Disclaimer: Naruto hanya milik Masashi Kishimoto semata
Understanding chapter 3
Setelah percakapan itu kami segera pulang. Sai meminta agar waktu pengobatan dilaksanakan setelah dirinya secara resmi 'lepas' dari jabatannya sebagai ketua redaksi majalah sekolah. Yah, sebulan lagi majalah sekolah kami akan dirilis. Pembagian majalah sekolah setiap satu semester sekali. dan edisi kali ini 'dilengkapi' Sai sebagai ketua redaksinya. Alasannya cukup sederhana…
"Aku tidak ingin membebani wakil dan anak buahku. Terutama mereka yang baru pertama kali jadi redaksi."
"Kan kau sudah menjelaskan pada mereka. Menemani mereka mengerjakan artikel tiap pulang sekolah hingga petang. Belum lagi dengan berbagai macam bantuan yang kauberikan. Kurang apa lagi?" tanyaku.
"Aku tidak tega melepas mereka."
"Ow….. kau ini benar-benar memanjakan mereka. Padahal waktu kau masih jadi 'Kouhai', kau bersama-sama teman satu redaksi pada dilepas. Ketua-nya malah Cuma minta hasil jadi."
"Karena itu, aku tidak ingin bersikap seperti mereka. Aku juga berharap jika para Kouhai sudah jadi Senpai, mereka tidak melepas Kouhai mereka yang belum tahu arah."
"Mulia sekali tujuanmu."
"Tidak juga. Lagian, kalau kulepas tanpa bimbingan kurasa majalah semester ini bakalan hancur."
"Ada udang di balik batu oh tidak, ada modus dibalik kemuliaanmu," komentarku. Dia hanya tertawa.
Percakapan itu masih terngiang di kepalaku. Untung saja Sai menepuk pundakku saat ini. kalau tidak, mungkin saja bis yang kutumpangi ini akan berjalan terus tanpa tahu ada seorang siswa yang 'kelewat tujuan'.
Kami segera berjalan santai memasuki sekolah. Kenapa santai?
Karena ada Sai yang selalu jauh dari apa yang namanya 'buku absen BK'. Sedangkan aku…
Yah, mungkin terlambat sekitar lima kali lagi aku bakalan menjadi 'artis buku absen BK'.
Kami segera memasuki kelas masing-masing. Kelasku adalah sepuluh empat, sedangkan Sai sepuluh lima. Aku tentu saja masuk lebih dulu dan dia hanya berjalan lurus. Untung saja hari ini tidak ada upacara. Dan jika tidak ada upacara berarti jam pulang akan lebih awal. Aku bisa segera pulang dan mengerjakan tugas-tugas ekonomi-ku yang seabrek di rumah.
Waktu berlalu dengan cepat.
Dan sekarang adalah pelajaran dari Kakashi-sensei. Jika jam-jam terakhir seperti ini maka dia tidak akan terlambat. Asal kalian tahu, Kakashi-sensei adalah wali kelas tetangga alias kelas sepuluh lima.
Aku membaringkan kepalaku di atas meja. Pelajaran di jam-jam terakhir memang menyusahkan. Selalu membuat ngantuk. Kebetulan dalam rolling tempat duduk, posisiku berada di bagian pinggir dekat jendela nomor dua dari belakang. Aku akan duduk disini hingga minggu depan.
Tiba-tiba perasaanku tidak enak. Entah kenapa aku kepikiran Sai. kalau sudah seperti ini, kurasa ada sesuatu yang akan terjadi. Aku segera ijin ke toilet.
Aku berpura-pura berjalan menuju ke toilet yang arahnya sama dengan tujuan asliku : kelas sepuluh lima. Aku melirik sebentar di balik kaca dan melihat Sai beserta teman satu kelompoknya yang sedang presentasi. Aku menghela napas lega. Namun tiba-tiba…..
Brukkk…..
Kami-sama!
Sai tiba-tiba pingsan. Mungkin leukositnya benar-benar meningkat. Aku segera berlari namun kuurungkan niatku ketika Naruto bergegas maju bersama teman-temannya yang lain dan segera berusaha untuk membawanya ke ruang kesehatan.
Aku sangat bersyukur mengetahui masih ada yang peduli dengan Sai. aku segera berjalan di belakang siswa-siswa yang membawa Sai ke ruang kesehatan. Dalam 'perjalanan', aku melihat mereka berkerumun dan akhirnya bubar juga.
Aku menoleh ke belakang dan menemukan pemandangan yang membuatku ingin membunuh seseorang.
"Hei, kenapa kau senyum-senyum?"
"Setidaknya tunjukkan rasa simpatimu."
"Alah, apaling dia hanya berbohong. Nanti dia juga bangun sendiri."
Terlihat senyum dan wajah bahagia yang muncul di di wajah mereka. Kurasa karena…
BANGSAT!
Setidaknya jangan tunjukkan wajah Akuman di depanku. Ah tidak, aku cukup bersyukur Sai tidak melihat ini. sudah cukup ….
Aku segera berjalan dan memasuki ruang kesehatan. Ketika itu juga bel pulang berbunyi. disana aku bisa melihat Sai yang sedang duduk di atas tempat tidur. Wajahnya memang agak pucat. Di sampingnya ada Naruto dan Sora yang menungguinya. Yang lain? Mereka hanya peduli pada jam pulang.
"Sai, aku bawa motor. Kuantar ne?" kata Sora. Tanpa sadar aku tersenyum.
"Tidak usah. Ini sudah diluar tanggung jawabmu. Kau bisa pulang sekarang. Kau mau diboikot teman-temanmu? Yang kukhawatirkan adalah jabatanmu sebagai ketua kelas," ucap Sai dengan senyum. Kurasa aku mulai memahami konflik internal kelas sepuluh lima.
"Ini bukan sebagai kewajibanku! Aku juga pernah berutang budi denganmu. Lagipula, kau berbeda dari yang mereka pikirkan," ucap Sora. Arigatou Kami-sama. Ada satu orang lagi yang mau mengerti.
"Ehem!"
Aku yang berada dalam posisi di depan pintu segera menoleh ke belakang dan mendapati Kakashi-sensei yang berdiri di belakangku. Aku hanya tersenyum dan berjalan menuju ke tempat tidur Sai bersama Kakashi-sensei.
Setelah perbincangan lama akhirnya mereka mau melepaskan Sai untuk pulang sendiri bersamaku. Kakashi-sensei pun setuju. Mengingat hubunganku dengan Sai serta Naruto yang rencananya akan pulang naik bis bersama.
"Sai, kau yakin?" Tanya Kakashi-sensei. Sai mengangguk.
"Aku sudah tidak apa-apa kok Sensei. Lihat, aku sudah bisa berjalan sendiri dengan normal," ucap Sai seraya berjalan menuju ke sebuah meja yang bagian atasnya terdapat segelas teh. Kurasa itu memang dibuatkan untuk Sai. Sai segera meminumnya hingga habis. Yah, untuk menghargai yang membuat.
Kami bertiga segera masuk ke kelas masing-masing untuk mengambil tas. Setelah itu kami menunggu bus di dekat gerbang sekolah. Tiba-tiba saja…..
"Aku menemukanmu…"
"Hwa….."
Suara dengan aksen gothic dan teriakan dari Naruto cukup membuat kepalaku mau pecah. Sedangkan Sai hanya tertawa. Ternyata suara berunsur gothic itu berasal dari Shino. Siswa kelas sepuluh satu yang merupakan bagian dari peliput majalah sekolah. Pasti dia kemari karena…..
"Sai, aku minta pendapatmu. Menurutmu foto yang bagus untuk dipajang di artikel ini yang mana?" ucapnya seraya menunjukkan dua lembar kertas pada Sai. setelah menimbang-nimbang, akhirnya Sai mengajak Shino untuk berdiskusi di dalam pos satpam.
"Jangan kelamaan ya Sai! Nanti ketinggalan bus," ucap Naruto. Sai hanya melambaikan tangan dari arah pos satpam. Aku sendiri sibuk bersandar di gerbang sekolah. Dan akhirnya bus yang sudah di tunggu-tunggu telah tiba. Naruto sibuk menarik-narik Sai dan aku sendiri segera masuk.
.
.
.
.
Malam harinya….
Malam ini aku berniat untuk belajar bersama dengan Sai. yah, sebenarnya Cuma mau konsultasi warna apa yang harus kugunakan untuk mewarnai poster. Namun ujung-ujungnya dia ikut-ikutan membantu. Taruhan, besok pasti akan muncul sebuah pertanyaan: 'background ini sama ini kok agak beda ya?'
Padahal aku memakai warna yang sama!
"Ne Sasuke. Apa masih ada waktu?" Tanya Sai tiba-tiba. Aku terkejut. Pasti maksudnya…
"Waktu buat apa?"
"Kau tahu maksudku."
"Kurasa ada yang sudah insyaf tuh. Lebih baik sedikit daripada tidak ada kan? Lagian kau sudah memegang si ketua," ucapku. Dia hanya menghela napas.
"Dia bukan sentral. Apa aku perlu membunuh mereka ya?" ucap Sai.
"Heh! Kau mau masuk penjara?" ucapku gelagapan. Aku tak habis pikir bagaimana pikiran Sai saat ini. mungkin saja Sai sudah memendam ini sejak dulu. Sai, kau sekarang benar-benar sebuah bom waktu!
"Aku sudah muak! Aku sudah menjaga sikapku dan ucapanku! Dan mereka!"
"Pasti ada jalan lain Sai," ucapku. Aku sangat takut jika Sai kembali seperti dulu. Seseorang yang tidak bisa menjaga omongannya. Sekali ngomong pasti langsung menusuk.
Aku tidak mau Sai kembali….
"Sora seperti itu karena dia adalah ketua kelas. Jadi itu memang bisa dibilang sebagai kewajibannya kepada sang wakil," ucap sai.
"He? Kau seorang wakil?"
"Baru tahu? Kau pikir kenapa aku sering mengikuti technical meeting perwakilan kelas?"
"Kupikir kau itu MPK."
"MPK kelasku ya begitulah. Para wanita jalang yang suka bersolek tak mau melaksanakan kewajiban namun jika masalah hak langsung berebut bak anjing kelaparan," ucap Sai tanpa ekspresi.
"Cukup! Sudah cukup! Aku mengerti!"
Aku tahu bagaimana perasaanmu Sai. aku tahu…
"Kau tidak berkata seperti ini kan di sekolah? Hm?"
Sai hanya menggeleng. aku tersenyum senang.
"Bagaimana kalau kita masak mie ramen instan? Tou-san dan Kaa-san sudah tidur. Sambil nunggu kita nonton film horror," ucapku. Sai sangat suka dengan yang namanya mie ramen. Kurasa duduk sebangku dengan Naruto-lah penyebabnya.
Dddrrrtttt…dddrrttt
Aku meraih ponsel-ku yang berada di dekat meja. Kulihat sebuah pesan singkat yang baru masuk.
'panitia bazar dies natalis SMA Konoha harap masuk pukul enam pagi untuk mengurusi masalah bazar besok malam'
Aku baru ingat kalau bazar akan diadakan besok malam. Dan sekarang kami sedang sibuk dengan cup ramen yang telah berisi air panas. Kami segera duduk tenang di depan layar televise sambil menyaksikan film horror 'Stay alive'.
.
.
.
.
.
Yah, berterima kasihlah pada 'acara' tadi malam. Sekarang aku sedang bergegas (berlari mungkin?) menuju ke ruang OSIS yang telah dipenuhi oleh para panitia. Namun beberapa kalimat yang terlontar dari teman sekelas Sai membuatku melambatkan langkahku dan berpura-pura sedang mengutak-atik ponselku. Padahal aku dari tadi hanya membuka tutup kunci dan menu utama.
'Hey aku punya teman yang dulunya satu sekolah sama Sai. dulu dia pernah pura-pura pingsan pas mau mengerjakan soal di depan kelas.'
'Jangan-jangan Sai juga…..'
'lihat saja. Masak habis pingsan langsung bangun lagi dan anehnya tidak ada apa-apa tuh.'
'Kurasa begitu.'
Fiuh… sebegitukah Sai berani membohongi mereka. Andaikan mereka tahu kalau tadi malam Sai langsung drop dan sekarang tidak masuk sekolah? Dan mulai sekarang Sai harus mengikuti pengobatan setelah mendapatkan paksaan dari beberapa orang termasuk aku sendiri.
"Hoi Teme! Ngapain kau enak-enakan disitu? Orang panitia pada ngumpul gara-gara defisit ini malah nyante ga jelas begitu."
Teriakan Naruto membuat beberapa orang yang memperbincangkan Sai menoleh ke arahku. Untung aku sudah memasang Walkman dan bertingkah tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Naruto.
"Yah, ternyata pake headset! Hoi!"
"Woi! Sakit tahu! Kau mau bikin aku budhek apa!" teriakku tak kalah keras.
"Habisnya kau diteriakin enggak dengar sih!"
Kami berdua segera berlalu menuju ke ruang OSIS. Aku masih bersikap biasanya seolah tidak terjadi apa-apa. Karena aku tidak ingin mengundang masalah.
.
.
.
.
.
"Hoi Teme! Sound-nya gimana? Bentar lagi host-nya mau pentas," ucap Naruto. aku yang sedang santai di atas panggung bersama panitia lain hanya mengangguk. Sebentar lagi adalah pembukaan bazar dan para 'kuli dadakan' sedang 'teler'. Bagaimana tidak ? kami berkerja sejak istirahat pertama hingga pukul setengah enam.
Jepret!
Aku segera melindungi mataku dari blitz kamera. Dan pelakunya adalah Shino. Melihat Shino yang merupakan anggota redaksi mengingatkanku pada Sai. Andaikan dia ada disini…..
"Hoi Shino! Masak aku enggak difoto sih?" Tanya Kiba. Shino hanya tersenyum. Naruto ikut bergabung dengan yang lain. Dan acara narsis pun dimulai.
Jepret!
"Makasih ya Shino!" ucap para pelaku narsis *aku hanya duduk-duduk menghadap ke arah lain*.
"Buat apa?" Tanya Shino datar. Yang lain hanya sweatdrop.
"Ya buat potretnya."
"Siapa bilang aku motret kalian? Aku motret mereka yang lagi gotong-gotong drum di belakang kalian," ucap shino. Posisi drum memang agak tinggi dari kami. Di tambah tinggi dari panggung ini sendiri, memotret dari bawah memang cukup kelihatan.
Dan terjadilah aksi kejar-kejaran antara panitia dan seksi dokumentasi.
"Hei panitia kumpul!"
.
.
.
.
.
Setelah pembukaan bazar, aku dan Kiba berjalan berkeliling stan-stan dari kelas sepuluh hingga dua belas. Barang-barang yang dijual pun cukup menarik. Meskipun bisa dibilang mahal juga. Sebenarnya aku mau segera pulang. Namun apa daya, panitia harus tetap di 'TKP' hingga acara selesai.
Tapi kalau dipikir-pikir, buat apa aku pulang? Sai sedang di rumah sakit dan kedua orang tuaku pasti sedang bergantian menjaganya. Kulihat Naruto yang berjalan ke arahku.
"Kudengar Sai tidak masuk. Dia anemia lagi?" Tanya Naruto.
"Tidak," jawabku singkat.
"Lalu? Perasaanku tidak enak sejak kemarin. Dia sering mengeluh pusing dan ketika kuantar tidak mau. Alesannya sebentar lagi jam pulang," terang Naruto. Aku menghela napas.
"Mereka bahkan tidak perduli. Ngapain kau peduli?" ucapku tiba-tiba tanpa sadar. Dan saat itu juga aku menunjuk stan kelas Naruto. Naruto terkejut dan segera menguasai diri.
"Aku khawatir. Kami sudah sekelas sejak lama. Apa salah kalau aku peduli? Katakan padaku Sasuke," ucapnya seraya berjalan menjauh dari keramaian. Aku segera mengikutinya.
Dan aku menjelaskan semuanya pada Naruto.
"Tak kusangka ternyata…" ucap Naruto dengan nada kecewa. Kurasa dia kecewa karena tidak bisa menyakinkan teman-teman sekelasnya itu. Setelah melewati obrolan panjang, kami segera bergegas menuju ke ruang panitia untuk briefing mengenai bazar yang akan diakhiri besok malam.
.
.
.
.
Setelah 'patroli' di sekitar sekolah, akhirnya aku hanya bisa menghela napas lega karena tugasku dan para panitia lain telah berakhir. Kami sudah mengerahkan seluruh tenaga terakhir kami hanya untuk memberi tahu para 'penghuni' sekolah untuk segera meninggalkan sekolah karena batas waktu bazar adalah pukul enam hingga Sembilan malam.
Kulirik jam yang melingkar di pergelangan tanganku. Sudah pukul setengah sepuluh malam. Fiuh, waktu memang berjalan sangat cepat. Belum lagi setelah ini aku harus membarengi panitia yang cewek dikarenakan alasan keamanan. Untung saja Sakura bukan bagian dari panitia. Kalau iya, mungkin bakalan terjadi perang dunia ketiga saat rapat penutupan tadi.
Setelah melalui perjalanan yang melelahkan, akhirnya aku berhasil sampai di rumah. Suasana rumah sangatlah sepi. Kedua orang tuaku berada di rumah sakit dan akhirnya aku sendirian di sini. Aku berjalan menuju ke arah kamar. Ketika membuka pintu, pandanganku tertarik pada pintu kamar yang tepat berada di sampingku.
Mungkin jam segini kau belum tidur, gumamku. Kurasa saat ini kau sedang membohongi Tou-san dan Kaa-san yang percaya kalau kau sedang tidur. Kurasa kalau bukan Tou-san yang angkat bicara pasti kau sedang berdebat dengan Kaa-san yang terus menyuruhmu untuk tidur.
Ah, kau mengingatkanku mengenai kemah tahun lalu. Mengenai regumu yang termasuk regu paling tanggap. Tentu saja! Disaat yang lain sedang molor dan terdengar suara panggilan pinru,kau sebagai pinru segera bangkit dan berkumpul lebih awal. Regu yang lain memberikan applause. Padahal, kau tidak tidur semalaman kan? Kau bukan orang yang 'mudah tidur' di tempat asing.
Pagi harinya…
Aku segera mengenakan sepatuku. Kulirik jam dinding yang masih menunjukkan pukul enam pagi. Kurasa aku harus berterimakasih pada Azuma-sensei yang memberikan 4 hari mulai dari kemarin sebagai sebuah 'vacum day'. Yah, itu karena usul dari teman-teman. Bagaimana bisa focus di pelajaran jika kita harus mengurusi bazar dan sebaliknya?
Aku hanya memanaskan air dan menuangkannya ke dalam cup ramen. Aku masih sibuk menyiapkan 'seragam' yang kugunakan untuk patroli nanti malam sambil menunggu mie ramennya matang. Setelah itu aku memakannya dengan batas waktu lima menit. Maklum, kebiasaan diklat.
Saat ini aku sedang menaiki bus dan berhenti di sebuah rumah sakit. Jalan menuju ke sekolah dan rumah sakit memang searah dan tempat rumah sakit memang 'sebelum' sekolah. Aku mendongak ke atas dan mendapati seorang anak laki-laki sedang bercengkrama dengan seorang siswi berseragam identitas sekolahku dari balik kaca kamar lantai dua. Siswi itu berambut pirang pucat.
Pirang pucat?
Yah, pasti itu Ino.
Aku melambatkan langkahku. Daripada menjadi orang ketiga pengganggu suasana?
Dan sampailah di depan pintu kamar ini. samar-samar aku mendengar pembicaraan dari luar.
"Sai… boleh aku minta sesuatu?"
"Hm?"
"Cium aku."
Cup!
"Udah."
"Bukan itu maksudku!"
"Apa lagi? Kan sudah kucium di pipi. Oh, kau mau di dahi?"
"Disini!"
"Maaf, aku bukan pencium yang hebat kalau masalah itu."
"Kuajari!"
"He? Ternyata kau pernah…..hehehe gomen. Aku tidak bisa kalau disitu."
"Kenapa? Aku habis makan ramen lho tadi pagi. Kau tidak mau mencicipi? Hm?"
"Sejak kapan kau mau makan ramen?"
"Memangnya tidak boleh?"
"Masalahnya aku baru saja minum obat. Dan hah…. Mulutku bau obat."
Sejak kapan aku suka menjadi penguping begini?
Cklek!
"Sasuke?"ucap Ino terkejut. Posisinya sedang duduk di kursi yang terletak di samping tempat tidur Sai. Sai sendiri sedang sibuk membaca buku paket fisika. Sudah sakit masih saja mikir pelajaran.
"Ino?" ucapku pura-pura terkejut. Padahal aku bisa melihat mereka berdua dari luar tadi.
"Kau tidak sekolah?" Tanya Sai. Aku menggeleng. sai terkejut. Aku segera menjelaskan semuanya.
"Aku ke sekolah jam delapan atau setengah Sembilan nanti. Kan lagi vacum," ucapku. Sai hanya mengangguk-angguk.
"Kok tujuanmu sama denganku sih?" komentar Ino. Aku hanya menaikkan bahuku. Setelah itu kami bercengkrama hingga kedua orang tuaku datang dari kafe rumah sakit. Setelah itu aku dan Ino bergegas menuju ke sekolah.
Di lorong rumah sakit Ino mengajakku untuk duduk di pinggiran. Di sana memang ada banyak tempat duduk.
"Tadi malam aku dengar dari Naruto kalau Sai sudah parah. Apa itu benar?" tanyanya. Kurasa hubungan kekerabatan antara Ino dan Naruto membuat Ino tahu mengenai semua ini. Aku mengangguk. Ino hanya menunduk. Menatap ke arah rok-nya.
"Dia masih bisa sembuh kan?"
"Bagaimana kau berpendapat seperti itu?"
"Karena yang aku dengar jika penyakit itu datang untuk kedua kalinya, maka penderita tidak tertolong lagi."
Dia masih menunduk. Kurasa dia sedang menahan tangis. Aku segera mengeluarkan sebuah sapu tangan dan memberikan sapu tangan itu padanya. Dia menoleh ke arahku dengan pandangan yang sulit diartikan. Mungkin karena warna sapu tangan itu adalah pink.
"Itu punya Sakura. Terselip waktu dia pinjam tas kempingku waktu dia berkemah di puncak tiga bulan lalu," terangku. Dia hanya kembali menatap rok-nya sambil mengusapkan sapu tangan itu di wajahnya. namun tiba-tiba air matanya keluar lebih banyak. Aku pun panic. Orang –orang yang lewat mulai memandangku dengan tatapan aneh. Sial!
"Sudah, jangan menangis. Malu dilihat orang," ucapku. Dia menyeka air matanya dan tersenyum.
"Gomen. Aku Cuma teringat saat aku gagal di final olimpiade. Waktu itu aku hampir menangis dan Sai yang menenangkanku," ucapnya. Aku mulai penasaran.
"Awalnya dia berkata 'kau terlihat sangat jelek ketika menangis. Membuat yang punya jadi malu punya pacar seperti itu'. wajahnya pun tanpa ekspresi," ucapnya.
"Lalu kau langsung diam begitu?"
"Tidak. Aku mulai berlinang air mata. Sai mulai panic. Dan kau tahu apa yang dia katakan selanjutnya?"
"Hm?"
"Apa yang dia katakan sama persis dengan apa yang kau katakan tadi."
Aku tersenyum. Padahal aku melakukannya secara spontan. Aku segera bangkit dari tempat duduk dan mengajak ino untuk segera berangkat ke sekolah.
.
.
.
.
.
To be continued…
Author's note:
Gomen ceritanya masih datar. Soalnya ini masih pendinginan. Sebentar lagi bakalan pembakaran (?).
Terakhir…. Review please….
