Disclaimer : Naruto bukan punya Naw

Enjoy d story!

000

Hari ini ada yang berbeda dengan Sasuke. Wajahnya, rambutnya, pakaiannya, … semua bagian dari dirinya terlihat berbeda. Wajahnya yang biasa sok dingin sok keren itu tampak sumringah dengan seringai indah kecil yang bertengger di bibirnya yang sering terkatup. Siswa siswi yang melihat perubahan raut wajahnya itu dalam hati bertanya-tanya mengapa ia terlihat bahagia. Mungkinkah ada sesuatu di malam sebelumnya yang membuatnya bahagia? Tidak mungkin, kan? Atau mungkin?

Terus, lihat rambutnya yang semakin pendek. Padahal kemarin di kantin, rambutnya masih gondrong segondrong-gondrongnya, mencuat sana dan sini. Hari ini terlihat rapi karena tampak habis dipangkas, meskipun pangkasannya tidak terlalu panjang. Dan lihat kilauannya… cling cling… dijamin membuat orang merasa silau –cocok untuk menggantikan Elegante di iklan sampo Pentine.

Lalu seragamnya… rapi sekali. Aroma pengharum pakaian menguar dari baju itu. Lipatannya tampak habis disetrika.

Dan ada pula sesuatu di tangan kirinya yang entah mengapa ditutupi kain berwarna hitam. Misterius memang. Hal ini yang membuat Sasuke terlihat biasa di tengah ketidakbiasaannya. Tapi tetap saja, kemisteriusan itu tak dapat menutupi perbedaan yang muncul dari Sasuke. Sekali lagi, pertanyaan muncul… Kenapa dengannya?

000

Be My Girl

By : Naw d Blume

000

"Hooooi, teme!" sesosok berambut pirang cerah tampak melambaikan tangannya, menarik perhatian orang-orang di sekitarnya. Ia berlari-lari kecil, sesekali berhenti menyapa siswi-siswi manis yang duduk di depan kelas sambil menunggu bel masuk berbunyi. Dua langkah sebelum ia berhenti di samping Sasuke…

Pletak

"Adooow… Sakit, teme!" jeritnya sembari memegangi kepalanya yang terkena salam pagi dari tangan Sasuke.

"Hn. Sudah gue bilang jangan panggil 'teme'."

Hilang sudah seringai kecil nan mungil yang menghiasi bibir si rambut biru dongker itu. Dalam hati para penggemarnya, nama Naruto ditambah sumpah serapah tidak jelas berkumandang saling menyahut. Yah, salahkan Naruto dan mulut besarnya yang bawel itu karena menghilangkan pemandangan langka gratis seperti itu.

"He he. Iya deh. Tumben pagi-pagi begini sudah senyum-senyum. Cerita dong…"

Sasuke pun berpikir. Mengingat kejadian malam sebelumnya bersama Hinatanya. Senyum pun kembali ke wajahnya yang rupawan. Kini, nama Naruto kembali bermunculan di hati para penggemar Sasuke. Bukan untuk menerima sumpah serapah, melainkan pujian berton-ton dan kata-kata heroik nan agung. Mereka berusaha mendengarkan apa yang hendak diceritakan oleh Sasuke kepada Naruto. Apa gerangan yang membuatnya berbeda pagi ini? Hari sebelumnya kan biasa-biasa saja. Uhmmm… scratch that. Hari yang luar biasa ketika ia meminta izin dari Neji untuk menjadikan Hinata pacarnya. Back to Sasuke, sebuah ingatan melaju di otaknya yang ber-IQ pas-pasan.

Flashback…

"Nata-chan, ayo masuk."

"Terima kasih, Uke-kun."

Keduanya pun masuk ke ruang tengah kediaman Uchiha. Saat itu hening karena hanya ada mereka di sana, ditambah beberapa orang maid yang tentu saja tak akan berani mengganggu tuannya itu. Anggota keluarga Uchiha yang lainnya : Mikoto, Fugaku, dan Itachi tengah menghadiri pesta pernikahan pewaris Sabaku Corp : Temari dan Shikamaru. Karena Sasuke yang masih di bawah umur masih bersekolah, mereka meninggalkannya sendirian. Maksud hati agar si bungsu belajar dengan tekun. Eh, malah mengajak calon pacar main ke rumah…

Singkat cerita… Sasuke dan Hinata bercerita ini itu sambil diselingi tawa. Beberapa saat bersenda gurau, Hinata membisikkan sesuatu pada Sasuke. Di tangannya terdapat sebuah bungkusan hitam.

"Hah, benarkah?" Sasuke bertanya dengan nada tidak percaya.

Hinata mengangguk-anggukkan kepalanya.

Sasuke tersenyum cerah dengan mata berkaca-kaca karena merasa terharu dengan apa yang ditawarkan oleh Hinata. Hilang sudah rasa sesalnya mengakui keindahan rambut Neji ketika di sekolah. Segeralah keduanya menuju kamar Sasuke. Tak lupa, Sasuke menyuruh seorang maidnya membawakan sebuah baskom berukuran medium…

Flashback ends…

"Hn."

Ternyata Sasuke tak hendak menceritakan hal itu kepada sahabat-yang-tidak-diakuinya itu. Bibirnya terkatup erat –tak ada tanda-tanda akan terbuka.

"Ayolah, Sasuke… Lo nggak mau ngasih tahu teman terbaik lo ini?"

Pletak…

Sasuke pun meninggalkan teman pirangnya yang mengaduh-aduh tak jelas, memaki-maki Sasuke atas penganiayaan itu. Mulutnya terbuka hendak berteriak keras, "Hoooi…Lo…"

Tet… tet… tet…

Bel masuk berbunyi, menandakan bahwa semua siswa harus masuk ke kelas. Sejak kapan Sasuke menceritakan pengalamannya pada Naruto? Belum pernah. Tidak pernah. Tidak akan pernah. Ckckck…

000

"Jadi, kau mengizinkanku?"

Hening.

"Aku berjanji akan menjaganya baik-baik."

Hening lagi.

Saat ini, dua sosok manusia tengah berdiri di bawah rimbunnya daun pohon beringin di taman belakang sekolah. Kedua siswa itu tampaknya sedang berbicara serius. Siluet keduanya tampak tegap berdiri berhadap-hadapan. Kalian bisa menebak siapa mereka, kan? Ya, Sasuke dan Shino.

Shino tampaknya tidak mau repot mengeluarkan tenaga untuk menjawab semua pertanyaan –atau pernyataan, dari Sasuke. Ia tetap diam dan tenang… so typically shino.

"Shino, tolong katakan sesuatu."

"Hn."

Nah lho… senjata makan tuan, kan? Sasuke akhirnya merasakan bagaimana rasanya jika hanya diberi tanggapan 'hn' saja. Sakit? Pasti. Emosi? Tentu saja. Geram? Banget. Sebel? Betul. Dahinya yang halus itu pun berkerut, "Kalo aja elo bukan Shino, udah gue jitak kayak si Naru.'

Tarik nafas. Hembuskan. Tarik nafas. Hembuskan. Tarik nafas. Hembuskan. Oke, sekarang mulai lagi permohonan itu.

"Shino, gue suka sama Hinata." oke, tidak penting lagi menggunakan aku-kau, "Gue bisa ngeyakinin lo kalo gue bisa ngelindungin dia."

"…"

"Gue… gue bakal kasih ini ke elo kalo loe ngizinin gue."

Usaha terakhir dengan penyuapan. Enggak bagus buat dicontoh… approval kok pake suap. Mau jadi apa dirimu, Sasuke? Penerus si Gayung Tambun? Cinta dengan suap? Yang penting kan cinta sama cinta dengan Hinata… Yang disuap juga bukan objek cinta, kok… intinya, kalo nyuap ke orang lain asalkan objek cinta sudah benar-benar membalas rasa cinta itu tidak apa-apa. It's fine.

Sebuah bungkusan hitam yang dibawa Sasuke pagi hari itu teracung di depan Shino. Seolah-olah memanggil-manggil untuk diterima. Tapi Shino hanya diam tak bergeming. Memandangi benda berbungkus itu tanpa rasa tertarik. Saya ingin bilang padanya, 'Shino, kau adalah pahlawan sejatiku yang tak mempan suap!'

"…"

Frustasi. Itulah satu kata yang dapat mendeskripsikan tokoh utama kita.

"Arrrrrgh… gue capek… Please, gue cuma butuh approval dari lo dan Kiba. Lo bakal sangat ngebantu gue kalo lo mo bilang 'gue izinin'."

"Hn."

"…"

"…"

"…"

"Diam itu bermakna iya."

"…"

Shino pun mulai melangkahkan kakinya menjauhi pohon beringin yang konon kata orang dihuni oleh… uh… semut api. Ia telah bersiap meninggalkan Sasuke yang masih terperangah, mencoba mencerna sebuah kalimat 'Diam itu bermakna iya'. Dua langkah. Belum ada reaksi. Empat langkah.

"Thanks, bro. Tau gini, gue gak perlu beli ini Dryococelus Australis."

Shino berhenti berjalan dan dengan gerak patah-patah membalikkan punggungnya untuk melihat ke arah Sasuke –kacamatanya memantulkan cahaya, "Apa kau bilang?"

"Deriyososelus Austeralis."

"Ulangi lagi."

"Drisolus Australia." mana mau si Sasuke mengulang dua kata yang sulit dieja itu. Bibirnya hanya mengucap kata yang mirip saja.

Shino berlari mendekat dan langsung menyambar bungkusan hitam yang ada di jangkauan tangan panjangnya itu. Dengan perlahan, dibukanya kain penutup itu –menampakkan sesosok serangga langka. Berbunga-bunga rasanya. Yah, kali ini Shino benar-benar gembira. Serangga itu betul-betul langka dan tersisa kurang dari 30 ekor di daerah asalnya. Entah darimana Sasuke mendapatkannya. Yang pasti, serangga itu dan dirinya… "Sudah tidak ada perlu, kan? Tolong tinggalkan kami berdua saja."

Shino… dimana ucapan 'terima kasih'mu? Sasuke menghabiskan separuh uang tabungannya hanya untuk membeli serangga itu demi seorang sahabat tersayang Nata-channya. Ckckck… Sasuke sendiri berdiri terdiam di sana. Kaget dan takjub. Sebersit rasa penyesalan mampir di hatinya.

"Kalo tau bakal gini, gue gak ngabisin separuh tabungan gue…"

Hanya angin yang berhembus yang mendengar keluh kesahnya. Sang angin membelai rambut Sasuke perlahan, seolah memberinya semangat dan dukungan. Shino sendiri telah hanyut dalam dunianya sendiri. Tak peduli dan tak mau peduli kepada temannya yang dilanda cinta itu. Yang penting, mah, dia bertemu dengan pujaan hatinya!

"Yosh, tinggal approval dari Kiba."

000

Memang, tinggal seorang lagi yang perlu ia mintai persetujuan. Tapi entah mengapa, Sasuke merasakan sesuatu, seperti sebuah bayangan atas nasib buruk yang akan menimpanya. Kiba memang berbeda dari semuanya. Ia bukanlah anggota keluarga. Ia sahabat Hinata, tetapi ia tak seperti Shino. Ia liar. Ia possesif. Ia… Susah bagi Sasuke untuk mendeskripsikan pemuda Inuzuka itu. Ia hanya tahu jika perhatian yang diberikan oleh Kiba kepada Hinata adalah lebih dari sekadar perhatian dari seorang sahabat –seorang kawan karib. Perhatian itu pun tampaknya berbeda dari perhatian yang ditujukan keluarga Hyuuga kepada Hinata. Berbeda.

Sasuke yakin, mendapatkan restu dari Kiba akan menjadi yang tersulit.

000

Buagh…

"Cih."

Buagh…

"Kurang ajar!"

Di tengah lapangan basket, sebuah kerumunan terbentuk. Ada apakah gerangan? Ternyata, ada dua orang siswa yang tengah bertarung di sana. Tepat di area tengah lapangan. Kedua siswa itu tampaknya baku hantam karena masalah senggol menyenggol ketika diadakan latihan basket.

"Lo, berani ya, sama gue?"

"Siapa lo perlu gue merasa takut, hah?"

Perkelahian itu pun berlanjut. Tiada seorang pun yang hendak memisahkan mereka. Bahkan teman-teman mereka sesama pemain basket. Semua hanya mengerubungi mereka selayaknya turis yang mengelilingi hewan langka di kebun binatang. Meskipun keduanya adalah termasuk siswa populer dengan tampang di atas rata-rata, tidak ada seorang pun yang tampak berpindah tempat guna menyelamatkan dua muka halus tak bercacat itu.

Sasuke yang tengah dalam pengembaraannya mencari Kiba mendekati kerumunan massa di tengah lapangan, dan melihat Hidan, teman satu band kakaknya, tengah baku hantam dengan Kakuzu, seorang siswa yang terkenal lumayan angker. Merasa kenal dan dekat dengan si cowok tampan bertemperamen tinggi tersebut, Sasuke merasa perlu melerai mereka berdua. Lihat saja, wajah tampan nan rupawan milik Hidan, sudah babak belur di sana sini. Rambutnya yang biasanya tertata rapi tampak acak-acakan. Dan Kakuzu… luka-luga goresan terlihat jelas di kedua lengannya –nampaknya jejak-jejak cakaran kuku Hidan.

"Hey… Hey… Hey… hentikan! Apa yang kalian lakukan?"

Ratusan pasang mata memandangi Sasuke penuh rasa kagum.

"Wooooooow…"

Di antara ratusan pasang mata itu, temasuk pula sepasang mata milik 'buruan'-nya yang tengah asyik melihat perkelahian dua orang siswa populer di tengah lapangan basket itu.

"Cih, sok sekali lo, Uchiha."

Hmmm… Kiba, dengan lantang, mengucapkan kata-kata bernada cemooh itu, mengalihkan perhatian orang-orang kepadanya. Bahkan, Hidan dan Kakuzu telah berhenti berkelahi sepenuhnya, turut menatap si sumber suara. Tampak jelas aura permusuhan dari kohai mereka itu.

"Kebetulan… gue udah cari lo kemana-mana."

Tap… tap… tap… langkah kaki Kiba mendekati Sasuke terdengar menggema. Langkah kaki itu terdengar jelas dan mantap –langkah kaki yang seolah menunjukkan keteguhan hati. Sesampainya di tengah lapangan, ia langsung berhenti berjalan tepat di depan Sasuke –sekitar selisih dua langkah. Sekarang, empat orang popular berdiri di TKP: tersangka perkelahian dan calon tersangka –well, Sasuke dan Kiba tampaknya memang akan berkelahi. Aura yang menguar di sekitar mereka… suram, gelap, pahit, kecut –tidak enak.

"Ngapain lo nyari gue, hah? Minta persetujuan dari gue juga?"

Untunglah, Kiba telah mengetahui perihal permintaan izin itu sehingga Sasuke bisa menghemat kata-katanya. Entah, dari mana ia tahu hal itu. Mungkin saja dari kabar burung yang beredar sejak kejadian di kantin sekolah.

"Gue gak bakalan izinin lo pacaran sama Hinata. Selamanya… selamanya… selamanya..." oke, itu lebai. Yang sebenarnya dikatakan oleh Kiba adalah "Gue gak ngizinin lo pacaran sama Hinata."

Olala… genderang perang berbunyi. Bendera pun dikibarkan. Itulah pertanda bahwa keduanya akan berperang. Bukan perang besar-besaran bak perang dunia kesatu ataupun kedua –hanya perang antara dua orang populer di sekolah, dengan area sepetak tanah lapangan basket sekolah. Satu lagi. Topik perkelahian adalah Hinata. Para siswi gigit jari. Mereka tengah berandai-andai apabila mereka menggantikan tempat Hinata diperebutkan oleh dua orang pemuda keren nan seksi… nan seksi… nan seksi…

Sasuke Uchiha yang emang dari sananya emang tenar dengan segala bibit, bebet, dan bobot yang turun temurun dan Kiba Inuzuka yang punya nama gara-gara wajah garang dengan tato segitiga di wajahnya. Oh ya, jangan lupakan juga kalau dia adalah penyayang anjing. Anjingnya, Akamaru, memiliki bulu terlembut di Konoha, wajah tergarang, dan gonggongan yang imut seperti dentingan lonceng kecil. Orang garang berhati lembut? So cute!

"Apa lo bilang?"

"Jangan buat gue ngulangin perkataan gue itu."

000

Hinata berlari-lari kecil menuju lapangan sepakbola yang kosong. Ia ngos-ngosan sambil sesekali menyeruput –menyedot ingus yang tersisa akibat flu yang dialaminya beberapa hari sebelumnya.

"Hinata… hosh…hosh…hosh… Kau lari terlalu cepat."

Ino memegangi dadanya yang sedikit sesak. Bulir-bulir keringat tampak bertaburan di keningnya, membuat poni kebanggaannya itu lengket.

"Ino… kenapa sepi? Mana Sasuke dan Kiba?"

Ino menatap Hinata dengan hati yang mencelos, "Itu dia. Mereka tidak di sini, tapi di lapangan basket..."

"Kalau begitu, ayo kita ke sana secepat mungkin, Ino…." teriaknya keras sembari menyeret Ino.

"Hinata, arah lapangan basket bukan ke sana, tapi ke sini."

Dan mereka pun pergi memutar arah menuju lapangan basket. Suara sorakan dari para siswa yang mengelilingi lapangan basket terdengar nyaring –membuktikan kebenaran perkataan Ino. Masing-masing dari mereka meneriakkan nama jago yang mereka dukung. Dapat terasa hal yang aneh. Kemana para guru? Kenapa tidak ada yang melerai? Tapi tak apalah. Kalian tidak usah sibuk berpikir mengenai jawaban pertanyaan tadi –sudah saya urus.

"Sasuke! Sasuke! Sasuke!"

"Kiba! Kiba! Kiba!"

Suara dukungan-dukungan saling bersahutan disaat kedua cowok itu baku hantam. Sasuke menonjok pipi kiri Kiba hingga si empunya pipi tersungkur. Kiba pun membalas dengan menendang tulang kering Sasuke. Keduanya kini terbaring ngos-ngosan. Baju yang membalut tubuh mereka telah berubah kumal dan berlipat-lipat. Baju Sasuke yang mulanya harum dan rapi berubah menjadi kehitaman bekas debu. Beberapa bagian sedikit koyak akibat terjatuh di lantai lapangan.

"Sasuke pasti menang."

"Seribu yen buat Kiba."

Siapa sih yang memanfaat keadaan dengan bertaruh seperti itu? Mari kita menuju pojok utara lapangan, di lantai dua, beberapa orang dewasa tengah melakukan taruhan : Kakashi, Gai, Asuma, dan Iruka. Keempatnya adalah guru, tapi guru kan juga manusia, perlu hiburan. Kalau dipikir-pikir, yang namanya pertarungan itu termasuk hiburan, kan? Lihat itu adu ayam jago, adu kambing, adu domba, bahkan adu sapi. Tapi… Sasuke dan Kiba kan manusia? Helloooo… guru-guru stress. Sudah dipastikan jika kepala sekolah pasti akan menghukum mereka berempat karena tidak menghentikan perkelahian antar murid tetapi malah menjadikan mereka objek pertaruhan.

"Dua ribu yen untuk Sasuke."

"Ts… Tsu… Tsunade-sama?"

Ya… akhirnya kepala sekolah pun turut ambil bagian dalam pertaruhan itu. Si kepala sekolah tak mungkin melewatkannya. Ini Sasuke yang sedang dipertaruhkan. Ia harus tetap mendukungnya meskipun mereka sudah tak punya hubungan apa-apan. Si Tsunade kan mantannya Sasuke.

Apalah kata dunia jika orang-orang yang seharusnya bertugas untuk menunjukkan jalan yang benar malah bertingkah salah dengan taruhan?

000

Bugh… bugh… bugh…

Kedua siswa itu saling menghantam satu sama lain. Peluh mereka bercucuran. Lebam di sana dan sini. Luka di sana dan sini. Perih di sana dan sini. Kain robek di sana dan sini. Debu di sana dan sini.

"Gue… enggak ngizinin elo… pacaran sama Hinata… hosh… hosh…"

Buagh…

"Siapa… elo… huh? Ngelarang… gue… hosh…"

Buagh…

"Sasuke! Sasuke! Sasuke!"

"Kiba! Kiba! Kiba!"

Perkelahian terus berlanjut. Tiada seorang pun yang melerai mereka –bahkan Hidan dan Kakuzu yang sebelumnya bergulat. Keduanya malah tenang duduk di pinggir lapangan sambil sesekali memotret kejadian itu dengan ponsel masing-masing yang masih tergolong keluaran terbaru. Keduanya bahkan turut bersorak sorak mendukung jago masing-masing. Hilang sudah rasa kesal terhadap satu sama lain. Tangan mereka pun saling merangkul satu sama lain –akrab.

"Kiba! Sasuke! Berhenti!"

Suara itu…

Suara itu mampu menghentikan gerakan kedua objek tontonan para siswa itu. Suara itu memang pelan, tapi punya efek yang luar biasa. Gerakan tangan Sasuke yang tertuju pada pipi Kiba dan gerakan kaki Kiba yang hendak menendang perut Sasuke berubah menjadi slow motion sesaat sebelum berhenti sepenuhnya. Suara-suara yang sebelumnya berdengung di sekitar mereka pun iya. Sebuah jalan tampak tercipta di sebuah sisi penonton. Hinata yang diikuti oleh Ino tampak berjalan ke arah dimana Sasuke dan Kiba. Keduanya berselimut peluh. Pipi mereka tampak memrah setelah berlari-lari.

Sebuah kejadian tak terduga terjadi ketika Hinata berhenti di depan keduanya. Ia menangis.

"Kenapa kalian berkelahi gara-gara aku?"

"Hinata…"

Kiba memotong ucapan Sasuke segera setelah Sasuke mengucapkan nama Hinata –sahabat tercintanya itu, "Aku tidak ingin dia berpacaran denganmu. Dia bukan laki-laki yang baik."

"Kau!"

Buagh… siapa sih yang enggak marah dibilang bukan laki-laki yang baik? Begitu pula Sasuke. Ia memberi sebuah bogeman mentah yang pastinya akan menambah memar di pipi Kiba. Kiba yang tak siap pun jatuh. Bum. Di sisi bibirnya, darah tampak keluar dari bagian yang sedikit sobek.

Sementara kedua laki-laki itu dalam keadaan panas, air mata telah menggenangi mata Hinata.

"Kumohon…" cewek berambut panjang itu jatuh terduduk, menundukkan kepala, dan memohon, "Izinkan aku berpacaran dengan Uke-kun."

Jika kalian ada di TKP, kalian akan merasa melihat adegan dorama yang melankolis di sana. Sungguh mengharukan dan memaksa penonton untuk sekadar berkedip agar air mata tak tumpah.

"Nata-chan…" pandangan yang penuh kemarahan itu pun melembut, "Izinkan kami bersama. Aku dan Nata-chan." Sasuke yang memiliki harga diri yang tinggi itu pun tak sungkan lagi untuk turut berlutut di depan Kiba, mengikuti pujaan hatinya.

"Huahahaha… Nama panggilan kalian lucu sekali, teme!" di sana, seorang siswa jabrik berambut pirang tengah tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya sebelum Ino menghampirinya dan memberikan sebuah kado kecil padanya.

"Sakit, Inooo…"

"Bodoh."

Setelah itu hening. Tiada suara yang terdengar selain dedaunan yang bergesekan dan gemerincing ring basket. Tiada seorangpun yang berani bergerak. Yang ingin bersin menahan diri. Yang ingin buang gas alias kentut juga menahan diri. Yang ingin bernafas juga menahan di… -lupakan yang terakhir tadi. Breathing is a must.

Hening.

Hening.

Hening.

Tekotek kotek kotek… anak ayam turun sepuluh… mati satu tinggal sembilan…

Suara yang tidak asing –bagi kita- itu berkumandang memecah keheningan. Keringat dingin mengucur di kening Sasuke. Tampaknya, ia lupa mengganti profil hapenya itu menjadi 'silent'. Alhasil, sekali lagi Naruto tertawa terbahak. Namun, tatapan Sasuke yang seperti peluru senapan membungkam Naruto segera ketika keduanya bertatapan mata.

Bisik-bisik pun mulai terdengar, "Itu tadi suara apa, ya?"

"Ihhh… ringtone hape siapa sih? Jelek amat… ngeganggu momen penting kayak gini…"

"Itu tadi kayaknya dari tengah lapangan. Ringtonenya Kiba kali? Apa Sasuke? Atau Hinata?"

"Enggak mungkin… Masak orang keren punya ringtone hape yang enggak keren. Kamseupay deh."

Blah…blah…blah…

"Ehhm…" Sasuke berdeham keras untuk menghentikan suara-suara aneh nan menyebalkan tentang ringtone tersayangnya itu, "Jadi?"

Kiba tak menghiraukan Sasuke. Ia malah bertanya pada Hinata dengan tatapan penuh rasa ingin tahu, "Apa benar kau menyukai Uchiha ini?"

"Iya…"

"Kau yakin?"

"Iya. Aku yakin."

"Benar?"

"Iya."

"Seratus persen yakin?"

"Iya. Aku benar-benar yakin, Kiba. Seribu permil yakin. Lebih yakin daripada menjawab pertanyaan 2+2."

"Huh, apa boleh buat... Jika kau memang yakin… aku menyetujuinya. Tapi jika Uchiha ini menyakitimu, aku tak akan segan-segan menghancurkannya."

Hinata terlihat sangat senang sehingga memeluk Kiba dengan pelukan ala beruang. Hal ini membuat Kiba tersenyum dan menepuk kepala sahabat kecilnya itu dengan bangga, "Ternyata kau sudah besar sekarang…"

"Ehm…ehm…"

Diam-diam, ada seseorang yang merasa cemburu di sana.

"Lo cemburu, eh? Gue sama Hina cuma sahabat, kok. Ingat kata-kata gue tadi. Lo gak bakal lepas dari neraka kalo lo bikin Hinata sedih. Neraka lo adalah gue. Camkan itu."

Finally, Sasuke mendapatkan restu dari sahabat Hinata itu. Apa yang ia takutkan benar-benar terjadi. Bukan hanya sekedar susah untuk mendapatkan restu dari Kiba. Ia harus mengorbankan modal utama daya tariknya : ketampanan. Lihatlah rupa Sasuke Uchiha yang pagi tadi tampak sempurna dengan senyum cemerlangnya kini berubah seperti pemulung dengan baju kumal dan luka di sana dan sini. Tapi tak apalah… yang penting sukses menjadi pacar Hinata –calon istrinya dalam 6 tahun ke depan.

"Sasuke Uchiha! Kiba Inuzuka! Ruang detensi, SEKARANG!"

Ini dia, guru yang ditunggu untuk melerai mereka, guru yang termasuk killer, Anko. Ia berkacak pinggang di pinggir lapangan. Matanya tampak sedikit merah –mungkin saja sakit mata. Padahal ia turut menyaksikan adegan drama antara tiga orang objek penonton di tengah lapangan basket. Sasuke dan Kiba yang memang tak mengira bahwa ada Anko di sana langsung terdiam dan bak robot berjalan menuju ruang detensi dengan diikuti Anko yang tampak mengomel pelan, "Anak muda jaman sekarang... penuh melankolisasi, dramatisasi. Kemana juga para guru yang lain? Kepala sekolah Tsunade juga?"

Di ujung sana, lima buah pucuk kepala samar-samar terlihat.

Ketika Anko hampir keluar dari lapangan itu, ia berbalik dan bersenandung keras, "Hidan, Kakuzu, kalian juga! CEPAT!"

Berdoalah agar nyawa kalian dilindungi, hey tersangka perkelahian. Tiada yang selamat dari hukuman Anko si guru killer yang bahkan ditakuti oleh kepala sekolah.

000

Tap… tap… tap…

Dua insan yang tampak serasi itu berjalan beriringan melewati taman yang tak jauh dari sekolah mereka. Hinata tampak seperti biasa, senyumannya menghiasi wajah yang tadinya murung melihat sahabat dan calon pacarnya bertengkar. Sementara Sasuke… wajahnya bak disiram emas 24 karat –berkilauan ditimpa cahaya matahari. Ia sedikit tak percaya berhasil mendapatkan calon isteri idaman seperti Hinata.

"Nata-chan… Kita resmi pacaran sekarang kan?"

"Ummm… Uke-kun… tampaknya belum…"

"Eh, kenapa? Aku kan udah dapat restu dari Ayahanda, Hanabi, Neji, Shino, dan… Kiba…" tampak jelas di suara itu sebuah kekecewaan yang mendalam.

"Uke-kun kan belum dapat restu dari Akamaru…"

"…"

Watdepak? Cari restu dari Kiba yang merupakan manusia asli aja sampai babak belur begini, apalagi minta restu dari Akamaru yang 100% anjing? Oke, Sasuke, siapkan mentalmu. Belilah berbagai macam persiapan untuk menghadapi Akamaru : baju anti gigitan anjing, tulang satu kilo, atau bahkan seekor anjing betina nan cantik. Korek kantongmu dalam-dalam. Tinggal kurang restu dari Akamaru, gitu loh…

000

END (?)

000

Yaaay… \(^o^)/ Langsung bagian curcol-curcolan ya…

Pertama, Naw berterima kasih karena teman-teman udah ngedoain ayah Naw. Alhamdulillah, sekarang sudah lumayan bisa jalan jauh dan udah mulai terapi yang tangan kanan. Semoga bisa cepet berfungsi kembali seperti yang kaki. Masih minta bantuan doa ya…

Kedua, Naw mau bilang 'sankyuuu…' kepada semua reader, yang ngasih review, yang silent, yang setengah silent juga. Tanpa kalian, sebuah fic tidak ada apa-apanya.

Ketiga, tiap review dapat feedback. Yang login, silahkan buka inbox. Yang enggak login, ayo liat sesi feedback XD

Keempat, mohon bantuan kritik dan saran! (^o^)/

000

Sesi feedback (urut tanggal) :

n : [Danke untuk doa dan reviewnya ya :) Ayah Naw udah bisa jalan jauh sekarang, meski masih pake tongkat… Betul itu betul… Family is number one. Meskipun keadaan keluarga agak ribet, tetep number one :D]

(spasi) : [Thank you for the review. Hayooo… hadiah apa? *pandangan curiga* Hadiahnya kan… *lirik-lirik ke bawah*]

Za Chan Uchiha : [Makasih reviewnya :D Ini udah dilanjutin :) seneng kalau Za Chan suka sama cerita ini *senyum-senyum gaje*]

Shyoul lavaen : [Yatta… kalimat 'harga diri yang semula ada di atas langin jadi turun sampe kerak neraka' resmi jadi favorit Naw :3 Sankyuu untuk reviewnya :D ummm… mereka ngapain ya? Kasih tau ga eaps? *lirik-lirik ke bawah*]

Sasuhina-caem : [Kok sakit perut? Kan cerita ini engga dimakan… #plakk Naw anggap sebagai pujian, ya, reviewnya :) Ayah Naw udah jauh lebih sehat. Udah bisa jalan sampe kebun belakang, tapi pake tongkat. Udah mulai terapi tangan, lho... mohon doa lagi, ya… :)]

Daisuke : [Sasuke seneng dong… kan emang rambuttnya mirip sama ekor unggas. Ekor itik, bebek, angsa. Oh iya, ekor ayam juga. Jadi… *ditendang jauh-jauh sama Sasuke*]

000

Flashback…

Sasuke duduk di pinggir tempat tidur. Bajunya telah dilepas, meninggalkan baju kaosnya yang berwarna hitam legam. Sementara Hinata di belakangnya berusaha menggulung lengan bajunya hingga siku. Sebuah baskom medium ada di samping kanannya.

"Kau yakin, Nata-chan?"

"Iya, Uke-kun… Aku sering melihat Ayah melakukannya."

Dalam hati, Sasuke riang gembira sambil jingkrak-jingkrak. Pantas saja ayah Hinata tampak cerah dan muda. Ternyata inilah rahasianya. Ia sangat senang karena Hinata mempercayainya dan rela melakukan itu demi dirinya. Hilang sudah segala penyesalan ketika berbohong pada Neji. Kalau ia tahu Hinata akan melakukan sesuatu seperti ini, ia dengan senang hati berbohong kepada Neji. Sebodo amat sama dosa... kan berbohong demi kebaikan gak begitu berdosa. Tetep dosa sih… tapi…

Hinata mengambil sebuah sisir dengan kepala tengkorak diujungnya kemudian perlahan-lahan menyisir rambut calon pacarnya itu. Sepertinya, rambut itu sedikit lebih panjang dan kusut dibandingkan terakhir kali mereka bertemu.

"Uke-kun…rambut Uke-kun keliatan gondrong…"

"Apa iya?"

"Iya."

Hinata pun memberikan sebuah cermin pada Sasuke. Sasuke dengan serius memperhatikan panjang rambutnya itu. Memang terlihat gondrong.

"Kau mau memotongnya?"

"Ummm… tapi aku enggak pernah ikutan les potong rambut…"

Emang potong rambut pake acara les segala ya? Potong aja kayak potong kertas gitu. Gampang kan? Sasuke memajang senyum sejuta watt-nya itu. Ia gemas melihat Hinata dengan pipi yang memerah. Menggemaskan seperti boneka Barbie yang sering ia mainkan bersama Itachi ketika ia kecil dulu.

"Tidak apa-apa. Nanti Uke-kun yang ngasih tau dipotong seberapa panjang."

Hinata pun mengambil sebuah gunting dari meja belajar Sasuke. Kemudian ia mengambil sejumput rambut berwarna biru dongker itu. Sasuke mengawasi apa yang dilakukan oleh Hinata kepada rambutnya itu melalui sebuah cermin. Ia percaya pada Hinata. Ia percaya bahwa Hinata tak akan menghancurkan rambutnya. Tapi tentu saja ia akan membantu dengan mengarahkan seberapa panjang rambut yang perlu dipotong.

"Kebawah sedikit."

"Begini?"

"Ya."

Kresss… dan sejumlah rambut pun jatuh di seprai yang mulanya bersih itu. Setelah sesi potong memotong rambut itu selesai, Hinata menyuruh Sasuke untuk berbaring di tempat tidur itu dengan kepala menggantung di pinggir. Selembar kain telah diletakkan di dekat tempat tidur. Dengan hati-hati dan penuh perhatian, Hinata menuangkan cairan hitam pekat pada rambut Sasuke. Perlahan namun pasti, ia memijat kepala Sasuke dengan tujuan meresapkan cairan hitam pekat itu. Cairan itu tampak menjijikkan, namun beraroma lumayan wangi. Dengan aroma yang enak dan pijatan dari Hinata, Sasuke seperti dibawa ke surga. Ohhh… senangnya… jadi terasa relaks…

Nah, itulah mengapa Sasuke tampak berbeda, terutama di bagian rambut.

Flashback ends…

000

"Kiba. Cepat masuk ke rumah. Sudah malam!" suara Kak Hana sampai di telinga Kiba yang tengah memberi makan Akamaru.

"Iya, Kak. Sebentar lagi."

Ia menggaruk-garuk telinga Akamaru. Kemudian bulu lembutnya itu disisiri dengan jarinya. Sekali-kali, dielusnya penuh sayang.

"Akamaru, kalo si Uchiha datang meminta persetujuanmu, jangan mau, oke? Gigit saja dia. Takut-takuti dia sampai lari terbirit-birit!"

Woof… woof…

Wah, Akamaru termasuk anjing cerdas dan penurut. Ia pasti akan membuat Sasuke lari terbirit-birit.

"Bagus. Jangan sampai ia bersama dengan Hinata!"

Ya, dan dimulailah rencana Kiba. Oh Em Ji. Sasuke, kau benar-benar harus menyiapkan segala macam tameng ketika menghadapi Akamaru. Tiada saksi mata yang menyaksikan perjanjian antara Kiba dan Akamaru selain angin yang berhembus dan bulan yang sedikit tertutup awan.

Jauh di sana, di kediaman Uchiha, Sasuke yang tengah menekuni PR matematika merasa jika bulu kuduknya berdiri.

000

THE REAL END

000

Hayo… ada yang masih penasaran? XD

Review ya… \(^o^)/ chapter terakhir nih… :3