Pagi ini bagai kesialan untuk Baekhyun. Sekarang sudah setengah sembilan sedangkan kelasnya dimulai jam 8.

Cepat - cepat ia berlari menyusuri lorong - lorong gedung bangunan yang besar itu. Dan lebih sialnya kelasnya berada di lantai 6 dan lift penuh terpaksa kaki pendeknya berlari menaiki tangga.

Dia benar - benar ingin berkata kasar dan memaki - maki kekasihnya yang membuat semua ini terjadi.

Pertama di pagi hari tidak ada yg terjadi, Baekhyun tetap bangun sesuai dengan biasanya. Saat mau beranjak untuk membersihkan badan, tubuhnya kembali terhempas ke kasur.

Siapa lagi pelakunya kalau bukan Park Chanyeol. Padahal Baekhyun sudah merengek - rengek minta dilepaskan. Tetapi malah mendapatkan dekapan Chanyeol lebih kuat, bahkan Baekhyun merasakan nafas sang Phoenix menerpa telinganya.

"Chanyeol lepaskan"

"Ga mau"

"Tapi badanku bau Yeolie, lepaskan"

"Masih wangi, bau darimananya?"

"Tapi sekarang sudah jam 6, kelas dimulai jam 8"

"10 menit lagi"

"Tap-"

Tahu bukan kelanjutannya?, bibir tebal Chanyeol bertabrakan dengan bibir tipis Baekhyun. Saling mencumbu, yang tadinya dijanjikam 10 menit menjadi 1 jam.

Baekhyun tetap merengek meskipun ujung - ujungnya ikut menikmati perlakuan Chanyeol. Kepalanya ikut digerakan seirama saat surainya dibelai, membalas ciumannya yang basah, dan saat dipeluk lengannya ikut melingkar di leher sang Phoenix.

Pesona Chanyeol begitu menawan sampai - sampai Baekhyun benar - benar jatuh ke dalamnya.

Menikmati waktu berdua sampai lupa waktu, saat Baekhyun menyadarinya. Terpaksa dia berlari ke arah kamar mandi mengabaikan desisan tajam yang berasal tempat tidur mereka.

Cepat - cepat ia mandi bebek. Lalu saat keluar iris amber miliknya disuguhi pemandangan Chanyeol dengan rambut acak - acakan terduduk di tepi ranjang mereka dengan sorotan tajam dan dingin. Oh dan tentu saja itu hal yang buruk.

Chanyeol segera masuk ke kamar mandi tanpa berkata apapun. Baekhyun auto melengkungkan bibirnya kebawah seperti anjing kecil yang merenggut.

Terlihat sekali Chanyeol sedang mendiaminya.

Meja makan terasa sangat aneh karena terlalu hening tidak ada yang memulai atau membuka pembicaraan. Baekhyun mencebik kesal ke arah Chanyeol yang sedang memanggang toast di atas wajan.

"Channie"

Lengan mungilnya memeluk pinggang yang lebih tinggi, mengeluskan kepalanya ke punggung lebar yang penuh dengan otot itu.

Chanyeol tidak merespon apapun. Masih giat dan fokus melakukan kegiatan di depannya. Ditambah sekarang telur mulai dipecahkan membuat Baekhyun merasa diabaikan.

"Ih Channie! Dengerin"

Baekhyun kesal kekasihnya malah lebih fokus pada masakan di depannya. Sedari tadi Baekhyun sudah menghalalkan segala cara seperti menarik lengan kemeja Chanyeol, mengoyang - goyangkan tangannya sampai berjinjir mencium pipinya.

Dan semuanya diabaikan.

Baekhyun mengehentak kakinya kesal, tidak tahu Chanyeol sedari tadi sudah menahan senyumnya. Sampai Baekhyun mengalungkan lengannya di leher Chanyeol dan menariknya kebawah menyatukan bibir mereka.

Baekhyun terlihat sekali amatiran dalam berciuman, senyum langsung terukir di bibirnya. Baekhyunnya selalu manis as always.

Baekhyun merasakan ciumannya tidak dibalas pun langsung memutuskan ciuman mereka.

"Channie masi marah?"

"Mungkin?"

Baekhyun mentapnya dengan tatapan puppynya,yang lebih terlihat seperti memelas. Tidak ingin membuat Baekhyun makin sedih segera tangan kekarnya mengangkat tubuh mungilnya dan mendudukannya di counter dapur.

"Bercanda sayang"

Terdengar Baekhyun berkali - kali mengucapkan 'jahat' dengan suara kecil hampir terdengar seperti bisikan yang membuatnya terlihat makin manis apalagi dengan tangan mungil Baekhyun yang mengepal dan memukul dada Chanyeol main - main. Mafia dingin itu tidak bisa menahan lagi senyumannya.

"temani aku sarapan"

Dan dibalas anggukan polos oleh Baekhyun yang berpikir menemaninya sarapan bukanlah sesuatu yang aneh. Tidak tahu singa buas di depannya sedang menyeringai setan.

Melihat Chanyeol berjalan ke arah kulkas dan mengambil whipped cream tiba - tiba perasannya menjadi buruk. Karena whipped cream itu ia semprotkan di dalam mulutnya.

Tidak memiliki waktu untuk berpikir lagi - lagi Chanyeol menyatukan bibir mereka dan memaksa bibir tipis itu memberi celah.

Tentu saja berhasil. Baekhyun merasakan whipped cream itu terselurkan ke lidahnya. Mencecap rasa manis yang pas. Bergelut lidah satu sama lain.

Cumbuan yang panas, basah dan lengket itu tidak berhenti karena Chanyeol yang memasukan lagi whipped cream itu ke dalam mulutnya.

Lihat? Karena kejadian itu semua, dosen killer yang sialnya mengajar di kelasnya pagi ini menatap tajam seperti sedang meleser seluruh tubuhnya. Rasanya seperti ditelanjangi oleh tatapannya.

"Maaf say-"

"Duduk, kali ini saya maklumi"

Mata anak anjingnya berbinar, semenakutkannya Profesor Shim tapi ia selalu berlaku baik bila menyangkut Baekhyun, entah kenapa bisa seperti itu.

"Tapi selesai kelas, ke ruangan saya"

Mau tidak mau kepalanya mengangguk mengiyakan. Profesor Shim sering memanggilnya untuk ke ruangannya. Meminta bantuan untuk mengurus data siswa atau semacamnya.

"Pst..Baek" Baekhyun langsung tahu bisikan yang memanggil itu dari teman yang duduk di sebelahnya. Luhan yang sudah menjadi sahabatnya sejak SMA.

"Prof Shim memanggilmu lagi untuk ke ruangannya?" Nadanya menyeritkan keingintahuan.

"Hm" Baekhyun menjawab tanpa melirik ke arahnya, karena kalau sudah menyangkut kuliahan pasti Baekhyun akan memfokuskan atensinya untuk mendengar penjelasan - penjelasan dosen.

"Holly crap baek!, jangan - jangan si muka asem ketek itu menyukaimu?"

Semua terdengar seperti omong kosong bagi Baekhyun. Mana mungkin dosen jatuh cinta kepada mahasiswa terlebih yang modelnya sepertinya?. Baekhyun memutar kedua bola matanya malas apalagi dengan nama panggilan yang Luhan buat benar - benar tidak masuk akal.

"Mana mungkin Profesor Shim tertarik padaku. Itu mustahil Luhan"

"Tolonglah sekali - kali berkaca nyonya Park, wajahmu itu terlalu cantik untuk ukuran laki - laki mungkin saja si asem ketek tertarik " Baekhyun mencebik, inilah yang paling dibencinya. Disaat dimana dia selalu dipuji cantik ketimbang tampan. Meskipun memang itulah fakta sebenarnya

"Jangan sembarangan mengganti margaku Lu! Dan aku ini tampan bukan cantik"

"Baiklah nyonya Park, besok aku akan membelikanmu kaca, ingatkan aku" Astaga Baekhyun ingin sekali menjambak rambut sahabat rusanya ini saking jengkelnya tidak mendengarkannya sama sekali. Ingin membalas ucapan Luhan tetapi sudah terpotong.

"Sudahlah kalian berdua sama saja. Buat apa membeli kaca sedangkan kamera depan ponsel dapat digunakan. Dasar kampungan" pedas dan tajam. Keduanya terdiam dengan raut wajah yang ditekuk.

"Kau tidak membantu kyung" Luhan berdecak kesal.

"Aku tidak memihak siapa - siapa kok"

Kyungsoo namanya. Ia juga sahabat mereka berdua dari SMA, membuat ketiganya terikat dalam perjalinan persahabatan yang kuat hingga kuliah.

"Lagipula Baek, kau bukan asisten dosen atau apapun itu, logikanya kenapa dia menyuruhmu terus?" Baekhyun menyerit, sebenarnya ucapan Kyungsoo ada benarnya.

"Terlebih si asem ketek itu setiappppp hariii menawarimu tebengan! Dan jangan lupa berbagai bungkusan makan siang yang selalu kau terima." Setelah disambung semuanya semakin masuk akal di dalam otak Baekhyun.

"Perkataan kalian ada benarnya, kurasa selama ini dia begitu karena aku selalu membantunya" ya Profesor Shim sering menawarkan tebengan padanya. Katanya bentuk ucapan terima kasih karena sudah membantunya.

Tentu saja Baekhyun selalu menolak dengan cara halus agar tidak menyakiti perasaanya.

"Jangan terlalu polos. Jauhi dia, aku tidak mau Park Yoda itu tahu dan membuat kampus kita terjadi hujan darah"

Baekhyun meringis membayangkannya. Kedua sahabatnya memiliki hubungan yang erat dengan Phoenix. Karena Luhan merupakan salah satu bagian dari organisasi kekasihnya

"Baiklah aku akan beralasan saat kelas usai" Luhan tersenyum puas dan Kyungsoo mengangguk mendengarnya.

Lagipula Chanyeol belum mengetahui akhir - akhir ini Baekhyun pulang lebih sore karena apa-

Atau sebenarnya Chanyeol sudah mengetahuinya?

.

.

.

"Boss, Minseok sudah meretas ponsel Shim Changmin"

"Lalu?"

"Shim Changmin menyimpan banyak sekali foto Baekhyun yang dijepretnya secara diam - diam dan menurut laporan mata - mata, sepertinya dia selalu menawari tumpangan pada Baekhyun walaupun selalu ditolak"

Chanyeol menyeringai seperti setan. Tentu saja Baekhyunnya tidak akan menerimanya.

"Baiklah, terus awasi dia Jongin"

"Baik Boss" lalu pria bernama kim Jongin itu berlalu pergi menyisakan Phoenix di ruangannya.

.

.

"Chanyeol!"

Chanyeol tersenyum kecil, keluar dari mobil sportnya. Melihat bagaimana Baekhyun dengan sweater baby blue yang terlihat kebesaran dan celana pendek selutut berlari kecil ke arahnya.

"Tumben pulangnya cepat" Karena Baekhyun masi dapat melihat matari yang belum sepenuhnya tenggelam walaupun langit sudah berwarna keungguan.

"Merindukanku?"

"Sangat!"

Baekhyun mengembangkan senyum hingga kedua matanya membentuk bulan sabit. Chanyeol mengangkat tubuh itu ke dalam gendongannya dan menghadiahi Baekhyun dengan kecupan - kecupan di wajahnya membuatnya kegelian.

Anak buah yang berada disekitar kedua sejoli itu berada di tempat mereka. Ada yang menatap takjub sampai mentapnya jengah yang tentu saja dilayangkan oleh Jongin.

"Oh astaga, mereka tidak tahu tempat"

"Tutup mulutmu hitam"

"Shut up albino" Jongin melototi makhluk disebelahnya yang bermuka datar dan kulitnya yang pucat.

"Hey! Bukankah mereka terlihat manis? Boss tidak pernah berekspresi seperti itu pada kita" mata lelaki berpipi bulat itu berbinar, seperti melihat harta karun.

"Tentu saja Minseok. Tapi terkadang menakutkan melihat boss kita berubah seratus delapan puluh derajat."

Percakapan itu tidak berjalan lama. Karena mereka mengekori Boss mereka, memasuki kediamannya beserta dengan manusia mungil yang menyandarkan kepalanya ke ceruk leher sang dominan.

.

.

.

Setelah sampai pada ruang utama, mereka semua berhenti berjalan dan menunggu disana. Sedangkan Chanyeol dan Baekhyun pergi ke kamar mereka. Membiarkan boss mereka memiliki privasi dengan kekasih mungilnya.

Chanyeol mendudukan Baekhyun di sofa panjang yang terletak di depan perapian. Dirinya ikut duduk berhadapan dengan Baekhyun yang membuka simpul dasinya.

"Shim Changmin"

Baekhyun tersentak, raut khawatir terpatri di wajah cantiknya. Memang harus diingatkan kekasihnya ini pemimpin mafia terkuat di Asia, seharusnya dirinya tau informasi seperti itu bagai mendapatkan satu butir padi.

"Chanyeolie, dia hanya dosen yang meminta bantuan kepadaku."

"Kenapa kau membelanya" nada dingin tanpa disengaja terlontarkan

"aku tidakmembelanya, hanya meluruskan"

"Kau selalu meladeninya kalau dia meminta bantuan yang sebenarnya dapat dia kerjakan sendiri"

"Hari ini aku menolak."

"Tapi hanya hari ini saja yang kau tolak, kenapa hari - hari lainnya tidak?"

Baekhyun menghela nafas berat. sungguh, perdebatan seperti ini bisa saja tidak ada habisnya.

"Kau hanya milikku Baekhyun"

Aura mendominasi dapat dirasakan. Baekhyun tersenyum lembut, tahu arahan pembicaraan ini karena Phoenixnya sedang dilanda cemburu

"tentu. aku hanya milikmu, jangan khawatir"

Chanyeol mau tidak mau tersenyum karena kata - kata kekasihnya. beruntung sekali dia mendapatkan pendamping seperti Baekhyun

"Baiklah. Jangan terlalu dekat dengannya itu saja"

Baekhyun mengangguk senang dan menghadiahinya dengan kecupan kecil di bibir. lalu berlalu meletakan dasi dan menggantung jasnya.

"Baekhyun" suara bariton bersuara. Baekhyun memfokuskan atensinya pada si pemilik suar

"Turun kebawah" Baekhyun menyerit bingung.

"Mau rapat kan?" Chanyeol mendekat, mencium pipinya seraya menghirup wangi strawberry yang bercampur dengan vanilla yang manis.

"Ya, dan temani aku" Baekhyun tanpa penolakan langsung mengiyakan dan mereka berdua berjalan turun kebawah. bertemu dengan anak buah Phoenix.

Chanyeol menempatkan bokongnya di sofa yang cukup untuk dua orang, disusul oleh Baekhyun yang duduk di sebelahnya. Sedangan yang lainnya duduk di sofa panjang yang lain, hari ini Chanyeol hanya memanggil anak inti Phoenix untuk berkumpul.

"Dimana Kris dan Tao?"

"Mereka berdua masih bertugas di Osaka Boss. sepertinya mereka terkena sedikit hambatan disana, mungkin semuanya akan selesai 2 hari lagi" Lapor Sehun.

"Baiklah. langsung saja, besok kita akan mengejar Lee." Lee yang dimaksud adalah salah satu rekan bisnis Chanyeol yang berhkhianat dengan membeberkan jalur akses gudang yang berisi Marijuana untuk dikirimkan ke Rusia kepada Jung Daehyun.

walaupun usahanya gagal, karena berakhir dengan sekaratnya Jung Daehyun di tangan sang Phoenix. Penyerangan yang didasarkan oleh kemarahan karena Park Chanyeol, dalang dari penurunan saham di club malam miliknya.

Walaupun situasi kembali menjadi aman terkendali. Hal itu merepotkan Chanyeol karena harus memindahkan pasokan itu ke tempat lain yang dirahasiakan. Sebab itu Lee tidak akan Chanyeol lepas dan bisa kabur seenaknya sehabis merepotkannya.

"Besok malam. Lee akan datang ke pesta Grand Opening Hotel Delicate, kalian harus membuatnya masuk ke kamar hotel yang kusiapkan tanpa menarik perhatian."

"it's too easy" Nada yang meremehkan serta menyebalkan itu berasal dari si kulit tan. Membuat Sehun yang duduk di sebelahnya memutar bola malas.

"Dengan 10.000 undangan serta cctv yang bertebaran di sudut - sudut dan lagi 1 jam sekali petugas terpilih berpatroli. Memang cukup mudah dilakukan, tetapi tetap saja kita harus menyusun rencana."

"Ayolah Boss, kita bisa menodongnya dengan pistol dari belakang dan menyuruhnya berjalan tanpa menimbulkan kecurigaan"

"Jangan meremehkan Jongin. pintu masuk dan keluar dijaga ketat, pasti Lee juga akan dijaga oleh penjaga di sekelilingnya." Jongin mendesah pasrah.

"Aku mau ikut" seluruh atensi mereka secara langsung berpusat pada manusia mungil yang seperti anak anjing disamping Chanyeol yang tiba - tiba membuka suaranya.

"Tidak"

"Chanyeol"

"Tidak berarti tidak Baekhyun"

"Aku tidak akan merepotkan!"

"Aku sudak berkata tidak bukan?" Baekhyun mengembungkan pipinya dengan kesal, mata anjingnya makin menyipit sinis.

"Aku membencimu"

"Jangan bersifaf kekanakan Baekhyun"

"Aku lebih muda dua tahun daripada mu Tuan Park, apakah itu salah?. Aku sangat bosan dirumah. Ayolah Chanyeol aku hanya akan bersenang - senang disana tanpa merepotkan kalian." Baekhyun mengeluarkan tatapan memohonnya yang terlihat menggemaskan. Chanyeol berdecak kesal menyadari kali ini ia kalah dari Baekhyun.

"Tetapi harus dibawah penjagaan. Mengerti?"

"Mengerti!"

ketiga pria itu menjadi saksi bahwa Phoenix hanya akan menjadi seseorang yang berbeda hanya di hadapan Baekhyun.

"Jadi kita akan mendapat tugas tambahan menjaga bocah berisik yang merepotkan?" Minseok berbisik, bisa gawat kalau Chanyeol dapat mendengarnya. Sementara Jongin hanya melirik Minseok dari ekor matanya sebentar lalu mengalihkannya lagi ke depan.

"Kurasa tidak. Kau hanya belum mengetahui Baekhyun lebih dalam saja."

Tbc

Feelnya ga dapet kan ya duh :"

See u in the next Chap

-Iuta-