A/N :
Makasih buat yg udah baca dan yang udah komen juga udah ngefollow,,,
ada 2 rahasia Naruto disini dan hanya diketahui oleh beberapa orang saja.
yang pertama itu ada hubungannya dengan kejadian penyebab kematian Minato dan Kushina.
yang kedua itu berhubungan dengan genre fict ini..
beberapa hint sudah coba aku perlihatkan dan udah ada yang menduga2.
untuk pairing, pilihannya antara Itanaru, SasuNaru atau ShikaNaru...
Darkness Under the Sun
By Ayuni Yuukinojo
Disclaimer Masashi Kishimoto
Warning : Pair belum di tentukan.
Questions
Tangan berkulit tan itu menarik kencang Mizuki lalu menendang tulang kering dari lelaki bersurai abu-abu itu. Ketika Mizuki membungkuk kesakitan memegang tulang keringnya. Naruto menggunakan gulungan jutsu terlarang yang besar untuk memukul punggung Mizuki hingga lelaki itu tersungkur ketanah dan segera mengambil jarak aman dari jangkauan Mizuki. "Aku tidak tahu apakah yang kau katakan itu benar Mizuki-sensei. Tapi kau jelas-jelas taleh membohongiku. Dan jika gulungan ini memang sangat berbahaya seperti yang dikatakan Iruka-sensei maka aku harus mengembalikannya ke Hokage-jiji."
"Dasar bocah sialan!" dengan menahan rasa sakit, Mizuki menerjang Naruto dengan cepat namun ia menabrak Iruka yang berdiri mengahalangi jalurnya, membuat Iruka terjatuh dan membuat fuma shuriken yang masih ada di punggu iruka menancap semakin dalam.
Tanpa memperdulikan Iruka, Mizuki kembali bangkit menerjang Naruto mengabaikan Iruka yang semakin berlumuran darah.
"Kagebunshin no Jutsu" Seru Naruto dan puluhan Naruto telah meengelilingi Mizuki. Dua diantara kumpulan Naruto itu meraih Iruka yang tak sadarkan diridan mengamankan guru akademi itu dibalik pohon besar. "Serang!" komando Naruto yang asli kepada para kloningannya. Serentak semua bunshin Naruto menyerang Mizuki tanpa memberikan kesempatan bagi Mizuki untuk melawan ataupun kabur. Tak sampai lima menit Mizuki telah babak belur tak sadarkan diri.
"Naruto." Seorang Anbu bertopeng Inu berdiri tepat dibelakang Naruto. Sementara dua Anbu lainnya mengamankan Mizuki dan menolong Iruka.
Naruto kenal dengan suara Anbu dibelakngnya ini. Dulu ketika masih di panti asuhan, Anbu ini sering datang mengunjunginya untuk memberikan mainan dan baju-baju baru. Hanya saja, akhir-akhir ini dia jarang melihat Anbu ini ada di sekitarnya. "Inu-nii. Lama tak jumpa." Sapa Naruto riang dengan senyum cerah ketika dapat melihat Anbu yang dulu selalu menjaganya.
"Naruto. Hokage-sama menunggumu di kantor Hokage. Bawa juga gulungan yang kau curi." Dengan nada datarnya Anbu Inu tidak membalas sapaan dari Naruto. Membuat anak itu menghapus senyumnya dan memilih untuk segera menuju kantor Hokage.
Perjalanan Naruto menuju gedung Hokage dipenuhi dengan kesunyian. Anbu Inu yang mengukutinya pun tampak tak ingin memulai percakapan. Hal itu membuat Naruto semakin kecewa. Banyak hal yang ingin dia tanyakan tak hanya kepada Sandaime Hokage, tetapi juga pada Anbu Inu yang sejak ia bayi telah menjadi penjaganya.
Ketika memasuki ruang Hokage, Naruto dengan segera menerjang sosok yang telah dia anggap sebagai kakeknya itu meninggalkan gulungan yang ia curi tergeletak di lantai. Sambil menyembunyikan wajahnya di jubah Hokage yang dikenakan sang kakek Naruto berusaha menahan tangis. "Anbu Inu letakkan golongan itu di meja dan kau boleh pergi." Ujar Sandaime Hokage sambil menuntun Naruto menuju sofa yang ada di pojok ruangan itu.
Sambil menunggu si Anbu meninggalkan ruangan, Sandaime Hokage mendudukkan dirinya di sofa dengan Naruto yang masih memeluknya erat di pangkuannya. Dengan perlahan tangan tua pemimpin desa Konoha itu mengusap punggung ringkih yang bergetar menahan tangis. Sudah lama sekali sejak terakhir kali cucu angkatnya ini menangis dipangkuannya.
"Naruto." Ujar Hokage ketika ruangan itu telah kosong dan hanya di huni oleh mereka berdua. "Untuk apa kau menangis?" dengan lembut Sandaime Hokage berusaha melepaskan pelukan erat Naruto. Butuh waktu lebih dari semenit untuk Hiruzen mendapatkan jawaban dari pertanyaannya.
"Jiji." panggil Naruto pelan, saking pelannya tidak akan Hiruzen dengar jika ia tidak sedang memangku Naruto.
"Mm?"
"Aku benar-bemar monster ya. Pantas saja orang-orang desa begitu membenciku. Pantas saja banyak anak yang menghindariku. Karena aku mereka kehilangan keliarga mereka. Karena aku mereka manjadi yatim-piatu. Pantas saja aku tidak memiliki ayah dan ibu"
"Tidak Naru. Kau bukanlah seorang monster. Kau hanyalah anak biasa sama seperti anak-anak lainnya."
"Tapi Jiji, walau aku tidak melihat langsung tapi aku bisa merasakan kebencian mereka. Mereka benar-benar membenciku. Setiap hinaan yang mereka keluarkan, semuanya diujukan padaku. Selama ini aku berusaha untuk memperdulikannya, aku juga tidak mempercayai mahluk itu. Tapi ternyata semuanya benar. Aku hanyalah monster yang telah merebut keluarga mereka."
"Tidak Naruto. Kau bukanlah Monster seperti yang orang katakan. Kau itu anak yang sangat ceria dan penyayang. Kau tidak pantas di katai sebagai monster."
"Tapi Mizuki-sensei bilang ada monster yang tersegel di tubuhku. Dan mahluk itu juga bilang kalau dia ada di dalam tubuhku."
"Mahluk itu? Apa yang kau maksud?" Hiruzen memaksa Naruto untuk menengadah dan menatap mata tuanya. Jelas sekali kehawatiran tersirat dimata lelaki yang telah melewati berbagai macam pertarungan itu.
"Uh... Beberapa tahun yang lalu aku bertemu dengan seekor rubah yang sangat besar. Matanya merah dan bulat lalu ekornya ada banyak. Dia terkurung di sebuah penjara yang sangat besar. Penjara itu becek, ada air yang menggenang. Sangat tidak nyaman untuk di tinggali. Aku ingin mengeluarkannya dari penjara itu tapi tiba-tiba saja aku sudah ada di rumah sakit." Ujar Naruto dengan polos sambil menunduk dan memainkan ujung bajunya.
Tapa Naruto sadari, Hiruzen Sarutobi tengah menatapnya dengan tajam dan penuh perhitungan. Ada rasa khawatir di tatapan itu, tapi juga ada sedikit rasa benci yang terkubur dalam di balik perasaan khawatir yang lelaki itu tampilkan."Kapan kau bertemu dengan mahluk itu?"
"Saat aku berumur lima tahun. Beberapa minggu setelah aku di usir dari panti asuhan. Penduduk mengejarku hinga kepinggir hutan dan ... dan menikamku di punggung beberapa kali. Rasanya sakit sekali Jii-chan. Aku sudah minta maaf dan memohon agar mereka menghentikannya. Tapi mereka terus mengejarku dan menendangku. Mereka juga memukul kepalaku hiks..." perlahan airmata kembali mengalir di mata biru itu, dengan keduang tangan yang memeluk diri sendiri seolah-olah tangah menahan segala ancaman yang dapat datang kapan saja. "Me-mereka menyeretku kehutan hiks... lalu melukai tanganku juga melukai punggungku. Hiks... Rasanya sangat sakit dan perih. A-aku tidak dapat melihat siapa yang menyerangku, semuanya gelap. La-lalu mereka mulai merobek bajuku! Aku menedang mereka! tapi mereka menahan kakiku! Aku berteriak sekeras mungkin! Tapi mereka menyumpal mulutku dengan kain! Aku takut sekali! Aku sudah berusaha minta tolong tapi tak ada satupun yang datang menolong!" berbagai emosi meluap ketika Naruto menceritakan pengalamannya, mata birunya memandang lelaki didepannya penuh ketakutan dan amarah. Untuk sesaat Hiruzen dapat melihat pupil mata Naruto menjadi vertikal kemudian kembali menjadi bulat sepenuhnya. Dan Hiruzen ingat hari dimana Anbu termuda di Konoha mengabarkan keadaan kritis cucu angkatnya.
"Lalu aku terbangun di sebuah lorong."bisik Naruto tertunduk saat ia mengingat kembali tampat yang untuk pertamakalinya memberinya rasa aman."Semua rasa sakitku hilang, aku bisa melihat cahaya redup yang menyinari lorong itu, kakiku bisa merasakan air menggenang yang menyantuh kakiku, aku bisa mendengar suara geraman yang berasal dari ujung lorong itu. Aku berjalan mencari sumber suara itu. Lalu aku sampai disebuah penjara yang sangat besar dan ada dua mata merah dan besar yang terus menatapku tanpa henti. Aku mendekati mata itu."
Sesaat Hiruzen manahan nafasnya. Hal itu disadari Naruto dan membuat anak itu menatap Hiruzen dengan bingung dan khawatir. "Jii-chan?"
Menghembuskan nafasnya secara perlahan. Hiruzen bertanya kembali. "Apa yang kemudian terjadi?"
Untuk sesaat raut wajah Naruto terlihat senang, ia menceritakan kembali pengalamannya "Tiba-tiba ada sebuah ekor yang besar mendorongku mejauhi penjara itu. Ekor itu sangat besar dan lembut dan halus dan...dan hangat! Hangat sekali! Aku lalu memeluk ekor itu dan menariknya. Tapi kemudian ada ekor lain yang keluar. Ada banyak. Lima! Ada lima ekor yang keluar. Lalu mata yang tadi menatapku semakin naik, naik tinggi menjulang. Lalu aku dapat melihat dua telinga kelinci yang panjang! Aku suka sekali kelinci! Kemudian aku melihat wajah mahluk itu. Tapi itu bukan kelinci, itu hanya seekor rubah." Ekspresi gembira dan bersemangat Naruto dengan begitu cepat berubah menjadi kesal yang terlukis di wajahnya yang masih berisi bekas air mata itu. Perubahan emosi yang mendadak itu terkadang membuat Hiruzen heran dengan cucu angkatnya ini.
"Mahluk itu tidak menyakitimu kan?" dengan lembut Hiruzen mengelus rambut pirang milik Naruto. Sekaligus mengumpulkan kesabaran dan kekuatan agar tidak menyakiti cucu didepannya ini.
"Tidak. Dia hanya menatapku dan bertanya kenapa aku bisa datang begitu cepat. Awalnya aku tidak mengerti, tapi dia bilang aku seharusnya tidak datang saat itu, karena aku belum bisa menggunakan cakra. Jii-chan, apa jika aku bisa menggunakan cakra aku bisa bertemu dengan mahluk itu lagi? Mahluk itu bilang dia ada didalam tubuhku. Awalnya aku tidak percaya sampai akhirnya Mizuki-sensei bilang kalau ada mosnter tersegel di dalam tubuhku. Apa mahluk yang ku temui itu monster? Dia tidak terlihat menakutkan sedikitpun." Tanya Naruto ragu yang membuat Hiruzen was-was. Naruto jelas terlihat tidak cemas ataupun takut dengan Kyuubi yang tersegel didalam tubuhnya. Tapi Hiruzen juga tidak ingin Naruto menemui mahluk itu lagi.
"Mahluk yang kau temui dan yang diceritakan oleh Mizuki ada Kyuubi, Monster Rubah berekor sembilan yang disegel oleh Hokage ke-4 saat kau di lahirkan." Secara perlahan Hiruzen menjelaskan, ia memilah kata-katanya agar tidak terdengar menuduh Naruto sebagai monster itu sendiri.
"Disegel? Bukannya dibunuh? Sensei di akademi bilang Kyuubi di bunuh Yondaime." Naruto ingat saat salah satu senseinya menceritakan dengan bangga keberhasilan Yondaime Hokage membunuh monster Kyuubi didepan kelas.
"Tidak. Kyuubi adalah seekor biju berbentuk yang mengambil bentuk rubah berekor sembilan. Biju terbuat dari cakra, mereka tidak bisa dibunuh dan hanya bisa di segel. Orang yang memiliki biju tersegel di tubuhnya disebut Jinchuriki."
"Mereka? Jadi biju itu tidak hanya ada satu?" ingin sekali rasanya Hiruzen memukul kepalnya kemeja kerjanya. Harusnya dia tidak memberitahu bahwa Naruto bukan satu-satunya anak yang menjadi Jinchuriki. "Apa ada anak lain yang seperti aku? Apa ada anak lain yang di sakiti seperti aku? Kenapa biju itu harus disegel? Kenapa Yondaime menyegel biju di tubuhku?" ekspresi wajah Naruto yang awalnya tampak besemangat kini mulai terlihat nampilkan emosi negatif. "Apa Yondaime mengambilku dari keluargaku dan manjadikanku Jinchuriki? Apa karena itu orangtuaku membuangku? Atau apa Yondaime menjadikanku Jinchuriki karena orangtuaku memang tidak menginginkanku!? KENAPA BUKAN DIA SAJA YANG MENJADI JINCHURIKI!? KENAPA BUKAN ANAKNYA SAJA YANG DI JADIKAN JINCHURIKI! KENAPA HARUS AKU!" dan Hiruzen dapat melihat pupil mata Naruto berubah vertikal kembali, tapi kali ini dengan berubahnya warna iris mata naruto menjadi merah. Seperti mata Kyuubi yang dulu Hiruzen hadapi di hari kelahiran Naruto.
TBC
