What if...
Pair :
ChanSoo
ChanBaek
HunBaek
Genre :
Romance
Marriage
Rate : T
Summary :
What if... i can't hold my promise
What if...i can't let you go,
What if... i, fallin' in love with you~
ooOoo
.
.
.
.
.
Hanya tersisa keheningan melingkupi Baekhyun. Chanyeol keluar dari kamar itu tanpa mengucapkan apapun. Baekhyun mendesah, perasaan takut, lega dan berdebar menjadi satu. Bahkan tubuh mungilnya pun masih sedikit bergetar, sungguh demi seluruh makhluk ciptaan Tuhan. Yang tadi itu tidak main-main. Bagaimana kilatan amarah yang Chanyeol pancarkan. Menelan Baekhyun dalam dan tak berbentuk.
Chanyeol sedang dalam mood tidak baik, dan ia malah dengan bodoh membuat namja itu semakin meradang karena perbuatannya. Baekhyun sadar ia sudah berlaku keterlaluan. Berkata hal-hal yang seharusnya tidak ia ucapakan.
Setelah pikirannya sedikit tenang ia juga beranjak dari tempatnya. Mengganti baju dan menggosok gigi. Lalu setelahnya, tidur mungkin pilihan yang tepat.
.
.
.
Pagi itu Baekhyun bangun lebih awal. Setelah membersihkan tubuhnya dan berpenampilan lebih baik, ia keluar dari kamarnya. Semalam Chanyeol tidak kembali ke kamar, jadi benar ucapannya jika namja itu memilih tidur di sofa ruang tengah. Tentu saja, tidak mungkin mereka tidur di atas ranjang yang sama kan?
Baekhyun hendak pergi ke dapur. Niatnya ingin membuat sarapan untuk mereka berdua. Walaupun ia tidak tahu apa mungkin ada sesuatu yang bisa ia masak. Paling tidak jika ada mie instan atau telur yang bisa ia olah. Baekhyun bisa membuat menu sarapan sederhana.
Chanyeol masih terlelap di atas sofa. Baekhyun meringis prihatin. Chanyeol tidur dalam posisi kepala tertekuk, sudah pasti saat bangun nanti Chanyeol akan merasakan nyeri di lehernya. Selimutnya juga jatuh ke lantai. Pelan-pelan Baekhyun mendekati sofa, memungut selimut yang terjatuh di lantai dan menyelimutkan kembali ke tubuh lelah Chanyeol. Sangat pelan, bahkan Baekhyun yakin jika ia tidak menimbulkan suara sedikit pun. Namun naas, belum juga Baekhyun menyelimuti tubuh itu sampai atas, Chanyeol membuka matanya.
Baekhyun berjingkat sangking terkejutnya.
"M-mian aku tidak bermaksud membangunkanmu. Tadi selimutmu jatuh," ucap Baekhyun gugup setengah mati. Ditambah tatapan tajam yang saat ini Chanyeol hadiahkan padanya. Baekhyun merasa tubuhnya membeku di tempat.
"Je-jeongmal mianhae."
Baekhyun meletakkan selimut itu begitu saja, lalu buru-buru berbalik hendak pergi dari sana.
"Jam berapa sekarang?" tanya Chanyeol dengan suara parau khas bangun tidur.
Baekhyun berhenti sejenak, tapi tidak berbalik. "Jam setengah tujuh. Maaf kalau kau terusik, kau bisa tidur lagi."
Dan setelah berucap Baekhyun benar-benar pergi dari sana.
Setelah Baekhyun menghilang ke dapur, Chanyeol mulai mengumpulkan kesadarannya. Yang benar saja, tidur lagi? impossible. Chanyeol tidak akan bisa menutup matanya kembali jika sudah terlanjur terbangun.
Terjebak dalam keadaan luar biasa canggung itu adalah hal yang sangat tidak menyenangkan. Baik Chanyeol maupun Baekhyun tidak satupun dari mereka yang membuka suara untuk sekedar basa-basi. Berada di dalam satu ruangan pun tak membuat mereka berniat untuk mengobrol.
Terlebih Baekhyun, wanita itu sungguh merasa tidak nyaman dalam posisi seperti ini. Tapi ia juga takut membuka mulutnya, takut jika ia berbicara malah membuat Chanyeol semakin tak menyukainya.
Sedangkan di posisi Chanyeol, setelah bangun tidur tadi dia langsung memilih mandi. Berpenampilan rapi dan terlihat segar. Moodnya sudah membaik jika di bandingkan semalam. Tapi dia juga tampak tak berselera membuka obrolan sedikitpun.
Setelah menikmati sarapan dalam diam, dia kembali ke ruang tengah. Menyibukkan diri dengan menonton tivi. Berharap menemukan acara apapun yang bisa membuatnya lupa waktu. Dia tahu hanya tinggal hari ini mereka di sini, besok mereka sudah kembali ke Seoul. Tapi itu tetap tak membuatnya senang. Dalam hati dia masih saja merutukki keinginan Kyungsoo yang menyuruhnya kemari. Chanyeol tidak mengerti, benar-benar tak mengerti dengan pemikiran Kyungsoo. Dia kira bertahun-tahun kebersaannya dengan wanita itu bisa membuatnya bisa sedikit membaca pemikirannya, tapi nyatanya, tidak sama sekali.
Berkali-kali dia memindah chanel, namun tak ada satu pun yang menarik perhatiannya. Sekarang sudah pukul 9 pagi dan dia tak tahu apa yang harus dilakukan.
Dengan kesal dia membuang remotnya ke sofa di sebelahnya. Lalu mendesah keras sembari mengusap wajahnya kasar. Disandarkan tubuhnya lalu menggeram frustasi.
Keadaan sungguh tidak baik.
Tiba-tiba Chanyeol teringat Baekhyun. Seusai membereskan sarapan tadi, Baekhyun langsung kembali ke kamar. Wanita itu tampak takut padanya. Chanyeol menggeram lagi, dia membenci sisi lemahnya di depan Kyungsoo, tapi dia lebih membenci bersikap kasar pada orang lain.
Jika dia tidak bisa mengontrol dirinya tadi malam. Jika dia tidak segera sadar, apa yang akan dia lakukan? memperkosa Baekhyun dengan kasar?
Oh My God!
Akhirnya setelah berpikir jernih Chanyeol beranjak dari tempatnya. Mematikan tivi itu dan melangkah ke suatu tempat. Mencoba menekan sedikit egonya. Dia rasa Baekhyun juga korban disini. Walaupun dia tidak yakin dengan pemikirannya. Dia tidak mengenal Baekhyun sedikit pun dan Chanyeol terlihat bodoh dengan spekulasi tersebut. Tapi, mungkin saja insting Chanyeol tidak salah.
Dengan langkah pelan dia menuju kamarnya. Membuka pintu itu setelah mengetuknya terlebih dulu. Baekhyun tampak kaget mendapatinya tiba-tiba. Wanita itu duduk diam saja di atas kasur tanpa melakukan apa-apa.
Baekhyun memandang Chanyeol antisipasi.
"Ada apa?"
Dia sudah meyakinkan dirinya untuk tidak sembarangan berbicara lagi seperti semalam. Atau jika perlu ia akan meminta maaf pada namja itu.
Chanyeol balas menatapnya lama, tidak langsung menjawab pertanyaannya. Dan membuat Baekhyun balik menatap canggung.
"Aku ingin pergi kesuatu tempat, kau mau ikut atau tetap tinggal?" tanya Chanyeol lirih. Tapi Baekhyun masih dapat mendengarnya.
Chanyeol merutukki dirinya yang berbicara demikian. Sebenarnya maksudnya tadi adalah dia ingin mengajak Baekhyun pergi, tapi mulut bodohnya itu tidak bisa berkompromi. Bagaimana jika Baekhyun menolak,
"Kau pergi lah, aku di sini saja."
Benar kan,
Tentu saja Baekhyun tidak mau menerima ajakannya.
Setelah mendengar jawaban itu Chanyeol mendengus dalam hati, lalu menutup pintu, tapi pikirannya belum tenang. Tak selang semenit dia membukanya lagi dan membuat Baekhyun lagi-lagi menoleh kaget.
"Sabaiknya kau ikut," Chanyeol tampak bergumam. "Karena aku akan pulang malam."
Dan itu finalnya.
Chanyeol mengajak Baekhyun pergi, tanpa mengindahkan tawaran pertamanya yang di tolak.
Baekhyun belum pernah kemari, tapi suasana sekitar Villa yang sejuk membuatnya nyaman. Ia tidak bohong jika menyebut Villa yang ditempatinya itu sangatlah indah. Dari atap ia bahkan bisa melihat hamparan pemandangan yang menakjubkan.
Mereka turun kepemukiman dengan berjalan kaki. Villa yang mereka tinggali memang terletak di atas bukit, jadi mereka harus menuruni beberapa jalanan yang lumayan melelahkan untuk menuju ke bawah.
Chanyeol mendatangi sebuah rumah yang jelas asing baginya. Namja itu memasuki rumah tersebut tanpa ragu. Baekhyun menatap sebentar, ia bingun melihat Chanyeol yang seenaknya memasuki rumah orang tanpa permisi. Tapi ia juga tidak mau tetap berdiam diri, jadi tentu Baekhyun hanya bisa mengekori di belakang.
Hingga seorang wanita berumur muncul dari dalam rumah itu dan memanggil nama Chanyeol dengan semangat. Kedua orang itu berpelukan erat terlihat begitu akrab, membuat Baekhyun mengernyitkan alisnya.
"Chanyeol-ah akhirnya kau menunjukkan batang hidungmu juga, kau tidak tahu betapa rindunya aku padamu," heboh wanita itu disertai tampang kesal.
"Maafkan aku Bi, bebarapa bulan ini aku sangat sibuk. Kau tahu proyek baru membuatku pusing."
Wanita itu memukul bahu Chanyeol pelan mendengar alasan yang Chanyeol berikan. "Kau selalu pintar beralasan."
Chanyeol hanya bisa nyengir.
Namun tak beberapa lama wanita itu juga menyadari keberadaan Baekhyun. Dia menoleh pada Baekhyun, dan Baekhyun segera membungkukkan kepalanya sopan.
"Byun Baekhyun?" Panggil wanita itu padanya. Baekhyun mengerjapkan matanya bingung karena wanita itu mengetahui namanya.
Wanita tadi tersenyum lebar lalu mendekatinya. "Jadi benar kau Baekhyun? astaga cantik sekali," celetuk wanita itu membuat Baekhyun semakin kebingungan.
"Namaku Han Ga in, aku ibu kedua Chanyeol."
"Ne, Annyeonghaseyo nyonya." Walau masih belum paham, Baekhyun akhirnya memilih membungkukkan badannya memberi hormat. Membuat wanita bernama Ga In itu terkekeh.
"Jangan panggil aku nyonya, panggil aku bibi."
Lagi-lagi Baekhyun hanya bisa mengangguk meng'iyakan.
.
.
.
Tidak banyak yang bisa Baekhyun lakukan untuk membantu Ga In. Wanita itu tengah sibuk membuat kue di dapurnya. Seharian ia berada di sini, mengobrol dan juga membuat berbagai macam kudapan. Baekhyun cukup pandai jika urusan memasak, tapi untuk membuat makanan ringan seperti itu ia belum pernah mencobanya.
Ga In pribadi ceria dan sangat ramah. Wanita itu memperlakukan Baekhyun dengan baik. Bahkan tanpa sungkan wanita itu menceritakan banyak hal kepada Baekhyun, rumah tangganya, suaminya, dan juga keluarga Park. Dan Baekhyun baru tahu yang di maksud Ga In dengan 'ibu kedua Chanyeol. Ga In ternyata adalah pengasuh Chanyeol sejak bayi. Hingga Chanyeol beranjak remaja.
Ga In menceritakan banyak hal padanya tentang keluarga Park. Tidak banyak hal yang membuat Baekhyun terkejut, seperti halnya...
"Chanyeol kehilangan Ayahnya saat dia kecil," ucap Ga In yang sedari tadi tak henti-hentinya mendongeng.
"Aku tahu, nyonya Song pernah bercerita kepadaku waktu itu, dia bilang suaminya meninggal karena kecelakaan."
"Benarkah, Aku sudah menduga itu sebelumnya. Kau dan Victoria pasti sangat dekat."
Setelah meletakkan adonan cookies yang sudah di cetaknya ke dalam oven. Ga In berjalan mendekati Baekhyun dan duduk di kursi sebelahnya.
"Aku mengenal nyonya Song saat berusia 9 tahun. Sejak saat itu kami sering bertemu," jawab Baekhyun setia menanggapi.
Ga In tersenyum mendengarnya.
"Victoria bercerita banyak tentangmu. Sepertinya kau sangat spesial dimatanya."
Baekhyun tertegun mendengar pengakuan Ga In. Tidak menyangka jika ia begitu berarti di mata Victoria. Tanpa sadar ia sampai ingin menangis.
"Aku sempat melarang ide gilanya." Ga In menggedikkan bahunya. "Yaitu, malaksanakan kawin kontrak ini. Aku bahkan menyarankannya untuk mengadopsi anak saja, tapi wanita itu menolak. Katanya demi kebaikan keluarganya."
"Bibi mengetahuinya?" tanya Baekhyun kaget. Ia kira pernikahannya hanya di ketahui oleh keluarga Park saja. Karena Baekhyun sangat yakin, tidak mungkin berita itu akan di beberkan ke orang lain. Mengingat Chanyeol sudah ber istri.
"Tentu saja, Victoria tidak pernah merahasiakan apapun padaku."
Ga In mengelus bahu Baekhyun ketika melihat perubahan mimik wajah yeoja itu. "Aku tahu ini pasti sangat berat bagimu Baekhyun," ujar Ga In lirih. Baekhyun menggelengkan kepalanya pelan, mencoba tersenyum-paksa-
Ia sendiri masih bingung dengan pilihannya. Tapi bagaimana pun ia juga sudah tak bisa mundur.
"Tidak begitu, aku melakukan ini atas kemauanku sendiri."
"Ara, aku bisa memahami perasaanmu."
Jeda keheningan bebarapa saat. Keadaan selalu saja menjadi canggung bagi Baekhyun setiap ia membahas tentang pernikahannya.
Ga In mencoba mencari ide untuk mencairkan ketegangan di antara mereka. Wanita itu pura-pura mengeluhkan atas sikap kekanakan Chanyeol yang kadang menyusahkannya.
"Apa namja itu bertindak tidak menyenangkan padamu?" tanya Ga In penasaran. Ga In ingat betul bahwa putra asuhnya itu memiliki kepribadian aneh. Yah, yang jelas sering sekali membuatnya kesal.
"Hgg, anak itu pasti membuatmu kesal ya?" gurau Ga In pura-pura prihatin.
Baekhyun reflek menggelengkan kepalanya cepat, ia tidak enak jika harus menyalahkan sikap Chanyeol. Bagaimanapun juga, Chanyeol pantas bersikap seperti itu.
Ga In tersenyum lembut.
"Walaupun Chanyeol selalu bersikap dingin kepada setiap orang, tapi jauh dari hatinya dia adalah pria yang sangat penyayang. Kau harus membiasakan dirimu Baekhyun." Ga In mencoba menyampaikan nasihat pada Baekhyun, selembut mungkin agar tidak menyinggung perasaan yeoja itu.
Baekhyun menikmati pemandangan dari balkon villa dengan tenang. Angin malam yang berhembus membuat tubuhnya sedikit menggigil. Tapi hal itu tidak sedikit pun menggugah niatnya agar memilih masuk dan tidur di dalam selimutnya. Setelah seharian berkunjung dan juga mengobrol banyak dengan Ga In, Baekhyun merasa bebannya berkurang. Wanita berumur itu sangat baik padanya, sama halnya seperti Victoria.
Banyak sekali hal tentang Chanyeol yang Ga In ceritakan. Kedekatan Chanyeol dan Ga In tak kalah seperti kedekatan Chanyeol dan Victoria.
Villa ini milik pribadi. Lebih tepatnya milik Victoria yang di hadiahkan kepada Chanyeol. Ga In bilang jika dulu Chanyeol sering berkunjung kemari ketika masih berpacaran dengan Kyungsoo. Tapi setelah menikah, namja itu malah tidak pernah datang lagi.
Ada satu hal yang membuat Baekhyun takjub. Yaitu cerita tentang hubungan Chanyeol dan Kyungsoo, ternyata mereka saling mengenal sejak kecil. Dan berjanji akan menikah setelah mereka sama-sama dewasa.
Chanyeol pasti sangat mencintai Kyungsoo. Ah tidak, mereka pasti - sangat - saling mencintai.
Baekhyun menghembuskan nafasnya panjang. Ungkapan dari rasa lelahnya. Ini bahkan belum sepenuhnya di mulai, Baekhyun tentu harus lebih bersabar lagi.
.
Tanpa Baekhyun ketahui bahwa sedari tadi Chanyeol berada di belakangnya. Entahlah, apa yang dipikirkan namja itu hingga betah berdiam diri di sana.
Matanya tak sedikit pun luput dari sosok seorang Byun Baekhyun. Yeoja itu tampak kedinginan, Chanyeol bisa melihatnya, berkali-kali yeoja itu menggosok-gosok lengannya sambil memeluk tubuhnya sendiri.
Tanpa sadar Chanyeol tersenyum tipis. Baekhyun sama sekali tidak terlihat seperti yeoja yang memanfaatkan keadaan demi kepentingannya sendiri ataupun rela melakukan suatu demi imbalan. Yeoja itu terlihat begitu lugu. Jadi, mungkin ada benarnya perkataan Bibinya tadi.
Baekhyun hanyalah yeoja polos yang mencoba terlihat seperti batu karang yang kokoh.
Tidak, bukan keinginan Chanyeol bersikap sekasar kemarin. Dia akui perkataannya pasti sudah sangat keterlaluan. Dia yang sedang emosi memang lebih membingungkan dari apapun. Chanyeol tak memiliki pengendalian emosi yang bagus. Dan dia sangat menyayangkan sifatnya yang satu itu.
Belakangan ini masalah hilir mudik menghampirinya. Setelah kecelakaan yang mengakibatkan istrinya keguguran semua menjadi kacau. Dan bertambah kacau ketika sang ibu terus mendesaknya memiliki anak.
Pantas jika Kyungsoo merasa tertekan. Belakangan ini Chanyeol selalu merasa ada yang berbeda dengan istrinya, yeoja itu menjadi dua kali lebih sensitif dari biasanya.
Emosinya gampang sekali tersulut ketika mereka bertengkar. Chanyeol menjadi pemarah karena Kyungsoo selalu memulai berbagai cara untuk menyulut pertikaian.
Kyungsoo berprofesi sebagai model. Tapi Chanyeol melarangnya melakukan pekerjaan itu lagi setelah mereka menikah, dia hanya ingin kebersaan mereka tidak terganggu oleh kesibukannya. Awalnya Kyungsoo menurutinya, namun seiring berjalannya waktu, Kyungsoo kembali melawannya. Apalagi setelah yeoja itu keguguran. Kyungsoo benar-benar sudah tak bisa di cegah.
.
.
"Park Chanyeol, ada yang ingin ku tanyakan padamu?"
Ga In menatap Chanyeol yang sedang menyantap kue buatannya dengan serius. Tadi saat Baekhyun pamit ke kamar mandi wanita itu segera menarik Chanyeol ke dapur. Ingin sekali menodong namja jangkung itu dengan seribu kalimat ceramah.
Tapi yang ada Chanyeol malah tampak sangat santai dengan kegiatannya. Sudah lama sekali dia tidak memakan kue kue bikinan ibu asuhnya itu.
"Chanyeol kau mendengarku kan?" tanya Ga In sedikit kesal karena Chanyeol tak tampak memperhatikannya.
Ternyata sikap anaknya itu masih saja sama.
Menyebalkan,
"Katakan saja Bi aku mendengarmu," jawab Chanyeol tanpa melengos.
Ga In mendengus tertahan. Akhirnya dia yang mengalah. "Apa Baekhyun tinggal bersamamu?"
Chanyeol mengangguk menanggapinya, tapi tetap asyik menikmati kuenya.
"Kalian tinggal bertiga?"
Chanyeol mengangguk lagi.
"Apa itu baik-baik saja?"
"Apanya yang tak baik-baik saja?"
"Lalu bagaimana dengan Kyungsoo?"
Hening...
Chanyeol berhenti mengunyah kuenya begitu mendengar nama Kyungsoo di seruakan. Dengan gerakan malas dia mengambil air minum di atas meja dan meminumnya setengah. Dia tidak langsung menjawabnya, malah membuat Ga In yang menatapnya terheran-heran.
"Wae? Kyungsoo menolak Baekhyun?" tanya Ga In penasaran.
Chanyeol menoleh ke arah bibinya itu. Kyungsoo memang tidak menolak Baekhyun, karena Chanyeol rasa Kyungsoo mulai gila.
"Kyungsoo adalah orang yang sangat menyetujui hal gila ini," ujar Chanyeol lirih, memperlihatkan kekecewaannya kepada wanita yang sudah ikut andil membesarkannya itu.
"Jadi Kyungsoo tak keberatan sama sekali, begitu maksudmu?"
Chanyeol mengangguk.
"Ini aneh," gumam Ga In, tapi Chanyeol mendengarnya. Dan namja itu mendelik ke arah bibinya.
"Maksudku, apa Kyungsoo tidak sedikitpun melakukan perlawanan pada Victoria? Ku kira Kyungsoo yeoja yang lumayan keras."
"Maksud bibi apa? Bibi ingin Kyungsoo bertengkar dengan eomma?" tanya Chanyeol tampak kesal.
"Ani, bukan itu maksudku." Ga In mengerucutkan bibirnya.
"Haiiishh kau ini pemarah sekali."
Chanyeol membuang nafas kasar. Napsu makannya sudah hilang. Apapun yang menyangkut tentang perkawinan kontrak itu selalu membuatnya hampir gila. Dia masih tidak tahu apakah harus menerima dan menjalani ini sampai akhir. Atau melawan dan menolak agar semuanya di akhiri.
Apa? di akhiri? Chanyeol ingin tertawa - miris -
Bagaimana mungkin di akhiri jika semua saja baru di mulai.
"Chanyeol-ah~"
Ga In melihat kegundahan hati anak asuhnya itu. Dia menyayangi Chanyeol karena dia mengingkan seorang putra. Tapi Tuhan tidak menghendakinya memiliki putra yang lahir dari rahimnya.
"Aku tahu perasaanmu Chanyeol-ah."
Entah mengapa atmosfir menjadi sendu. Ga In menepuk pundak Chanyeol hingga namja itu menengadahkan kepalanya.
"Aku tahu kau merasa sangat kecewa, tapi disini bukan hanya kau yang terluka," ujar Ga In yang terdengar seperti bisikan.
"Maksud Bibi apa?"
"Baekhyun." Ga In menjeda ucapannya sebentar, menyisakan Chanyeol yang menatapnya semakin penasaran.
"Aku tahu kau pasti menyalahkan keberadaannya. Tapi kau harus tahu Chanyeol. Baekhyun lah yang paling menderita disini."
Chanyeol mendengarkan penuturan Ga In dengan serius. Selama ini dia tidak pernah mau mendengarkan apapun yang Victoria katakan tentang Baekhyun. Egois memang, dan lihatlah sekarang...
Tidak hanya ibu kandungnya saja yang membela Baekhyun berlebihan. Bahkan ibu asuhnya pun juga.
"Baekhyun tidak memiliki apa-apa lagi setelah dia menikah denganmu. Sekalipun dia melahirkan seorang putra darimu Baekhyun tidak akan pernah bisa memilikinya."
Ga In menghela nafasnya berat.
"Chanyeol meskipun kau tetap tidak bisa bersimpati padanya, setidaknya kasihanilah dia. Baekhyun mengorbankan semua yang dia miliki untuk kalian, untuk Victoria, ibumu."
.
.
Chanyeol tercenung mengingat perkataan Ga In. Apa yang dikatakan bibinya itu mulai mengusik alam tenangnya. Kenapa seolah-olah disini dia yang selalu salah.
Apa yang harus dia lakukan sekarang. Chanyeol bingung dengan pikirannya. Dia merasa terombang-ambing seperti tak punya pendirian. Semua wanita di sekelilingnya benar-benar membuatnya hampir gila.
Dia juga tidak tahu sebarapa dekat hubungan Baekhyun dan ibunya. Karena Chanyeol tak pernah mau ikut campur dengan urusan amal yang sering Victoria lakukan. Tapi jika melihat kedekatan kedua wanita itu begitu menakjubkan Chanyeol menjadi bertanya-tanya. Jika Baekhyun sampai mau memepertaruhkan hidupnya demi membahagiakan ibunya, jadi bisakah Chanyeol kira-kira sendiri apa hubungan Ibunya dan Baekhyun yang sesungguhnya.
Chanyeol berjalan mendekati Baekhyun yang masih belum menyadari keberadaannya. Menguatkan hatinya agar berhenti bersikap egois. Baekhyun tulus membantunya, bukankah sangat keterlaluan jika Chanyeol masih ingin memusuhi yeoja itu.
"Di sini dingin. Kau tidak mau masuk ke dalam?" Chanyeol berjalan mengambil tempat duduk di sebelah Baekhyun. Yeoja itu terkejut karena kedatangan Chanyeol yang menurutnya tiba-tiba.
"A- Aku belum mengantuk. Kau sendiri?"
Baekhyun mencoba bersikap semanis mungkin. Walau tak di pungkiri ia kaget sekali.
"Aku juga belum mengantuk." Chanyeol sedikit membenarkan posisi duduknya, yang harus membuat Baekhyun menggeser tempatnya.
Balkon itu terdapat bangku kayu yang lumayan panjang untuk duduk berdua. Tapi karena dari mereka yang masih sama-sama belum terbiasa membuat jarak seperti sangat sempit. Baekhyun berusaha duduk dengan jarak sejauh mungkin, sungguh ini tidak bagus untuk kesehatan jantungnya. Berbicara dengan Chanyeol saja sudah membuat jantungnya deg-degan apalagi kalau harus duduk berdua seperti ini.
Itu bukan sansasi mendebarkan seperti orang yang tengah jatuh cinta. Tapi itu adalah ekspresi kecanggungan yang sedang melanda hatinya.
Chanyeol menghembuskan nafasnya hingga membentuk sebuah kepulan asap tipis dari mulutnya. Ini bukan musim dingin, tapi duduk di luar villa seperti ini masih memungkinkan bagi mereka diserang udara dingin.
"Maaf," ujar Chanyeol teramat lirih.
Baekhyun menoleh sekilas lalu mengerutkan dahinya. "Ne? Kau berbicara padaku?" tanya Baekhyun bingung, ia kira ia pendengarannya sedang bermasalah atau apa.
Chanyeol ikut menatapnya. Dia tersenyum kaku, "Maafkan ucapanku kemarin malam, aku kira aku sudah keterlaluan."
Baekhyun melebarkan matanya tak percaya. Chanyeol meminta maaf padanya, bukankah ia yang berniat ingin minta maaf tadi.
Baekhyun bingung harus mengucapkan apa. Tapi menurutnya bukan Chanyeol yang seharusnya merasa bersalah. "A-aniya, seharusnya aku yang minta maaf, Maafkan aku," balas Baekhyun menundukkan kepalanya.
"Belakangan ini aku memang gampang sekali emosi, dan itu semua beralasan." Chanyeol mulai berujar santai, sebisa mungkin ingin mengusir kecanggungan itu.
Baekhyun menoleh kepadanya lagi.
"Aku tidak tahu bagaimana harus bersikap ketika eomma bilang ingin aku menikah lagi." Chanyeol mendesah.
"Aku berusaha menolaknya sekuat tenaga, tapi ternyata Kyungsoo malah menyetujuinya begitu saja."
Baekhyun ingin sekali bersuara. Tapi ketika mulutnya hendak terbuka ia menutupnya lagi.
"Hubunganku dengan Kyungsoo tidak sebagus dulu, aku jarang mengobrol dengannya karena kesibukan kami masing-masing. Aku bahkan sempat mengira kalau dia merasa bosan denganku. Kami sudah terlalu lama bersama." Chanyeol terkekeh, entah apa yang lucu. Mungkin dia menertawai dirinya sendiri.
"Ck, maaf aku malah menceritakan hal seperti ini padamu."
Akhirnya Chanyeol baru sadar jika sedari tadi dia berbicara terlalu banyak. Ada sesuatu dalam dirinya yang membuatnya tidak bisa mengontrol ucapannya.
"Kau tidak perlu meminta maaf Chanyeol-ssi, kau bisa menceritakan apapun yang mengganjal di hatimu, kau bisa menganggapku teman," balas Baekhyun lembut.
"A-ah, itu jika kau tidak keberatan." Buru-buru Baekhyun membenahi ucapannya ketika Chanyeol menolehkan wajah kaget kepadanya.
Detik selanjutnya Chanyeol mengulas senyum. Merasa tersentuh oleh jawaban polos yeoja di sampingnya. "Teman?,... kurasa tidak buruk."
Mendengar itu membuat senyuman terpias dari wajah manis Baekhyun. Apakah Chanyeol baru saja menyetujui jalan damai dengannya. Baekhyun merasa dadanya penuh. Rasanya begitu aneh, tapi entah mengapa ia merasa sangat bahagia.
"Anggap saja kita melakukan ini untuk orang yang kita sayangi."
Chanyeol menganggukkan kepalanya mengerti. Tidak diragukan lagi, Baekhyun pasti begitu menyayangi ibunya.
"Aku jadi penasaran bagaimana kau bisa mengenal eomma, sampai terlihat dekat sekali." Chanyeol berujar penasaran.
"Aku bertemu dengan nyonya Song di hari pertamaku masuk kelas reguler. Nyonya Song donatur di sekolah kami."
"Kau mengenalnya selama itu?" tanya Chanyeol tidak percaya. Dulu dia memang sering mendengar ibunya bercerita tentang anak-anak yang di temuinya, tapi Chanyeol selalu mengabaikannya.
Baekhyun menganggukkan kepalanya.
"Sebenarnya aku sudah kelas 6 sekolah dasar waktu itu. Tapi baru pertama kalinya aku merasakan duduk di bangku sekolah sesungguhnya."
"Wae?"
"Aku hanya belajar di Yayasan tempatku di besarkan, tapi kemudian Nyonya Kim, ketua Yayasan kami mengijinkan aku memasuki sekolah reguler. Mereka menyebutku memiliki kemampuan musik yang bagus, dan ingin aku mendalaminya dengan serius."
"Kau bisa bermusik?"
Lagi-lagi Chanyeol di buat tercengan oleh perkataan bibir tipis itu.
"Aku mengajar kelas musik di SMA Gangnam," jawab Baekhyun jujur.
"Jinjja?" tanya Chanyeol tak percaya. Baekhyun membalas dengan anggukan ringan.
"Apa kau akan mengajar lagi setelah ini?"
"Tentu saja."
"Tapi Gangnam jauh dari Seoul."
"Tidak sejauh itu Chanyeol-ssi."
"Bagaimana kalau mengajar di SMA Seoul saja, kau bisa menghemat waktu istirahatmu."
Belum juga sempat Baekhyun menyerukan balasan Chanyeol kembali berbicara. "Aku akan meminta eomma untuk memindahkanmu ke SMA Seoul, eotte?"
"Kau tidak perlu melakukan itu, aku tidak apa-apa sungguh," bujuk Baekhyun berusaha menolak. Ia merasa tidak enak menjadi orang yang selalu merepotkan orang lain. Apa yang di dapatkan selama ini semua adalah dari Victoria. Dan Baekhyun rasa ini lebih dari cukup, ia bisa berdiri dengan kakinya sendiri.
"Ada baiknya jika kau memikirkannya lagi-" Chanyeol menggantung kalimatnya.
"Baekhyun-ssi."
Seminggu sudah kepulangannya dari Gangwon waktu itu. Baekhyun menerima usulan Chanyeol untuk pindah mengajar di SMA Seoul, tapi ia sama sekali tidak menyangka jika Nyonya Song akan mendaftarkannya ke Seoul Performing Art HS. Oh Ya Tuhan, Baekhyun merasa sangat nervous menghadapi hari ini. Hari ini hari pertamanya mulai mengajar.
Baekhyun tidak di beri pilihan lain lagi selain menerimanya. Karena tidak ingin di nilai sebagai orang yang tak tahu terimakasih. Tentu Baekhyun hanya bisa menuruti keinginan mereka.
Pagi ini Baekhyun terbangun pagi sekali. Padahal ia semalaman tidak bisa tidur karena masih memikirkan nasib yang akan berjumpa dengannya hari ini.
Keadaan rumah masih sangat sepi mengingat waktu masih terlalu dini untuk mereka bangun. Karena tak tahu apa yang harus ia lakukan akhirnya Baekhyun putuskan untuk keluar rumah. Menghirup udara segar di pagi hari. Ia merasa beruntung karena letak rumah Chanyeol dan Kyungsoo jauh dari ke ramaian.
Cukup lama Baekhyun berdiri disana. Tak sengaja matanya mendapati beberapa orang yang sedang jogging, Baekhyun menyunggingkan senyum. Ia menemukan sebuah ide.
"Sepertinya bukan ide yang buruk," gumamnya seorang diri.
Butuh waktu lima belas menit untuk Baekhyun mengitari kompleks perumahannya. Jarak yang tidak lumayan jauh memang, dan ia sengaja ingin bersantai. Lagi pula ini masih pukul 5 pagi. Jalanan masih sepi, hanya ada bebarapa orang yang lewat berolah raga sepertinya. Baekhyun mulai berfikir jika mungkin ini akan menjadi rutinitas paginya. Ia menyukai olah raga, dan Baekhyun terbiasa bangun pagi. Dulu saat di Yayasan ia akan bangun pagi lalu memasak untuk adik-adiknya. Baekhyun merindukan mereka semua, keluarganya yang sangat di sayanginya.
Baekhyun sudah hampir sampai, ia menghentikan langkahnya sejenak, dan mengernyitkan keningnya ketika melihat seseorang sedang berusaha menuruni sebuah pohon dari jendela kamar tetangganya. Baekhyun sempat berfikir macam-macam, mengira orang itu adalah maling. Ia ingin bereteriak tetapi orang tadi lebih dulu melompat dan jatuh tepat di hadapannya.
Mereka berdua sama-sama memekik karena kaget.
"YA! Kau mau mencuri ya?" tanya Baekhyun menunjuk orang itu.
Yang di tunjuk pun hanya melongo tidak mengerti. "Apa maksudmu? ini rumahku, kau pikir untuk apa aku mencuri di rumahku sendiri," balas orang itu membela dirinya.
Baekhyun menatap orang itu lama. Mencoba mempertimbangkan ucapan orang tak dikenalinya itu. Tapi mana mungkin ada maling yang mengenakan baju tidur seperti itu, berwarna biru bermotif beruang lagi.
"Jadi untuk apa kau memanjat pohon dan berperilaku seperti penyusup?" tanya Baekhyun masih mencoba mengintrogasi. Bisa saja orang itu memang sengaja berdandan begitu agar tidak dicurigai 'kan.
"Kau siapa? sepertinya aku tidak pernah melihatmu, kau orang baru ya?" Orang itu malah balik bertanya tanpa menjawab pertanyaan Baekhyun. Tapi detik selanjutnya orang itu teringat tasnya yang masih tersangkut di pagar. Dan dia segera naik lagi untuk mengambilnya.
Sebenarnya dia memanjat pohon untuk mengambil tasnya yang semalam dia lempar kesana. Seperti kebiasaannya ketika dia membolos sekolah dan pulang larut malam. Karena dia tidak ingin berurusan dengan ayahnya yang terkenal super galak.
Setelah mendapatkannya namja itu melompat lagi ke bawah.
Baekhyun hanya bisa diam mengamati namja itu seperti orang bodoh. Sampai ketika si namja sudah berada di hadapannya lagi.
"Apa kau mau membantuku?" pinta si namja tak sedikit pun mempedulikan raut kebingungan Baekhyun.
"Kau bersekolah di mana?"
"Apa yang kau bicarakan?"
"Sudah katakan saja. Hei berhenti menganggapku pencuri? Ini sungguh-sungguh rumahku, jika kau tidak percaya kau bisa bertanya pada satpam di sana." Namja itu menunjuk ke pos satpam di depan rumah besar yang diakui miliknya itu.
"Tapi itu bisa di urus nanti, Katakan apa kau bersekolah di SOPA?" tanya namja itu dengan wajah antusias. Baekhyun membeliakkan matanya, kaget karena namja itu menyebutkan nama sekolah yang akan menjadi tempat kerja barunya. Namun belum sempat Baekhyun menjawab namja itu sudah menyerahkan tas yang sedari tadi dia pegang kepadanya.
Suara lengkingan dari dalam rumah besar itu tembus sampai keluar. Namja itu meringis mendengarnya.
"Astaga apa singa jantan itu sudah bangun," gumam namja itu bermonolog.
"Aku tidak punya banyak waktu lagi, kau bawa tasku dulu. Nanti cari aku di kelas 3-B. Aku akan menunggumu disana."
Namja itu mengerlingkan matanya sebelum pergi, dan membuat Baekhyun bergidik. Tapi bodohnya ia masih mematung disana.
"Oh iya," Si namja sudah bersiap-siap memanjat pagar tapi menghentikan kegiatannya sejenak.
"Sampai jumpa nanti manis," ucap namja itu sebelum hilang ditelan tembok besar.
Baekhyun menatap horror tas yang kini di tangannya.
Sebenarnya apa yang baru saja terjadi, semua sangat tiba-tiba dan membuatnya bingung. Dan tas yang berada di tangannya semakin membuatnya blank.
"Apa katanya tadi?" Baekhyun bertanya pada dirinya sendiri, sedikit memiringkan kepalanya lalu membuang nafas tak percaya.
"Hah, namja gila."
oO BERSAMBUNG Oo
Its not NC here ! 'peace'
and i'm sorry for late update...
.
.
.
.
.
