Pagi menjemput saat Luhan menggeliat malas karena sinar menyilaukan memasuki indra pengelihatannya. Ia melirik bagian ranjang di sebelahnya yang kosong dan pendengarannya menangkap suara-suara berisik dari luar kamar, membuatnya yakin Baekhyun sudah bangun terlebih dahulu.
Ia masih duduk dengan malas, bersandar pada ranjang Chanyeol, menguap beberapa kali, dan meregangkan otot-ototnya yang kaku. Mengingat kejadian kemarin ia tersenyum sendiri, merasa geli. Bagaimana bisa ia memohon pada Jongin untuk membiarkannya menginap sedangkan sebelumnya ia sangat mengkhawatirkan keadaan Baekhyun jika bersama Jongin.
Ia malu dengan dirinya sendiri.
Katakan Luhan bodoh, atau memang ia terlalu takut untuk kembali ke apartemennya seorang diri setelah kejadian yang menimpanya kemarin. Luhan masih tak habis pikir, siapa orang-orang yang berniat mencelakainnya hingga dua kali. Dan ia juga tidak tahu siapa orang yang menyelamatkannya –juga membiusnya kemarin.
Luhan seratus persen yakin pria yang menyelamatkannya dan yang membiusnya kemarin adalah pria yang sama dengan hari sebelumnya saat ia diculik. Meskipun setengah sadar, ia masih bisa mengenali sorot mata pria itu. Bahkan aroma tubuhnya sudah bisa Luhan simpan di memori otaknya.
Siapa pria misterius itu, masih menjadi pertanyaan besar dibenak Luhan.
Bahkan semalaman Luhan nyaris terjaga. Ia tidak bisa tidur dengan lelap dan tenang. Setiap ia baru saja memejamkan mata, ia selalu mimpi buruk. Mimpi yang Luhan sendiri bahkan tak bisa ingat saat ia bangun. Mimpi yang ia ingat hanya bayangan-bayangan hitam yang berusaha mencekiknya, selanjutnya ia sudah kembali tersadar.
Luhan meraih ponsel yang ia selipkan dibalik bantal –ponsel yang kemarin Baekhyun temukan di mobilnya. Luhan pikir ponsel itu diberikan oleh pria asing yang menyelamatkannya. Ia sudah mengechecknya sepanjang malam dan tidak ada apa-apa di dalam ponsel itu. Hanya ada beberapa nomor tak bernama dan sebuah pesan asing yang tak Luhan pahami, selebihnya, itu tak lebih dari sebuah ponsel baru.
Luhan mendesah ringan, memasukkan ponsel itu ke dalam saku celananya dan bersiap-siap untuk sarapan.
Saat ia keluar kamar dengan rambut yang masih basah –yang masih berusaha ia keringkan dengan handuk, Baekhyun dan Jongin menunggunya di meja makan, Jongin duduk sambil memakan sandwichnya dan Baekhyun sedang sibuk di depan penggorengan. Dengan canggung Luhan melambaikan tangan dan tersenyum.
Baekhyun menoleh ke arah gadis itu. "Kau sudah lebih baik?" tanya Baekhyun, memindahkan omelet dari penggorengan ke piring dan meletakkannya di meja. "Duduklah, kau harus makan,"
"Kau mirip ibuku," balas Luhan sambil terkekeh, kemudian menarik kursi kosong di samping Jongin.
Jongin memutar tubuhnya untuk memandangi Luhan, sedangkan Luhan mulai mengunyah makanannya dengan tenang. Tangan Jongin terulur untuk menyentuh dahi Luhan, ia melirik Jongin dengan pandangan bingun. Kemudian Jongin meletakkan punggung tangannya ke dahinya sendiri, memasang ekspresi berpikir yang asing.
"Demammu sudah turun," bisik Jongin.
Luhan memandangi Jongin dan Baekhyun bergantian. "Memangnya aku demam?" ia meletakkan punggung tangan ke dahinya sendiri, membaliknya beberapa kali dan mengerutkan kening bingung.
"Ya tengah malam tadi kau demam," tambah Jongin.
Luhan hanya mengangguk ringan. "Bagaimana kau bisa tahu?" tanya Luhan dengan mulut penuh.
"Bukankah semalam aku mengompresmu?" balas Jongin ringan, tiba-tiba Luhan menghentikan kunyahannya dan memandangi Jongin tajam.
"Semalam kau masuk kamar Chanyeol saat aku tidur?" Luhan bertanya pelan-pelan setelah menelan omeletnya dengan susah payah. Jongin tampak bingung, kemudian mengangguk ringan dengan gamang. "Demi Tuhan, Jongin. Apa kau seorang pervert?"
Jongin masih memandangi Luhan dengan bingung dan Luhan balas memandanginya dengan tatapan minta penjelasan yang tajam. "Tunggu dulu Luhan," mata Jongin tampak bingung untuk sejenak, memandang Baekhyun dan Luhan bergantian. "Ini tidak seperti yang kau bayangkan," Jongin memajukan tubuhnya kea rah Luhan dan Luhan menghindar mundur. "Aku tidak melakukan apapun, sungguh,"
Baekhyun hanya terkekeh ringan.
"Bagaimana kau bisa masuk saat seorang gadis sedang terlelap. Itu bukan hal benar, Jongin-ah," tambah Luhan dengan penekanan kata, kemudian melanjutkan makan dengan tenang, menghindari tatapan Jongin. "Bagaimanapun kau adalah seorang pria dewasa. Aku tidak yakin kau tidak melihat tubuhku semalam,"
Jongin mengusap wajahnya dengan kasar dan menggeleng frustasi beberapa kali. "Aku tidak melakukan apapun, Luhan. Sungguh. Kau bisa bertanya pada Baekhyun. Aku bahkan tidak melihat tubuhmu,"
Baekhyun mengangkat bahu acuh. "Aku tidak tahu, aku tidur dengan pulas semalam," lalu Baekhyum terkekeh ringan.
Jongin mendengus. "Demi Tuhan, aku hanya khawatir padamu, Luhan. Aku tidak menyentuhmu sama sekali,"
Luhan dan Baekhyun saling pandang sebelum akhirnya tertawa bersamaan, membuat Jongin memandangi keduanya dengan bingung. Baekhyun mengangkat tangannya ke udara untuk high-five dengan Luhan, keduanya kini tertawa terbahak-bahak, menyisahkan Jongin yang kebingungan.
"Ada apa?" protes Jongin kesal.
Baekhyun masih berusaha menghentikan tawanya dan Luhan menyeka ujung matanya yang basah dengan jari. "Kukira kau benar-benar pervert, tapi kau tidak seburuk seperti yang kubayangkan sebelumnya. Kau masih punya sisi polos," ucap Luhan diiring kekehan panjang.
Dan Jongin hanya memandanginya dengan bingung. "Kalian mengerjaiku ya?"
Baekhyun mengangkat bahu acuh. "Kau tampak membosankan Jongin," ucapnya ringan.
Jongin hanya geleng-geleng kepala. "Sepertinya aku tidak bisa hidup dengan dua orang gadis secara bersamaan. Ini melelahkan,"
Baekhyun dan Luhan sama-sama tertawa. "Terima kasih sudah mengompresku semalam," bisik Luhan sambil mengedipkan sebelah matanya.
Jongin mendesah ringan. "Kau benar-benar sudah lebih baik sekarang?"
Luhan mengangguk beberapa kali. "Aku sudah jauh lebih baik. Terima kasih,"
"Dan terima kasih sudah membiarkan kami tinggal," tambah Baekhyun.
"Bukan masalah, lagipula kamar Chanyeol kosong," balas Jongin. "Sebenarnya apa yang terjadi denganmu kemarin Luhan?"
"Paginya kau baik-baik saja kan? Kau bahkan pergi ke Panti Asuhan," Baekhyun menambahkan. "Apa kau tak perlu ke rumah sakit?"
Luhan memandang Jongin dan Baekhyun bergantian, kedua orang itu sedang memandanginya dengan khawatir. Sedangkan Luhan bingung harus menjawab apa. Ia tidak yakin harus memberitahu Baekhyun dan Jongin tentang kejadian yang menimpanya kemarin tapi ia sendiri tidak yakin untuk berbohong.
Luhan menggeleng ringan.
"Kupikir tekanan darahku terlalu rendah," balasnya acuh, kembali menikmati makanannya, berusaha menghindari tatapan Baekhyun dan Jongin. "Kalian tahu aku harus menyesuaikan diri dengan cuaca yang berubah-ubah,"
Jongin dan Baekhyun hanya mengangguk ringan.
"Kau sudah lebih baik sekarang? Apa kau benar-benar tak ingin pergi ke rumah sakit?" tanya Jongin , kembali meletakkan punggung tangannya ke dahi Luhan.
Luhan terkekeh ringan. "Tidak. Aku baik-baik saja,"
"Aku tidak keberatan kalian tetap tinggal disini, sungguh. Chanyeol baru akan datang sekitar minggu depan,"
Baekhyun mendengus. "Aku merindukan Chanyeol," dan membuat Luhan menepuk lengannya dengan keras.
"Terima kasih, Jong. Tapi kurasa aku harus pulang sore ini. Lagipula aku tidak yakin kau tidak akan meng-apa-apakan kami jika kami tetap disini," Luhan terkekeh ringan.
Jongin tertawa kecut lalu menepuk tangannya berkali-kali. "Wah, kalian benar-benar luar biasa. Bahkan setelah apa yang kulakukan untuk membantu kalian," sindirnya.
Luhan dan Baekhyun hanya tertawa menanggapi perkataan Jongin yang tampak frustasi.
.
.
Siangnya, Luhan menepikan mobilnya di depan rumah Baekhyun –mengantarkan gadis itu pulang. Siang ini ia harus kuliah, setidaknya ia tidak akan membolos untuk hari ini.
"Kau yakin kau akan masuk kuliah?" tanya Baekhyun.
"Aku sudah baik-baik saja, Baek. Tidak perlu terlalu mengkhawatirkanku," bisiknya sambil memeluk Baekhyun sekilas.
Baekhyun mendesah ringan, kemudian melepaskan sabuk pengamannya. "Berjanjilah padaku, kau akan menghubungiku jika terjadi apa-apa. Tapi lebih baik lagi jika kau menghubungiku meskipun tidak terjadi apa-apa,"
"Aku janji," balas Luhan. Dan dengan satu tarikan napas berat –dan dengan hati yang berat- Baekhyun membiarkan Luhan pergi sendirian.
Seperti biasa, Luhan selalu memperhatikan keadaan sekitar. Ia melihat mobil yang berada di belakangnya, tapi tidak ada yang mencurigakan. Luhan juga memandangi setiap orang yang ia temui di jalan. Berusaha mencari bayangan hitamnya, tapi lagi-lagi ia tak menemukan apapun.
Bersamaan dengan itu, sebuah suara aneh terdengar di mobilnya. Ia sempat bingung dengan suara itu, namun beberapa detik berlalu ia sadar bahwa itu suara dari ponsel yang berada disakunya –ponsel yang diberikan pria misteriusnya.
Luhan menepikan mobilnya dan memeriksa ponselnya. Ada sebuah pesan dari nomor tak terdaftar.
Sepertinya aku tidak mengikutimu hari ini. Ada urusan yang harus ku selesaikan. Kau akan baik-baik saja. Semoga harimu menyenangkan.
Luhan mendesah ringan. Entah mengapa ia merasa lebih khawatir saat tidak ada orang yang mengawasinya. Mungkin bisa Luhan katakan ia bodoh, percaya dengan orang asing. Tapi mungkin Luhan sudah yakin bahwa pria misteriusnya itu akan melindunginya.
Dan sekarang ia mulai gugup.
Luhan kembali melajukan mobilnya menuju kampus dengan hati-hati. Pikirannya masih bercabang dengan berbagai pertanyaan-pertanyaan yang ia tak yakin akan mendapatkan jawaban. Ini semua masih terlalu buram untuknya, bahkan Luhan sama sekali tidak bisa menerkan apa yang sebenarnya terjadi pada hidupnya.
Ia sudah cukup terpukul dengan kematian ibunya, pengasingan dirinya ke Korea, dan sekarang ia harus mengalami semua masalah ini. Bagaimanapun, Luhan hanya seorang gadis muda yang masih belum memiliki banyak pengalaman.
Meskipun ia hidup berkecukupan secara finansial, tapi ia tak pernah mendapat kasih sayang yang cukup. Dan kenyataan itu lagi-lagi menyakiti hatinya.
Sepuluh menit berlalu, Luhan memarkirkan mobilnya tepat di depan gedung, sebenarnya hari ia ingin naik bus seperti biasa, tapi pesan dari pria misteriusnya membuatnya mengurungkan niat itu. Luhan pikir dirinya akan lebih aman jika mengendarai kendaraan pribadi.
Lagi-lagi ia memperhatikan keadaan sekitar sebelum keluar, setelah beberapa kerumunan orang lewat, Luhan memutuskan untuk menyelinap di balik kerumunan yang sibuk itu. Ia harus bisa menyembunyikan diri, meskipun tidak tahu bersembunyi dari apa dan siapa, tapi Luhan pikir itu perlu.
Luhan melangkahkan kakinya lebih cepat menuju pintu masuk, kemudian ia merasakan sebuah tepukan pelan pada pundaknya –membuatnya nyaris terjungkal karena kaget. Luhan menoleh saat sebuah suara yang tak asing menyapu pendengarannya, dan saat yang sama, ia melihat sesosok pria berbadan tinggi yang sedang tersenyum padanya.
Ia harus sedikit mendongak saat menatap wajah pria itu.
"Kris, kau mengagetkanku," ucap Luhan pelan dengan bahasa Mandarin –ia masih ingat Kris orang China- sambil mengusap dadanya dan tersenyum ringan.
Kris balas tersenyum. "Maaf, aku hanya tidak ingin kehilangan jejakmu. Kau nyaris tak terlihat di tengah kerumunan," Kris mengedipkan sebelah mata, mengangkat satu tangannya ke udara untuk membuat tanda sseberapa tinggi Luhan yang hanya mencapai dada pria itu.
Secara refleks, Luhan menepuk lengan Kris. "Aku tahu aku pendek. Kau tak perlu menjelaskannya lagi padaku," ia merengut.
Kris tertawa lepas. "Maaf aku tidak bermaksud seperti itu. Kau ada kelas siang ini?" tanya Kris lagi, pandangannya beralih pada buku-buku di tangan gadis itu.
Luhan menggeleng. "Tidak. Kurasa. Ada kuliah tamu yang harus kuhadiri,"
"Apa itu di lantai 8?" Kris menyipitkan matanya, menurunkan sedikit kepalanya untuk mensejajarkan dengan wajah Luhan.
Luhan mengangguk, secara naluri memundurkan wajahnya, menghindari Kris. "Ya. Kurasa," Luhan memeriksa catatannya dan mengangguk sekali lagi.
Kris mengambil buku-buku dari tangan Luhan, membuat gadis itu memiringkan kepaldanya bingung. "Kupikir kita punya tujuan yang sama," balas Kris, kembali menarik wajahnya mundur menjahui Luhan.
Luhan berkedip cepat beberapa kali, memperhatikan wajah Kris yang menurutnya menarik. Entah sejak kapan ia mulai memperhatikan wajah seorang pria yang ia temui, namun baginya ia cukup tertarik untuk memperhatikan wajah Kris lebih lama.
Entah karena kemarin cahaya perpustakaan yang temaram hingga membuat wajah Kris tidak terlihat dengan jelas, atau memang sekarang wajah Kris tampak lebih bersinar. Luhan tak tahu, ia juga merasa asing mengapa ia masih tetap betah memandangi wajah pria jakung di hadapannya.
Kris hanya memakai hoodie biru tebal dengan celana jeans dan sepatu booth, sungguh penampilan yang sederhana, namun itu sungguh menarik bagi Luhan. Hari ini Kris menaikkan rambut bagian depannya, menurut Luhan itu semakin membuat wajah pria ini terlihat tegas dan maskulin.
Luhan tak tahu apakah ia tertarik pada pria itu.
"Luhan," panggil Kris pelan, takut mengangetkan gadis mungil itu lagi.
Luhan terhenyak dari pikirannya sendiri, kemudian merasa bodoh karena terlalu lama memandangi wajah Kris, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan ekspresi malu. "Kupikir aku akan butuh teman ngobrol. Nanti pasti akan membosankan," balasnya acuh, ia berharap Kris tidak menganggapnya terlalu bodoh kali ini.
Kris tertawa lagi, sebuah tawa yang menyenangkan untuk di dengar. "Kau akan tetap berdiri disini memperhatikanku atau kita akan masuk?"
Cepat-cepat Luhan membuang muka. "Tentu masuk," ucapnya ringan, kemudian mendahului Kris berjalan. Sedangkan Kris hanya menggeleng-gelengkan kepala heran melihat kelakuan Luhan, lalu menyusul gadis itu memasuki gedung.
.
.
"Kubilang aku bisa mengantarmu pulang," ucap Luhan setelah keluar dari kedai kopi bersama Kris. "Katamu kau naik bus,"
Kris menggeleng. "Rumahku jauh, kau tahu,"
Luhan mendecak sebal, ia mengangkat gelas ice americano dan cake coklatnya ke hadapan Kris. "Kau sudah membayarku dengan ini. Aku akan mengantarkanmu," balasnya.
Kris tertawa. "Kau tidak akan menyesal?"
Luhan menggeleng, melemparkan kunci mobilnya pada Kris dan menunjuk mobilnya yang terparkir tak jauh dari sana. Kris berjalan menjahui gadis yang sedang sibuk dengan cake coklat dan minuman di tangannya. Ia tersenyum sedikit melihat tingkah Luhan yang menurutnya asing. Hari ini Luhan tampak lucu dan persisi seperti gadis remaja periang seperti umumnya, berbeda dengan image-nya beberapa hari lalu saat di perpustakaan.
"Kau sudah makan?" tanya Kris saat melajukan mobil Luhan keluar dari tempat parkir yang sempit.
Luhan mengangguk singkat, masih sibuk mengunyah cake coklatnya. Luhan memakannya seolah-olah itu adalah kue paling enak yang pernah ia makan, padahal itu hanya kue dari sebuah kedai kopi kecil. Melihat itu, Kris pikir Luhan kelaparan.
"Aku tak pernah tahu kau punya mobil sebagus ini," sambung Kris saat Luhan tidak berbicara.
Luhan menoleh ke arahnya, ia bingung harus menjawab apa. "Aku lebih nyaman naik bus," ucapnya, menegelap bibirnya dengan tisu.
Kris terkekeh. "Jika aku punya mobil sebagus ini, aku tidak akan naik bus kemanapun,"
"Kau bisa mengambilnya jika mau," balas Luhan acuh.
Kris menoleh ke arah gadis itu sekilas. "Kau pikir aku akan menerima sebuah mobil dari gadis mungil sepertimu?"
Luhan mendengus. "Aku tidak mungil Kris, aku dua puluh satu tahun, kau tahu," Kris hanya mencibir. "Aku hanya pendek," dan Kris tertawa keras, membuat Luhan merengut ke arahnya. "Aku serius. Kau bisa membawanya jika mau," tambah Luhan.
Lagi-lagi Kris tertawa. "Luhan, aku punya harga diri, kau tahu. Bagaimana bisa aku mengambil mobil temanku?"
Luhan mengangguk beberapa kali. "Bukan masalah untukku," balas Luhan. "Kau tahu, aku lebih senang kau membawa mobil ini dan menjemputku setiap hari,"
"Dan kau menjadikanku sopir pribadi?" tanya Kris sebal. Luhan tertawa lepas, membuat Kris terkekeh mendengar tawa gadis itu.
Tidak lama kemudian, Kris menepikan mobilnya di sebuah gedung apartemen tidak terlalu tinggi di tengah kota. "Sudah sampai,"
Luhan memandangi sekitarnya dengan bingung. "Ini dekat, Kris," ucapnya.
Kris hanya terkekeh ringan. "Aku hanya tak ingin merepotkanmu," balasnya.
"Demi Tuhan, kau tahu aku tinggal tidak jauh dari kampus. Mungkin sepuluh sampai lima belas menit dari sini," Luhan menunjuk arah jalan di depannya. Dan Kris hanya mengangguk-angguk ringan.
"Kau yakin kau bisa pulang sendiri?" tanya Kris saat pria itu mengambil tasnya di bangku belakang mobil Luhan.
Luhan melepas sabuk pengamannya. "Aku sudah besar dan aku sudah punya sim, Kris. Aku bukan bayi, kau tahu," ucapnya kesal.
Kris tertawa ringan. "Aku tahu. Aku tahu. Aku percaya. Terima kasih ya tumpangannya," ucap Kris ringan, kemudian keluar dari mobil Luhan. "Hati-hati Luhan-ah," Kris melambaikan tangan saat Luhan sudah berada di balik kemudi, dan Luhan hanya membalas dengan senyuman.
Luhan mengemudikan mobilnya dengan hati-hati menuju apartemennya. Ia melirik kaca spion, untuk memastikan ia tidak sedang dibuntuti dan memang tidak ada hal yang mencurigakan di belakangnya.
Ia beruntung hari ini tidak terjebak macet karena ia pulang lebih awal, Luhan melirik jam tangannya sekilas. Luhan pikir ia harus menghubungi Baekhyun sebelum gadis itu berteriak lebih kencang di telinganya.
Baekhyun menjawab panggilan Luhan pada dering kedua. Seperti yang sudah Luhan duga sebelumnya, Baekhyun nyaris menjerit. Suara melengking gadis itu memenuhi mobilnya.
"Aku baik-baik saja, Baekhyun sungguh," ucapnya.
Baekhyun mendesah ringan. "Apa perlu aku menemanimu malam ini?"
"Tidak perlu. Hari ini salju turun lebih banyak. Lagipula bukankah sebentar lagi kau ujian?" balas Luhan ringan.
Baekhyun mendengus. "Kau bisa menghubungiku kapan saja," balas Baekhyun.
"Terima kasih, Baek. Kau yang terbaik," Luhan mematikan sambungan telepon sepihak.
Beberapa menit berlalu, Luhan sudah memarkirkan mobilnya di dalam gedung apartemennya. Ia menunggu beberapa orang di tempat parkir untuk keluar, dan kemudian membuntuti orang-orang itu.
Luhan menyelinapkan tubuhnya di tengah beberapa orang di dalam lift yang tidak terlalu padat. Ia memencet tombol lantainya –nomor 15. Beberapa orang di dalam lift mulai keluar satu persatu, hanya menyisahkan Luhan sendirian. Ia masih sempat merutuki lantainya yang terlalu tinggi, tapi ia tak bisa protes.
Angka di lift menunjukkan angka sepuluh, membuat Luhan lagi-lagi mendecak sebal. Pintu lift terbuka di lantai sepuluh, tapi tidak ada siapa-siapa, membuat Luhan dengan malas menekan tombol tutup.
Tanda di lift masih menunjukkan arah atas dan lift lagi-lagi bergerak. Tapi sedetik kemudian, lift berguncang cukup kuat. Secara naluri, Luhan mencengkeram pegangan lift. Setelah guncangannya mereda, lift berhenti mendadak.
Jantungnya mulai berdetak dengan cepat, meskipun sekuat tenang mencoba untuk tenang tapi Luhan gugup setengah mati. Luhan masih mencengkeram pegangan lift dengan napas pendek-pendek yang tak teratur, dengan jantung yang nyaris melompat-lompat.
Mengapa ini terjadi lagi, pikirnya.
Ia melirik CCTV di atasnya, tapi ia menyadari CCTV itu tidak menyala. Luhan memencet tombol darurat beberapa kali. Tapi tidak ada jawaban. Ia mencoba memencet tombol buka, tapi tidak bereaksi apapun.
Dengan frustasi Luhan memukul pintu lift keras-keras hingga ia merasakan tangannya ngilu, tapi ia tak peduli.
"Tolooooooooooong. Ada orang disini. Tolong akuuuuuuuuuuu," Luhan berteriak sangat keras hingga suaranya menggema di seluruh ruang lift yang sempit. Tapi tetap saja tidak ada balasan dari luar sana.
Ia mencoba tenang, mengatur napasnya, dan duduk. Luhan mencoba menghitung dalam hati, menahan air mata yang nyaris tumpah. Ia jarang menangis –bahkan nyaris tidak pernah- tapi ini terlalu menakutkan baginya.
Lalu Luhan teringat pada satu hal, ponselnya.
Dengan tangan gemetar Luhan meraih ponselnya, menekan layarnya beberapa kali dan membuat panggilan. Luhan mendengar jawaban setelah nada sambung pertama.
"Luhan," teriak sebuah suara diseberang sana, suara yang tak asing lagi bagi Luhan.
Suara pria misteriusnya.
"Aku terjebak di lantai sebelas, tolong aku, kumohon," ucapnya, terbata-bata, terengah-engah, dan terdengar memohon.
Lalu begitu saja sambungan terputus, membuat Luhan nyaris menjerit bingung.
Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang, yang ia bisa hanya mencoba tenang dan mencoba menahan air matanya agar tak terisak. Luhan pernah diajarkan saat mengalami keadaan darurat seperti ini. Ia harus menghemat persediaan udara sebelum ia mati sesak.
Dan selebihnya ia berdoa.
Luhan masih menghitung dalam hati, duduk dan memejamkan mata. Mencoba menenangkan dirinya yang nyaris bergetar hebat. Luhan tiba pada hitungan ke delapan tujuh saat sebuah suara keras nyaris membuatnya tersentak. Suara itu berada di luar lift.
Luhan mengumpulkan seluruh tenaganya untuk bangkit –masih berpegang erat pada pegangan lift. "Toloooooong, ada orang di dalam," teriaknya dengan nada suara bergetar.
Beberapa detik berlalu pintu lift dibuka dengan paksa, suara debumannya membuat Luhan kembali merosot ke lantai.
"Kau baik-baik saja?" tanya seseorang.
Luhan mendongak untuk melihat siapa orang itu, kemudian ia melihat seorang pria yang tidak asing lagi baginya –Luhan sangat yakin itu pria yang menyelamatkannya kemarin. Pria itu memandangi Luhan dengan bingung, kemudian dengan cepat memeriksa tubuh Luhan.
Sedangkan Luhan hanya mematung memandangi pria itu. Ia masih terombang-ambing di antara kesadaran dan ketidaksadaran. Disaat seperti ini, Luhan masih bisa mengatakan bahwa pria itu lebih dari sempurna dimatanya.
Luhan menggerakkan bibirnya, tapi taka da suara yang keluar dari bibirnya.
"Kau mengalami luka? Ada yang sakit?" tambah pria itu lagi.
Luhan menggeleng, kemudian menurut saat pria itu mengangkat tubuhnya dengan hati-hati ke atas punggungnya. Ia mengambil buku Luhan yang berserakan di lantai dan mengeratkan tubuh Luhan di punggungnya.
Rasanya Luhan tak bisa bernapas dengan benar.
Jika tadi karena takut, sekarang pasti karena gugup.
Pria itu berlari menuju tangga darurat dengan cepat –dan dengan Luhan berada di punggungnya. Ia menggumamkan kata yang menenangkan Luhan, dan itu semakin membuat jantung Luhan berdetak lebih cepat.
Luhan memejamkan mata karena ia merasa ngeri berada digendongan orang yang sedang berlari menaiki tangga. Tubuhnya terasa seperti melayang-layang di udara, bahkan kepalanya mulai pening. Saat tubuh pria itu berhenti berdetak, ia membuka mata. Luhan dapat melihat pintu apartemennya.
Pria itu menurunkan Luhan, dan gadis itu memegang dinding agar tidak jatuh.
"Kau sudah aman. Kau bisa masuk, ada yang harus kuselesaikan," bisik pria itu, menyerahkan buku-buku Luhan.
Lalu, dengan keberanian yang Luhan kumpulkan dengan susah payah. Ia memegang pergelangan tangan pria itu –tangan yang terulur padanya. Ia menggenggamnya erat-erat, mencari pegangan.
"Kumohon," bisiknya, sangat lemah –nyaris tak terdengar. Pria asing itu memandanginya dengan bingung.
"Luhan," balasnya, menyentuh tangan Luhan di atas tangannya sendiri.
"Tuan, kumohon. Jangan pergi. Aku benar-benar takut," ucapnya terbata, mencengkeram pergelangan tangan pria itu kuat-kuat. Ia benar-benar memohon dengan segenap keberaniannya.
Kemudian Luhan kembali merasa pening dan dadanya sesak, ia tak bisa merasakan kakinya dan tubuhnya nyaris membentuk lantai sebelum tangan pria itu menahan tubuhnya. Selebihnya, ia kembali terombang ambil diantara kesadarannya sendiri yang rentan.
.
.
Luhan tak tahu apakah pria misteriusnya itu membiusnya lagi atau memang ia benar-benar mengalami syok pasca kejadian lift tadi. Luhan membuka matanya yang terasa berat, pemandangan yang ia tangkap pertama kali adalah langit-langit kamarnya yang berwarna gading.
Ia melirik ke arah samping dan melihat sesosok pria asing yang duduk di samping tubuhnya, memandanginya dengan pandangan khawatir yang tak Luhan pahami.
Setengah sadar, Luhan mengangkat tangannya untuk menyentuh pria itu. Mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia tidak sedang bermimpi –bahwa pria dihadapannya itu nyata. Dan Luhan benar-benar bisa merasakan sentuhan pria itu di tangannya.
"Kau baik-baik saja, Luhan?" tanya pria itu.
Luhan berkedip beberapa kali, membuka bibirnya untuk berkata. "T-tu-an," ucapnya terbata, tenggorokannya terasa kering. "S-siapa k-kau?" tambahnya susah payah.
Pria itu tersenyum ringan. "Kau perlu istirahat," balasnya.
"S-siapa k-kau?" ulang Luhan lagi.
"Oh Sehun,"
Dan Luhan kembali terlelap dengan sebuah nama terngiang dibenaknya.
Oh Sehun.
.
.
TBC
.
.
Hallo, Author kembali dengan chapter 3. Semoga ceritanya memuaskan.
Akhirnya dichapter ini Sehun muncul juga. Semoga para readers tidak bosan ya dengan jalan ceritanya. Author memang sengaja buat begini /hihi/
Author pikir fanfiction ini sepi peminat /huhu/ sepi banget yang review /hehe/ jadi maaf ya kalo kelamaan updatenyaaa~ Author harus mengumpulkan niat dulu untuk nulis chapter selanjutnya.
Selain kritik dan saran, Author juga menerima jika ada readers yang ingin menyampaikan jalan cerita selanjutnya untuk fanfiction ini. Bagaimana cerita ini ke depannya, bagaimana harus diakhiri, Author juga menerima saran untuk pertimbangan.
Selain itu, Author juga berminat membuat grup line khusus readers lolipopsehun untuk sharing aja. Jika ada yang berminat langsung hubungi Author aja ya. Id line: violensiaivena
Akhir kata, Author sampaikan terima kasih dan mohon maaf yang sebesar-besarnya jika ada kesalahan.
Terima kasih telah membaca fanfiction ini.
Jangan lupa review ya untuk menambah semangat Author~ /hihi/
Sampai jumpai dichapter depaaaaan~
Byeeeeee~
