Moshi-moshi, minna!
O genki desu ka?
Langsung aja, yah.. enjoy!
Chapter 3 : What's Wrong With Him..?
I realize the screaming pain..
Hearing loud in my brain..
Naruto langsung mengangkat ponsel C6-nya dan mendapati Kiba sedang menyapanya di seberang.
"Halo, Naruto! Ada dimana kau?"
"Oh, Kiba! Aku ada dirumah," Naruto sambil berjalan menuju jendela yang terbuka, "Kenapa?"
"Mau ikut jengukin Shikamaru, nggak?"
Oh, iya.. Shikamaru, 'kan lagi sakit..? Naruto berpikir sejenak, "Berdua doang, yah?"
"Nggak, ada Shino, Sai, Chouji, dan yang lain juga pada ikut."
"Mm.. si Teme ikut?" tanya Naruto dengan sedikit gugup.
"Teme? Maksudmu.. Sasuke?" ucap Kiba bingung
"Tentu saja, siapa lagi?"
"Oh, kalau dia pastinya ikut, lah, dia 'kan pengurus kelas kita." ucap Kiba di seberang sana santai, "Kenapa mangnya?"
"Nggak, nggak papa, kirain nggak ikut si teme itu.. Yaudah, aku ikut, yah!"
"Oke, temen-temen udah pada ngumpul, nih, di depan sekolah! Cepetan, loh!"
"Yosh, Oke..!" Naruto mematikan ponselnya dan mengganti pakaiannya dengan terburu-buru lalu beranjak keluar rumah.
Di jalan dia berpapasan dengan Sakura yang sudah terlihat rapi juga dan dia tampak sedang menunggu seseorang.
"Sakura!"
Sakura menoleh dan tersenyum mendapati Naruto ada di depan pintu gerbang rumahnya, "Naruto? Mau kemana? Kok, rapi amat?"
"Oh, ini.. mau jengukin si Shikamaru, nih, bareng ma temen-temen yang laen, mau ikut, nggak?"
"Sebenernya pengen, sih, cuman, aku udah ada janji ma Ino juga mau jengukin Hinata,"
"Oh, begitu, ya." Jawab Naruto manggut-manggut. Lalu, dia melirik jam tangannya dan menepok jidatnya, "Haduh! Kurang 5 menit lagi! Yaudah, Sakura aku pergi duluan, yah!" katanya sambil berlari.
"Salam ke Shikamaru, yah! Semoga cepat sembuh!"
"Osh, salamin juga ke Hinata, yah!"
"Pastinya!"
Setelah itu Sakura tidak melihat penampakan Naruto lagi (heh?) maksudnya tidak keliatan Naruto lagi karena dia sudah sampai duluan ke jalanan untuk mencegat taksi dengan perasaan bingung karena takut ditinggal.
"Lhaa, ini dia si Naruto baru dateng," begitulah reaksi para cowok yang pada ikut buat jenguk Shikamaru setelah melihat Naruto sudah menclok keluar dari taksi yang mengantarnya sampai ke gerbang sekolah dengan nafas yang tidak teratur alias ngos-ngosan.
"Oke.. Udah siap berangkat, nih? Semuanya?" Shino dengan kacamata dinginnya menatap mereka satu persatu.
Chouji yang diem karena mulutnya sedang berkremes-kremes ria pun ikutan nyeletuk, "Naek apaan? Naek kaki? Rumah Shikamaru, 'kan jauh banget dari sini! Cemilanku tinggal sedikit, nih!"
"Ah, kau ini Chouji, makanan mulu yang dikhawatirin, bukannya temen ndiri." Kiba mencibir sambil sedikit mengelus Akamaru di balik jaketnya yang udah ngiler ngeliatin si Chouji makan kripik kentang porsi jumbo mulu (emang ada?).
"Transportasi biar aku yang ngurus, deh." Sai menanggapi sok santai.
"Pake apaan, Sai?" semuanya menyahut serentak.
Sai dengan senyum palsunya berteriak lantang, "Pake pikep!"
Si teman-teman yang lain udah pada switdrop semua sebelum akhirnya ngomong, "Yaah, kok, pikep seh? Kayak nggak ada kendaraan lain ajah!"
"Trus, pake apaan?" Sai jadi ikutan kesel juga akhirnya. "Masih mending, toh, ada kendaraannya? Daripada jalan kaki yang jauhnya 10 kilo dari sini?" Sai melirik Chouji, "Kasihan, tuh, si Chouji ntar!" yang dilirik pun melirik Sai kembali dengan tatapan kesal dan siap memakan Sai hidup-hidup.
"Hhh.. kalian, nih, kok pada ribut kendaraan, sih! Pada jadi, nggak ke rumahnya Shikamaru?" Sasuke mulai ngomong juga akhirnya sejak dari tadi diem doang mendengarkan celoteh temen-temennya soal kendaraan.
"Kita mao naek apaan kalo nggak ada kendaraannya, Sasuke?" Kiba yang kali ini ngajak berdebat.
"Yaudah! Kalian pada mesen taksi aja, gih! Entar aku bayarin!"
Sontak keempat temannya saling berpandangan penuh dengan kebingungan. Naruto mulai angkat bicara, "Busyet! Baru gajian, nih, Teme?"
Yang lain mengangguk antusias.
Sasuke yang menatap tampang-tampang penuh tanda tanya itu tak ambil peduli dan menjawab dengan cueknya "Pada mau dibayarin, kagak?"
"Iya.. iyah.. cman nanya doang, kok, galak banget, sih!" Kiba menambahi.
"Bodo!"
Shino hanya manggut-manggut, tumben si Sasuke mau bayarin?
Chouji dan Sai tak ambil pusing buat berdebat dengan Sasuke dan langsung meluncur untuk mencarikan taksi buat mereka berempat. Setelah dapat dua taksi dan masing-masing ditumpangi tiga orang, empat sama pak sopirnya. Chouji, Shino, dan Kiba ada di taksi yang sama. Begitu pula Sai, Naruto, dan Sasuke.
Di taksi yang ditumpangi Chouji dkk, Chouji duduk di depan barengan ma pak sopir sementara Shino dan Kiba ada di belakang.
"Biasanya, aku tuh, yang duduk di depan daripada si Chouji yang badannya gede ntu .." Kiba cemberut melirik Chouji yang asik memasukkan tangannya ke bungkus kripik kentang. Padahal udah nggak ada isinya.
"Kenapa..?" tanya Shino serius tapi, pandangan tetap lurus ke depan.
Baru Kiba mangap and mau jelasin, si Shino udah jawab sendiri pertanyaannya, "Karena kalau Chouji duduk di depan, kasihan juga pak sopirnya keberatan tancap gas.."
"Hahah! Bener banget, tuh, Shino!" Kiba ketawa menanggapi lelucon itu. Sedangkan si Chouji hanya duduk diem ngelirik dengan pipi menggembung alias kesal, tingkah kedua temennya itu.
Sementara di taksi kedua..
"Heeft.. ujung-ujungnya pasti sama kamu!"
"Siapa juga, yang mau sama kamu, dobe!"
Mereka berdua—Naruto dan Sasuke pandang-pandangan tak jelas di belakang, sedang, Sai duduk di depan—geleng-geleng kepala ngeliat tingkah laku kedua manusia ini lewat kaca.
"Heehh.. untung aja ada aku, kalau nggak ada, mah, bakalan ada perang dunia ketiga di taksi ni, ya, nggak, Pak?" Sai mengerlingkan dahinya ke arah Pak Sopir yang sedang serius.
"Yaa, begitulah, dek.. haha.." jawab Pak Sopir singkat sambil mesam-mesem.
Naruto dan Sasuke tak menggubris apa yang diomongin Sai dan berkutat dengan pikiran masing-masing. Naruto melihat bayangan Sasuke samar-samar di kaca mobil. Ada apa denganku? Dimana aku berada, selalu dihantui sama bayangan si Teme baka itu. Apa, sih, hubunganku dengan dia? Naruto mendengus pelan sambil mengalihkan pandangan ke jalan.
Kali ini Sasuke melirik bayangan Naruto di kaca mobil sebelahnya. Huuft.. orang kayak gini, kok, bisa-bisanya jadi sodara angkat aku? Setiap aku ketemu dia selalu aja bikin sebel. Sasuke menghela napas pelan. Lagian, dia sendiri toh belum tahu apa-apa mengenai keluarganya sendiri yang telah menitipkannya pada keluargaku atau bisa dibilang sodara angkat aku, ya sudah.. biarkan sajalah. Setelah cukup lama dia memandang bayangan Naruto di kaca, dia juga kembali menatap jalan dan teringat sesuatu.
"Sai, kita kerumah Shikamaru nggak bawa apa-apa?
"Oh, kalau soal itu udah beres, aku sama Kiba tadi yang udah belanja sebelum kau dateng." Jawab Sai seadanya. Sasuke manggut-manggut.
Mereka diem lagi cukup lama di taksi yang melaju ke kompleks perumahan Nara yang kira-kira kurang 5 kilo lagi. (btw, apa mungkin sejauh itu? Kalo bener, si Shikamaru naek apaan, yah, kalo mau ke KHS? Naek pesawat jet?).
Sesampainya di rumah Shikamaru, yang laen udah pada nungguin Sasuke, Sai, dan Naruto yang masih dalam perjalanan. Setelah sekitar 15 menit menunggu, akhirnya Sai cs muncul dan menghampiri Kiba cs. Sai melangkah duluan diikuti Naruto, Sasuke masih sibuk berkutat dengan dompetnya dan memberikan beberapa lembar uang pada kedua taksi itu.
"Cih, uang bulanan aku tinggal dikit lagi.." gumam Sasuke sambil sedikit mengecek jumlah uang di dompetnya. Naruto melirik Sasuke tersenyum geli.
"Kamu kayak yang nggak ikhlas ngebayarin temen-temen semua, Teme?"
Sasuke tersentak dan menatap tajam mata biru itu namun belum sampai 5 detik, dia mengalihkan pandangannya, "Biarin, toh, aku masih bisa minta lagi ke mama."
"Anak kesayangan, nih! Kau 'kan punya mobil, kenapa nggak dipake? Biar ngirit gitu."
Sasuke hanya diam sebelum menjawab, "Aku masih nggak boleh bawa, masih kecil kata Papa, kalau boleh, mah, udah dari dulu aku bawa ke KHS, ngapain repot minta antar jemput sama Aniki."
Naruto meng-ohh lalu terdiam.
Kiba cs pun membunyikan bel dan tampak pembantu Shikamaru yang membukanya.
"Sas, kami masuk duluan, yah!" Kiba setengah berteriak pada Sasuke yang kemudian mengangguk kecil.
"Hn."
Mereka berempat masuk terkecuali Naruto dan Sasuke yang masih ada dibelakang mereka.
Rumah Shikamaru terlihat besar dari luar. Naruto pernah ke sini sekali saat kelas 1, hanya saja sebelumnya dia tak pernah melihat di pekarangan rumahnya disebelah pojok kanan ada tempat yang kayaknya, sih, kandang.. di dalam kandang itu tampak beberapa hewan yang seperti kancil hanya saja memiliki tanduk yang bercabang.. Rusa! Jadi, Shikamaru dan keluarganya memelihara Rusa?
"Itch!"
Tanpa sadar Naruto yang memperhatikan kandang itu sebegitu detailnya sampai tersandung tangga kecil di teras depan rumah Shikamaru dan jatoh nyusruk di situ. Sasuke dengan refleks mungkin berbalik dan langsung menghampiri Naruto. Dia mengulurkan tangannya. Naruto heran, hanya saja dia diam saja dan menyambut uluran tangan Sasuke dan bergumam, "Hmm.. thanks."
Sasuke mengangguk kecil, "Hati-hati makanya, baru ke rumah Shikamaru, yah?" katanya melirik Naruto yang cemberut.
"Nggak, sebelumnya nggak ada tangga kayak ginian." Jawabnya manyun
"Makanya jalan pake mata, jangan pake dengkul!" kata Sasuke lagi sambil menyikut lengan Naruto. Naruto hanya garuk kepala bingung dengan sikap aneh Sasuke. Tumben ni orang care? Jangan-jangan.. Naruto bergidik. Nggak normal lagi?
"Hoi, temen-temen lain dah pada masuk, nggak mau masuk kamu?" Sasuke melambaikan tangan di depan muka Naruto yang lagi bengong gaje ngeliatin Sasuke, "Lagian, ngapain liatin aku segitunya?"
"Hah? Sapa pula yang ngeliatin kamu, pede amat!" Naruto memalingkan mukanya dari Sasuke sambil cemberut.
Sasuke tersenyum pahit, "Heh.."
Mereka berdua terdiam lagi, dan masuk beriringan setelah pembantunya mempersilahkan mereka berdua masuk. Mereka berdua langsung menuju lantai atas, dan mendapati Shikamaru yang udah dikerubungi dengan empat orang temannya.
"Hai! Shikamaru! Gimana keadaanmu?" Naruto menyapa lebih dulu dan langsung duduk di sebelah ranjang Shikamaru. Sasuke mengikuti.
"Naruto, Sasuke..?" Shikamaru melambaikan tangannya pada mereka berdua "Alhamdullillah, sudah mendingan.. makasih, ya.."
"Berarti besok kamu masuk?" Sasuke yang bicara sekarang.
"Yaah.. Mungkin.. tapi, liat dulu kondisiku memungkinkan untuk masuk atau nggak.."
"Oh, yaudah kalau begitu! Kelas sepii banget kalau nggak ada kamu, De!" Naruto nyengir diikuti Kiba dan Chouji. Shikamaru hanya tersenyum simpul.
"Kalian ada-ada saja, meskipun ada aku, tetep sepi, tuh!"
"Nggak ada yang dijailin, hehe.. Shikamaru 'kan kerjaannya molor mulu di kelas!" tukas Kiba.
"Enak aja!" Shikamaru menggeleng pelan, "Merepotkan.."
Mereka semua tertawa-tawa lagi dan masing-masing dari mereka menceritakan kejadian-kejadian kocak di kelas selama Shikamaru nggak masuk termasuk menceritakan kejadian saat Naruto yang menggantikan Shikamaru ke ruang TU bersama Sasuke.
Waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore itu artinya mereka sudah menjenguk Shikamaru sekian lamanya alias hampir dua jam, mereka pamitan pada Shikamaru untuk pulang.
"Pulang dulu, ya, Shikamaru!"
"Yo, thank's, yah, semua!"
"Yap! Besok masuk, lho, ya!"
"Besok, 'kan, Minggu, Baka! Dasar, Usuratonkachi!"
"Eh, iya, Teme.. kelupaan!" Naruto menjawab sambil nyengir.
Shikamaru hanya menggeleng pelan dan tersenyum geli memperhatikan tingkah teman-temannya yang mulai keluar dari kamarnya satu per satu. Namun, ada satu hal yang mengganjal di hatinya yang membuat dirinya bingung. Yaitu, tingkah Sasuke tadi yang ikut berceloteh ria dengan yang lain. Sambil berpikir Shikamaru menggumam, "Aneh.."
~ To Be Continued.. ~
Gimana, nih, author sekalian?
Masih perlu dilanjutin nggak, yah?
Takutnya kalau dilanjutin ntar malah ngebosenin ..
Sekali lagi, Reviuw-nya pLeasee..! XD
