"Woo hoo, Sasuke, kau berhasil mendapat beasiswa universitas Tokyo!"
Sasuke menutup laptopnya begitu mendengar Naruto bersorak keras dari lantai bawah. Si pirang itu pun segera berlari menemuinya di kamar sambil melompat-lompat kegirangan. Ia membawa amplop coklat berlogo UT (Universitas Tokyo) yang sangat terkenal, dan mengacung-mengacungkan selembar surat yang menyatakan Sasuke berhak atas beasiswa yang hanya disediakan untuk sepuluh anak yatim sepertinya.
"Kemarikan," Sasuke mengulurkan tangan dan Naruto memberikan semua paket itu dengan patuh. Dia kemudian duduk di tepi tempat tidur, menunggu sampai si Uchiha selesai memeriksa surat dan dokumennya, setelah itu dia kembali mendekat untuk melihat reaksi Sasuke.
"Bagaimana?" tanya Naruto dengan mata bulat berbinar. Ia sangat senang melihat Sasuke juga tidak bisa menahan kegembiraannya. Uchiha itu tersenyum tipis dan mengacak rambut Naruto dengan gemas. Satu langkah lagi mereka telah semakin dekat dengan impian yang mereka bangun.
"Sas', hei, kau baik-baik saja? Mukamu agak merah," Naruto berhenti tertawa dan mengulurkan tangan. Ia mengelus kening Sasuke dan menyingkap rambut di kening Uchiha itu. "Kau demam!" pekiknya terkejut.
"Hn," Sasuke bergumam pendek sambil menahan Naruto menarik tangannya kembali. " Tanganmu dingin, rasanya enak," ujarnya seraya menempelkan tangan omega itu di pipinya.
"Kau sudah selesai dengan tugasmu, kan? Kau berbaring dulu, ya?"
Sasuke menurut, ia biarkan Naruto menuntunnya ke tempat tidur tanpa melepaskan tangan omega itu. Diam-diam ia senang mendapat perhatian Naruto yang seperti ini. Tidak mengajaknya berdebat, tidak mengajaknya berkelahi dan tidak menyakiti telinga dengan keributan yang selalu dia buat. Naruto terlihat sangat manis saat ia bersikap lebih tenang dan lembut. Hanya kala dia seperti inilah sisi omega Naruto bisa terlihat.
"Hei lepaskan tanganku, aku mau menyelimutimu..."
"Aku merindukanmu," potong Sasuke sambil mengusapkan bibirnya di punggung tangan Naruto. Ia menatap lekat kekasihnya dengan tatapan redup yang menusuk.
"Ha ha, jika aku di hadapanmu bisa membuatmu merasa begitu, apa yang terjadi kalau aku jauh darimu, hm?" tanya Naruto sambil menoleh dan memastikan pintu sudah tertutup rapat.
"Mungkin aku akan..."
Naruto by Masashi Kishimoto
Naruto Fanfic by Ammie
The Alfa, Bagian Tiga
Sekali lagi, terima kasih yang sangat kepada Michhaz.
"Naruto..." tanpa sadar Sasuke mencari kehangatan dan meraih tangan siapa pun yang duduk di dekatnya. Perlahan ia kemudian membuka mata dan teringat pada salah satu malam tahun baru yang terpaksa ia lewati di tempat tidur. Waktu itu, tengah malam setelah demamnya mereda, orang pertama yang ia lihat adalah Naruto. Dia berjaga semalaman dengan raut cemas yang tidak akan mudah terlupakan. Meski di saat yang sama Sasuke malu dengan pengkhianatan yang telah dilakukannya, entah mengapa ia berharap wajah omega itu lah yang akan ia lihat sekarang .
"..."
Butuh beberapa saat bagi Sasuke untuk mengenali sosok yang belum lama dikenalnya ini. Ia menatap sendu sambil mengumpulkan seluruh akal sehatnya. Begitu Sasuke sudah cukup sadar, ia ingat nama orang ini adalah Neji. Si sister complex yang suka memandangnya dengan tatapan merendahkan.
"Lepaskan," suruh Neji dengan nada yang mampu membuat jengkel.
Sasuke cepat-cepat melepaskan genggamannya, jika bisa ia juga ingin cuci tangan sekalian. Tapi jangankan pergi cuci tangan, ia bahkan tidak bisa bangun dari ranjang. Ia merasa seolah tubuhnya di tekan puluhan beban hingga bernafas saja ia kesulitan.
"Apa yang terjadi, apa aku baik-baik saja?" tanya Sasuke butuh tapi enggan.
"Kau tidak merasa sakit?" tanya Neji sebaliknya. "Karena menolong nona kami, kau tertembak di kepala. Aku heran melihatmu masih bisa hidup sekarang."
Benarkah begitu?
Sasuke meraba kepalanya dan mencari di mana kira-kira ia tertembak.
"Ini rumah sakit? Sudah berapa lama aku di sini?" tanya Sasuke lagi. Ia tiba-tiba teringat dengan pekerjaannya yang sangat sayang jika sampai terlepas.
"Tiga bulan."
Apa, tiga bulan? Sontak kedua mata Sasuke membeliak. Tiga bulan dia bilang? Ia dirawat inap di sini selama tiga bulan? Ia kehilangan pekerjaan dan sekaligus berhutang tiga bulan perawatan rumah sakit. Sasuke merasa pusing seketika.
"Aku harus pergi," ujar si Uchiha seraya bangkit memaksa. Jika dewa menyayanginya mungkin ia akan mendapat sedikit keringanan karena masih di bawah umur dan tergolong sebagai warga tidak mampu.
Neji menangkap kecemasan itu di raut wajah Sasuke. Ia lantas berdiri dan mencegah Uchiha itu bangun, walau sebenarnya ia tidak benar-benar harus melakukannya karena nyatanya Sasuke tidak bisa bergeser dari ranjangnya walau sejengkal.
"Jangan cemas, biaya rumah sakitmu biar kami yang menanggung," tekan Neji. " Kami berhutang besar padamu, jika kau pergi, kami akan merasa sangat malu."
Bolehkah ia mempercayai perkataan siscon ini? Sasuke kembali berbaring sambil masih memandang Neji curiga.
"Sebenarnya sudah tiga hari kau bangun, tapi baru sekarang kau benar-benar sadar. Kau tidak bisa pergi sebelum pemeriksaan penuh dan kau juga harus menjalani rehabilitasi. Sebaiknya kau sedikit bersabar dan mau bekerja sama," jelas Neji berusaha sesingkat mungkin.
"Ku lihat, kau tidak punya ponsel atau kartu identitas, kami tidak bisa menghubungi keluargamu. Sekarang karena kau sudah bangun, kau harus ceritakan sedikit tentang dirimu. Dengan begitu, administrasi yang diperlukan bisa ditangani dengan mudah," tambahnya lagi.
Sasuke tidak membantah. Jika itu bisa membuatnya lepas dari masalah biaya rumah sakit, tentu ia setuju.
"Baiklah, apa kau sanggup menjawab beberapa pertanyaan sekarang? Jika itu memberatkan kondisimu, kita bisa tunda ini sampai kau cukup sehat."
Sasuke tidak menunjukkan respon menolak dan Neji pun memulai.
"Siapa namamu?" tanya Hyuuga itu sambil mengeluarkan buku catatan sakunya dan sebuah pena.
"Katou Sasuke."
"Usia?"
"Delapan belas."
"Nomor identitas?"
"00218454500143."
Neji menatap Sasuke sesaat, "Kau yakin?" tanyanya. "Tidak semua orang hafal nomor identitasnya, terutama jika kondisinya seperti kau sekarang."
"Hn."
"Orang tuamu?"
"Katou Dan, Katou Tsunade."
"Dimana orang tuamu?"
"Kuroniwa, Tamagaha, Hokaido."
"Nomor telepon orang tuamu?"
"Tidak ingat."
Neji tahu Sasuke berbohong, tapi ia dengan sengaja mengabaikannya. "Baiklah, cukup itu," Neji merobek bagian kertas berisi identitas Sasuke dan menyimpannya di dalam dompet.
"Kalau aku boleh bertanya, siapa itu Naruto? Selama di sini, kau sering menyebut namanya."
"Saudara angkat."
"Kau punya saudara angkat?"
"Terakhir, aku punya tiga puluh dua saudara angkat."
Neji menautkan alis, untuk sesaat dia cukup bingung dan Sasuke merasa puas bisa sedikit mempermainkan Hyuuga itu. Setelah cukup bisa memahami apa maksudnya, Neji kembali melanjutkan dan duduk lebih dekat agar Sasuke tidak melewatkan apa yang ia katakan.
"Kau mungkin tidak ingin kembali bertemu orang tua angkatmu, tapi aku tahu kau ingin bertemu dengan Naruto ini."
Sasuke memalingkan wajahnya ke sisi lain. Ia rasa sudah cukup untuk hari ini dan ingin Neji meninggalkannya sendiri. Ia tidak suka orang lain atau siapa pun mencoba mencampuri bagian paling sensitif dalam dirinya. Itu membuka luka lamanya dan membuatnya merasa seolah kesulitan bernafas. Tapi Neji tidak kunjung pergi, dia tetap berusaha menggapai bagian itu karena sepertinya ia tidak tahu kalau caranya ini sama saja seperti tengah membuka jahitan luka yang masih baru.
"Dokter bilang, kau tidak akan bisa hidup lebih lama," tutur Neji perlahan lebih karena ia berharap Sasuke tidak terkejut. "Jika ada sesuatu yang bisa membuat sisa hidupmu lebih bahagia, aku dan kami semua akan berusaha memberikannya untukmu."
Sasuke menoleh kembali dengan raut tidak percaya. Tidak bisa menerima bahwa hidupnya di dunia ini ternyata harus berakhir singkat, dan tidak percaya ada seseorang yang menyanggupi Naruto dikembalikan padanya.
Bolehkah seperti itu?
Sasuke berusaha menerima, bersikap tenang dan memikirkannya baik-baik. Apa baik dan ruginya hal ini bagi ia dan Naruto dijabarkan dalam benaknya satu persatu. Tapi memilih antara menolak atau tidak, ternyata bukan hal mudah sama sekali. Sasuke merasa pandangannya mengabur hingga perlu memejamkan matanya dalam-dalam.
"Be-berapa lama waktu yang ku punya?" tanya Sasuke gugup.
"Kami tidak tahu, dokter itu bilang, hal ini pasti terjadi nanti sewaktu-waktu tanpa bisa diprediksi."
Sasuke terdiam lama. Jadi ini lah harga yang harus ia bayar untuk bisa bersama Naruto sedikit lebih lama, nyawanya sendiri.
Tapi bolehkah seperti itu?
.
Bukan Naruto namanya jika ia tidak melakukan upaya apa pun untuk kembali pada Sasuke. Ia bahkan berhasil kabur tidak lama setelah menginjak rumah asuh khusus omega milik pemerintah. Tapi rupanya, Sasuke sudah terlanjur memutuskan hal ini dengan sangat tegas. Dia pergi meninggalkan panti Kuroniwa seolah dia tahu inilah cara agar Naruto tidak bisa menolak keputusan ini. Naruto tentu sangat kecewa. Ia marah, sedih dan sakit sambil hanya bisa menatap kamar yang mereka tempati.
Kemana Sasuke pergi?
Naruto menanyakannya pada Matsuri, pengasuh junior yang baik hati. Dengan sangat jujur dia lalu berusaha mengatakan apa pun yang dia tahu pada omega itu.
"Itu adalah Sasuke, apa yang dia alami dan rasakan, bukan hal yang dia bagi bersama orang lain. Dia seperti itu dan akan selalu seperti itu. Kita mungkin tidak akan melihatnya kembali."
Dengan langkah gontai, Naruto melangkah keluar, berjalan tak tentu arah. Ia tahu harus segera pergi jika tidak ingin petugas pemerintah membawanya kembali. Tapi kemanakah ia harus pergi? Ia tidak tahu Sasuke ada dimana dan tidak tahu hal apa yang bisa membantunya. Lantas dengan polos dia baru menyadari, tentu saja ayah angkatnya bisa berbuat sesuatu. Meski tidak tahu Sasuke berada dimana, Naruto tahu dimana ayahnya berada.
Seolah mendapat pencerahan yang baru, Naruto berlari mengejar pintu keluar dari masalah ini. Ia harus kembali pada Sasuke apa pun caranya. Naluri dan instingnya menuntunnya untuk begitu dan ia adalah orang yang akan mengikuti apa yang dirinya inginkan.
