Jinyoung merasa dia sudah benar-benar mantap dengan keputusannya. Setelah kejadian Jaebum memarahinya seminggu yang lalu, dia terus berfikir untuk memutuskan hubungannya dengan semua selingkuhannya. Termasuk Jackson.

Mudah saja bagi Jinyoung untuk memutuskan mereka, toh dia sama sekali tidak punya perasaan apa apa pada mereka. Meskipun dia tidak tahu betul dengan Jackson.

Hari itu, setelah selesai urusannya dengan semua pacar simpanannya, Jinyoung pergi ke apartemen Jackson. Tentu saja Jinyoung sudah menghubungi Jackson terlebih dahulu takut takut ada Bambam disana. Meskipun, apa yang mau disembunyikan lagi, toh Bambam tahu semuanya.

Jinyoung sampai di apartemen Jackson sekitar pukul 2 siang. Dia langsung masuk kedalam tanpa mengetuk pintu dulu, dia sudah tahu Jackson sendirian di sana dan dia tahu password apartemen Jackson kalaupun dia mengetuk pintu atau memencet bel Jackson pasti hanya akan berteriak dan menyuruhnya masuk sendiri.

"Hai sayang?" Baru saja masuk, Jackson yang sedang menonton tv di sofanya langsung meloncat dan memeluk Jinyoung.

"Hai." Jinyoung hanya diam, tidak membalas pelukan Jackson. Dia hampir lupa kalau kedatangannya ke apartemen Jackson hanya untuk memutuskan hubungan mereka.

Merasakan reaksi Jinyoung yang diam saja Jackson malah mempererat pelukannya sambil kepalanya dia dekatkan ke ceruk leher Jinyoung. Mencoba mengambil alih pengendalian diri Jinyoung.

"Kau kenapa? Kenapa diam saja?"

"Aku ingin bicara." Jinyoung akhirnya melepaskan pelukan Jackson dan duduk di sofa menunggu Jackson menyusulnya duduk.

"Kenapa?" Jackson duduk di sofa, tangannnya terulur memegang erat tangan Jinyoung.

"Bisakah kita akhiri ini?" Jinyoung memberanikan diri. Kepalanya tertunduk matanya fokus melihat karpet tidak berani menatap Jackson, takut akan tertelan pesona Jackson lagi. Tapi tangannya maih ada dalam genggaman Jackson.

"Jinyoung-ah tatap aku kalau kau bicara padaku." Jackson memalingkan kepala Jinyoung menghadap kepadanya. Dia meremas tangan Jinyoung dan menatap mata Jinyoung dalam. "Katakan, ada apa? Kenapa kau mendadak ingin mengakhiri semuanya?"

"Aku takut Jackson, aku takut Mark hyung tahu. Aku tidak mau kehilangan dia. Aku mencintai dia." Jinyoung merasakan matanya mulai memanas, dia merasa air matanya akan segera tumpah. Dia ingin menangis, tapi tidak dihadapan Jackson.

"Lalu kau ingin menghilangkan ku?" Jackson kembali berbicara, tangannya berpindah ke bahu Jinyoung matanya masih menatap Jinyoung tajam.

"Bukan begitu, ta.. tapi.." Belum sempat Jinyoung menyelesaikan kata katanya Jackson sudah menciumnya. Jinyoung diam, dia kaget dan bingung. Hatinya ingin melepaskan ciuman itu tapi badannya menolak. Dia malah membalas ciuman Jackson.

Mereka berciuman cukup lama dan berhenti ketika keduanya membutuhkan oksigen. "Lihat kau bilang kau ingin mengakhirinya tapi tubuhmu tidak Jinyoung. Kenapa harus diakhiri? Selama ini kita baik baik saja. Mark tidak akan tahu."

"Tapi aku tidak mau menyakitinya lagi Jackson. Kau juga harus berhenti. Pikirkanlah juga perasaan Bambam."

Jackson tersenyum hambar, "Tidak ingin menyakiti? Sudah terlambat. Kita sudah melakukannya terlalu jauh. Kalaupun kita berhenti, itu tidak mengubah apa yang sudah terjadi. Sudahlah jangan pikirkan mereka, Mark baik baik saja dan Bambam juga tidak apa apa. Sekarang hanya ada kau dan aku. Suka atau tidak kau sudah terlanjur jatuh dalam pelukanku Jinyoung."

Jinyoung tertegun. Dia tidak bisa menjawab perkataan Jackson. Jackson benar, mereka sudah melangkah terlalu jauh. Dan bagaimanapun mereka tidak akan bisa merubah kenyataan kalau Jinyoung telah hanyut dalam Jackson.

Jinyoung mengangkat kepalanya, melihat tepat ke arah mata Jackson, Jinyoung meraskannya kilatan nafsu di mata Jackson. Dan benar saja tidak sampai satu detik Jackson sudah menyambar bibirnya lagi dan terus menyebar sampai ke leher.

Hari itu Jinyoung gagal. Dia gagal mengakhirinya dengan Jackson dan justru malah memperjauh hubungan mereka.

Lagi lagi Jinyoung pulang larut ke dormnya. Dia menemukan Jaebum dengan tatapan kosong duduk di sofa sambil terus menatap tv yang sama sekali tidak menyala. Kenapa dengannya?

"Dari mana kau? Kencan lagi." Kalau biasanya Jinyoung memang sudah menyangka kalau Jaebum akan menginterogasinya, kali ini tidak. Dia benar benar tidak menyangka kalau Jaebum akan berbicara padanya. Sejak kejadian seminggu yang lalu Jaebum mendiamkannya. Dia tidak berbicara sepatah kata pun padanya tapi hari ini berbeda. Ada apa?

"Mengerjakan tugas." Jinyoung menjawab asal. Tidak mungkinkan dia bilang baru habis bertemu dengan Jackson.

"Tugas apa? Menghias tubuh? Atau memakan wajah satu sama lain?" Jinyoung tahu kemana arah pembicaraan Jaebum. Tapi untuk kali ini saja dia tidak akan ambil pusing. "sudah mengecek Hpmu?" Jaebum berkata lagi, akhirnya dia menengok kepada Jinyoung.

Hp? Jinyoung ingat tadi ketika akan menemui Jackson dia memasukan Hpnya kedalam tas. Dia juga terbisa menyetel Hpnya dalam silent mode, dan dari tadi dia tidak memegang Hp nya lagi sejak saat itu jadi dia tidak tahu ada apa dengan Hpnya.

"Tidak. Kenapa?"

"Mark menelpon, dia bilang dia tidak bisa menghubungimu, bahkan sampai 25 kail percobaan. Dia juga tidak bisa menghubungi Jackson. Beruntung si bodoh itu tidak curiga." Jaebum tertawa merendahkan Jinyoung. "Dia bahkan menitipkan pesan padaku untuk mengatakan padamu kalau dia mencintaimu, merindukan mu dan bisa bisanya dia bilang untuk kau jaga kesehatan. Belum tahu saja dia kalau kekasihnya itu seorang bajingan." Jaebum berkata seakan Jinyoung tidak ada didepannya. Dia benar benar kesal pada Jinyoung. "Oh iya, dia bilang, dia akan pulang bulan depan. Jadi bersiaplah!... Untuk kehancuran hubungan kalian." Jaebum pun pergi ke kamarnya dan meninggalkan Jinyoung. Jaebum merasa ingin memukul Jinyoung jika dekat dekat dengan Jinyoung terlalu lama.

Jinyoung terdiam, seakan membeku ditempatnya. Dia langsung mengecek Hpnya, dan benar saja ada 40 lebih miscall di Hpnya, sepertinya Mark mencoba menghubunginya lagi setelah menelpon Jaebum. Terdapat 15 pesan masuk juga disana. Semua dari Mark. Isinya sama, masih ungkapan rasa cinta dan rindunya Mark. Jinyoung merasa seperti membaca curhatan Mark dalam pesannya. Dia terus mengscroll layar Hpnya hingga sampai ke pesan terakhir yang di kirimkan Mark pukul 19.16.

From : Mark hyung

Jinyoungie kau sebenarnya kemana? Aku sengaja pergi ke perbukitan hanya untuk mendengar suaramu. Aku mendapat privilage untuk libur satu hari. Tapi kau tidak mengangkat telponku, Aku sebenarnya ingin menunggumu lebih lama lagi, tapi aku tidak punya waktu banyak. Aku harus segera pulang ke asrama sebelum komandanku menemukannku pergi terlalu lama. Dia tahu aku pergi dari pagi dan bisa bisa aku tidak kebagian jatah makan malamku kalau aku tidak pulang sekarang. Maafkan aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi. I love you. Aku akan pulang bulan depan, jadi bersiaplah, kau akhirnya menjadi pacar seorang prajurit. :*

Jinyoung tak tahan lagi, dia lari ke kamarnya dan menangis sejadi jadinya. Dia membayangkan Mark yang menunggunya menghubunginya lagi di tengah hutan sendirian dan seharian. Dia bilang dia pergi dari pagi dan baru pulang pukul 7 malam, artinya Mark sama sekali tidak makan dan minum seharian karena menunggunya. Jinyoung merasa bersalah. Dia sebenarnya ingin berhenti, tapi dia gagal mengakhirinya dengan Jackson. Dia tidak bisa tegas pada Jackson. Dia gagal. Tapi disisi lain dia tidak bisa dan takut kehilangan Mark.

Apa yang harus ku lakukan? Maafkan aku Mark hyung.

Short update ^^ chapter depan Mark pulang.

Sebenernya ga tega juga sama Mark, tapi Mark kuat kok, Mark bisa XD

Makasih udah baca/follow/fav ^^