I am Back for You
.
.
.
Summary : Setelah 17 tahun hidup di Cina, Kim Kibum kembali ke Korea Selatan demi
memenuhi janji semasa kecilnya.
Declaimer : Super Junior milik diri mereka sendiri, keluarga dan SMEnt.
Pairing : KiHae (Kibum Donghae) or KyuHae (Kyuhyun Donghae) ?
Other cast : HanChul (orang tua angkat Kibum), Leeteuk, YunJae, yang lain menyusul sesuai dengan kebutuhan cerita :D
Rating : T (teen)
Genderswitch : Donghae, Heechul, Leeteuk, Jaejoong, maybe more.
Don't like don't read, no flame, no copas, review please.
^^ Saranghaeyo Super Junior ^^
Dengan mata sendu Kibum melangkahkan kakinya gontai kembali ke dalam rumah, tangan kanannya memegangi dada kirinya. Dia merasakan jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya. Tanpa sadar, kedua kakinya telah membimbingnya sampai di ruang tamu.
"Kibum-ah, gwaenchanayo?" sebuah suara lembut mengembalikan rohnya yang berkelana entah kemana kembali pada kesadarannya.
"Nan gwaenchana, eomma." Senyum tipis –agak terpaksa- tercetak di wajahnya, mengisyaratkan dia baik-baik saja.
"Kemarilah, eomma menunjukkan sesuatu padamu."
Tanpa mendengar jawaban Kibum, Leeteuk berbalik dan berjalan meninggalkan ruang tamu. Kibum hanya mengernyit bingung, namun dia tetap mengekori (?) Leeteuk.
Sampailah mereka pada sebuah ruangan yang Kibum identifikasikan sebagai ruang kerja Leeteuk. Didudukkan dirinya pada sofa panjang yang ada di ruang itu. Kedua onyx Kibum menjelajahi seluruh interior ruangan, sementara Leeteuk sibuk mencari sesuatu di meja kerjanya. Leeteuk menghampiri Kibum setelah ia mendapatkan apa yang ia cari, dia duduk di samping Kibum.
"Ini." Leeteuk menyodorkan sesuatu –sebuah foto berukuran 4x6- kepada Kibum.
Kibum menerimanya dengan raut wajah bingung, meminta penjelasan lebih lanjut kepada Leeteuk kenapa dia diberi foto sebuah yeoja manis dengan surai hitam sebahunya yang dibiarkan tergerai sedang tersenyum riang. Mengerti akan tatapan Kibum siapa-yeoja-yang-ada-di-dalam-foto-ini?-kenapa-eomma-memberikannya-padaku? Itu, Leeteuk tersenyum lembut dan membuka suara.
"Itu uri Donghae, Kibum-ah. Cantik kan?"
"Hae-Hae noona?" kedua matanya membulat sempurna, mulutnya dengan sendirinya menanyakan hal itu pada Leeteuk, sekedar untuk memastikan kalau telinganya tidak salah menangkap ucapan Leeteuk.
"Ne." jawab Leeteuk seraya menangguk mantap. Kibum mengalihkan tatapannya kini dari Leeteuk kepada sosok yeoja mempesona dalam foto di tangannya, mata polos yeoja itu seakan memerangkapnya.
Kedua sudut bibir Kibum melengkung naik ke atas membentuk sebuah senyuman. "Neomu yeppo."
Leeteuk yang masih bisa mendengar gumaman super lirih dari mulut Kibum menyunggingkan angelic smile yang dimilikinya.
"Mengapa tadi kau langsung berlari, Kibum-ah? Pasti sulit bagimu mengenali wajah Donghae saat ini."
"Aku hanya sangat senang akan berjumpa dengannya, eomma."
"Kau benar-benar merindukannya, eoh?" Leeteuk tersenyum menggoda.
"Eumh, begitulah eomma. Rengekkan manja dan tangisan cengengnya selalu saja memenuhi otakku selama ini. Apa dia masih kekanakan seperti itu, eomma?"
"Yah, dia sudah menjadi seorang dewasa, Bum-ah. Tentu saja dia gengsi bersikap seperti itu."
Leeteuk dan Kibum tertawa bersama mengingat betapa cengeng dan kekanakkannya si kecil Donghae dulu.
"Oh iya, eomma, di mana apaa? Aku belum melihatnya sedari tadi." Tanya Kibum penasaran karena tidak menemukan sosok namja tegas yang juga ia rindukan.
Seketika sorot mata Leeteuk meredup. "Appamu sudah di surge, Kibum-ah." Jawab Leeteuk pelan. Kumpulan cairan bening siap meluncur dari sudut mata indahnya kapan saja. Kibum membelalakkan matanya kaget mendengar kabar duka dari Leeteuk.
"Lima tahun lalu dalam sebuah kecelakaan lalu lintas." Leeteuk melanjutkan ucapannya, kini air mata yang ditahannya sekuat mungkin telah meluncur menuruni pipi putihnya.
"Uljima, eomma." Kibum mengusap air mata Leeteuk lembut. "Jeosonghaeyo aku tidak mengetahui tentang Kangin appa." Kibum menarik tangannya dari pipi Leeteuk dan menundukkan kepalanya, dia sangat sedih dan menyesal tidak berada di saat Kangin –pemilik panti asuhan, suami Leeteuk- kembali kepada Tuhan.
Kangin dan Leeteuk adalah sepasang suami istri yang tidak dikaruniai anak. Untuk menghilangkan kesedihan istrinya, Kangin membangun panti asuhan ini. Dia tidak ingin istrinya yang sangat menyukai anak-anak dan sangat keibuan itu tertekan.
"Gwaenchana, Kibum-ah. Kita doakan saja appamu bahagia di sana." Ujar Leeteuk menenangkan Kibum dari penyesalannya saraya menepuk pelan bahu Kibum.
"Ne, eomma. Tuhan pasti menjaga appa dengan baik, appa adalah orang yang berhati mulia." Leeteuk tersenyum dan menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Kibum.
"Bagaimana kabar Tuan dan Nyonya Tan di Cina? Apa mereka merawatmu dengan baik?"
"Ne, eomma, mereka sangat menyayangiku. Kabar mereka baik."
"Syukurlah, eomma senang mendengarnya. Besok eomma akan memberitahu Donghae kalau kau ada di Seoul."
"Aniyo,eomma. aku ingin memberi kejutan untuk noona."
"Aiish, arraseo. Terserah padamu saja, Kibum-ah."
Leeteuk dan Kibum bercengkerama melepas rindu. Kibum menceritakan kehidupannya di Cina dengan orang tua angkatnya yang begitu menyayanginya. Dia juga menceritakan tujuan kedatangannya ke Korea Selatan, yang tidak lain adalah untuk mengembangkan salah satu perusahaan appanya dalam bidang fashion di Seoul.
.
.
.
Di sebuah mobil mewah yang membelah kesibukan lalu lintas kota Seoul, terdapat seorang namja tampan bersurai ikal coklat madu yang sedang berkonsentrasi menyetir dan seorang yeoja cantik bersurai hitam pekat sepanjang bahunya yang dibiarkan terurai sedang asyik menikmati pemandangan kota Seoul pada petang hari tersebut melalui kaca mobil.
"Kyunnie-ah, kau mau mengajakku makan malam di mana?" tanya yeoja itu –Donghae- kepada namja yang focus dengan kemudi di sampingnya –Kyuhyun.
Kyuhyun menolehkan kepalanya ke arah Donghae sekilas dan tersenyum misterius. "Rahasia. Kalau kuberitahu sekarang tidak asyik lagi." Perhatiannya kembali pada kegiatan menyetirnya.
"Yack! Kyunnie pelit." Donghae memasang wajah cemberut. "Makanannya harus enak, ne?" seketika rona wajah Donghae berubah menjadi riang kembali.
Kyuhyun hanya terkekeh melihat kelakuan Donghae. 'Cepat sekali moodnya berubah,' batin Kyuhyun. Setelah itu, hanya keheningan yang menyelimuti mereka. Kyuhyun dan Donghae disibukkan dengan isi kepala mereka masing-masing.
Kyuhyun mengendarai mobilnya memasuki parkiran sebuah restoran mewah bergaya eropa, lalu diparkirkannya Sonata itu.
"Ayo turun, noona." ujar Kyuhyun -yang ternyata sudah berdiri membukakan pintu untuk Donghae- membuyarkan lamunannya.
Donghae keluar dari mobil dan dengan segera tangan kanannya yang tidak menenteng tas jinjingnya digenggam Kyuhyun. Kyuhyun membimbing Donghae masuk ke dalam restoran. Tidak henti-hentimya Donghae mengamati keadaan restoran yang –Donghae pikir- aneh.
"Kyunnie-ah, sepertinya sudah tutup, kita pulang saja. Sepi sekali tidak ada pengunjungnya." Donghae menuturkan argument sekaligus rasa penasarannya pada Kyuhyun yang hanya ditanggapi senyuman misterius –lagi- oleh Kyuhyun.
Sampailah mereka pada sebuah meja yang hanya terdapat dua kursi dengan lilin di atasnya dan ditemani dengan red rose favorit Donghae. Romantis. Satu kata itulah yang dapat menggambarkan suasana di hadapan mereka. Kyuhyun menuntun Donghae menuju salah satu kursi dan menariknya, mempersilakan Donghae untuk duduk. Sementara Kyuhyun menempati satu kursi lain di depan Donghae.
Kyuhyun menepuk kedua tangannya sekali, lalu muncullah seorang pelayan yang membawakan makannan –steak danging sapi- dan wine –dibantu oleh sebuah meja dorong dengan roda di keempat sisinya *aduh, author bingung ngomongnya* Setelah pelayan itu meletakkan makanan dan menuangkan wine untuk Kyuhyun dan Donghae, dia permisi undur diri. Tidak sampai di situ saja suasana romantic yang tercipta, suara melodi biola yang berduet dengan piano mengalun merdu nan lembut menemani acara dinner mereka.
"Kyu-"
"Aku mengusir semua pengunjung, noona." Kyuhun memotong perkataan Donghae, sekaligus menjawab rasa penasaran yang bersarang di pikiran Donghae. "Ayo makan. Steak di sini terkenal yang paling enak."
"Euhm." Donghae menganggukkan kepalanya dan mulai memotong steak yang ada di hadapannya."
"Masshita." Ujar Donghae seraya tersenyum senang seusai menyuapkan sepotong steak ke dalam mulutnya.
Kyuhyun dan Donghae melalui acara dinnernya –yang romantic- diselingi dengan canda tawa kecil yang keluar dari bibir mereka.
Usai menghabiskan makan malamnya, tiba-tiba Kyuhyun mengeluarkan sebuah kotak persegi panjang berwarna merah dan meletakkannya di atas meja. Dan lagu yang mengalun dari instrument biola dan piano kini adalah Marry U, lagu dari boyband super terkenal asal Korea Selatan. Kyuhyun membuka kotak tersebut dan meraih tangan kanan Donghae dengan tangan kirinya. Donghae terbelalak kaget saat dilihatnya sebuah kalung yang sangat cantik –dan terkesan sangat mahal- bertahtakan batu rubi biru disertai mutiara-mutiara di sepanjang kalung tergeletak di dalam kotak itu.
"K-kyu-"
"Lee Donghae, would you marry me?" Kyuhyun memotong ucapan Donghae –lagi- saat Donghae hendak melontarkan sebuah pertanyaan.
Sontak Donghae membulatkan matanya sempurna mendengar permintaan –lamaran- Kyuhyun. Digenggamnya tangan Donghae erat dan ditatapnya kedua manic kelam Donghae dalam.
"Haha.. ja-jangan ber-can-canda, K-kyu.." Donghae tertawa canggung untuk menenangkan detak jantungnya yang berpacu lebih cepat.
"Aku serius, Donghae-ah. Saranghae." Tegas Kyuhyun dengan menekan setiap katanya.
Donghae menemukan kesungguhan di kedua obsidian Kyuhyun. Donghae bingung bagaimana mengungkapkan apa yang ada di pikirannya tanpa melukai hati Kyuhyun, otaknya sibuk merangkai kata yang tepat.
"A-aku belum siap. Mi-mian." Donghae menundukkan kepalanya. Dia takut menangkap raut kekecawaan, kesedihan ataupun kekesalan di wajah Kyuhyun.
"Gwaenchana. Aku akan terus menunggumu tanpa lelah. Simpanlah ini –kalung- sampai kau siap."
"Ta-tapi.."
"Aku tidak menerima penolakan, Lee Donghae."
"Arraseo."
.
.
.
Saat di mobil selama perjalanan pulang, hanya keheningan yang menyelimuti atmosfer di antara mereka. Baik Kyuhyun maupun Donghae tidak ada yang berniat buka suara suara guna memecahkan keheningan yang melanda. Keduanya sibuk dengan kegiatan dan pikiran masing-masing. Tanpa disadari Donghae, mobil yang dikendarai Kyuhyun sudah sampai di depan apartemennya. Donghae segera mengumpulkan kesadarannya dari alam antah-berantahnya, mencoba bersikap biasa untuk menghilangkan kecanggungan yang tiba-tiba menyergap merekan.
"Kau mau mampir, Kyu?"
"Ani, istirahatlah, noona."
"Baiklah, gomawo."
Donghae hendak membuka pintu mobil dan melangkah keluar, namun pergelangan tangannya dicekal oleh Kyuhyun.
Donghae berbalik kembali menatap Kyuhyun. "Wae geurae, Kyunnie-ah?"
Kyuhyun mencondongkan tubuhnya mendekat kepada Donghae, sedangkan Donghae hanya diam terpaku. Kyuhyun mengecup kening Donghae lembut dan sayang, sekedar ingin menjelaskan kepada Donghae betapa ia mencintai Donghae. Kyuhyun menjauhkan tubuhnya dan mengulas senyum.
"Masuklah, noona."
"Euhm." Donghae hanya menganggukkan kepalanya dan beranjak keluar dari mobil Kyuhyun.
Donghae hanya memandangi mobil Kyuhyun yang semakin menjauh dari hadapannya dan lenyap di tikungan. Tidak ada lambaian tangan dan senyum riang seperti biasanya, atau sekedar kata 'hati-hati' saat mengiringi kepergian Kyuhyun. Pikiran Donghae masih kalut akan kejadian tadi –lamaran Kyuhyun.
Donghae melangkahkan kakinya terseok-seok menuju apartemennya. Begitu sampai di dalam apartemen, dia hanya berjalan menuruti ke mana kakinya akan membawanya. Balkon. Kini Donghae berdiri di balkon apartemennya seraya memandangi langit malam berhias bintang-bintang yang gemerlapan. Kedua mata polosnya menerawang entah jauh ke mana.
"When will you come back, eoh? Bogoshippoyo." Rancaunya entah pada siapa.
.
.
.
Senyum terus mengembang menghiasi bibir kissable nya. Tak bosan-bosannya dia pandangi selembar foto yang diberikan oleh Leeteuk saat di panti asuhan petang tadi. Sekelebat bayangan masa lalu melintasi pikirannya.
#flashback#
Terlihat seorang yeoja kecil nan manis sedang asyik mencorat-coret kertas gambarnya di bawah sebuah pohon besar nan rindang, membentuk sebuah pola gambar ikan yang didominasi oleh warna orange, sementara namja kecil di sampingnya tengah meyibukkan diri membaca sebuah buku ensiklopedia –yang diduga terlalu berat untuk menjadi bacaan seorang murid kelas 2 SD berusia 6 tahun- sambilm menyenderkan punggungnya pada batang pohon. Semilir angin sore hari membelai surai hitam mereka.
"Bummie-ah, lihat! Lucu kan?"
Yeoja kecil itu menunjukkan hasil karyanya kepada namja kecil di sebelahnya dengan kedua mata polosnya yang berbinar-binar. Diturunnya buku ensiklopedi yang tengah dia baca dan menatap kertas gambar itu datar.
"Lucu apanya? jelek." Ujar si namja kecil -Kibum- lalu memfokuskan dirinya kembali pada buku yang sejenak ia tinggalkan.
Yeoja kecil nan manis itu –Lee Donghae- mem-pout-kan bibir dan menggembungkan kedua pipinya serta memasang ekspresi kesal di wajahnya yang -menurut Kibum- begitu imut.
"Yack! Nemo tidak jelek, dia lucu, Kibummie~" Seru yeoja kecil itu yang lebih tua satu tahun dari Kibum itu.
"Gambarmu aneh, noona."
Tiba-tiba segerombolan anak lain –yang terdiri dari 5 orang- muncul di hadapan kedua anak yang sedang asyik beragumen tersebut. Seorang yeoja kecil –yang diperkirakan sebaya dengan Donghae- merebut kertas gambar Donghae. Seketika Donghae mendongakkan wajahnya untuk melihat siapa gerangan yang telah merebut –paksa- gambar miliknya. Melihat siapa yang telah menyambar gambarnya secara kasar itu, sontak Donghae menundukkan kepalanya –takut.
"Iihhh, jelek sekali, mengerikaa, seperti gambar anak TK saja." Maki yeoja itu, dipandangnya remeh gambar Donghae dan membuangnya ke dalam kubangan lumpur yang berada tak jauh dari tempat mereka kini.
"Yaah! Hyunna-ah, kenapa kau membuangnya? hanya aku yang boleh mengatakannya jelek." Teriak Kibum jengkel dengan kelakuan temannya di panti itu.
Donghae bangkit hendak mengambil kertas itu, namun dengan segera Hyunna mendorong Donghae dengan kuat hingga Donghae jatuh tersungkur di dalam kubangan lumpur tersebut bersama dengan gambarnya.
"Yack! Apa yang kau lakukan!" teriak Kibum kalap. Tanpa dikomando, segera dihampirinya Donghae yang sudah berlumuran lumpur dan membantunya berdiri.
"Kibum-ah, kenapa kau berteman dengannya? Bergabunglah dengan kami, dia tidak pantas menjadi temanmu." Kata namja kecil bertubuh tambun yang berdiri di samping Hyunna.
"Aku tidak meminta pendapatmu, Shindong-ah. Jangan ganggu Donghae noona lagi. Enyahlah dari hadapan kami!" perintah Kibum dengan sorot mata tajam menusuk.
"Kau akan menyesal, Kim Kibum." Ucap Hyunna terakhir kali dengan nada mengancam sebelum melenggang pergi dengan teman-temannya.
"Hiks.. hiks.." isak tangis keluar dari mulut Donghae.
"Uljima, noona, mereka sudah pergi."
"Hiks.. hiks.. hueeeee~" Bukannya berhenti tapi isak tangis Donghae malah pecah semakin keras. kibum gelagapan bingung harus berbuat apa untuk meredakan tangisan Donghae.
"Ya-yah! Kenapa malh semakin keras?"
Setelah bisa menenangkan diri, akhirnya Donghae menghentikan acara mari-menangis-tersedu-sedu-sepuasnya-dan-sekeras-mungkin.
"Go-gomawo hiks Ki-hiks Kibummie hiks." Ujar Donghae yang masih sesegukan.
Kibum terkekeh melihat ekspresi wajah childish Donghae saat itu. "Cheonma, noona. ayo masuk ganti bajumu lalu minta Teukie eomma mengobati lukamu."
Donghae memandangi keadaan dirinya yang berantakan sejenak. Dilihatnya pakaiannya yang telah berantakan dan kotor oleh lumpur serta dipandanginya sejenak beberapa luka lecet di siku dan lututnya.
"Hueee~ aku terluka, sakiiiit~" tangis Donghae kembali pecah.
Kibum hanya menatap cengo Donghae. 'Padahal tadi sudah diam, sekarang diteruskan menangis lagi?' batin Kibum heran akan sikap cengeng Donghae yang melebihi batas kewajaran –menurutnya.
Tanpa menunggu Donghae menyelesaikan acara tangis-menangisnya, Kibum menuntun Donghae ke dalam rumah menemui Leeteuk.
#flashback ends#
Kibum tersenyum geli mengingat sosok yang ada di masa lalunya itu.
"Noona, kau cengeng sekali. Hmm, aku tidak sabar bertemu denganmu."
Diletakkannya foto itu di dadanya. Kibum memejamkan kedua matanya, merilekskan sendi-sendinya dan beranjak memasuki dua mimpi indahnya yang senantiasa ditemani oleh sosok yeoja yang sangat dia rindukan.
.
.
.
"Dongeng apa hari ini? Snow White lagi, eoh?"
Kyuhyun melangkahkan kakinya menghampiri segerombolan anak yang tengah duduk membentuk lingkaran di halaman belakang panti asuhan Sapphire Blue, dengan satu yeoja dewasa ikut duduk melingkar yang menjadi pusat perhatian. Kyuhyun mendudukkan dirinya di luar lingkaran, berhadapan dengan yeoja cantik itu.
"Kyu oppa!" teriak salah satu yeoja kecil yang ikut duduk melingkar dan segera berlari menghambur ke dalam pelukan Kyuhyun.
Kyuhyun menyembut pelukan yeoja kecil itu dan menempatkan dia dalam pangkuannya. "Sulli-ah, kau sudah sembuh?" tanya Kyuhyun.
"Ne, oppa. Donghae eonnie cudah mengucil cakitnya." Jawabnya lucu dengan cadelnya. Kyuhyun mengelus lembut rambut Sulli seraya tersenyum.
"Hyung! Jangan menganggu noona yang cedang belcerita. Huh cebal~" Tutur namja kecil bermodel rambut ala jamur yang duduk di pangkuan Donghae yang tengah bersungut ria dengan mengerucutkan bibir mungilnya dan melipat tangannya di dada.
"Mianhae, Taeminnie. Noona menceritakan dongeng apa?"
"Beauty and The Beast, oppa." Jawab bocah kecil lainnya yang bernama Tiffany.
"Jinjja? Biasanya selalu Snow White?" tanya Kyuhyun dengan nada mengejek.
"Yack! Kyu evil, aku kan tidak hanya bisa satu dongeng saja. Lagipula nae dongsaengdeul yang manis ini menyukai Snow White, jadi tidak masalah kan?" Donghae angkat bicara guma membela diri.
"Ehmm, kalau dipikir-pikir Beauty and The Beast itu seperti Hae eonnie dan Kyu oppa." Kata anak lain yang bernama Victoria -dengan tangan kiri diletakkan di dagu dan telunjuk tangan kanan di kepala membentuk pose berpikir- yang melerai –secara tidak langsung- perdebatan Kyuhyun dan Donghae.
"Eh? Kenapa begitu, Vic noona?" tanya namja kecil dengan mata bulatnya –Minho- penasaran.
"Karena Hae eonnie yang cantik dan baik hati mau bersama dengan Kyu oppa yang jelek dan jahat." Jawab Victoria tanpa dosa. Sontak hal ini menimbulkan tawa terbahak-bahak dari anak-anak dan juga Donghae yang mendengarnya.
"Ya-yah! Vic-ah, Kyu oppa ini sangat tampan dan baik hati, berbeda sekali dengan Beast yang kejam dan buruk rupa itu." Jelas Kyuhyun yang tengah berusaha menekan amarahnya yang sudah di ubun-ubun. Tidak elit sekali kalau dia marah atas penuturan polos anak kecil.
"Aku cetuju dengan Vic noona!" seru Taemin yang mengangkat tangannya setinggi .mungkin.
"Ya, aku juga setuju." Paduan suara anak-anak lain terdengar menyetujui argument Taemin, bahkan Sulli yang berada di pangkuan Kyuhyun pun turun berseru keras.
"Yack! Kalian ingin membully ku ramai-ramai, eoh?" Kyuhyun memasang wajah pura-pura kesalnya. "Ya sudah, akan ku kembalikan lagi ice cream nya kepada penjualnya." Kyuhyun berucap dengan memamerkan evil smirk kebanggaannya.
Mendengar dua kata yang menarik itu –ice cream- sontak mata anak-anak tersebut berbinar senang.
"Shireo oppa/hyung. Kau tampan dan baik hati, bla bla bla…" mereka pun melancarkan serangan rayuan maut kepada Kyuhyun ditambah dengan puppy eyes yang sangat menggemaskan yang tentu saja sulit menolak permohonan mereka.
"Arraseo. Masuklah, Teukie eomma sudah menunggu." Kata Kyuhyun akhirnya.
"Yeyeye!" anak-anak itu berdiri dari duduknya dan berlarian memasuki rumah, tidak sabar menikmati sensasi lembut, dingin dan manis dari ice cream.
Donghae terkekeh geli melihat tingkah dongsaengdeulnya. Tanpa dia sadari, Kyuhyun telah berdiri di hadapannya dan mengulurkan tangannya untuk membantu Donghae berdiri, dengan senang hati Donghae menyambutnya.
"And this is for you, my Beauty, who always accompany me." Kyuhyun mengeluarkan sekuntum mawar merah nan indah dari balik jas hitamnya dan menyerahkannya kepada Donghae.
"Gomawo." Donghae tersenyum memamerkan angelic smile nya yang tengah mampu menjerat seorang Cho Kyuhyun terjebak dalam pesonanya.
"Noona! hati-hati dengan Beast!" tiba-tiba teriakan Minho menggelegar dan merusak suasana romantis yang berusaha Kyuhyun ciptakan.
"Ne, Minho-ah!" Donghae balas berteriak.
"Yack! Choi Minho! Awas kau!" Kyuhyun tidak mau tertinggal ikut berteriak meramaikan suasana, sekaligus mengacaukan suasana romantis nya bersama Donghae.
Donghae asyik menertawai Kyuhyun, tetapi di saat Donghae lengah itulah dia tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Dikecupnya sekilas bibir Donghae, lalu kabur dari Donghae sebelum sang angel bertransformasi menjadi devil.
"Yack! Cho Kyuhyun pervert!"
Dan setelah itu terjadilah aksi kejar-kejaran yang melibatkan Kyuhyun dan Donghae. Tidak dihiraukan usia mereka yang sudah tidak pantas untuk melakukan hal itu.
.
.
.
'tok tok tok'
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Kibum yang tersenyum sendiri sedari tadi.
"Masuk," Kibum mempersilakan seseorang yang mengetok pintu ruang kerjanya untuk masuk. Begitu pintu dibuka, muncullah sosok namja jangkung dengan mata rubahnya yang berbalut jas hitam menutupi kemeja kuning yang dikenakannya.
"Oh, hyung." Kibum tersenyum mendapati sosok Yunho lah yang ternyata memasuki ruangannya. Kibum memanggil Yunho dengan panggilan informal karena saat ini adalah istirahat makan siang.
"Kibum-ah, kau mau makan siang di mana?"
"Terserah hyung saja."
"Bagaimana kalau kita makan siang bersama yeojachinguku saja, we are going to have lunch together. Sekalian kukenalkan padanya, dia itu sangat cantik. Tapi awas ya kalau kau menyukainya, dia hanya milikku seorang."
Kibum terkekeh geli mendengar ucapan Yunho. Setelah mengenal Yunho selama beberapa hari ini, ternyata Yunho adalah orang yang menyenangkan tapi kalau soal pekerjaan dia selalu serius dan tidak pernah main-main. Sosok Yunho yang professional itulah yang membuat Kibum mudah akrab dangannya.
"Aniya, hyung. Mana mungkin aku merebut wanitamu?"
"Baguslah. Belakangan ini sepertinya kau sedang senang, kau sering tersenyum-senyum sendiri. Mau berbagi cerita denganku?"
"Ehmm, aku akan menceritakannya kapan-kapan." Kibum tersenyum penuh misteri.
"Aiiish, terserah kau saja. ayo pergi, aku tidak mau BooJae ku menunggu lama. Kajja."
Kibum bangkit dari duduknya dan berjalan berdampingan dengan Yunho keluar dari ruangannya.
Sejenak Kibum menghentikan langkah kakinya. Tangan kanannya bergerak memegangi dada sebelah kirinya di mana jantungnya berada.
'Kenapa jantungku mendadak berdetak lebih kencang seperti waktu itu?' batin Kibum. Waktu itu yang dimaksud Kibum adalah saat dia keluar dari panti asuhan Sapphire Blue untuk mengejar Donghae tapi tidak bertemu –padahal Donghae melintas tepat di belakangnya.
"Waeyo?" tanya Yunho menoleh ke belakang ketika menyadari Kibum tidak berada di sampingnya dan menghentikan langkah kakinya.
"Ah, aniya hyung."
Kibum kembali berjalan sejajar dengan Yunho menuju mobil Yunho yang akan membawa mereka ke sebuah tempat untuk makan siang.
.
.
.
Di sebuah sudut café, terlihat dua yeoja yang salah satunya berambut hitam sepanjang punggungnya yang dikuncir ekor kuda -Kim Jaejoong- dan yang satunya lagi berambut coklat keemasan –Lee Donghae- *Hae ganti warna rambut* yang dibiarkan tergerai. Tak lupa hadir pula seorang namja bersurai coklat madu yang duduk di samping Donghae tengah asyik menarikan jarinya pada gadget canggih di tangannya, tidak dihiraukannya dua yeoja yang sedang bertukar cerita itu.
Yunho memasuki sebuah café di mana dia dan kekasihnya –Jaejoong- berjanji akan bertemu. Kibum masih setia mengikuti langkah Yunho. Yunho mengedarkan pandangan matanya menyusuri seluruh sudut ruangan. Senyum mengembang di bibirnya saat kedua matanya menangkap sosok cantik kekasihnya yang sedang melambaikan tangan ke arahnya.
"Kajja, Kibum-ah. Dia tidak sendiri, nanti kukenalkan kau pada mereka, biar kau tambah teman." Yunho melangkah mendekati tempat di mana kekasih dan temannya duduk.
"Annyeong, chagiya. lama menungguku?" sapa Yunho seraya bercipika-cipiki dengan Jaejoong.
"Aniyo, Yunnie-ah. Kau datang dengan seseorang?"
"Ne, dia presdir baru yang aku ceritakan." Jawab Yunho. "Hey, cepat kemari." Yunho melambaikan tangannya pada Kibum yang sedang dalam perjalanan menuju tempat duduk mereka.
Saat Kibum sudah mendudukkan dirinya di samping Yunho, sontak kedua matanya membulat saat mendapati sosok yeoja yang sangat familiar duduk di hadapannya, sosok yeoja yang beberapa hari ini dia pandangi melalui refleksinya di foto.
"BooJae, Donghae-ah, Kyuhyun-ah, kenalkan dia presdir baru The Style. Tan Kibum." Yunho memperkenalkan diri Kibum kepada tiga orang yang duduk bersamanya.
"Annyeong, Kibum-sshi. Kim Jaejoong imnida. Yunnie sudah banyak bercerita tentang dirimu."
"Ne." Kibum hanya menganggukkan kepalanya. Dia masih terpaku, pandangan matanya lurus menatap yeoja di depannya tanpa berkedip.
-Donghae POV-
Ki-Kibum?
Ahh, tidak mungkin. Yunho oppa bilang namanya Tan Kibum. Mana mungkin namja asing di hadapanku ini adalah Bummie-ku. *Donghae tidak tahu kalau orang tua angkat Kibum bermarga Tan*
-Donghae POV ends-
"Naega Lee Donghae imnida. Bangapseumnida, Kibum-sshi." Donghae menganggukkan sedikit kepalanya sabagai salam kenal dan menyunggingkan senyum manisnya pada Kibum.
"Tan Kibum imnida. Bangapseumnida, Donghae-sshi." Kibum pun balas tersenyum pada Donghae, ditampilkannya killer smile andalannya.
Donghae menyikut pinggang namja bersurai ikal di sampingnya yang mengacuhkan kehadiran empat manusia yang duduk bersamanya.
"Kyuhyun imnida."
Kyuhyun memperkenalkan dirinya dengan nada datar tanpa mengalihkan kedua obsidiannya dari iPhonenya yang telah menampilkan aplikasi permainan yang ada di smartphonenya itu.
"Kyu.."
Donghae memasang wajah kesal yang terlihat sangat imut bagi Kibum yang tak henti-hentinya menatap Donghae. Diambilnya iPhone dari tangan Kyuhyun secara paksa tanpa izin sang pemilik.
Kyuhyun berdecak sebal. "Cho Kyuhyun imnida. Namjachingu Donghae noona."Kyuhyun menekan setiap kata pada akhir kalimatnya. Dirangkulkannya lengan kirinya di pinggang Donghae possessive. Dia tidak suka cara Kibum yang memandang miliknya –Donghae- dengan intens.
Jedeeerr!
Petir serasa menyambar Kibum. Dapat dirasakan hatinya perih mendengar pernyataan –klaim- Kyuhyun yang bagaikan ribuan pisau tajam menghujam jantungnya. Seketika sorot mata Kibum meredup.
'Noona…' batin Kibum nelangsa.
.
.
.
T~B~C
