Thank You
.
[Chapter 3]
.
.
.
Jimin menggelengkan kepalanya saat melihat ponsel Taehyung terus-terusan mendapat panggilan dan pesan dari nomor yang sama. Dalam hati ia ingin sekali mengangkat teleponnya lalu berkata, 'Taehyung sedang istirahat, bisa berhenti menelepon tidak?' Tapi Namjoon melarangnya saat ia tau siapa yang meledakkan ponsel Taehyung itu.
Satu nama yang sama.
'49 missed call from Jeonggukie'
'61 message from Jeonggukie'
Tanpa banyak bicara, Namjoon hanya mengatakan, "Jangan diangkat. Abaikan saja." Lalu ia kembali bekerja. Seokjin juga sedang memeriksa pasien di UGD. Mereka berdua sangat sibuk sehingga Jimin dengan senang hati menjaga Taehyung di sini.
Sejak tadi pagi sampai sore ini, Taehyung belum juga sadarkan diri. Awalnya Seokjin panik, takut jika terjadi apa-apa dengan adiknya. Tapi dengan tenang Namjoon mengatakan kalau Taehyung hanya kelelahan. Dengan begitu, Seokjin dapat pempercayainya.
Jimin menghela nafas bosan. Ia menendang pelan kaki ranjang Taehyung.
"Bangun, idioott." Gumamnya malas.
Ia menusuk pipi tirus Taehyung dengan telunjuknya.
"Banguuunn!" Katanya kesal. "Kau pemalas sekali, sih. Tidurmu lama sekali. Cepat bangun!" Jimin mulai mengeluarkan suara cemprengnya, berteriak tanpa peduli akan mengganggu istirahat Taehyung atau apalah. Hey, ayolah. Taehyung sudah tidur cukup lama.
"Dari tadi Jungkook meneleponmu terus. Nah, lihat! Dia menelepon lagi!"
"Ah, jadi yang menelepon dari tadi itu Jungkook ya.."
Jimin hampir saja terjungkang dari kursinya. "Taehyung? Ini kau?"
"Bukan." Matanya yang sedari tadi terpejam akhirnya terbuka, menampakkan netra coklat kelamnya. "Ini arwahnya."
"Dasar sinting!" Umpat Jimin lalu menyentil kening Taehyung. "Sejak kapan kau bangun, hah?"
"Mmm.." Gumamnya dengan ekspresi menyebalkan.
"Taehyung!" Teriak Jimin kesal setengah mati.
"Oke oke maaf," Taehyung tertawa. "Aku bangun sekitar satu atau dua jam yang lalu, mung— aaww, Jim!"
Barusan, telunjuk dan ibu jari Jimin mengapit kulit lengan Taehyung sampai memerah. Ia kesal setengah mati, sialan. Jadi dari tadi Taehyung sudah bangun? Bisa-bisanya anak itu membohonginya. "Dasar idiot! Sinting! Gila! Kau membuatku menunggumu seperti orang idiot di sini, dasar idiot!"
"Eh?" Taehyung terlihat menahan tawanya. "Emm, bukannya kau memang idiot, Jim?" Ujarnya dengan ekspresi sok polos yang membuat Jimin hampir muntah.
"Sialan!" Teriaknya tak terima.
Lalu Taehyung terbahak sampai perutnya sakit. Tawanya terhenti kala ponselnya kembali berdering.
Taehyung memandangi ponselnya. "Jungkook, ya?"
Jimin terkekeh lalu berkata, "Ya, itu Jeonggukiemu. Kau sudah bertanya tadi, Taehyung."
Tiga detik kemudian, ponsel yang berdering itu sudah berada di tangan Taehyung. Ia tetap diam sampai deringnya berhenti. Dan saat melihat notifikasi yang muncul di layarnya, Taehyung terkejut.
"Wow,"
"Angkanya sudah bertambah ya? Dari tadi berdering terus, sih."
Taehyung hanya mengangguk dengan ekspresi terkejut bercampur kagumnya. Namun saat membaca pesan-pesan dari Jungkooknya, dada Taehyung bergemuruh, berdenyut nyeri.
'Taetae hyung?'
'Hyung, kau dimana?'
'Taehyuung'
'Hyung, angkat teleponnya.'
'Kumohon..'
'Tae hyung, kumohon, astaga.'
'Hyungie, kau tidak marah kan?'
'Hyung, maafkan aku. Angkat teleponnya, ya?'
'Tae hyung, kau baik-baik saja kan?'
'Tadi pagi saat berbicara dengan Namjoon hyung, aku dengar Seokjin hyung berteriak. Apa kau baik-baik saja, hyung?'
'Hyung, aku merindukanmu.'
'Angkat teleponnya..?'
'Hyung, jangan membuatku takut.'
'Tae hyung..'
'Sekarang aku benar-benar takut, hyung. Angkat teleponnya-'
Dan masih banyak lagi pesan yang tak dibacanya. Ia terdiam saat ponselnya berdering lagi. Matanya menatap sendu nama yang tertera di layar ponselnya. Dengan jemari bergetar, ia menggeser ikon berwarna hijau di sana.
"Oh, Taetae hyung?"
Kebahagiaan Jungkook bahkan terdengar dari suaranya, ya ampun. Taehyung jadi merasa bersalah.
"Sayang?"
"Ugh.. H-Hyung.. Kau baik-baik saja? Kau, kau tidak kenapa-kenapa, kan? Apa ada yang sakit? Apa—" Suaranya terdengar bergetar, serak.
"Hey, aku di sini. Aku baik-baik saja, mengerti? Jangan menangis.."
"Hyung bodoh! Aku membenci hyung, aku benci—" Isakannya terdengar begitu memilukan.
Taehyung menghela nafas kacau. Tangannya yang menggenggam ponsel bergetar, tak kuasa mendengar isak tangis kesayangannya. "Jungkookie.."
"Hyung tau seberapa khawatirnya aku? Hyung tau seberapa takutnya aku, ha? Aku sangat, aku sangat takut, aku sangat khawatir, hyung." Jungkook berkata di sela isak tangisnya. Hal itu membuat hati Taehyung seakan teriris perlahan.
"Maaf.." Bisiknya pelan.
Jimin terdiam melihat ekspresi kawannya. Ia mengerti. Pasti Jungkook khawatir sekali. Tadi Jungkook juga meneleponnya dan terpaksa Jimin berbohong. Ah, ya Tuhan. Kenapa Taehyung terlihat semenyedihkan ini?
"Jungkook.. Jangan menangis, astaga—" Taehyung meremas selimut tipis yang menutupi bagian kakinya. "Maaf.. Jungkook, jangan menangis. Sayang.."
"Uh.. Tae hyung.." Isakannya terdengar mulai mereda. "Kau baik-baik saja..?"
Taehyung terdiam sebentar. Namun tak perlu waktu lama, ia kembali melanjutkan, "Seratus persen baik-baik saja, sayang. Tenang saja, oke? Jangan menangis lagi, tidak ada yang terjadi kok. Aku oke, seribu persen oke."
Ia mendengar suara tawa Jungkook di sambungan telepon. "Seratus juta persen baik-baik saja?"
"Satu miliar persen baik-baik saja, Kookie sayang.."
"Aku mencintai hyung!"
"Astagaa, kau membuat telingaku sakit." Taehyung tertawa senang. "Aku sangat sangat sangat mencintaimu."
"Hyung jangan lupa makan, ya?"
"Tentu."
"Emm.."
"Kenapa, sayang?"
"Ng, kapan kita bisa bertemu..? Dari tadi aku tidak fokus mengerjakan tugas karena terlalu merindukanmu. Bisa-bisa aku juga tidak fokus mengikuti pelajaran besok.."
Lagi, Taehyung tertawa senang. Ia berpikir sebentar. "Mm, nanti aku tanya Seokjin hyung dulu, ya? Jangan sedihhh."
"Okee!" Jungkook berseru senang. Taehyung dapat mendengar tawa bahagianya.
"Sayang, sudah dulu ya? Aku mau bertanya pada Seokjin hyung. Nanti ku telepon lagi, ya? Jangan sediih.."
Jungkook terdiam sebentar.
"Sa—"
"Ung! Oke, janji ya nanti menelepon lagi? Aku merindukan hyuung,"
Taehyung terkekeh. "Janji sayang, janji. Aku juga merindukanmu. Aku tutup, ya? Dahh," Dan sambungannya terputus.
Jimin yang masih berada di tempatnya menggelengkan kepalanya. "Tidak lelah berlagak seperti ini terus, Tae?"
Yang ditanya hanya tertawa ringan. Tawa palsu, hanya untuk menutupi sesak di dadanya.
"Tidak ada yang lucu, bod—"
"Lelah, Jim." Taehyung melirih pelan. Bibirnya tidak lagi mengukir senyuman palsu seperti biasanya. "Aku lelah, sangat."
Jimin menghela nafasnya. "Kenapa tidak mengaku saja?"
"Jungkook bukan Yoongi hyung, Jimin-a." Ia terdiam sebentar. Matanya menerawang lurus ke depan. "Bagaimana kalau ia tidak bisa menerima aku yang seperti ini?"
"Tae, Jungkook memang bukan Yoongi hyung. Siapa bilang mereka sama? Dasar bodoh." Jimin terkekeh. "Tidak bisa menerima apanya? Harusnya kau takut, Tae. Harusnya kau takut kalau Jungkook akan bersedih nantinya."
"Aku juga takut akan hal itu, sialan!" Teriaknya emosi bercampur frustasi.
"Dulu, saat Yoongi hyung mengetahui hal ini, ia sangat sedih. Ia bahkan sempat menjauhiku. Saat itu aku menyesal, kenapa aku memberitahunya? Harusnya aku tidak memberitahunya. Harusnya aku diam saja. Aku terus berpikir begitu, menyalahkan diriku. Tapi kau tau apa yang sebenarnya membuat Yoongi hyung begitu?" Jimin menunjukkan senyumannya.
"Apa?" Tanya Taehyung penasaran.
"Dia bersedih karena ia takut kehilanganku. Dia menjauh karena ia kesal padaku yang tak memberitahunya dari dulu. Dan lihat sekarang? Kami baik-baik saja."
"Whoa whoa, apa ada yang menyebut namaku di sini?"
Refleks, Jimin menoleh ke sumber suara yang mengejutkannya. "Yoongi hyung? Sejak kapan disini?" Tanyanya.
"Nada bicaramu seperti tidak senang dengan kedatanganku, Jim." Yoongi merengut sebal. "Baru saja."
"Aku senang kokk," Kata Jimin dengan senyuman manisnya. "Aku merindukan hyuung," Ia memeluk pinggang Yoongi.
"Jangan bermesraan di depan orang sakit, Park idiot Jimin."
"Dengar itu, Jim." Yoongi menjitak pelan kening Jimin.
"Iya iya, maaf." Jimin kembali ke posisi semulanya.
"Yoongi hyung, ke sini mau menjengukku atau Jimin?"
Yoongi menoleh ke arah Taehyung. Sambil mengusap tengkuk ia berkata, "Sebenarnya menjenguk Jimin. Tapi ternyata kalian sama-sama di sini, jadi yaah.." Ia tertawa pelan. "Aku menjenguk kalian."
"Jimin pasti senang sekali ya, ada yang menjenguknya tiap kali rawat inap di sini." Gumam Taehyung.
"Makanya, mengaku saja. Aku yakin Jungkook bisa mengerti."
"Naah! Yoongi hyung saja bilang begitu. Mau apa lagi kau, Taehyung?"
Taehyung meringis pelan. "Tidak semudah itu, Jim, Yoongi hyung."
Keduanya terdiam.
"Aku tidak ingin senyuman di wajah Jungkook menghilang begitu saja."
"Taehyung.."
"Kalian tau betapa susahnya mengembalikan senyumannya saat itu, kan? Aku tidak mau. Aku tidak mau senyum itu menghilang lagi."
"Karena hanya kau, bahagia sekaligus rasa sakitku."
Tahun dua ribu tigabelas, Taehyung mengenal Jungkook. Saat itu yang diketahuinya tentang Jungkook hanyalah; junior kelas 1-A yang memiliki prestasi segunung, tampan, murah senyum dan baik hati. Dan sial sekali, hal itu membuat Taehyung tertarik untuk mengenal Jungkook lebih dekat lagi.
Taehyung memulai aksinya. Awalnya hanya modus-modus kecil, sampai akhirnya Taehyung mulai terlihat seperti peganggu di kehidupan Jungkook. Jungkook lama-kelamaan jengah juga diganggu oleh seniornya yang satu ini. Akhirnya ia mencoba berbaik hati pada Taehyung.
"Sunbaenim, ada apa mengikutiku terus?"
Mampus. Taehyung tertangkap basah. Padahal ia sudah mencoba mengikuti Jungkook diam-diam dengan jarak seminim mungkin. Well, tolong jangan katakan. Taehyung memang terlampau idiot jika sangkut pautnya adalah Jungkook.
"Err, tidak ada.."
"Mau nomorku? Atau ID Line?"
"Boleh?"
"Tentu."
Lihat? Jungkook memang tipe adik kelas yang baik hati, ya kan?
Kentara sekali senyuman di bibir Taehyung saat junior kesayangannya itu berbaik hati memberikan hal yang menurutnya cukup privasi untuk diberi ke orang yang tidak dikenalnya.
"Jeon Jeongguk, atau Jeon Jungkook—yah, sama saja sih. Kelas 1-A."
Dalam hati Taehyung berkata, aku sudah tau, dasar kelinci manis.
"Kim Taehyung. Kelas 3-D."
"Senang berkenalan denganmu, Sunbaenim."
"Aku juga, bunny."
"Ha?"
"Gigimu seperti kelinci, Jungkook-ah."
Yang lebih muda tanpa sadar merengut kesal. "Tidak begitu, Taehyung sun—"
"Hyung. Panggil aku Taehyung hyung."
"Aneh rasanya kalau menyebutkan 'hyung' dua kali." Gumam Jungkook dengan wajah judesnya.
"Jadi?"
"Bagaimana kalau..." Ia berpikir sebentar.
Taehyung menunggu. Satu menit. Satu setengah menit. Dua menit. "Kalau?"
"Taetae hyung?"
Sontak, Taehyung tertawa geli. "Lucunyaa," Katanya seraya mengacak surai Jungkook, tanpa sadar. "Oke. Kau boleh memanggilku apa saja. 'Sayang' juga boleh, kok."
"Ewwh, tolong—"
Lalu keduanya tertawa lepas. Tanpa sadar, mereka menjadi semakin dekat karena kejadian ini.
Enam bulan menjalin hubungan yang entah apa namanya ini, Taehyung semakin yakin dengan perasaannya. Saat ia ingin mengutarakan semua isi hatinya, ternyata itu bukan waktu yang tepat.
Jungkook datang. Jungkook datang ke rumahnya tepat sebelum ia ingin menjajakkan kakinya di pintu depan. Jungkook datang dengan lelehan air mata di pipinya. Jungkook datang dengan kondisi acak-acakan.
Saat itu Taehyung mendengar bisikan di sela isak tangisnya, "Tae—t-tolong. Hyung, tolong—"
Jungkook menggenggam pergelangan tangan Taehyung erat sekali. Matanya yang masih mengalirkan buliran bening itu menatap Taehyung dengan tatapan yang sulit diartikan. Tubuhnya bergetar hebat seiring isak tangisnya yang masih mengalun merdu.
"Ayah, ayah—" Katanya setengah berteriak, panik. "Tae hyung, ayah. Ayah—" Lalu ia menangis lagi, tak sanggup melanjutkan kalimatnya.
Taehyung terdiam. Ia menatap mata Jungkook seolah menanti kalimat selanjutnya. Hatinya terkikis sedikit demi sedikit. Perih rasanya. Baru kali ini Taehyung melihat bulir bening itu menerobos keluar dari mata Jungkook. Baru kali ini, dan entah mengapa rasanya sakit sekali.
"Ayah.." Jungkook menangis tersedu-sedu. Tangannya semakin erat menggenggam pergelangan tangan Taehyung.
Taehyung merengkuhnya, membawanya ke dalam pelukannya. Membiarkan lelehan air mata itu membasahi baju yang dikenakannya, merembes sampai tersentuh kulitnya. "Ada apa, Kook? Apa yang terjadi?"
"Ayah tidak ada lagi.. Ayah.. Ayahku, hyung.. Tadi pihak rumah sakit meneleponku... Mereka bilang—" Jungkook terisak lagi. Ia mengeratkan pelukannya pada tubuh Taehyung. "—ayah tidak sadar dari komanya.. Ayah pergi.. Ayah.. Hyung, ayah.." Dan lagi, isakannya meledak. Tangannya meremas baju Taehyung, melampiaskan rasa sakit di hatinya.
Taehyung membeku di tempat. Ia berbisik parau, "Ayahmu..?"
Jungkook mengangguk kacau di pelukannya. Isakannya semakin menjadi. "Aku takut, hyung. Aku takut—"
Taehyung mengeratkan pelukannya. Lagi, ia berbisik parau, "Jangan takut—" Bibirnya mengecup pelipis Jungkook. "—aku di sini, Kook. Aku di sini."
Bukannya mereda, tangisnya lagi-lagi meledak. Jungkook melesakkan kepalanya di ceruk leher Taehyung, menangis di sana sampai ia merasa benar-benar siap untuk melihat sang ayah dimakamkan.
.
.
To Be Continued
.
Anyone, mind to give me some review?(:
Thanks, ily3
Let's be a friend!
Twt: kimeatjin30
