RESTRAINT

Kuroko No Basuke milik Fujimaki Tadatoshi

Original Story milik Gigi

Warn :

T

Brother! Akakuro

Harem x Kuro

Kuroko Tetsuya

Akashi Seijuro

Akashi Masaomi & Shiori

Kiseki No Sedai

Kagami Taiga

Momoi Satsuki

OOC

Typo

Chapter 3.

"Tetsuya dan masa lalu."

Rasanya Tetsuya ingin sekali meledak. Bayangkan, sudah seminggu ini Tetsuya tidak bisa minum vanilla milkshake kesukaanya karena sang kakak melarangnya setelah tau kalau Tetsuya membuang brokoli dalam piringnya ke tempat sampah. Pokoknya sampai Seijuro mencabut larangannya, Tetsuya tidak mau makan!

"Jangan seperti anak bayi, Tetsuya."

"Aku mau pulang."

"Sabtu depan kita pulang."

"Tidak mau! Disini Sei-kun menyiksaku."

"Kalau kau makan brokolinya, aku tidak akan melarangmu meminum minuman tak berguna itu."

"Tapi Okaa-san selalu membuatkanku setiap hari."

"Okaa-san membuatnya menggunakan bahan-bahan yang benar-benar sudah teruji beda dengan restoran langgananmu!"

"Dimanapun vanilla milkshake itu sama. Pokoknya aku mau pulang."

"Sabtu depan!"

"Tidak mau. Kalau begitu, aku pulang sendiri."

"Baiklah, sabtu besok kita ke kyoto."

"Bohong."

"Kapan aku pernah membohongimu, Tetsuya?"

"Minggu kemarin Sei-kun bilang mau pulang, tapi- tapi Sei-kun malah berkutat dengan tugas-tugas OSIS."

"Itu tuntutan."

"Baiklah, aku tidak akan menuntut Sei-kun. Aku bisa pulang sendiri."

Bruk! Seijuro melempar tubuh Tetsuya ke ranjang miliknya. Tangannya mengunci pergerakan Tetsuya dengan posisi yang membuat fujoshi histeris.

"Sei-kun?"

Wajah mereka begitu dekat hingga Tetsuya merasakan nafas mint milik Seijuro.

"Kalau aku bilang sabtu besok, ya sabtu besok. Tidak ada bantahan. Mengerti Tetsuya?"

"Ha-hai."

"Sekarang siap-siap. Kita berangkat sekolah bersama."

Seijuro menarik tangan adiknya untuk membantunya bangun. Dengan cekatan, Seijuro memperbaiki dasi Tetsuya.

"Ano, Sei-kun, kau tidak usah menyelipkan celemek bayi ini untukku."

"Tetsuya tidak suka?"

"Tentu saja. Aku bisa makan dengan bersih, kalau pun kotor, masih ada tisu. Jadi Sei-kun tidak perlu membawakannya."

"Dulu kau selalu memakainya, Tetsuya."

"Iya saat aku masih bayi."

"Terakhir kau masih memakainya kalau dirumah."

"Po-pokoknya, aku tidak mau pakai ini. Rasanya seperti aku masih memakai popok."

"Tetsuya ingin pakai popok?"

'Arrrgh!' Batin Tetsuya mendesah frustasi.

Tetsuya tidak menjawab dan hanya memakai sepatu dalam diam.

Akhirnya sabtu yang ditunggu tiba. Peduli amat dengan celoteh teman-temannya yang pasti Tetsuya sudah tidak sabar untuk bertemu ibu dan ayahnya. Maklum, selama ini, tepatnya selama 16 tahun hidup, baru tahun ini Tetsuya jauh dari orangtuanya. Ibunya, lebih tepatnya. Bahkan selama 24 jam, ibunya hampir selalu berada disisi Tetsuya. Apalagi dengan statusnya yang mengenyam pendidikan home schooling dari TK sampai tingkat menengah pertama membuat Tetsuya sangat sangat jarang berinteraksi dengan orang lain diluar keluarga Akashi.

"Tetsuya ingin naik apa?"

"Kereta."

"Kenapa?"

"Kata Kise-kun, naik kereta itu menyenangkan."

"Kenapa tidak pesawat? Bukannya Tetsuya ingin segera pulang?"

"Tapi aku belum pernah naik kereta sebelumnya."

"Apa Tetsuya mau dibelikan kereta pribadi?"

"Tidak. Seperti ini saja, Sei-kun. Lagipula, kalau pribadi, sama saja tidak naik kendaraan umum."

"Baiklah."

Duo kakak adik itu berjalan cepat. Lebih tepatnya Tetsuya yang berlari. Dia sudah tidak sabar. Rasa kangennya sudah tak bisa ditahan. Diujung ubun-ubun. Tubuhnya sudah gatal akan pelukan sang ibunda.

"Pelan-pelan, Tetsuya."

"Ini sudah pelan."

"Tapi jalanmu seperti bayi yang keberatan pakai popok."

"Hanya perasaan Sei-kun. Ah, itu hasegawa-san." Ujar Tetsuya sambil melambaikan tangan kepada seorang laki-laki yang rambutnya mulai memutih.

"Tetsuya-sama, Sei-sama, apa saya terlambat?"

"Tidak, hasegawa-san. Kami baru sampai." Jawab Tetsuya.

"Kalau begitu, mari barang-barangnya saya bawa. Tuan dan nyonya sudah menunggu."

Perjalanan ke kediaman utama Akashi hanya memakan waktu 30 menit. Tapi menuju pintu rumah utamanya dari gerbang memakan waktu 10 menit. Sasuga rumah Akashi-sama..

"Tetsuya, kalau kau tidak bisa diam, kau akan ku masukan koper." Ujar Seijuro melihat adiknya seperti anak kecil yang kelebihan gula. Mukanya sih tetap datar, tapi aura blink-blinknya benar-benar menyilaukan.

Tetsuya memilih diam. Malas berdebat kalau akhirnya dia yang kena.

Sesaat setelah mobil berhenti, Tetsuya langsung turun. Bodo amat sama celoteh kakaknya. Hei, ini Kyoto bung, Tetsuya lebih berkuasa daripada di Tokyo.

"Okaa-san, Tetsuya pulang."

Grep. Tetsuya langsung mendapat pelukan hangat saat membuka pintu utama kediaman Akashi.

"Mou, Tet-chan, Okaa-san kangen."

Seijuro hanya mendengus melihat drama ibu dan anak. Bola matanya memutar bosan. Demi apa, mereka hanya tidak bertemu sebulan. Bukan bertahun-tahun!

"Sei-chan, sini peluk Okaa-san."

"Peluk saja Tetsuya."

Seijuro lebih memilih menyalami ayahnya dulu.

"Bagaimana kabar kalian?" Tanya Masaomi membuka pembicaraan.

"Kami baik ayah. Tidak ada masalah."

"Lupakan mereka Tet-chan, ayo kita ke ruang makan. Pasti Tet-chan lapar."

"Hai Okaa-san."

Tapi sebelumnya, Tetsuya juga ikut menyalami ayahnya.

"Kau jangan terlalu menuruti ibumu, Tetsuya."

"Memangnya kenapa, Otou-san?"

"Jadi anak ayah saja."

"Apa? Tidak boleh. Kau boleh merecoki bisnis atau apapun itu ke Sei-chan. Tapi jangan Tet-chan. Dia masih kecil." Shiori langsung pasang badan saat suaminya berencana memonopoli anak bungsunya.

"Nii-san, kau mau tukaran tempat?"

"Tidak mau." Ujar Seijuro cuek. Dia memilih belajar bisnis atau apapun itu daripada dipeluk-peluk ibunya layaknya boneka beruang.

Ruang makan itu tidak seperti biasanya. Kedatangan Tetsuya dan Seijuro membuat meja makan itu lebih berwarna karena cerita-cerita Tetsuya yang tentu saja dibumbui kepolosan yang membuat ayahnya geleng-geleng kepala.

"Tet-chan, nanti malam tidur sama Okaa-san ya?"

"Otou-san bagaimana?"

"Ayahmu lebih memilih berkas-berkasnya daripada Okaa-san." Ujar Shiori sambil melirik Masaomi yang memilih berbincang dengan anak sulungnya. "Lagipula, Tet-chan cuman semalam disini."

"Hai, Okaa-san."

Tetsuya memiringkan tubuhnya menghadap sang ibu. Mata azure-nya memandang wajah cantik Shiori. Ingatannya terbang tiga tahun yang lalu.

Saat itu, selama 13 tahun hidupnya, Tetsuya hanya tahu kalau dirinya dan Seijuro adalah kembar fraternal. Itulah yag selama ini dikatakan oleh kedua orangtuanya mengapa dia dan kakaknya tidak mirip. Tetntu saja, Tetsuya percaya. Otaknya belum berpikir yang macam-macam. Sampai akhirnya dia ikut dalam sebuah petemuan besar yang melibatkan seluruh keluarga besar Akashi. Disitu Tetsuya melihat kalau tidak ada satupun keluarganya yang mempunyai ciri fisik yang sama dengannya. Kulit Tetsuya terlalu pucat dibanding dengan keluarga Akashi yang lain.

Demikian pula dengan ciri fisik atau pun sikap. Tidak ada yang mirip dirinya. Bahkan, Seijuro yang merupakan saudara kembarnya. Dari buku yang Tetsuya baca, seberbeda apapun seorang yang kembar, pasti ada sesuatu yang sama. Tapi mereka, benar-benar berbeda.

Mulai saat itu, Tetsuya dipenuhi banyak pertanyaan. Kenapa hanya dirinya yang berbeda? Kenapa tak ada ciri khas Akashi yang melekat di tubuhnya? Memang, selama ini dia tidak pernah dibedakan, baik dari orangtuanya atau keluarganya yang lain, tapi tetap saja, ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Ada sesuatu yang tak pas di batinnya. Apalagi, akhir-akhir ini, Tetsuya banyak bermimpi samar tentang perempuan berambut hitam dan laki-laki yang punya rambut sepertinya. Berulang-ulang dan sama.

Dan puncaknya, Tetsuya menemukan akta kelahiran yang bertuliskan namanya tapi beda marga dengan tanggal lahir 31 Januari 199x berbeda dengan akta yang dilihatnya selama ini, 20 Desember 199x sama dengan kelahiran Seijuro dengan marga Akashi. Nama orangtuanya juga bukan Akashi Masaomi dan Shiori, tapi Kuroko Kazuya dan Tetsuna.

Hati Tetsuya hancur. Tangannya gemetar. Orang-orang yang selama ini berada disampingnya, tidak memiliki hubungan darah dengannya. Lalu dimana orangtuanya? Dan siapakah dia?.

Penemuan itu membuat Tetsuya berubah drastis. Memang pada dasarnya dia pendiam, tapi tidak untuk keluarganya, apalagi dengan ibunya. Namun, karena masalah itu, Tetsuya menjadi sangat tertutup. Sering melamun dan murung. Dengan perubahan itu, pelan-pelan, dirinya menjaga jarak.

Namun, hal itu tidak berlangsung lama. Seminggu setelah Tetsuya berubah sikap, keluarganya, terutama Seijuro dan Shiori mencium keanehan dari Tetsuya. Awalnya Tetsuya mengelak. Tapi insting ibu Shiori lebih kuat. Akhirnya setelah didesak, Tetsuya berusaha menjelaskan dengan berurai air mata.

"A-Akashi-san."

"Tet-chan, apa maksudmu memanggil ibumu dengan 'Akashi-san'?"

Tetsuya meremat erat bajunya. Takut menyuarakan pertanyaan. Takut kalau dia bukan siapa-siapa di keluarga ini meski dia sadar, dia tak punya hubungan darah. Tak mau mendengar kalimat negative, Tetsuya kabur. Dia tak melihat dan tak tahu akan kemana. Yang pasti, Tetsuya mau lari dari sini.

Kaburnya Tetsuya tentu saja membuat keluarga Akashi kelabakan. Apalagi Shiori yang tak henti menangis. Khawatir, takut. Pikirannya melayang kearah yang bukan-bukan. Selama ini, anak bungsunya tidak pernah keluar mansion sendiri. Shiori dan Masaomi sebenarnya mengerti tentang apa yang diketahui Tetsuya, tapi tidak menyangka kalau Tetsuya mengambil langkah ini. Mereka sebenarnya telah sepakat akan memberitahu Tetsuya kalau sudah berumur 18 tahun nanti.

Seijuro meremas tangannya. Berpikir kemana adiknya pergi? Kenapa dia bisa luput memperkirakan ini?. Seijuro anak yang cerdas. Tanpa orangtuanya ketahui, Seijuro menyelidiki semuanya. Dia tak bodoh, sebeda-bedanya kembar fraternal, dia dan adiknya terlalu berbeda. Untuk itu, meski umurnya baru 13 tahun, Seijuro sudah bertindak.

Berbeda dengan anak dan istrinya, Masaomi hanya diam. Bukannya tidak peduli. Kalau khawatir, tentu saja dia sangat khawatir. Meski bukan anak kandungnya, Masaomi sangat menyayangi Tetsuya. Hadirnya Tetsuya disini sudah memberi warna yang lebih untuk keluarga Akashi. Tapi Masaomi tahu. Anak bungsunya akan pulang. Dia mengerti, Tetsuya butuh waktu untuk sendiri. Untuk itu, dia sudah mengirim orang untuk menjaga Tetsuya.

Tiga hari berlalu sejak kaburnya Tetsuya membuat mansion mewah itu suram. Seijuro mulai kalut. Dia sangat menyayangi adiknya terlepas kandung atau tidak. Untuk pertama kali dalam hidupnya, dia merengek ke ayahnya untuk segera menemukan Tetsuya. Shiori pun juga tak kalah kalut. Sebenarnya Masaomi juga mulai khawatir. Dia tahu kalau Tetsuya membawa kartu kredit, untuk itu selama tiga hari, Masaomi mentransfer uang yang tidak sedikit. Tapi masalahnya, Tetsuya tidak menggunakan uang itu sepeserpun.

Akhirnya tepat empat hari setelah Tetsuya kabur, Tetsuya kembali pulang. Wajahnya kusam. Pakaiannya pun robek sana-sini. Beberapa luka lebam pun hinggap ditubuhnya. Begitu juga dengan darah yang sudah mengering di kerah bajunya. Ibunya adalah orang pertama yang melihat Tetsuya.

"Tet-chan.."

Namun, belum Shiori memeluk anak bungsunya, Seijuro mendahului dan menampar pipi Tetsuya.

Plakk! Tetsuya hanya menunduk. Tidak berbicara ataupun memandang kakaknya.

"Kau! Apa yang kau pikirkan hingga kabur dari rumah?"

"…" Tetsuya masih diam. Dagunya diangkat oleh tangan kanan Seijuro. Memaksa agar mata Tetsuya menatap matanya langsung. Mata Tetsuya membulat. Seijuro terlihat mengerikan. Selama mereka bersama, baru kali ini Tetsuya melihat murka dimata kakaknya. Melirik kesamping, Tetsuya melihat ibunya tengah menangis dipelukan ayahnya.

"Go-gomen."

"Apa yang kau pikirkan hingga membuat orangtuamu menangis?"

"Gomenasai, Nii-san, Okaa-san, Otou-san."

"Aku tak butuh maafmu, Tetsuya. Aku butuh penjelasan!"

Dengan tersedu-sedu, Tetsuya menceritakan tentang penemuannya. Masalah akta dan nama marga yang berbeda. Tangannya gemetar. Berusaha menguatkan diri tentang fakta kalau dia bukan seorang Akashi seperti yang dia pikirkan selama ini.

"Tetsuya, tatap mataku." Perintah Seijuro pada adiknya.

Dengan perlahan, Tetsuya mengangkat wajahnya yang sudah berlepotan air mata.

"Apa aku pernah tidak menganggapmu sebagai adikku? Apa Okaa-san dan Otou-san pernah membedakanmu? Apa kita dibedakan dalam keluarga ini?"

Tetsuya menggeleng. "Tidak, Nii-san."

"Lalu kenapa? Apa kau tidak menganggap kami sebagai keluargamu?"

Tetsuya masih diam, belum mau menjawab. Bibirnya masih kelu.

"Baiklah, tersera-"

"Nii-san, Okaa-san, Otou-san. Untuk kalian, siapakah aku?"

Grep! Shiori memeluk Tetsuya erat.

"Tentu saja kau anakku! Tec-chanku baka!"

Masaomi menepuk kepala Tetsuya pelan. "Kau anak yang ku banggakan, Tetsuya."

Tetsuya melirik Seijuro.

"Apa? Tentu saja aku kakakmu yang akan mengajarimu sopan santun dan disiplin, Tetsuya."

"Gomen. Gomenasai." Tetsuya memeluk ibunya erat dan menangis kencang.

Setelah semuanya tenang, Shiori dan Masaomi menceritakan segalanya. Tentang akta, lalu siapa Kuroko Kazuya dan Tetsuna.

"Mereka berdua adalah orangtua kandungmu, Tetsuya." Ujar Masaomi mengawali penjelasan.

"Lalu dimana mereka?"

"Itulah yang ingin kami ceritakan."

"Orangtuamu tidak tinggal di Jepang. Mereka tinggal di Manchester. Karena ayahmu, mempunyai perusahaan disana. Kami dan orangtuamu merupakan sahabat. Kami sering bertukar kabar, bahkan kadang saling mengunjungi. Setelah kelahiranmu, mereka kembali ke jepang untuk membuat akta kelahiran untukmu. Namun, sebelum akta itu jadi, Kazuya dan Tetsuna mendapat panggilan untuk segera kembali ke Inggris. Karena saat itu, kau sedang demam, kau dititipkan disini. Mereka berjanji kalau sebelum malam, mereka akan kembali. Tapi takdir berkata lain. Pesawat yang ditumpangi Kazuya dan Tetsuna mengalami kecelakaan. Tak ada yang selamat.

Kami sangat shock mendengar kabar itu. Kau pun menangis sangat kencang seolah sudah tahu kabar tentang orangtuamu. Setelah itu, kami sepakat untuk mengangkatmu menjadi anak kami dan agar kau tidak tahu masalah ini, kami membuat akta lagi yang menyatakan bahwa kau dan Sei kembar mengingat umur kalian yang hanya selisih 42 hari."

"Kenapa Okaa-san dan Otou-san tidak memberitahuku?"

"Kami sepakat akan memberitahukan ini padamu saat kau berumur 18 tahun nanti, Tet-chan. Tapi kami tidak menyangka, kau akan tahu saat berumur 13 tahun."

"Lalu a-apakah aku masih punya keluarga?"

"Tentu saja, kakek dan nenekmu masih di Inggris. Seluruh keluarga besar Kuroko berada disana, Tetsuya."

"Lalu kenapa-"

"-Mereka tidak merawatmu? Pasti itu yang kau tanyakan. Mereka ingin mengambilmu, apalagi kau adalah cucu tunggal disana. Tapi, maaf, kami sangat menyayangimu, Tet-chan. Apalagi, Tetsuna juga pernah berkata kalau terjadi apa-apa, Tetsuya akan berada di tangan Akashi. Selain itu.."

"Selain itu?"

"Tidak ada apa-apa, Tet-chan. Kalau kau ingin menemui keluarga kakekmu, kami mempersilahkannya. Kau bisa menjenguk mereka kapanpun kau mau."

"Ingatlah dalam hatimu baik-baik, Tetsuya. Kami disini juga keluargamu. Kau punya ayah, ibu dan kakak yang selalu ada di sampingmu saat kau membutuhkannya."

"Arigato Okaa-san, Otou-san dan Nii-san. Gomen sudah merepotkan."

"Kau tidak merepotkan, Tetsuya. Tapi sangat merepotkan." Ujar Seijuro sambil mencubit kedua pipi gembul Tetsuya. "Jangan pernah berpikir bodoh lagi atau aku tidak segan menghukumu."

"Tet-chan! Tet-chan!"

Lamunan Tetsuya tersentak mendengar panggilan ibunya yang berulang memanggil namanya.

"Ada apa, Okaa-san?"

"Tet-chan yang ada apa. Tadi kau melamun kemudian menangis."

"Eh? Menangis?" Tetsuya memeriksa matanya yang sudah basah karena air mata.

"Tet-chan kenapa? Jangan berpikir yang aneh-aneh lagi, sayang."

"Hanya sedikit memikirkan cerita 3 tahun yang lalu, Okaa-san."

"Mou.. kau tidak berpikir yang aneh-aneh lagi kan?"

Tetsuya menggeleng.

"Awas saja kalau Tet-chan berpikir yang aneh-aneh." Ujar Shiori sambil mencubit hidung Tetsuya.

"Okaa-san jangan khawatir."

"Anak kecil sepertimu jangan menasehati Okaa-san ya. Eh, tadi Tet-chan sudah minum susu?"

"Sudah, Kaa-san."

"Gosok gigi?"

"Sudah."

"Nah kalau sudah, sini Okaa-san cium keningnya biar mimpi indah."

Tetsuya menurut, mendekatkan keningnya supaya ibunya mudah memberi kecupan sebelum tidur. Biarlah seperti ini. Meski kadang terkekang, diatur sana-sini, diperlakukan layaknya balita dan kadang dikatai anak mama, Tetsuya tidak peduli. Tetsuya menyukainya. Tetsuya mencintai keluarga ini. Keluarganya. Keluarga Akashi.

TBC.

Author's Note :

Hai, Gigi muncul lagi, jangan bosen yaa :D

Chapter ini agak panjang sama minim dialog kali ya dan mungkin, lebih serius, hehe. Soalnya lagi bahas masa lalu si unyu Tetsuya :*. Nah, baru deh chapter depan focus ke Sei sama Tetsuya. Semoga chapter ini udah menjawab beberapa pertanyaan yang kemarin diajukan :D . Terus untuk adegan dari yang Tetsuya balik dengan keadaan lebam hingga adegan tampar sama pertanyaan siapa aku untuk kalian, inspirasinya dari salah satu adegan dari anime sket dance, cuman saya lupa episode berapaa, hehe. Lalu untuk akta, saya nggak tau kalau di Jepang ada akta kok, jadi kalau salah, ya maafkan.

Oh, iya.. Selamat Ulang tahun Akashi-sama, semoga makin langgeng sama Tetsuya :*

Untuk yang review kemarin :

Wullanchole coba tanya langsung sama akashi-sama deh :D . Flow Love pertanyaan siapa yang mencintai Tetsuya itu bakal terjawab kok, seiring dengan berjalannya waktu, ceileeh :). Maiya Shiori bukan tokoh penting kok itu, hahaha. CassieFujho12 ah, kalo sama Tetsuya mah, Akashi selalu sayang, ahaha. Yuki-kun aduh, makasiih :D wah, kalau itu saya nggak bisa kasih tenggat waktu tapi yang pasti saya usahakan cepet lah, ehehe. Chii nurut dong, kan Tetsuya adik yang baik :D. Rive Eve Akashi teriakan fujoshinya keluar, kyaaa :D. Little Lily mereka cocok jadi apa aja asal dipasangin :D, ahaha. Mariagracia793 kasih tau nggak ya? :D. N Rani Kudo yah, lihat perkembangan cerita ini bagaimana aja deh, ehehe :D. FriendShit, Hanyo4, Siscarilla, Ritsu0593, Ricchan Yami no Hime, Mai-chan, Akkurren612, Miku Yam, AomineHikaru iya ini udah saya lanjut :D.

Btw, makasih banget buat responnya dari review, fav, maupun follow :*

Saya tunggu lagi yaa :D

Terimakasih sudah membaca.

Sign,

Gigi.