Title: Me, You, and Them
Author: Zahee
Main cast: Byun Baekhyun, Park Chanyeol
Other cast: Kim Jongin a.k.a Kai, Do Kyungsoo, Lu han, Oh Sehun
A/N: Fanfic ini murni hasil karya saya. Saya minta maaf jika ada kesamaan cerita/alur, judul atau apapun. Tolong jangan bash. Mohon maaf jika ada kesalahan dalam ff ini
Warning: Yaoi, typo bertebaran, kata-kata acak-acakan, cerita abal, don't like don't read
.
.
.
"Ahhh, kenapa aku harus melakukan ini?" gumam Baekhyun. Ia berjalan ke mesin penjual otomatis dan memasukkan uang jajannya yang bisa dibilang cukup sedikit itu ke dalam mesin otomatis dan membeli 3 kaleng cola.
Mesin penjual otomatis itu memang agak jauh dari kantin karena letaknya diluar sekolah (tepatnya di deket tempat Baekhyun nendang kaleng terus kena Chanyeol). Sebenarnya ada mesin otomatis juga di dalam sekolah namun cola yang dipesan Chanyeol sudah habis sehingga Baekhyun harus pergi ke tempat terdekat lainnya yang pilihannya hanya di luar sekolah.
Baekhyun sedikit tidak rela memasukkan uang jajannya yang sedikit itu ke dalam mesin tersebut. Bagi Baekhyun, uang itu bisa digunakan untuk makan selama 2 hari kedepan sampai ia mendapat uang jajan lagi. Untung saja Chanyeol bilang akan menggantinya, kalau tidak, bagaimana Baekhyun bisa makan untuk besok dan besoknya lagi?
Setelah ia memasukkan uangnya, ketiga kaleng cola tersebut keluar dari bawah sehingga baekhyun harus menunduk untuk mengambilnya. Ia membawa ketiga kaleng cola dingin tersebut di tangannya lalu berjalan untuk mengantarkannya kepada Chanyeol.
"Nah, sekarang tinggal mengantarnya ke Chanyeol.." ujar Baekhyun, "..Tunggu..."
Ia menghentikan langkahnya dan berpikir, "Aisshhh, aku lupa menanyakan dimana dia berada!" gumam Baekhyun dengan kesal, "Aduuhh, gimana sih!"
"Aku harus cepat menanyakannya," kata Baekhyun, "ponselku.."
Baekhyun memindahkan 1 kaleng cola dari tangan kanan Baekhyun ke tangan kirinya. Tangan kanannya mulai merogoh-rogoh sakunya untuk mencari ponselnya.
"Loh.. ponselku mana..?" ujarnya sambil tetap mencari-cari ponselnya di saku celananya. Ia menghentikan yang dilakukannya dan berpikir.
"AHH! Ponselku tidak ada di kantong! Jangan-jangan jatuh!?"
"Ahhh merepotkan sekali sihh!" gumam Baekhyun sambil mengacak-acak rambutnya frustasi dengan tangan kanannya sedangkan tangan satunya lagi memegang ketiga kaleng cola yang Chanyeol minta.
"Sebaiknya aku cepat mengantarkan ini, sebentar lagi sudah mau masuk." Gumam Baekhyun sambil mulai berlari ke tempat ponselnya berada.
.
.
.
"Kyung, kira-kira Baekhyun kemana ya? Dia belum balik juga, terus tadi juga sepertinya terburu-buru sekali," tanya Luhan kepada Kyungsoo yang sedang meminum susu strawberrynya.
"Hmm... tidak tau deh," jawab Kyungsoo disela-sela acara minum susunya lalu melanjutkan minum lagi ketika ia selesai bicara.
Setelah selesai meminum susu strawberrynya, Kyungsoo melemparkan kotak susunya ke tempat sampah dan berhasil masuk dengan sempurna. Setelah itu Kyungsoo mengangkat tangan kanannya untuk melihat jam tangan yang terpasang di sana.
"Lu, ini sudah mau masuk, mau kembali ke kelas?" ujar Kyungsoo kepada Luhan.
"Tapi Kyung, Bagaimana dengan Baekhyun?" tanya Luhan.
"Kita tunggu saja dulu sebentar sampai Baekhyun datang." Ujar Kyungsoo dibalas dengan anggukan Luhan.
"Bagaimana kalau ditelpon saja?" tanya Sehun memberikan ide kepada mereka berdua.
"Benar juga, aku akan menelponnya," ujar Luhan sambil mengeluarkan ponselnya dari kantong dan mulai mencari kontak Baekhyun di ponselnya. Ia menelpon namja mungil itu namun tidak mendapat jawaban darinya melainkan ia merasakan getaran di tangan kirinya yang sedang di atas meja. Luhan mencari arah getaran tersebut dan menemukan sebuah ponsel yang sangat ia kenal sedang bergetar dengan panggilan masuk bernama "Luhan".
"Baekhyun meninggalkan ponselnya di sini." Kata Luhan.
Kyungsoo langsung facepalm. Ia tidak menyangka kalau sahabatnya itu sangat bodoh sampai-sampai ia meninggalkan ponselnya dikala mereka sedang mencarinya. Dan sekarang mereka tidak tahu bagaimana mencari dan menghubungi Baekhyun di sekolah yang terbilang cukup luas ini.
Ketika Luhan mematikan panggilannya terhadap Baekhyun, tiba-tiba ponsel Baekhyun bergetar lagi. Luhan langsung melihat ke arah Kyungsoo dan akhirnya mereka bertatap-tatapan.
"Kau menelpon Baekhyun?" tanya Luhan pada Kyungsoo.
"Tidak, buat apa aku telpon kalau ponselnya di sini?" jawab Kyungsoo sambil menggelengkan kepalanya.
"Iya juga ya..." jawab Luhan, "lalu, siapa yang menelpon Baekhyun?"
Kyungsoo menaikan kedua bahunya menandakan bahwa ia tidak tahu.
"Dijawab saja," kata Sehun.
"tapi kan itu privasi Baekhyun." Jawab Luhan.
"Mungkin itu alasan mengapa Baekhyun pergi," ujar Kyungsoo.
"Mungkin saja." Jawab Sehun.
Baru saja Kyungsoo akan menjawab panggilan tersebut, ponsel tersebut berhenti bergetar dan layarnya kembali menjadi hitam. Mereka belum sempat melihat nama orang yang tertulis di panggilan masuk tersebut sehingga mereka tidak tahu siapa yang menelpon Baekhyun.
"Kau lama sih," ujar Sehun sedikit bercanda pada Kyungsoo namun Kyungsoo tidak mempedulikannya.
"Apa kita telpon balik saja ya? Barangkali dia tau dimana Baekhyun sekarang." Tanya Kyungsoo dijawab oleh anggukan dari dua orang (satu orang lainnya malah asik main hape dan sama sekali nggak peduli sama situasi -_-).
Ia akan menelpon orang yang tadi menelpon Baekhyun dari daftar panggilan masuk dan bilang padanya bahwa Baekhyun sedang tidak ada, begitulah pikir Kyungsoo. Namun niatnya itu lagi-lagi terhenti ketika Kyungsoo baru akan menyalakan ponsel Baekhyun.
"..."
"Kenapa Kyung?" tanya Luhan mendekatkan badannya ke Kyungsoo karena penasaran.
"Ada passwordnya." Jawab Kyungsoo sambil memperlihatkan layar ponsel Baekhyun yang belum diunlock karena ada password yang masih harus mereka pecahkan.
Kyungsoo menghela nafas, sahabat mereka yang satu ini sangat sulit dicari, padahal ini masih di dalam sekolah mereka sendiri. Kantin sudah sepi, tinggal mereka berempat yang masih ada di sana.
"Kira-kira Baekhyun kemana ya?" tanya Kyungsoo pada ketiga orang tersebut (lebih tepatnya 2 orang).
"Hmm.."
"Memangnya kepergian Baekhyun benar-benar karena orang yang menelpon tadi? Paling juga tadi dia buru-buru ke toilet terus ketiduran di sana," jawab Kai dengan sangat tidak mengerti keadaan dan seolah-olah tidak mengkhawatirkan Baekhyun. Ketiga orang tersebut langsung melihat Kai dengan tatapan yang berbeda-beda. Luhan dengan wajah polosnya yang terlihat agak bingung, Sehun dengan facepalmnya karena tidak percaya orang yang satu ini sempat-sempatnya bercanda di waktu seperti ini, dan terakhir Kyungsoo dengan wajah kesalnya yang seperti mau menghajar Kai.
Kyungsoo langsung memukul lengan Kai cukup keras sampai meninggalkan bekas kemerahan di kulitnya yang (lumayan) hitam itu. Namja yang dipukul meringis kesakitan sambil menggosok-gosokan tangannya ke bagian yang barusan dipukul supaya tidak terlalu sakit lagi. Ia mempoutkan bibirnya untuk membuat kekasihnya itu memperhatikannya. Namun usahanya itu sia-sia, Kyungsoo sama sekali tidak tergoda untuk memperhatikan namja yang sedari tadi menampilkan wajah sok imutnya melainkan tetap memikirkan apa yang harus mereka lakukan sekarang.
"Tidak usah didengarkan, lanjutkan saja," kata Kyungsoo membelakangi Kai dan menghadap ke arah Luhan dan Sehun.
"Kalau kita terus-terusan di sini, kita bisa kena hukum karena terlambat," kata Sehun.
"Benar juga, apalagi pelajaran selanjutnya adalah pelajaran Kim Songsaengnim, kita bisa kena hukuman mematikan, Lu!" ujar Kyungsoo sambil bergidik ngeri ketika membayangkan hukuman yang akan diterimanya kalau ia terlambat di pelajaran Kim Songsaengnim.
"Lalu kita harus bagaimana? Masa kita meninggalkan Baekhyun?" tanya Luhan sambil memiringkan kepalanya dengan lucunya membuat Sehun ingin memakannya karena keimutannya itu.
"Ini kan sudah hampir masuk, Baekhyun pasti mengerti, dia juga pasti akan kembali ke kelas." Jawab Sehun dengan cukup bijak sambil mencubit pipi Luhan membuat Luhan mempoutkan bibirnya dan membuat Sehun tambah ingin memakannya.
Kim Songsaengnim memang seorang guru yang paling killer diantara guru lainnya, ia sangat ketat terhadap aturan dan suka memberikan hukuman yang berat jika murid terlambat datang ke kelasnya, tidak ada toleransi. Sayangnya, setelah ini Kim Songsaengnim akan mengajar di kelas Baekhyun, Luhan dan Kyungsoo. Karena Sehun dan Kai di kelas yang berbeda, mereka terlihat santai-santai saja, beda dengan Luhan dan Kyungsoo yang terlihat panik.
"Ehem," terdengar suara deheman seseorang yang cukup familiar di telinga mereka. Mereka membalikan badan mereka untuk melihat siapa orang yang berdehem itu.
"Sedang apa kalian di sini?" tanya orang itu dengan nada yang cukup mengerikan.
"A-ah, tidak kok," kata Luhan.
"Ini sudah hampir masuk, kenapa kalian masih di sini?" tanya namja itu.
"So-songsaengnim, kami hanya-" kata Luhan bermaksud menjelaskan pada Kim Songsaengnim yang kebetulan lewat kantin menuju kelas dan menemukan mereka berempat di sana. Kim songsaengnim langsung memotong pembicaraan Luhan.
"Kalian pikir ini sudah jam berapa? Sudah hampir masuk malah keluyuran di sini! Itu juga, kenap kalian malah main handphone? Cepat matikan atau saya sita ponselnya?" kata Kim songsaengnim dengan cukup marah sambil menunjuk ke arah Kai dan Kyungsoo yang sedang memegang ponselnya. Kai memang sedang bermain dengan handphonenya tadi, tapi kalau Kyungsoo, ia sedang memegang handphone Baekhyun.
Tanpa banyak berpikir, mereka berdua langsung mematikan ponselnya. Dan mereka berempat membungkuk 90 derajat pada Kim Songsaengnim.
"Maaf songsaengnim, kami akan kembali ke kelas." Jelas Luhan mewakili mereka berempat.
Songsaengnim itu tidak menjawab namun hanya melihat tingkah laku murid-muridnya itu. Mereka berempat langsung berlari ke kelas masing-masing, berharap akan sampai duluan sebelum songsaengnim itu masuk ke kelasnya. Akhirnya mereka memutuskan untuk meninggalkan Baekhyun karena lebih sayang pada nyawanya. -_-
"Dasar, anak-anak jaman sekarang," kata Kim songsaengnim sambil menggeleng-gelengkan kepalanya ketika keempat muridnya itu telah pergi. Lalu ia melanjutkan jalannya menuju kelas yang harus ia datangi.
.
.
.
Akhirnya Baekhyun telah sampai di kantin yang sepi dan kosong. Baekhyun sampai dengan waktu yang cukup lama dikarenakan ia menghabiskan waktunya di sepanjang jalan yang ia lewati untuk mencari ponselnya. Barangkali, ponselnya itu terjatuh ketika ia sedang berjalan ke mesin otomatis yang berada di luar sekolah itu.
Baekhyun menghela nafasnya ketika dirinya mencapai kantin. Ia sangat lelah mencari ponselnya yang belum ia temukan juga.
"Kenapa sepi sekali di sini? Memangnya Luhan dan Kyungsoo tidak menungguku?" gumam Baekhyun sambil sedikit mempoutkan bibirnya itu.
Ia melihat ke arah jam dinding yang terpasang di kantin itu dan spontan melempar ketiga kaleng cola yang sudah tidak terlalu dingin itu ke lantai.
"HAH? SUDAH JAM SEGINI?" teriak Baekhyun di kantin yang sepi itu, untung saja kantin itu kosong sehingga tidak ada yang dengar teriakannya yang cempreng nan nyaring juga naik 7 oktaf itu -_-
"Aduh, bagaimana ini? Sudah waktunya untuk masuk kelas!" teriak Baekhyun frustasi sambil mencengkram rambutnya yang sudah acak-acakan itu.
"Tunggu, setelah ini pelajaran siapa ya..." gumam Baekhyun, "OMG! SETELAH INI PELAJARAN KIM SONGSAENGNIM! AKU BISA KENA HUKUM!" teriak Baekhyun dengan suaranya yang nyaring itu.
"GYAAAAA! APA YANG HARUS AKU LAKUKAN?"
Baekhyun berpikir sejenak apa yang harus ia lakukan dan apa yang terjadi setelah ia mengambil keputusan tersebut.
Namun apapun yang ia lakukan nantinya, nasibnya pun tetap sama yaitu: buruk.
Baekhyun dilemma berat untuk memilih Kim songsaengnim atau Park Chanyeol. Jika ia datang ke kelas Kim Songsaengnim sekarang juga, ia sudah pasti terlambat dan terkena hukuman, belum lagi hukuman dari Chanyeol karena tidak memenuhi keinginannya. Kalau ia memilih untuk mencari Chanyeol dan mengantarkan ini, ia pasti akan membutuhkan waktu lama karena ponselnya tidak ada dan hasilnya ia akan dapat hukuman dari Chanyeol dan Kim songsaengnim karena bolos. Kalau ia kabur, tentu saja ia tetap akan dapat hukuman dari keduanya.
Baekhyun terduduk lemas di lantai karena tidak tahu apa yang haru ia lakukan. Ia mulai menangis dan menyalahkan dirinya sendiri serta Park Chanyeol.
"Huaaa, Baekhyun pabo! Kenapa handpone bisa hilang begini sihhh! Hiks," gumam Baekhyun menyalahkan dirinya sendiri sambil menangis.
"Chanyeol juga! Dasar Park Chanyeol ini! Mentang-mentang kaya dan jago, malah seenaknya sendiri menyuruh-nyuruh orang! Kata Baekhyun sambil mengusap air matanya dan mengomel-ngomel sendiri di kantin yang sepi.
Namun ternyata dia tidak sendirian di sana. Namja tinggi dengan suara yang ngebass dan Baekhyun takuti itu datang dari belakang Baekhyun.
"Ehem," namja itu berdehem, "sedang menjelek-jelekanku eoh?"
Baekhyun yang mendengar suara itu kaget dan langsung mengusap matanya kasar agar tidak terlihat ia menangis.
"Ti-tidak," jawab Baekhyun sedikit berbohong.
"Lalu yang kudengar tadi itu maksudnya apa?"
"A-ani, memangnya kau sudah berapa lama di sini?" tanya Baekhyun.
"Jangan mengalihkan pembicaraan!" kata Chanyeol dengan agak kasar membuat Baekhyun menunduk dan tidak berani menjawab lagi.
Chanyeol menghela nafas, "Kau mengecewakan Baek," kata Chanyeol, "Di telpon tidak di jawab, mengantar minuman tidak datang-datang, kau menghindar dariku?" tanyanya.
"A-ani, ponselku hilang-"
"Jangan banyak alasan!" teriak Chanyeol membuat Baekhyun kembali menunduk dan memejamkan matanya dengan kuat, seolah-olah menerima jika ia akan dihajar Chanyeol.
Chanyeol yang ingin memukulnya melihat Baekhyun dengan kasihan, ia mengurungkan niatnya untuk memukul Baekhyun. Walaupun begitu, ia tidak akan semudah itu membiarkan Baekhyun melakukan seperti itu lagi, ia harus dihukum.
"Aku sudah tidak haus lagi, terserah mau kau apakan minuman itu," kata Chanyeol dengan seenak jidatnya bilang begitu padahal Baekhyun sudah berusaha keras membelinya.
"Kau harus dihukum." Kata Chanyeol. Baekhyun pun tidak menjawab karena ia tahu itu akan terjadi padanya.
Chanyeol yang melihat Baekhyun tidak bereaksi tiba-tiba ingin sedikit mengerjai Baekhyun.
"Dan lagi Baek, kau tidak akan mendapatkan uangmu kembali." Kata Chanyeol.
"Mwo!?" kata Baekhyun agak berteriak dan spontan menaikan kepalanya. Jujur saja ia tidak terima telah menghabiskan waktu, tenaga, dan uangnya untuk membeli cola ini lalu Chanyeol bilang tidak mau meminumnya lagi dan yang paling parah uangnya tidak dikembalikan. Lalu bagaimana Baekhyun akan makan untuk besok dan besoknya lagi? Apa Baekhyun harus berpuasa?
"Apa? Mau protes?" tanya Chanyeol berhasil membuat Baekhyun menggelengkan kepalanya dengan cukup kencang sambil memjamkan matanya kuat dan terlihat lucu. Chanyeol menyeringai penuh kemenangan karena telah menjaili Baekhyun.
Chanyeol membalikkan badannya untuk pergi dari tempat itu sedangkan Baekhyun masih diam dan menunduk di tempat yang sama.
Chanyeol membalikkan tubuhnya lagi untuk melihat Baekhyun yang masih terdiam di posisi yang sama, "Yah! Kenapa malah diam? Cepat ikut aku!"
Baekhyun yang mendengarnya segera memunguti 3 kaleng cola yang jatuh berserakan karena tadi ia lempar itu (sayang kalau tidak diminum) lalu ia langsung pergi mengikuti Chanyeol.
Chanyeol berjalan menuju ke ruang tempat ia, lebih tepatnya gengnya berada (seperti markas bagi mereka). Lokasinya adalah di atap sekolah. Baekhyun sama sekali tidak menyangka kalau ia akan dibawa kesana, ia pikir ia akan dipukuli di atas sana dan tidak ada seorang pun yang akan menolongnya karena lokasinya yang cukup jauh dan orang-orang yang saat ini sedang dalam kelas, kecuali kalau ada keajaiban. Baekhyun bergidik ngeri membayangkan apa yang akan dilakukan Chanyeol padanya, tapi ia pasrah untuk menerima hukumannya.
Baekhyun memang tidak pernah mendatangi tempat ini karena 'katanya' selalu terkunci dan ada sesuatu di dalamnya, karena itu, akhirnya Baekhyun malas mendatanginya.
"Ch-chanyeol-ssi, apakah benar tempat ini selalu di kunci dan ada 'sesuatu' di dalamnya? Aku dengar dari teman-teman sekelasku." Tanya Baekhyun yang masih mengikuti Chanyeol di belakangnya.
"Ani, rumor itu aku yang membuatnya supaya tidak ada orang yang menggangguku di sini, tapi mana kutahu kalau memang benar ada apa-apanya." Kata Chanyeol tanpa membalik dan tetap berjalan.
"Ooh," kata Baekhyun sambil mengangguk mengerti.
"Wae? Kau takut?" tanya Chanyeol sambil membalikkan badannya ke arah Baekhyun dengan 'evil smirk'nya
"Ani, aku tidak takut!" kata Baekhyun sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Oh begitukah? Lalu setelah ini apa kau mau memberi tau yang sebenarnya ke teman-temanmu itu?"
"Tidak, aku akan menjaganya kok!"
Chanyeol tidak menjawab lagi melainkan ia membalikkan badannya memunggungi Baekhyun untuk membuka pintu menuju atap sekolah atau lebih sering dibilang 'rooftop'.
Baekhyun melihat sekitar rooftop yang luas ini, ia baru pertama kali mengunjunginya, ia bahkan melupakan bahwa ia sedang bersama Chanyeol dan akan mendapat hukuman nantinya.
"Baek, karena kau sudah mengetahui tempat ini, tidak ada alasan bagimu untuk datang terlambat lagi." Jelas Chanyeol dibalas anggukan pelan Baekhyun.
Chanyeol langsung menuju ke suatu tempat dan menjatuhkan dirinya di sana. Ia merebahkan badannya dengan kedua tangan dibawah kepalanya lalu mulai memejamkan matanya.
Baekhyun bingung melihat Chanyeol dan kedua temannya di sini dan malah santai di jam pelajaran. Chanyeol yang sekarang sudah tertidur, Chen yang sedang tertawa terbahak-bahak karena komiknya, dan Tao yang sibuk dengan game di handphonenya.
Baekhyun yang tidak tahu harus melakukan apa hanya diam di pojokan yang cukup jauh namun tidak terlalu jauh dari mereka bertiga. Ia menyender di dinding dan duduk di sana sambil memperhatikan langit. Sayangnya tidak ada ponselnya sehingga ia tidak dapat melakukan sesuatu.
Tiba-tiba perut Baekhyun berbunyi. Ia memang tadi belum menyelesaikan makanannya, malah belum sempat makan. Ia lapar namun tidak ada apa-apa di sana kecuali 3 kaleng cola yang sudah tidak terlalu dingin itu. Karena Chanyeol bilang ia tidak mau minum lagi, Baekhyun berpikir untuk meminumnya. Ia mengambil satu kaleng yang tadii ia simpan di sebelah kanannya lalu membukanya dan meneguknya sampai habis.
Namun ternyata satu kaleng saja tidak cukup bagi Baekhyun. Ia hendak meraih satu kaleng lagi di sebelah kanannya namun ia tidak merasakan apa-apa di sana. Karena bingung, ia menolehkan kepalanya untuk melihat dimana kaleng cola tersebut. Kaleng tersebut menghilang dari tempat semulanya dan tiba-tiba seorang namja berdiri di depannya dengan kedua tangannya memegang dua kaleng cola Baekhyun.
"Untukku ya? Boleh kan?" tanya namja itu dan belum sempa dijawaab Baekhyun, ia langsung meminum satu cola yang ada di tangan kanannya sampai habis.
Namja itu siapa lagi kalau bukan Chen yang menyebalkan karena dengan seenaknya mengambil minuman Baekhyun dan meminumnya sebelum Baekhyun mengijinkannya. Baekhyun yang melihatnya hanya melongo tidak percaya.
"Yah! Itu punyaku kenapa kau minum?" kata Baekhyun dengan kesal sambil mencoba meraih kaleng cola satunya lagi. Namun Chen tidak akan memberikanna dengan semudah itu, ia menjauhkannya dari jangkauan Baekhyun.
"Memangnya kau ingin minum semuanya? Kau bisa jadi gendut nanti!" kata Chen menambah amarah Baekhyun.
Alhasil mereka kejar-kejaran seperti tikus dan kucing. Akhirnya Baekhyun berhasil memegang tangan Chen, namun tentu saja Cen tidak akan memberiknnya semudah itu. Ia melemparkannya ke arah temannya yang sedang asyik bermain game.
"Tao-yah, ini untukmu!" katanya sambil melemparkannya ke arah Tao dan berhasil mendarat dengan sempurna di tangan temannya itu dan akhirnya ia menghabiskan cola terakhir tersebut.
Tidak di sini, tidak di sana, ada saja orang yang menyebalkan bagi Baekhyun yang selalu mengerjainya, begitulah pikir Baekhyun.
"YAAHH! ITU KAN PUNYAKU KENAPA DIMINUM?" kata Baekhyun dengan kesal pada mereka berdua, "Uangku sudah habis untuk membelinyaaa! Tapi malah kalian minum!" Kata Baekhyun mengomel-ngomel sedangkan yang diomeli hanya diam dan yang satunya malah tertawa.
"HUAAAA!" teriak Baekhyun dengan keras.
"YAH! BERISIK TAU!" teriak Chanyeol tak kalah keras. Ia terbangun karena mendengar suara berisik dari mereka bertiga (lebih tepatnya hanya Chen dan Baekhyun).
"Huaaa~ Chanyeollieee, Baekhyun memarahiku!" kata Chen yang tiba-tiba berubah menjadi manja dan menangis seolah-olah membuat orang lain menjadi iba. Ia berlari ke arah Chanyeol dan memegang tangannya seolah-olah bersembunyi dari Baekhyun.
Baekhyun melongo dengan tidak percaya. Ternyata Chen bisa semenjijikan ini, pikir Baekhyun. Pantas saja ia sangat jago memprovokasi orang, ia juga sangat jago akting.
Namun sayangnya karena Chanyeol sudah mengetahui sfat asli Chen, ia hanya memutar bola matanya malas, ini memang sering terjadi ketika Chen dan Tao bertengkar.
"Hentikan sikapmu itu Jongdae!" kata Chanyeol kepada Chen yang sekarang mempoutkan bibirnya.
Sedangkan Baekhyun tertawa diam-diam karena akhirnya Chen dimarahi Chanyeol.
"Kau juga Baek!" kata Chanyeol menunjuk Baekhyun. Baekhyun kaget dan langsung diam.
"Suka sekali sih teriak-teriak! Berisik tau!" kata Chanyeol siikuti tawa Chen yang terbahak-bahak.
Baekhyun kesal melihat tingkah Chen, namun ia tidak bisa apa-apa karena Chanyeol ada di sini. Memang dari awal Baekhyun hanya takut pada Chanyeol yang kuat dan suka berbuat onar. Ia sebenarnya juga takut pada Tao namun tidak terlalu takut karena Tao tidak sering berbuat onar. Ia hanya takut pada mereka berdua karena mereka kuat dan bisa langsung menghajarnya kalau berbuat sesuatu yang tidak menyenangkan mereka. Tapi Baekhyun sama sekali tidak takut pada Chen.
Sepertinya sekarang mereka sudah mulai akrab.
"Chanyeol, sekarang sudah waktunya pulang, kau mau pulang sekarang?" tanya Tao.
"Ah iya," kata Chanyeol mengambil ranselnya diikuti kedua temannya.
Baekhyun yang melihatnya juga berpikiran untuk pulang, barangkali, ia sudah ditunggu Luhan dan Kyungsoo. Baekhyun berjalan ke arah pintu lebih dulu dari pada tiga orang tersebut namun tiba-tiba sebuah suara menghentikan langkahnya.
"Yah! Mau kemana?" tanya Chanyeol.
Baekhyun membalikkan badannya dan menjawab , "Pulang?"
"Pulang kemana? Hari ini kau ikut ke rumahku!" kata Chanyeol.
WHAT!
"Tapi tasku-"
"Nanti kuberi waktu mengambil."
"ponselku-"
"Kalau hilang kubelikan yang baru."
Baekhyun terdiam karena tidak tahu alasan lain yang harus ia beri pada Chanyeol.
"Kehabisan alasan? Sudah kubilang jangan banyak alasan."
Baekhyun mengangguk pelan.
"Sekarang kau abil tasmu, dalam 5 menit kau harus sudah sampai ke depan pintu gerbang sekolah atau hukumanmu ditambah."
"Mwo!?" teriak Baekhyun.
"Tidak bisa? Kalau begitu 4 menit!" kata Chanyeol.
"Ta-tapi-"
"Satu... duaa.. tiga," kata Chanyeol sambil menghitung.
Tanpa banyak berpikir, Baekhyun langsung cabut dan berlari ke kelasnya untuk mengambil tas, sementara Chanyeo tersenyum penuh kemenangan karena lagi-lagi berhasil mengerjai Baekhyun.
.
.
.
Sementara itu, di dalam kelas yang hampir kosong, masih tersisa 2 orang namja yang sedang bingung.
"Baekhyun kok tidak kembali ya, Kyung?" tanya Luhan dengan nada khawatir.
"Iya... jangan-jangan sudah pulang?" jawab Kyungsoo.
"Tapi tasnya masih di sini, masa dia meninggalkan tasnya?"
"Hmm.. benar juga ya."
Mereka berdua berpikir sejenak.
"Kita tunggu di sini sampai Baekhyun datang ya? Barangkali ia akan kembali untuk mengambil tasnya." Kata Kyungsoo dijawab anggukan dari Luhan.
"Tapi aku mau bilang Sehun dulu," kata Luhan.
"Ah iya, aku juga mau bilang Kai dulu," kata Kyungsoo.
"Baiklah, kalau begitu sama-sama saja, nanti kita balik lagi ke sini." Kata Luhan dibalas anggukan Kyungsoo.
Mereka berdua akhirnya pergi keluar kelas untuk menemui kekasih mereka masing-masing. Namun sayangnya, tak lama kemudian, namja yang sedari tadi mereka cari datang ke kelas untuk mengambil tasnya. Kalau saja mereka di kelas beberapa detik lebih lama, mereka akan bertemu dengannya.
"Kok kelas sudah sepi sekali?" gumam Baekhyun.
"Jangan-jangan Luhan dan Kyungsoo sudah meninggalkanku dan pergi kepada pacar mereka masing-masing?" kata Baekhyun sambil mempoutkan bibirnya.
Ia segera mengambil tasnya dan pergi ke pintu gerbang sekolah, dimana Chanyeol menunggunya. Ia sudah tidak punya banyak waktu, kalau ia datang terlambat ia bisa dihukum.
"Kyung, lihat!" kata Luhan sambil menunjuk kursi Baekhyun. Ia baru saja datang dari kelas sebelah, tepatnya kelas pacar mereka. Sayang sekali mereka terlambat beberapa detik lagi.
"Hah!? Tas Baekhyun hilang?" kata Kyungsoo kaget.
"Jangan-jangan ia datang ke sini saat kita pergi?" tanya Luhan.
"Hmm.. sayang sekali kita tidak bisa bertemu dengannya." Kata Kyungsoo.
"Apa kita pulang saja?" tanya Luhan dibalas anggukan Kyungsoo.
.
.
.
"Hah...haahh.." Baekhyun terengah-engah ketika sampai di tempat Chanyeol berada.
"Bagus, kau tidak terlambat," kata Chen sambil menepuk-nepuk tangannya bermaksud mengejek Baekhyun yang berusaha keras untuk tidak telat.
Baekhyun tidak membalas karena kelelahan.
Chanyeol memasuki mobilnya di tempat pengemudi.
"Chen, Tao, kalian di belakang." Kata Chanyeol pada kedua temannya. Satu orang mengangguk dan satu orang lagi protes.
"Eeehh? Aku kan mau di depan!" kata Chen protes pada Chanyeol.
Memang kalau tidak ada Baekhyun, Chen selalu duduk di depan, disebelah Chanyeol. Namun sekarang Chanyeol menyuruhnya duduk di belakang seperti posisinya sudah tergantikan oleh orang baru.
Baekhyun hanya diam menunggu mereka berdebat sampai keputusan diambil. Kalau Chen dan Chanyeol mulai berdebat, masalah akan rumit karena Chen pasti punya banyak sekali alasan untuk membuktikan dia benar sedangkan Chanyeol tidak mau kalah. Tao yang tidak bisa memihak hanya diam dan memperhatikan keduanya sampai dua-duanya sama-sama lelah dan akhirnya dipaksa Tao untuk saling minta maaf.
"Sudah-sudah, Chen hyung, kau mengalah untuk kali ini saja." Kata Tao pada Chen.
"Tao-yah! Kok malah memihak Chanyeol!" kata Chen dengan kesal sambil mempoutkan bibirnya.
"Sudah, ayo cepat masuk, hyung!" kata Tao pada Chen, "Kau juga hyung, sebelum masalah ini tambah rumit."
Baekhyun tidak menyangka hanya karena tempat duduk saja mereka bisa bertengkar, bagaimana dengan masalah yang lebih rumit?
Baekhyun masuk ke mobil Chanyeol, tepatnya di sebelah Chanyeol.
"Baiklah, kita langsung menuju rumahku." Kata Chanyeol sambil menyetir mobil sportnya yang mahal itu. Di sebelahnya ada Baekhyun dan dibelakang ada Chen dan Tao. Keadaan di bagian depan sangat canggung melainkan di bagian belakang sangat berisik, masih membicarakan soal yang tadi.
Untung saja rumah Chanyeol tidak terlalu jauh dari sekolah sehingga ia tidak perlu mendengar keributan ini lebih lama lagi.
Ketika mobil Chanyeol telah terparkir dengan sempurna, semua orang di dalamnya keluar dari mobil termasuk Baekhyun. Baekhyun melongo melihat rumah Chanyeol yang sangat besar bagi Baekhyun. Kira-kira mungkin lebih dari 10 kali lipat rumah Baekhyun.
"Ayo masuk," kata Chanyeol menyuruh Baekhyun masuk ke rumahnya.
Sesampainya Baekhyun di dalam, ia dikejutkan lagi dengan beberapa pelayan yang menyambut kedatangan Chanyeol. Sungguh, ternyata Chanyeol sangat kaya.
Chen dan Tao langsung duduk di sofa dan menyalakan tv sedangkan Chanyeol membawa Baekhyun ke sebuah ruangan.
Chanyeol mengantarkan Baekhyun ke kamarnya yang bisa dibilang luas bagi Baekhyun.
"Baek," panggil Chanyeol namun Baekhyun tidak menjawab. Kelihatannya Baekhyun masih terpana dengan kamar Chanyeol yang sangat luas dan bagus ini.
"Hei, Baek!"
"A-ah! Iya, maaf!" kata Baekhyun yang tersadar dari lamunannya.
"Duduk!" kata Chanyeol dengan tidak sopannya memperlakukan Baekhyun seperti itu.
Baekhyun duduk di salah satu kursi di kamar Chanyeol.
"Ini hukuman untukmu." Kata Chanyeol sambil memberikan beberapa lembaran kertas serta beberapa buku yang tidak asing bagi Baekhyun.
Baekhyun tadi memang hampir melupakan tujuannya ke rumah Chanyeol. Ia ke sini untuk dihukum.
"Kau bisa kerjakan dikamarku, kau belum boleh pulang sampai semuanya selesai!" jelas Chanyeol.
Baekhyun merasa cukup lega karena tidak dihukum dengan cara fisik, namun tetap saja pekerjaan ini terlalu banyak baginya.
"Ini tugasmu semua?" tanya baekhyun.
"Ya."
"Sejak kapan?"
"Mungkin sejak sebulan atau dua bulan yang lalu, aku memang tidak pernah mengerjakan."
"Mwo!?" teriak Baekhyun kaget, "Ini sudah lama sekali!"
"Mereka tidak memintaku mengumpulkan, lagipula sekarang kan kau akan mengerjakannya untukku." Kata Chanyeol.
Baekhyun terdiam mematung, bagaimana bisa ia menyelesaikan tugas yang harusnya 1 bulan dalam 1 hari ini? Walaupun ia terbilang murid yang cukup pintar, tapi tetap saja kalau ia disuruh mengerjakan soal sebanyak ini dia bisa stress.
Chanyeol meninggalkan Baekhyun di dalam kamarnya untuk mengerjakan hukumannya sedangkan dirinya sendri malah bersenang-senang.
"Harus mulai dari mana ya?" gumamnya ketika melihat tugas-tugas yang begitu banyak.
Ia menghela nafas dan berpikir.
"Kira-kira Luhan dan Kyungsoo mengkhawatirkanku tidak ya? Atau malah senang karena tidak ada penggaunggu bagi hubungan mereka?" gumam Baekhyun.
"Ah! Jangan berpikiran aneh-aneh, aku harus cepat kerjakan!"
.
.
.
"Tao-yah, apa menurutmu Chanyeol tertarik pada pesuruhnya itu?" tanya Chen pada Tao yang sedang memakan cemilan yang disediakan pelayan Chanyeol.
"Hmm... aku juga tidak tahu hyung, kenapa kau bisa berpikir begitu?" kata Tao.
"Selain wajahnya cukup manis seperti perempuan, tingkah laku Chanyeol juga tidak seperti biasanya," kata Chen diikuti anggukan Tao setuju, "Ia biasanya kasar dan langsung main pukul, tapi sekarang dia tidak begitu pada Baekhyun."
"Iya sih, tapi kan.. masih ada 'dia'..?"
"Hmm.. bagaimana kalau kita taruhan?" usul Chen pada Tao.
"Eehh? Hyung!" ujar Tao.
"Kenapa? Takut?" Tanya Chen sedikit menggoda Tao.
"A-"
"Sedang membicarakan apa?" potong Chanyeol yang baru saja datang.
"A-ani, kita main Ps mu ya?" tanya Chen mengalihkan pembicaraan.
"Kenapa kau bertanya dulu? Biasanya kan kau langsung ambil kalau mau main." tanya Chanyeol.
Bodohnya, Chen melupakan kebiasaannya itu. Biasanya memang dia tidak pernah bilang kalau mau main game di rumah Chanyeol karena tau Chanyeol pasti memperbolehkannya.
"Ah itu, tadi kami sedang memilih-milih game, terus tiba-tiba kau datang, jadi sekalian saja aku bilang padamu." Untung saja Chen bisa cepat mencari alasan sehingga ia bisa menjawabnya walaupun sebenarnya masih kedengaran aneh.
Chanyeol sebenarnya masih sedikit curiga, tapi ia membiarkannya saja karena ia tidak peduli.
"Oh iya Yeol, tadi kau apakan pesuruhmu itu?" tanya Chen pada Chanyeol yang tiduran di sofa sambil main-main dengan handphonenya.
"Kusuruh mengerjakan tugasku yang menumpuk itu."
"Begitu saja? Biasanya kau main fisik untuk menghukum?" tanya Chen penasaran.
"Sedang malas saja, kan bagus juga kalau pekerjaanku dia yang mengerjakan, nilaiku jadi tidak jeblok." Jawab Chanyeol.
Sebenarnya jawaban Chanyeol itu terdengar cukup aneh. Bagaimana bisa seorang Park Chanyeol malas untuk menghajar orang? Dan lagi, sejak kapan ia mempedulikan soal nilainya? Biasanya ia hanya santai-santai saja.
Tao dan Chen saling bertatap-tatapan karena tingkah laku Chanyeol yang beda dari biasanya.
.
.
.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam. Chen dan Tao harus segera pulang dari rumah Chanyeol.
"Yeol, kami pulang dulu yaa!" kata Chen sambil melambaikan tangannya pada Chanyeol.
"Ya," jawab Chanyeol singkat.
Kini Chanyeol sendirian di depat tv yang menyala. Tiba-tiba ia teringat pada Baekhyun yang sedari tadi ia suruh mengerjakan tugasnya. Ia tidak keluar kamar semenjak 5 jam yang lalu, apa yang terjadi padanya? Apakah ia masih mengerjakan tugasnya?
Chanyeol berjalan menuju kamarnya dan melihat seorang namja mungil yang tertidur pulas diatas meja belajarnya sambil menyilangkan tangannya di bawah kepalanya sebagai bantal untuk tidur.
Chanyeol mendatanginya dan melihat hasil pekerjaan Baekhyun yang cukup baik dan rapi. Ia juga telah menyelesaikan semuanya dalam waktu yang terbilang cukup cepat. Chanyeol yang melihatnya menjadi agak kasihan, ia membawa Baekhyun ke tempat tidurnya supaya posisi tidur Baekhyun lebih baik.
Ia mengelus kepala Baekhyun dan memperhatikan wajah polosnya yang sedang tertidur pulas itu. Chanyeol sesekali terkekeh melihat Baekhyun yang menggerak-gerakan tubuhnya ketika tidur.
Tiba-tiba ponselnya bergetar menandakan ada panggilan masuk dengan nomor yang tidak ia kenal. Chanyeol menagangkatnya.
"Yeoboseyo?"
"Baby~ Besok aku akan pulang ke Korea!"
.
.
.
JENG! JENG! Siapa tuhh yang nelpon Chanyeol?
Akhirnya Chapter 3 inni selesai juga dengan penuh perjuangan...
Banyak yang bilang chapter-chapter sebelumnya kurang panjang
Kalau yang ini masih kurang panjang juga maafkan saya .-.
Saya mau minta maaf atas keterlambatan ngeupdate ;;
Sebelumnya saya minta maaf kepada readers-readers tercinta ini atas keterlambatan updatenya. Pertama-tama karena kakak saya yang baru pulang ke rumah dan membawa game sehingga saya jadi malas dan malah keasyikan main game yang dibawa pulang -_- Walaupun begitu, saya menyempatkan waktu untuk melanjutkan ff ini. Setelah sudah hampir selesai ffnya, saya pergi mudik dan menetap di sana cukup lama karena ada acara. Tapi karena saya bawa laptop, saya menyempatkan untuk menulis ff ini. Namun sayangnya, ternyata ff yang saya sudah tulis hingga hampir selesai itu hilang dan terpaksa mengulang dari awal karena itu mood saya untuk menulis jadi berkurang sehingga saya baru bisa melanjutkannya sekarang karena harus mengerjakan PR dan belajar (maklum, sudah kelas 3). Jadi, maafkan saya karena telat update, untuk kedepannya akan diusahakan lebih cepat lagi walaupun belum pasti karena sudah mulai sekolah.
Maaf kalau ceritanya tidak memuaskan ;;
Saya berterima kasih atas semua orang yang bersedia meluangkan waktu untuk membaca ff ini
Review sangat diterima, Asal jangan bash
Saya sangat menghargai orang-orang yang me-review/follow/favorite ff ini.
Thank You
-Special Thanks to—
park hyun in - younlaycious88 - Tabifangirl - park baekyeol - Maple fujoshi2309 – Parkbyunnie - Hwang Yumi – myhunhanbaby – ByunCaBaek - Ririn Cross – novachokyuhyun - meliarisky7 - N-Yera48 - Park Hye Rinzz - byvn88 - angela. – exoel - indahwidya31 - nam mingyu - KT CB - parklili - love exo - Special bubble – Guest – biezzle – tifaah - Shouda Shikaku
Maaf karena saya malas bales-balesin review, jadi disebutin aja siapa yang udah review di chapter sebelumnya, kalau ada yang belum kesebut atau namanya salah bisa tulis protesnya di bawah ini
