Chapter 3

.

.

4 O'clock

.

.

Taehyung hanya memandang kearah jalanan yang sudah semakin sepi. Rambutnya sedikit berantakan karena angin malam yang menerpa wajahnya sedari tadi. Dingin, namun ia enggan untuk bergerak setidaknya menghangatkan diri.

Nafasnya menghela melalui mulutnya menandakan dia benar-benar lelah. Perjalanan Seoul-Daegu tidaklah dekat. Butuh sekitar 3-4 jam perjalanan dan membuatnya benar-benar suntuk.

Matanya beralih pada ponsel yang digenggamnya. Ini sudah jam 1 pagi, dan Taehyung bersama namja disebelahnya yang dipanggilnya Ayah yang memutuskan untuk berangkat saat itu juga. Taehyung benar-benar khawatir. Dia sangat mengkhawatirkan keadaan ibunya, namun hati kecilnya juga mengkhawatirkan kekasihnya.

Dia menghembuskan nafas gusar. Pikirannya berkecambuk, apakah dia harus memberitahu Jungkook atau tidak. Taehyung takut jika kekasihnya akan khawatir jika dia memberikan kabar tentang Ibunya, Taehyung juga yakin sembilan puluh sembilan persen Jungkook akan menyusulnya ke Daegu setelah mengetahuinya. Taehyung menggeleng sebentar, lalu memasukkan ponselnya kedalam saku jaketnya. Matanya kembali menerawang pada jalanan melalui kaca mobil. Besok ada test Sains dan Jungkook harus menjalani test dengan baik tanpa memikirkannya jadi Taehyung memutuskan untuk tidak memberitahu kekasihnya.

.

.

Jungkook menghembuskan nafasnya gusar. Daritadi kepalanya terangkat menatap pintu kelas setiap seseorang melewatinya. Berharap seseorang yang ditunggunya segera datang karena demi Tuhan sebentar lagi bel masuk kelas dan test Sains akan dimulai.

Pandangannya dialihkan pada jendela kelasnya yang langsung mengarah pada lapangan, matanya menelisik satu-persatu siswa yang datang berharap diantara mereka, kekasihnya adalah salah satunya, namun nihil.

Tubuhnya terkesiap saat mendengar bel sekolah yang berdering nyaring.

"Apa dia masih tidur?" gumamnya.

Tangannya dengan cepat mengecek chatroomnya dengan Taehyung, bahkan pesan-pesannya sejak tadi pagi belum dibaca oleh kekasihnya.

Jungkook sudah mengirimkan pesan dan menelpon kekasihnya sebanyak puluhan kali namun tidak ada jawaban sama sekali.

"Aish" Tangannya mengacak rambutnya frustasi. Dia benar-benar khawatir dengan Taehyung sekarang.

"Jungkook.. Jungkook"

Seluruh pikirannya tentang Taehyung sirna saat tersadar dengan seseorang yang memanggil namanya. Kepalanya mendongak, melihat Kim Seokjin saem yang tepat berada disamping bangkunya memandangnya tegas.

Tangannya menengadah didepan Jungkook yang membuatnya mengerjap tidak mengerti. Apa yang diminta gurunya ini.

Kim saem berdehem sebentar lalu tersenyum tipis,

"Kita akan mulai testnya jadi berikan ponselmu" ucapnya.

Jungkook mengangguk sambil tersenyum kikuk lalu menyerahkan ponselnya. Setelah menerima ponsel Jungkook, Kim saem kembali ke depan kelas untuk membagikan soal test hari ini.

Tangan kanannya terangkat tinggi walaupun dalam hati sudah merutuki sikapnya. Harga dirinya pasti jatuh setelah ini, dia mengumpat kecil.

"Ada apa, Jungkook-ah?" Seokjin yang melihat muridnya menaikkan tangannya bertanya, mungkin ada yang ingin ditanyakan oleh muridnya ini.

"Taehyung.." Jungkook memejamkan matanya enggan menatap teman sekelasnya yang pasti sedang menatapnya. Ini benar-benar menjatuhkan harga dirinya, karena Jungkook terkenal sebagai siswa yang tidak pernah peduli dengan sekitarnya. Tapi, dia terlalu khawatir dengan keadaan Taehyung. Jadi Jungkook memutuskan untuk menekan segala egonya dan kembali membuka matanya, menatap gurunya dengan pandangan serius.

"Kim Taehyung.. Apa dia tidak mengikuti test kali ini?" tanyanya.

Hening. Teman sekelasnya menatapnya tidak percaya. Semua tau jika Jungkook dan Taehyung adalah sepasang kekasih namun mereka tidak berpikir bahwa jungkook akan benar-benar peduli dengan Taehyung.

"Taehyung tidak bisa hadir hari ini. Orangtuanya sudah menghubungi sekolah"

"Kenapa?" tanyanya lagi.

"Taehyung baik-baik saja, sepertinya ada urusan yang harus diselesaikannya" ucap seokjin sambil menatap jungkook dalam, mencoba membuat jungkook percaya dengan perkataannya. Walaupun dirinya sendiri juga mengkhawatirkan siswa nakalnya itu.

"Baiklah sekarang kita mulai testnya"

.

.

.

Jungkook berjalan dengan malas. Langkah kakinya bahkan terseret-seret seakan tidak memiliki semangat untuk hidup. Tangannya merogoh saku celananya mengambil earphonenya lalu menyumpalnya ditelinga.

Dahinya mengernyit lalu melepas earphonenya saat menyadari barang itu sudah tidak berfungsi. Semenjak berkencan dengan Taehyung, jungkook tidak pernah menggunakan earphone lagi karena mereka akan mengobrol bersama untuk mengusir kebosanan.

Ini baru setengah hari dia tidak melihat wajah kekasihnya namun hatinya benar-benar merasa kosong dan membutuhkan Taehyung segera.

Jungkook bersandar pada tiang halte karena tempat duduknya benar-benar penuh. Biasanya Taehyung akan menemaninya menunggu bis, namun sekarang dia menunggu sendiri dan ini membosankan. Jungkook baru menyadari jika Taehyung seakan menjadi pusat dunianya, dan dia merasa dunianya tidak berputar jika Taehyung tidak ada disekitarnya.

.

.

"Bahkan dia tidak membaca pesanku, apa-apaan" Jungkook membanting ponselnya ke kasurnya saat melihat tidak ada satu pesanpun dari kekasihnya.

"Apa dia berselingkuh?" gumamnya. Pikirannya kembali mengingat saat Taehyung mengatakannya lembek. Kepalanya menggeleng pelan,

"Tidak mungkin ada yang mau dengannya" ucapnya lagi.

"Irene-nuna"

Jungkook menggeleng,

"Irene sunbae tidak akan mau dengan namja bodoh sepertinya" gumamnya mencoba meyakinkan dirinya.

Jungkook terkesiap lalu buru-buru mengambil ponselnya yang bergetar. Matanya membulat dan bibirnya tersenyum lebar saat melihat nama 'Taehyung-ku' dilayarnya. Jarinya dengan cepat menekan tombol hijau dan mendekatkannya ke telinga.

"Kau kemana saja" ucapnya datar. Mencoba menahan gejolak rindunya, bagaimanapun dia harus berpura-pura marah agar Taehyung tau kalau membuat Jungkook marah bukanlah pilihan yang bagus.

"Maafkan aku sayang. Aku harus pergi ke Daegu" suara berat yang benar-benar dirindukannya. Rasanya Jungkook ingin berteriak dan merengek bahwa dia merindukan Taehyung, namun Jungkook masih punya harga diri

"Kenapa tidak menghubungiku?" masih dengan nada datar yang membuat Taehyung terkikik diseberang sana. Jungkook merasa jengkel,

"Apa yang lucu?" Kini tawa kekasihnya berhenti begitu mendengar kalimat kesalnya.

"Kau tidak merindukanku, sayang?"

Bukannya menjawab pertanyaannya, Taehyung justru balik bertanya dan membuat Jungkook benar-benar kesal.

"Tidak.. sekarang jawab kena-"

"Tadi Kim saem bilang kalau ka-"

"AKU HANYA KHAWATIR" Jungkook berteriak kesal, Taehyung benar-benar menganggap kekhawatirannya sebagai lelucon.

Hening. Tidak ada satupun dari mereka mulai untuk bicara. Taehyung berdehem pelan, nafasnya terdengar pendek-pendek seperti menahan sesuatu, begitu asumsi Jungkook.

"Taehyung.. Kau-"

"Aku merindukanmu" Taehyung mengucapkannya dengan tulus membuat tenggorokannya terasa tersumbat sesuatu. Jungkook tidak tau harus berbicara apa dan Jungkook pikir kekasihnya tidak baik-baik saja.

"Kau tau, besok ada test Matematika.. Kau harus hadir" ucapnya mencoba mencairkan suasana canggung mereka,

"Ah- Begitu. Aku pikir akan mengambil test susulan karena ayahku membutuhkanku disini" Jungkook mengernyit, seingatnya Taehyung mengatakan ayahnya sudah lama meninggal. Bahunya terangkat sebentar, mungkin dia salah mengingatnya.

"Apa itu benar-benar penting?" tanyanya

"Tentu saja"

"Lebih penting dariku?" Sejujurnya, Jungkook hanya ingin menguji kekasihnya ini. Dia pikir Taehyung akan menjawabnya dengan gombalan seperti 'Tentu saja kau lebih penting' atau 'Kau yang terpenting' namun jawaban Taehyung,

"Tentu saja lebih penting darimu!!" nadanya naik satu oktaf yang membuat jungkook sedikit terkejut. Taehyung sepertinya menganggap ini serius.

"Aku tau.. Aku hanya-"

"Sudahlah.. Aku ada urusan"

Jungkook tertegun memandang layar ponselnya yang gelap. Taehyung barusaja mengakhiri telpon mereka secara sepihak. Emosi jungkook memuncah, egonya tiba-tiba saja naik yang membuatnya benar-benar kesal. Dia pikir siapa dia yang beraninya melakukan ini pada Jungkook. Mengesalkan.

.

.

.

Matanya mengerjap beberapa kali lalu kembali mendengus kesal. Ini sudah jam 2 pagi dan Jungkook sama sekali tidak bisa tertidur padahal besok dia memiliki test matematika yang pastinya akan menguras otaknya.

Tangannya terulur mengambil ponselnya di meja kecil sebelah tempat tidurnya setelah mendengar bunyi pesan masuk. Jungkook mengernyit setelah melihat nama 'Irene-sunbae' tertera dilayarnya. Dia memang memiliki nomor ponsel sunbaenya itu karena mereka sering mengikuti olimpiade yang sama namun Jungkook sama sekali tidak pernah bertukar pesan dengan sunbaenya ini.

'Jika kau membaca pesanku, cepat hubungi aku'

"Cih.. Apa-apaan" gumamnya setelah membaca pesan dari Irene. Bagi Jungkook, sunbaenya keterlalulan mengirim pesan di jam 2 pagi dan memaksanya untuk menghubungi balik.

Jungkook kembali menaruh ponselnya lalu berbaring mencoba untuk tidur namun 10 menit setelahnya dia kembali terbangun dan mengambil ponselnya.

"Apa yang ingin dibicarakannya sih?" gumamnya. Jungkook merasa kesal dengan dirinya sendiri yang memiliki rasa penasaran yang tinggi dan membuatnya menekan tombol untuk menghubungi sunbaenya itu.

"Awas saja tidak penting" gumamnya mengancam.

Jungkook mendengus saat merasa telponnya tidak dijawab sama sekali. Barusaja ingin menutup telponnya, namun suara diseberang membuatnya urung melakukannya,

"Hallo, Jungkook?"

"Ne, sunbae.. Ada apa? seperti-"

"Taehyung"

Pupilnya membesar saat sunbaenya mengucap nama kekasihnya. Jantungnya berdebar ketakutan, dan pikirannya menjadi kalut tentang ada apa dengan kekasihnya saat ini.

"Taehyung.. Kenapa?" tanyanya tenang. Dia tidak boleh panik, jungkook mencoba menenangkan dirinya.

"Ibunya.. Ibunya meninggal"

Mulutnya bergetar, airmatanya menetes begitu saja. Taehyung baru saja menghubunginya, bagaimana bisa.

"Taehyung memintaku untuk tidak memberitahumu karena kau memiliki test matematika besok. Namun aku pikir kau harus tau. Jadi-"

Jungkook memutuskan sambungan telponnya, lalu berlari keluar kamar dan menuruni anak tangga dengan terburu. Setelah sampai didepan kamar orangtuanya, Jungkook menggedor pintu kamar itu dengan keras. Persetan dengan orang-orang yang terganggu dengan sikapnya. Otaknya hanya memikirkan tentang Taehyung. Taehyung butuh dirinya.

Ayahnya membuka pintu dan memandang Jungkook tajam. Keluarganya memang menjunjung tinggi sopan santun dan sikap putranya kali ini benar-benar diluar batas.

"Ayah.. Ayah.."

Pupil mata ayahnya melebar melihat putranya terisak didepannya. Tangannya terulur memegang pundak putranya.

"Ada apa denganmu?" tanyanya dengan nada setenang mungkin, berharap jungkook juga tenang.

"Taehyung.." Tuan Jeon mengernyit bingung. Jungkook memang sering menceritakan tentang Taehyung dan segala keunggulan kekasih anaknya itu, namun dia tidak tau mengapa Jungkook datang seperti kesetanan menyebut nama Taehyung.

"Ada apa dengan Taehyung, sayang?" tanya Tuan Jeon sambil mengusap kepala putranya.

Semenjak kecil Ibu jungkook sudah meninggal jadi Tuan Jeon berusaha menjadi kedua sisi orangtua yang baik untuk anak semata wayangnya. Dia tidak ingin bersikap keras namun dia juga tidak ingin membebaskan anaknya yang bisa saja terlibat pergaulan bebas.

Dia tau jika putranya adalah anak yang kuat. Jungkook tidak mudah menangis, jadi jika sudah seperti ini pasti ada sesuatu hal yang serius terjadi.

"Ibunya.. Ibu Taehyung meninggal, yah" Tuan Jeon menarik Jungkook kedalam pelukannya.

Jungkook pasti benar-benar menyayangi Taehyung, terlihat dari bagaimana putranya benar-benar peduli pada namja itu.

"Tenanglah dulu.. dan coba jelaskan pada ayah" ucapnya menenangkan.

Jungkook berusaha berhenti menangis dan berusaha menceritakan apa yang terjadi walau masih dengan isakan kecil. Tuan Jeon tetap mengusap kepala anaknya pelan,

"Aku ingin pergi kesana, yah" pintanya setelah menyelesaikan ceritanya. Ayahnya memandangnya dalam diam.

Jungkook tertunduk lesu, ayahnya pasti tau jika besok dia memiliki test dan seratus persen yakin jika Jungkook tidak akan diijinkam untuk pergi.

"Kau ingin menemuinya?" jungkook mengangguk sebagai jawaban,

"Kau bisa berjanji pada ayah?" matanya mengerjap beberapa kali mencoba meresapi kalimat ayahnya, namun jungkook tetap tidak mengerti

"Janji?" tanyanya yang hanya dibalas anggukan oleh ayahnya

"Janji apa?" Tuan Jeon tersenyum tipis lalu tangannya memegang kedua sisi pundak putranya.

Matanya menatap tepat dimata putranya,

"Berjanjilah, kau harus kuat didepan Taehyung. Dia membutuhkan sandaran saat ini. Ayah ingin kau datang kesana untuk melindunginya dan menyemangatinya bukan malah menjadi beban untuknya." Tangan tuan Jeon terulur mengusap sisa air mata dipipi Jungkook lalu kembali tersenyum

"Tunjukan padanya, bahwa Taehyung masih memilikimu dan dia bisa mengandalkanmu"

Jungkook terdiam beberapa saat. Ini pertama kali dalam hidup ayahnya mengijinkan apa yang dia minta. Biasanya Ayahnya akan menentukan apa yang harus Jungkook lakukan tanpa bisa menolak. Sekarang, ayahnya berbicara seperti ini dan membuatnya benar-benar ingin menangis. Dia ingin berterimakasih kepada Tuhan karena mengirimkan seorang malaikat pelindung padanya.

Jungkook mengangguk semangat lalu tangannya terangkat untuk mengusap wajahnya yang basah karena airmata.

"Persiapkan dirimu, ayah akan memanggil sopir untuk mengantarmu kesana dan akan menghubungi gurumu nanti"

Jungkook tersenyum lebar lalu memeluk ayahnya erat,

"Terimakasih, ayah.. Aku mencintaimu" Tuan Jeon tersenyum lalu mendorong tubuh jungkook pelan hingga pelukannya terlepas. Wajahnya memasang ekspresi datar lagi,

"Jangan berterimakasih dulu.. Setelah semuanya baik-baik saja.. Bawa Taehyung kerumah dan perkenalkan pada ayah"

Jungkook tertunduk, ia meneguk ludahnya susah payah. Ayahnya masih sedikit menyeramkan. Tanpa disadarinya, tuan Jeon tersenyum kecil. Tipikal keluarga Jeon sekali,

.

.

Jungkook memandang jalanan melalui jendela mobilnya. Sebentar lagi matahari akan terbit. Tangannya terulur keluar merasakan semilir angin dingin dipagi hari.

"Taehyung-ah tunggu aku" Jungkook tersenyum mencoba menyemangati dirinya.

Dia harus kuat agar bisa menjadi sandaran untuk Taehyung seperti kata ayahnya.

Jungkook menatap daun-daun yang mulai berguguran dijalanan yang dilalui mobilnya, lalu tersenyum kecil,

"Taehyung, kau masih memilikiku"

.

.

.

Cintaku memang terlihat bening seperti gelas kaca yang mudah pecah. Namun percayalah cintaku padamu lebih kuat dan tidak akan mudah pecah seperti yang terlihat

-Gfriend 'Glass Bead'

.

.

.

Tbc

Author's Note:

Hai gengs, karena Love Ghost yang masih tidak tau arah jadi aku putusin buat lanjutin yang ini aja dulu.

Semoga ini bisa menebus kekecewaan kalian padaku, Maaf:""

Chapter ini belum ada Taekook nya ya, tapi chapter depan janji deh full taekook hehehe

Tolong bilang kalau kalian udah mulai bosen sama ff ini jadi biar langsung aku bikin endingnya hehehe

Jangan lupa baca juga ff terbaruku 'My Psychopath' ya.. siapatau ada yang suka. Ehe.

Itu aja, Jangan lupa reviewnya juga ya

Thanks

-Ai

-2017.06.12