Einsamkeit
Chapter 2: -and the Knight
APH HIDEKAZ HIMARUYA
Einsamkeit © Ludwig Beilschmidt/Germany/Doitsu
「The Endia and the Knight」© Sound Horizon
WARN: *mungkin* typo, human name used, minim riset, masih termasuk newbie di APH,ketidak jelasan alur juga genre cerita, dan pengetahuan-setahu-pelajar-saja, saya tak berpegang pada EYD, dan ini bukan fic yaoi. All about brotherly love.
Summary: Gilbert memikirkan kenapa ia masih saja diberi kehidupan. Padahal Jerman Timur maupun Kerajaan Prussia telah lama lenyap. "Terkadang, dunia yang diselimuti kedamaian tak akan merubah apapun menjadi lebih baik ataupun sebaliknya, West."
Ide cerita semata muncul di kepala saya. Kesamaan aspek cerita tak memiliki hubungan apa-apa dengan kenyataan. Saya hanya punya cerita, bukan tokoh beserta relasinya.
.
.
Angin pagi musim gugur terasa tak begitu hangat bagi Gilbert. Bagaimanapun ia tetap menunjukkan pagi ini tetap layak untuk di nikmati. Salah satunya dengan cara bangun di jam sepagi ini. Setidaknya pukul 6 itu masih termasuk pagi bagi Gilbert. Ia pergi ke dapur untuk meminum segelas coklat hangat.
Namun yang terjadi adalah bukannya mengambil bungkus coklat bubuk sachet, ia malah mengambil bungkus kopi sachet. Ketika ia sedang menyeduhnya, ia tertawa kecil sendiri. Ah, kok aku nggak sadar ini bukan bungkus coklat hangat? Apa yang sedang ku pikirkan? Sudahlah, daripada di buang, ujar batin Gilbert.
Gilbert berhenti sejenak. Ia kembali terpikir akan masalah kopi dan coklat hangat. Bagaimana jika buatkan satu lagi untuk Ludwig? Ia langsung kembali mengambil bungkus coklat hangat dan menyeduhnya. Kembali lagi setelah membuatnya ia merasa ingin meminum coklat hangat. Tapi ia tak ingin memberikan Ludwig kopi yang sudah agak mendingin.
"Kakak ngapain ... di dapur?" tanya Ludwig dengan suaranya yang masih belum normal. Ludwig tidak menyelenggarakan konser atau sehabis menceramahi setiap negara yang datang pada rapat. Ini adalah hal yang wajar bagi siapapun yang baru bangun tidur. Begitu juga si Author(plakk!)
Ini pertama kalinya dalam sejarah Ludwig ia melihat Gilbert berada di dapur. Meski itu hanya sekedar untuk menyeduh minuman saja. Dan juga pemandangan keplin-plannya Gilebrt yang pertama kali ia lihat untuk hari ini.
"Oh, West! Kau sudah bangun?" suara melengkingnya tetap terdengar pada intonasi yang biasanya. "Boleh aku minum dua-duanya?"
Ludwig masih terheran. Maklum, nyawanya masih berterbangan entah kemana. Ia hanya membalasnya dengan tatapan penuh pertanyaan.
"Ah, tadi aku membuatkannya untukmu satu dan untukku satu. Tapi aku ingin meminum dua-duanya." Gilbert mengangkat kedua gelas itu dan bersikap seolah-olah ia seorang detektif. "Jadi, apa boleh?"
Ludwig hanya mengangguk. Dan akhirnya kakaknya dengan sifat serakahnya meminum kopi dan coklat hangat. Rasanya ia seperti melihat adegan yang biasanya ada di komik-komik yang Kiku buat(0). Ludwig keluar sebentar untuk meihat apakah ada koran ataupun surat yang di kirimkan hari ini. cukup terkejut karena selain koran, ia juga mendapatkan sebuah dokumen. Terlihat cukup berat dan isinya juga terlihat penting.
Dokumen itu di tujukkan untuk Gilbert. Rasana sudah lama sekali Gilbert mendapatkan surat. Ludwig melihat siapa pengirimnya. Tak ada alamat yang jelas. Bahkan nama keluarga pengirim pun tak ada. Hanya ada nama depannya. Hans.
Hans? Jangan bilang dia hantu temannya Old Fritz(1). Ia pernah di ceritakan Gilbert kalau saat Old Fritz masih muda, ia pernah berpikir untuk kabur ke Britain. Tapi malah ketahuan dan sebagai gantinya ia dipaksakan untuk melihat eksekusi temannya sendiri. Teman Old Fritz yang di eksekusi itu juga bernama Hans. Tidak. Roh orang yang mati tak mungkin bisa menjadi hantu. Jangan membuat dirinya ketakutan dulu dengan sebuah pernyataan yang belum tentu benar. Tapi kalau melihat ke teman-temannya seperti Kiku dan Wang Yao, mungkin saja itu terjadi. Tidak. Tidak. jangan membuat Ludwig ketakutan dulu.
Ludwig segera memberikan dokumen itu pada kakaknya. Sepertinya reaksi Gilbert tak terlalu berbeda jauh darinya. Ia sama-sama kaget karena mendapatkan dokumen sebesar itu. Tapi Gilbert langsung berkata terima kasih dan membawanya ke kamarnya.
Ludwig jadi ingin membuka dan melihat dokumen yang sepertinya setara dengan pentingnya dokumen kerjanya. Tapi pikirannya menolaknya. Itu privasi orang lain, Ludwig.
"Ludwig." Ia baru saja akan memasuki kamar mandi untuk segera berberes-beres. Dan kini di hadang oleh sang Gilbert. Ludwig langsung menjawab dalam hatinya, ini orang cepat banget kembalinya. "Hari ini kau libur tidak?"
Semacam pertanyaan konyol jika di bahas. Hari ini adalah hari Selasa. Tak mungkin ini hari libur. Di tambah tak ada libur nasional pada minggu ini. Di tambah ia juga sedang di tunggu dengan tumpukkan dokumen pekerjaan yang harus di baca dan di tanda tangani. Entah akan seperti apa jadinya jika ia tak pergi kerja hari ini.
"Hari ini masih hari kerja, kak. Lagi pula, aku masih punya banyak kerjaan menumpuk. Kalau aku tinggalkan—"
"AH! SANGAT TIDAK AWESOME SEKALI DIRIMU, WEST! Tinggalkan saja dokumen-dokumen tidak awesome itu pada bawahanmu. Sekali-kali kau perlu juga mengambil cuti, West." Gilbert dengan sangat bangganya merangkul Ludwig yang jelas-jelas lebih tinggi darinya. Tapi tetap saja perbedaan tinggi itu tak membuat Gilbert mengakui bahwa ia pendek.
"Tapi, kak—"
"Aku tidak akan mengijinkanmu kerja hari ini!" perintah Gilbert seenak udelnya. "Hari ini kau harus mengantarku kemanapun aku mau!"
"Tapi—"
"Tidak ada 'tapi-tapi'-an! Ini perintah dari Prussia yang awesome! Kau tak bisa menolak perintah dari yang lebih tua, Ludwig!"
Kak, aku ingin menyelesaikan sedikit pekerjaanku.
.
.
'Puas jalan-jalannya, kak?' ujar batin Ludwig. Yang kalau boleh berkata jujur, ia lebih lelah untuk jalan-jalan di bandingkan bekerja. Belum lagi beberapa orang yang berbisik-bisik ketika kakaknya lewat dan dengan pita suara yang asem, salah, awesome, berkata hal-hal yang tidak-tidak di hadapan umum. Misalnya tentang Gilbird, Antonio dan Francis, juga tentang kentang. Tentu dengan embel-embel awesome di 99,9999% ucapannya.
Dan juga beberapa orang biasa, atau bisa ia bilang rakyatnya, berbisik-bisik tentang penampilan kakaknya. Siapa yang merasa tak aneh begitu melihat seorang pemuda dengan semangat yang tinggi memiliki rambut seperti kakek-kakek dan mata merah scarlet.
Jam tangan Ludwig sudah menunjukkan pukul 5. Ia sangat bersyukur karena sekarang sudah mendekati musim gugur. Dengan kata lain, waktu malam pasti akan berangsur datang lebih cepat di bandingkan saat musim panas. Ia sangat menginginkan pulang ke rumah, menikmati akhir hari dengan tenang atau bahkan sedikit menyicil pekerjaan untuk hari esok.
Tapi setidaknya, Ludwig tak bisa dengan bangganya untuk beristirahat sejenak dari mulut kakaknya yang cerewet bin awesome. Karena sang pemuda Prußen meminta untuk pergi ke Brandenburg Gate. Satu hal, Ludwig ingin marah-marah seperti biasa. Tapi, ia harus berpikir dengan tenang. Yang ia hadapi kali ini adalah Gilbert. Harusnya ia sudah bisa memaklumi sifat kakaknya ini. Ia sudah ratusan tahun bersama kakaknya.
"Ludwig! Jangan pasang wajah lelah yang tak awesome seperti itu! Kita 'kan sedang jalan-jalan! Tunjukkan wajah ceriamu dong!" ujar sang Prussia dan ia menarik senyuman selebar-lebarnya. MANA ADA ORANG YANG TIDAK LELAH SETELAH JALAN-JALAN SEHARIAN, KAKAK! bentak batin Ludwig. Tenang, tenang Ludwig. Paling setelah ini bruder akan mengatakan dia lelah dan ingin pulang. Tenanglah, Ludwig.
Bukan satu hal yang buruk untuk mengakhiri hari dengan berada di Brandenburg Gate. Tapi satu hal yang masih patut di pertanyakan. Untuk apa ia berada di sini sekarang? Apa akan tetap seperti sebelumnya, dimana kakaknya sudah sedia kamera untuk memoto-moto keadaan sekitar atau sekedar bernarsis ria? Kalau begitu jadinya, ia ingin sekali pulang dan bersiap untuk hari esok.
"Ludwig!" Gilbert merangkul Ludwig, yang dalam kondisi itu sedang setengah bengong. Lantas Ludwig langsung kaget dan hampir menjerit. "Memangnya aku ini hantu apa? Hey, asal kau tahu, hantu itu sangat tidak awesome! Beraninya sama tempat yang remang-remang dan memakai pakaian yang terlihat mengerikan. Dan juga beraninya saat malam saja."
"Kak, lebih baik kakak tarik kata-kata kakak kalau kakak tak ingin ada hantu yang menggentayangi kakak nanti malam."
"Aku tidak takut dengan hantu! Lagipula, aku ini lebih awesome daripada hantu! Ingat itu!"
Gilbert sedikit terkekeh dengan kesesese seperti biasa. Entah apa yang ia kekehkan padahal keadaan di sekitarnya termasuk biasa. Tapi, sejenak, setelah angin pergantian musim menyapanya, ia menghentikan tawa kekehannya. Dan mungkin karena efek dari angin itu sendiri, Gilbert kembali menjadi lebih kalem dari yang sebelumnya.
"Hah ,... rasanya tua sekali kalau aku mengingatnya." Gilbert merasakan lagi angin dingin awal musim gugur. Ia memasukkan tangannya ke jaketnya. "Banyak yang telah terjadi di sini ya."
Ludwig menatap ke arah Gilbert. Setidaknya kewarasan kakaknya sudah kembali. Tapi ia harus berhati-hati lagi ketika lidah asem kakaknya kembali kambuh. "Aku sangat meminta maaf kalau gerbang ini sempat di tutup olehku selama beberapa puluh tahun lamanya. Yah, setidaknya tak sampai setengah abad, lah."
"Itu sudah masa lalu. Tak perlu kakak pikirkan lagi. Toh pada akhirnya hal seperti ini yang terjadi. Tak ada lagi Jerman Barat maupun Jerman Timur. Semuanya berakhir dengan kedamaian."
"Tak kusangka Gorbachev yang awesome itu bisa mengakhiri konflik ini dengan perdamaian. Dan akhirnya aku bisa lepas dari Kolkol itu."
"Dan aku juga minta maaf. Aku tak bisa membantumu. Setidaknya seperti menjaga kedamaian Jerman dari hal-hal anarkis. Seperti kasus demo yang berakhir ricuh di beberapa bulan terakhir ini."
"Itu juga tugasku, kak. Kakak tak perlu mengkhawatirkan mereka karena aku yang bertanggung jawab atas mereka." Gilbert tak menyangka adiknya ini kembali menyalahkan dirinya. Semenjak reunifikasi, semenjak mereka bisa berbicara banyak lagi, ratusan kali telah Ludwig katakan kalau
Hening lagi-lagi menguasai. Setidaknya, berterima kasihlah pada para pengguna jalan yang tak membuat suasana ini menjadi benar-benar seperti batu. Rambut albino Gilbert kembali di terpa angin. Sungguh, padahal ini belum pertengahan musim gugur, tapi mengapa sore ini di warnai oleh angin dingin seperti ini?
"Ludwig." Begitu namanya dipanggil, ia kembali melihat menuju sang pemilik suara. Si albino bermata rubi-scarlet. Senyuman di bibirnya tetap tertanam, meski wajahnya tak mengatakan ia ingin memberikan senyuman itu. "Rasanya ini lelucon terburukku. Tapi aku ingin kau simpan amarahmu jika aku mengatakannya."
Ludwig menaikkan sebelah alisnya. Jangan berkata kalau kakaknya sedang berpura-pura keren dengan bahasanya yang juga kerennya selangit. Jangan bilang kalau di belakang kakaknya atau dirinya ada beberapa kamera pengintai yang di pasang duo Antonio dan Francis. Jangan bilang kalau kakaknya sedang bermain Truth or Dare dengan dua makhluk itu.
Tak ada angin dingin yang berhembus setelah mengisi jeda ucapan kakaknya."Apa pendapatmu jika aku benar-benar kembali memiliki eksistensi?" tanya sang Prussia dengan tenangnya. Warna gradasi senja langit dari violet menuju jingga menyala perlahan menghilang. Membiarkan selimut biru gelap bernama malam untuk datang menghampiri penduduk bumi.
Dingin. Lagi-lagi angin malam dingin menyapa pipinya. Mungkin Ludwig membutuhkan sebuah syalnya yang berukuran sedang. Ia juga sudah merasa tangannya kedinginan dan memasukkan ke dalam kantung jaketnya. "Apa menurutmu pemikiranku ini sangat gila? Seorang Preußen yang keberadaannya telah lama hilang di dunia, kembali memiliki eksistentis yang jelas. Bagaimana menurutmu?"
Ha,... ha? Inikah yang kakaknya katakan sebagai lelucon yang tidak lucu?
"Ha ,... ahahaha ..." Ludwig memegang keningnya, seakan kepalanya akan pecah hanya dengan kata-kata yang baru saja di katakan Gilbert. Setidaknya, ia tak ingin membuat keadaannya lebih buruk dengan terlalu memikirkan perkataan Gilbert, meski ia tahu, itu adalah tawa yang sangat di paksakan. "Memang, kak. Itu lelucon yang sangat tidak lucu yang pertama kali aku dengar. Hei, kak. Dimana sisi narsis kakak? Sungguh aneh seorang kakak yang selalu bernarsis ria malah membicarakan topik aneh seperti ini. Ahahaha..."
Gilbert memberikan pandangannya yang penuh iba. Bagaimana tidak. Ia melihat adiknya sendiri merasa frustasi hanya dengan kata-katanya. Dan juga ego-nya yang bodoh. Ia tahu itu bukanlah tawa maupun ucapan Ludwig yang benar-benar serius. Ludwig tak bisa serius karena ia terlalu lelah dan Gilbert tahu hal itu. Ia sudah lama tak melihat wajah Ludwig seperti ini setelah reunifikasi. Tapi ia sama sekali rindu ataupun mengharapkan ekspresi itu kembali terukir di wajah Ludwig.
"Cukup. Ludwig. Maafkan aku karena membuatmu harus berpikir serius untuk hal ini." Gilbert menepuk pundak Ludwig dan menghela napas berat. "Itu hanya ego bodohku saja. Ayo kita pulang."
Udara akhir musim panas memang dingin. Tak tanggung-tanggung akan sedingin ini. Gilbert ini secepatnya kembali ke rumah dan meminum coklat hangat atau teh hangat. Gilbert berjalan menuju stasiun terdekat. Ludwig pun mengikutinya dari belakang. Tak ada lagi perkataan yang keluar dari bibir Gilbert kecuali "Maafkan aku, Ludwig." Entah sudah berapa kali Gilbert mengucapkan kata maaf itu.
Kalau saja ia bisa ada tanpa harus menyakiti emosi siapapun—
.
.
Gilbert menutup pintu kamarnya dengan perlahan. Yang ia tahu, sesampainya di rumah, Ludwig langsung pergi ke kamarnya. Mungkin saja istirahat sebentar atau tidur. Toh, sudah sangat terlihat di wajah pria Jerman itu ia sangat kelelahan padahal ia hanya berjalan-jalan seharian penuh. Gilbert menatap isi kamarnya yang tak bisa dibilang rapih maupun berantakan. Entah mengapa ia langsung merasa seperti Ludwig yang ingin merapihkan kamar ini.
Diatas meja, ada sebuah dokumen yang datang hari ini. Gilbert langsung mengambil dokumen itu dan membuka isinya. Hanya beberapa tumpuk kertas yang di ketik mengenai keterangan sebuah daerah. Dan sebuah langkah kecil untuk masa depan.
Brandenburg.
Ah, sungguh, ia rindu sekali daerah itu ketika jamannya memiliki kekuasaan yang luar biasa dan masih diakui. Di jaman yang penuh kecanggihan teknologi, tentu dengan mudahnya Gilbert bisa mendapatkan data-data seperti itu sekalipun ia hanya mengetiknya di internet dalam rangka mengisi kebosanannya.
Ia membalik lembar demi lembar tanpa waktu yang begitu cepat. Ia hanya ingin membacanya sekilas. Toh, ia masih punya ingatan seperti itu di kepalanya. Tak perlu susah-susah untuk mencari dimana titik yang di ubah oleh manusia-manusia bodoh. Manipulasi sejarah tak akan mempan padanya.
Itu hanya ego bodohku saja.
Hah, rasanya bisa ia proklamirkan jika dirinya hanya memenuhi tak setengah kebenaran dari kalimat itu. Gilbert terkekeh sendiri. Bodohnya aku. Sisi jahat maupun sisi baik dari dirinya memang selalu bertentangan. Tapi ini pertama kalinya pertentangan ini menyebabkan jurang sepanjang horizon antara hati, pikiran dan lidahnya. Makhluk yang luar biasa, ya, diriku ini...
Gilbert, coba kau pikirkan. Makhluk tamak macam apa kau ini? Sudah di beri kehidupan yang luar biasa panjangnya, kau masih meminta paksa untuk kembali diakui. Apa ini yang manusia katakan sebagai dosa? Rasanya berat sekali untuk menjalaninya. Ha,... aku ini memang makhluk yang sangat tamak. Gott, tolong jawab aku. Gilbert menutup wajahnya dengan tangannya. Rasanya percuma jika ia mencurahkan rasa bersalahnya pada hatinya sendiri. Tak akan ada yang mengetahui bahkan merespon. Sekalipun itu adalah sesuatu yang sangat Gilbert percayai. Senyuman mirisnya terukir di wajah berbingkai rambut albino itu. Ia kembali terkekeh. Dengan intonasi miris, namun perlahan menjadi penuh dengan intonasi lebih tajam dari sebelumnya.
Tidak. Ini bukan hanya keinginanmu. Kau di biarkan hidup dengan memikul tanggung jawab atas mereka yang percaya padaku. Aku ada untuk membahagiakan rakyatku, apapun yang terjadi. Aku tak bisa mengecewakan mereka. Apa dosaku? Aku hanya ingin kembali di akui. Aku hanya ingin kembali di akui sebagai negara yang pernah menjadi suatu kehebatan di Eropa. Bukan menjadi salah satu bagian Jerman yang tak jelas nasibnya seperti apa. Kau harus membawa nama kebanggaan Preußen ke mata dunia. Kau harus mengatakan kepada dunia, aku juga sebuah negara besar yang memiliki negara hebat, Jerman. Kau harus membersihkan namamu yang sudah tercemar di seluruh dunia ini. Kau harus memmutar balikkan sejarah yang telah di manipulasi oleh tangan-tangan manusia kotor nan sampah itu. Gilbert memberikan celah agar cahaya bisa menyinari secukupnya penerangan untuk matanya. Mata merah membara yang penuh ambisi itu, yang kali ini makin di asah dan mulai kembali menajam. Revolusi untuk dunia ini sedang di butuhkan. Gilbert, hanya kau satu-satunya yang bisa menjadi penggerak utama revolusi ini. Revolusi pasti akan berakhir dengan hasil yang akan menata dunia kembali lebih baik. Apa yang kau lakukan ini sama sekali tidak salah. Camkan itu, Gilbert Beilschmidt!
Gilbert mengulurkan tangannya ke atas, seakan mengejar sesuatu dengan suatu kepastian yang besar. Aku juga ingin bebas, Ludwig.
.
.
Disaat Ludwig pergi ke kantor, ini saatnya bagi Gilbert untuk pergi keluar. Ia sudah terbiasa dengan hal ini. Ia akui, memang lebih menyenangkan jika pergi keluar untuk bertemu dengan orang lain. Coba saja kalau Gilbert tahu semenyenangkan ini berinteraksi dengan orang-orang secara langsung, ia akan memilih untuk keluar rumah setiap hari semenjak reunifikasi.
Ia pergi ke tempat kafè biasanya ia nongkrong. Mungkin itu bahasa kasarnya. Tapi, ia tak akan membicarakan wanita-wanita seksi di majalah dewasa ataupun tentang hal-hal ngawur lainnya. Entah mengapa, sejak ia kurang lebih menjadi pelanggan yang hampir setiap hari datang ke sini, kafe ini makin ramai dan makin di perluas.
Lonceng berbunyi, menandakan Gilbert baru saja datang ke kafeè ini. Hampir seluruh meja di toko ini penuh dengan orang-orang. "Herr Gilbert. Terima kasih sudah datang bahkan sebelum saya mengganti plank di pintu. Bagaimana dengan dokumen yang Saya kirimkan kemarin? Apa masih ada banyak hal yang salah atau perlu di perbaiki?"
Gilbert menatap pemuda itu. Ia memiliki semangat tinggi untuk membahagiakan siapapun. Hans namanya. Pemuda berumur 25 tahunan itu memiliki tekad yang kuat. Secara fisik, ia jadi teringat saat-saat Ludwig masih kecil yaitu dengan poni pendek yang terjulur ke depan. Maka ia menganggap Hans juga memiliki sedikit kesamaan dengan Ludwig. Gilbert pribadi tak ingin membuat sebuah potensi beharga negara menjadi seperti ini. Apalagi hanya sebagai pemiliki Ia akui, Hans yang pemberani dan memiliki keloyalitasan yang tinggi akan membuat siapapun tunduk.
"Tidak ada. Kau benar-benar memiliki tekad yang kuat sekali. Sayang militer menolakmu untuk bergabung." Gilbert mengambil posisi di dekat meja diskusi. Meja diskusi yang berukuran kurang lebih 3x7 meter ini kosong tanpa ada siapapun yang duduk di sini. "Aku ingin kopi hangat seperti biasa. Dan juga kalau kau bisa, tolong secepatnya."
Hans membungkukkan sedikit punggungnya dan kembali ke dapur. Tapi ada sesuatu yang menggencatnya untuk kembali ke dapur. "Ah, rasanya aku ingin coklat hangat. Tapi aku juga ingin kopi. Menurutmu mana yang lebih enak untuk hari ini?"
"Orang-orang sih bilang kalau pilihan pertama merupakan yang terbaik. Selanjutnya, silahkan Anda yang memilihnya."
"Baiklah, mungkin kopi saja." Jawaban Gilbert membuat Hans ber-sweatdrop ria. Tapi, ia bukan orang yang suka menantang, makanya ia hanya menulisnya di buku catatan kecilnya dan segera kembali ke dapur.
Gilbert menggunakan waktu untuk berpikir. Tentu untuk berpikir bagaimana caranya agar ia bisa di terima di kalangan rakyat luas. Mau ia di terima ataupun di tolak, ia harus tetap menjalankan rencana besarnya. Beberapa saat kemudian, beberapa orang-orang, tidak, merekalah yang suatu saat akan menjadi rakyatnya, berdatangan. Melihat Gilbert berada di meja diskusi, tanpa di perintah, orang-orang yang kebanyakan adalah orang paruh baya dan sebagian lainnya adalah pemuda mengambil posisi duduk di meja itu. Begitu juga dengan kopi hangat yang Gilbert pesan dan juga Hans.
"Baiklah. Langsung saja. Aku akan berkata jujur kalau kondisi Uni Eropa yang memburuk juga memberikan pengaruh yang sama di Jerman. Karena itu, aku akan menggunakan kesempatan ini. Ini juga akan berimbas dengan rencana-rencana yang sudah sebagian kecil di buat di majukan. Dimulai dari Brandenburg. Kita akan berfokus untuk lokasi yang satu ini. kalau ada salah satu dari kalian yang sudah mendapatkan bantuan militer, segera hubungi aku."
"Maaf, Hans tak memberitahu apa-apa kepada kami tentang hal ini."
"Karena aku memang menyuruhnya secara diam-diam dan juga untuk merahasiakan ini dulu.
Mungkin saja mata-mata kepolisian akan dengan mudahnya melacak keberadaan kita. Aku juga harus memikirkan keselamatan kalian semua. Kita belum memulai babak inti tapi kalian sudah duluan mati, tentu saja siapa yang akan mewujudkan rencana kalian?!"
Hening. Tak ada orang yang berani melawan omongan Gilbert. Ia juga sendiri tak suka terus tersimpan dalam posisi yang membuat anak buahnya tak bisa menyampaikan satupun idenya.
"Baiklah. Dengarkan aku baik-baik. Itu untuk awalan saja."
"Yang selanjutnya adalah sesuatu yang kemungkinan besar mengambil nyawa manusia dalam jumlah yang banyak. Ku katakan saja bagi mereka yang tak ingin keluarga atau kerabatnya terluka, mundur saja. Aku masih bisa cari orang-orang dari militer dan mengajak mereka untuk ikut." Ucapan yang dianggap sangat enteng bagi sang Prussia namun mereka manangkapnya dengan suatu hal yang luar biasa. Tak ada keraguan, memang. Hanya celah kecil seperti yang ada di kue bolu akan membuat orang lain mengetahui kelemahannya.
Dunia itu memang rasional pada siapapun Ludwig. Jika tidak, kau boleh mengambil dengan paksaan. Ingat itu, Ludwig.
.
.
(0)Yang pernah liat Edward Elric kalo sekalinya menang dari bacot ama Roy Mustang, kurang lebih gitu yang terjadi ama Gil. Saya masih terbayang-bayang saat masih suka ama FMA.
(1)Pas Friedrich the Great itu masih muda, ia pernah berencana untuk kabur secara rahasia (yaiyalah) dari Kerajaan Prussia ke Inggris. Tapi salah satu prajurit yang bakal ikut ama dia ngebocorin rahasianya dan akhirnya dia ditangkap bersama orang-orang yang hendak ikut ama Old Fritz kabur. Sebagai hukumannya, ayahnya Old Fritz maksa dia buat ngeliat eksekusi temen dekatnya yang namanya Hans apa gitu(ndak hapal).
HannySyra9: saya juga berpikir harusnya begitu. Ada isu setelah jerman reunifikasi 3 oktober dulu mau di buat lagi negara Prussia. Tapi karena banyak yang nentang, akirnya ga jadi. Gilbo mah sering begitu dan saya suka dia yang datang tak diundang pulang tak diantar(dikutuk Gilbert). Aha, makasih senpai!*w*/
Silvia WS: Iya, tahun ini termasuk tahun ga awesome karena ikut UN (tableflip). Saya emang orang nekat dan mager kalo udah urusan UN jadinya bikin beginian(katanya malah tahun adek kelas saya UN dihapus. Ngeselin banget). Seandainya di UN adda pelajaran IPS(berharap level 1000). Ya... mungkin temen2 kamu nganggap kata 'Prussia' itu sbg typo karena deket2 sama 'Russia'. Wajarlah. Ini indonesia. Dimana ada aja buku pelajaran yang nemplokkin nama2 aneh tanpa penjelasan yang jelas (prussia sbg contohnya)*peluk Gilbert*. Ah, saya juga kayak ngejadiin ini ajang curhat juga kok. Susah curhat ama anak kelas saya tentang beginian. Mereka anak-anak rajin go to UN dan masuk SMA favorit.
mecchan: Aih... makasih banyak ^^. Ternyata banyak sekali yang sehati ama saya*tos*. Saya juga pengen banget ngedemo ke pemerintah tentang nama Prussia ini(ngibul). Justru bang Hide mendapatkan ide super awesome karena masukin dia. Karena bang Hide masukin tentang Gilbert maka saya punya banyak tambahan buat presentasi tentang om hitler. Jangaaaan! Saya masih pengen naro kentang di makamnya Old Fritz!(beralaynisasi ria). Makasih senpai! ^^/
Bah, saya sempet kena WB disini. Dan saya beruntungnya di suruh libur ama nyak. Dan dengan rajinnya saya nyari tentang pidato presiden amrik di Brandenburg Gate pada 12 Juni 1987. Oh, manly tears sekali ngebacanya(aslinya ngebayangin Gilbert dan Ludwig sih). Dan saya sempet kangen ama komedi jayus nan keren Black Butler.
Saya ga nyangka banget brandenburg itu kayak pusatnya Prussia dulu. Karena setau saya pusatnya itu di berlin dan yang di kaliningrad(lupa lagi namanya). Oh, iya. Plin-plannya Gilbo disini juga jadi kunci untuk beberapa saat kedepan(cielah). Yang pasti, saya bikin begitu karena saya udah ditabok ama bakuman volume kelima(pas diskusi pertama miura ama takagi tentang name Trap, katanya seenggaknya harus bikin tokoh di cerita berseri itu jangan bikin lengkap-lengkap dari awal. Nanti ga ada hal seru yang mustahil dikira-kira pembaca yang bisa diungkapin)
Kenapa saya milih nama Hans? Soalnya dengernya juga lucu dan keren. dan itu nama yang common banget di jerman. Dan saya juga suka dongeng Hansel & Gretel dan dongeng2 Grimm bersaudara.
Kalo cerita sampe sini, saya kepikiran ama Timor Leste. Saya emang masih kecil banget pas ada konflik itu. tapi, kalo dipikir-pikir, rasanya indonesia udah baik-baik aja kenapa mereka mau lepas? Terus sama konflik di aceh sampe ada yang namanya GAM(gerakan aceh merdeka). Kebetulan saya juga pernah tinggal di aceh untuk waktu yang lama tapi setelah konflik itu ga ada. Disana ada banyak rakyat aceh yang ga setuju ama GAM(goalnya GAM itu ngebuat aceh itu lepas dari indo. Tapi sayangnya ga berhasil). Kalo saya denger cerita dari orang-orang sana, katanya mereka ga boleh make bahasa indonesia kalo ngomong. Entah apa lagi lainnya, mungkin saya lupa atau saya ga tahu. Kurang lebih saya pengen nyoba-nyoba nyari info tentang hal-hal itu. dan juga saat-saat lengsernya pak harto. Saya juga belum lahir pas lengsernya pak harto, jadi ga pernah ngerasain ataupun tau secara jelas kayak gimana.
Makasih yang udah mau nge-review, favorite, dan follow. makasih juga buat silent reader. Jadi, sekian dari saya. Kalo ada yang salah, boleh di perbaiki kok. Saya ini nggak luput dari kesalahan karena saya makhluk kasar bukan makhluk halus. Kalo berkenan, silahkan isi kolom review. Boleh dengan hujatan disertai alasan ya~
Salam
Fathrui99
