Setelah menelusuri terowongan itu, kami berhasil keluar melalui lemari buku.
"Dimana kita?" tanya Private. Tidak ada yang menjawab. Ruangan itu mirip sekali dengan ruangan direktur kantor, dengan meja kerja, komputer, lemari buku, berkas-berkas yang ditumpuk di meja, dan papan nama bertuliskan Mr. Christopher Jacob.
"Kurasa ini ruang kerja Mr. Christopher Jacob. Ada yang tahu siapa dia?" tanyaku. Semuanya menggeleng, bahkan Kowalski sekalipun.
"Hey, Kowalski! What are you doin'?" tanyaku lagi saat melihat pria berdarah Rusia itu asyik membaca berkas-berkas yang tergeletak disana.
"Lihat ini, Skipper. Semua surat perusahaan ini bertuliskan PT. Mary Ywanee Indonesia. Apakah perusahaan ini ada hubungannya dengan penyelundup narkoba itu?" tanya Kowalski sambil menyodorkan berkas-berkas itu ke arahku. Aku langsung melihat sekilas berkas-berkas itu.
"Kemungkinan besar iya, tapi kita harus meneliti lebih lanjut untuk mendapatkan bukti yang jelas. Dan siapa itu Mr. Crishtopher Jacob? Kurasa dia juga ada hubungannya dengan Hans"
"Guys, kita punya PR baru: cari tahu hubungan antara Albert Hans dengan Mr. Christopher Jacob dan PT. Mary Ywanee Indonesia. Kita pasti akan menemukan sesuatu yang menarik" kataku sambil tersenyum licik.
True Love Never Dies
A Penguins of Madagascar Fanfict
Disclaimer: all characters owned by Dreamworks & Nickelodeon
Warning: OOC, humanized chara, gaje, lebay, dll
A/N: this is Marlene's POV, but can be change into Skipper's POV
Chapter 3
Love on the Wheel
Marlene's POV
"Hey, guys! Guess what?" kataku riang saat membukakan pintu rumahku untuk mereka. Sepertinya mereka tampak kelelahan sekali.
"Apa?" sahut Skipper, malas mendengar celotehanku kali ini.
"Aku dipromosiin jadi manager! Can you believe it? Manager! M-a-n-a-g-e-r!"
"Really?" Kali ini yang bertanya adalah Private. Aku mengangguk-angguk seperti mainan anjing di dashboard mobil.
"Wah, bagus dong kalo gitu! Jangan lupa traktiran ya!"
"Iya deh, entar kalian semua aku traktir. Emangnya kalian mau apaan sih?"
" Truk monster!" seru Rico. Aku langsung menjitak kepalanya. Pria ber-highlight navy blue itu meringis kesakitan sambil mengelus-elus kepalanya.
"Gimana kalo makan-makan?"
"Standar banget sih!" seruku kesal.
"Ehm...gimana kalau Dufan?" ujar Private memcoba memberi masukan. Kontan saja ketiga rekannya langsung memberinya death glare.
"Are you kidding us? Kita ini agen rahasia, bukan anak kecil!" omel Skipper. Pria bermata sapphire itu menunduk, tak berani memandang atasannya. Aku buru-buru meminimalisir keadaan.
"Kelihatannya usul Private itu bagus juga. Kita kan nggak mungkin juga kalau cuma jalan-jalan ke mall. Ke tempat wisata juga tidak memungkinkan. Butuh waktu banyak dan biaya. Lagian Dufan kan tempat hiburan untuk semua usia"
"Kowalski, pilihan!" titah Skipper yang masih keras kepala. Pria gondrong itu mulai mencoret-coret notesnya.
"Kurasa ide Marlene bagus juga. Toh Marlene juga kan yang akan mentraktir kita, jadi kita harus menghargai keputusannya" tukas Kowalski.
"Oke, oke, jadi besok Minggu kita ke Dufan nih jadinya?" kata Skipper menyerah setelah melihat ketiga rekannya mengangguk. Saat pria berambut raven itu melotot ke arahku, aku hanya bisa meringis dan membentuk simbol 'piece' dengan jariku. Kelihatannya aku yang memenangkan persaingan kali ini.
.
.
.
.
.
.
"HOREEEE!" jerit Private yang kelihatan seperti anak kecil yang mendapat mainan baru. Di depan matanya terlihat banyak wahana-wahana yang memacu adrenalin, orang-orang berbagai usia berlalu lalang, kios-kios penjual snack dan minuman, dan game center macam Time Zone. Pria bermata sapphire itu seperti tidak sabar ingin mencobanya satu-persatu.
"Norak banget sih" gerutu Skipper pelan, dan, sejujurnya sih, sedikit merusak suasana. Memang dari awal aku tidak mengharapkan pria macho macam dia untuk ikut ke tempat-tempat seperti ini. Rico yang biasanya sok cool mulai ngiler, ingin mencoba wahana-wahana ekstrim. Sebaliknya, Kowalski yang masih anteng-anteng saja. Ekspresinya tidak seheboh ketiga rekannya tadi. Aku hanya tersenyum senang melihat keempat –koreksi, ketiga –temanku sepertinya menikmati pilihanku.
"Eh, gimana kalau kita nyoba naik itu dulu?" usul Private, telunjuknya mengarah ke roller coaster yang ukurannya sepertinya mendominasi luas Dufan itu. Rico melonjak-lonjak girang tanda setuju, Kowalski dan Skipper hanya melongo melihat roller coaster yang sebegitu besarnya.
"Gimana? Mau nggak?" tanya Private lagi. Aku mengangguk-angguk setuju, sayang kalau datang sejauh ini tidak mencoba sekalian. Rico sudah positif ikut. Kowalski menolak, dengan alasan dia gampang mabuk darat. Aku melengos dan mengalihkan pandanganku ke pria bermata ruby itu.
"Hey, Skipper! Are you going with us?" godaku. Skipper hanya mendengus.
"Aku nggak mau naik mainan anak kecil. No way"
"'Mainan anak kecil'? Come on Skipper, kalau menurutmu roller coaster itu 'mainan anak kecil', kau pasti bisa menaklukannya dengan mudah, kan?" tantangku. "Kau kan sudah mengalami hal yang lebih mengerikan daripada ini. Besides, you don't wanna get lose by some delicate girl like me, rite?"
Mendengar ucapanku barusan, ego Skipper terusik. Ia tidak mau harga dirinya sebagai leader agen rahasia tercoreng hanya karena ia takut naik roller coaster.
"Okay, then. Count me in"
.
.
.
.
.
Setelah mengantri selama hampir setengah jam, kami pun naik. Rico duduk dengan Private, dan Skipper denganku. Aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini untuk melihat wajah ketakutan Skipper untuk yang pertama kalinya, mengingat pria itu selalu sok stoic untuk menunjukkan eksistensinya sebagai leader.
Saat roller coaster perlahan-lahan naik ke atas, kulihat wajah pria di sebelahku mulai memucat. Aku terkikik dalam hati. Sayangnya aku tidak bawa kamera, pasti aku akan mengabadikan momen-momen yang 'langka' ini. Tiba-tiba roller coaster itu turun dengan kecepatan tinggi, lalu berbelok-belok dan menukik tajam.
"AAAAAAAAHHHHHHHHHH!" jeritku histeris. Private dan Rico menjerit kegirangan di belakangku. Hampir semua penumpang melakukan hal yang sama denganku. Saat aku menoleh, kulihat pria di sampingku hanya diam tanpa ekspresi. Rambut ravennya berkibar-kibar ditiup angin. Tapi setelah kuteliti lebih lanjut, tangannya yang mencengkeram erat pegangan di depannya gemetar hebat. Skipper...benar-benar takut? Nggak mungkin! batinku ragu. Tapi setelah melihat wajahnya yang semakin memucat, aku jadi iba. Di tengah-tengah tikungan tajam, aku menggenggam tangannya.
"Hei, apa-apaan ini? Lepasin!" teriak Skipper keras-keras untuk melawan angin. Aku tak peduli, aku semakin menggenggam tangannya erat. Wajah Skipper mulai berwarna, tidak pucat seperti tadi. Kurasa dia sudah tenang. Aku menghembuskan napas lega. Tapi tunggu, wajah Skipper...memerah? Aku memfokuskan pandanganku ke mukanya. Tanpa kusangka, Skipper juga menoleh ke arahku. Sekarang wajahnya yang bersemu merah terlihat jelas. Kita berdua sama-sama berpandangan. Rasanya waktu berhenti, roller coaster ini berhenti di puncak tertinggi, jeritan-jeritan penumpang mnjadi sunyi, hanya ada aku dan dia.
Ya, hanya ada aku dan dia.
Skipper yang semula menolak menggenggam tanganku mulai melepas pegangannya dan balas menggenggam tanganku. Aku tahu ini akan beresiko tinggi, tapi aku tak peduli. Kami saling bertatapan. Di depan mataku hanya ada wajah Skipper yang sangat tampan, dengan latar belakang sebuah pemandangan berkecepatan tinggi. Kurasa Skipper juga merasakan hal yang sama denganku. Kita berdua tidak berteriak lagi meskipun semua penumpang berteriak saat melewati turunan dan tikungan tajam.
Tiba-tiba kurasakan roller coaster melambat dan berhenti di stasiun. Skipper yang mulai sadar sontak melepas genggamannya dan turun sendiri, lalu menyusul kedua temannya yang sudah keluar dari stasiun. Aku hanya bisa terdiam sambil memandangi tanganku yang beberapa menit yang lalu barusan digenggam oleh pria itu. Hangatnya masih terasa di telapak tanganku...
.
.
.
.
.
"Gimana tadi? Seru nggak?" tanya Kowalski saat kami tiba di cafe dekat wahana itu. Aku memaksakan diri memberi seulas senyum, berkebalikan sekali dengan Private dan Rico yang sudah tak sabar ingin menceritakan pengalamannya ke Kowalski. Skipper kembali ke wajah stoicnya yang biasa. Aku menghela napas panjang.
"Hey, Skipper. Ada apa? Kau sakit? Mual?" tanya Kowalski khawatir saat melihat Skipper tidak bereaksi apapun tentang pengalamannya tadi.
"Mungkin saja, dia kan baru pertama kali naik roller coaster, jadinya mual. Dulu saja aku sampai muntah" cerocos Private. "Aku pesankan teh hangat saja, ya?"
"Hmm"
"Kalau kamu, Marlene?"
"Nanti saja, perutku juga masih belum beres, entar malah muntah lagi" tolakku halus. Sebenarnya sih aku tidak apa-apa, cuma kasihan Skipper kalau aku makan enak sementara dia diam saja. Aku merogoh tas ranselku dan mengambil sebuah obat lambung.
"Ini"
Skipper diam saja saat melihat obat lambung itu kusodorkan padanya. Tapi ia langsung membuang muka dan berdiri dari kursinya.
"Thanks, tapi aku nggak mau dianggap jadi orang lemah"
"Tunggu! Kau mau kemana?" cegahku sambil menarik tangannya. Skipper hanya menjawab tanpa menoleh ke belakang.
"Kamar mandi. Aku mau muntah dulu"
Skipper's POV
"Damn! What's wrong with me?" keluhku pelan setelah membasuh mukaku dan melihat pantulan wajahku sendiri di cermin. Sebenarnya aku berbohong saat mengatakan kalau aku mau muntah dulu. Faktanya, aku tidak merasa mual sama sekali. Ini sangat mengherankan, mengingat apa kata Private kalau aku memang baru pertama kali naik roller coaster. Dan pada umumnya orang yang pertama kali naik roller coaster itu biasanya mual atau muntah, terutama kalau di wahana itu orang tersebut tidak berteriak sama sekali. Tapi entah kenapa aku tidak merasakan apa-apa, padahal aku juga tidak berteriak sedikitpun. Apa karena dia?
Aku melihat telapak tanganku. Tangan yang beberapa menit yang lalu mengenggam tangan seorang gadis brunnete yang sebenarnya sangat menyebalkan itu. Tapi anehnya, kehangatan tangannya masih membekas di tanganku. Aku masih bisa merasakan tangannya. Tangannya kecil dan halus. Aku mengingat wajahnya saat kita berdua bertatapan. Wajahnya yang manis dengan latar belakang sebuah pemandangan berkecepatan tinggi. Marlene...
Ugh, kau ini mikir apaan sih, Skipper! batinku kesal. Aku mengaduk-aduk rambutku, merasa frustasi. Selama ini aku tak pernah bisa sedekat ini dengannya. Kalaupun bisa, itupun karena perseteruanku dengannya, tidak lebih. Kita bermusuhan, baikan, lalu bermusuhan lagi. Tapi apa yang terjadi di roller coaster itu bukan adegan 'bermusuhan' atau 'berbaikan'. Kita lebih mirip sepasang kekasih daripada teman berantem. Tunggu...kekasih?
Pacar?
No way, batinku lagi. Aku tidak mungkin menjadi kekasihnya, iya kan?
Aku tidak mungkin mencintainya, iya kan?
Semoga saja aku benar.
.
.
.
.
.
"Udah selesai muntahnya, Skippah? Hehe...masih berani naik lagi?" goda Private sambil cengar-cengir. Aku langsung menjitak dahinya.
"Ya udah deh, yuk ke wahana lain. Kalau nggak salah ada ada rumah hantu di sebelah timur tadi. Apa kau berani kesana?" tanya Kowalski tanpa perasaan bersalah.
"Heh! Mungkin aku memang takut naik roller coaster, tapi aku nggak takut masuk ke dalam rumah yang isinya hantu boongan semua! Lagipula para klienku lebih menakutkan daripada hantu-hantu itu!" bantahku. FYI, 'klien' itu adalah sebutanku untuk target mata-mataku.
"Oke, oke, aku percaya kok. Kalau gitu ayo kita kesana!"
"T-tunggu! Tadi kulihat rumah hantu rame banget antriannya. Bukankah sebaiknya kita nunggu disini sampai antriannya sepi?" cegah Marlene sambil menarik celana Private, matanya menyiratkan ketakutan. Dalam hati aku terkikik geli, ternyata Marlene takut juga sama hantu, padahal hantunya juga boongan.
"Marlene, Marlene" Kowalski menggeleng-gelengkan kepala dan berdecak tak sabar "Kalau kita terus menunggu disini, sampai malam pun kita tak akan bisa masuk kedalam sana. Rumah hantu itu salah satu wahana terlaris disini, jadi tak heran kalau antrian itu tidak akan pernah sepi"
"O-oke, ta-tapi..."
"Ada apa, Marlene? Kau takut?" tanya Private polos, tapi cukup untuk membuat wajah imut Marlene bersemu merah.
"Enak saja! Asal kau tahu, dulu aku tinggal di pedesaan, jadi aku tidak takut sama sekali dengan hantu!" bentak Marlene, suaranya meninggi.
"Well, well, well, ternyata orang yang menantangku untuk naik roller coaster ternyata takut dengan hantu. Boongan, lagi" cibirku. Gadis brunette itu melotot ke arahku.
"Sudah kubilang, Tuan-Phobia-Ketinggian, aku tidak takut dengan segala jenis hantu!"
"Kalau begitu, kau pasti tidak keberatan, kan, untuk mengantri sekarang? Daripada nanti tambah ramai, lho" tantangku balik. Marlene hanya bisa bersungut-sungut dan bangkit dari kursinya.
"Fine!"
.
.
.
.
.
Setelah mengantri selama hampir sejam, akhirnya kami bisa masuk kedalam. Rumah hantu ini hanya dibatasi lima orang setiap kali masuk, jadi tak heran kalau antriannya mengular sampai wahana lain. Kebetulan jumlah kami pas lima orang, jadi kami tak perlu bersama orang lain. Aku berjalan di depan dengan Rico, sementara Kowalski, Private, dan Marlene di belakangku. Sepanjang perjalanan, banyak hantu-hantu berseliweran di depanku, bau darah dan dupa yang menyengat, suara lolongan anjing, rintihan wanita dan tangisan bayi silih berganti. Sesekali ada tangan-tangan yang iseng menjawil bahuku. Aku diam saja, karena itu bukan sungguhan. Sesekali Private menjerit kecil saat ada hantu yang tiba-tiba muncul di depannya. Kowalski malah nyerocos tak karuan tentang cara kerja robot hantu itu. Rico malah lebih parah, diam-diam ia menyelinap ke bagian belakang hantu itu dan mencopot kabelnya. Kontan saja hantu yang akan megagetkan kita mendadak berhenti di depanku. Kita semua meledak tertawa melihat hantu itu tidak terlihat menakutkan lagi dan melihat kelakuan Rico yang sok innocent. Di tengah-tengah tertawaan itu, aku tidak mendengar suara tertawa wanita. Dimana Marlene?
Aku menajamkan mataku untuk mencari Marlene karena pencahayaan disini sangat minim. Oh, itu dia, berada di sebelah Private. Anehnya, ia berjalan sambil menutup mata dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya menggandeng tangan Private. Aku sebenarnya hampir tertawa melihat pemandangan 'unik' itu, tapi lama-lama aku tak tega. Diam-diam aku mundur dan mendekati Private.
"Sssst, Private" bisikku dan menunjuk tangannya yang digandeng Marlene. Private mengangguk, seolah mengerti maksudku. Ia melepas genggaman Marlene dan mempersilahkan aku menggandeng tangannya. Aku cuma bisa tersenyum-senyum kecil melihat gadis bermata hazel itu belum mengetahui keberadaanku.
.
.
.
.
.
"Marlene, kita sudah selesai" kata Private saat kita sudah keluar dari rumah hantu itu. Marlene yang percaya 100% pada Private itu membuka tangannya, dan terkejutlah ia, ternyata yang selama ini menggandengnya adalah aku!
"GYAAAAAAA!" jerit Marlene ketakutan dan melepas genggamannya kasar. "K-kok, ka-kamu bisa ada di sini sih? Bukannya Private yang...sial! Aku dikerjain!" gerutunya lagi. Aku dan Private terkikik geli melihat wajah Marlene memerah seperti kepiting rebus.
"Kalian pasti udah kerjasama kan? Dasar!"
"Hehehe, itu balasan untuk yang di roller coaster tadi" Aku mengerling nakal. Marlene memutar bola matanya.
"Lagian, kenapa sih kamu njeritnya keras banget kayak ketemu hantu?"
"Soalnya muka kamu itu lebih serem dari hantu, tauk!"
"Haha, udah yuk balik" ajak Kowalski memotong pembicaraanku.
"Loh, kok pulang? Kan masih banyak wahana-wahana yang lain" rengek Private sambil menatap pria berkacamata itu dengan puppy eyes andalannya. Sayangnya, Kowalski sudah kebal dengan rayuan Private. Beda denganku yang kadang-kadang suka tak tega dengannya, padahal sebagai leader, aku harus jaga image.
"Emangnya kamu mau nyobain satu-satu? Nggak mungkin kan? Yuk pulang, kita semua udah capek nih"
"Tapi kan kita sudah jauh-jauh kesini, sayang dong kalau kita nggak keliling dulu. Lagipula kenapa kalian yang merengek minta pulang? Toh aku yang mbayar, bukan kalian" sindir Marlene ketus, saat melihat keempat temanku tidak memperlihatkan ekspresi capek sedikitpun, malah ia melihat sorot mata bosan. Gadis bermata hazel itu menghela napas, ternyata keputusannya untuk membawa keempat pria militer ke taman hiburan ternyata salah. Kami hanya berpura-pura senang karena kami tidak ingin membuat Marlene sedih. Akhirnya Marlene mengangkat bendera putih.
"Baiklah, kita pulang saja. Terima kasih kalian sudah mau menemaniku jalan-jalan ke taman bermain ini. Sejujurnya aku ingin kalian bersenang-senang, karena akhir-akhir ini kalian sering mendapat banyak order dan kulihat kalian sangat capek sekali" aku Marlene pelan. Aku terhenyak mendengar pengakuan Marlene barusan. Ternyata selama ini ia sangat memperhatikan kita, terutama aku.
Marlene, maafkan aku...
.
.
.
.
A/N: wah, nggak nyangkan chap 3 bakal sepanjang ini! Sebenarnya sih aku cuma mau mbuat adegan romance Skilene di roller coaster aja, tapi mendadak dapet ide di rumah hantu. Tentang Dufan, aku gak bermaksud buat promosi, cuma buat kepentingan plot aja. Abis aku gak berdomisili di Jakarta, jadi aku nggak tau taman hiburan apa aja selain Dufan, Ancol atau TMII. Trus 2 minggu yang lalu aku abis perpisahan kelas di Jatimpark (FYI, Jatimpark itu salah satu taman hiburan terbesar di Jawa Timur), jadi aku bisa lumayan lancar pas ngetik fanfict ini. Hehehe. Chap ini emang kufokuskan full romance Skilene sebelum masuk bagian action di chap seterusnya (spoiler alert!). Thanks for R&R :D
Special Thanks to: mac skipper, LoveSkipper, AngelaBlue, Private2Kowalski, azalea ungu
