AFFAIR

Main Cast: Lee Donghae, Lee Hyukjae

Genre: Romance, Drama

WARNING!

BOYS LOVE

DON'T LIKE? DON'T READ PLEASE!

THE STORY IS MINE

Typo may applied, don't be silent reader please, NOT ALLOWED TO COPY PASTE WITHOUT MY PERMISSION ^^

TIDAK MENERIMA BASH DAN KAWAN-KAWANNYA. KRITIK DAN SARAN SANGAT DIBUTUHKAN.

THANKYOU ^^


.

.

I turn away, I push you away but you come to me again...

.

.


"Beraninya kau tidak masuk kemarin! Kau sudah gila?"

Pukulan Ryeowook yang bertubi-tubi di lengan Hyukjae cukup membuatnya meringis, kesakitan. Sial sekali, pagi-pagi begini ia sudah kena omel Ryeowook. Belum lagi saat di lobby tadi ia bertemu dengan Jung Yunho, si pemilik saham terbesar ketiga setelah dirinya dan Donghae. Ah, Hyukjae ingat kemarin ia membuat janji dengan Yunho yang akan membicarakan soal perpanjangan kontrak Kim Jaejoong, model papan atas sekaligus kekasih satu-satunya Yunho. Mau bagaimana lagi? Kemarin ia jadi tahanan kamar dan Donghae sama sekali tidak mengijinkannya menyalakan ponsel sampai pagi menjelang. Dan inilah akibatnya, keadaan kantor jadi kalang kabut.

"Sudah bertemu Jung Yunho? Dia akan memperpanjang kontrak Jaejoong, tapi kau malah tidak ada di tempat kemarin!"

"Sudah, di lobby tadi. Lagi pula kenapa dia yang repot? Jaejoong 'kan punya manager! Urusan kontrak adalah urusanku dan managernya Jaejoong."

Ryeowook berdecih, ia memincingkan matanya sebelum memukul kepala Hyukjae. Sahabatnya ini benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya, bagaimana bisa dia meremehkan posisi Yunho? Cari mati namanya!

"Posisi Jung Yunho itu bukan hanya kekasih Jaejoong saja. Dia direktur utama perusahaan iklan yang selalu mensponsori semua Music Video artis kita, selain itu dia juga pemegang saham terbesar ketiga setelah kau dan Donghae!"

Tepat! Posisi Yunho di perusahaan sangatlah penting. Ah, seharusnya Hyukjae tidak mengikuti kemauan Donghae kemarin. Hanya di tinggal sehari, ada banyak pekerjaan rumah yang harus Hyukjae selesaikan. Termasuk bertemu dengan sutradara yang akan menggarap Music Video Siwon nanti.

"Oh, kemarin aku sudah menerima e-mail dari Joo Sohyun perihal menggarap Music Video Siwon. Ini rinciannya, tandatangani setelah kau membacanya."

Hyukjae menerima map yang diberikan Ryeowook lalu membacanya dengan teliti. Tidak perlu waktu lama untuk Hyukjae menandatangani kontrak itu, karena biasanya juga begitu. Hyukjae dan Sohyun sudah saling mengenal sejak pertama kali perusahaan ini di bangun, sudah banyak project yang mereka kerjakan bersama dan hampir semuanya sukses menguasai pasar musik. Jadi, Hyukjae tidak perlu lagi ragu bekerja sama dengan Sohyun karena hasilnya sudah pasti melebihi ekspektasinya. Dia itu jenius, selain bisa menggarap Music Video dengan lihai, dia juga seorang guru dance terbaik yang dimiliki perusahaan ini. Sayangnya, sudah hampir dua tahun dia tinggal di London untuk mengerjakan sebuah project di sana. Jadi, mau tidak mau perjanjian kontrak kerja mereka harus dikerjakan melalui e-mail untuk sementara waktu.

"Sohyun sedang ada di ruangan Donghae sekarang."

"Di ruangan Donghae? Sedang apa? Kapan dia kembali dari London?"

"Mana kutahu."

Tidak ada gunanya bertanya pada Ryeowook yang tidak pernah mau tahu urusan orang lain, Hyukjae akhirnya memutuskan untuk naik ke lantai 21 dimana ruangan Donghae terletak. Biasanya, Hyukjae jarang sekali datang ke ruangan Donghae kecuali saat Donghae membutuhkannya atau ada sesuatu yang sangat mendesak.

"Hai, Hyukjae."

Suara lembut khas perempuan menyambut kedatangan Hyukjae, begitu membuka pintu ia mendapati Sohyun dan Donghae sedang sibuk dengan kertas-kertas di meja.

"Sedang apa?"

"Diskusi soal sketsa Music Video. Aku ingin mendiskusikannya denganmu, tapi saat aku ke ruanganmu Ryeowook bilang kau sedang tidak ada di tempat."

"Oh, ya. Tadi aku menemui Yunho di lobby. Kerjakan saja seperti biasanya, kenapa kau perlu diskusi lagi? Aku selalu suka dengan hasil kerjamu. Ngomong-ngomong, kapan kau kembali dari London?"

"Belum lama. Setelah menerima e-mail darimu mengenai project baru, aku langsung berencana pulang secepatnya. Sudah lama sekali kita tidak bekerja sama, aku merindukan saat-saat berdebat kita."

"Diskusi, bukan debat."

"Terserah. Kalau begitu aku permisi, aku akan mempersiapkan semuanya hari ini dan lusa mulai shooting."

"Okay. Sampai jumpa."

Begitu Sohyun meninggalkan ruangan Donghae, Hyukjae langsung naik ke pangkuan Donghae. Dengan senang hati Donghae langsung mengecupi seluruh wajah Hyukjae, sebelum akhirnya memagut lembut bibir Hyukjae.

"Hari ini aku sedang kesal padamu!"

Donghae terkekeh, mana ada orang kesal tingkah seperti Hyukjae. Dia menatap Donghae lembut dan kedua lengannya melingkar mesra di lehernya, apakah itu bisa di sebut kesal?

"Kenapa lagi?"

"Aku di omeli Yunho karena tidak ada di tempat saat dia mencariku dan baru saja aku mendapati kau sedang berduaan dengan orang lain di sini, di ruanganmu."

"Kau memang tidak pernah suka saat ada orang lain masuk ke ruanganku."

"Karena kau hanya milikku."

Hyukjae mengecup singkat bibir Donghae lalu turun dari pangkuannya. Pagi ini ada setumpuk pekerjaan yang harus ia selesaikan, benar-benar harus diselesaikan agar akhir pekan nanti ia punya waktu libur dan bisa menghabiskan waktu bersama Donghae.

"Mau kemana?"

Belum sempat Hyukjae menyentuh pintu, Donghae sudah merengkuh pinggangnya duluan. Donghae memeluk Hyukjae erat dari belakang sambil mengecupi leher putih Hyukjae, menelusuri garis leher Hyukjae hingga ke perpotongan bahu dan lehernya.

"Kembali ke ruanganku, aku harus menyelesaikan urusan perpanjangan kontrak Jaejoong."

"Selesaikan secepat mungkin. Akhir pekan nanti, kita tidak boleh datang ke kantor dengan alasan apapun."

"Kenapa?"

"Panti asuhan tempat kita biasa donasi memiliki seorang bayi yang katanya di tinggal meninggal oleh kedua orangtuanya, aku berencana mengambil alih hak asuhnya atas nama kita."

Mata Hyukjae membola, ia melepaskan rengkuhan Donghae dan menatap Donghae dengan penuh tanda tanya.

"Kau mau mengadopsinya?"

"Bukankah menyenangkan kalau ada suara tangis bayi di rumah?"

"Lalu pekerjaan kita? Maksudku, pekerjaanku? Kalau ada bayi di rumah aku tidak bisa datang ke kantor, aku tidak bisa bekerja dan membuat kontrak. Selain itu, aku juga tidak mungkin membawa bayi ke kantor."

"Jadi, kau tidak menginginkannya?"

Hyukjae menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya sekaligus. Jangan sampai obrolan yang harusnya mengharu biru dan romantis ini berakhir dengan pertengkaran. Sungguh, Hyukjae sangat menghindari pertengkaran dengan Donghae karena ia tidak mau ada masalah yang berlarut-larut di antara mereka.

"Aku menginginkannya, sangat menginginkannya. Tapi, bayi? Kau pikir aku bisa begitu saja mengasuhnya? Aku tidak punya pengalaman mengurus bayi, aku bisa saja melakukan kesalahan dan membuatnya celaka. Sudahkah kau memikirkannya sampai ke sana?"

"Aku sudah memikirkan itu. Maksudku, kita tidak perlu langsung membawanya ke rumah, kita bisa mengunjunginya setiap akhir pekan sambil belajar cara mengurus bayi dari para pengasuh di sana. Sampai saatnya tiba, sampai kau dan aku sama-sama siap, kita akan membawanya pulang ke rumah. Masalah pekerjaan, kita bisa membawa pengasuh bayi ke rumah untuk menjaganya saat kita bekerja. Hm?"

Lagi-lagi Hyukjae menarik nafasnya dan menghembuskannya sekaligus, ia benar-benar tidak mengerti jalan pikiran Donghae. Pemikirannya terlalu gegabah dan tidak dipikirkan matang-matang. Membesarkan seorang anak tidak semudah kelihatannya, ada banyak hal yang harus dipikirkan baik-baik. Perkembangannya, pendidikannya, masa depannya dan banyak hal lainnya yang mungkin tidak bisa dibayangkan oleh mereka berdua.

"Kau sendiri tahu, bukan? Aku tidak suka ada orang lain tinggal di rumah kita."

"Dia hanya akan tinggal selama kita pergi. Saat kita ada di rumah, dia akan pulang dan hanya datang saat kita panggil saja."

Hyukjae diam sejenak, ia memijat pelan pelipisnya yang tiba-tiba berdenyut sakit. Pemikiran Donghae sungguh terlalu gegabah dan beresiko, terlalu beresiko dan tidak matang sama sekali.

"Kita akan bicarakan ini setelah kita melihat bayi itu. Membesarkan seorang anak tidak semudah kelihatannya, Donghae. Kita benar-benar harus membicarakannya dan memikirkannya matang-matang, okay?"

Kini giliran Donghae yang diam, ia tidak tahu mau menjawab Hyukjae bagaimana.

"Baiklah, kita akan bicarakan masalah ini lagi nanti."

.

.


Hyukjae membolak-balik kertas yang berserakan di mejanya dengan tidak fokus, ia bahkan menandatangani perpanjangan kontrak Jaejoong dengan pikiran yang terbagi kesana kemari. Pembicaraannya tentang anak dengan Donghae pagi tadi membuat hatinya gusar, ia bingung harus berbuat apa. Di sisi lain, Hyukjae menginginkan hadirnya seorang anak di antara mereka. Dan di sisi lainnya, Hyukjae bingung membagi waktu antara mengurus anak dan pekerjaannya yang sangat penting ini.

Saat usia pernikahan mereka masuk tahun ketiga, pertengkaran kecil soal anak sudah sering kali terjadi. Tapi kemudian masalah itu tidak berlarut-larut, karena Hyukjae selalu berhasil mengalihkan perhatian Donghae ke hal yang lain. Sekarang, pertengkaran itu terjadi lagi, entah angin dari mana tiba-tiba Donghae ingin mengadopsi seorang bayi. Ayolah, seorang bayi! Hyukjae laki-laki dan seumur hidup ia tidak pernah mengasuh bayi, jangankan mengasuh, menggendong saja tidak pernah! Bagaimana bisa ia membesarkan seorang bayi tanpa pengalaman? Bisa-bisa Hyukjae membuat kacau semuanya. Kemungkinan terburuknya, Hyukjae bisa saja mencelakakan bayi itu tanpa sengaja.

"Hei, Lee Hyukjae! Kau dengar aku?"

Hyukjae mengerjapkan matanya, ia menatap kertas yang ia pegang dan Jaejoong bergantian. Oh, perpanjangan kontrak. Sial! Bisa-bisanya ia melamun ketika sedang meeting dengan Jaejoong.

"Oh, ya. Aku mendengarmu. Sama seperti sebelum-sebelumnya, kau bisa melakukan apapun sesuka hatimu selama itu tidak melanggar perjanjian kontrak. Jadwal pemotretan, shooting dan semua yang bersangkutan dengan aktifitasmu akan ditandatangani dengan ijin darimu dan Yunho. Semua akan selalu kami konfirmasi padamu."

Jaejoong melepaskan kaca mata hitamnya, ia menatap Hyukjae serius dan menyingkirkan benda-benda yang ada di meja Hyukjae untuk meletakan tas LV terbarunya.

"Apa menurutmu selamanya orang-orang ingin melihat foto topless ku?"

"Well, kalau kau tidak mau melakukan pemotretan topless, kau tidak perlu melakukannya."

Sejujurnya Hyukjae agak bingung dengan pertanyaan Jaejoong, tidak biasanya Jaejoong mengajukan pertanyaan seperti itu. Jaejoong adalah model papan atas yang namanya bahkan sudah sampai ke Holliwood, tentu saja semua orang selalu menantikan karya apa lagi yang akan di luncurkan Jaejoong. Apapun yang dilakukan Jaejoong, selalu di nanti para penggemarnya.

"Aku berpikir untuk berhenti menjadi model dan menikah dengan Yunho. Aku ingin diam di rumah dan mengurus anak, kau tahu? Seperti pasangan normal lainnya. Mungkin aku tidak bisa bertingkah seperti ibu-ibu atau bergerak selembut seorang ibu, tapi aku bisa memasak dan mengurus bayi. Meski kami bukan pasangan normal, aku ingin kehidupanku dan Yunho berjalan dengan normal."

Mendengar penuturan Jaejoong, membuat Hyukjae termenung dan berpikir. Jaejoong yang notabene model terkenal saja mau melepaskan semuanya demi memiliki seorang bayi, lalu bagaimana dengan dirinya? Hyukjae terus saja mengkhawatirkan perusahaan dan mengabaikan kebahagiaannya juga kebahagiaan Donghae. Terkadang ia berpikir, apakah Donghae benar-benar bahagia hidup bersamanya? Donghae tidak pernah marah atau mengeluh. Selama hidup bersama sebagai pasangan, Donghae selalu membiarkan Hyukjae selalu benar dan menang. Bukankah itu sedikit egois? Donghae hanya ingin mengadopsi seorang anak, Hyukjae bahkan tidak perlu susah-susah melahirkannya. Kenapa sulit sekali mengiyakan keinginan Donghae yang satu itu?

"Kau melamun lagi! Kau ini mendengarkan aku atau tidak? Ah, sudahlah aku pergi saja. Kalau kau kurang sehat, sebaiknya pulang dan istirahat. Wajahmu tidak terlihat baik."

"Maaf, Jaejoong. Kita akan bicara lagi lain kali."

Setelah Jaejoong pamitan, Hyukjae merebahkan punggungnya di sandaran kursi sambil mengatur nafas. Pernikahan yang awalnya sangat menyenangkan, kenapa tiba-tiba jadi rumit seperti ini?

"Hei, mau makan siang denganku? Aku sedang tidak ada jadwal hari ini dan managerku pulang menemui kekasihnya."

Inginnya Hyukjae menolak permintaan Siwon, tapi berdiam diri di kantor dan memandangi dokumen hanya membuatnya bertambah sakit kepala dan stress. Mungkin keluar dan menikmati angin segar akan membuat kepalanya sedikit dingin.

"Baiklah."

Hyukjae membuat catatan kecil dan menempelkannya di meja, berjaga-jaga kalau Donghae tiba-tiba mencarinya. Biasanya Donghae tidak mengaktifkan ponselnya saat bekerja, jadi Hyukjae selalu meninggalkan catatan kecil ketika ia keluar ruangan.

"Kita makan siang di restoran yang ada di samping gedung saja, ya? Aku sedang malas membawa mobil."

"Terserah."

Tidak ada pembicaraan berarti selama mereka berjalan menuju restoran, hanya sesekali Siwon bertanya soal perusahaan dan siapa saja pemegang saham terbesar. Bahkan ketika mereka sampai dan memesan menu makanan, Hyukjae tetap diam dan membiarkan Siwon berceloteh sendiri. Sejujurnya, Hyukjae sedang malas bicara atau mengobrol, ia hanya ingin keluar dan menikmati makan siangnya dengan tenang.

"Hyukjae."

"Hm?"

"Apa yang membuatmu begitu sangat mencintai Donghae?"

Hyukjae meletakan sumpitnya dengan sedikit kasar, ia menoleh ke samping untuk menatap Siwon yang sedang memandanginya, menanti jawaban.

"Aku punya seribu alasan."

"Sebutkan satu saja."

"Dia selalu mencintaiku dengan tulus."

Siwon mengangguk, ia kembali menikmati makan siangnya tanpa suara. Aneh, biasanya Siwon selalu mengajaknya berdebat dan mengungkit masa lalu. Tapi kali ini? Kenapa dia diam dan puas hanya dengan satu jawaban? Sudahlah, bukankah sangat baik kalau Siwon tidak mengajak berdebat?

"Kau tahu, kenapa aku menolakmu dulu?"

Arah pembicaraan ini semakin tak tentu akan kemana, Hyukjae bingung dengan sikap Siwon hari ini. Siwon yang biasanya bersikap menyebalkan selalu mendebatkan hal-hal tidak penting, kini begitu tenang.

"Kenapa?"

"Aku takut orang di sekelilingku mentertawakanku, aku takut menjadi berbeda dan aku takut dijauhi orang. Aku memang seorang pengecut, karena tidak berani mengungkapkan perasaanku yang sesungguhnya. Aku selalu bersikap sesempurna mungkin agar orang terkesan padaku, dan kau tahu? Itu sangat menyiksaku. Setelah melihatmu begitu bahagia dengan Donghae, aku sangat menyesal dan sedikit marah pada diriku sendiri."

Hati Hyukjae menghangat mendengar penuturan Siwon, ia seperti terhipnotis untuk terus menatap mata Siwon tanpa berkedip. Tidak di sangka Siwon yang dulu mentertawakan perasaannya, ternyata memendam rasa yang sama dengannya.

"Aku menyesal, itu sebabnya aku ingin mendapatkanmu sekarang. Aku lelah bersikap sok sempurna, aku hanya menginginkan dirimu dan membuang image sempurna yang melekat pada diriku."

Tatapan Siwon semakin lama semakin lembut dan membuat hati Hyukjae bergetar. Saking terkesimanya, ia bahkan tidak sadar Siwon mulai mendekatkan wajahnya dan menempelkan bibir mereka berdua. Awalnya menempel, lama-kelamaan menjadi sebuah pagutan dan Hyukjae mulai menikmati pagutan itu.

Cukup lama mereka dalam posisi yang intim, sampai akhirnya Hyukjae memutuskan tautan mereka dan menjauhkan tubuhnya dari Siwon. Hyukjae berdiri, ia mengatur nafasnya yang tiba-tiba berantakan dan tidak teratur. Apa yang ia lakukan barusan? Apa yang ia pikirkan sampai terlena dengan ucapan Siwon dan membiarkannya menciumnya? Hyukjae pasti sudah gila!

"I—tu, sebuah kesalahan! Lain kali jangan pernah menemuiku kalau tidak penting!"

Hyukjae melangkah terburu-buru meninggalkan restoran, ia merasa sangat rendah dan tidak punya harga diri. Apa-apaan tadi? Dengan mudahnya ia terlena dengan kata-kata Siwon dan membiarkan laki-laki itu menciumnya. Sial! Sial! Hyukjae merasa dirinya sangat kotor sekarang!

"Hei, sayang. Kau kenapa?"

Hyukjae kaget bukan main, ia baru saja membuka pintu ruangannya dan Donghae berada tepat dihadapannya.

"Kau makan siang dengan Siwon dimana? Aku baru saja mau menyusulmu."

"Aku tidak jadi makan dengannya."

"Kenapa? Dia membuatmu tersinggung?"

Melihat tatapan mata Donghae yang lembut dan penuh kekhawatiran itu membuat hati Hyukjae berdenyut sakit, ia melangkah mendekati Donghae dan memagut bibirnya dengan paksa. Hyukjae tidak peduli dengan Donghae yang mungkin merasa bingung, ia hanya ingin menghilangkan jejak Siwon tadi.

"Bajingan itu, dia—dia menciumku. Aku benar-benar membencinya!"

"Apa?"

"Maafkan aku."

Sebelum suasana semakin kacau, Hyukjae memeluk Donghae erat dan mengucapkan kata maaf bertubi-tubi. Seharusnya Hyukjae tidak menerima ajakan Siwon dan berdiam diri di sini bersama Donghae, bersama pasangan hidupnya yang sudah mengikat janji sehidup semati dengannya.

"Ada apa denganmu, Hyukjae?"

"Aku tidak mau menemuinya lagi. Maafkan aku."

"Benar, jangan pernah menemuinya lagi."

Setelah berkata demikian, Donghae melepaskan pelukannya dan melenggang pergi meninggalkan ruangan itu tanpa kata.

Maafkan aku...

.

.


"Choi Siwon!"

Nafas Donghae memburu, darahnya mendidih dan kepalanya terasa seperti akan meledak kapan saja begitu melihat laki-laki tegap dihadapannya. Kejadian yang diceritakan Hyukjae kemarin membuat Donghae sangat marah dan tidak bisa tidur dengan tenang, ia bahkan mengacuhkan Hyukjae seharian karena tidak bisa meredam kemarahannya sebelum menemui Siwon dan menghajarnya.

"Kuperingatkan padamu, Lee Hyukjae adalah milikku. Kalau kau berani menyentuh milikku, aku tidak akan diam saja. Ingat itu!"

Siwon berdecih, beraninya Donghae berkata seperti itu padanya sementara dia sendiri memilki seseorang di belakang Hyukjae.

"Oh, lalu bagaimana dengannya? Tidakkah kau merasa egois? Kau bertingkah seperti bajingan egois yang tidak bisa menentukan pilihan. Kau tidak mau melepaskannya, tapi kau juga tidak mau kehilangan Hyukjae. Kau pikir aku tidak tahu? Kau pikir bisa menyimpan terus rahasiamu itu, huh? Benahi saja dulu hatimu yang berantakan itu dan jangan mengurusi perasaanku!"

Wajah Donghae memucat, ia mematung tidak berdaya ketika Siwon memukulnya dengan kata-kata yang tepat menusuk hatinya. Donghae bahkan tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya, saat Siwon melontarkan kalimat yang membuatnya kalah telak itu.

"Permisi, Sajangnim."

Ketika mobil Siwon sudah menjauh, Donghae masih saja diam mematung di basement yang sangat sepi itu. Kata-kata Siwon memukul telak kepalanya dan menyadarkannya bahwa ia memang bajingan yang egois, sangat egois, terlalu egois. Donghae ingin Hyukjae terus berada disisinya, tapi ia juga tidak bisa melepaskan orang yang pernah memberinya kebahagiaan. Orang yang selalu ada untuknya di saat apapun, orang yang sangat mengerti kebimbangan hatinya.

"Hei, aku mencarimu ke ruanganmu. Sedang apa di sini?"

Suara seorang gadis memecah keheningan. Donghae berbalik, lalu melangkah mendekati gadis itu sambil menatapnya dengan tatapan yang paling sedih. Gadis yang tumbuh bersamanya dan selalu ada untuknya itu, terlihat sangat cantik hari ini. Rambut sebahunya yang berwarna cokelat madu itu dibiarkan tergerai indah, mata bulan sabitnya menatap Donghae dengan penuh kehangatan, dan senyum dibibirnya membuat Donghae ikut tersenyum tanpa sadar.

"Kau tidak takut Hyukjae cemas? Dia paling tidak bisa jauh darimu."

Tanpa berkata apa-apa, Donghae memeluk gadisnya dengan erat. Memberitahunya bahwa ia menyesal, lewat sebuah pelukan.

"Kau kenapa?"

"Maafkan aku, Sohyun."

Sohyun, gadis itu Joo Sohyun. Gadis yang telah menjadi teman, sahabat dan kekasih Donghae sejak usia mereka masih belasan. Gadis yang pernah Donghae campakan, karena ia tidak menginginkan pernikahan dan lebih memilih karir musiknya. Gadis yang selalu setia berada disampingnya, meski dia tahu Donghae tengah mengkhianatinya dengan menikahi Hyukjae dan bahkan mulai mencintainya.

"Kau mulai lagi."

"Aku tidak tahu harus bagaimana."

Sohyun melepaskan pelukan Donghae, jemarinya terulur untuk mengelus lembut kedua pipi Donghae.

"Sejujurnya, aku masih sangat marah padamu karena kau lebih memilih menikahi Hyukjae dari pada aku. Kau begitu menginginkan kesuksesan perusahaan ini sampai mengorbankan aku dan cintaku, kecintaanmu pada musik mengalahkan segalanya. Aku bisa apa?"

"Aku tidak bisa melepaskan Hyukjae."

"Kau juga tidak bisa melepaskanku. Tidakkah kau merasa dirimu itu sangat egois, Donghae? Kau tidak hanya menyakitiku saja, kau juga akan menyakiti Hyukjae. Bagaimana kalau dia tahu hubungan kita?"

"Sohyun, aku—"

"Kau harus memilih, aku atau dia."

"Aku tidak bisa!"

Airmata Sohyun turun begitu saja, hatinya terlalu sakit untuk berkata-kata. Sudah berkali-kali Sohyun disakiti oleh Donghae, namun berkali-kali pula Sohyun memaafkannya.

"Dulu kau datang padaku dan bilang akan menikahi Hyukjae atas dasar kesepakatan, demi perusahaan yang kau rintis bersamanya. Kau bilang padaku, bahwa hanya dengan cara menikahi Hyukjae kau bisa membangun sebuah perusahaan musik. Kau juga bilang padaku, bahwa setelah perusahaan sukses kau akan mengakhiri kesepakatan menikah dengan Hyukjae dan kembali padaku. Aku selalu mempercayai semua janji-janjimu, aku selalu berada disisimu meski berkali-kali kau menyakiti aku. Karena apa? Karena aku mempercayaimu, aku percaya kau hanya mencintai aku, aku percaya kau hanya menginginkanku meski kau tidak mau menikahi aku."

Donghae sungguh tidak bisa berbuat apa-apa ketika melihat Sohyun terisak dihadapannya, wajahnya berantakan karena airmata yang mengalir deras membasahi kedua pipinya. Donghae ingin sekali mengatakan sesuatu yang bisa menenangkan Sohyun, tapi lidahnya kelu. Semua kalimat yang ingin ia ucapkan tertahan di kerongkongannya.

"Maaf."

Hanya satu kata yang bisa Donghae ucapkan, itu pun dengan susah payah karena nafasnya seperti tercekat. Donghae tidak sanggup melihat Sohyun menderita karenanya, tapi ia juga tidak bisa berbuat apa-apa karena ia tidak bisa memungkiri cinta yang tumbuh di antara dirinya dan Hyukjae.

"Kau benar-benar bertingkah seperti bajingan egois sampai akhir, Lee Donghae."

Sohyun berbalik lalu meninggalkannya, tapi Donghae tidak mencegahnya dan membiarkan gadis itu pergi menjauh. Untuk apa menahannya? Donghae tidak punya alasan yang kuat untuk menahannya. Donghae juga tidak bisa berkata apapun untuk menenangkannya, ia hanya bisa diam dan memandangi punggung Sohyun yang semakin menjauh dari pandangannya.

Donghae mengusap wajahnya kasar, ia masuk ke dalam mobilnya dan memukul-mukul setir yang tidak berdosa untuk melampiaskan kekesalannya. Kenapa hatinya begitu plin-plan? Kenapa ia tidak bisa memilih? Kenapa ia mencintai dua orang sekaligus? Bukannya hanya mencintai dua orang sekaligus saja, ia juga mungkin menyakiti mereka berdua. Seandainya dulu Donghae tidak pernah mengajak Hyukjae melakukan kesepakatan bodoh itu, mungkin Donghae akan terus bersahabat dengan Hyukjae dan hubungannya dengan Sohyun akan tetap baik-baik saja. Semua karena ambisinya yang terlalu kuat, ia terlalu berambisi mendapatkan sesuatu hingga melupakan segalanya. Yang ada dikepalanya saat itu hanyalah, sukses, sukses dan sukses, tidak ada yang lain. Dan inilah akibat yang harus Donghae terima, terjebak di antara dua orang yang sangat ia cintai.

"Sejujurnya, aku masih sangat marah padamu karena kau lebih memilih menikahi Hyukjae dari pada aku. Kau begitu menginginkan kesuksesan perusahaan ini sampai mengorbankan aku dan cintaku, kecintaanmu pada musik mengalahkan segalanya. Aku bisa apa?"

Kata-kata Sohyun terus saja terngiang ditelinganya, Donghae bahkan masih dapat mengingat dengan jelas bagaimana wajah Sohyun saat mengatakannya. Sangat tertekan dan menderita. Hatinya pasti sangat sakit, dia terus menerima janji-janji manis dari Donghae tapi tidak satupun yang Donghae tepati. Semua hanya kebohongan, perasaan yang dulu sangat yakin, kini mulai goyah dan tak tentu.

Henry's Calling...

Donghae mengeluarkan ponsel dari saku jasnya. Henry, pasti ada masalah lagi. Donghae menghembuskan nafasnya sebelum mengangkat panggilan Henry, entah masalah apa lagi yang akan disampaikan Henry.

"Halo."

"Kau sudah gila? Kau apakan Sohyun? Aku melihatnya keluar gedung dengan wajah yang kacau, kalian bertengkar?"

Ternyata Henry melihatnya. Lagi-lagi Donghae menghembuskan nafasnya, ia tidak tahu harus mengatakan apa pada Henry.

"Dia pulang sendiri?"

"Tidak. Kang Giljun mengantarnya pulang."

"Oh."

"Hyung, berhentilah main-main dengan hatimu! Kau harus memilih, kau harus melepaskan salah satu dari mereka dan biarkan mereka bahagia!"

"Kututup teleponnya, Henry. Sampai jumpa besok."

Donghae melemparkan ponselnya ke jok belakang, kepalanya berdenyut-denyut tiap kali masalah memilih di ungkit.

Aku menginginkan kalian berdua...

.

.


ooODEOoo


Riuh suara gemerisik minyak yang di goreng membangunkan Donghae. Ah, Hyukjae pasti sedang menyiapkan sarapan untuk mereka berdua. Hampir saja Donghae lupa hari ini adalah akhir pekan, yang artinya waktu romantis bersama Hyukjae! Donghae bangun dengan semangat, ia berjalan tergesa-gesa keluar kamar dan langsung memeluk Hyukjae dari belakang begitu melihat lelakinya sedang sibuk menggoreng pancake.

"Kau menganggu!"

Meski Hyukjae berusaha melepaskan rengkuhannya, Donghae nampak tidak peduli. Donghae terus saja memeluk Hyukjae, bibirnya menelusuri garis rahang Hyukjae sambil sesekali mengecupnya.

"Kita akan melihat Haru hari ini!"

"Haru? Siapa?"

"Nama anak yang akan kita adopsi nanti."

"Ah, namanya Haru? Cantik sekali."

"Hm, sangat."

Donghae menghadiahi Hyukjae dengan kecupan yang bertubi-tubi, rasa bahagianya tidak dapat ia kontrol lagi.

"Suasana hatimu cepat sekali berubah, beberapa hari yang lalu kau mengacuhkanku seharian karena insiden Siwon, dan sekarang kau bertingkah seperti orang yang tergila-gila padaku."

"Kau membuatku gila. Aku marah karena aku cemburu, mana bisa aku diam saja sementara aku tahu ada laki-laki lain yang berani menciummu!"

Ini yang paling disukai Hyukjae! Setiap ada masalah apapun, Donghae selalu menyelesaikannya secepat mungkin. Donghae selalu mengajaknya diskusi dan membicarakan masalah mereka, untuk kemudian di cari jalan keluarnya bersama. Donghae tidak pernah membiarkan masalah terus berlarut-larut dan menjadi besar.

"Itu tidak akan pernah terulang lagi."

"Okay, kita sarapan dan cepat bersiap bertemu dengan Haru. Hm, hari ini kita naik bus saja, ya?"

Kedua sudut bibir Hyukjae tertarik membentuk sebuah senyuman yang cerah, ia mengangguk antusias. Naik bus di akhir pekan seperti ini, mengingatkan Hyukjae pada masa-masa remaja mereka. Saat sekolah dulu, mereka sering sekali naik bus berdua. Entah itu ke sekolah atau ke tempat lain, mereka selalu naik bus. Wah, terlalu banyak kenangan yang mereka buat ketika berada di dalam bus, bercanda, bertengkar, tertawa, membicarakan mimpi mereka, membicarakan soal musik dan banyak lagi hal-hal kecil yang selalu Hyukjae ingat sampai sekarang.

"Aku jadi ingat saat pertama kali kita bergandengan tangan."

Donghae berdecak, "Itu sangat aneh dan canggung."

"Status kita masih sahabat waktu itu."

"Sekarang kita tidak perlu malu bergandengan tangan, karena semua orang tahu siapa kita."

Benar, semua orang tahu siapa mereka dan bagaimana status mereka. Gerak-gerik mereka tak luput dari sorotan media. Sebagai CEO dan Representatif muda, mereka sangat diperhatikan oleh publik. Terlebih, perusahaan mereka menaungi banyak artis-artis terkenal.

"Saat publik mengetahui soal Haru nanti, bagaimana reaksi mereka? Akankah kita mendapat kecaman lagi? Seperti saat publik tahu kita adalah pasangan menikah."

Donghae mendesah pelan, ia memasukan satu potongan pancake ke dalam mulutnya. Entahlah, Donghae juga tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Semua orang memperhatikan mereka, apapun yang mereka lakukan akan menimbulkan pro dan kontra. Meskipun Donghae terus menegaskan bahwa kehidupan keluarganya adalah pribadi, tak jarang tetap ada orang mengorek-ngorek informasi tentang mereka. Menyebalkan memang, tapi mau bagaimana lagi? Resiko menjadi orang yang di sorot publik ya begini.

"Ada banyak resiko yang harus kita hadapi. Tapi, aku akan berusaha menjaga privasi keluarga kita sebaik mungkin. Kau tidak perlu cemas."

"Selesaikan sarapanmu dan kita berangkat, aku tidak sabar ingin melihat Haru."

"Hm."

Sementara Donghae mandi, Hyukjae membersihkan meja makan dan dapur yang sedikit berantakan. Akhir-akhir ini Hyukjae sibuk sekali hingga tidak sempat membersihkan rumah dengan benar, bahkan Hyukjae juga lupa mau mengganti lampu dapur yang mati. Tiap malam kakinya harus tersandung kaki kursi saking gelapnya. Hyukjae diam sejenak, mungkin ucapan Donghae soal asisten rumah tangga ada benarnya juga. Selain nanti bisa mengurus Haru selagi dirinya dan Donghae bekerja, dia juga bisa membantu Hyukjae membersihkan seisi rumah. Tapi kalau di pikir-pikir lagi, Hyukjae kurang suka ada orang lain di rumah mereka. Jadi, harus bagaimana?

Joo Sohyun Calling...

Hyukjae melirik ponsel milik Donghae yang tergeletak di meja makan. Sial! Lagi-lagi ada yang menelepon di akhir pekan.

"Ada apa?"

"Hyukjae?"

"Ada perlu apa? Donghae sedang mandi. Apa ada masalah di lokasi shooting? Siwon membuat masalah?"

"Tidak ada apa-apa. Hm, aku hanya tiba-tiba merindukan kalian. Selama di London, aku tidak sempat menghubungi kalian."

"Oh, kau ini. Kupikir ada masalah besar. Minggu depan, kita makan malam bersama, bagaimana?"

"Ide bagus! Sampai jumpa minggu depan, Hyukjae."

"Hm."

"Siapa yang menelepon?"

Hyukjae terkesiap, hampir saja ia menjatuhkan ponsel Donghae. Donghae tiba-tiba ada dibelakangnya, dengan tubuh mereka yang saling menempel intim.

"Sohyun."

"Mau apa? Pekerjaan?"

"Bukan apa-apa, dia bilang hanya tiba-tiba merindukan kita. Jadi, aku bilang saja minggu depan kita makan malam bersama. Lagi pula, sudah lama sekali kita tidak makan malam dengannya."

"Oh."

Donghae menjauhkan dirinya dari Hyukjae, ia masuk ke kamar tanpa suara. Setiap kali Hyukjae menyebut nama Sohyun, Donghae selalu merasa gusar dan gelisah. Ingin mengakhiri segalanya, tapi hatinya menginginkan kedoa orang itu berada disisinya. Bahkan setelah berkali-kali mendengar makian tentang dirinya yang egois, Donghae tetap tidak bisa memilih. Donghae takut memilih, karena sampai saat ini, ia tidak tahu siapa yang benar-benar diinginkan hatinya.

.

.


Setelah sekian lama berkutat di kantor, sibuk membaca ini dan itu, akhirnya Donghae bisa menggenggam tangan Hyukjae lagi sambil berbincang-bincang santai di halte bus. Di hari sabtu yang cerah ini, Donghae dan Hyukjae bisa menikmati angin musim semi yang menerpa wajah mereka, tangan mereka saling bertaut mesra dan pandangan mereka tidak pernah lepas dari satu sama lain. Senyum di wajah keduanya juga tidak pernah hilang, apapun yang dikatakan Donghae maupun Hyukjae, mampu membuat keduanya tersenyum. Hari-hari romantis seperti ini jarang sekali mereka dapatkan, biasanya mereka akan terus di ganggu oleh pekerjaan. Tapi, khusus hari ini, mereka benar-benar meluangkan waktu berdua saja dan mematikan ponsel mereka demi quality time yang jarang sekali mereka dapatkan.

"Ngomong-ngomong soal asisten rumah tangga, sepertinya aku mulai mempertimbangkan usulmu."

"Oh, asisten rumah tangga yang hanya akan datang saat kita pergi?"

"Hm. Aku pikir, aku tidak bisa meninggalkan pekerjaan begitu saja. Aku juga, tidak bisa mengerjakan pekerjaan rumah sendirian. Terlebih, sebentar lagi kita akan membawa Haru ke rumah. Jadi, ada baiknya kita mulai mencari asisten rumah tangga."

Diam-diam Donghae merasa sangat senang, ia mulai merasa Hyukjae mengalami perubahan ke arah yang lebih baik sedikit demi sedikit. Dari Hyukjae yang dingin dan tidak pernah mempedulikan orang lain, kini dia menjadi pribadi yang cukup hangat dan mulai memperhatikan kebahagiaan orang lain. Meski kadang masih menunjukan sifat dinginnya, tapi Donghae bisa merasakan perhatian Hyukjae yang semakin hari semakin bertambah.

"Oh, kita juga harus mulai membeli keperluan bayi dan mengamankan benda-benda yang mungkin bisa menyakiti Haru. Sudut-sudut meja, misalnya. Ah, ada banyak benda di rumah yang mulai harus di ganti."

"Sayang, Haru masih bayi. Usianya baru sepuluh bulan. Jangankan berjalan, bicara pun dia belum bisa. Lagi pula, bukankah kita hanya kan melihatnya dulu? Setelah kau belajar bagaimana merawat bayi, barulah kita akan membawanya pulang ke rumah."

"Oh, benar juga. Apa aku terlihat begitu antusias?"

"Hm."

"Entah kenapa, hanya memikirkannya saja sudah membuatku senang dan ingin terus tersenyum. Ngomong-ngomong, dia akan memanggil kita apa nanti?"

"Hm, ayah dan ibu?"

"Hei, aku laki-laki! Aku tidak suka di panggil begitu."

"Lalu apa?"

"Ayah dan Daddy?"

Donghae menatap Hyukjae sambil mengerutkan alisnya. Ayah dan Daddy? Tidak buruk. Setidaknya saat Haru besar nanti dia tidak akan bingung, kenapa harus memanggil laki-laki lainnya dengan sebutan ibu?

"Okay, call!"

Bus yang mereka tunggu-tunggu datang, Donghae dan Hyukjae tampak sangat antusias. Rasanya benar-benar seperti kembali ke masa-masa sekolah dulu, dimana hanya ada canda tawa di antara mereka. Donghae masih ingat dengan jelas, bagaimana Hyukjae ketiduran dan bersandar di bahu Donghae. Untuk pertama kalinya Donghae merasa Hyukjae sangat manis, padahal sebelumnya mereka pernah tidur bersama, bahkan mandi bersama juga pernah. Tapi hari itu Donghae merasakan sesuatu yang berbeda, jantungnya berdegup keras ketika memperhatikan wajah damai Hyukjae.

Mungkin...itu pertama kalinya Donghae merasakan sesuatu mulai berbeda.

"Sebentar lagi kita sampai."

"Aku ingin lebih lama di sini?"

"Kenapa?"

Alih-alih menjawab, Hyukjae malah menyandarkan kepalanya di bahu Donghae. Sepanjang perjalanan, Hyukjae tidak henti-hentinya mengenang masa sekolah mereka.

"Karena sekarang kita sulit sekali begini. Saling menggenggam tangan, bicara dari hati ke hati, menghabiskan waktu bersama dan menikmati perjalanan ini. Biasanya kita selalu melakukan sesuatu dengan terburu-buru, bahkan ketika bercinta juga kita pernah terburu-buru karena ada pekerjaan yang tidak bisa di tunda."

"Setelah ada Haru, semua akan berubah."

"Hm, aku harap begitu."

"Oh, sudah sampai. Ayo turun."

Begitu turun dari bus, Donghae langsung menggenggam tangan Hyukjae lagi. Seperti lem yang saling menempel, hari ini mereka tidak bisa berjauhan sedikit pun.

"Kalian sudah datang?"

Seorang wanita paruh baya menyambut mereka begitu sampai di pintu gerbang. Dia adalah bibi Jung, orang yang pertama kali membawa Haru ke tempat ini setelah kedua orangtuanya kecelakaan.

"Kami di sini menunggu kalian."

Donghae membungkuk lalu tersenyum. Di banding Hyukjae, para pengasuh di sini memang lebih dekat dengan Donghae karena Donghae lah yang sering datang berkunjung kemari. Sedangkan Hyukjae, dalam sebulan mungkin hanya sempat satu kali datang.

"Oh, benarkah? Maaf, akhir-akhir ini kami sibuk bekerja. Jadi, sulit sekali menemukan waktu yang pas untuk berkunjung. Bagaimana keadaan Haru?"

"Dia sangat baik. Masuklah, dia ada di dalam."

Mata Hyukjae terpaku begitu melihat seorang bayi yang sedang menggigit-gigit mainan karet. Semakin mendekat, Hyukjae semakin tidak bisa melepaskan pandangannya dari sosok bayi bermata bening itu. Matanya bulat dan bening, di kedua pipinya terdapat semburat merah dan kulitnya putih bersih. Cantik, Haru sangat cantik.

"Dia cantik sekali. Matanya, mirip denganmu."

"Benarkah? Saat pertama kali aku melihatnya, para pengasuh di sini juga bilang begitu."

"Aku ingin membawa Haru pulang secepatnya."

Donghae dan bibi Jung saling bertukar pandang, ini pertama kalinya Hyukjae begitu antusias ketika melihat seorang bayi. Baik Donghae maupun bibi Jung, tahu betul bagaimana Hyukjae. Biasanya Hyukjae tidak pernah seantusias itu melihat bayi. Wah, Haru kecil ternyata bisa meluluhkan Hyukjae begitu saja.

"Bukankah kau bilang hanya ingin melihatnya dulu dan belajar cara mengasuh bayi?"

"Kita bawa saja bibi Jung ke rumah. Dia akan mengajariku cara merawat bayi di rumah, dia juga yang akan merawat Haru sementara kita bekerja."

Lagi-lagi Donghae dan Bibi Jung bertukar pandang.

"Bagaimana, bi?"

Donghae menggaruk pelipisnya yang tak gatal, ia jadi bingung harus berbuat apa sementara Hyukjae begitu menggebu-gebu ingin membawa Haru pulang. Melihat Hyukjae memegang jemari mungil Haru dan melihat cara Hyukjae menatapnya, Donghae jadi tidak tega menolak keinginannya. Toh sebenarnya Donghae juga ingin Haru segera di bawa pulang ke rumah.

"Aku tidak masalah dengan itu. Tapi, mengenai surat kepengurusan Haru dan akta kelahirannya mungkin baru bisa kalian terima minggu depan."

"Itu tidak masalah."

Hyukjae mennyahut tanpa mengalihkan pandangannya dari sosok mungil dihadapannya. Senyumnya semakin cerah ketika jemari mungil Haru mulai menggenggamnya, dan Hyukjae berani bersumpah! Haru baru saja menyunggingkan senyum paling cantik padanya.

"Baiklah, kita akan membawa Haru dan bibi Jung pulang malam ini juga. Kalau begitu, aku akan pulang duluan mengambil mobil. Kau tunggu di sini bersama Haru."

Hyukjae mengangguk, ia menatap Donghae sebelum mengecup pipi dan bibir Donghae bertubi-tubi.

"Aku mencintaimu, Lee Donghae."

.

.

TBC


Hai...

Sebelumnya, saya mau minta maaf karena chapter kemarin emang terburu-buru alurnya dan sangat berantakan. saya gak sempat ngedit dengan teliti dan gak sempat memperhatikan tanda baca yang salah atau kurang tepat penempatannya karena waktu yang mepet. seperti yang udah saya sampaikan dari awal saya bikin fanfict, saya ini orang kerja dan waktunya gak selalu luang, saya nulis fanfict untuk senang2 aja, refreshing. tapi saya sangat berterimakasih sama yg selalu review dan ngasih saya supoort di PM, kotak review, mention, IG, Line maupun BBM...saya sangat berterimakasih sama kalian ^^ kritik dan sarannya sangat membantu, tapi mohon maaf kl cara nulis saya, cara penyampaian saya, diksi saya, EYD saya masih banyak salahnya, saya bukan JK Rowling soalnya hahah saya cm author amatir aja~ jadi, mohon maaf atas kekurangannya di sana-sini ya...

Nah, semoga chapter ini lebih baik dari kemarin yah. sekali lagi saya minta maaf sama kalian semua. ke depannya saya akan berusaha lebih baik lagi. eh, tenang, saya nulis note panjang2 bukan utk say goodbye kok hahahah apapun reaksi kalian terhadap fanfict saya, saya bakal terus nulis fanfict, karena masih banyak kok yg sayang sm saya... (kata temen2 di BBM) hahahah pokoknya buat kak Na, putri DLL (maaf gak bisa sebutin satu2) makasih ya udh nampung curhatan saya ^^ makasih juga supportnya..LOVE YOU !^^

Ya salam ceramah deh saya =_= okelah~ pokoknya makasih yah ^^

Pertanyaan di jawab di chapter ini, ada pertanyaan lebih lanjut? PM tau BBM aja ^^ maaf karena gak bisa balesin review satu2 tapi saya baca semuanya kok satu2, saya sampe hafal sm kalian yg selalu hadir di kotak review saya ^^ pokoknya kl ada apa2 hubungi aja lewat line atau BBM yah ^^

Oh iya, buat yg minta pin BB saya DinaMaulida2617, reviewnya ke potong2 cantik jadi gak nampak di kotak review...coba nnt ngirim alamat emailnya di kasih spasi semua ya ^^

Ah, Joo Sohyun itu dancernya Donghae itu yah, yg cantik itu hahahah

Last, Review pls. biar saya bisa lanjut cepet kkkkkk ^^

.

.

With Love,

Milkyta Lee