Previous chapter...
"Kenapa jadi semakin rumit" ia mengerang.
Perkataan Siwon ada benarnya. Atau mungkin semuanya benar. Tidak seharusnya ia melibatkan Ryeowook dalam hal ini. Entah apa yang akan terjadi jika pemuda itu tahu ia hanya memanfaatkannya. Huh, padahal ia sangat benci dimanfaatkan, tapi sekarang malah ia yang memanfaatkan orang lain. Yang lebih parah lagi, ini tentang perasaan.
Setidaknya Kau harus mempertanggung jawabkan apa yang sudah Kau pilih itu, Kyu.
Kata-kata Siwon kembali terngiang di telinganya. Bertanggung jawab? Bagaimana caranya untuk bertanggung jawab? Tanggung jawab yang seperti apa, ia sendiri juga tidak tahu. Bahkan otak jeniusnya tidak mau bekerja di saat seperti ini.
"Apa yang harus aku lakukan?"
Someday
By
Aster Nam
~enJOY~
Sungmin tengah memasukan bukunya ke dalam tas ketika seseorang mengetuk pintu apartemennya. Pemuda manis itu segera beranjak untuk membukakan pintu. Ia sudah tahu siapa yang datang ke apartemennya sepagi ini.
"Masuklah, kita sarapan bersama" ucap Sungmin begitu pintu terbuka. Kemudian sedikit menggeser tubuhnya agar pemuda yang masih berdiri di depan pintu apartemennya bisa masuk ke dalam.
"Gomawo" pemuda itu dengan senang hati menerima ajakan Sungmin dan tanpa ragu langsung masuk ke dalam apartemen kecil itu.
"Harusnya waktu itu aku tidak memberi tahu tempat tinggalku" Sungmin menutup kembali pintu apartemennya, lalu menyusul pemuda itu masuk.
"Anggap saja aku pengawal pribadimu"
Pemuda itu duduk di kursi kayu berwarna putih yang sudah satu minggu ini menjadi tempat favoritnya jika datang ke apartemen Sungmin. Ia mengetuk-ngetukan jarinya di atas meja sambil memandangi Sungmin yang tengah sibuk menyiapkan sarapan untuk mereka berdua di dapur.
"Hanya ada ini"
Sungmin meletakan dua piring roti isi dan juga dua gelas susu segar ke atas meja. Kemudian ikut duduk bersama pemuda itu.
"Kelihatannya enak"
"Tidak perlu berlebihan, ini hanya roti isi. Di manapun rasanya sama saja"
Pemuda itu mengibas-ngibaskan tangannya dengan cepat. "Ini berbeda. Apapun itu, asal Kau yang membuatnya akan terasa lebih enak. Bahkan jika Kau memberiku makan batu, tetap akan aku makan dengan senang hati"
"Kenapa aku merasa Kau sedang merayuku" cibir Sungmin.
Pemuda itu tertawa, lalu mengacak-acak rambut Sungmin yang duduk berhadapan dengannya. Ia selalu suka dengan sikap Sungmin yang kadang terlihat seperti anak-anak. Membuatnya semakin manis.
"Kajja, kita sarapan"
Sungmin mengerucutkan bibirnya sebal sambil merapikan kembali rambutnya yang berantakan. Kemudian mulai menyantap roti isi buatannya sendiri.
Meskipun diawali perdebatan kecil, namun sarapan pagi mereka bisa berlangsung dengan tenang pada akhirnya. Pemuda itu sesekali menatap Sungmin dan tersenyum. Mulut pemuda manis di hadapannya penuh dengan makanan, pipinya menggembung dan bergerak-gerak saat mengunyah. Wajahnya jadi terlihat bulat menggemaskan.
"Waeyo?" Sungmin menyadari pemuda itu sudah berkali-kali memperhatikannya. Ia jadi berpikir apa ada yang aneh dengan wajahnya sekarang.
Alih-alih menjawab pertanyaan Sungmin, pemuda itu justru tersenyum lalu mengusap sudut bibir Sungmin yang terdapat bekas susu.
"Gomawo, Hae"
Sungmin jadi merasa pipinya memanas. Pemuda itu sekarang pasti menganggapnya seperti anak kecil. Benar-benar memalukan.
Sesaat Donghae mengalihkan pandangannya dari Sungmin, melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Lebih baik kita segera berangkat" ucapnya kembali menatap Sungmin.
"Tunggu sebentar"
Sungmin membereskan meja makan, lalu berjalan ke dapur dengan membawa piring dan gelas yang tadi mereka gunakan. Dengan cekatan ia mencuci benda-benda itu dan menyimpannya kembali di tempat semula.
"Kajja, kita berangkat" ucapnya setelah mengeringkan tangan dengan handuk kecil di dekat tempat pencuci piring. Disambut anggukan kecil dari Donghae.
Keduanya pun meninggalkan apartemen Sungmin. Berjalan berdampingan menuju halte bus yang berada tidak jauh dari gedung apartemen berlantai empat itu.
=oOo=
Sungmin baru saja turun dari bus bersama Donghae saat manik kelamnya menangkap bayangan tubuh tinggi pemuda yang tengah berjalan mendekati gerbang sekolah. Entah sebuah kebetulan atau memang pemuda itu menyadari keberadaannya di sana. Pemuda itu sempat menghentikan langkahnya, dan untuk sesaat dua obsidian itu menatap ke arahnya. Sangat jelas ada perasaan tidak suka yang tergambar dari wajah datar itu. Sungmin tahu benar. Namun ada yang mengganjal saat ia melihat ke dalam dua obsidian pemuda itu. Sesuatu yang kontras dengan sikap dingin yang di tunjukan. Meski ia tidak terlalu yakin. Meski ia sendiri tidak tahu apa itu. Meski ia bukan seseorang yang ahli dalam membaca ekspresi wajah dan tatapan mata. Tetap saja hatinya mengatakan ada sesuatu yang sangat berbeda. Ingin sekali rasanya ia tahu apa yang sedang pemuda itu pikirkan. Ingin sekali ia tahu apa yang sedang pemuda itu rasakan.
"Kyuhyun-ah"
Pemuda itu memutar tubuhnya. Mengulas senyum tipis saat seorang pemuda bertubuh kecil dengan wajah tirus yang terlihat lugu melambaikan tangan ke arahnya.
Sungmin terhenyak. Seperti ditarik dari dunia fantasi dan dipaksa kembali ke dunia yang sempat ia tinggalkan. Melihat pemuda itu tersenyum pada orang lain. Mengingat pemuda itu sudah memiliki seseorang yang mendampingi. Merasa pemuda itu benar-benar tidak akan pernah peduli padanya. Kenyataan seperti itulah yang semakin membuatnya seakan jatuh terjerembab ke dasar jurang yang lebih dalam. Sungmin tahu perasaannya pada pemuda itu seperti air kotor yang bercampur dengan kubangan lumpur. Tidak akan berbekas. Seperti mengharap hujan akan membasahi padang pasir yang kering dan panas. Tidak akan terbalas.
Tuhan, tolong bantu aku!
Hatinya merintih. Sungmin berharap Tuhan segera menurunkan malaikat untuk membantunya agar bisa menghadapi kenyataan yang terpampang jelas di depannya. Membantu menarik kedua ujung bibirnya agar membentuk sebuah senyum. Membantunya melangkah maju dengan tegak. Membantu menghangatkan tubuhnya yang serasa membeku.
"Min, aku di sini"
Suara rendah dan dalam itu menyapa indera pendengarannya bersamaan dengan sentuhan lembut di bahunya. Sungmin menoleh ke samping. Ia hampir saja melupakan keberadaan Donghae yang berdiri di sampingnya. Seakan terhipnotis oleh senyumannya, Sungmin tanpa sadar ikut tersenyum. Inikah.. inikah malaikat yang Tuhan kirimkan untuknya? Lee Donghae, diakah malaikat itu?
"Kau hanya perlu berjalan melewati mereka"
Sungmin kembali memandang dua pemuda yang kini terlihat tengah berbincang di sisi kanan gerbang sekolah. Lebih tepatnya pemuda bertubuh kecil itu yang lebih banyak bicara. Mungkin sedang menceritakan hal yang menyenangkan, terlihat jelas ekspresi wajahnya yang ceria. Sedangkan pemuda tinggi dengan rambut cokelat ikal di depannya hanya diam. Berdiri dengan kedua tangan yang dimasukan ke dalam saku celana. Entah benar-benar mendengarkan atau tidak.
"Bersama-sama"
Sungmin sedikit tersentak. Kemudian memandang tangannya yang sudah berada dalam genggaman Donghae. Seulas senyum kembali menghiasi wajah tenang di sampingnya. Berusaha meyakinkan Sungmin bahwa semuanya akan baik-baik saja, mereka hanya perlu berjalan seperti biasa.
Rasa hangat dari genggaman tangan Donghae perlahan menjalar ke seluruh tubuhnya. Mencairkan kepingan es yang membekukan dirinya. Sungmin merasa lebih baik sekarang. Bersama Donghae di sisinya, Sungmin bisa melangkah dengan pasti. Melewati dua tebing curam yang bisa kapan saja membuatnya kembali terjatuh.
"Gomawo" lirihnya.
"Aku yakin Kau bisa melakukannya, Min" ucap Donghae, masih menatap lurus ke depan.
"Berkat bantuanmu. Emm.. sekarang Kau bisa melepaskan tanganmu"
Donghae mengangkat sedikit tangannya yang masih menggenggam tangan Sungmin. Kemudian menatap pemuda manis itu. "Biarkan seperti ini, aku suka"
Sungmin mendesah pasrah. Ia tidak keberatan dengan apa yang Donghae lakukan. Asal jangan sampai orang lain yang melihat mereka menjadi salah paham. Terlebih lagi, Donghae adalah sahabat Kyuhyun.
"Aku akan mengantarmu sampai kelas" ucap Donghae cepat sebelum Sungmin menghentikan langkahnya karena mereka telah berada di depan kelas Donghae.
"Selalu seenaknya" gerutu Sungmin.
Donghae berusaha menahan tawanya saat melihat wajah Sungmin yang semakin terlihat lucu dengan pipi yang menggembung.
Setelah sampai di kelas 3-3, Donghae melepaskan tautan tangan mereka. Mengacak rambut Sungmin dengan lembut. "Masuklah"
Sungmin mengangguk kecil, setelah itu masuk ke dalam kelas. Ia sempat menoleh ke belakang untuk memastikan bahwa Donghae telah kembali ke kelasnya sendiri.
"Sepertinya kalian semakin dekat"
Sebuah pertanyaan yang terlontar dari bibir Hyukjae langsung menyambut kedatangannya. Pemuda itu menyipitkan matanya saat menatap Sungmin.
"Apa maksudmu?" tanya Sungmin sambil menurunkan tas yang bertengger di bahunya. Kemudian duduk di tempatnya, berusaha bersikap santai seperti biasa.
"Aish, jadi Kau tidak akan menceritakannya padaku?"
Hyukjae melipat kedua tangannya di depan dada. Menatap lurus-lurus sahabatnya yang bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Semakin membuatnya penasaran.
"Tidak ada yang perlu aku ceritakan, Hyuk. Apa Kau pikir kami memiliki hubungan seperti itu?"
Pemuda itu mengangguk-anggukan kepalanya dengan semangat sebagai jawaban atas pertanyaan Sungmin.
"Anio.. bukan seperti itu" sahut Sungmin sambil mengibaskan-ngibaskan tangannya.
"Sungguh kami hanya berteman" tambahnya saat melihat ekspresi tidak percaya yang ditunjukan Hyukjae.
"Dia memperlakukanmu dengan sangat baik, Lee Sungmin. Seakan-akan Kau ini kekasihnya yang harus dijaga"
"Dia memang baik pada semua orang" bantah Sungmin.
Namun bukan Hyukjae namanya kalau menyerah begitu saja. Pemuda itu kembali mengutarakan alasan lain yang bisa memperkuat dugaannya.
"Ah, mata. Caranya menatapmu itu berbeda, Min. Aku bisa melihat itu"
Lagi-lagi Sungmin berusaha mengelak. Meskipun hatinya sempat bertanya-tanya apakah benar yang di katakan Hyukjae barusan. Namun segera ia tepis jauh-jauh. Tidak mungkin Donghae menyukainya. Tidak, tidak, tidak. Sikap yang Donghae tunjukan padanya pasti hanya sebagai ungkapan kepedulian saja. Iya, pasti begitu.
"Aku senang Kau dekat dengannya. Donghae sepertinya namja yang baik"
Sungmin hanya diam, tidak berniat menanggapi perkataan sahabatnya.
"Tapi nasibnya buruk sekali. Bagaimana bisa dia bersahabat dengan namja bodoh seperti Cho Kyuhyun. Mereka terlalu berbeda, seperti malaikat dengan iblis"
Sungmin tersenyum kecil mendengar ucapan Hyukjae yang terlalu terus terang. Sahabatnya itu benar, Donghae memang seperti malaikat yang selalu melindungi dan membantunya saat ia berada dalam situasi yang sulit. Tapi bukan berarti ia juga setuju menyamakan Kyuhyun dengan iblis. Seburuk apapun sifat dan sikap pemuda itu, tetap saja Sungmin pernah menyukainya. Atau mungkin sekarang pun masih menyukainya.
=oOo=
"Aku tidak menyangka Kau sebodoh itu"
Donghae menutup kembali buku yang sedang dibacanya. Kemudian menatap Kyuhyun yang baru saja datang dan duduk di sebelahnya. Pemuda berambut cokelat ikal itu terlihat biasa saja meski telah mengatakan sesuatu yang mungkin menyinggung perasaan sahabatnya.
"Wae? Kau tidak terima dengan ucapanku barusan?"
Siapapun yang melihat ekspresi menyebalkan Kyuhyun saat ini sudah pasti sangat ingin langsung membunuh pemuda itu.
Donghae menghembuskan nafasnya dengan kasar. Memejamkan matanya sebentar, untuk menenangkan diri agar tidak terpancing emosi. Meski sudah terbiasa dengan sikap Kyuhyun yang seperti itu. Namun akhir-akhir ini sahabatnya itu terlihat semakin keterlaluan. Kyuhyun jadi sering menunjukan sikap dingin, wajah angkuh, dan juga nada bicaranya yang sinis setiap kali bicara dengan Donghae. Jika ditanya apakah Donghae merasa lelah dengan semua itu? Tentu saja. Apa Donghae merasa kesal diperlakukan seperti itu? Sudah pasti. Namun apa lagi yang bisa dilakukan oleh seorang Lee Donghae yang tidak tegaan itu selain bersabar. Dan salahkan saja sifatnya yang terlalu baik, hingga mau saja diperlakukan buruk oleh sahabatnya sendiri.
"Aku juga tidak menyangka Kau bisa serius, Kyu"
"Apa maksudmu?"
Donghae mengangkat bahunya.
"Tadinya aku pikir Kau hanya bermain-main dengannya"
Kyuhyun mengikuti arah yang ditunjukan oleh dagu Donghae. Kedua obsidiannya menatap lurus tubuh kecil Ryeowook yang duduk di baris paling depan tengah sibuk dengan bukunya.
"Tapi sepertinya aku salah. Buktinya sudah satu minggu ini hubungan kalian masih bertahan" tambahnya.
Ucapan Donghae sukses membuat hati Kyuhyun merasa tertohok. Memang benar awalnya ia hanya berniat untuk bermain-main dengan Ryeowook. Tapi perkataan kakaknya, Cho Siwon, waktu itu sangat mengganggu pikirannya. Lagipula ia tidak ingin dicap sebagai pemuda brengsek ataupun pengecut karena lari dari tanggung jawab. Jadi hanya ini cara yang terpikir olehnya. Mempertahankan hubungannya dengan Ryeowook, berusaha bersikap layaknya seorang kekasih yang sebenarnya. Meskipun ia tidak mencintai Ryeowook, tapi mungkin semua itu bisa membuktikan rasa tanggung jawab terhadap masalah yang telah ia buat.
"Tentu saja. Itu karena aku menyukainya"
Ini adalah salah satu keahlian Cho Kyuhyun. Menyembunyikan isi hati yang sebenarnya dibalik sikap dingin yang selalu ia tunjukan. Biar saja ia dianggap sebagai orang paling munafik di dunia. Itu bukan masalah baginya, asalkan ia tidak terlihat lemah di mata orang lain.
"Terserah apa katamu"
Bukannya Donghae tidak percaya pada sahabatnya itu. Hanya saja sikap Kyuhyun terlihat janggal di matanya.
"Pintar dan kaya. Bukankah dia itu sangat sempurna? Tidak seperti Lee Sungmin" cibir Kyuhyun penuh penekanan saat menyebut nama Lee Sungmin.
"Tahu apa Kau tentang Sungmin?" ketus Donghae.
"Tentu saja dia hanya namja bodoh yang tidak berguna"
Donghae hanya tersenyum meremehkan saat mendengar kalimat itu keluar dari mulut Kyuhyun.
Sepertinya Kyuhyun sudah menyia-nyiakan kesempatan selama lima tahun untuk mengenal Sungmin lebih dalam. Ada banyak hal dalam diri pemuda manis itu selain otaknya yang bisa dibilang pas-pasan. Misalnya tentang keluarganya yang tinggal di New York, ayahnya yang berkerja di perusahaan animasi, ibunya yang membuka butik, kakak laki-lakinya yang sedang melanjutkan kuliah bisnisnya. Pemuda manis itu juga sangat pintar memasak, Donghae bahkan sangat menyukai pancake labu buatannya. Sungmin pemuda yang periang, mandiri, dan juga pekerja keras. Meski terkadang pemuda manis itu terlalu memaksakan diri dan sedikit ceroboh hingga tidak jarang melukai dirinya sendiri. Sungmin memelihara seekor kelinci putih, dan dua ekor kucing di apartemennya. Ia penggila ice cream. Ia suka memotret, dan sangat menyukai laut. Katanya, ia merasa senang dengan hanya berdiri di tepian dan membiarkan ombak kecil membasahi kakinya. Satu lagi, tubuh Sungmin beraroma vanilla.
Jadi, sebenarnya siapa yang lebih lama mengenal Sungmin? Kyuhyun atau Donghae? Kenapa malah Donghae yang tahu tentang itu semua dibandingkan Kyuhyun. Ternyata lamanya waktu tidak menjamin kita bisa mengenal orang lain dengan baik.
=oOo=
Hyukjae terlihat sibuk melihat ke sekeliling kantin dengan kedua tangan yang memegangi nampan berisi makan siangnya. Kepalanya menoleh kesana-kemari.
"Kau sedang mencari apa, Hyuk?"
Sungmin meletakan makan siangnya di atas meja, kemudian menarik lengan Hyukjae agar duduk di sampingnya.
"Itu.. biasanya dia selalu menempel denganmu. Kenapa sekarang belum kelihatan?"
Baru saja Hyukjae menyelesaikan kalimatnya. Pemuda yang ia maksud sudah muncul di hadapan mereka dengan senyum yang selalu menghiasi wajahnya.
"Oh. Duduklah, Hae"
Tanpa menunggu lama, Donghae langsung meletakan makan siangnya di atas meja kemudian duduk berhadapan dengan Sungmin. Memang semenjak dekat dengan Sungmin, kebiasaan pemuda itu sedikit berubah. Ia yang biasanya malas ke kantin untuk makan siang, dan lebih memilih pergi ke perpustakaan untuk membaca buku. Sekarang malah menjadikan kantin sebagai salah satu tempat favoritnya.
"Benar kan apa yang aku katakan. Dia selalu menempel denganmu" bisik Hyukjae.
Sungmin tidak terlalu menanggapi karena ia sudah merasa sangat lapar. Ingin segera menghabiskan makan siang di depannya. Pemuda manis itu hampir memasukan satu sendok penuh nasi ke dalam mulutnya jika saja sebuah suara tidak menginterupsi kegiatannya. Ia kembali menurunkan sendoknya, lalu menoleh ke sumber suara.
Mata Sungmin melebar, sedikit terkejut melihat siapa yang tengah berdiri di dekat meja mereka. Tidak salah lagi, itu Ryeowook dan.. Kyuhyun.
"Boleh kami bergabung?"
Sungmin merasa tiga pasang mata tengah menatap ke arahnya, tentu tidak termasuk Kyuhyun yang terlihat tidak peduli dengan apa yang kekasihnya lakukan.
Sesaat Sungmin berusaha menemukan kembali suaranya yang sempat hilang. Tenggorokannya tiba-tiba terasa kering.
"Silahkan" Hanya satu kata yang bisa ia ucapkan sebagai jawaban. Ia sedikit khawatir jika suaranya terdengar aneh.
"Gamsahamnida"
Keduanya kemudian menempati kursi yang berhadapan dengan Sungmin dan Hyukjae. Ryeowook memilih duduk di ujung, sedangkan Kyuhyun berada diantara kekasih dan sahabatnya.
"Selamat makan" ucap Ryeowook riang.
Pemuda bertubuh kecil itu terlalu naif atau apa. Hingga ia tidak menyadari kecanggungan tengah menyelimuti mereka yang satu meja dengannya. Dan malah terlihat makan dengan lahap.
Hyukjae tidak ambil pusing dengan kehadiran pasangan kekasih itu, rasa lapar mengalahkan segalanya. Donghae pun melakukan hal yang sama, sesekali melirik Sungmin yang terlihat tidak nyaman.
Sedangkan Kyuhyun hanya diam menatap makan siangnya. Tanpa berniat memakannya. Ia sedikit tersentak saat Sungmin menarik nampannya tanpa izin. Pemuda manis itu mengambil semua sayur yang ada di nampan Kyuhyun dan menukarnya dengan potongan-potongan daging panggang yang ada di nampannya sendiri.
"Makanlah. Kau tidak perlu menahan lapar hanya karena tidak suka melihat sayur" ucapnya sembari mengembalikan nampan milik Kyuhyun yang sekarang hanya berisi nasi dan daging panggang.
Pemuda itu hanya mengangguk canggung. Antara bingung dan ingin berterima kasih karena sekarang ia bisa makan tanpa bayang-bayang sesuatu berwarna hijau yang merusak nafsu makannya.
Sadar atau tidak, tiga pemuda yang menyaksikan kejadian itu kini tengah menatap bingung pada Sungmin dan Kyuhyun yang tengah menikmati makan siangnya. Tenggelam dalam pikiran masing-masing.
"Jadi Kau tidak suka sayur?" tanya Ryeowook memecah keheningan.
Kyuhyun menatap pemuda yang kini berstatus sebagai kekasihnya tanpa ekspresi. Ia bingung harus berkata apa, hingga akhirnya hanya anggukan kecil yang bisa ia berikan sebagai jawaban. Obsidiannya beralih pada pemuda manis yang duduk berhadapan dengan Donghae. Kyuhyun merasa tubuh pemuda manis itu menegang, tangannya menggenggam sendok dengan kuat seakan takut benda itu jatuh.
Lee Sungmin, bagaimana bisa Kau tahu aku tidak suka sayur?
Satu pertanyaan itu terus berputar di otak Kyuhyun. Ia bukanlah tipe orang yang suka membagi kisah hidupnya pada orang lain, kecuali pada keluarganya. Jadi bagaimana bisa pemuda seperti Lee Sungmin tahu apa yang ia suka dan tidak suka.
"Gomapta"
Sungmin terkesiap, dan langsung menegakan tubuhnya. Matanya menatap lurus pada Kyuhyun yang saat itu juga tengah menatapnya. Apa pendengarannya tidak salah? Benarkah Kyuhyun yang baru saja mengucapkan kata itu? Hatinya menjadi hangat saat mendengarnya.
"Aku tidak menyangka Kau bisa mengucapkan kata seperti itu" celetuk Donghae.
Jangankan mereka yang mendengarnya, Kyuhyun sendiri pun masih belum percaya bahwa dirinya mengatakan hal itu. Mungkin ada yang salah dengan otaknya saat ini, hingga bisa mengucapkan kata terima kasih. Terlebih lagi ia mengucapkannya pada Sungmin, pemuda yang seharusnya paling ia hindari.
=oOo=
To Be Continued
Thanks to readers and all guest ^^
Special thanks to :
bebek, sha. nakanishi, JoyELF, Fishy kece, sitapumpkinelf, Shywona489, Zen Liu, yutaelfmyworld, Rilianda Abelira, Glows Kyumin Angel, Cho Na Na, melsparkyu, abilhikmah, PandaPandaTaoris, kyuminsaranghae, EvilRoommate137, fitriKyuMin, winecouple, Kyumin joyer, sissy, jouley. peetz, UnyKMHH, Zahra Amelia.
Q-Side :
-Kenapa Ryeowook ngga sama Yesung aja?-
Kan mereka belum saling kenal ^^
-Ini slight-nya HaeMin dan YeWook bukan?-
Ne, chingu. Slight-nya HaeMin, kalo YeWook.. Nam pikirin lagi ya kkk~ ^^
-Apa nanti Ming akan ke New York?-
Bisa jadi.. bisa jadi.. tergantung gimana sikap Kyu ^^
-Ming beneran ngelepas Kyu?-
Ming bilang sih gitu, karna lebih milih sama Nam kkk~ /dicincang Kyu/
-Hae kenal Hyuk ngga?-
Kenal tapi belum terlalu deket ^^
-Apa nanti ada YeWook?-
Bisa jadi.. ^^
Review-nya udah Nam baca semua, gamsahamnida readerdeul.. chingudeul.. ^^ buat yang minta EunHae atau YeWook nanti Nam pikirin lagi ya ^^
Don't forget to give your review. Gamsahamnida /bow/
