Chelsea POV

Suara dering telepon membangunkanku. Dalam hati aku menyumpah karena jam masih menunjukan pukul 5 pagi apalagi aku baru bisa tidur jam 3 tadi. Siapapun yang menelepon pastilah sangat bosan sehingga memutuskan untuk mengganggu orang lain sepagi ini.

"Ya? Chelsea Egan di sini."

"Ini aku."

Peganganku di gagang telepon mengetat. Vaughn. Cinta pertamaku dan bodohnya aku masih mencintainya. Aku dapat merasakan kedua pipiku memanas.

"Ada apa?"

"Aku sudah mengatakan semuanya pada Bibi Mirabelle dan Julia. Mereka memaksaku untuk mengundangmu sarapan pukul 7. Bawa Kent dan Erika juga. Mereka ingin mengenal kalian. Hanya itu saja. Maaf mengganggu." Setelah itu terdengar suara sambungan terputus.

Perlahan aku meletakan gagang telepon itu di tempatnya. Tanpa sadar aku tersenyum kecil. Vaughn sama sekali tidak berubah.

Aku bergegas membangunkan anak-anak untuk mandi dan bersiap-siap sedangkan aku harus memberi makan Lucy dan menyiram bibit lobak, kentang dan mentimun yang kemarin sore kami tanam. Selama mengerjakan pekerjaanku, aku memikirkan apa yang akan Vaughn dan keluarganya katakan tentang Kent dan Erika. Aku hanya berharap mereka tidak menghina anak-anakku.

Saat aku kembali kedalam rumah, Kent dan Erika sudah memakai baju terbaik milik mereka. Kent memakai hoodie ungu, t-shirt, dan jeans sedangkan Erika memakai hoodie pink, t-shirt, dan rok. Mereka tampak sedikit gugup.

"Apa aku sudah cantik Bu?" Tanya Erika yang sedang berusaha merapikan roknya. "Apa penampilanku aneh?"

Aku berlutut di depan Erika. "Kau adalah anak yang paling cantik yang ada di bumi ini."

Rona merah muncul di kedua pipi Erika. "Apa Ayah akan senang dengan keberadaan kami?"

"Tentu saja dia-" aku menatap Erika dengan pandangan tak percaya. "Bagaimana?"

"Kami berdua sudah tahu."

Tatapanku beralih dari Kent ke Erika, bergantian. Otakku masih tidak dapat mencerna apa yang baru saja Kent katakan. Aku tidak ingat pernah membicarakan siapa ayah mereka sebenarnya. Mereka anak baik yang dapat merasakan kesedihanku jika menyangkut Vaughn.

"Kami mendengar pembicaraan kalian. Maaf." Kent dan Erika menundukan kepala mereka dalam-dalam.

"Untuk apa meminta maaf?" tanyaku sambil mengelus rambut perak mereka. "Cepat atau lambat kalian juga harus tahu siapa ayah kalian."

Mereka tersenyum senang lalu memelukku erat. Membuatku jatuh terduduk.

"Tapi kalian harus berjanji untuk tidak menguping pembicaraan orang lagi. Janji?" aku mengulurkan jari kelingkingku.

Mereka mengaikan jari kelingking mereka ke jari kelingkingku. "Janji."

Vaughn POV

Jika aku bisa menghindari sarapan menyebalkan ini aku pasti sudah melakukannya. Mirabelle dan Julia tidak henti-hentinya memuji Chelsea dan anak-anaknya. Urg, aku masih tidak bisa terbiasa dengan ide menjadi ayah. Kemarin aku masih bujangan tapi sekarang aku harus di hadapkan oleh dua bocah berusia 7 tahun.

Apa reaksi Sabrina jika dia tahu tentang dua anak ini? Tidak mungkin aku merahasiakan hal ini dari Sabrina. Cepat atau lambat dia akan tahu yang sebenarnya karena aku yakin Mirabelle akan menceritakan aib ini pada semua penduduk.

Aku melirik Chelsea yang duduk di hadapanku. Dia mendengarkan Julia yang mengatakan betapa beruntung dirinya bisa memiliki anak sepintar Kent dan seceria Erika. Kedua mata Chelsea memancarkan kebanggaan yang tidak dapat dia sembunyikan.

Dasar pelacur menyebalkan.

"Vaughn, kenapa dari tadi diam saja? Kau tidak ingin bertanya apapun pada anak-anakmu sendiri?" Tanya Julia.

Aku menatapnya bingung sebelum menggelengkan kepalaku. "Tidak ada yang perlu aku tanyakan. Meraka mungkin anakku tapi bukan berarti aku harus mengenalnya."

Untuk sesaat tidak ada yang bersuara hingga Kent berkata dengan nada datar. "Tidak ada yang memaksamu mengenal kami. Kami kemari karena undangan kalian."

Aku mengerutkan keningku terganggu. "Siapa yang mengajarimu bicara seperti itu pada orang yang lebih tua?"

Kent menatapku dengan ekspresi kecewa. "Sepertinya aku mewarisinya darimu."

Mirabelle dan Julia tertawa terbahak-bahak. Erika menutup mulutnya agar tidak ikut tertawa. Chelsea menatap Kent dengan pandangan mengancam. Kent membalas pandangan ibunya dengan pandangan bosan. Dan aku hanya bisa menahan geram.

"Oh, Vaughn," Mirabelle berusaha mengatakan sesuatu disela-sela tawanya. "Aku tidak lagi meragukan siapa mereka. Mereka sangat mirip denganmu."

Aku menatap wanita itu tajam. "Aku tidak sekasar itu."

Hampir semua orang yang ada di ruangan itu memutar bola mata mereka. Erika terkikik pelan seakan aku baru saja melucu.

*Café pukul 10.10*

Moodku yang masih buruk karena sarapan tadi semakin buruk saat Sabrina belum juga datang padahal jarak café dan rumahnya sangat dekat. Seharusnya dia tahu aku paling benci menunggu.

Suara pintu terbuka membuatku berharap bahwa itu adalah Sabrina. Tapi harapanku tidak terwujudkan karena seorang gadis kecil dengan rambut perak di kuncir kuda dan memakai hoodie pink berjalan memasuki café.

"Ayah? Apa yang Ayah lakukan di sini?" tanyanya dengan ceria. Aku berani bertaruh semua orang yang ada di café menatap kami penasaran.

"Kau sendiri apa yang kau lakukan di sini?" geramku.

"Aku ingin meminum teh. Bibi Mirabelle bilang tempat ini menyajikan teh yang enak." Erika menatapku dengan pandangan ingin tahu. "Ayah sendiri sedang apa? Boleh aku duduk dengan Ayah?"

Pintu café terbuka lagi dan Sabrina menghampiriku dengan senyum menggoda di bibirnya. Tanpa menatap sekeliling kami, Sabrina memeluk dan mencium bibirku. Jika saja di sampingku tidak ada gadis kecil yang kebetulan adalah anakku dan tidak sedang menatapku dengan mulut menganga, aku akan membalas ciuman itu tapi aku melepaskan pelukan Sabrina dan mengakhiri ciuman itu.

Sabrina menatapku bingung tapi aku tidak memperhatikannya, pandanganku terpaku pada wajah kaget yang kemudian berubah menjadi sedih milik Erika. Entah kenapa ada perasaan aneh didadaku. Sabrina ikut menatap Erika dengan pandangan kaget lalu menatapku menyesal.

"Oh! Ma-maafkan aku. Aku tidak melihat anak ini tadi," katanya penuh penyesalan lalu dia kembali menatap Erika dengan senyum cerianya. "Aku tidak pe-pernah melihatmu. A-apa kau terpisah dari o-orang tuamu?"

Erika merapatkan tubuh kecilnya ke arahku dan menggenggam tanganku erat. "Aku tidak terpisah dari orang tuaku. Ayah ada bersamaku."

Sabrina POV

Aku menatap Vaughn dan gadis kecil itu dengan bingung. Apa aku salah dengar? Tidak mungkin gadis itu anak Vaughn. Aku menunggu Vaughn menjauhkan gadis kecil itu darinya dan mengatakan kalau ini semua tidak seperti yang aku pikirkan.

Tapi Vaughn tidak mengatakan apapun. Dia bahkan membiarkan gadis itu berlindung di belakangnya dan menggenggam erat tangannya. Wajah Vaughn tidak memperlihatkan emosi apapun saat berlutut menghadap anak itu.

"Erika, aku ingin berbicara dengan wanita ini sebentar."

"Tapi…"

"Tidak ada tapi. Kau harus tahu kalau aku sangat membenci anak yang tidak patuh. Kau ingin aku membencimu?"

Kedua bola mata biru laut itu mulai tergenang air mata. "Tentu saja tidak."

"Kalau begitu kau akan meninggalkan kami dulu, kan?"

Dengan patuh gadis itu segera berlalu meninggalkan café. Aku masih terpaku di tempatku berdiri. Otakku tidak dapat mencerna apa yang baru saja terjadi. Atau lebih tepatnya menolak apa yang sedang terjadi.

"I-i-ini ti-tidak lucu Vaughn!" Betapa aku benci menjadi orang gagap!

Suara Vaughn terdengar datar saat mengatakan, "aku juga tudak menganggap hal ini lucu."

"Ka-kau me-m-membohongiku!"

"Tidak ada yang membohongimu. Mereka, Erika dan saudara kembarnya Kent dikandung jauh sebelum aku mengenalmu jadi kau tidak memiliki alasan untuk menuduhku yang tidak-tidak."

Itu memang benar. Tidak ada alasan bagiku untuk menuduh Vaughn berselingkuh tapi memikirkan Vaughn pernah bersama wanita lain sudah cukup membuatku cemburu. Apalagi ada anak di antara mereka.

Seperti dapat membaca isi pikiranku, Vaughn memperingatkanku dengan suara yang tidak pernah aku dengar dan suara itu membuatku sedikit merinding. "Aku memperingatkanmu. Jangan pernah mendekati mereka. Mereka sama sekali tidak ada hubungannya dengan kita. Aku pasti akan menikah denganmu, jika kau mau bersabar."

Aku menatap bola mata yang berwarna sama denganku. Aku menantangnya untuk berbicara jujur. "A-apa kau mencintai ibu mereka?"

Warna mata Vaughn berubah seperti Kristal ungu. "Tidak. Aku membencinya."