"Doumo. Akashi Tetsuna desu. Yoroshiku onegaishimasu. Kise-senpai to Aomine-senpai."
Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi
CAN I TAKE YOUR LITTLE SISTER AS MY GIRLFRIEND?
~PART 3~
(Collab with HoshiKirari)
Pairing: KisexFem!Kuroko, Sibling!AkaKuro
WARNING! Probably contain OOC, possible typo, Bahasa enggak efektif, Fem!Kuroko, Kuroko berubah nama jadi Akashi Tetsuna
Enjoy!
"…"
SIIIIIIIIIINNNNNGGGG
Krik krik krik krik krik krik krik krik krik krik krik krik krik krik krik krik krik krik krik…
T, tunggu, dari mana orkestra jangkrik itu berasal?
"Y, yoroshiku-ssu!" seru Kise girang, memecah keheningan. Senyumnya agak canggung ketika ia menatapku, tapi menurutku, senyum itu tetap manis. Ah. Bukan bermaksud apa-apa. Ia sungguh beruntung dianugrahi wajah tampan seperti itu.
Aku hanya mengangguk datar sambil menatapnya singkat.
"Akashicchi, kau beruntung punya adik secantik dia-ssu!" kini pandangan Kise terarah pada Seijuuro nii. Tunggu, apa maksudnya?
Tatapan mata Seijuuro nii mendingin. Lantas menyahut datar, "Sudah bel, bukan? Nanti kita terlambat." lalu dengan tidak peduli menggandeng tanganku menuju bangunan sekolah. Sekali lagi, Kise dan Aomine berpandangan, kemudian berjalan di belakang kami. Dan suasana menjadi canggung sekali saat mereka mengantarku ke kelas. Sementara pikiranku masih memutar kejadian tadi.
Onii-sama, kenapa kau memperkenalkanku kepadanya lagi?
"TETSU-CHAAAAAAAANNNNN!" pekik Momoi di depan kelas, membuat seluruh penghuni 1-B menoleh ke arahnya. Momoi tidak peduli—ia langsung menyambar lengan kiriku, "Kok telat?"
"Eh? Ini baru bel, Momoi-san."
"Hehe, iya juga sih." balasnya sambil menarikku ke bangku kami, "Jadi, kau sudah memutuskan ikut klub mana, Tetsu-chan? Kudengar kau belum ikut satu klub pun."
"Un. Onii-sama menyarankan agar aku menjadi manager di klub basket."
"Hee… sokka…"
Hening sejenak.
"TETSU-CHAAAAAAAANNNNN!" lagi-lagi satu kelas memandangi Momoi dengan tatapan mendelik.
"Momoi-san, kita diperhatikan, lho."
"Bareng aku, dong!" ia tampak tak peduli, malah semangat meneruskan topic pembicaraan yang baru saja dibukanya.
"Eh, Momoi-san jadi manager juga?"
"Yup! Dari kemarin aku sudah direkrut lho! Senang ada teman yang senasib sepertiku~" ujar Momoi sambil mengedip cantik, "Oh ya, Kise-senpai juga masuk klub basket lho."
"Shitteimasu."
"Hee… kau sudah tahu?" ia menggoyang-goyangkan lenganku, tanpa menyadari guru sudah datang, "Nee, Tetsu-chan. Kupikir kau cocok dengannya, lho!"
Eh. Matilah. Ia mengatakannya di depan seluruh isi kelas dan di depan seorang guru.
Guru itu menatap kami tajam, "Momoi-san, saya minta Anda kembali ke bangku Anda dan jangan berbicara lagi."
Momoi merengut lalu meninggalkan bangkuku dengan satu kedipan.
Sepertinya semua akan memulai gosip baru di jam istirahat. Entahlah. Aku harap mereka tidak memikirkannya.
Aku berjalan melewati teman-teman sekelasku yang sibuk berbisik-bisik. Rasanya aneh juga kalau mereka mengobrolkan dirimu sementara kau berada di dekat para penggosip. Aku tidak begitu peduli, kembali menuju meja tempat guru Matematika kami memanggilku.
"Ada apa, Sensei?"
"Tolong berikan buku ini pada Kise Ryouta, ya. Bilang padanya Sensei sedang ada urusan."
"Hai."
Aku mengambil buku tersebut dari meja dan memperhatikan sampulnya. Judulnya Olimpiade Matematika. Ah ya, kudengar Kise ahli dalam Matematika. Apa ia akan mewakili sekolah dalam olimpiade tahun ini? Aku pergi keluar kelas dan mencari kelas 2-A.
"Tetsu-chaaan, aku ikut dong!" tiba-tiba sebuah suara mengagetkan semua orang di koridor. Tentu saja itu suara Momoi. Ia melambai ke arahku dan segera menghampiriku, "Buku apa itu? Wah, Olimpiade Matematika! Kau ikut olimpiade?"
"Tidak. Sensei menyuruhku mengantarkan ini untuk Kise-senpai."
"Sokka… kelas 2-A, kan? Ayo kuantar!" Momoi segera menarikku ke tangga.
BRUK!
Oh, ini hari keduaku di sekolah dan aku sudah menabrak seseorang. Betapa hebatnya.
"T, Tetsu-chan!"
"Akashi-san?!"
Eh—apa? Tunggu, itu suara familier—milik Kise. Aku menengadah. Ya, itu dia.
"M, maaf menabrakmu-ssu, aku tidak sengaja!" ujarnya sambil membantuku berdiri.
"K, Kise-senpai?!" pekik Momoi. Oh, ia telat menyadari pemuda di hadapan kami.
"Yo! Ada apa?" tanyanya, melihat ke dalam pelukanku, "Itu buku Olimpiade Matematika-ssu?"
"Ya, dari Riko-Sensei. Beliau bilang sedang ada urusan." sahutku sambil memberikan buku itu padanya.
"Senpai!—masaka, senpai ikut olimpiade?!" seru Momoi bersemangat.
"Hee… Tidak kok-ssu. Aku harus mengajari anak-anak yang akan ikut olimpiade-ssu. Heh, itu melelahkan!" serunya dengan muka agak frustasi, "Tapi aku akan ikut kejuaraan basket SMP-ssu!"
"Eh? Senpai tim inti?" tanyaku.
"Ya, Kise-senpai itu tim inti, lho." Momoi membalas, sementara Kise hanya nyengir.
"Akashicchi tidak memberitahumu? Hidoi-ssuuuu…" ia mengerucutkan bibirnya, lalu menatap buku itu lagi, "Terima kasih ya, Akashi-san! Momocchi!—oh ya, Akashi-san akan ikut klub apa-ssu?"
Aku yang baru saja akan menuruni tangga menoleh sedikit, "Manager klub basket."
"Sugoi-ssu! Ganbatte-ssu ne!" Kise melambai dan sesaat, ia menghilang di tengah kerumunan.
"H, hajimemashite. Akashi Tetsuna desu. Yoroshiku onegaishimasu."
Kini aku berada di tengah-tengah klub basket Teikou. Seijuuro nii memintaku untuk memperkenalkan diri pada tim inti. Selain Seijuuro nii dan Kise-senpai, Aomine-senpai juga masuk tim inti. Seijuuro nii bilang, mereka sangat hebat.
"Yoroshiku!"
"Baiklah. Kita mulai latihannya sekarang." ujar Seijuuro nii sambil menganggukkan kepala. Dengan segera, seluruh anggota pergi ke lapangan masing-masing untuk memulai latihan mereka.
"Tetsuna," suara hangat Seijuuro nii menyapa, membuatku menoleh, "Kau awasi latihan di lapangan nomor 2. Mengerti?"
"Hai, Onii-sama."
Lapangan nomor 2… tempat anak-anak tim inti berlatih. Dan, ya, ada Kise di sana. Ah, aku lupa bertanya pada Seijuuro nii kenapa dia mengenalkanku lagi pada Kise. Mungkin aku akan bertanya padanya nanti di rumah.
"Kise-kun. Jadi itu cewek yang kamu suka?" aku mendengar seorang pemuda berkata pada Kise saat break. Tanpa sadar mukaku memerah. Mereka jelas-jelas sedang membicarakanku. Ukh. Tidakkah mereka tahu dibicarakan itu terasa sangat memalukan?
"Eh, Kise-chin udah punya cewek?" yang satu lagi menyahut.
"Eh-eh, bukan-ssu! Itu bukan cewekku-ssu yo!"
"Ah, Kise. Kau curang. Kau diam-diam mendekatinya, bukan?"
"Kise-chin, kalau udah jadian jangan lupa traktir kita, ya."
"Sudah kubilang bukan-ssu! Aku hanya, err…"
"Hanya apa? Ukh, kau curi start nih. Payah Kise."
"Bukan-ssu!" nada suara Kise terdengar frustasi.
"Traktir, traktir ya Kise-chin?"
"Kise payah!"
"Kise-kun, semoga kau selamat. Dia adiknya Akashi-kun nanodayo."
Oh, mereka ngotot.
"Argh!" suara Kise melemah.
Aku segera menghampiri mereka. Rasanya sangat tidak enak dibicarakan seperti itu.
"Maaf, senpai-tachi. Ini ada air tambahan." sahutku sekenanya, membuat mereka menoleh kompak.
"Ah, terima kasih, Akashi-san!" Kise menerima botol air tambahanku dengan senyum. Kulihat Aomine menyikut seorang pemuda berambut ungu sambil membisikkan kalimat, "Minta traktir, jangan lupa," sepelan mungkin.
Tapi toh terdengar olehku juga.
"Ah, maaf mengganggu ngobrolnya, senpai-tachi. Permisi…" aku meninggalkan mereka. Agak lega kalau mereka menyadari bahwa aku mendengarkan isi percakapan tadi.
CKRIS!
Oh, itu Seijuuro nii, sedang menghampiri forum tim inti yang tengah beristirahat.
"Apa maksud kalian menjodohkan Kise dengan adikku, hah?" tanyanya sedikit membentak.
"Lho, Akashi, ini toh kenyataan." suara Aomine terdengar, "Kise itu—"
"Sudah kubilang, enggak, Aominecchi!" Kise sepertinya putus asa.
"Dasar tsundere!" ujar Aomine sekenanya.
CKRIS!
"Sehabis latihan, kalian semua lari keliling lapangan 50 kali."
"Tapi, Akashi—"
CKRIS! "75 kali. Sekarang."
Langit semakin memerah dan matahari sebentar lagi akan hilang. Tapi empat orang pemuda masih setia berlari di lapangan sepak bola. Ini sudah putaran mereka yang ke-65.
"Seijuuro nii-sama, apa tidak apa-apa mereka dibiarkan berlari sampai malam?"
"Biarkan mereka, Hime." Seijuuro nii mengelus rambut biruku, "Mereka toh tidak berhak menjodoh-jodohkanmu."
Aku hanya menunduk. Mempercepat langkah menuju rumah.
AND THIS CHAPTER ENDS HERE! #ditampar
Ai minta maaf kalo di sini ada bagian gaje atau ceritanya kurang semenarik chapter sebelumnya… Oh, Ai juga minta maaf telat ngupdate T_T
Terus, untuk alasan Akashi ngenalin Tetsuna ulang ke Kise, Ai serahkan sama Kirari~
Makasih buat yang udah follow, review, dan favorite-in cerita ini! Makasih banyak, ya! *bungkuk hormat* Dan umh… Ai juga cinta Kirariiiii~~ *peluk Kirari*
Oh ya, terima kasih buat para readers yang udah capek-capek membuka chapter ini! Nyuuuwww… Ai sayang kalian semuuaaaaaa! *peluk semua readers*
Ditunggu ya, kelanjutannya!
