Penyangkalan Hak Kepemilikan: Saya tidak memiliki Harvest Moon serta seluruh karakternya.
Bab: 3
Makan malam berjalan dengan baik, meski Claire merasa pandangan tajam dari Jill terus mengebor kepalanya. Tentu Gray juga tidak menyukainya. Pada makan malam itu hanya terlihat Jack, Jill, Gray, dan Claire. Walau mereka tinggal bersama Tuan Arringham, mereka hanya bisa bertemu dengannya di kantor beliau. Tak terbayang sebelumnya Claire akan menjalani hidup yang samasekali tidak dikekang oleh orang yang mengasuhnya. Tidak ada aturan-aturan rumah tangga, hanya ada aturan dalam pekerjaan mereka. Seluruh pekerjaan rumah selalu dilakukan oleh para pelayan, meski mereka jarang mondar-mandir di rumah besar itu.
Setelah makan, tiga bersaudara itu jarang bercengkrama. Mereka menghilang ke dalam kamar masing-masing. Tak heran bila rumah itu sunyi sekali setelah jam makan malam. Claire hanya terduduk di sofa empuk di ruang utama, melihat jilatan-jilatan api yang memakan kayu kering yang teronggok begitu saja di perapian, ia merenung.
Memori akan wajah ayah bundanya sebelum ia tertinggal di desa itu. Desa Mineral, desa yang sungguh mengasyikkan pada waktu itu. Ia terpisah dari orangtuanya sesaat sebelum mereka naik ke bus yang akan mengantar mereka pulang. Ia menangis saat itu, lalu ditemukan oleh seorang kakek tua yang dengan ramah mengajaknya untuk tinggal di rumahnya sampai orangtuanya menjemput.
Sayang, ia harus tetap tinggal di desa itu. Orangtua Claire yang dengan niat menjemputnya dengan mobil, mendapat kecelakaan sehingga meninggal, sungguh sial nasibnya. Sehingga Claire harus menjadi anak yatim piatu sejak umur 12 tahun. Setahun kemudian, kakek tua yang memungutnya meninggal dunia, sungguh sial.
Namun satu memori indah setelah kepergian ketiga orang kesayangannya, tentang seorang anak laki-laki yang seumuran dengannya. Claire yang dipungut oleh ibu dari anak itu menjadi sahabat dekatnya. Mereka selalu bermain di Mother's Hill. Dan satu yang tak terlupakan darinya adalah, senyuman manisnya itu. Selalu ada di pikirannya pada waktu itu. Ia mendesah lesu.
"Claire." Suara yang tak lain adalah milik Gray membuatnya tersontak kaget. Ia mengusap kedua matanya yang hampir basah karena air matanya dan berbalik ke arah Gray.
"Kau kenapa? Ada masalah?" tanyanya seakan menunjukkan perhatiannya. Ia duduk di sebelahnya dan melingkarkan lengannya di bahu Claire. Namun Claire hanya diam, membiarkan Gray menyisir rambut pirangnya dengan jari-jarinya.
"Kalau soal Jill, aku sudah memarahinya lagi tadi sesudah makan." Ucapnya.
"Ah, tidak. Aku hanya... aku teringat akan masa laluku. Saat aku masih kecil, dan orang tuaku..." ucapnya pelan. Mata biru Gray menunjukkan perhatiannya yang besar terhadap Claire. "Aku sangat merindukan mereka." Ucapnya sambil tersenyum kecil.
Gray tersenyum pada adiknya itu. Senyum yang berbeda dari biasanya, senyum yang... ramah? "Itukah? Aku selalu merasakan hal yang sama denganmu." Kalimat itu membuat Claire menengok ke arahnya dengan mata yang penuh tanya. Gray tertawa pelan. "Ya, terutama pada ibuku. Serta Mark."
"Mark? Itukah putra sulung dari keluarga ini?" tanyanya.
"Iya. Satu-satunya saudara yang kumiliki." Ucapnya. Lengannya meninggalkan bahu Claire, sikunya diistirahatkan di kedua lututnya, duduk membungkuk. "Hanya mereka berdualah keluargaku..."
Claire bersiap untuk mendengar cerita Gray. "Sejak kecil, aku dan Mark hanya dibesarkan oleh Ibu. Ibu selalu membawaku dan Mark pergi ke taman di dekat rumah kami yang dulu. Aku selalu bermain dengan Mark. Saat aku mendapatkan dua adik kembar, ayah membawa mereka pergi, meninggalkan kami bertiga. Aku membencinya sejak itu. Lalu, saat aku berumur 12 tahun, serangan bom dari keluarga rival kami merenggut nyawa ibuku. Kami berdua saat itu sedang bermain di taman itu, langsung berlari kembali ke rumah kami yang sudah hancur berantakan. Mark dan aku berlari ke dalam rumah. Kepulan asap tebal tidak menghalau kami untuk masuk. Namun, tentara invasi itu menemukan kami, target sebenarnya, anak dari keluarga Arringham. Mereka menembak mati Mark, aku yang sungguh penakut, bersembunyi di bawah tangga. Tak lama, para tentara itu pergi begitu saja, dan aku pun keluar dari persembunyianku. Aku tak melihat ibuku dimana-mana, hanya Mark yang tergeletak, masih bernafas tersengal-sengal. Namun ia hanya tersenyum padaku, dan memberikan topinya padaku." Gray melepas topinya dan menatapnya. "Mark berkata bahwa aku harus bisa jadi penerus keluarga Arringham yang berhasil... Tapi, aku masih saja seperti pengecut, bahkan aku dikalahkan olehmu di mata ayah." Ia tersenyum. "Karena itulah, Claire, aku harus memastikan kau akan berhasil dalam memimpin keluarga ini."
Gray menatap Claire, senyuman ramahnya itu masih ada di wajahnya. Claire tersipu, ia baru pertama kali melihat Gray tanpa topi milik mendiang Mark. Sungguh tragis masa lalunya. Bahkan, ayahnya saja pergi meninggalkannya. "Lalu, bagaimana kau bisa kembali ke ayahmu?" tanya Claire.
"Ayah mengirim suruhannya untuk menjemputku. Awalnya aku ragu, saking bencinya diriku terhadap ayah. Tapi aku tak punya pilihan lain." Ucapnya sambil bermain dengan topinya itu.
"Dan Tuan Arringham kecewa padamu." Kata suara yang tak lain adalah milik Jill yang dari tadi mendengar percakapan mereka. "Kakak sebenarnya adalah pilihan terbaik untuk menjadi penerus setelah Mark. Sudah susah beliau mengirim suruhannya untuk menjemputmu, untuk kembali mengasuhmu menjadi penerusnya. Tapi kau malah melepaskan orang yang berbahaya hanya untuk gadis tolol itu!" bentaknya.
"Hentikan itu, Jill. Itu sudah berlalu. Lagipula, Tuan Arringham sudah mendapatkan calon yang lebih baik." Ucap Jack yang dengan santainya bersandar di bingkai pintu ruang itu.
Gray hanya menarik nafas panjang, capek akan semua kata-kata dua adik kembarnya. Ia memaki topi kesayangannya lagi dan berjalan keluar ruangan.
"Kak Gray! Kalau kau mau begini terus, kau tidak pantas memakai nama Arringham setelah nama aslimu!" teriak Jill. Perkataannya membuat Gray terhenti sejenak, namun ia teruskan pula. Setelah awaknya tak terlihat lagi, Jill memutar badannya untuk berhadapan dengan Claire.
"Dan kau, Claire. Kami berharap kau tidak seperti dia. Tuan Arringham memilihmu dengan telunjuknya sendiri. Itu suatu kehormatan. Berikan yang terbaik." Ucapnya, masih dengan nada tinggi.
Sesudah mereka meninggalkan Claire sendirian di ruang itu, Claire termenung. Meski di luar keluarga ini begitu menakutkan, memliki segala kekuatan untuk mengatur orang lain, di dalamnya sungguh tragis. Keluarga yang terpecah belah, dan dirinya ada di dalamnya, dan menjadi bagian yang penting bagi keluarga tersebut.
Haruskah aku menyatukan keluarga ini? Keluarga yang aku belum tahu apa di luar dan di dalamnya? Yang baru kukenal selama satu tahun? Kenapa beban ini ditujukan padaku?
"Oh iya, Kak Claire, besok adalah hari untuk misi pertamamu." Ucap Jack dari belakang sosok Claire yang termenung. "Bersiaplah karena besok pasti akan menyenangkan!" serunya sambil menepuk pundak Claire ringan. Claire yang diam hanya melihat sosoknya pergi menghilang ke kamarnya.
'Misi pertama?' tanyanya dalam hati.
Bersambung...
Haah, bab 3 agak lama diunggah karena ide saya sedang macet. Mohon sabar menunggu bab 4.
