Bleach = Kubo Tite
The Last Third = Searaki Icchy La La La
Rate = M 4 safe
Genre = Drama, Hurt/Comfort, Romance, Family, FriendShip, dll
WARNING! Typo(s), OOC, Geje, ngawur, stress, ngancurin image, pairing bukan hanya IchiRuki dan bla bla bla lainnya~
WARNING! Ada Lemon geje, segeje yang nulis~ =))
.
Last 3
.
Kutatap pantulan tubuhku sendiri kearah cermin yang terpajang dikamar mandi kamar Kurosaki Ichigo. Saat ini aku seperti sedang berada di antara langit dan bumi. Aku semakin ragu apakah bisa melakukan ini atau tidak. Ayolah, Kuchiki Rukia! Banyak yang menunggu diluar sana untuk uang yang kau kumpulkan hari ini! Aku tidak takut kehilangan perawanku!
"Yosh!" Kutekadkan bulat-bulat pendirianku. Kubasuh wajahku dengan air, hitung-hitung biar aura hitam yang daritadi mengelilingi hilang. Kuikat rambut hitamku keatas, yah, siapa tahu aku lebih terlihat rapi. Akhirnya, setelah sekian kalinya kumeyakinkan diri sendiri, aku mulai beranjak menghampiri tempat Ichigo kembali. Sebelum memutar kenop pintu, aku mengecek kembali penampilanku yang sudah terbalutkan handuk kimono. Dan aku masih merasa dingin karena daerah dada dan daerah wanitaku tidak pakai apapun. Setelah sudah yakin, akhirnya aku keluar.
Ah, hatiku berdebar begitu kencang saat kulihat punggung yang mempesona itu tengah menatap pemandangan kolam renang diluar jendela. Dua jari tangannya tengah mengapit satu gelas anggur merah. Ingin rasanya aku kembali masuk ke kamar mandi tapi suara Ichigo mencegahku untuk menjalankan niat yang baru saja terlintas.
"Kemarilah, Rukia," Ichigo memberikan tangannya menunggu diriku untuk menghampirinya.
Ah, senyuman maut itu menghanyutkanku. Stay calm, Rukia!
Seakan tersihir oleh kata-kata Ichigo, kakiku mulai melangkah. Kuraih tangannya yang begitu besar, begitu hangat menggenggamku. Aku masih mencoba membalas senyumannya dengan canggung.
"Kau tahu kenapa aku memilih kamar ini diantara ribuan kamar yang lain?" tanya Ichigo.
Aku menggeleng singkat.
"Karena dari sini pesona bulan lebih terlihat," violetku mengikuti arah pandangan hazel yang memperhatikan bulan yang tengah bersinar. Ah, memang benar. Disini bulan memang sangat terlihat jelas. Seakan-akan hanya beberapa meter lagi kita bisa menyentuh bulan. Terlihat sangat jelas sekali.
"Kau suka dengan sinar rembulan, Kurosaki-san? Padahal kau ini lebih mirip mentari karena rambutmu yang orange itu," aku tertawa. Rambutnya memang sangat nyentrik, rasanya tidak percaya bahwa dirinya sudah berumur 30 tahun dengan penampilannya sekarang.
Ichigo tertawa geli. "Haha… kau punya selera humor yang baik, Rukia."
Dia menarik tanganku supaya lebih mendekat kearahnya. Kedua pandangan kami kembali bertemu. Aku membatu seakan terhisap oleh pantulan kemilaunya.
"Shall we?"
Sebuah isyarat singkat yang dilayangkan bersamaan dengan sebuah usapan pelan yang membelai pipiku. Begitu lembut. Jika aku menolak, mungkinkah dia akan berhenti?
Tangannya turun membelai leherku. Dia memang berpengalaman, buktinya dia bisa tahu daerah yang bisa membuatku terangsang. Sengatan listrik seakan mengucur disekujur tubuhku. Hanya karena usapan pelannya seakan memberikan kehangatan.
Ichigo tahu tubuhku sedang bergetar. Dia memahaminya dengan tersenyum lalu menawarkan segelas anggur merah yang masih mengapit setia di kedua jarinya. "Kau mau? Ini bisa menenangkanmu."
Aku langsung meneguknya, semoga saja ini bisa membuatku tenang. Kuteguk satu gelas wine merah itu sampai habis. Aku sampai tidak peduli bagaimana rupaku saat meminum ramuan yang menghanyutkan itu. Aku bahkan tidak menyadari bahwa sisa dari wine-nya menetes di celah bibirku.
Kilatan cahaya bintang yang bersinar menemani kegiatan Ichigo yang tengah menjilati sisa wine itu dengan begitu lahapnya. Perlahan jilatan lembut itu menyuruhku untuk membuka mulut, membiarkannya untuk merasakan lebih.
Dan aku sepertinya sudah terpengaruh efek anggur merah itu. Arah lidahku berjalan sesuai yang dia perintahkan. Pelan tapi pasti, lumatan-lumatan ini mengantarku semakin mendekat kearahnya.
Kami pun terlelap dalam panasnya cumbu yang saling bertaut. Nafas yang terdengar semakin menderu mulai meminta untuk diberikan udara menghentikan pertarungan kami.
"Fuuhhh…" secara refleks aku mendesah panjang. Mengumpulkan semua oksigen dengan mukanya yang terbilang sudah menjadi abstrak.
Ichigo menarik tanganku. Dia mengajakku untuk duduk diatas ranjang masih rapi dengan balutan sprei putih bersih. Kakiku terhenti saat tangannya sudah tidak menarikku. Dia duduk diatas ranjang dan kembali menoleh kearahku, tersenyum mengajakku.
"Santai saja," Ichigo berusaha menenangkanku. "Pertama mungkin akan sakit. Tapi setelah itu kau akan baik-baik saja,"
Aku hanya mengangguk lemah disampingnya, "aku tahu…"
Senyuman hangat itu sedikit menenangkanku. Aku berusaha untuk tidak berpikir apa-apa saat Ichigo mulai menidurkan tubuhku dan menindihnya pelan. Sepertinya dia akan memulai permainannya. Kututup rapat kedua violetku, mencoba merasakan apa yang dia berikan untukku.
Pertama, Ichigo pasti akan mengecup mesra bibirku, bermain didalamnya.
Kedua, tangannya mulai membuka tali kimono yang kupakai, pasti tubuhku sudah terlihat olehnya.
Ketiga, bibirnya pindah kearah leherku, menghisap dan mengigit pelan seirama dengan kedua tangannya yang sudah mulai memijit pelan kedua bukit kembarku. Ahhh… sensasi ini membuatku melayang.
"Hmmmmhhpp…" aku mengerang pelan saat salah satu tangan Ichigo entah sejak kapan sudah berpindah kedaerah wanitaku.
Jemari tangannya mulai mencoba memasuki lubang sempit yang masih belum siap itu. Dia memasukkannya secara perlahan, namun saat dinding yang belum terbiasa dimasuki sesuatu itu mulai memasang alarm di otakku. Aku mengejang hebat saat Ichigo memaksa dua jari lainnya ikut masuk kedalam sana.
"Sa-kit…" jeritku tertahan.
Aku masih berusaha untuk tidak panik. Tapi rasa sakit yang kurasakan membuat pertahanan dari dalam tubuhku memberontak. Tidak! Rasanya sakit sekali!
Ichigo menghentikan kegiatannya sejenak saat melihatku kesakitan.
"Maaf, aku menyakitimu," dia berusaha menenangkanku dengan kecupan singkat dikeningku. "Lebih baik aku langsung saja, ini akan lebih sakit dari dua jariku, Rukia,"
Aku tahu maksud ucapannya. Sesuatu yang besar dan yang pasti lebih sakit 5 kali lipat dari kedua jari kecil itu pasti miliknya yang sudah mengeras. Dan benar saja, saat kuberanikan diri untuk melirik kearahnya, Ichigo sudah tidak terbalut satu kain pun.
Kedua kakiku sudah terbuka. Cahaya bulan yang menyusup masuk dari jendela luar seakan membantu penglihatan di kamar yang redup tersebut. Pandanganku tidak mau teralihkan dari tindakan Ichigo yang tengah mempersiapkan kejantanannya memasuki lubangku.
Saat Ichigo mulai menggesek pelan, pandangan mataku mencari-cari alasan untuk tenang. Pikiran kosong yang sengaja kusiapkan tadi sekarang dimasukin oleh rasa takut yang luar biasa. Bayangan-bayangan yang selalu menghantuiku perlahan kembali muncul. Ibu…
~ flashback ~
Ibu, apa yang kulakukan ini benar?
"Lihat, Rukia! Ibu membelikan baju untukmu! Kau pasti pantas memakai ini~!"
Ibu, apakah aku melakukan semua ini?
"Maaf yah, Rukia. Rasanya Ibu tidak bisa membahagiakanmu karena penyakit ini…"
Asal Ibu disampingku, itu sudah cukup…
"Ayahmu mempunyai hutang kepada kami! Kau tahu jaminan apa yang dia berikan? Itu adalah kau, Rukia-chan~"
Aku tidak ingin menjadi budak mereka! Seumur hidupku, aku lebih baik merendahkan diriku didepan Ichigo daripada harus menjadi pelacur mereka! Tidak akan!
"Maafkan aku, Rukia…"
~ flashback ~ end
Aku teringat akan masa lalu. Sebuah suara yang dulu selalu menyuruhku untuk menjalani kehidupan yang lebih baik. Dan tidak ada yang lebih baik selain melakukan ini!
Ketakutan yang tadi sempat menggerogotiku kini mulai kutepis dengan keyakinan yang ada dalam diriku. Aku harus hidup dalam kemewahan, tidak peduli walau hasil yang kudapatkan dengan cara kotor sekalipun. Aku harus melakukan ini semua demi diriku sendiri!
"Ichi-go…" kuberanikan diri untuk menyebut namanya, "bolehkah kupanggil begitu?" tanyaku.
Dia hanya mendekapku erat, sesekali mengecup pipiku lembut. "Tentu saja,"
Kami berdua saling mendekap begitu erat. Ichigo mencoba memasukkan miliknya dengan posisi kami yang seperti ini. Kulingkarkan kedua tanganku dilehernya, berharap rasa sakitnya akan hilang. Dan saat ujung miliknya mulai menghantam dinding yang sempit itu, lagi-lagi aku menjerit.
"AHHH!" aku tidak akan berbohong, rasanya sakit sekali. Dan semakin sakit saat Ichigo mencoba memaksa lebih masuk lagi. Dia sengaja melakukan itu supaya sakitnya cepat hilang.
Kucengkram kuat lehernya. Aku menutup rapat-rapat kedua mataku, tanpa sadar bulir-bulir air mata terjatuh pelan dari violetku. Aku masih menahan sakit. Dan saat akhirnya penyiksaan ini sudah berakhir karena pertahananku akhirnya berhasil ditembus oleh Ichigo.
Ah, dengan ini aku sangat yakin sudah tidak perawan lagi…
"Huff…" aku mencoba mengatur nafasku yang sempat tercekik.
Deyutan pelan dari dalam lubangku memijit milik Ichigo didalam. Dia masih tidak melakukan apa-apa, mungkin supaya aku tidak merasakan sakit lagi.
"Masih sakit?" tanya Ichigo pelan.
Aku hanya menggeleng.
"Boleh kugerakkan?" tanyanya lagi.
Aku hanya menggangguk lemah. Pasrah dengan apa yang akan menimpaku nanti.
Perlahan… Ichigo mulai menariknya dan memasukkannya lagi. Begitu terus, sampai merubah rasa sakit yang kuderita menjadi kenikmatan yang tidak pernah kurasakan sebelumnya.
Inikah yang namanya… seks?
Terbukti dari tubuhku yang melebur bersama dengan tubuhnya. Desahanku yang meluncur begitu seirama dengan hentakan miliknya. Dan ketika aku mulai merasakan kesenangan yang begitu menyiksaku, rasanya aku ingin laju yang dihujamkan dipercepat.
"Rukia, Rukia, Rukia…" Ichigo begitu menikmati permainannya. Aku sendiri pun hanya fokus untuk menikmatinya, "sebut namaku, Rukia." pintanya sambil mejilati wajahku.
"I-chi-AH!"
Desahanku semakin menjadi saat gerakan Ichigo berubah jadi liar. Ahhh, tangannya memaksaku untuk bergerak sesuai iramanya. Dan kami terbuai dalam kenikmatan ini. Dan saat aku hampir merasakan klimaks, Ichigo mendesis pelan. Kami berdua menjerit tertahan saat Ichigo mulai melepaskan miliknya dan langsung dihadapkan kewajahku.
"Akkhhh… Rukia~"
Aku tahu apa maksudnya, kuraih miliknya dan langsung kumasukkan ke dalam mulutku. Ichigo tengah mengeluarkan semua sarinya dimulutku. Aku mencoba meneguk pelan sari yang punya rasa aneh itu.
"Ugh," aku mengerutkan keningku. Ini pengalaman pertama kali bagiku mencicipi rasa sperma.
"Bagaimana keadaanmu?" Ichigo menarik selimut dan menutupi tubuh kami berdua, "masih sakit?"
Aku menggeleng. "Pertamanya memang sakit, tapi kebelakangnya tidak," jawabku jujur.
Ichigo tersenyum mendengar jawabanku. Dia menarikku pelan supaya bisa dia peluk.
"Kau tidak menyesal, Rukia?"
Aku masih belum menjawab. Menunggu Ichigo untuk menjelaskan pertanyaannya lebih.
"Kau tidak menyesal karena sudah melakukan ini denganku?"
Aku memutar pandanganku. Kuperhatikan lebih seksama tubuh mungil yang tadi baru terjamah tangan lain. Aku kembali berpikir. "Menyesal atau tidak, semuanya sudah terjadi," jawabku terjadi.
Ichigo tersenyum singkat lalu mengacak rambut hitamku pelan. "Kau benar,"
Kini pria tampan disebelahku tengah terlelap. Tangannya menjagaku supaya aku juga istirahat namun kedua mataku masih tidak mau mengatup. Pertanyaan dari Ichigo tadi kembali terngiang-ngiang dikepalaku. Apakah mungkin suatu saat aku akan menyesal karena sudah melakukan ini semua? Apakah mungkin hubungan kami tetap akan seperti ini ataukah berakhir di ujung jalan?
Yah… aku tidak tahu jawaban untuk pertanyaanku tadi. Akhirnya kuputuskan untuk ikut terlelap.
xXxXx
Author P.O.V
.
Mentari pagi kini menyilaukan ruangan kamar Ichigo. Rukia masih berada didalam dunia mimpinya namun kini dia tidak lagi berada didalam dekapan Ichigo karena pria itu tengah sibuk merapikan dirinya. Setelan kemeja putih dan celana bahan yang rapi sudah bertengger manis menutupi tubuh bidangnya. Rambut orange yang memang sangat nyentrik itu telah disisir rapi. Kini Ichigo tengah sibuk bergulat dengan dasi yang daritadi dia coba pasang. Ichigo memang lemah memakai dasi, makanya untuk yang satu ini pasti akan memakan waktu lama.
Akhirnya Ichigo menyelesaikan dasinya, kini penampilan tinggal disempurnakan dengan jas hitam yang rapi. Setelah mengecek penampilannya, dia kembali melihat kearah atas ranjang. Mengamati sosok mungil yang masih terbuai dalam kenyamanan ranjang empuk. Sesaat, senyuman tipis tersungging diwajahnya. Rukia, gadis yang menarik baginya.
Sebelum keluar, Ichigo menghampiri tempat Rukia, membelai rambut wanita barunya dan mengecupnya pelan. Kemudian Ichigo menghilang dari balik pintu.
.
Diluar…
.
Renji tengah menunggu ditengah lorong yang menghubungkan kamar Ichigo yang tadi dipakainya bercinta dengan Rukia. Saat Ichigo sudah keluar dari pintu tersebut barulah Renji menghampiri majikannya.
"Maafkan aku, Kurosaki-sama," ucap Renji menyesal, "ternyata Ichimaru-sama meminta untuk bertemu dengan Anda hari ini jam 9 dan dia tidak mau menunda lagi." sambungnya menjelaskan.
Sesaat Ichigo mendecak kesal. "Cih! Si rubah brengsek itu! Berani-beraninya dia mengatur jadwalku," sungutnya sedikit geram.
"Jam 1 siang nanti anda harus menghadiri rapat dengan Ukitake-sama tentang masalah harga saham yang sedang menurun," jelas Renji lagi mengulang jadwal Ichigo hari ini.
Renji merupakan pengawal pribadi sekaligus manager yang bertugas untuk mengingatkan Ichigo tentang kegiatannya bekerja. Karena kalau mau jujur, Ichigo paling malas kalau harus disuruh datang menghadiri rapat, bertemu dengan orang-orang, dan tersenyum ramah kepada mereka. Sebuah topeng yang memang sudah tercipta dan melekat dengan imagenya. Kurosaki Ichigo, pewaris tahta Kurosaki Company yang menguasai peran penting dalam pergolakan Jepang sekaligus wakil langsung dari Kurosaki Isshin yang tengah mengurusi kerjasama perusahaan mereka dengan pemerintah Amerika.
Uang bukan hal yang sulit didapatkan darinya. Kekayaan, harta, kemewahan, bahkan sampai wanita pun bisa Ichigo dapatkan. Ya, karena pria itu mempunyai segalanya. Bahkan cinta dari 3 wanita sekaligus.
"Ohayou, Ichigo~" sebuah sapaan manis memalingkan pandangan Ichigo dan juga Renji. Seorang wanita cantik tengah menyapanya. Balutan gaun hijau muda selaras dengan rambut panjangnya yang tergerai bergelombang panjang. Tosca yang memantul terlihat cantik di pantulan hazel Ichigo.
Wanita itu menghampiri Ichigo dan langsung memeluknya mesra. "Sudah mau berangkat?"
"Ohayou, Neil," sapa Ichigo sambil mengecup pipi wanita bernama Neil. "Aku harus bertemu dengan Gin pagi ini," sambugnya.
"Sayang sekali, padahal aku ingin kau menemaniku~" rengek Neil manja.
"Maaf, hari ini aku benar-benar sangat sibuk sampai nanti malam. Kau bisa meminta Nnoitora mengantarmu," ucap Ichigo.
"Tidak usah, aku akan mengajak Riruka saja." kata Neil akhirnya.
"Begitu?"
Ichigo mulai beranjak mengitari lorong kodidor rumahnya yang luas. Neil tengah bergalut disampingnya, mengiringi kepergiannya dengan perhatian yang lebih mesra. Karena Neil merupakan 'pacar' pertama Ichigo dan wanita yang paling lama menjalin hubungan dengan Ichigo.
Saat mereka sudah berada di pintu luar. Sebuah mobil hitam yang begitu mewah tengah menunggu Ichigo untuk dinaiki. Sang supir, Iba Tetsuzaemon, tengah membukakan pintu untuk pria berambut jeruk itu. Sebelum naik, Ichigo berpamitan kepada Neil.
"Aku pergi dulu, Neil. Nanti hati-hati ya," pesannya singkat.
"Itterasshai, Ichigo~" Neil mengecup mesra bibir Ichigo lalu melambaikan tangannya mengantarkan kepergian mobil hitam tersebut.
Renji tidak ikut dengan Ichigo, karena sebelumnya Ichigo sudah berpesan kepadanya untuk mengantarkan Rukia pulang jika dia sudah bangun.
"Nee, nee, Renji," Neil menoleh kearah Renji. "Aku dengar Ichigo sudah dapat 'pacar' lagi. Orangnya seperti apa?" tanyanya.
Dia dengar berita ini dari Riruka, 'pacar' kedua Ichigo, sekaligus orang yang sering tahu tentang kabar tentang 'pacar-pacar' Ichigo yang lain. Sebenarnya sih, waktu itu, saat Rukia bertemu dengan Ichigo untuk pertama kalinya, Riruka tidak sengaja melihat mereka. Makanya dia bisa menebak kalau gadis itu akan menjadi wanita Ichigo.
"Anda bisa bertemu dengannya nanti, Neil-sama." jawab Renji singkat. "Kalau begitu aku permisi," Renji membungkuk hormat dan berlalu meninggalkan Neil seorang diri yang masih berpose mikir.
"Hmmm… aku penasaran, seperti apa sosok Kuchiki Rukia~" siulan pelan mengiringi langkahnya kembali masuk.
Kediaman Kurosaki pagi itu. Tanpa disadari Rukia, sepertinya dia harus berhadapan dengan wanita-wanita lain yang berkedudukan sama dengannya…
.
~ TBC ~
.
Wahahahaha... Tau deh... bingung aye mau jelasin chapter ini...
Icchy kelaperan tingkat tinggi... n chapter 3 ini dirombak total gara2 ada LEMONNYA!
Aslinya cerita dilaptop tuh rate T, karena disini berubah jadi Rate M, apa boleh buat deh...
Ga mau kasih yang HOT, Icchy bosen makanya ganti jadi COLD *geje =))
Ya sudahlah, Icchy ga tenang pas bikin lemonnya gara2 disamping yg duduk tuh cowok, n sering ngelirik kearah laptop *lagi diperpus kampus* =))
Maafkan Icchy karena ga sempet balas review kalian~ ~
Sekian, REVIEW ONEGAISHIMASU~! :D
