HAPPY 8018 DAY! HAPPY 1880 DAY! HAPPY 8018 DAY! HAPPY 1880 DAY! HAPPY 8018 DAY! HAPPY 1880 DAY! HAPPY 8018 DAY! HAPPY 1880 DAY!
Disclaimer : ©Akira Amano
Warnings : typo, OOC, Female Hibari, AU, & Sho-ai
Pairings : 80&female18, 27&59, D&female18, mungkin masih akan bertambah di chap berikutnya
Fanfiction by~ Yaklin1412
Heart of Swords
Chapter 3 – Successor of Vongola
Setelah ia yakin tidak ada orang yang mengikuti mereka barulah ia mengunci pintu rumah itu.
"Bagaimana keadaannya?" tanya anak itu sambil mengambilkan sebuah futon dari lemari geser di rumah itu.
"Tidak baik. Badannya dingin dan menggigil. Dia juga banyak berkeringat," jawab Yamamoto sambil merebahkan orang itu di futon yang diambilkan anak itu.
"Biar kulihat lukanya." Yamamoto minggir dan memberi ruang untuk anak itu. Anak itu mengangkat tangan orang itu dan memperhatikan bekas luka gores di tangannnya.
"Jangan-jangan dia terkena racun itu," gumam anak itu. Dia terlihat sangat terkejut.
"Hei, kau baik-baik saja?" Yamamoto kaget melihat anak itu yang terlihat semakin pucat dan lemas.
"A- aku baik-baik saja," jawab anak itu. Walaupun begitu wajahnya masih terlihat pucat. Anak itu lalu bangkit dan berjalan pergi ke ruangan lain di rumah itu.
Setelah beberapa saat dia kembali lagi. Di tangannya ada sebuah kotak kayu dengan ukiran aneh dan lambang aneh di tutup kotak kayu itu. Tangan mungil anak itu membuka kotak itu dengan perlahan dan hati-hati. Dari dalamnya ia mengambil sebuah kapsul bola kecil berwarna hijau.
"Kita harus meminumkan ini segera kalau tidak dia bisa mati." Anak itu menyodorkan kapsul itu kepada Yamamoto dengan ekspresi khawatir dan cemas.
"Baiklah." Yamamoto sebetulnya bingung bagaimana untuk meminumkan obat itu kepada orang yang sedang pingsan ini.
"Aku akan mengambilkan kompres dan air. Tunggulah sebentar." Anak itu langsung pergi meninggalkan ruangan itu.
Yamamoto pun mencoba membangunkan orang itu. Ia mengangkat bahu orang itu. Kini kepala orang itu bersandar pada dada pemuda bermata coklat itu. Pelan-pelan Yamamoto membuka kain hitam yang menutupi wajah orang itu. Matanya terbelalak lebar melihat wajah dari orang tersebut. Ternyata orang itu adalah gadis yang dia pernah temui di bawah pohon sakura dulu.
"Bagaimana ini?" gumam Yamamoto. Ia menyodorkan kapsul itu ke depan mulut orang itu tapi dia malah langsung membuang mukanya dari arah kapsul itu.
'Memangnya obatnya kenapa?' batin Yamamoto. Ia mengendus bau obat itu.
"OHOK OHOK." Pemuda itu langsung terbatuk-batuk. Bau obat itu benar-benar membuat mual.
'Anak tadi tidak kembali-kembali juga. Kemana dia?' pikir Yamamoto. Pemuda itu menengok kanan-kiri, mata coklatnya menatap ke sekeliling ruangan berharap menemukan sosok anak tadi.
1 menit, 2 menit, 5 menit, ...
Sudah 10 menit berlalu tapi anak tadi belum kembali juga. Sementara itu kondisi gadis di pangkuannya semakin parah. Melihat keadaan gadis itu yang semakin memburuk Yamamoto panik dan teringat perkataan anak tadi.
"Kita harus meminumkan ini segera kalau tidak dia bisa mati."
'Bagaimana ini?' Yamamoto yang kebingungan hanya bisa menatap gadis di pangkuannya. Nafas gadis itu tersengal-sengal, tubuhnya dingin dan menggigil serat berkeringat. Gadis itu kelihatan menderita sekali.
Tak tahan lagi melihat penderitaan gadis itu akhirnya ia memutuskan untuk meminumkan obat itu.
Yamamoto menarik nafas panjang, menenangkan debaran di dadanya sebelum memasukkan obat itu kedalam mulutnya. Ternyata rasa obat itu sama tidak enaknya dengan baunya. Hampir saja Yamamoto memuntahkan obat itu tapi mengingat keadaan gadis itu Yamamoto pun berusaha untuk menahan rasa mualnya.
Pelan-pelan ia membuka mulut gadis di pangkuannya itu dengan lembut, didekatkannya wajahnya ke wajah gadis itu. Pemuda itu membuka mulutnya dan memasukkan obat tersebut ke mulut gadis itu. Didorongnya obat itu dengan lidahnya.
Yamamoto menutup matanya, mencoba berkonsentrasi memasukkan obat itu dan membuat gadis itu menelannya sambil mencoba mengabaikan rasa pahit dan asam yang aneh dari obat itu.
Saat gadis itu merasakan ada sesuatu dalam mulutnya dia mulai meronta, namun ketika obat itu menyentuh lidahnya gadis itu berontak. Tangannya memukul-mukul Yamamoto dan kakinya menendang-nendang ke sembarang arah.
Langsung saja Yamamoto panik, dia memegang bahu gadis itu lebih erat dan memaksa gadis itu menelan obat itu.
SRAAAK
Pintu kamar itu bergeser dan masuklah anak tadi bersama seorang gadis manis berambut coklat muda pendek yang mengenakan kimono warna merah muda dan membawa baskom kayu berisi air dan kain putih untuk kompres.
"Tsuna-kun mana orang yang kau bilang sakit ta-" Kata-kata gadis itu terhenti saat melihat Yamamoto yang sedang "meminumkan" obat ke gadis di pangkuannya. Wajah gadis itu dan juga anak itu memerah. Sementara Yamamoto sendiri tidak menyadari kehadiran gadis itu dan juga anak itu.
Entah bagaimana akhirnya Yamamoto berhasil membuat gadis itu memakan obatnya. Gadis itu pun sudah berhenti berontak dan kini tertidur tenang. "Syukurlah" gumam Yamamoto pelan.
Merasa ada yang memperhatikannya pemuda itu menengok ke arah pintu geser dan melihat anak tadi dan seorang gadis manis berambut coklat pendek. Wajah anak itu dan gadis itu memerah.
'Mereka kenapa?' pikir Yamamoto bingung. Setelah beberapa saat keheningan barulah Yamamoto tersadar. 'Jadi tadi mereka berdua lihat waktu aku …' Teringat kembali akan kejadian tadi wajah pemuda itu langsung memerah.
"Tu- tunggu i- ini a- aku cuma meminumkan obat tadi" kata Yamamoto berusaha menjelaskan soal situasi yang sebenarnya. Pemuda itu langsung berdiri dan refleks melepaskan gadis di pangkuannya.
DUAK
Kepala gadis itu membentur lantai kayu. Yamamoto langsung menghampiri gadis itu lagi dengan tatapan bersalah dan khawatir diikuti anak itu dan juga gadis yang datang bersamanya. Syukurlah gadis itu masih tetap tertidur. Akhirnya gadis berambut coklat itu membaringkan gadis itu di futon lagi dan mengkompresnya.
"Demamnya sudah turun. Sepertinya dia sudah baik-baik saja, Tsuna-kun," kata gadis berambut coklat itu setelah ia selesai mengkompres.
"Iya. Terimakasih ya Kyoko-chan," balas anak itu.
…
Ruangan itu hening. Tak tahan dengan keheningan yang kikuk itu akhirnya Yamamoto memutuskan untuk mulai bicara.
"Ahaha. Ngomong-ngomong aku belum memperkenalkan diri ya. Namamku Takeshi Yamamoto. Salam kenal!" kata pemuda itu sambil bangkit berdiri dan lalu membungkukkan badannya sambil tersenyum.
"A- ah iya. Namaku Tsunayoshi Sawada," balas anak itu sambil membungkukkan badannya.
"Aku Kyoko Sasagawa, tetangganya Tsuna-kun. Rumahku persis di sebelah rumah ini," kata gadis itu sambil membungkukkan badannya dan tersenyum manis. "Ngomong-ngomong aku sudah harus pulang sekarang. Kakakku pasti cemas sekali. Aku pulang dulu ya, Tsuna-kun, Yamamoto-san," kata gadis itu sambil membungkukkan badannya lagi.
"Terima kasih ya Kyoko-chan," kata Tsuna sambil membukakan pintu geser ruangan itu.
"Tidak apa-apa kok Tsuna-kun. Aku senang bisa membantu." Kyoko tersenyum manis lalu berjalan keluar. Meninggalkan Tsuna yang wajahnya memerah karena malu dengan Yamamoto dan gadis yang masih tertidur itu.
"Jadi Sawada-san suka pada Sasagawa-san ya?" tanya Yamamoto dengan nada meledek ke Tsuna. Wajah Tsuna semakin memerah mendengar pertanyaan itu.
"Ti- tidak kok. A- aku dengan Kyoko-chan tidak kok." Yamamoto tertawa mendengar jawaban anak itu. 'Anak ini polos sekali.' pikirnya.
"Tidak apa-apa kok Sawada-san. Aku tidak akan bilang ke siapa-siapa," kata Yamamoto lagi sambil tersenyum lebar. "Boleh kupanggil Tsuna saja tidak?"
"I- iya boleh Yamamoto-san," jawab Tsuna malu.
"Tidak usah pakai -san. Panggil Yamamoto saja, ahaha." Yamamoto dan Tsuna saling tersnyum. Entah bagaimana mereka berdua telah menjadi teman kini.
"Ngomong-ngomong sekarang sudah larut, Yamamoto-san tidak pulang?" tanya Tsuna. "Ah, maaf pasti Yamamoto-san eh maksudku Yamamoto tidak tahu jalan kembali, ya? Biar kuantar," tambahnya lagi seraya bangkit dan mengambil lentera dari salah satu laci.
"Ah tidak apa-apa. Malam ini aku disini saja."
"Yamamoto mau menginap saja? Ada satu kamar kosnog lagi disini, biar kusiapkan."
"Tidak usah repot. Aku disini saja," jawab Yamamoto cepat. "Aku … Aku mau menjaga sampai dia bangun," kata pemuda itu lagi dengan suara pelan sambil melihat ke arah gadis tak ia kenal yang masih tertidur itu.
"Baiklah kalau begitu," kata Tsuna sebelum ia berjalan keluar dari kamar itu."Kalau Yamamoto perlu sesuatu panggil saja aku. Kamarku disebelah kamar ini." Pemuda berbadan kecil itu lalu berjalan keluar meninggalkan Yamamoto dan gadis itu berdua.
Yamamoto hanya bisa duduk bersimpuh dalam diam di sebelah gadis itu. Menatap wajah tertidur gadis itu sekali lagi seperti dibawah pohon sakura dulu.
"Syukurlah nona sudah baik-baik saja," gumam pemuda itu lembut sambil mengelus kepala gadis itu pelan, merapikan rambut gadis itu. "Aku senang bisa bertemu nona lagi, walaupun aku tidak berharap situasinya seperti ini …"
Mata cokelat pemuda itu mengawasi sosok disebelahnya itu, menangkap dan menyimpan sosok gadis itu dalam benaknya. Takut jikalau sosok itu akan hilang lagi, jika ini hanyalah sebuah mimpi dan gadis itu akan lenyap lagi dari pandangan dan jangkauannya.
Walaupun demikian rasa kantuk dan letih membuat kelopak matanya terasa makin lama makin berat. Membawanya kedalam buaian alam mimpi.
"Yamamoto."
"Hmmm, 5 menit lagi ayah. Aku masih ngantuk," balas Yamamoto sambil menarik selimutnya. 'Lho? Kemana selimutku? Dan kok futon ku keras sekali rasanya?' Merasa ada yang aneh pemuda itu langsung bangun dan baru menyadari bahwa dia tidak sedang berada di rumahnya sendiri.
"Ahaha. Maaf ya, aku kira ini rumahku."
"Tidak apa-apa kok. Ini aku bawakan sarapan," jawab Tsuna sambil tersenyum dan meletakkan nampan berisi satu poci teh, dua gelas, dan dua mangkok kecil berisi .
"Tidak usah repot-repot begini," kata Yamamoto dengan perasaan sedikit tidak enak. Rasanya dia sudah sangat merepotkan Tsuna dari kemarin dan tak bisa membalas kebaikan pemuda berbadan pendek itu.
"Sudahlah lebih baik cepat dimakan. Nanti dingin." Tsuna menyerahkan nampan itu ke Yamamoto.
"Ahaha. Kalau begitu aku makan, ya." Yamamoto tersenyum cerah sevelum mulai melahap . "Selamat makan," kata pemuda itu lagi.
Tsuna menatap Yamamoto yang makan dengan lahap. 'Syukurlah, sepertinya masakanku cukup enak,' batin pemuda itu lega. Mata cokelat mudanya menatap ke satu mangkok lagi di nampan yang diletakkan di atas lantai tatami. Yamamoto yang menyadari tatapan Tsuna pun bertanya, "Tsuna tidak makan? Itu jatah untukmu 'kan?"
"Ah, bukan. Aku sudah makan tadi. Ini untuk …" Mata pemuda itu menatap ke sosok gadis yang dari tadi malam belum terbangun juga. "Ini untuk gadis ini, tapi sepertinya ia masih belum sadar ya."
Entah kenapa Yamamoto merasakan perasaan sedih dan bersalah dari nada dalam kalimat Tsuna barusan. Entah mengapa sepertinya anak itu merasa bersalah seolah-olah karena keasalahannya lah gadis itu tak sadarkan diri.
"Tidak apa-apa. Dia pasti akan segera bangun." Yamamoto tersenyum menenagkan Tsuna. Tsuna balas tersenyum; entah kenapa anak itu merasa lebih tenang berkat kata-kata Yamamoto barusan.
Walapun sudah merasa lebih tenang sekarang kini ada masalah lain yang menghantui pikiran Tsuna. Entah bagaimana ia telah menyeret Yamamoto dan gadis ini ke dalam masalahnya.
Gadis itu terkena racun yang dikembangkan oleh Vongola yang hanya dipakai untuk mebunuh lawan. Kemungkinan besar Yamamoto dan gadis ini tahu soal identitasnya dan titel yang dipegangnya tapi tetap saja ia merasa harus mengatakan kebenaran lewat mulutnya sendiri.
Tsuna menarik nafas dan dengan mengumpulkan semua keberaniannya ia memulai kalimatnya, "se- sebenarnya aku ini …"
Yamamoto menghentikan makannya dan menunggu Tsuna melanjutkan kalimatnya. Sepertinya anak itu akan memberitahukan sesuatu hal yang sangat penting. Dia kelihatan gugup. Tsuna menarik nafas dalam-dalam sekali lagi; memenuhi paru-parunya dengan oksigen untuk membantunya menenangkan diri sebelum berkata dengan tenang.
"Aku adalah pewaris dari Famiglia Vongola."
'Akhirnya sudah kukatakan. Bagaimanapun juga aku telah menyeret Yamamoto dalam masalah ini jadi aku harus memberitahukan kenyataan ini padanya,' batin Tsuna setelah akhirnya ia berhasil mengatakan rahasia yang telah disembunyikannya bertahun-tahun lamanya. Yang telah menjadikannya incaran berbagai pihak.
"Famiglia? Vongo apa itu?" tanya Yamamoto bingung. Apa itu? Nama obat luar?
Tsuna terkesiap. "Jadi Yamamoto tidak tahu apa-apa?" tanyanya, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Yamamoto. Anak itu lalu langsung pergi keluar meninggalkan Yamamoto tanpa berkata apa-apa lagi; larut dalam pikirannya.
Sementara Yamamoto hanya bisa merasa bingung atas perilaku teman barunya itu.
'Silau.'
Itulah hal pertama yang terlintas dalam benaknya begitu ia membuka mata. Tercium wangi futon yang tak familier. Langit-langit yang juga tak dikenalinya menambah kebingungannya.
"Dimana ini?" gumamnya pelan.
"Ah, nona sudah bangun!" Suara itu … sepertinya sudah pernah ia dengar sebelumnya.
"Ini di rumah Tsuna. Err mungkin nona tidak kenal tapi ia orang yang sudah menolong nona dan juga aku. Ahaha." Dia ingat sekarang. Itu suara pengganggu yang ditemuinya di taman sakura-nya kemarin silam.
Perlahan dia mencoba bangkit, kepalanya pening sekali. Walaupun ia ingin bangkit tapi badannya jatuh kembali ke atas futon. Ia memejamkan matanya, bersiap terhempas ke futon lagi. Tapi bukannya merasakan futon ia malah merasakan sebuah tangan yang hangat dan besar yang menyambutnya; menyangga bahunya.
"Nona baik-baik saja?" Suara yang sarat dengan kekhawatiran dan kecemasan; yang tidak diperlukannya.
"Lepas," katanya sambil menatap wajah pemuda dihadapannya dengan dingin dan kesal. Ia tidak suka dikhawatirkan; dia tidak lemah.
"Ma- maaf," kata pemuda itu lagi sambil melepaskan genggamannya perlahan.
'Lemah. Bagaimana mungkin orang bisa meminta maaf semudah itu?' pikirnya sambil menatap pemuda itu dalam diam.
"Air."
"Eh, apa?" tanya Yamamoto bingung.
"Aku haus."
"Oh. Ini." Yamamoto langsung menuangkan teh yang untungnya masih hangat ke gelas dan memberikannya ke gadis itu. Gadis itu langsung mengambil gelas itu dan hanya menatap gelas berisi teh yang masih agak mengepul itu dalam diam.
"Kenapa tidak diminum nona?"
'Berisik,' pikirnya sebelum menjawab pertanyaan itu dengan satu kata. "Panas."
Yamamoto yang semakin bingung mencoba berpikir. Dia baru mengerti maksud gadis itu setelah gadis itu meminum teh nya, sekitar 10 menit sesudah gadis itu menjawab.
"Nona tidak bisa makan-minum yang panas ya?" Lebih ke sebuah pernyataan daripada pertanyaan karena sesungguhnya Yamamoto sudah tahu jawabannya.
"Oh, ya. Ini ada sarapan untuk nona." Yamamoto memajukan nampan berisi makanan yang tadi ditingalkan Tsuna. Gadis itu hanya diam memandang makanan itu; sepertinya ia tidak berniat memakan makanan itu.
"Jelaskan kenapa aku bisa ada disini." Terakhir yang diingatnya adalah ia berlari keluar dari penginapan setelah terkena peluru dari pendatang asing itu.
"Mmm. Tadi nona jatuh pingsan di depan rumahku. Lalu saat aku kebingungan ada anak bernama Tsuna yang datang dan menyuruhku membawa nona ke rumahnya."
Gadis itu diam saja. Sepertinya masih berusaha menangkap penjelasan Yamamoto tadi. Sementara Yamamoto juga masih berpikir apa penjelasannya tadi cukup jelas atau tidak. Bagaimanapun juga kemampuan berbahasanya memang kurang.
"Kenapa?"
"Kenapa?" tanya Yamamoto balik; mengulangi pertanyaan dari gadis itu dengan bingung.
"Kenapa menolongku?"
"Bukannya sesuatu yang wajar menolong orang yang kesusahan didepan kita?" jawab Yamamoto dengan bingung.
'Jawaban yang klise. Khas para herbivora lemah,' begitulah pikiran gadis itu mendengar jawaban dari Yamamoto. Kenapa dia bisa sampai ditolong oleh orang lemah macam pemuda dihadapannya ini?
TOK TOK
"Yamamoto, aku masuk ya." Tsuna yang baru masuk kaget melihat gadis yang tadi pingsan itu kini sudah bangun dan menatapnya dengan tatapan tajam. "Hi- hiee. Ma-maafkan aku." Secara refleks langsung saja ia meminta maaf.
"Ahaha. Buat apa kau minta maaf Tsuna?" Yamamoto tertawa pelan melihat reaksi Tsuna.
"Nona, ini Tsuna. Orang yang telah menolong dan membiarkan nona dan aku menginap," kata Yamamoto sambil menunjuk ke arah Tsuna.
"Tsuna, kenalkan ini- mmm," Yamamoto bingung harus mengenalkan gadis ini sebagai siapa. Dia bahkan tidak tahu nama gadis ini.
Gadis itu menghela nafas pelan. "Kau boleh panggil aku Hibari." Walaupun ia tidak suka memberi tahu namanya ke sembarang orang tapi bagaimanapun juga mereka telah menolongnya.
"Kenalkan ini Hibari-san," lanjut Yamamoto sambil tersenyum senang. Akhirnya ia bisa tahu nama gadis ini.
"Sa- salam kenal Hi- Hibari-san." Salam Tsuna itu hanya dibalas dengan satu tatapan tajam lagi dari Hibari.
"Kau. Siapa kau sebenarnya?"
"Eh, a- aku?" jawab tsuna denga gugup dan bingung.
"Siapa kau sebenarnya?" Hibari mengulang lagi pertanyaannya dengan kesal. Mestinya dia tahu nama dan wajah dari semua orang yang tinggal di Namimori-nya. Tapi herbivora kecil yang satu ini baik nama maupun wajahnya tidak ia kenali.
"A- aku …" Tsuna kebingungan. Apa sebaiknya dia menceritakan jati dirinya yang sebenarnya? Tapi sepertinya gadis ini orang yang berbahaya. Entah apa yang akan dilakukannya setelah tahu identitas Tsuna.
"Apa kau ada hubungannya dengan para pendatang itu?" tanya Hibari lagi.
Merasa bahwa dia tidak bisa mengelabui Hibari akhirnya Tsuna memutuskan jujur. Pemuda itu menarik nafas dalam-dalam sebelum menjawab. "Sebenarnya mungkin aku adalah alasan kenapa mereka datang ke Namimori."
Tsuna berhenti dan mengambil jeda sejenak untuk melihat reaksi dari Hibari dan Yamamoto. Hibari hanya menatapnya dengan ekspresi yang seakan menyuruhnya melanjutkan penjelasannya sementara Yamamoto terlihat kebingungan.
"Aku adalah pewaris dari Famiglia Vongola." Lagi Tsuna berhenti, mengamati reaksi dari kedua orang yang tengah mendengarkan penjelasannya. Hibari masih menatapnya dengan ekspresi yang sama sementara Yamamoto terlihat semakin bingung.
Akhirnya Tsuna memutuskan untuk menjelaskan mengenai Famiglia, Vongola, dan mafia kepada Hibari dan Yamamoto. Pemuda berambut cokelat itu berasumsi bahwa mereka berdua tidak mengerti mengenai hal-hal tersebut.
"Famiglia itu adalah semacam organisa-"
"Aku tahu soal Famiglia. Aku tahu soal mafia. Dan aku juga tahu soal Vongola. Tidak ada orang yang punya kuasa di negara ini; tidak, di dunia ini yang tidak tahu soal Vongola," potong Hibari.
Perkataan Hibari barusan membuat Tsuna kaget. Bagaimana mungkin gadis ini bisa tahu soal itu semua? 'Hibari-san pasti bukan orang sembarangan,' batin pemuda berambut coklat itu.
"Yang ingin aku tahu adalah kenapa para pendatang itu datang kesini dan apa hubungannya denganmu," kata gadis bermata kelabu itu lagi dengan nada memerintah, membuyarkan pikiran Tsuna.
"Me- mereka datang kesini karena mereka tidak menyetujuiku sebagai penerus Vongola yang berikutnya. Dan agar posisi itu tidak jatuh kepadaku mereka harus …"
Lagi-lagi pemuda itu diam; namun kali ini kediamannya diikuti dengan perubahan dalam ekspresinya. Ekspresinya berubah menjadi sedih dan agak tidak terbaca.
"Mereka harus menyingkirkanku, dengan kata lain membunuhku."
Yamamoto langsung saja kaget mendengar pengakuan dari teman barunya itu dan tidak dapat berkata apa-apa. Sementara Hibari langsung memikirkan bagaimana cara menyingkirkan para pengganggu di Namimori-nya.
'Berarti jika aku ingin para pendatang itu pergi aku punya 2 pilihan,' batin Hibari.
'Aku bisa langsung menyerahkan herbivora kecil ini ke tangan para pendatang itu,' gadis itu melihat ke arah Tsuna sebelum melanjutkan pikirannya, 'atau menghabisi para pendatang itu dan melindungi herbivora ini.'
Dari kedua pilihan itu sudah jelas pilihan mana yang lebih mudah bagi Hibari, namun …
"Melindungi Namimori dan semua yang ada didalamnya adalah tugas klan Hibari."
"Itu adalah kewajiban dan kebanggaan klan kita."
"Dan suatu hari nanti itu akan menjadi kewajiban dan kebanggaanmu."
"Herbivora kecil." Yamamoto dan Tsuna saling berpandangan, bingung dengan maksud dari perkataan Hibari sampai mereka melihat arah pandangan Hibari. Gadis itu menatap lurus ke arah Tsuna, yang berarti gadis itu memanggil pemuda yang memang berperawakan kecil itu.
"Aku akan melindungimu," kata Hibari lagi; nada suaranya tegas, dapat dilihat bahwa dia tak main-main dengan perkataannya itu.
"Ma- maksud Hibari-san melindungi?"
"Tak akan kubiarkan mereka membunuh ataupun menyakitimu," tambah gadis itu lagi dengan tenang.
Tsuna sendiri hanya bisa menatap tak percaya ke arah Hibari, perkataan gadis itu barusan benar-benar berbeda dengan perkataan dan perlakuan yang diterimanya biasanya sesudah ia memberitahu identitas aslinya. Biasanya orang-orang akan menjauhinya atau malah memanfaatkannya, namun melindunginya? Pemuda berambut coklat itu hanya bisa diam dalam keterkejutan.
"Nona jangan gegabah!" potong Yamamoto tiba-tiba, memecah keheningan yang tadi terjadi sesaat di ruangan itu.
"Kalau melawan mereka bisa saja nona terluka atau terbunuh!" tambahnya lagi, mencoba mengubah pikiran dari Hibari. Walaupun dia belum tahu apa-apa tentang gadis itu, namun tetap saja dia tak ingin Hibari melakukan sesuatu yang terdengar berbahaya; apalagi para pendatang itu terlihat bukan saja berbahaya, namun juga kuat.
Namun saat Yamamoto menatap ke arah Hibari yang terlihat dari bola mata gadis itu adalah tekad kuat yang tak dapat dipatahkan. Tatapan dan ekspresi dari gadis itu menunjukkan bahwa sekali ia memutuskan sesuatu maka ia akan melakukannya meski harus mati sekalipun.
"Kalau misalnya nona memang mau melawan mereka biarkan aku ikut membantu!" Menyadari bahwa ia tak dapat menggoyahkan pendirian gadis itu akhirnya Yamamoto memutuskan untuk membantu dan melindungi gadis itu. Ditatapnya Hibari dengan tekad dan pendirian yang juga sudah bulat. Ia tak akan membiarkan gadis tersebut maju melawan para pendatang itu sendirian.
Hibari sendiri hanya menatap ke arah Yamamoto dengan tatapan datar, tak terlihat terkejut ataupun terkesan dengan kesiapan pemuda tersebut. Ia hanya balik bertanya kepada pemuda itu dengan sebuah pertanyaan yang ia yakin pemuda itu akan kesulitan menjawab.
"Memangnya kau bisa apa?"
Yamamoto tersentak mendengar pertanyaan itu. Yang ada di pikirannya tadi hanyalah melindungi Hibari, dia tak pernah memikirkan bagaimana dan atau apa yang bisa ia lakukan. Hibari yang melihat tatapan terkejut dan bingung dari Yamamoto hanya diam, dalam hatinya ia berpikir 'Sudah kuduga, dia memang hanya herbivora yang tidak bisa apa-apa.'
Namun Hibari tetap memutuskan untuk bertanya lagi, pertanyaan yang jawabannya akan menentukan apakah Yamamoto Takeshi, pemuda di hadapannya ini bisa berguna atau tidak baginya.
"Apa herbivora lemah sepertimu bisa bertarung?"
"Ayah!"
"Takeshi!" Tsuyoshi Yamamoto, ayah dari Takeshi Yamamoto yang tadi tengah bekerja di balik konter Takesushi langsung saja berjalan menghampiri anaknya itu.
"Dari mana saja kau?" tanyanya dengan kesal; kesal karena anak semata wayangnya itu pergi menghilang begiru saja dan karena telah membuatnya khawatir. Saat ia hendak bertanya lebih banyak lagi dan juga menasihati anaknya sesuatu menghentikannya.
Sesuatu itu adalah sorot mata dari sang pemuda yang masih berdiri di depan pintu Takesushi. Sorot mata yang belum pernah dilihatnya dari mata sang anak sebelumnya. Dia pun memilih diam menunggu apa yang akan dikatakan oleh Takeshi, anaknya.
"Ajari aku berpedang! Ada hal yang ingin kulindungi!"
Nayande nayaminuite
Being worried, to be done worrying
Jibun mitsukereba ii
It would be nice if I can find it myself
Kurikaerazu ni shinjita michi wo susumeyo
Without turning back I advanced on a path I believed in
Hajimaru no wa ima
Now is when it begins
NEXT CHAPTER :
"Tidak buruk juga untuk seorang herbivora."
"Aku tidak mungkin bisa menang melawan nona."
"Aku sudah tidak ingin merepotkan orang lain lagi."
"Siapa gadis itu?"
"Mungkin ini rasanya cinta pertama?"
Song : Easy Go by Kazuki Kato (KHR OP06)
Glossaries :
Link to the female Hibari I made :
yaklin 1412 . deviant art. com/art/Hibari-in-Kimono-Yaklin1412-204586370
yaklin 1412 . deviant art. com/art/Hibari-fem-version-189754882
Author's note :
Hai hai semua yang telah membaca fanfic ini!
Saya mohon maaf sebesar-besarnya *membungkuk dalam-dalam* karena fanfic ini updatenya telat sekali..
Saya nge-stuck di adegan Yama dan Hiba yang "itu" lho.. Yang "itu" yang "itu".. Tahu kan yang "itu" lho *gaje mode on*
Untuk yang tak bisa kebayang Hibari cewek nya seperti apa silahkan lihat di DA saya *promosi promosi* yaklin .com
Ada dua gambar Hibari cewek, yang satu saya yang gambar, satunya lagi editan dari gambar siapa gitu saya lupa.. Link nya ada diatas..
Mmm, waktu itu katanya link-nya tidak bisa dipakai? Kalau ternyata memang tidak bisa tolong kasih tahu saya ya!
Dan terakhir saya ucapkan TERIMA KASIH SEBESAR-BESARNYA telah mau membaca fanfic ini!
Saya usahakan update berikutnya sesegera mungkin!
HAPPY 8018 DAY! HAPPY 1880 DAY! HAPPY 8018 DAY! HAPPY 1880 DAY! HAPPY 8018 DAY! HAPPY 1880 DAY! HAPPY 8018 DAY! HAPPY 1880 DAY!
Revisione per favore ご確認 Review please 请审查 Bitte schreiben
