A Little Secret

Disclaimer : I own the story. Others? Not mine. Secret Garden © SBS

Warning : AU. DON'T LIKE, DON'T READ! Shounen Ai, Yaoi, Typo, OOC dan OOC, dll, dkk, dst

.

.

Enjoy It!

#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#

.

.

"Katakan padaku, sebenarnya ada apa di antara kalian berdua?" tanya Shizune dengan tatapan mengarah lurus pada pemuda yang sedang menikmati teh di seberang meja kerjanya.

"Tidak ada. Setiap aku bertemu dengannya, dia selalu sedang dalam kesulitan, dan sebagai orang yang baik, aku membantunya," jawab Sasuke tenang.

"Kau tidak menyembunyikan sesuatu dariku kan?" tanya Shizune dengan sebelah alis terangkat.

"Apa aku bisa membohongi orang sepertimu?" Sasuke balik bertanya sembari menatap lurus lawan bicaranya. Shizune menghela napas.

"Tidak."

"Bagus." Sasuke meletakkan cangkirnya ke atas meja dan bangun perlahan. "Aku harus pergi. Gara-gara pemuda pirang itu aku melewatkan kelas musikku, dan sekarang aku harus kembali ke kantor."

Sasuke melangkah meninggalkan ruangan Shizune dan bergegas keluar dari Poliklinik. Ia segera melangkah mendekati seorang lelaki yang berdiri tak jauh dari pintu gedung.

"Hubungi Kurenai, aku ingin memintanya mengajariku materi pertemuan yang kulewatkan tadi. Jangan lupa tanyakan pada Asuma tentang hasil recording," ucap Sasuke tanpa menghentikan langkah.

Hatake Kakashi, lelaki yang bertugas sebagai manager sang Uchiha bungsu, segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi dua orang yang tadi disebutkan tuan mudanya.

"Recording sama sekali belum dilakukan, tuan," ucap Kakashi setelah memutuskan hubungan telepon. Sasuke mendelik tajam. "Asuma-san memberitahuku kalau sampai hari ini Neji-san belum juga datang ke studio," papar Kakashi.

"That stupid punk!" rutuk Sasuke kesal.

Kakashi membukakan pintu mobil dan segera duduk di kursi pengemudi. Ia segera melajukan mobil menuju kantor management. Sasuke mengambil ponselnya dan segera menghubungi seseorang.

"Mana dia? Kenapa dia belum memulai proses rekaman?" tanyanya ketus.

Kakashi menatap sang Uchiha bungsu dari kaca spion. Ini bukan pertama kalinya ia mendengar tuan mudanya berkata dengan nada ketus dan dingin seperti itu. Kakashi sudah bekerja untuk keluarga Uchiha sejak lima belas tahun yang lalu, dan sudah lebih dari sepuluh tahun ia menjadi butler sekaligus manager Uchiha Sasuke.

Jangan terkejut, Sasuke memang sudah memiliki manager pribadi saat usianya menginjak sepuluh tahun. Sasuke memang dipersiapkan untuk menjadi pewaris kedua di keluarga Uchiha. Uchiha Itachi, kakaknya, sudah mulai terjun ke dunia bisnis sejak berusia lima belas tahun. Itachi memfokuskan diri mengelola pusat perbelanjaan yang menjadi bisnis utama keluarga Uchiha. Dan di usia yang sama Sasuke pun mulai terjun di bidang bisnis. Uchiha muda itu memilih untuk mengelola Rookie Nine, sebuah label rekaman yang didirikan oleh kakeknya.

"Kirimkan alamatnya padaku. Kalau dia tidak mau menjalankan kewajibannya dengan senang hati, maka aku yang akan memaksanya," ucap Sasuke tegas, kemudian memutuskan sambungan telepon.

"Ada masalah dengan Hyuuga-san lagi, tuan muda?" tanya Kakashi santai.

"Dia memang selalu membuat masalah, kau tahu sendiri kan?" Sasuke bersandar dan menarik napas panjang. "Apa jadwal kita sekarang?"

"Ada meeting tentang persiapan audisi calon trainee tahun ini. Setelah itu Anda juga harus ke gedung karantina untuk membahas penerimaan trainee bersama staff yang lain," papar Kakashi.

Sasuke menatap langit-langit mobilnya.

"Apa aku harus datang ke meeting yangkedua itu?"

"Kurasa ya, tuan muda. Anda harus memimpin jalannya rapat."

"Aku mengerti."

Sebenarnya, walaupun Sasuke duduk di kursi tertinggi dalam struktur organisasi Rookie Nine, ia amat-sangat-jarang-sekali datang ke kantor dan mengurusi label itu. Bukan karena ia tidak mau, tapi karena Sasuke lebih memilih untuk fokus pada kuliahnya yang sudah menapak di semester akhir. Lalu siapa yang menjalankan tugas-tugasnya?

Staff management yang lain selalu memilih seseorang untuk dijadikan tangan kanan Sasuke setiap tahunnya, dan selama hampir lima tahun terakhir, nama Orochimaru terus terpilih. Ya, lelaki jangkung berambut panjang itulah yang melakukan pekerjaan sang Uchiha, dengan batasan-batasan tertentu.

.

-0-

.

Sasuke menggeram pelan ketika melihat bangunan di depannya. Kakashi yang berdiri di sampingnya menatap tuannya sedikit khawatir.

"Anda yakin ini tempatnya, tuan?" tanyanya memastikan.

"Hanabi tidak mungkin membohongiku, Kakashi," jawab Sasuke pelan. Ia menghela napas dan menatap manager-nya.

"Kau tidak perlu ikut, aku akan langsung menghubungimu kalau aku membutuhkan sesuatu."

Sasuke melangkah memasuki bangunan di hadapannya dan langsung disambut dengan dentuman musik ketika ia sudah ada di dalamnya. Pemuda beriris onyx itu mengedarkan pandangan ke segala arah, mencari sosok yang membuatnya terpaksa menginjakkan kaki di tempat seperti ini.

Sasuke mengerutkan dahi ketika seorang pemuda melangkah dari sampingnya dan melewatinya begitu saja. Tanpa membuang waktu ia mengikuti sosok tadi yang ternyata mamasuki sebuah ruangan.

"Apa ini caramu 'beristirahat', Dobe?" tanyanya, membuat pemuda yang sejak tadi diikutinya membalikkan tubuh dan menatapnya kaget.

"Apa yang kau lakukan di sini, Teme?" tanya Naruto yang masih terkejut.

Sasuke menatap sang Uzumaki dari ujung rambut hingga ujung kaki. Pemuda pirang itu masih memakai pakaian yang dipakainya ke kampus hari ini. Ransel hitamnya bahkan masih tersampir di bahu si pemuda berkulit tan.

"Aku tidak menyangka ternyata mahasiswa sepertimu menghabiskan waktu di tempat seperti ini," ucap Sasuke.

Naruto menarik napas panjang. Ia meletakkan ranselnya dan membuka salah satu loker yang ada di ruangan itu; mengeluarkan celana panjang hitam, kemeja putih, dan vest hitam dari dalamnya. Sasuke menaikkan sebelah alis.

"Tutup pintunya, aku harus ganti pakaian," ucap Naruto.

Sasuke menatap pintu di sampingnya, dan ia baru menyadari ada stiker bertuliskan 'Staff Only' tertempel di sana.

"Terserah kau mau masuk atau keluar, yang jelas cepat tutup pintunya. Aku sudah terlambat," ucap Naruto lagi.

Sasuke menatap Naruto yang sudah mulai membuka kancing kemeja biru yang dia kenakan. Tanpa berpikir dua kali, pewaris Uchiha itu melangkah masuk dan menutup pintu ruangan.

"Kau bekerja di sini?" tanya Sasuke, memecah keheningan.

"Apa kau harus bertanya?" Naruto membalikkan pertanyaan. Kini ia sudah selesai berganti pakaian.

Sasuke memperhatikan Naruto yang sedang berdiri di depan sebuah cermin berukuran cukup besar yang tertempel di dinding. Naruto mengambil sebuah kotak kecil dari tasnya dan membukanya perlahan.

Sasuke kembali mengerutkan dahi ketika melihat Naruto memakai lensa kontak berwarna merah darah. Kini Naruto tampak sibuk memakai riasan untuk menyembunyikan tiga goresan di masing-masing pipinya, kemudian ia sibuk menata rambut pirangnya sedemikian rupa.

"Kenapa kau bisa ada di sini?" tanya Naruto setelah selesai 'bertransformasi'.

Sasuke menatap pemuda yang ada di depannya dengan tatapan takjub. Bagaimana mungkin seseorang bisa tampak sangat berbeda hanya karena lensa kontak, make up dasar, dan tatanan rambut sederhana?

"Kau belum menjawab pertanyaanku, Teme," tegur Naruto sembari membuka dua kancing teratas di kemejanya dan menggulung kedua lengan kemejanya hingga siku.

Sasuke masih terdiam. Walaupun raut wajahnya sama sekali tidak berubah, pemuda Uchiha itu sebenarnya sedang terkejut dengan nada bicara dan suara Naruto yang kini berubah menjadi lebih dewasa.

Naruto menatap seniornya dengan heran, sebelum akhirnya melangkah meninggalkan ruangan dan juga meninggalkan Sasuke yang masih terdiam.

"Kau kenapa, Gaara?" tanya Naruto ketika melihat kawannya menggerutu kesal.

"Suruh pelangganmu itu berhenti mengejarku, Blonde," cetus Gaara.

"Apa?" Naruto makin tidak mengerti.

"Hei, Gaara, aku belum selesai bicara denganmu!"

"Shit!"

Naruto sama sekali tidak sempat bertanya lebih lanjut karena lawan bicaranya langsung beranjak dan pergi meninggalkan counter bar. Kini tatapan si pemuda berambut pirang terarah pada lelaki yang duduk dengan sedikit kasar di kursi yang tadi diduduki Gaara.

"Apa temanmu itu selalu menghindari orang lain seperti ini, Blonde?" tanya Neji kesal.

Naruto hanya angkat bahu, sama sekali tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi diantara dua orang itu. Ia mengambil lap dan mulai membersihkan counter.

"Sake."

"Baik!"

Naruto mengambil sebotol sake dan meletakkannya di atas counter dimana si pemesan duduk. Ia lalu menahan diri untuk tidak menghela napas ketika melihat si pemesan.

"Kenapa kau ada di sini, Sasuke?" tanya Neji dengan nada terkejut. Pemuda pirang yang berdiri di belakang counter kini menahan diri untuk tidak menunjukkan keterkejutannya karena ternyata pelanggannya mengenal si pemuda bermarga Uchiha.

"Kau yang memaksaku menginjakkan kaki di tempat ini, bodoh. Kenapa kau tidak memulai rekamanmu, hah? Kau pikir berapa biaya yang sudah kupakai untuk mempersiapkan single terbarumu itu?" tanya Sasuke dengan nada datar.

Neji menghela napas dan meraih sloki yang disodorkan Naruto padanya. Ia langsung mengosongkan isi sloki dengan sekali teguk. Kini matanya menatap sosok lelaki yang duduk di sampingnya.

"Aku tidak akan melakukan rekaman itu, Sasuke. Tidak selama kau belum mengganti rekan duetku," paparnya tegas.

"Kalau begitu kau harus mengganti semua uang yang sudah kukeluarkan untuk single-mu ini," balas Sasuke ringan. Neji menarik napas panjang dan menyodorkan sloki-nya.

"Kurasa malam ini aku akan minum lebih banyak, Blonde," tuturnya. Orang yang dipanggilnya hanya menyeringai kecil dan mengisi sloki tamunya.

"Blonde?" Sasuke menaikkan sebelah alis. Neji meneguk minumannya dan mengangguk.

"Tidak ada seorang pun di pub ini yang tahu nama aslinya, jadi kami menjulukinya 'blonde'. Ah, ya, dia adalah bartender favoritku di sini," tutur Neji sembari melemparkan kedipan mata, membuat Naruto melepaskan tawa.

"Pelangganku yang lain bisa salah paham kalau kau melakukan itu, Neji," ucap Naruto. Kini Neji yang tertawa.

Sasuke hanya diam dan terus memperhatikan gerak-gerik Naruto. Saat ini Naruto tengah menyambut sorang wanita yang baru saja duduk di depan counter. Dari penampilannya, Sasuke bisa menebak kalau wanita itu berasal dari keluarga kaya.

"Apa dia selalu melakukan itu?" tanya Sasuke ketika melihat Naruto membiarkan jemari lentik si wanita menyusuri sisi wajahnya. Neji mengikuti arah pandangan Sasuke.

"Well, yeah. Dia memang selalu menebar feromonnya ke semua wanita yang datang kemari. Dia lelaki yang hebat," puji Neji.

.

-0-

.

Naruto keluar dari tempat kerjanya setelah berpamitan dengan rekan kerjanya yang lain. Ia melirik jam tangannya dan menggeleng pelan. Jam dua dini hari, dan besok ada kelas jam delapan. Bisa dipastikan ia akan kurang tidur, mengingat ada tugas yang belum sempat dikerjakannya siang tadi.

"Pantas saja kau selalu tumbang di kampus. Ternyata dini hari begini kau baru selesai bekerja."

"Kau mau apa, Teme? Kenapa kau masih ada di sini?" tanya Naruto tanpa membalikkan tubuh. Sasuke menyusul langkah juniornya sampai mereka berjalan beriringan.

"Aku hanya ingin tahu jam berapa kau selesai melayani 'pelanggan-pelanggan'mu," jawab Sasuke datar.

"Jangan mengajakku bertengkar dini hari begini. Aku lelah, kau tahu?"

"Aku tidak mengajakmu bertengkar, Dobe. Memangnya apa yang kukatakan?"

Naruto menatap jalan di depannya yang sudah sepi. Siapa juga orang yang mau berkeliaran dini hari begini?

"Mungkin pekerjaanku memang tidak sebaik pekerjaanmu, tapi kau tidak berhak berkata seperti itu. Kalau kau tidak bisa menghargai sesuatu, lebih baik kau diam," ucap Naruto tenang.

"Pekerjaanmu memang jauh lebih buruk dari pekerjaanku," tanggap Sasuke. "Kau tahu? Kau bisa dikeluarkan dari universitas kalau mereka tahu ada mahasiswanya yang bekerja di pub malam seperti ini," papar Sasuke.

Naruto menghentikan langkah, dan itu membuat lawan bicaranya melakukan hal serupa. Kini si pemuda pirang mengarahkan iris birunya ke iris onyx milik sang Uchiha.

Perlahan Naruto melangkah mendekati Sasuke dan berhenti tepat selangkah di depannya. Pemuda itu mencondongkan tubuh mendekati tubuh Sasuke yang sedikit lebih tinggi darinya. Ya, untuk ukuran pemuda berusia enam belas tahun Naruto memang terhitung tinggi. Itulah kenapa tidak ada seorang pun yang curiga padanya di pub.

Mereka terdiam selama beberapa menit, hanya memandang dalam ke mata masing-masing, sampai akhirnya Sasuke mengakhiri kontak mata mereka.

"Aku tahu kau tidak akan melakukan hal serendah itu, Uchiha Sasuke."

"Jadi kau ingin menjadikan hal ini sebagai rahasia kecil kita, Dobe?"

Naruto kembali menegakkan tubuh, matanya masih tenggelam dalam iris onyx yang entah kenapa terlihat indah di matanya. Naruto membalikkan tubuh dan kembali melangkah.

Sasuke segera menarik lengan Naruto ketika tubuh si pemuda pirang sedikit oleng. Naruto melepaskan cengkraman tangan seniornya dan mengutuk tubuhnya yang ternyata masih jauh dari kata sehat.

"Aku benar-benar tidak mengerti jalan pikiran orang-orang biasa sepertimu. Jelas-jelas kau pingsan siang tadi di dalam lift, tapi kau malah tetap bekerja sampai dini hari seperti ini. Sulit dipercaya," cetus Sasuke.

"Sudah kubilang, orang biasa sepertiku tidak akan melewatkan satu kesempatan yang datang. Aku tidak mungkin absen bekerja karena sakit ringan seperti ini," Naruto membela diri.

"Sakit ringan katamu? Kau bahkan tidak bisa berjalan dengan baik, dan kau bilang itu sakit ringan? Apa kepalamu terbentur sesuatu?"

Naruto hanya menghela napas dan berbalik, namun belum sempat ia melangkahkan kaki, Sasuke kembali mencekal lengannya. Naruto menolehkan kepala dan mendapati Sasuke tengah bicara dengan seseorang melalui ponselnya.

Hanya berselang kurang dari lima menit, sebuah mobil hitam mewah berhenti di depan keduanya. Sasuke menyeret lengan si pemuda pirang dan membuka pintu mobil.

"Masuk," perintahnya singkat.

Naruto menatap bagian dalam mobil dan wajah seniornya secara bergantian. Apa Uchiha di hadapannya ini berniat menculiknya?

Sasuke berdecak pelan dan mendorong tubuh Naruto masuk ke dalam mobil. Naruto mengerang ketika kepalanya membentur punggung jok yang empuk. Sasuke langsung ikut masuk dan duduk di samping sang Uzumaki.

"Ke apartemenku," ucap Sasuke pada lelaki berambut keperakan yang duduk di kursi pengemudi.

.

.

-0-0-0-

.

.

Gaara melangkah cepat meninggalkan gedung apartemen tempat ia tinggal. Pemuda dengan tinggi seratus tujuh puluh tiga senti itu sama sekali tidak menanggapi seorang lelaki yang terus memanggil namanya. Dengan santai anak bungsu dari keluarga Sabaku itu duduk di halte dan menunggu bus.

"Kau mau membunuhku, huh?"

Gaara menatap lelaki yang sedang berdiri di depannya dengan dahi berkerut.

"Berjalan sejauh dua blok tidak akan membunuhmu, kecuali kalau kau melakukannya dengan mata tertutup," balasnya ringan.

Neji menatap pemuda yang ia ketahui berusia sembilan belas tahun itu dengan tatapan tidak percaya. Ia lalu melipat kedua tangannya di depan dada.

"Apa kau masih tidak mengenaliku?" tanyanya. Gaara mengerlingkan mata bosan.

"Apa kau adalah seseorang yang harus kukenal?" Gaara balik bertanya.

Neji menggelengkan kepala tidak percaya. Pemuda di hadapannya memang sulit dipercaya. Gaara bangun dari duduknya dan segera masuk ke dalam bus.

"Oi, Gaara!" panggil Neji. Lelaki dengan rambut coklat panjang itu mengurungkan niat untuk naik ke dalam bis ketika melihat para gadis dan wanita yang ada di dalam bis memperhatikannya dari jendela bis sembari memekik. Ah, Neji baru ingat kalau dia hanya memakai kaca mata hitam untuk menutupi identitasnya.

Gaara duduk di bangku paling belakang dan menatap Neji yang tersenyum sambil melambaikan tangan ringan ke arah fans-nya, berusaha memberikan fanservice. Gaara segera memakai headphone hitamnya dan menekan tombol play di i-Pod miliknya.

Sejak ia berkenalan dengan Neji, penyanyi muda itu selalu mengikuti dan mengejarnya. Sejak pertama kali Neji memintanya untuk menjadi rekan duet untuk single terbarunya, Gaara sudah menolak, tapi Hyuuga satu itu memang keras kepala. Bukannya menyerah, lelaki itu malah membuntuti dan terus menghantui sang Sabaku.

Sebenarnya Gaara tahu siapa Neji, namun sejak awal Gaara memang sama sekali tidak tertarik untuk terjun ke dunia entertaimen, walaupun beberapa tahun yang lalu ia sempat bermimpi untuk mengikuti audisi training yang diadakan label Rookie Nine setiap tahunnya.

Gaara segera turun ketika bus tiba di halte yang ditujunya. Hari ini ia berniat berkeliling di Shibuya, sekedar melihat-lihat dan menghabiskan waktu. Ia tidak berencana menetap di Tokyo dalam jangka waktu yang lama. Nyatanya ia memang tidak pernah tinggal di satu kota selama lebih dari tiga bulan.

Dengan santai pemuda berambut merah darah itu melangkah menyusuri jalanan yang tampak ramai oleh pelajar Tokyo. Gaara sama sekali tidak mempedulikan beberapa gadis yang menatapnya sembari berbisik-bisik dengan gadis lainnya. Sudah biasa baginya diperhatikan seperti itu oleh para shoojo.

Gaara menghentikan langkah di salah satu toko musik klasik yang ada di jalan yang tengah dilewatinya. Tanpa pikir panjang, ia segera melangkah masuk dan disambut oleh seorang pelayan wanita. Gaara hanya mengangguk dan mengedarkan pandangan sebelum kakinya melangkah mendekati sebuah piano klasik berwarna putih.

"Anda boleh mencobanya kalau Anda mau, tuan," ucap si pelayan yang sedang merapikan rak biola tak jauh dari tempat Gaara berada.

Gaara melemparkan senyum dan mengangguk. Ia melepaskan headphone yang menutupi telinganya. Perlahan satu jari telunjuknya menyusuri tuts putih piano tanpa menekannya. Senyum kembali terlihat di wajah sang Sabaku.

Gaara duduk di depan piano dan meletakkan kesepuluh jarinya di atas tuts, kemudian menekankan beberapa jarinya dengan lembut, membuat nada harmoni yang menenangkan memenuhi ruangan toko.

Sejak kecil Gaara memang ingin menjadi seorang musisi, mengikuti jejak ibunya yang meninggal ketika melahirkannya. Walaupun ia belajar musik secara otodidak, kemampuannya tidak bisa diremehkan.

'Darah musisi yang mengalir di tubuhnya adalah salah satu alasan kenapa Gaara memiliki kemampuan musik yang bagus'. Itu adalah hal yang dikatakan guru musiknya di sekolah dulu.

Suara tepuk tangan membuat Gaara membuka matanya yang entah sejak kapan tertutup. Ia kembali tersenyum dengan mata yang masih terpaku pada tuts hitam-putih di depannya.

"Kau memang berbakat, Gaara."

Senyum di wajah Gaara sontak lenyap ketika suara bariton itu sampai di telinganya. Gaara menolehkan kepala dan menatap lelaki yang berdiri tak jauh darinya. Orang-orang yang tadi sempat berdiri mengelilingi si pemuda berambut merah kini sudah membubarkan diri.

"Terimakasih sudah mengijinkanku memainkan piano ini, nona," ucap Gaara sembari sedikit membungkukkan tubuh pada pelayan wanita tadi.

"Hei, tunggu!"

Neji langsung mengikuti langkah Gaara keluar dari toko musik. Kali ini penyanyi muda itu tidak perlu khawatir diperhatikan fans-nya, karena sekarang ia sudah memakai syal, masker dan topi Gatsby yang selalu disimpannya di mobil. Saat Gaara meninggalkannya, Neji meminta Hanabi menjemputnya dengan menggunakan mobil miliknya.

"Kau masih menolak tawaranku, Gaara?" tanya Neji yang kini sudah berjalan bersisian dengan pemuda yang selalu dibuntutinya akhir-akhir ini.

"Aku sama sekali belum ingin merubah keputusanku, Neji. Tidak, terimakasih."

"Tapi ini adalah kesempatan yang bagus untuk memulai debutmu. Kau bisa langsung populer jika berduet denganku."

Gaara menghentikan langkah dan merubah posisinya menjadi berhadapan dengan sang Hyuuga muda.

"Asal kau tahu, mendapatkan popularitas bukanlah hal yang sulit untukku, Neji. Popularitas bahkan bukanlah hal yang sulit didapatkan oleh siapapun."

"Huh?"

Gaara menggeleng. Selama dua jam kemudian si pemuda beriris hijau memilih untuk tidak menanggapi ucapan dan mengacuhkan keberadaan lelaki yang terus mengikutinya.

"Aku lapar," celetuk Neji yang masih mengikuti Gaara mengelilingi Shibuya. Matanya langsung berbinar ketika melihat sebuah spanduk. Tanpa pikir panjang, lelaki itu langsung menarik lengan baju Gaara.

"Oi, apa yang kau lakukan?" tanya Gaara tidak terima.

"Sudah, diam saja. Kau harus bertanggung jawab karena sudah membuatku kelaparan," balas Neji yang masih menyeret calon rekan duetnya.

.

-0-

.

Suasana ruang makan apartemen cukup sepi, sesekali hanya terdengar suara dentingan alat makan yang digunakan dua pemuda yang sedang menikmati makan siang mereka. Naruto tidak menyangka kalau semalam ia benar-benar 'diculik' Sasuke ke apartemennya.

Ia lebih tidak percaya ketika seorang dokter langsung memeriksa keadaannya beberapa saat setelah mereka tiba dini hari tadi. Naruto tidak pernah tahu kalau ada dokter yang membuka praktek selama dua puluh empat jam penuh.

"Setelah ini aku ada urusan, Kakashi akan mengantarmu pulang. Jangan lupa bawa obat yang diberikan dokter pagi tadi," akhirnya tuan rumah buka suara.

Naruto hanya mengangguk dan melanjutkan makannya. Walaupun menyebalkan, dingin, ketus, kasar, dan kadang tidak berperikemanusiaan, nyatanya Sasuke tetaplah pemuda yang baik.

"Kau tidak perlu khawatir dengan kuliahmu. Aku sudah meminta Kakashi memberitahu semua dosenmu hari ini kalau kau sakit dan tidak bisa hadir. Aku juga meminta mereka memberikan kelas pengganti padamu, jadi kau tinggal memberitahu mereka kalau kau mau mengambilnya," papar Sasuke lagi.

Naruto menatap Sasuke tidak percaya. Bagaimana mungkin seorang pemuda berusia dua puluh satu tahun bisa merencanakan semua hal dengan sangat rinci dan terorganisir dengan sangat baik?

"Sebelum aku lupa, tadi pagi aku sudah menghubungi manager tempatmu bekerja dan memintanya untuk mengijinkanmu beristirahat selama tiga hari ke depan."

"Apa?" Naruto gagal menahan diri untuk tidak memekik. Sasuke menggerutu pelan dan mengusap-usap kedua telinganya.

"Jangan berteriak, Dobe! You act like a girl, you know?"

"What did you say? What did you ask him for?"

"Sigh. I asked him to give you break for three days. Clear?"

"You can't do that, bastard! Gah!"

Sasuke meletakkan sumpitnya di atas meja dan menatap Naruto yang meremas rambut pirangnya frustasi. Kenapa dia tidak boleh meminta ijin? Lagipula lelaki bernama Nara Shikamaru itu sudah setuju dan membiarkan Naruto untuk tidak bekerja selama tiga hari bukan? Lalu kenapa Naruto terlihat sangat marah?

"Dokter memberitahuku kalau kau harus cukup istirahat, itulah kenapa aku meminta manager-mu untuk memberikan waktu libur," ungkap Sasuke.

"Aku tidak perlu waktu libur itu, Teme! Kalaupun aku butuh istirahat, aku hanya perlu waktu sehari untuk tidur, tidak lebih dari itu."

"Sehari? Dengan keadaanmu yang seperti ini apa kau yakin kau bisa pulih hanya dalam waktu sehari? Itu sama sekali tidak masuk akal, Dobe."

"Aku tidak mungkin mengambil jatah libur lebih dari satu hari! Bagaimana dengan pengunjung bar tempatku bekerja, heh? Bagaimana dengan pelanggan tetapku?"

Sasuke menyandarkan diri ke punggung kursi dan melipat kedua tangannya di depan dada. Ia tidak menyangka kalau Naruto tidak mau mengambil waktu libur hanya karena pengunjung dan pelanggan di bar-nya.

"Kau pikir apa yang harus didahulukan saat ini, Dobe? Kesehatanmu atau wanita-wanita dengan pakaian sensual itu?" tanya Sasuke tajam.

"Wanita-wanita yang kau maksud adalah orang-orang yang memberiku makan, Teme. Aku bertahan hidup dari uang yang mereka keluarkan di pub. Aku memenuhi semua kebutuhanku dengan bekerja di tempat itu. Aku bahkan membayar apartemenku dari uang gajiku di sana. Kau pikir selama ini bagaimana aku bisa menjalani hariku, hah?"

Naruto bangkit dari duduknya dan menatap pemuda yang sudah tiga kali menolongnya dengan tajam.

"Aku berterimakasih karena kau sudah mau repot-repot menolongku, tapi kuharap kau jangan pernah menolongku lagi."

.

.

TBC

.

.

Author Note: Is it long enough? Umm, saya tidak menyangka kalau akan ada—coretbanyakcoret—reader yang menanyakan ShikaNaru di fic ini. Well, di satu sisi saya senang karena ternyata virus ShikaNaru sudah tersebar luas, tapi di sisi lain saya jadi stress juga karena sampai detik ini belum bisa kembali membuat fic dengan mereka sebagai karakter utama *sigh*. Okelah, saya akan duduk manis menunggu review~

Review Reply:

three0nine: Sebenarnya saya juga sangat ingin membuat fic mereka lagi, tapi susah mendapatkan ide cerita yang sesuai dan yang tidak membuat karakter Shikamaru jadi terlalu OOC. Apa three0nine punya ide cerita untuk fic mereka? =3