"Kita akan sampai sebelum matahari terbenam" Yifan memberikan peta yang sudah di rancangnya kepada pemimpinan kelompok mereka—seseorang yang mereka tuakan. Kibum memandang peta itu. "Kondisi kami lebih dari siap untuk berperang"
Matahari belum terbit, ayampun masih sesekali berkokok bersahutan. Kibum menghela nafasnya ketika seluruh adik adiknya sudah terbangun—mereka bahkan sudah hamper selesai berkemas. Mereka sangat mengerti kakak tertua mereka dengan baik. Kenyataannya, mereka mengintip Kibum dan Kyuhyun yang tengah berciuman panas di bawah rembulan. Membuat mereka yakin, mereka akan segera mengabdi pada seseorang secepatnya.
Siapa yang tidak tahu bahwa Kyuhyun adalah orang penting.
Dia menggunakan zirah perang yang keren dan pedang berlambang naga yang membuktikan identitasnya. "Kai, bangunkan Kui Xian!" titah Kibum yang membuat Kai langsung berdiri dan menuju satu satunya kamar di dalam rumah yang tampak seperti gubuk kuda di banding rumah layak huni.
Tak lama kemudian, Kyuhyun sudah terlihat di ambang pintu. Wajahnya terlihat sangat mengantuk, menceritakan tentang dirinya semalaman pada Kibum membuatnya merasa sangat lelah. Dia membutuhkan pria itu untuk menyelamatkan pasukannya dan membawa kemenangan untuk kaisar, tapi di balik itu dia tak bisa memungkiri dia seperti memanfaatkan pemimpin Xiang Ri Kui.
"Jifan, aku sudah katakan, aku—" Kyuhyun tak pernah ingin berharap Kibum akan menurutinya. Karena di dalam hatinya dia tak bisa memungkiri ia juga jatuh pada lelaki itu. Dia bahkan bersedia melepaskan jabatan istananya dan menjalani hidup yang sulit sebagai petani serba kekurangan bersama Kibum. Tapi di balik itu semua, Kibum mengatakan bahwa takdirlah yang mempertemukan mereka. Jatuh cinta pada Kyuhyun dan mendapatkan suratan pastilah untuk menolong Kyuhyun mendapatkan tahta, bukan hanya sekedar menikah dan hidup bahagia selamanya.
"Berikan hormat kalian!" suara berat Kibum membuat Kyuhyun tersentak.
Keenam anggota Xiang Ri Kui itu bersujud di kaki Kyuhyun. "Ucapkan sumpah!"
"KAMI XIANG RI KUI!"
"AKU JIN JI FAN!"
"AKU WU YI FAN" suara mereka lantang dan tegas.
"AKU HAN SU HO" terdengar berwibawa.
"AKU LI CHAN LIE"—menjanjikan.
"AKU HUANG ZI TAO"—bijaksana
"DAN AKU TAN KAI!" mata mereka menatap ke dalam bola mata Kyuhyun yang terlihat bercahaya. Dari dalam hati mereka mengucapkan nama mereka, nama yang mereka banggakan.
"KAMI BERSUMPAH ATAS NAMA LANGIT BAHWA JIWA RAGA KAMI UNTUK LIU KUI XIAN. SETIA SAMPAI MATI UNTUK MELINDUNGI TUJUAN DAN DIRINYA." Membuat Kyuhyun merasa tak ada yang perlu ia takutkkan lagi. Dia sungguh bersama dengan orang orang tangguh.
"Kui Xian, berikan pedangmu" Kyuhyun kelihatan bingung. Tapi ia menyerahkannya juga. Kibum menyayat sedikit kulit telapak tangannya, mengeluarkan darah dari sana, meletakkan darahnya di sebuah cawan besar yang berisi arak di hadapan Kyuhyun. Seluruh laki laki bersaudara itu melakukan hal yang sama. Mata mereka sarat dengan tekad, kepastian dan tanpa ragu.
Kyuhyun iri. Jika saja dia bisa memiliki keteguhan hati salah satu diantara mereka dia takkan menjadi pecundang payah seperti ini. Bagaimana negerinya akan maju jika dia yang seorang pangeran begitu penakut. Kibum menyerahkan pedang Kyuhyun kembali. "Lakukan hal yang sama dengan kami!" pinta Kibum.
Kyuhyun bergidik ketika melihat permukaan tajam pedangnya. "Kau takut?" Kibum seperti sedang mengolok oloknya. Dia tak sepenakut itu, hanya saja dia benci pedang dan menyakiti dirinya sendiri. Dia tak seberani itu juga.
Kibum mengambil alih pedang itu, "Mana telapak tanganmu?" Kibum mengulurkan tangannya. "Tatap mataku"
Kyuhyun rasa Kibum sedang menghipnotisnya. Mata Kibum seolah membuatnya merasakan ketenangan, rasa takut itu menghilang begitu saja dan sebuah sayatan yang tidak terlalu lebar di lakukan Kibum di tangan Kyuhyun. Hanya ringisan kecil tapi senyuman kecil di wajah Kibum membuatnya ikut tersenyum.
"Sebaiknya kalian jangan terlalu lama saling tatap, gege. Matahari bisa saja terbit sekarang, karena kalian terlalu bercahaya" sela Zitao yang membuat Kibum membalik pedangnya dan hendak menyembelih adik kurang ajarnya itu.
Kibum meminum arak dari cawan itu. Begitu juga dengan adik adiknya yang lain. Kibum menyodorkan tegukkan terakhirnya pada Kyuhyun. Kyuhyun mengerti dan dia menghabiskannya. "Ayo kita berangkat!"
GOD OF WAR
.
DECEMBER CERIA KIHYUN
Derap langkah kuda terdengar saling beradu. Keenam kuda yang di tunggangi oleh keenam bersaudara itu saling berpacu. Kyuhyun di kuda yang sama dengan Kibum, membuatnya sadar kalau tubuh Kibum tidak sebesar Ju Ren, tapi lebih hangat dari tubuh mendiang jendralnya tersebut. Kibum mendekapnya dan anehnya tubuh mereka berdua tak membuat kudanya melambat.
"Kita istirahat di sini!" Kibum memberikan instruksi dan keenam bersaudara itu menghentikan laju kuda mereka masing masing. Matahari kini tepat di atas kepala mereka, dan bersyukurlah mereka berada di pinggiran sungai dengan hamparan rumput hijau di sekitarannya.
Kibum turun terlebih dahulu. Ia bisa melihat raut bingung Kyuhyun. Dia menengadahkan tangannya. "Kau membuatku malu, jangan kira hanya turun dari kuda aku tidak bisa!" Kyuhyun tak terima. Dia mencuri pandang pada Kai yang berusia sama dengannya—tapi sialnya tubuh Kai agak tinggi sedikit. Remaja itu dengan mudah melompat dari kudanya dan mendarat dengan mulus.
Kyuhyun sadar, dia tak bisa begitu.
"Apa kau ingin menginjak punggungku" Kyuhyun jadi teringat kasim Shen Dong. Dia tak bisa, apa lagi harus menginjak punggung Kibum. Dia menyerah dan memilih melompat ke tubuh Kibum tanpa aba aba.
BRUUUKKK—
Kibum tidak lemah. Dia hanya kurang siap. Berakhirlah mereka berdua terjerembab di tanah yang beralaskan rumput. Chanyeol yang melihat itu langsung tertawa terpingkal. "Da se siu, aku tahu kalau Kui Xian itu lelaki tapi ada baiknya kau menikahinya dahulu sebelum melakukan hal yang tidak senonoh" ini petuah dari Suho. Kata katanya bijak tapi ia tak bisa menahan geli di perutnya. Dia akhirnya tertawa.
Yifan hanya menghela nafas, dia diam diam tersenyum. Zitao dan Kai bahkan berteriak kalau air yang mereka minum masuk ke hidung karena insiden itu. "Sampai kapan kau akan duduk di perutku?" Kibum menatap sadis Kyuhyun yang hanya cengar cengir di atas tubuhnya.
Pemuda itu meminta maaf. Bangkit dari tubuh Kibum dan membantunya berdiri. "Kau lemah" dengusnya.
Kibum diam saja. Mungkin ini efek lama tidak makan daging, dia jadinya lembek begitu. Jikalau dia sampai ke kamp militer Kyuhyun nanti dia bersumpah akan makan banyak daging. "Kenapa aku tidak bersama Kai saja, ku rasa tubuhku dan dia sama ringannya" Kyuhyun duduk di salah satu batu yang agak besar, sementara Kibum memilih duduk di sampingnya—di rerumputan.
"Da se siu, ini minumlah!" Kai yang mengambil air di sungai dalam sebuah wadah yang ia bawa, memberikan air itu untuk Kibum.
"Kalian makanlah bekal kita" mendengar hal itu tentu saja Kyuhyun tersenyum. Dia sangat lapar.
"Jifan, aku haus!" Kyuhyun itu sejak di cium Kibum suka semena mena. Apa apa Kibum, dan sialnya Kibum masih harus mendengar rengekkan orang yang harus ia layani tersebut. Minta secara baik baik juga akan Kibum berikan. Kibum hanya memberikan minuman dari wadah yang tadi di berikan oleh Kai. Kyuhyun meminumnya dengan santai.
Yifan memberikan sebuah roti pada Kyuhyun dan Kibum, dia mendudukkan dirinya di samping Kibum. "Dia berbeda dengan Li Po yang berwatak keras dan sok bijaksana, da se siu"
"Dia manja" Zitao ikut menimpali.
Mereka membicarakan Kyuhyun secara terang terangan. Tapi pada dasarnya, pemuda yang lahir dan tumbuh di istana sudah terlalu biasa mendengar gossip miring tentang dirinya. Dia tak terlalu peduli. "Kapan pernikahan kalian akan di adakan" Kyuhyun tersedak saat mendengar pertanyaan Suho.
"Bagaimana caranya aku dan Ji Fan menikah?"
"Kau tenang saja. Kau cukup diam dan Da se siu kami yang bergerak" Chanyeol terlihat bersemangat—membuat sebuah tepukan di hadiahkan oleh Kibum di kepalanya. Kyuhyun menaikkan alisnnya, sedikit bingung tentu saja. "Kakak keduamu akan menikahkan kalian tak lama lagi"
"Aku tahu itu" Kibum menelan seluruh rotinya. Lelaki berperawakan dingin itu menarik Kyuhyun. "Ayo kita lanjutkan perjalanan kita" dia dengan enteng memikul tubuh Kyuhyun dan menaikkannya di atas kuda. Dia naik kemudian.
Berbisik pelan di telinga Kyuhyun. Ketika dia mau tidak mau mendekap tubuh mungil sang pangeran. "Aku tidak selemah yang kau pikirkan"
Kyuhyun tak mengerti. Dia menunduk dalam. Rasanya malu sekali, belum lagi jantungnya yang berpacu seperti langkah kuda.
Ika. Zordick
"PANGERAN TIBAA!" baiklah, mereka hanya tidak mengira bahwa Kyuhyun itu orang sepenting ini. Sang pangeran melangkah begitu arogan di depan, dia ada di daerah kekuasaannya. Sepuluh ribu pasukannya ada di sini, walau ia tak yakin semuanya adalah orang yang benar benar setia padanya.
"Bawakan kami makanan dan perlengkapan perang!" Yifan sudah terlalu terbiasa menjadi orang yang memperhatikan kondisi pasukan. Kakak pertamanya tidak diharuskan menyelesaikan hal hal sepele.
"Kerjakan apa yang mereka minta" Kyuhyun hanya perlu menjaga nada suaranya tetap elegan. Sebenarnya dia marah, jendralnya telah mati dan para pasukannya terlihat bersantai di sini. Mereka bahkan tidak latihan sama sekali.
"Mereka pasukan yang payah" ringis Kai.
"Dari bau pun mereka sangat payah" Suho menimpali. Dia seseorang yang punya hidung yang hebat karena selalu berhubungan dengan tanaman obat dan racun. "Dengan ini aku sedikit punya ide"
Kyuhyun memilih masuk ke dalam tendanya. Di sana terlihat kapten yang segera memberi hormat padanya. Ia duduk di singgasananya dengan charisma khasnya. Chanyeol menarik Yifan, keduanya melihat peta daerah yang akan mereka serang. "Peta ini banyak ke salahan" ujar Yifan. Dia seseorang yang dapat mengingat dengan baik topografi dan pemetaan dengan benar.
"Jifan, menurutmu apa yang harus ku lakukan?" Kyuhyun mendudukkan dirinya sopan—inilah cara dia menunjukkan bahwa ia gugup dan cemas. Kibum melihat kapten kapten yang mungkin tidak suka dengan keberadaan mereka.
Jifan membungkuk, membisikkan sesuatu di telinga Kyuhyun. Kyuhyun berkedip beberapa kali, tak percaya apa yang ia dengar. Ia butuh waktu untuk memutuskan apa yang di beritahu Kibum tadi. Itu sedikit sulit.
"Aku tidak cocok dengan baju zirah ini" Zi Tao menggerutu ketika dia melihat pakaian perang yang di berikan padanya. Dia mengeluarkan pedang besarnya, menodongkannya ke salah satu kapten di dalam tenda itu. "Berikan zirah mu"
"Yang mulia, maaf jika hamba lancang. Tapi kenapa perompak bisa berada di sini?" penampilan Kibum dan adik adiknya memang tidak sesuai dengan orang orang terhormat yang di tempah di lingkungan istana.
"Aku akan mengambil posisimu, jadi jangan mengadu. Cengeng sekali" Zi Tao berdecak.
"Kau bisa stempel surat ini, aku akan mengirim ke kakak ke duamu" Kibum memberikan kertas kecil pada Kyuhyun. Kyuhyun melakukannya dan Kibum cepat menyelesaikan surat menyuratnya dengan elang ke sayangnnya.
"Kita akan melakukan pertarungan kecil di depan. Akan kami selesaikan separuh penghianat, ala mini" Yifan memberikan laporannya pada Kibum dan Kyuhyun. Dia kemudian pergi meninggalkan tenda—bersama dengan adik adiknya yang lain dan para kapten.
Ika. Zordick
Suara riuh terdengar. Para prajurit berseragam sama itu mulai bergendang, mereka seolah lupa kalau mereka tengah di medan pertarungan. Mungkin beberapa di antara mereka akan mati konyol. Mati atau tidak adalah urusan nanti. Tuhan punya suratan masing masing, matipun takkan menyesal jika itu untuk sang kaisar yang agung.
Kepercayaan itu konyol.
Tapi itulah kekuatan. Prajurit mana yang lebih kuat daripada prajurit yang tidak takut mati?
Maka Kibum akan menjawab dengan enteng "Prajurit terlatih yang tidak takut mati"—dia akan menghabisi satu per satu penghianat di dalam kamp mereka ini. Menunggu kedatangan pangeran ke dua dan kemudian memenangkan kota Chu San.
Zitao ada di sana, dengan pedang yang sangat besar di tangannya. Dia membuka pakaiannya, hingga memperlihatkan tubuh bagus yang penuh luka. Karena pakaian lusuhnya lah dia dikatai pengemis atau perompak. Apa mereka tidak bisa membedakan antara petani dengan ke dua profesi yang tidak mulia itu.
Zitao benci kenyataannya. Dia sungguh adalah anak perompak dari negeri seberang. Di asuh dan di rawat oleh Petinggi Xiang Ri Kui dan mengabdikan dirinya untuk kelompok bela diri itu—yang kemudian menjadi kelompok kecil anjing pemerintah seorang gubernur daerah Timur. Mereka di khianati dan di bunuh satu per satu.
Zitao hidup dalam kebencian dirinya sendiri. Ia benci menjadi tidak kuat dan tak berdaya. Tapi—
Jin Ji Fan ada di sana. Kakak pertama yang mengobati seluruh lukanya dan merubah garisan hidupnya. Membersihkan nama Xiang Ri Kui dan membunuh majikan mereka terdahulu. Pemegang aliran Xiang Ri Kui terkuat dalam usianya yang muda. Dia bukanlah titisan dewa. Dia adalah dewa perangnya. Itulah keyakinan Zitao. Selama dia ada di pihak Kibum, dia takkan pernah kalah.
Pedang besar dan berat itu di tancapkan Zitao di tanah. Dia takkan menodai pedangnya dengan darah penghianat dan koruptor. Dia akan menjadi petarung tangan kosong meski tak di peduliknnya lawannya menggunakan pedang di tangannya. "Dia suka sekali melakukan hal yang sombong" decih Kai.
"Kenyataannya, kau pernah tak bisa berjalan karena kakimu di pukul oleh Zitao" Chanyeol terlihat sekali menikmati araknya. Dia suka arak dan sialnya dia tak bisa minum banyak karena sebentar lagi dia akan menghadapi pertarungan.
"Saat itu aku lengah. Dia itu petarung yang lambat!" Kai mendengus. Dia masih bisa merasakan rasa sakit yang seolah membekas di kakinya. "Dia hanya akan bisa membuatku terluka jika dia berhasil menangkapku"
"Kau meremehkannya, Liu di" tidak ada yang bisa lepas dari pengawasan mata Yifan yang tajam. "Zitao berlatih keras untuk menutupi kecepatannya" dia bisa melihat bentuk pergelanganan tangan Zitao yang semakin berkembang begitu juga dengan bentuk betisnya.
"BRENGSEK! KAU MEREMEHKANKU!" teriak kapten yang menjadi lawan tanding Zitao.
"Apakah kau yakin dia akan menang?" Tanya Kyuhyun sedikit takut jika Zitao akan terluka karena kesombongannya bertarung tanpa senjata.
"Dia akan menang." Kibum berbicara dengan nada datar khasnya. "Kapten itu memiliki tangan halus seperti seorang pelajar dibanding petarung" Kyuhyun focus dengan tangan kaptennya. Bagaimana cara melihatnya dari jarak sejauh itu. "Dan jika dia seorang pelajar, dia adalah pelajar yang bodoh karena tidak hebat berbicara untuk menghindari pertarungannya dengan Zitao"
"Kau seorang peramal?"
"Chan Lie lah yang peramal, aku hanya pengamat" Kibum terlihat cuek. "Aku hanya tahu bahwa dia seorang anak bangsawan yang mendapat promosi jabatan karena mempunyai koneksi militer"
"Sudah ku katakan dengan jelas" pandangan Zitao menajam, dia melebarkan kakinya dan membentuk kuda kuda yang terlihat sigap. "JANGAN MENGADU PADA YANG MULIA!" teriaknya dan tepat ketika pedang itu mengayun ke arahnya, kepalan tangan Zitao cepat melesat kea rah wajah sang kapten.
KREK
"Wajahnya rusak" Suho meringis. Dia jadi tak nafsu makan karena gaya petarungan Zitao untuk ke sekian kalinya.
"Siapa pasukan di bawah pimpinannya?" Zitao bertanya dengan nada dingin. Suasana menjadi hening. "BERBARIS BODOH!" Teriaknya.
Membuat beberapa prajurit tergopoh gopoh berbaris di depannya. "Kemana helm mu?" Tanya Zitao pada salah satu prajurit muda yang bahkan melupakan helmnya ketika berbaris. "Kehilangan helm bisa membuat kepalamu putus! Kau mengerti!"
"Iya, Kapten!" Zitao berbalik dan senyuman terlihat di wajahnya.
"Dia selalu suka di panggil dengan pangkat" bisik Kai pada Kyuhyun. "Kekuatan dan kasih sayangnya pada prajuritnya akan naik berkali kali lipat jika kau memujinya dengan pangkatnya"
Zitao berdehem kemudian. "Kembali ke barisanmu. Akan kutanyakan satu hal untuk kalian. APA DI DALAM SINI ADA PENGHIANAT?"
Hening—
"Aku tahu kapten kalian yang kini terkapar itu adalah pelaku nepotisme. Dan tidak sulit bagiku mengetahui siapa yang sama dengannya dan penghianat di sini" seluruh pasukan saling berpandangan. Entah takut di salah pahami, entah takut ketahuan.
"Aku akan memberikan hadiah bagi mereka yang hidup dan bertarung dalam perang dengan keberanian yang besar" Kyuhyun bangkit dari singgasananya. "Aku juga akan berikan pesangon untuk keluarga yang di tinggalkan jikalau kalian mati di medan perang dengan gagah berani." Seluruh prajurit merasakan kehangatan di hati mereka. "Dan akan ku bunuh seluruh anggota keluarganya jika bertingkah seperti pecundang dan penghianat!"
"AMPUNI KAMI PADUKA PANGERAN!" teriak mereka bersujud.
"Usiaku tiga belas tahun dan putra mahkota terlihat begitu berhati hati padaku" Kyuhyun menyeringai keji. Dia harus memainkan perannya sebagai pangeran di sini. Tidak ada Kyuhyun yang berhati lemah. Dia Kyuhyun yang memperjuangkan banyak nyawa. Kibum bisa melihat wajah ketakutan diantara prajurit dan beberapa kapten di koloni mereka.
CRASSHH
Suara darah yang tersimbah terdengar. Kai ada di sana, menjilat belati yang di penuhi darah salah satu kapten. "Aku menemukan salah satu penghianatnya lagi" dan wajah wajah itu terlihat semakin memucat. "Apa aku bisa membunuh yang lainnya lagi?" Kai tersenyum mengerikan.
"Eksekusi akan terus di adakan" Yifan berbicara. "Pikirkan saja yang mana yang akan kalian pilih, hadiah atau hukuman"
"Aku. Pangeran ketiga, mengangkat secara resmi Jin Ji Fan sebagai Jendral dan memimpin seluruh pasukan. Dan—adik adiknya sebagai pengganti kapten yang akan memimpin masing masing pasukan. Titah selesai! Kembali beristirahat!"
"Terima kasih yang mulia" Kibum melirik Zitao. "Habisi beberapa tikus yang besar!"
"Baik Jendral!"
Ika. Zordick
Kyuhyun memuntahkan isi perutnya.
Darah yang memuncrat dari salah satu kaptennya akibat perbuatan Kai membuatnya merinding ngeri. "Kau baik baik saja?" Kibum selalu menanyakan hal yang tidak penting. Bukankah sudah sangat jelas bagaimana kondisi Kyuhyun sekarang.
"Katakan pada Kai agar tidak melakukan hal seperti itu lagi hingga kena pakaianku!" Kyuhyun hanya membuat senyuman teduh di wajah sang Jendral. Kyuhyun tak habis piker kenapa Kai suka sekali membuat darah terkena ke tubuhnya.
"Dia sedang melindungimu" Kibum menjelaskan. "Dia hamper melukaimu dan Kai menghentikannya"
"Tapi tidak perlu sampai segitunya juga"
"Satu pasukan yang terluka kami akan mengambil nyawa seratus pasukan musuh. Mengugurkan sehelai rambutmu maka musuh harus bersedia dibunuh sesadis mungkin" Kibum memberitahukan moto Xiang Ri Kui. "Kami kelompok aliran bela diri yang diciptakan untuk melindungi raja. Sialnya kami selalu dikhianati karena mereka merasa kami berbahaya"
Kyuhyun jadi tidak enak. Dia membuka luka lama Kibum.
"Aku tidak akan menghianatimu dan Xiang Ri Kui. Percayalah padaku!"
"Jika kau menghianati Xiang Ri Kui, akulah yang akan membunuhmu kemudian aku akan lompat ke dalam lahar gunung bersama jasadmu" Kibum tidak pernah bisa bercanda. Dia selalu serius dengan apa yang dikatakannya. Kyuhyun menelan ludahnya sendiri. Entah dia harus bersyukur entah tidak berurusan dengan kelompok mengerikan itu. Tapi setidaknya mereka di pihaknya itu lebih dari cukup.
Ika. Zordick
Donghai—Donghae, pangeran kedua kerajaan Han itu menatap datar jendral yang berdiri di samping adiknya. Dia sudah tahu tentang kematian Chang Shu—seseorang yang menjadi salah satu pengatur strategi perangnya. "Jadi si hamster yang menyuruhmu meminta tolong pada Jendral Jin?" Donghae bertanya dan Kyuhyun mengiyakan.
Dua pangeran itu terlihat lebih hangat interaksinya sekarang. "Lalu? Kau memintaku menikahkanmu dengan Jendral Jin?" perkataannya menusuk. Terlihat sekali kalau pangeran kedua yang selalu ramah tamah itu tidak terlalu suka dengan permintaan sang adik. Jikalau Kyuhyun meminta Donghae merebut tahta dari putra mahkota dan memberikannya pada adiknya itu, Donghae rela. Tapi jika harus menikahkan adiknya, dengan lelaki pula. Tentu saja Donghae tak rela.
"Tidak!" Donghae di ajari untuk menjadi seorang yang tegas. Dan ia dengan tegas menolak ide konyol adiknya. "Kau keluarga istana dan kau membuat skandal? Kau ingin di penggal oleh ayahanda?"
Kibum sudah tahu hasilnya akan seperti ini. Takdir menikah dengan pria mungkin adalah hukumannya karena banyak membunuh orang. Masalahnya jika dia harus di pisahkan dengan Kyuhyun—dia bersumpah akan mengobrak abris istana.
"Aku berhutang banyak nyawa pada jendral Jin, er ge" Kyuhyun mencoba menjelaskan.
"Jika kau menikah dengannya karena hutang budi. Aku akan mengangkatnya menjadi penasihat kerajaan atau apapun. Mana mungkin kau akan menikah dengannya!" Donghae menggebrak meja. Dia tak terima.
"Nikahkan saja kami. Selanjutnya aku akan berada di posisi pengawal pribadi pangeran ke tiga" Kibum mengangkat suaranya. Tidak mungkin dia akan mengancam calon kakak iparnya dengan janji akan mengobrak abrik istana. Gila juga jika dia harus melakukan kudeta, membunuh kaisar menjadi kaisar lalu menikahi Kyuhyun. Dia tidak suka hal merepotkan sejenis menjadi kaisar. Dia hanya bisa berperang, bukan mengatur Negara.
"Maksudmu, kau bersedia dia menikah dengan putri bangsawan dan memiliki selir?" Donghae tampak tertarik dengan calon suami sang adik.
"Ya" jawaban simple dari Kibum terdengar. Dia mungkin jatuh cinta, dia mendapatkan jodohnya dan dia melindungi Kyuhyun. Dia tak perlu hal lain seperti dianggap istana sebagai seseorang yang memiliki Kyuhyun.
"Dikehidupan istana tak ada yang mengenal cinta, kau tahu"
"Aku sedang mengajarkan Kui Xian untuk itu. Dia akan menjadi abdi Negara yang mengerti bahwa cinta itu penting. Bukan hanya kedudukan dan kuasa" Kibum memang seorang yang lancang. Tidak ada yang di takutinya kecuali kehilangan Kyuhyun sekarang.
"Seberapa mampu kau melindunginya?" Pangeran Donghae mengeluarkan pedangnya. Mengayunkannya tepat di depan wajah Kibum, Kai ada di sana, belati kecilnya siap merobek tenggorokan sang pangeran. Kibum masih duduk dengan tenang. "Ayo bertarung satu lawan satu"
Kibum bangkit dari tempatnya. Kai menyingkirkan belatinya dan dia bisa melihat raut kecemasan diwajah Kyuhyun. "Kau tahu, pria akan saling mengerti jika mereka bertarung" Kai menjelaskan. Dan Kyuhyun berdecih. Dia tak terima dinasihati bocah seusia dengannya.
"Aku tahu, kau kira aku wanita hingga tak tahu itu"
"Aku tak bilang kau wanita. Tapi kau pria yang lemah." Mulut Kai memang tak bisa di rem masalah menjelek jelekkan orang lain. Meskipun di hadapannya kaisar sekalipun.
Ika. Zordick
"Pangeran itu, kuat" Zitao harus mengakuinya. Pengalamannya di medan perang dapat merasakan kekuatan lawan lawannya hanya dengan merasakan aura intimidasi mereka. Dong hae mungkin sudah berhasil memenangkan banyak pertempuran. Dia menjadi sangat tertempah dan berpengalaman. Belum lagi di pundaknya seolah menanggung beban Negara. "Ia hebat dan bijaksana"
Donghae membuka baju zirahnya. Dia bukan di medan perang, dia sedang bertarung satu lawan satu dengan pria terhormat yang hendak menikahi adiknya. Donghae bingung apa yang sedang ia pikirkan. Dia tak memiliki adik perempuan tapi adik laki laki bungsu membutuhkan perlindungan yang lebih ekstra dibanding adik perempuan ataupun cucu perempuannya kelak.
"Dia bukan lawan yang mudah bahkan untuk da se siu sekalipun" Yifan yang memiliki mata pengamatan yang paling hebat juga mengakui kehebatan sang pangeran. Donghae mengambil dua buah tongkat, melemparnya satu untuk Kibum. Lelaki itu menangkapnya. Dia berdiri dengan tenang, tidak peduli dengan Donghae yang sudah memasang kuda kudanya.
Tongkat itu tergolong ringan jika dibandingkan dengan tombak yang biasa di gunakan oleh Kibum ketika di medan pertarungan. Dia cepat menilai kekuatan Donghae, dan dari kuda kudanya ia tahu bahwa lelaki itu berlatih sangat keras. "Kau menjalani hari yang berat" Kibum berbicara, dia menimbang tongkat kayu di tangannya. Tongkat itu takkan bisa menahan bobot serangannya sejujurnya. Tapi ia lebih takut Donghae akan terluka karenanya.
"Untuk melindungi adik dan negaraku" Dia berbicara tanpa rasa takut.
Donghae mengayunkan tongkatnya, memukul tangan Kibum dan menyingkirkan tongkat itu dari tangan sang Jendral. Kibum kena. Donghae memukul bertubi tubi, menusuk daerah perut Kibum dan lelaki itu tak menghindar.
"Jika aku menggunakan tombak asli kau pasti akan mati!" ucap Donghae.
"Tidak. Di pertempuran aku akan menggunakan zirah yang kuat hingga serangan lemah seperti itu takkkan menyakitiku" Kibum memutar pergelangan tangannya. Kakinya melingkar cepat, menangkap tongkat yang sedang di ayunkan Donghae.
BRAAK—
Tongkat itu remuk.
"Jika pertarungan sebenarnya tombaknya akan jadi milikku. Tapi karena itu terbuat dari kayu, itu patah" ucap Kibum santai.
Wajahnya bahkan tak terlihat tersudut. Donghae tersenyum, dia memasang kuda kuda bertarung tangan kosongnya. "Gaya Shaolin" Suho bertepuk. Dia selalu senang dengan aliran yang tak mengizinkan makan daging, minum arak dan bermain wanita itu. Mereka hebat dengan kepala botak dan sekarang ia melihat pangeran dengan rambut yang bagus sedang menggunakan aliran itu.
Kibum sudah menduga ia tak boleh meremehkan pangeran ke dua kerajaan Han itu. Sialnya, dia tak pernah meremehkan orang lain dalam pertarungan. Dia menarik nafas, kemudian mengeluarkannya. Dia sudah lama tidak merasa panas, bertani sama sekali bukan keahliannya dan kini ia kembali pada pekerjaan yang memang merupakan bakatnya.
Dia seseorang yang menjadi legenda sejak beberapa tahun dulu. Dan dia masih memegang gelar itu karena ia masih belum mati. Kibum melangkahkan kaki kanannya di depan, berdiri tegak seperti tidak berniat bertarung. Donghae kembali berpikir Jendral itu meremehkannya. Ia tersenyum, dia tak bisa memberikan adiknya.
Donghae mulai menyerang Kibum lagi, di mulai dari menyambar kepala pria itu dengan tendangannya. Kibum menangkisnya, dia melingkarkan kakinya ke kaki belakang Donghae ketika bertahan dan kemudian—
BRUUKK
Donghae tiba tiba terjatuh. Dan lutut Kibum siap menghantam tempurung kepala sang pangeran.
TRAKK—
Tapi sebuah pedang bersarung menggantikan kepala Donghae. Seorang pria berwajah dingin menatap Kibum sengit. "Yi Sheng! Kembali!" Kibum rasa ia menemukan seseorang yang bisa mengimbanginya. Seseorang bernama Yi Sheng—Yesung itu. "Aku kalah"
Ika. Zordick
Tengah malam telah lewat. Upacara pernikahan antara Kibum dan Kyuhyun baru saja selesai. Kibum sudah siap dengan setelan pakaian perang yang melekat di tubuhnya. Mereka akan siap berperang, dan Kibum rasa baru kali ini ia merasakan sangat bersemangat melangkahkan kakinya—dia baru saja menikah dan ini kali pertama ia berperang setelah merubah statusnya.
"Kau terlihat sangat riang, da se siu!" kembali Chanyeol meledeknya. Dia jadi heran kenapa adiknya semakin lama semakin kurang ajar. Mereka sudah siap dengan pakaian perang dan senjata di tangan mereka masing masing. Kecuali Kai, lelaki itu tak menggunakan pakaian perang melainkan pakaian yang terlihat lebih bagus dari sebelumnya. Dia bersyukur mereka memiliki pakaian—meski bukan dari sutera yang ringan.
Yifan menjelaskan strategi mereka, Donghae sendiri tidak membawa banyak pasukan. Dia terlalu ingin cepat bergerak karena isi surat yang sepertinya membuatnya panic. Dia bersyukur membawa pengawal pribadinya—Yesung untuk menemaninya dan beberapa prajuritnya yang setia dan berani.
"Untuk setiap pasukan, jelaskan dengan baik strategi kita. Selebihnya Kai yang akan mengurus"
Kai sudah siap dengan perlengkapan senjatanya. Dia akan memanjat dari tembok kokoh itu. Masuk dan membukakan pintu untuk pasukan Han. Dan semuanya selesai.
"Aku tidak percaya, bahkan pemuda itu membuat strategi yang lebih hebat di banding Cang Shu" Donghae takjub.
"Dia gurunya Cang Shu" Suho memasang helmnya. "Dan sebaiknya jangan membahas mendiang Cang Shu, dia bisa meratakan dinding Chu San kalau sedang marah" Suho terkikik. "Ayo pergi Wu di, Shi di!"
Jendral Kibum sendiri, sedang menimbang ukuran tombaknya. Tombak itu masih terlalu ringan di tangannya. Dia akan meminta Zi tao untuk membuatkan tombak yang pas di tangannya nanti.
Ika. Zordick
Kyuhyun menarik nafasnya. Ini adalah perang pertamanya. Dia melirik pada Kibum di sampingnya yang sedang menaiki kuda gagahnya. Terlihat sangat keren. Begitu juga dengan kakak keduanya. Mereka terlihat berbeda dari Ju Ren. Mereka prajurit tampan yang perkasa dan memiliki otak yang tergolong cerdas.
Tapi ia merindukan Jendral lamanya. Ju Ren mungkin berdiri siap mati untuk Kyuhyun jika lelaki itu masih hidup. Kyuhyun mungkin akan bersedia menangis sekali lagi untuknya.
Angin berhembus. Matahari belum bersinar dengan utuh, langit bahkan masih berwarna temaram. Ini serangan kejutan, dan mereka akan menang. Perang pertamanya akan berhasil. Ia akan membawa hadiah pada ayahnya berupa kepala gubernur Chu San.
Aroma dedaunan tercium di indera pernapasan Kyuhyun. Dia bisa mencium kemenangan itu. Dewa di pihak mereka—itulah firasatnya. "Kita menang" Suara Chanyeol yang berat terdengar seiring dengan mentari yang semakin menunjukkan kekuasaannya. Dia menerangi tempat itu dan—
BETS
Mata Kyuhyun melotot. Tubuhnya bergetar hebat.
Suara cekikan Kai yang keras dan cempreng di atas tembok pertahanan Chu San yang susah di tembus terdengar. Kyuhyun berteriak keras dan Suho cepat membuka jubahnya, membungkus kepala yang berada di pangkuan Kyuhyun—sang pangeran spontan menangkap kepala yang dilempar Kai.
Baru saja Kyuhyun berpikir tentang kepala gubernur Chu San dan dia mendapatkannya di pangkuannya. "Aku ingin membuka pintu, tapi karena aku tersesat dan tak sengaja menemukan pria tua itu, kuambil saja kepalanya. Tapi dia punya lambang gubernuh di jubahnya. Berarti aku beruntung" jelas Kai sambil melambaikan tangannya di atas menara.
Kibum mimijit kepalanya. Baru saja ia bersemangat berperang dan Kai pasti sudah menghabisi mereka semua di dalam tembok itu. Tak lama kemudian, pintu gerbang Chu San terbuka. Mereka langsung di sambut dengan mayat bergelimpangan dan warga warga yang terlihat ke takutan.
"Kurasa kau punya prajurit yang hebat, Xiao di" Donghae tersenyum menepuk adiknya yang masih menggerutu akibat perlakuan Kai.
Satu satunya yang ingin Kyuhyun penggal adalah Kai.
"Ah. Maaf ge, tanganku terpeleset!" itu penjelasan dari Kai dalam membela dirinya. Tapi sepertinya wajahnya terlalu riang untuk menyesal.
TBC
Ka gak yakin FF ini akan berhasil selesai sebelum tahun baru.
