."

"Memangnya tahu apa kami tentang benang merah dan siapa ujung dari benang merah kami? Itu bukan salah kami sebagai manusia yang tidak tahu apa-apa. Dan aku tidak suka diatur-atur. Ini keputusanku." Jawab Naruto hendak membungkam Himawari.

Tapi bukan Himawari namanya jika hanya diam menunduk, "Kau boleh saja menggunakan logika dalam mengambil keputusan, tapi kau juga tidak bisa mengabaikan kata hatimu sendiri, Naruto Uzumaki."

Naruto mendesah berat. "Kubilang tidak mau, ya tidak mau!" ucap Naruto mutlak. "Kalau kau memaksaku lagi, aku takkan membiarkanmu menginap di apartemenku!"

Himawari mengunci mulutnya. Yah… jika sudah begini, dia tidak bisa membalas.

--Cupid—

--Cupid—

--Cupid—

"Akhirnya sampai di rumah!" seru Boruto senang sambil berlari menuju sofa empuk yang ada. Hinata mendengus geli lalu menutup pintu apartemennya.

"Berubahlah menjadi anak kecil. Aku risih melihatmu dengan wujud dewasa."

"Siap, Dewiku…" rayu Boruto sambil menjentikkan jarinya.

Bwofff

"Hinata, aku mau tidur!" Boruto berbadan kecil berseru semangat. Hinata yang melihat penampilan imut Boruto menjadi gemas sendiri. Dewa yang paling imut dan menyebalkan sekaligus.

Hinata mencubit pipi tembam merona milik Boruto. "Baiklah, Boru-chan. Ayo tidur bersama Nee-chan!"

"Yeii!!!"

--Cupid—

--Cupid—

--Cupid—

TBC