Lost in Love

~Special chapter~

Collab with IsakaRuuVenesia..

Summary : Naruto Uzumaki Namikaze baru saja kembali ke Jepang dan dia masuk ke Konoha Gakuen. Bagaimanakah kehidupannya selama di sekolah ketika murid paling popular menyukainya dan dia menjadi orang yang paling di benci oleh seluruh murid perempuan? AU, OOC, Yaoi. Don't like BL, don't read!

Disclaimer: I don't own the series Naruto.

Pairing: SasuNaru, NejiGaa, KibaHina, ShikaTema, ETC.

Rating : T for now

Genre : Romance dan Drama

Warning! : YAOI, Shounen-ai, BL!

Don't like, don't read

Here The Story:

"Naruto" – Bicara

'Naruto' – Pikiran

Naruto – Flashback

Chapter 3 "The problem Arise"

Pagi itu, Naruto terbangun dari mimpi yang sangat menganggu pikirannya dengan masalah dengan bagian bawah tubuhnya. (AN: Naruto mimpi basah! ^^ hehe)

"Aku butuh Cold shower yang lama.." kata Naruto.

Sasuke.

Di saat yang sama, pada kediaman Uchiha, Sasuke terbangun dari mimpi paling indah sekaligus paling aneh. Betapa tidak, dia memimpikan si anak baru tengah berML ria dengan dirinya (AN: sweetdrop). Dia mengambil posisi duduk di kasurnya kemudian merenung sebentar, 'bagaimana mungkin aku bisa memimpikannya sedangkan mengenalnya saja baru kemarin?'

Dia menengadah ke jam weker yang terletak di sebelah kasurnya. Waktu menunjukkan pukul setengah lima pagi—terlalu pagi untuknya bangun. Pikirannya melayang, dia butuh sesuatu untuk membuatnya agak tenang setelah bangun dari mimpi yang bisa dibilang aneh. Dia berjalan dari kasurnya kemudian membuka sebuah kotak panjang yang berada di meja belajarnya. Dia membuka kotak tersebut dan mengambil sebuah biola yang ukurannya terbilang kecil itu.

Mozart Moonlight Sonata menjadi lagu pilihannya untuk pagi itu. Dia melantunkan lagu itu dengan lembut sambil menutup kedua matanya. Samar-samar bayangan si anak baru muncul dalam pikirannya…

Aku merindukkan dirinya.

Naruto

'Damn! Mimpi apa itu? What's gonna happen to me? Arghhh.' Naruto tidak berhenti mengumpat sedari tadi.

Dia duduk di lantai kamar mandi lalu menikmati guyuran cold shower-nya selama beberapa saat. Setelah itu dia bangkit, lalu mematikan keran shower-nya. Dia meraih kimono putih yang menggantung di gantungan kamar mandinya, lalu keluar dari sana.

Pakaian yang disediakannya untuk dipakai hari ini tidak digubrisnya. Dia memilih untuk duduk di kasur lalu meraih guling kesayangannya.

Dia terdiam lalu melirik selangkangannya (AN: nosebleed) dan terus bertanya-tanya tentang ketidakwajaran mimpinya tadi. Dia memeluk erat gulingnya. Dia bisa merasakan tubuhnya agak bergetar, mimpi tadi benar-benar aneh, terlalu aneh. Dia sedang ber-ML dengan seseorang yang bahkan tidak dia ketahui siapa.

"Arrgghhh! Kenapa aku tak bisa melupakan mimpi bodoh itu?" teriak Naruto kesal. Ia melempar bantal yang dipegangnya sekuat tenaga dan tepat mengenai wajah Iruka yang baru saja membuka pintu.

"Naruto-samaaaaaaa. APA YANG ANDA LAKUKAN?" Teriak Iruka marah, sedangkan Naruto hanya meringis cengengesan.

"Ouppssii?"

%-%-%

Kediaman Uchiha…

Sasuke yang baru saja masuk ruang makan kaget melihat Itachi. "Itachi-nii?" kata Sasuke tak percaya. Dia duduk dihadapan kakaknya. Suasana menjadi hening dan temperature ruangan mulai turun. Dia memandang Itachi dengan pandangan dingin. (AN: -_-)

"Good morning, otouto." Sapa Itachi ramah. Dia mencoba mencairkan suasana yang dingin di antara mereka.

'Apa yang dia inginkan dariku?' pikir Sasuke curiga. Sejak kakaknya memutuskan untuk tinggal sendiri, hubungan mereka menjadi buruk. "Morning." Balasnya dengan nada datar.

Suasana kembali hening. Itachi sama sekali tak tahu harus berkata apa sedang Sasuke mengabaikan kehadirannya. 'Sigh.. Sampai kapan dia akan terus membenciku?' pikirnya. Mereka berdua makan dalam keheningan.

"Kenapa kau pulang?" Tanya Sasuke tiba-tiba.

"Apa maksudmu?"

"Kau jarang pulang sejak ayah membelikanmu apartement sendiri. Kenapa pulang sekarang?"

Itachi terdiam. "Apa tak boleh aku pulang untuk mengunjungi my baby brother?" balasnya dengan nada yang lembut dan senyum tulus.

Sasuke kaget mendengar jawaban dari Itachi. Setelah beberapa saat, wajahnya memerah. "Jangan panggil aku seperti itu!" katanya.

Senyum Itachi semakin melebar melihat reaksi adiknya. "Masih merasa malu ku panggil begitu?" tanyanya dengan nada mengoda.

Wajah Sasuke semakin memerah, mendengar kata-kata kakaknya. "I'm out of here!" katanya. Dia merasa sangat malu mendengar Itachi mengodanya. Dia segera pergi meningggalkan Itachi yang hanya tertawa melihat reaksinya.

'Haha… Dia masih tetap gampang digoda.'

%-%-%

Konoha Gakuen…

Sasuke Baru keluar dari mobilnya ketika dia melihat Naruto berjalan masuk gedung. Melihatnya, wajahnya menjadi panas dan pikirannya kembali dipenuhi oleh mimpinya. 'Ahh… Aku ingin mendengarnya meneriakkan namaku ketika…'

"SASUKE-SAMA!" panggil seseorang, membuyarkan khayalannya. Dia berbalik untuk melihat siapa yang memanggilnya. Beberapa meter di belakangnya, dia dapat melihat Sakura serta Ino melambaikan tangan.

"hn.." hanya itu yang keluar dari mulut Sasuke. Ekspresi wajahnya tetap datar dan dia segera berjalan pergi, tanpa menghiraukan panggilan dari Sakura dan Ino.

Di loker sekolah, Gaara serta Neji menghampiri Sasuke. "Pagi, Sasuke."

"Pagi." Balas Sasuke dengan nada yang datar tanpa ekspresi. "Mana yang lain?"

"Oh, Kiba dan Hinata sudah lebih dulu. Dan Shikamaru… dia sedang bersantai di taman sekolah. By the way, mana fangirlmu yang menjengkelkan itu?" Tanya Neji.

"Tak tahu. Aku sudah meninggalkannya entah dimana." Kata Sasuke.

Tiba-tiba dia kembali melihat Naruto. Dia sedang membuka dan mengeluarkan beberapa barang dari lokernya. Melihat Naruto membuat wajahnya kembali memanas dan dadanya berdebar-debar.

'Arg.. kenapa aku merasa seperti ini bila berdekatan dengannya?' pikir Sasuke jengkel. Dia mencoba untuk menenangkan diri sebelum menghampiri Naruto.

Gaara dan Neji terdiam melihat perilaku Sasuke. "Apa yang terjadi?" Tanya Gaara pada Neji. "Mataku tak salah, bukan? Sasuke Uchiha menghampiri seseorang?"

"Yeah." Kata Neji. Mereka hanya memandang satu sama lain dengan bingung kemudian memandang Sasuke.

Sasuke

Oke, tenangkan diri. Kata Sasuke pada dirinya sendiri. Dadanya semakin berdebar-debar dan wajahnya memanas. Kau harus bisa menyapanya.

"Uzumaki-san!" panggil Sasuke. Walaupun dari luar dia kelihatanya biasa saja, dalam hatinya dia sangat gugup. Apalagi di tambah dengan mimpinya yang tak bisa ia lupakan.

Naruto mengerakkan kepalanya dan memandang Sasuke. Mata birunya memandang langung dengan mata hitam Sasuke.

Matanya sangat indah…

NORMAL

"Selamat pagi, Uchiha-san." Sapa Naruto sopan. Wajahnya memanas karena dia kembali teringat dengan mimpinya.

"Mau ke kelas bersamaku?" Tanya Sasuke.

"Boleh saja." 'sebenarnya aku tak mau.' Pikir Naruto. Alasan kenapa dia menerima ajakan Sasuke adalah untuk menghindari para gadis kurang kerjaan yang telah memandangnya dengan nafsu.

Kedua pemuda ini berjalan bersama-sama tanpa ada yang membuka suara. Masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri.

'Ukh, lupakan! Lupakan mimpi itu! Aku tak butuh masalah hari ini' pikir Naruto.

Sasuke yang selalu mencuri pandang pada Naruto hanya tersenyum. 'Dia manis sekali.' Pikirnya.

"Sasuke-Kun!" panggil seseorang. Sasuke berbalik mencoba melihat siapa yang memanggilnya. Dari belakangnya, dia dapat melihat Karin berlari mendekatinya.

'ukh, apa mau wanita itu?' pikir Sasuke jengkel.

"Sepertinya kau ada urusan dengan Karin. Aku tinggalkan kalian berdua saja, ya? Aku ingin segera masuk kelas." Kata Naruto membuyarkan pikiran Sasuke.

Karin hanya tersenyum manis mendengar perkataan Naruto. 'Wow, dia sangat gentlemen. Sudah ganteng, kaya pula.' Pikir Karin.

"Tak perlu, Uzumaki-san. Aku hanya ingin menyampaikan sesuatu pada Sasuke-kun. Pesan dari Kakashi-sensei."

"Apa pesannya?" Tanya Sasuke.

"Sebentar lagi akan ada festival budaya. Semua ketua kelas diminta berkumpul di ruang rapat untuk membahas festival tahun ini." Jawab Karin.

"Ok."

"Festival budaya? Apa itu?" Tanya Naruto yang sama sekali tak mengerti.

"Kau tak tahu?" kata Karin kaget.

"Sorry saja. Aku besar di London."

"Oh.. Aku jelaskan saja." Kata Sasuke. Dia, Karin dan Naruto berjalan bersama-sama ke kelas. Sasuke menjelaskan pada Naruto kegiatan apa yang ada selama festival budaya.

%-%-%

Naruto

Beberapa hari telah berlalu sejak percakapannya dengan Sasuke mengenai festival budaya di Konoha Gakuen. "Sigh.. Apa yang harus kulakukan?" Tanyanya pada diri sendiri.

Naruto sedang duduk santai di taman rumahnya berpikir tentang pengumuman yang diberikan oleh Kakashi-sensei.

Flashback

"Semuanya, kalian pasti sudah tahu beberapa minggu lagi akan diadakan festival budaya. Tema kali ini adalah persahabatan dan kekeluargaan dalam kelas. Dan jangan lupa untuk mendiskusikan tentang stand kita tahun ini. Aku harap tahun kita tetap berusaha sebaik mungkin." Kata Kakashi.

Semua yang ada dalam kelas langsung menjadi bersemangat. "Sensei? Siapa yang akan menjadi coordinator kita tahun ini? Tahun lalu Shikamaru, Kiba, Hinata, Sasuke, Neji dan Gaara." Tanya salah seorang murid perempuan.

"Hmm, bagaimana kalau tahun ini Sakura, Ino dan Karin?" usul Kakashi.

"JANGAN!" teriak seluruh kelas secara bersama-sama. (kecuali Sakura, Karin, Ino dan Naruto)

"kenapa?"Tanya Naruto yang kebingungan.

Semua perhatian tertuju pada dirinya. "apa aku salah bicara?"

"Yeah!"

"semuanya! Tenanglah." Kata Kakashi.

"Bagaimana kalau koordinatornya Sasuke, Shikamaru dan Uzumaki?" usul Neji.

Kakashi terdiam sebentar, berpikir. "boleh juga. Yang jadi coordinator tahun ini adalah Sasuke, Shikamaru dan Naruto." Katanya.

"APA! Aku tak mau!" kata Naruto.

"Cih, troublesome." Kata Shikamaru.

'YES! Waktukku bersama Naruto bertambah banyak' pikir Sasuke.

"Kenapa? Aku tak tahu. Aku hanya ingin kau menjadi lebih akrab dengan teman sekelasmu karena kau murid pindahan." Kata Kakashi. Setelah berkata begitu, ia segera keluar kelas.

Flashback End

"ARG! I Don't Know anymore!" Teriak Naruto.

%-%-%

Kediaman Uchiha…

"Sasuke, waktunya makan malam." Panggil Mikoto, ibu Sasuke.

Sasuke yang sedang sibuk menyusun rencana untuk membuat Naruto jatuh hati padanya berhenti ketika mendengar suara ibunya. Dia segera keluar dari kamar dan berjalan menuju ruang makan.

Di ruang makan telah berkumpul semua anggota keluarganya. Fukagu, Mikoto dan Itachi sedang membicarakan sesuatu ketika dia mengambil tempat duduk di meja.

"Apa yang kalian bicarakan?" Tanya Sasuke yang penasaran. Dia mengambil makanannya dan memakannya perlahan-lahan sambil mendengarkan penjelasan kedua orang tuanya.

"Oh, teman lama ayah dan ibu akan pulang dari London bulan depan. Kau tahu, Minato Namikaze dan Kushina istrinya." Jawab Mikoto.

"Aku ingat. Mereka punya dua orang putra. Yang seorang sudah menikah dengan seorang gadis bernama Cristie dan tinggal di Washinton DC. Yang seorang lagi.. ah, dia lebih muda darimu Sasuke. Katanya sih, dia sekolah di Konoha Gakuen setelah lulus kuliah teknologi dan fotografi di London."

"Yeah, aku ingat. Naru-kun, bukan? Dia bagaikan Minato Mini-me. Mirip sekali." Sambung Fugaku.

"Tapi sikapnya sangat mirip Kushina."

"Aku tahu. Semoga saja kejahilannya sudah menghilang. Aku tak mau mengulang kejadian 12 tahun yang lalu." Kata Fugaku.

Mikoto dan Fugaku terlalu hanyut dalam pembicaraan mereka sehingga tak sadar pendangan bingung yang di berikan oleh Itachi dan Sasuke. "Kau mengerti apa yang mereka bicarakan, aniki?"

"Tidak. Lebih baik kita tinggalkan mereka berdua saja disini. Ayo, ototou." Kata Itachi. Dia berdiri dan berjalan pergi di ikuti oleh Sasuke.

%-%-%

"Aku benci murid baru itu! Dia merebut kesempatanku untuk membuktikan diri pada Sasuke-kun.!" Kata Sakura kesal dalam kamarnya yang serba pink. (AN: EWWWW! Pink.. I hate PINK!)

"Tunggu saja, aku pasti akan menghancurkanmu." Kata Sakura dengan anda yang penuh kebencian. Dalam kepalanya telah tersusun barbagai macam rancana untuk mempermalukan Naruto.

Sementara itu, Naruto mendapat firasat yang sangat tidak enak. 'Apa ini? Kenapa perasaanku sangat tidak enak. Sesuatu yang buruk pasti akan menimpaku.'

"Naruto-sama?" panggil Iruka.

"Ya?"

"Jiraiya-sama dan Tsunade-sama telah menunggu anda di ruang tamu." Kata Iruka.

Mendengar perkataan Iruka, Naruto langsung berlari menuju ruang tamu untuk menemui godparentsnya. Dia sudah lama tak bertemu dengan mereka.

Begitu dia masuk ruang tamu, Naruto langsung melempar dirinya dalam pelukan Tsunade. "Baa-chan! Ero-jii-san!" teriak Naruto senang. Senyuman lebar terpasang di wajahnya.

"Don't call me that, Brat!" kata Jiraiya. Dia sama sekali tak menyukai nama panggilan yang diberikan oleh Naruto.

"Then don't call me brat. Maybe I stop call you old. But, face reality, you old." Kata Naruto membalas Jiraiya dari pelukan Tsunade.

"KAU!"

"Jiraiya, berhenti bersikap kekanak-kanakan. Bagaimana kabarmu, Naru? Sudah bisa beradaptasi dengan lingkungan di sini?" Tanya Tsunade.

"Yeah. Tapi, aku kurang bisa menyesuaikan diri di sekolah." Kata Naruto dengan ekspresi sedih.

"Kenapa?" Tanya Tsunade bingung. 'Aneh, kenapa ia tak bisa menyesuaikan diri? Padahal anak ini sangat easy going.'

"Aku tahu! Pasti karena ada saingan di sekolah bukan? Murid cowok populer yang dingin yang ingin dekat denganmu." Tebak Jiraiya.

Naruto hanya dapat memandang Jiraiya dengan pandangan tak percaya. "Ka.. Kau.. Tahu dari mana?"

"Eh, aku benar?"

"Apa maksudmu, Jiraiya?" Tanya Tsunade.

"Hehe.. aku hanya menebak saja. Tak menyangka kalau benar." Kata Jiraiya dengan tawa gugup. "Jadi, siapa cowok itu?" tanyanya pada Naruto.

"Sasuke Uchiha." Kata Naruto datar.

"Sasuke Uchiha, ya.. Aku harus memperhatikannya." Kata Tsunade lirih. Dia terlalu melindung Naruto dan sangat tak mau bila Naruto sakit hati.

"So, Naruto, apa ada gadis cantik yang menarik di kelakmu?" Tanya Jiraiya mengalihkan pembicaraan.

"Eh, cewek menarik?" Tanya Naruto yang kaget. Dia memcoba berpikir, "hmm, tak ada tuh yang menarik perhatianku. Uang ada hanya fangirl yang menyebalkan."

"Aku harus mengubah pertanyaanku." Kata Jiraiya lirih. "Ada yang menarik perhatianmu?" tanyanya lagi.

"Hmm, ada sih. Kau tahu yang namanya Sasuke Uchiha? Entah kenapa, sejak aku masuk, dia memcoba memdekatiku. Dan lagi, perasaanku jadi aneh, bila dia ada di dekatku." Jawabnya.

"Heh… Anak bungsu keluarga Uchiha ya. Seleramu bagus juga." Kata Jiraiya.

Naruto yang mendengar perkataan Jiraiya langsung merasa wajahnya memerah. "Ero-Jii-san! Itu bukan seperti yang kau bayangkan!"

"Sudahlah, kita ganti topik saja. Apa kedua orang tuamu sudah member kabar?" kata Tsunade yang menganti topik pembicaraan mereka.

"Apa maksudmu? Kaa-san dan Tou-san belum meneleponku."

"Bukan apa-apa. Hanya ingin tahu keadaan mereka." Kata Jiraiya saat melihat ekspresi Tsunade yang mulai panik.

Malam itu, Naruto, Jiraiya dan Tsunade berbincang-bincang di ruang tamu. Mengakrabkan diri seorang dengan yang lain.

%-%-%

Festival budaya Konoha Gakuen selalu di laksanakan setelah ulangan tengah semester. Semua murid Konoha Gakuen yang baru saja selesai ujian langsung di sibukkan dengan persiapan festival.

Kelas 2-Z..

"Jadi, kalian sudah menentukan apa yang akan kita buat tahun ini?" Tanya Shikamaru yang berdiri di depan kelas. Mereka sedang rapat, membicarakan stand yang akan mereka lakukan.

"Bagaimana kalau kita buka fashion shop?" usul Sakura.

"Tak ada hubungannya dengan tema tahun ini, Sakura." Kata Neji dengan nada yang datar.

"Bagaimana kalau kita buat lomba saja?"

"Lomba yang bagaimana?" Tanya Sasuke.

"Lomba yang mengutamakan kerja sama? Misalkan saja kita menyuruh seseorang menyembunyikan berang yang harus dicari oleh peserta bersama patnernya?" usul Naruto.

"Kalian setuju?" Tanya Shikamaru ketika dia melihat ekspresi teman-temannya yang serius mempertimbangkan ide Naruto.

"Yeah!" Kata Kiba yang bersemangat.

"Bagaimana kalau kita juga membuka café maid?" saran Hinata.

"Boleh juga. Kalian yang cewek aja yang mengurusnya." Kata Sasuke cepat saat dia melihat ekspersi Sakura, Ino dan Karin yang entah kenapa membuat bulu kuduknya berdiri.

Sepanjang hari itu, anak-anak kelas 2-Z sibuk menyusun rencana mengenai lomba yang akan mereka adakan. Semua yang akan terlibat sudah di berikan tugas masing-masing.

%-%-%

"*sigh* selesai juga." Kata Naruto yang kecapaian. Dia duduk di taman sekolah, memandang sekelilingnya yang indah. 'Andai saja aku membawa kamera.' Pikir Naruto.

"Naruto?" panggil seseorang.

Naruto memalingkan wajahnya dan melihat Sasuke berdiri tak jauh darinya. Wajahnya memanas saat melihat sosok Sasuke yang bagaikan malaikat berdiri di antara perpohonan.

"Uchiha-san.. Ada perlu apa?"

"Kau belum pulang?" Tanya Sasuke.

"Belum. Aku belum ingin pulang. Kau sendiri?"

"Well, aku lagi nggak ingin di rumah. Soalnya kakakku lagi pulang." Kata Sasuke.

"Oh.." hanya itu respon Naruto. Suasana menjadi hening di antara mereka.

"Hmm, Uchiha-san?" Tanya Naruto tiba-tiba.

"Tolong panggil aku Sasuke saja. Aku sama sekali tak mau kalau temanku memanggiku dengan formal seperti itu." Kata Sasuke.

'Teman.. dia menganggap aku temannya.' Pikir Naruto. Entah kenapa, perasaannya menghangat. "Baiklah, Sasuke-san. Aku mau minta tolong."

"Apa?"

"Mau tidak kau jadi modelku?"

"Model apa?"

"Ano.. Aku hobi memotret. Tapi, aku belum menemukan objek yang menarik perhatianku selain kau. Jadi, boleh..?"

'Dia tertarik padaku? Aku tak salah dengar, bukan?' pikir Sasuke yang sudah berada di awan-awan. "Aku mau."

"Thank you!" kata Naruto yang segera memeluk Sasuke. Ketika dia sadar akan tindakannya, Naruto langsung melepaskan pelukannya. "Sorry."

"It's okay." Kata Sasuke yang mencoba untuk menenangkan diri. 'Dia memelukku. Apa mungkin, Naruto juga punya perasaan terhadapku?' pikir Sasuke, wajahnya memerah. Sementara dia sedang sibuk berpikir, telepon genggamnya bergetar.

'Siapa?' pikir Sasuke jengkel. Dia membuka telepon genggamnya dan melihat no Itachi di layar. 'Mau apa dia meneleponku?'

"Sasuke-san?"

"Ah, maaf. Aku harus segera pulang." Kata Sasuke. Dia segera bangkit dan berjalan pergi meninggalkan Naruto sendiri di taman.

Tak jauh dari tempat itu, Sakura memandang kesal pada Naruto. 'Sejak dia datang, tak ada yang lancar dalam hidupku. Bebari sekali dia memeluk Sasuke-kun?' pikir Sakura yang sangat kesal.

"Lihat saja, Uzumaki. Kau akan menyesal telah datang kemari." Kata Sakura. Dia memandang benci pada Naruto yang sama sekali tak sadar akan sekelilingnya. Dia kemudian berjalan pergi.

'Entah kenapa, perasaanku menjadi tak enak. Sesuatu yang buruk pasti akan terjadi padaku.' Pikir Naruto yang memandang langit. Dia hanya bisa menghela nafas.

TCB…

AN:

Yay, selesai juga chapter 3nya. Semoga kalian suka lanjutannya, ya.. jangan lupa untuk review fic ini.. maaf saja kalau ceritanya agak kacau, maklum baru blajar nulis ^^ hehe..

Dan maaf bila lanjutannya lama di upload. Sibuk blajar buat ujian. Soalnya gue anak kelas ujian, jadinya sibuk blajar deh.. Hehe

Kirimin ide buat lanjutin fic ini ya.. aq kehabisan ide!

Mind to RnR?