FIGHT!

Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi

Sci-fi & Fantasy

Chara X Female!Reader

FIGHT!

.

.

.

.

.

X8 Biohazard : Reptile

.

.

.

"X7 bekerja dengan baik pada proyek N301. Kau harus membuat Biohazard yang sama, namun usahakan yang lebih hebat lagi."

"Tapi, Tuan Haizaki, saya telah kehilangan formulanya. Saya tidak bisa membuat X7 lagi tanpa formula yang berisi tentang komposisi dan hal-hal penting tentang X7."

"Aku tidak peduli, Profesor Ogiwara Shigehiro. Kau harus membuat X7 yang lebih mutakhir lagi. Kau harus membuatnya atau kau akan mengalami nasib buruk seperti para ilmuwan yang gagal dalam pembuatan Biohazard!"

Haizaki dan para pengawalnya keluar dari laboratorium meninggalkan sosok Ogiwara di dalam sana bersama beberapa alat khusus kimia, hasil-hasil Biohazard gagal yang masih ia simpan dalam tabung khusus, dan komputer-komputer yang masih menyala memperlihatkan struktur dan rumus pembuatan Biohazard yang baru.

Sebenarnya ia benci bekerja pada Organisasi Blackbio, ia ingin sekali berhenti bekerja di sana, namun ia sangat dibutuhkan. Jika ia masih bersikeras untuk keluar dari Blackbio, maka dia akan dibunuh agar rahasia tentang tujuan busuk Blackbio tidak terbongkar. Ogiwara masih ingin hidup dan ia akan berusaha untuk tetap hidup demi suatu tujuan, untuk bertemu sahabat lamanya, Kuroko Tetsuya.

"Kuroko Tetsuya..." Ogiwara memijat pelipisnya yang terasa pusing. "Andai kau tahu di mana aku berada saat ini, kau pasti akan menolongku."

Pintu laboratorium secara otomatis terbuka kembali. Ogiwara melihat seorang pemuda berkacamata dengan memakai jas yang biasa digunakan khusus di laboratorium sambil membawa botol kaca yang berisi cairan kental berwarna hijau.

"Profesor Imayoshi?"

Imayoshi menghampiri Ogiwara yang tengah berdiri di hadapan salah satu komputer, memperhatikan struktur-struktur calon Biohazard baru dari layar monitornya.

"Tuan Haizaki memaksamu untuk membuat lebih banyak lagi X7, bukan?" tanyanya kepada Ogiwara.

Ogiwara mengangguk pelan lalu menjawab, "Iya, dia memintaku untuk membuatnya lagi bahkan ia ingin X7 yang lebih hebat. Tapi, formula X7 telah hilang dan aku tidak bisa membuat X7 lagi tanpa formula itu."

"Kalau begitu, kau gunakan ini sebagai bahan utamanya."

Imayoshi menyerahkan botol kaca yang ia bawa tadi. Ogiwara memperhatikan cairan hijau yang berada dalam botol tersebut dengan tatapan heran. Dia tidak tahu kandungan apa yang berada di dalam cairan kental itu.

"Kau tidak perlu tahu apa yang terkandung dalam cairan tersebut. Jika kau tidak bisa membuat lagi X7, maka kau hanya perlu menciptakan yang baru. Aku yakin, dengan cairan ini Biohazard baru yang kau ciptakan pasti lebih hebat."

"Tapi..."

"Sebaiknya kau segera membuatnya atau Tuan Haizaki akan membunuhmu jika kau tidak membuatnya. Dan jangan sampai gagal."

Hanya hal itu yang disampaikan Imayoshi kepada Ogiwara kemudian pemuda berkacamata itu keluar dari laboratorium.

Ogiwara masih merasa kurang yakin dengan cairan hijau itu dijadikan sebagai bahan utama pembuatan Biohazard. Ia sempat berusaha mencium bau cairan tersebut, namun tidak tercium bau apa-apa.

"Jika aku memeriksa komposisi dari cairan ini tidak akan sempat. Pasti Tuan Haizaki benar-benar akan membunuhku. Kalau begitu, biar aku campurkan dulu dengan komposisi dari X7 yang aku ingat."

Di luar laboratorium, Imayoshi masih tetap berdiri di sana sambil tersenyum. Tangan kanannya merogoh sesuatu dari saku celananya. Kertas yang bergambar logo Biohazard (cari saja logo Biohazard di internet, susah menjelaskannya secara detail) dan logo kepala tengkorak. Kertas itu telah ia lepaskan dari botol tadi.

"Kau ciptakan saja Biohazard yang baru. Aku yakin, Biohazard kali ini pasti akan lebih hebat."

.

***FIGHT!***

.

Kau tersadar dari pingsanmu selama beberapa menit di dalam ruang perawatan khusus. Kini kau masih terbaring di atas ranjang pasien sambil memperhatikan lengan kirimu yang kembali seperti semula. Iya, lenganmu kembali seperti semula dan kau tidak tahu mengapa itu terjadi.

"Lenganku... kembali...?" ucapmu sambil meraba-raba lengan mulusmu hingga posisimu menjadi duduk di tepi ranjang.

"Lenganmu kembali seperti semula di saat kau pingsan."

Kau melihat seorang gadis bersurai pendek tengah berdiri di sampingmu sambil tersenyum. Kau pun membalas senyumannya dengan ikut tersenyum juga.

"Hai, Riko," sapamu singkat. "Apa yang terjadi sebenarnya padamu?"

"Mereka bilang bahwa Kuroko menyuntikkanmu obat bius ketika hendak membawamu ke sini lalu kau di rawat di ruang perawatan khusus yang ada di gedung Organisasi Teiko ini. Para ilmuwan juga sempat mengambil sampel darahmu untuk diteliti."

"Jadi, aku sudah berada di gedung Teiko?" Kemudian kau menghela nafas lega. "Syukurlah..."

Saat itu, Riko sempat menerima telepon dari seseorang. Kemudian ia terlihat buru-buru keluar dari ruangan.

"(Name)-chan, maaf jika aku harus meninggalkanmu sekarang. Ada urusan keluarga!" teriak Riko kemudian benar-benar pergi meninggalkannya.

Baru saja kau ditinggalkan Riko, beberapa orang sudah datang memasuki ruanganmu.

"(Name)-chan!" Momoi langsung memelukmu seerat mungkin hingga kau hampir tidak bisa bernafas. Kau memberi isyarat agar Momoi melepaskan pelukannya, kemudian Momoi melepas pelukannya sambil bilang, "Maaf. Bagaimana keadaanmu? Apakah kau merasa lebih baik?"

"Kurasa aku merasa jauh lebih baik dari sebelumnya," jawabmu sambil tersenyum kepadanya.

Kedatangan Momoi juga disusul oleh keenam pemuda yang tidak asing lagi bagimu. Keenam pemuda pelangi yang selalu membuatmu tertawa kecil ketika melihat perpaduan warna rambut mereka.

"(Name)cchi!"

Kise melesat ke arahmu hendak memelukmu, namun sebelum ia sampai meraihmu kau langsung meninju wajahnya hingga ia tersungkur ke lantai.

"Maaf, Kise. Aku bukan tipe gadis yang mau dipeluk laki-laki," jawabmu sambil mengibas-ngibaskan tanganmu yang baru saja kau pakai untuk meninju sang model.

"Hidoi, ssu...," ucap Kise sambil menangis bombai (kebiasaan).

Kau memang tipe gadis yang cukup pemalu dan takut jika harus berpelukan dengan pemuda lain. Kau terima saja dipeluk oleh Momoi, tapi kau benar-benar merasa gugup jika dipeluk pemuda lain.

"Hei, lenganmu kembali seperti semula," kata Aomine ketika menyadari perubahan lengan kirimu yang kembali normal.

"Eee..., iya, Riko bilang kalau lenganku kembali seperti semula dengan sendirinya."

"Kita lupa menanyakan tentang hal ini kepada Himuro dan Kagami, nanodayo," kata Midorima sambil mengusap rambut hijaunya ke belakang.

"Kau tidak perlu memikirkan soal perubahan lenganmu itu dulu, (Name). Yang penting kau sudah kembali sehat," kata Akashi kepadamu.

Kau hanya tersenyum ketika melihat rekan-rekan agenmu. Mereka adalah teman-teman yang baik bagimu dan kau merasa bersalah karena telah banyak merepotkan mereka.

"Ma-maafkan aku," katamu sambil menundukkan kepalamu, "Aku baru saja bekerja sebagai agen selama seminggu, tapi aku sudah merepotkan kalian semua. Aku ini memang~"

"Jangan bilang kalau kau tidak berguna."

Kau hanya bisa menghela nafas setelah mendengar ucapan Akashi.

"Akashi-kun benar," kata Kuroko, "Kau adalah agen terbaik yang pernah kami temui. Kesalahan memang sering terjadi pada setiap agen. Jadi, jangan anggap dirimu tidak berguna."

"Iya, (Name)-chan! Selama kau bekerja di sini kau selalu melakukan yang terbaik dalam menyelesaikan misi," puji Momoi dengan cerianya.

"Omong-omong, aku mulai lapar. Bagaimana kalau kita ke kantin dulu?" usul Murasakibara sambil mengelus perutnya yang sudah berbunyi minta diisi.

"Eh? Benar juga, ya... Kita belum makan siang dari tadi, ssu."

"Kalau begitu, kita makan siang dulu di kantin," usul Akashi yang langsung disetujui oleh kalian semua.

Dalam perjalanan menuju kantin, kau selalu memperhatikan Kuroko. Kau merasa bahwa kau teringat dengan seseorang ketika melihat sosok pemuda imut itu. Sangat familiar.

Menyadari hal itu, Kuroko menoleh ke arahmu yang berjalan di sampingnya, lalu bertanya, "Ada apa, (Name)-san?"

Kau pun tersenyum lalu menjawab, "Kau mengingatkanku kepada seseorang."

Sebenarnya Kuroko agak terkejut mendengar jawabanmu itu, namun kau tidak mengetahui keterkejutannya karena ekspresi datarnya. Rasanya dia ingin menanyakan siapa orang yang membuatmu merasa bahwa Kuroko telah mengingatkanmu kepada seseorang, tapi niatnya itu ia urungkan.

.

***FIGHT!***

.

"(NAME)!"

Tubuh pemuda yang masih duduk di kursi besi tersebut saat ini tengah dipegangi oleh beberapa petugas Blackbio. Banyak orang di dalam ruangan itu memperhatikan dirinya yang saat ini tengah diperlakukan kasar oleh mereka. Para ilmuwan telah memasangkan beberapa mesin-mesin ke dalam tubuh manusianya di saat ia tidak sadarkan diri. Dan ketika ia sadar, dia langsung meneriakkan namamu sambil berusaha lepas dari pegangan para petugas. Tubuhnya pun masih terhubung dengan kabel-kabel di sekitarnya.

Haizaki berjalan menghampiri pemuda tersebut lalu agak sedikit membungkukkan badannya sambil memperhatikan sorot mata hitam itu.

"Mayuzumi Chihiro atau yang sekarang disebut dengan proyek N301, kau selalu menyebut nama gadis itu terus-menerus. Memangnya siapa dia di matamu, hah?" tanya Haizaki sambil menatap tajam pemuda setengah robot itu.

Dengan beraninya Mayuzumi meludahkan darah yang hendak ia muntahkan dari mulutnya ke wajah Haizaki. "Untuk apa kau menanyakan tentang dirinya? Kau bukan siapa-siapaku," ucap Mayuzumi dengan wajah datarnya disertai mulutnya yang telah terkotori oleh darah segar.

Haizaki menyeka darah yang mengenai wajahnya menggunakan lengan jasnya. Emosinya mulai memuncak. "Berani-beraninya kau meludahkan darah kotormu itu ke wajahku! Terserah aku mau tahu siapa orang yang selalu kau ingat itu. Itu adalah hakku! Kau sendiri hanyalah mesin pembunuh yang diciptakan oleh para bawahanku!" Haizaki pun menjambak rambut perak Mayuzumi dengan begitu keras hingga ia meringis kesakitan. "Kau benar-benar makhluk rendahan!"

"Brengsek kau- ARGH!"

Ketika Haizaki melepas jambakannya dari rambut Mayuzumi, kabel-kabel yang terhubung dengan tubuh Mayuzumi menciptakan aliran listrik kuat membuat tubuh Mayuzumi tersengat hingga ia tak sadarkan diri.

"Kau yang brengsek, Chihiro," gumam Haizaki sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam kedua saku celananya.

Di saat itu, seorang pemuda memasuki ruangan tersebut sambil membawa botol kaca yang berisi cairan hijau kebiruan. Kehadirannya membuat Haizaki dan orang-orang di sekitarnya mengalihkan pandangan mereka padanya.

"Profesor Ogiwara?" panggil Haizaki dengan sebelah alis ia naikkan.

"Tuan Haizaki, saya sudah membuatkan Biohazard baru." Kemudian Ogiwara menghampiri Haizaki lalu menyerahkan botol tersebut kepadanya. "Saya memang tidak bisa membuat X7 lagi setelah kehilangan formulanya, tapi saya membuatkan Biohazard baru yang lebih muktahir, seperti yang kau inginkan."

Haizaki menyeringai sambil memperhatikan cairan pada botol tersebut. "Apa nama Biohazard ini?" tanyanya kepada Ogiwara.

"Penerus dari X7, X8."

Haizaki sempat melempar ke atas botol tersebut kemudian menangkapnya kembali. Kini ia merasa puas setelah apa yang diinginkan telah tercapai, namun tidak sepenuhnya. Dia perlu menguji coba kerja X8 sebelum benar-benar dapat digunakan.

"Kalau begitu, kita akan mengujinya terlebih dahulu." Kemudian Haizaki memerintahkan para agennya untuk mencari seseorang yang akan menjadi orang pertama yang memakai X8.

Skip Time...

Setelah menemukan orang yang tepat, yaitu petugas yang ada di sana, mereka membawa petugas pria itu ke dalam laboratorium, mendudukkannya pada kursi besi, lalu mengikat bagian tangan serta kakinya menggunakan besi mekanik yang ada pada kursi.

"Baiklah, lakukan percobaannya sekarang juga!" perintah Haizaki kepada para ilmuwan.

Salah satu ilmuwan memasukkan cairan X8 ke dalam suntikan kemudian menyuntikkannya lewat lengan kiri pemuda itu. Cairan X8 keluar dari jarum suntik yang ditancapkan kemudian masuk dan mengalir ke dalam tubuh sang pemuda. Dengan cepat X8 bereaksi, mengubah beberapa sel termasuk DNA dan RNA, serta mengubah sistem saraf yang ada pada otak.

Semua orang di sana begitu terkejut dengan apa yang terjadi pada pemuda tersebut. Kulitnya berubah menjadi kehijauan dengan urat-urat menonjol disertai sisik-sisik tajam, kuku-kukunya menghitam, gigi-giginya memanjang menjadi taring tajam, kedua matanya memutih, tumbuh ekor, lidahnya berubah warna menjadi ungu memanjang, serta mulutnya memanjang juga beberapa senti dan memuntahkan semacam cairan hijau yang terlihat begitu kotor dan menjijikkan.

"Apa yang terjadi pada orang itu?"

"Dia terlihat seperti makhluk semacam... Reptile."

"Dia akan membunuh kita!"

Mereka semua mulai panik setelah melihat perubahan yang begitu cepat pada pemuda itu, dia berubah menjadi monster mengerikan, Reptile. Pemuda itu langsung melepaskan dirinya dari ikatan besi mekanik kemudian menyerang orang yang di sana. Dengan hanya menggunakan cakarannya saja telah membuat dua orang bernasib sama seperti dirinya, berubah menjadi monster.

Ogiwara yang melihat kejadian tersebut terlihat begitu syok dengan mata membulat sempurna dan tubuhnya yang mulai bergetar disertai keringat dingin membasahi tubuhnya.

"A-aku... aku telah menciptakan... monster... Reptile."

.

***FIGHT***

.

Hai,semua! Maaf jika sosok (Name) jarang hadir. Soalnya aku mau fokus bikin asal-usul konflik yang terjadi pada alur cerita sebelum memasuki bagian menegangkannya. Jadi, bersabarlah.

Untuk chapter berikutnya mungkin (Name) juga bakal jarang muncul. Tapi, akan kuusahakan agar chapter-chapter yang akan datang akan lebih fokus pada (Name).

Kelihatannya, sih, Mayuzumi rada-rada OOC, deh. *Sujud ampun pada Readers. Entah kesambet apa, aku merasa si Mayuzumi lebih cocok berperan sebagai robot setengah monster atau apalah itu. Awalnya juga aku pengen bikin zombie, tapi kayaknya zombie terlalu sering digunakan untuk alur cerita seperti ini, vampir lebih sering dipakai di Fantasy. Werewolf? Mungkin kurang menjijikkan. Jadi pakai Reptile aja. Sama seperti zombie, Reptile di sini dapat menularkan 'penyakitnya' lewat gigitan dan cakaran, bedanya di sini Reptile dapat memuntahkan cairan asam tinggi dan sisiknya pun beracun.

Arigatou buat kalian para Readers dan Silent Readers yang udah mau merelakan waktu beberapa menit kalian cuma buat baca fanfic lebay ini *Terharu sambil nangis dipojokan. Arigatou juga buat Niechan Seicchi, eleven, dan Mutsuki Yoyuki (Jangan panggil aku bebek bohay lagi entar aku ngambek, lohh...)

Mau tahu fanfic-nya lebih lanjut? Baca Chapie selanjutnya! RnR!