Hajimemashite, Minna…

Watashiwa ~ Ruki ~ desu


Disclaimer : Taito Kubo

Warning : OOC, AU-Canon, Typo(s)

Pairing : IchiRuki

Rate : M


Gemerisik hujan sudah tak terdengar lagi untuk mengisi ruang di kedua telinganya. Bahkan semilir angin dingin yang mengiringi derasnya hujan pun tak mampu dirasakannya lagi. Salahkan pada debaran itu, karena sebuah tubuh tangguh telah bersanding menjadi tameng rasa yang begitu bergejolak dalam hatinya. Ichigo... memeluk erat putri bangsawan muda di hadapannya.

Tidak harus bersikap gugup, atau pun ragu seperti yang sebelumnya ia pertahankan. Ia berhasil berubah.

"Selamat datang, aku sudah menunggumu."


HARI-HARI SURGA

== Ruki ==

Chapter 3


Naungan hangat tubuh si sulung Kurosaki membuat bibir sang wanita kelu untuk sekedar bertutur, "apa-apaan kau memelukku!" sekenanya si bangsawan Kuchiki pasti mengatakan seruan itu—dulu, karena tak semudah menguratkan dahi, tubuh chibi Rukia tak sembarang orang bisa merengkuhnya.

Sudah lumrah, seorang Kuchiki paling anti dimanja oleh perhatian minor dari si Kurosaki. Dulu kala, saat Ichigo mengkhawatirkan wanita itu yang hampir sekarat, atau gagal melindungi si wanita dalam pertempuran, ataupula di kala si pemilik tubuh jakung itu menatap Rukia nanar atas ketidakbecusannya menjaga—pasti si wanita menolak mentah-mentah perhatian setulus itu. Tak khayal, seruan debat gono-gini selalu menghiasi perhatian ikhlas dari si tampan Kurosaki Ichigo.

Tidak terbantahkan. Sebenarnya Rukia lah yang tak sanggup menyembunyikan kalut kabut dilema dalam hatinya. Satu hal yang diyakini selalu oleh wanita bersurai lurus itu, seorang shinigami tak pantas mendapatkan cinta dari makhluk sefana Ichigo.

"Kau... tidak ingin membalas pelukanku?" pintanya agar tak termanifestasi sebagai tindakan bertepuk sebelah tangan—rupa-rupanya Ichigo kurang tulus.

Wah, wah. Nyatanya wanita berpotret putri kekaisaran jepang itu mampu luluh lantah hanya dengan satu perlakuan—dipeluk Ichigo—di kala langit mulai berhenti menangis, menyisakan sentuhan bulir-bulir air lembut di sepanjang penampang kulit mereka. Keduanya masih terpancang akan deburan jantung yang terkecap begitu jelas melemaskan titik saraf kenormalan pada ritme nada dag-dig-dug tak beraturannya.

Mungkin bumbu-bumbu rindu telah mengharamkan ritual kebiasaan lama. Padahal akal sehat mereka selalu berikrar, "pelukan itu hanya untuk orang lemah. Jika salah satu dari kami terlihat pilu, lebih baik saling menggoda saja."

Sunggingan senyum terukir paten pada bibir si rahang tegas pemilik julukan shinigami daiko saat tak ada respon yang berarti pada si lawan bicara—yang ternyata bisu dadakan, atau tuli pula.

Baiklah, dengan arif Ichigo melepas kungkungan bahu lebarnya. Sejenak kecewa juga dengan lenyapnya rasa hangat, nyaman dan lembut itu—sisi depan wanita memang sangat lezat jika didempet rapat-rapat, itulah pikir Ichigo.

Tidak ada semburat merah, sebab Kuchiki Rukia paling mahir dalam bersandiwara. "He—hey! Kenapa kau tiba-tiba memelukku? Bakamono!" nyatanya gagal juga, ia berhasil gagap.

Seraya menyingkirkan runtuhan hujan di pelupuk mata, Ichigo balas berkata, "sudah kukatakan kan? Karena aku rindu padamu," akunya jujur.

Lumayan terkejut, tapi mencoba untuk tenang. "Lalu, kalau seperti itu memang harus selalu asal peluk? Dulu kau tidak!" hardik Kuchiki mendelik sebal.

Cukup menanggapi sembari mengacak rambut jingga kuyubnya. "Kurasa... ya. Hampir seperti tradisi. Maaf, mungkin dulu aku masih tak mengerti," cukup jengah menghadapi lawannya yang tak jua dewasa-dewasa.

Wanita itu masih rindu akan perdebatan. "Aku tidak bisa menerima alasan seperti itu! Dasar ane—," tukasnya galak seolah hal itu diharamkan oleh dunia.

Sayang, belum sempat deretan kata itu terangkai, sebuah suara tegas berhasil menyalibnya. "Karena aku ingin."

Skak Mat! Habis tuntas upaya Rukia untuk mempertahankan spekulasinya. Bukankah tubuh shinigami itu tak menolak saat badan menggiurkan milik Kurosaki—yang tercetak aduhai oleh rembesan air hujan—mengurungnya erat beberapa menit yang lalu—seakan berabad-abad menurut Rukia. Sengaja berlagak terpaku padahal menikmati. Berdusta pada diri sendiri padahal sangat memimpikan. Menolak untuk meraih tubuh hangat padahal bingung dengan cara membalas pelukan itu seperti apa.

Oh, God!Jiwa si wanita sempat kacau balau oleh sesuatu itu. Oleh racun dunia itu. Yang memang sudah lama ingin ia letupkan jauh-jauh dari dasar dirinya. Sesuatu itu bak benalu kering kerontang yang mengemis air segar untuk tetap hidup, karena tanpa itu ia bisa layu, ia pasti lara, ataupula gundah gelisah.

Karena hanya sesuatu itulah Rukia mampu menatap mentari pagi yang selalu menyambut hari kesepiannya. Menguatkan Rukia agar tetap subur oleh teoritas cinta yang tak tersertivikasi oleh logikanya. Padahal selama ini, dengan kenangan manis yang merintis kenyataan hari-harinya dulu, terkadang hanya lamunan semu yang dilakukan supaya percikan rindu dapat mengobati rasa dahaga akan wajah si pria yang selalu ada dalam alam bawah sadarnya.

Siapa lagi kalau bukan si pria yang selalu mampu memikat keluar kelakar gema si Kuchiki Rukia. Selalu melantang, "Ichigo!" atau "bakamono!" telinga pria itu sudah terlalu peka akan dirimu.

Oh, jikalau Rukia sudah bertemu tepat seperti saat ini, suasana seromansa apa lagi yang dinginkan oleh si Kuchiki sih! Kenapa pula malu-malu kucing, bukankah dirimu bukan seekor kucing?

"Sayang sekali aku tak bisa memukulmu, Bodoh. Baju ini memperlambat gerakku," tukasnya kasar namun terlihat anggun saat memperbaiki letak busana indahnya.

Panorama yang tak asing bagi lensa hazel Ichigo. Rukia Kuchiki dengan wajah dewasanya, rambut panjangnya, tinggi tubuhnya dan sosok indahnya. Begitu ayu mempesona perpaduan itu—dengan diri wanita yang masih jua dialiri rintikan ringan dari latar langit yang berpendar biru kembali—terlihat basah dan menggairahkan. Seandainya Ichigo mampu menjelma sebagai handuk maka akan ia lakukan. Seandainya Ichigo mampu berubah menjadi mantel pasti akan ia laksanakan.

Nyatanya tekat absolut untuk memberikan perhatian lebih kepada Rukia-nya tiba-tiba memupus, sebab keluarga kecil Kurosaki bertapak riang menghampiri mereka.

"Wah! Rukia-chan! Putri ketigaku!"

Isshin menjerit dan langsung berhambur untuk membekap tubuh Rukia begitu sukses menghempaskan Ichigo yang tak juga mangalihkan pandang pada visualisasi di depan matanya. Masih teliti benar kedua mata coklat beningnya mengamati, meskipun ia harus terganggu dengan dorongan kecil dari Kurosaki Isshin—yang mau tak mau harus diakuinya sebagai ayah biologis meskipun kenyataan kemiripan Ichigo dengan Isshin hanya sekitar 30%.

Sebaliknya, kemiripan lebih dari 50% itu didapat melimpah pada diri Kurosaki Karin yang saat ini berjalan santai dengan gaya ala kelelakiannya—intinya bukan ia lelaki namun tingkat kefeminimannya hampir punah. Karin menutup jarak dengan berdiri mensejajarkan diri dengan Ichigo. Tetap mengawasi si Rukia-nee yang terlihat kewalahan menjinakkan virus merindu si Kelapa Kurosaki terhadap kehadiran dirinya.

Karin melipat tangan di depan dada. Bukan untuk menunjukkan bahwa ia gentle tapi lebih oleh karena rasa beku pada tubuh yang terbungkus sederhana dengan baju yang terlalu maskulin untuk dipakai oleh gadis manis seperti dirinya. Namanya juga tomboy.

"Sudah lama ya, Ichi-nii? Jadi sedikit aneh saat bertemu seperti ini lagi. Menurut Ichi-nii, apa yang berubah dari Rukia-nee?"

Karin bertanya seraya tetap mengamati Rukia yang kini berhasil keluar dari tawanan kasih ayah angkatnya. Ayah angkat? Setidaknya itu menurut Isshin.

Ichigo sejenak bermaksud terkikik geli saat di dasar lembah hatinya, si pria ingin segera menjawab riang, "ia semakin cantik!" itu lebih ingin ia ungkapkan sebab Ichigo tak ingin berbohong lagi dengan perasaannya.

Akan tetapi, ternyata ia baru tersadar akan satu hal. Lamina pembungkus hatinya mulai terancam dikikis oleh rasa yang mulai ditanjaki—perhatian pada Rukia, lalu suka, kemudian kasih, dilanjutkan sayang dan akhirnya cinta dan pasti rasa ingin memonopoli Rukia akan mendominasi perasaannya—siklus si racun dunia.

Andai kata Ichigo terus-terusan mengagungkan Rukia, sudah dapat dideteksi, cepat atau lambat ia akan segera menyakiti pihak yang lainnya, Inoue Orihime—masih berstatus wanita yang semestinya Ichigo agung-agungkan, bukan sebaliknya. Siapa Rukia?

"Kurasa sama. Dia tak berubah," ungkapnya berkomentar, sejatinya kebohongan memang selalu menjadi perasa dominan dalam setiap liku kisah percintaan—apalagi teorema pitagoras yang menjadi pokok permasalahannya, bahkan seorang Kurosaki Ichigo pun tak mampu merubah mitos itu.

Manyun. Sudah nampak tilas seperti itu, bagaimana bisa Ichigo dengan gampang mengatakan sama? Kurosaki Karin telihat sedikit kecewa dengan jawaban suci kakaknya. Bukankah aman saat kita mengatakan sama seperti itu? Jadi tak perlu ada lagi pertanyaan dari si meniak bola tersebut untuk kembali menggali perasaan kakaknya ini.

Karin bergumam, "pembohong ulung!"

Ichigo reflek menatap adiknya. Belum sempat ia bercakap, terdengar suara lain yang bergabung dalam pesta kecil mereka.

"Wah! Rukia-nee!"

Saudara seplasenta Karin—Kurosaki Yuzu, ikutan berhambur rindu ke arah tubuh Rukia yang mulai melemas, namun sekaligus lega karena telah berhasil melepaskan diri dari si dokter calon ayah masa depannya. Mungkin saja kan, Rukia benar-benar diangkat menjadi anak Isshin, toh Rukia memang tidak memiliki orang tua. Atau bisa juga maksud ayah di sini adalah calon menantu. Siapa tahu?

"Rukia-nee! Rukia-nee! Rukia-nee!" bak mantra saja, Yuzu mengucap berulang kali nama kakak angkatnya—sekali lagi mampu ditegaskan, betapa berartinya Rukia bagi keluarga Kurosaki yang tak sempurna, seolah Rukia menjadi bagian sakral di dalamnya.

Ichigo mengangkat kepala sembari mengawasi figur adiknya yang tengah disanjung wanita bersurai hitam sepinggang tersebut. Lelaki itu berhasil tersenyum tipis dan merendahkan kepala untuk meraibkan rasa kagumnya yang melimpah ruah.

"Maksudku... dia tetap sama seperti Rukia yang dulu. Penampilanmu takkan merubah pandanganku terhadapmu. Kau tetaplah Rukia yang dulu kusebut Rukia," tukas Ichigo dalam sanubarinya—sedikit rumit.

Sebenarnya itulah yang dimaksud sama tadi. Si Kuchiki muda harusnya berbangga hati dan Kurosaki Karin mestinya bersenang hati. Bukan malah mengolok Ichigo sebagai Pembohong ulung. Karena tak ada seorang pun yang tahu, apa yang sebenarnya tersimpan dibalik tirai terdalam hati si Kurosaki.

Pelukan Yuzu disambut suka cita oleh pemilik pereda hujan Ichigo di masa lalu tersebut. Maksudnya bukan Rukia yang digantung bak boneka Teru-Teru Bozu, melainkan jauh lebih dari itu. Rukia mampu mengendalikan keluh kesah Ichigo, itulah maknanya. Mungkin karena sebagian jiwa Ichigo sudah terbiasa oleh nasehat atau makian terendah yang kini sangat diharapkan lagi keluar dari bibir si wanita muda.

Muda dengan usia hampir 200 tahun? Ah, tentu saja terbagi bilangan sepuluh untuk di dunia nyata. Rukia-nya hampir berusia dua puluh tahun, berarti lebih senior Ichigo jika diibaratkan keduanya memulai hidup menapaki dunia. Mungkin perbedaan tempat yang begitu kontras dapat dipakai sebagai sumber ketidakserasian.

Dulu Rukia masih teralu muda—dengan tubuh kecil pula—menjadi salah satu bagian dari kelas 1-3 di sekolah Ichigo beberapa tahun silam. Pantas saja, ternyata Ichigo baru menyadari, bahwa Rukia-nya terlampau muda daripada dirinya sendiri—menurut atauran di muka bumi yang pasti.

"Kemarilah, Karin! Ayo peluk Rukia-nee," ajak Yuzu yang masih mendekap mesra pinggang Rukia. "Onii-chan juga!" yang ini lebih terdengar sebagai perintah.

Karin berjalan santai dan berpartisipasi untuk memeluk wanita berkain sutra tersebut. Ayah Ichigo juga ikut paut dalam drama kecil-kecilan mereka. Malah semakin menerangkan, keluarga Kurosaki nampak lengkap kembali saat Rukia mengisi bilik kosong dalam kaitan marga tersebut. Berharap si wanita legal menjadi bagian di dalamnya. Itulah harapan Isshin.

Sayang, nyatanya si lelaki berwajah serius yang paling diharapkan reaksinya malah membuang badan. Diri pemuda dengan tinggi fantastis itu malah berjalan menjauhi si permaisuri. Kini ketiga pasang mata Kurosaki menajam lurus pada objek innocent tersebut. Tentu tatapan mematikan mereka mampu menyetrum titik pusat perasa di dalam kawah batin Ichigo. Rupanya si pemuda Kurosaki hanya bereaksi dengan menolehkan kepala. Bersitatap dengan Kurosaki Yuzu lebih tepatnya.

"Onii-chan, kenapa kabur? Ini Rukia-nee... Rukia-nee!" omel Yuzu tak terima dengan lagak si kakak.

Ichigo hanya bersidekap dan mengacungkan dagunya seolah menunjuk Rukia yang sadar atau tidak kini mulai memucat. Hipotermi bisa menyinggahi tubuh lapuk itu sewaktu-waktu. Tentu saja, naluri kedokteran Ichigo berlaku lugas di sini. Bukankah sedari tadi lensa elang itu tak henti barang sedetik pun untuk merekam sosok Rukia? Tak salah jika Ichigo lebih tahu persis perubahan raut wajah wanita itu ketimbang yang lain. Karena dia terlalu hanyut mengamati. Itu saja alasannya.

"Kau tidak melihat Rukia kedinginan seperti itu? Kita semua harus segera mengeringkan badan," ungkapnya singkat dan kembali melanjutkan setapak demi setapak ayunan kakinya.

Yuzu mengekori punggung kakaknya dengan seulas senyum yang hangat. Memang udara sedingin ini serasa menumbuki sel-sel kulitnya hingga gemetaran. Rupanya si kakak boleh juga memberi saran. Mereka harus bergegas.

"Wah! Ichigo benar, Rukia-chan! Cepat, cepat! Bawa Rukia-chan ke dalam mobil!" sahut Kurosaki Isshin sambil mendorong-dorong bahu lesu Rukia.

Rukia patuh dengan isyarat mengangguk setuju. Sedangkan Yuzu, kini meraih sebelah tangan Rukia untuk diayun-ayunkannya ke depan dan ke belakang. Semilir angin memerintah tubuh mereka untuk segera berjalan. Terpaan rintik hujan mulai lelah membelai suasana riang di antara mereka. Tak jua lapuk termakan aturan sang waktu, nuansa keakraban yang tercipta sangatlah sempurna.

Meskipun masing-masing diantaranya pikun untuk sekedar bertanya, untuk apa Rukia kembali menemui mereka? Rupa-rupanya tak ada satu individu dalam populasi pemakaman itu yang mementingkan alasan Rukia kembali menapaki semesta. Padahal si Kuchiki kembali ke dunia fana ini seraya memikul luka di singgasana hatinya. Dan berharap obat luka tersebut dapat ia temukan di sini.

"Terima kasih, aku sangat berterima kasih," ucap Rukia mewakili puji syukur dalam benaknya.

Sungguh, dewi fortuna masih setia meniti hari bersama dengannya, mempertemukannya dengan orang sebaik keluarga Kurosaki untuk yang kedua kalinya. Benar-benar keberuntungan yang selamanya takkan pernah ia lupakan.

"Untuk apa berterima kasih pada kami, Rukia-chan. Itu wajar. Kau tahu, justru yang paling senang melihat kau di sini adalah dia," Isshin menggelar rupa serius di wajahnya yang mulai mengeriput—pria baya itu tahu benar akan rasa yang mengitari nuansa berbunga dalam hati anaknya.

Hanya saja seorang lelaki memang paling pandai menyembunyikan perasaan. Terkhusus Ichigo.

Lensa indigo terpekur pada sosok punggung tegap si Kurosaki muda. Tak disangkanya ia bisa kembali menatap wewarnian khas itu—yang selalu mengingatkannya akan senja. Senja yang selalu ia lalui tanpa Kurosaki Ichigo. Begitu monoton, begitu hampa—membuat deburan jantungnya kian menggila begitu mengingatnya secara tiba-tiba seperti saat ini.

Oh, mungkin tanda-tanda kelainan jantung koroner sudah merambat hingga batas ambang kenormalan organ vital Rukia. Nyatanya hanya dengan melihat makhluk tuhan itu saja, sudah mampu menggetarkan seluruh tubuh miliknya. Tak mampu dikendalikan, debaran itu menuntut sang pujaan hatilah yang meredakannya.

"Ah! Kau terlalu gegabah memelukku, Bodoh!"

Ulasan merah pipi itu—memberi corak indah pada wajah pucat Rukia. Memang, siklus racun dunia mulai nampak menggerogoti persemayaman hati wanita itu. Gulma-gulma cinta berhasil memperluas daerah kekuasaannya. Bukankah itu adalah salah satu tujuan Rukia datang kemari?

Namun saat sepicik pikiran melintas di dalam imajinya—senyuman, bahkan rona manis hilang dengan sekejab nada dug dalam rongga dadanya. Jantungnya seakan berhenti berdetak begitu ia kembali mengingat akan masa yang dulu sempat membuatnya ingin membabat habis segala rasa yang ada. Kenyataan bahwa si Kurosaki Ichigo telah memiliki seseorang yang kini merajai singgasana hatinya.

"Inoue Orihime. Apakah wanita itu yang membuatmu berubah seperti ini, Ichigo? Kau yang sekarang sangat berbeda."

Rupa-rupanya ambivalensi merasuki penuh partikel teratom dalam sel-sel otaknya. Rasa cemburu dan tak terima membuat sepasang indigo tersebut berpendar layu menikam sosok idaman di hadapannya. Seorang Kurosaki Ichigo yang berhasil mengambil hatinya. Namun nyatanya rasa sesaklah yang ia terima kini. Padahal jika Rukia mampu melihat jauh ke dasar relung hati Ichigo—bukan Inoue yang merubah jati diri si pria, melainkan kau.

"Banyak hal yang tidak kuketahui. Mungkinkah Inoue mengetahui semua tentangmu?" perpaduan citra pilu dengan tatapan kelabu itu seakan memberi isyarat pada semesta bahwa ia adalah wanita termalang—berharap menemukan obat dari luka yang dibawanya dari kayangan, malah disuguhi racun kala turun ke muka bumi. Wanita itu menangkap sebuah penyesalan.

"Aku terlambat, benar kan?"

xXx

Lambaian mendayu dari nyanyian penutup deraian hujan, mengajak Rukia untuk menghentikan langkah. Titiannya yang tertunda membuat angan-angan yang memenuhi gejolak emosi pun turut rehat sejenak. Ditatapnya si pelakon utama yang menari-nari dalam egonisme yang mulai menghujani pusat kejiwaannya—memenuhi hati itu dengan semacam kata yang berbunyi cemburu, bukan lagi irama indah yang tersebut rindu.

"Oh ayolah, Ayah. Berapa tahun lagi kita harus berdiam seperti ini?" bilang Ichigo mengadu kepada sang ayah akan kejamnya hempasan tiupan angin yang mampu membangkitkan aktivitas ganjil bulu kuduknya.

Isshin nampak sedang menimbang-nimbang sesuatu. Dipelototinya diri sang dokter muda dan sang putri bangsawan secara bergantian. Isshin kurang suka dengan aliran romantisme kaku di antara mereka. Padahal sudah kepalang tanggung, bukankah mereka sudah memiliki persamaan kata dalam hatinya, tak perlu memikirkan hal yang lain. Cukup dengan sematan kata rindu, bukannya ingkaran seperti ragu.

Untuk apa saling meragu? Bukankah tatapan kalian saling merayu?

"Ichigo!" seru Isshin seraya melemparkan sebuah benda berbunyi cring tepat saat salah satu tangan Ichigo secara reflek meraihnya.

Berlagak seperti pemuda autis, alih-alih bersandiwara seakan tak mengerti maksud ayahnya.

"Kau yang membawa mobil," perintah Isshin seolah-olah tak ingin mendengar kata tidak dari bibir darah dagingnya.

Tak perlu berbanyak tingkah, sang peraih kunci kini berjalan santai menuju bagian kemudi sembari memainkan ring yang tertanam di bagian pangkal kunci mobil tersebut. Masih bersikap seolah tak peduli dengan lingkungan di sekitar. Begitu si supir menempatkan diri dalam domisilinya, lelaki tampan itu langsung saja menutup pintu dan duduk manis di dalam.

Tidakkah kau tahu, hei pria yang tiba-tiba sombong, seorang putri bangsawan terhormat tengah menunggu pelayanan dari dirimu. Setidaknya bukalah pintu asing itu untuk menyambutnya. Atau keluarkan nada perhatianmu untuk merajuknya duduk di sampingmu. Kau benar-benar pintar bersandiwara atau memang bodoh soal wanita sih?

Kurosaki Karin, Kurosaki Isshin dan Kurosaki Yuzu secara bergantian memasuki mobil dan meninggalkan Rukia sendiri dengan kebengongan mutlak yang terekspresi jelas pada air mukanya. Wanita itu tidak mengerti cara membuka pintu mobil. Bukankah sudah jelas, kendaraan teristimewa di komunitas roh adalah sebuah benda yang menyerupai kereta kencana di dunia nyata. Itu pun dengan si pelayan yang senantiasa membukakan pintu untuk dirinya.

Ichigo melengok ke samping dan baru menyadari bahwa Rukia masih terlalu bodoh dengan apa yang seharusnya ia lakukan untuk berhadapan dengan benda yang disebut mobil tersebut—masih teramat asing. Secepat kilat Ichigo membuka pintu tersebut dari dalam dan mendorongnya ke arah luar hingga si pintu kini terbuka lebar untuk menyambut kehadiran Rukia.

"Masuklah, Rukia."

Pijakan kaki yang tak terlihat itu membuat Rukia harus bersusah payah menjinjing gaun tradisional mewahnya. Mengangkat sangat tinggi balutan busana saat salah satu lututnya meraih tempat duduk yang telah tersaji untuk dirinya seorang. Wanita yang mendadak polos itu merangkak, seakan-akan terowonganlah yang kini ia lewati.

"Be—begini?" ujar Rukia gugup saat puncak kepalanya bersandungan langsung dengan lengan Ichigo.

Ichigo tersenyum kalem dan menepuk-nepuk kepala yang menyundul sisi tubuhnya. Wajah maklumnya mampu menyuguhi tontonan menarik kepada ketiga makhluk Kurosaki yang sejak tadi memilih untuk membisu. Manis sekali kedekatan tertahan itu.

Yang merasa ditepuk-tepuk kepalanya oleh tangan besar pemuda Kurosaki kini mengangkat kepala untuk sekedar meyakinkan, apa benar lelaki yang memanja kepalanya itu adalah Ichigo? Sejak kapan Ichigo berani menyentuh kepalanya sepeti ini?

"Cobalah untuk duduk sepertiku, Rukia. Lihat, seperti ini," ajarnya telaten sambil menyandarkan kepala tepat di sandaran empuk di belakang punggungnya.

Suasana segurih ini membuat ketiga pasang mata di sisi belakang kini saling menahan tawa mereka seolah-olah tengah menahan sakit perut yang sangat menyiksa. Bayangkan saja mereka saling menekan perut dan membekap mulut orang di samping mereka. Apalagi untuk si tertua—Isshin—Karin dan Yuzu merelakan sebelah tangan mereka untuk mengunci mulut ember ayahnya, sedangkan kedua tangan ayahnya menyegel sempurna kedua mulut anaknya.

"Aaah... aku mengerti," Rukia menjawab kalem atas kesalahan yang dilakukannya, berusaha menjaga image dengan kembali berwajah serius.

Ichigo kembali memperhatikan pahatan indah dari wajah si wanita yang kini bersanding di dekatnya. Dapat melihat pelipur rindunya sedekat ini, membuat lubang lensa hazel Ichigo tak sanggup menatap selain pesona Rukia-nya. Titipan takdir membelenggunya akan rasa itu, rasa yang tak mampu jauh lagi dari Rukia-nya.

Tak ingin lagi, tak mau ditinggalkan oleh pereda hujan hatinya. Karena tanpa wanita itu, hidupnya jauh lebih kelam. Sekelam iris indigo Rukia yang mulai sayu oleh rasa katuk yang tiba-tiba menginfeksi kedua mata besarnya. Ia sangat lelah. Beban psikologisnya semakin memberatkan efisienisme stamina tubuhnya.

"Rukia, bersandarlah pada bahuku. Aku tidak ingin kepalamu terbentur oleh pintu saat tertidur nanti," ucapnya sambil mengamati baik-baik bagaimana kelopak mata besar itu perlahan lunglai—membuatnya semakin cantik kala nyaris tertidur seperti ini.

"Aku tidak apa-apa, Ichigo. Kau tidak perlu mengkhawatirkanku."

Ungkapan seperti itulah yang membuat Ichigo enggan untuk bercakap dengan diri wanita itu. Karena semakin Rukia menolak, semakin diri Ichigo tergugah untuk selalu memperhatikannya diam-diam. Tanpa harus mengumbarnya. Maka dari itu mustahil mereka saling mengerti akan rasa terpendam yang kini semakin membusuk menyinggahi bagian terdalam palung hati mereka. Kesalahan sekecil itulah yang membuat kedua insan tersebut bimbang untuk saling berterus terang. Manusia memanglah spesies terumit di antara semua makhluk hidup di dunia.

"Baiklah, kita berangkat."

xXx

Kediaman baru—itulah kenapa Rukia hanya bisa menunggu Ichigo di depan batu nisan ibunya. Kini panorama kediaman Kurosaki nampak lebih dan lebih. Salah satu diantaranya lebih besar. Dan yang lainnya mungkin lebih bermodel dan memiliki nilai artistik yang tinggi. Khususnya pada latar taman luas di depan rumah segar tersebut. Sangat sedap dipandang.

Namun berlaku sebaliknya bagi diri Rukia. Wanita itu kini nampak sangat keletihan dan kurang begitu sedap untuk diamati. Hampir menyerupai gerak tertatih. Wanita yang sedetik lalu tersadar telah bangun dari sandaran bahu Ichigo, kini menyeret busana yang dikenakan untuk memenuhi tuntutannya untuk segera sampai di gubuk mewah nan luas milik sang dokter Kurosaki.

Jika boleh diprediksi, sebenarnya Rukia mengharapkan Ichigo akan mengolok-olok busana aneh yang melapisi tubuhnya hingga tak berbentuk seperti ini. Ia tak mampu jikalau pemuda tangguh itu mengacuhkannya sekarang. Seakan ia tak bisa mengenali Kurosaki Ichigo seperti dahulu kala sempat amat dipahaminya.

"Rukia-chan, cepatlah ganti baju. Ayah pergi ke dalam dulu," tutur Isshin dengan nada normal seraya berjalan menjauhi Rukia yang kini berdiri tepat di samping Ichigo yang beberapa saat yang lalu membantunya turun.

Perhatian kedua sejoli itu teralih oleh desas-desus si kembar Kurosaki yang tengah berlarian ringan melewati mereka berdua. Seolah-olah mereka adalah objek yang paling menggugah untuk diamati. Keduanya masih terdiam dan mengalihkan segala perhatian kedua lensanya untuk menatap segala hal selain tentang-mereka-berdua.

"Ayolah Karin… besok tugas itu harus selesai. Aku sama sekali tidak mengerti harus mengisinya dengan apa. Bantu aku, Karin—," rajuk Yuzu sambil menarik-narik sejumpit kaos saudara serahimnya.

"Aku masih banyak tugas, Yuzu—," sahut Karin terus berjalan tak menghiraukan saudara gemelinya.

Dan mereka berdua pun terus bercakap serta mengacuhkan kehadiran sepasang makhluk yang kini masih berdiri dalam diam jauh di ambang pintu. Jeda sunyi lumayan lama mematri mereka. Namun Ichigo dengan santai mulai memasuki rumah dan meninggalkan Rukia sendiri. Akan tetapi, sejahat-jahatnya Kurosaki Ichigo, lelaki itu takkan pernah mungkin membiarkan Rukia seorang diri lagi setelah ini. Itulah sumpah serapahnya sejak saat-dimana-Rukia-hilang-dulu.

"Ikutlah bersamaku, Rukia," ajak Ichigo tanpa harus memastikan dengan mutlak, apakah ajakan itu akan disetujui atau ditolak oleh si wanita yang masih sibuk dengan pakaiannya.

Memang sudah tak perlu dikatakan kuyub—mengingat perjalanan satu jam penuh baru saja ia tempuh untuk sampai di rumah baru keluarga Kurosaki. Karena kekikukan dalam diri Rukia menanggapi Ichigo dengan versi dewasanya seperti ini, membuat Rukia mau tak mau harus berjalan cepat mengikuti langkah Ichigo, dengan susah payah tentunya. Tanpa cek-cok seperti dulu, yang selalu menjadi ritual wajib bagi mereka berdua.

xXx

Aroma maskulin menyeruak begitu sang wanita hampir memasuki kamar pemuda bujang tersebut. Ia mengendus gejolak canggung dalam sanubarinya saat dengan gamblang ia mengamati diri Ichigo yang secara perlahan membuka pintu kamarnya, melucuti jas universitasnya dan langsung duduk di atas ranjang berukuran king size yang terletak di bagian tertengah ruangan. Entah kenapa, nuansa seperti ini tak selumrah dulu saat mereka masih tidur dalam atap ruangan yang sama.

Gemelatuk jantung dalam rongga iganya benar-benar tak bisa terkontrol lagi. Bahkan sebelah tangannya sampai mencengkram kuat pinggiran pintu yang kini terbebani oleh berat tubuh Rukia yang mendadak lumpuh dan hampir limbruk jika saja apa yang kini diimajinasikan oleh Rukia benar-benar terjadi. Di kamar seorang pria matang—berdua—dan...

Pok! Pok! Pok!

Ichigo menepuk sisi lain dari ranjang besarnya. Memberi isyarat simbolisme pada lawan jenisnya yang masih terpaku aneh di ambang pintu. Sebenarnya Ichigo mengerti apa yang kini dirasakan oleh Rukia. Dulu dan sekarang memang sedikit berbeda.

"Duduklah, bukakah dulu kau juga sekamar denganku? Tak perlu sungkan," tukas Ichigo seolah mampu menerawang isi hati Rukia.

Rukia berdecak pinggang. "Aku tidak merasa seperti itu! Aku memang mau masuk kok!" sahutnya kasar seperti dulu—dengan cepat berposisi duduk di sisi lain ranjang Ichigo.

Jeda panjang mengisi ruang waktu yang kini mulai mendengungkan kedua telinga mereka. Suasana menyepi seperti ini memang sangat tidak menyenangkan.

"Kau wanita pertama yang berani memasuki kamarku, Rukia," gurau Ichigo sambil menekan tombol remote control untuk menyalakan televisi di depan ranjangnya, berusaha mencairkan kekakuan diantara mereka.

Rukia menatap Ichigo heran. "Apa kau keberatan jika aku berada di sini?" tanya si wanita yang entah sejak kapan mulai mampu mengendalikan diri kembali.

Ichigo tertawa ringan. "Tidak, hanya saja aku teringat saat kau tiba-tiba tidur di dalam lemariku. Waktu itu adalah saat dimana untuk pertama kalinya aku berada sekamar dengan seorang gadis. Dan gadis itu adalah kau."

Oh, tidak. Wajah Rukia berhasil merona semerah-merahnya, bahkan ia sampai merasakan sensasi terbakar pada wajah miliknya. Benar juga, apabila mengingat-ingat kembali masa lalu, membuat Rukia tersadar begitu nekatnya ia pada masa itu. Ia memang masih terlalu muda saat pertama kali bertemu dengan Ichigo.

Di lain sisi, si pria kini masih begitu antusias memandangi wajah sang partner masa lalunya tersebut. Riasan si wanita yang amat berantakkan. Gaun tradisional khas bangsawan. Dalam rangka apa Rukia memakai kostum seperti itu untuk menemuinya? Benar-benar di luar dugaan.

"Rukia, apa kau kabur dari acara pernikahan dan datang menemuiku?" tanya Ichigo asal sambil memperhatikan kembali sesuatu yang begitu tebal menyelimuti seluruh tubuh Rukia.

Rukia tersentak dan memandang tak percaya ke arah Ichigo. Kedua bibir Rukia masih sulit untuk terbuka secara fisiologis sekali pun. Dan tatapan yang haus akan jawaban itu membuat Rukia semakin terpaku dengan keterkejutannya.

"Aku—hanya saja. Itu... aku cuma—," jalinan vocal Rukia sangat kacau, menunjukkan bahwa ia masih tak siap mengeksekusi pertanyaan si pemuda tampan.

Ichigo menatap Rukia lebih tajam dan dalam. Gerak-gerik Rukia menampakkan jelas bahwa wanita muda itu tengah menyembunyikan sesuatu dari Ichigo. Si pria masih setia menunggu. Namun begitu Ichigo membayangkan bahwa hal yang ditebaknya mungkin memang bernilai benar, entah kenapa dengan segera pemuda itu memotong penjelasan Rukia—ia tak ingin tahu.

"Sebenarnya aku kemari karena aku—"

Ichigo dengan cepat menepuk bahu sang partner, "aku hanya bercanda. Tidakkah baju itu menyusahkanmu? Kau menggunakan baju berlapis berapa?" tanya Ichigo mengalihkan ketakutannya dengan mengamati terusan yang dikenakan Rukia bak baju boneka khas jepang.

Rukia menaikkan kedua bahunya. "Mungkin empat? Atau tiga? Aku tidak memperhatikan karena seorang pelayan yang memakaikannya padaku. Baju ini tidak bisa kulepaskan sendiri," jelas Rukia sambil mengotak-atik baju berlapisnya.

Ichigo menepuk bagian rajang miliknya—tepat di samping posisinya duduk. Seraya memandagi Rukia yang bingung melepaskan baju yang dikenakan di badannya, lelaki itu berusaha untuk menatap Rukia dengan sorot normal.

Rukia terpancing untuk menatap Ichigo saat mendengar suara tepukan pada ranjang yang didudukinya—menatap tak mengerti sebelum Ichigo menjelaskan maksud asal muasal tindakan tersebut.

"Mendekatlah, kubantu melepaskannya," tawar Ichigo dengan paduan simfoni merdu yang mampu membuat gemelitik indah di dalam kedua rongga telinga si gadis Kuchiki—tidak ada rasa mengganjalkah jika seorang lelaki melepaskan baju untuk seorang wanita?

"Tunggu! Apa-apaan kau bermaksud membantuku melepaskan baju? Aku tidak menyangka, jalan pikiranmu berubah cepat sejak kita terakhir kali bertemu."

Reflek sang Kuchiki menyilangkan kedua tangannya di depan dada membentuk huruf X sebagai isyarat NO. Menatap waspada lelaki yang mendadak lebih berbahaya daripada hollow yang biasa ia habisi dulu. Ichigo yang melihat aksi Rukia berusaha tetap stay cool dan memandang datar wanita di depannya. Rukia membuang wajah karena tingkahnya masih juga seperti anak kecil. Ia angkat tangan menghadapi Ichigo yang seperti ini.

Ichigo tersenyum masam dan kembali menatap televisi layar datar yang tertempel sempurna di dinding kamarnya. "Aku bukanlah anak ingusan lagi, Rukia. Aku hanya ingin membantumu. Jika kau tak mau, itu tidak masalah," bela Ichigo membuat alasan selogis-logisnya.

Rukia memandang lekat-lekat sang pemilik mata musim gugur itu. Benar juga, dari kharisma, wajah dan pembawaan—seorang Kurosaki Ichigo sudah tidak bisa dikatakan lagi sebagai anak ABG yang masih tolol bercanda atau menggoda wanita sepertinya—lelaki ini memamerkan kedewasaannya.

Postur tubuhnya yang semakin tinggi, lapang dadanya yang bidang dan cara bicaranya yang tenang. Mampu membuat Rukia terus mengamati sang pria tanpa disadari penuh oleh akal sehatnya. Dan tanpa dipikirkan penuh oleh wanita itu, perlahan tubuhnya bergeser mendekat pada diri sang lelaki. Menempati tepat pada area yang ditepuk oleh si penghipnotis kewarasannya. Seolah menerima ajakan menarik dari bibir si pemuda.

"Ada apa, Rukia? Apa kau berubah pikiran?" tanya Ichigo saat tersadar bahwa Rukia telah duduk lebih dekat di sisinya.

Bersambung


Thanks for: Reiji Mitsurugi, kagami yukite, Suzu Aizawa Kim, Princess Hater, , Nyia, Voidy, , Kurousa Hime, Cim-jee, beby-chan, Yellow Fumi, Nenk Rukiakate, Darries.


Arigatou An' Mata Ashita

.^_^.


RP

EL

VE

IA

ES

WE