Disc:
Naruto: Masashi Kishimoto
.
.
.
Rabu, 7 Juni 2017
.
.
.
TERLAMBAT
By Hikasya
.
.
.
Chapter 3. Mendapatkan cintamu
.
.
.
Seminggu berlalu.
Sepasang mata saffir biru itu memandang lekat-lekat pada sebuah makanan kalengan. Dipegangnya makanan kalengan itu dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya, menjinjing sebuah keranjang kecil berwarna merah. Berbagaimacam barang sudah menumpuk di dalam keranjang merah kecil itu. Tapi, sang pemiliknya masih belum juga puas untuk berbelanja di sebuah minimarket yang ada di kota Konoha tersebut.
Atas permintaan sang Paman, Naruto pergi ke supermarket untuk membeli bahan-bahan makanan yang akan dimasak untuk makan malam nanti. Rencananya Paman dan Naruto akan memasak bersama, hitung-hitung menjalin kebersamaan dan kekompakan di antara mereka yang sudah seperti anak dan ayah.
Seperti biasa juga, si Karin super aneh itu sedang sibuk bekerja di kantor miliknya yang bersatu dengan butik pakaian, yang bernama "Uzumaki Design", dan selalu pulang lembur hingga jam dua malam. Sehingga Akaito, ayah Karin, selalu marah-marah padanya jika dia pulang terlambat. Tapi, Karin tidak menggubris ayahnya dan tetap pulang terlambat seperti biasa.
'Memang dasar si Karin super aneh itu!'
Itulah yang selalu dibatin Naruto jika mengingat pertengkaran Akaito dan Karin yang begitu konyol.
Di sore hari yang indah ini, kota Konoha tampak sibuk dengan semua urusan yang selalu dihadapi setiap hari. Polusi di mana-mana. Sering juga terjadi perampokan, pencurian, pembunuhan, pengeboman dan sebagainya. Sehingga kehidupan warga kota di sini jauh dari kata tenang. Karena tidak ada amannya sedikitpun.
Entahlah, tindakan kriminal semakin meningkat akhir-akhir ini. Membuat para warga kota resah, meskipun pihak kepolisian terus berusaha menangani semua tindakan kriminal ini. Tapi, hal itu tidak membuat para warga bisa merasa tenang. Yang paling membahayakan adalah pengeboman yang sering dilakukan oleh seseorang yang tidak diketahui dan pengeboman itu dilakukan di tempat-tempat umum atau di tempat-tempat para pihak tentara yang berhubungan dengan seseorang yang memasang bom tersebut. Entah apa tujuannya. Namun, yang pasti mereka sangat bermusuhan dengan yang namanya tentara.
"Hmmm... Sepertinya ini bagus. Yang ini saja," kata Naruto dengan senyuman di wajahnya.
Dia memasukkan makanan kalengan yang dia teliti - itu sudah kebiasaannya saat di markas tentara, suka memeriksa keadaan makanan untuk memeriksa apakah makanan itu tercemar atau tidak. Dia selalu diingatkan oleh atasannya tentang hal itu, karena ada kelompok mafia yang sangat memusuhi para tentara.
Pernah terjadi peristiwa yang merenggut nyawa seorang tentara, cuma karena memakan makanan beracun yang dimasak oleh tukang masak di dapur markas tentara. Ternyata tukang masak itu adalah musuh yang menyamar dan pada akhirnya musuh itu ditembak mati di tempat.
Oleh sebab itulah, para anggota tentara harus waspada terhadap keadaan sekitar. Mereka tidak boleh lengah sedikitpun dan harus siap sedia untuk melawan musuh yang menyerang secara diam-diam. Walaupun itu teman sekalipun.
Merasa semuanya sudah komplit, Naruto bergegas menuju ke tempat kasir. Begitu dia berbalik, dia tidak sengaja menabrak seseorang.
DUK!
Seseorang itu akan jatuh ke belakang karena kehilangan keseimbangan. Naruto menyadarinya dan dengan cepat menangkap tangan seseorang itu.
GYUT!
Tidak jadi jatuh, seseorang itu kembali tegak seperti biasa. Lalu dia menatap Naruto yang telah menabraknya.
Dia ingin marah dan protes pada Naruto, tapi tidak jadi, pasalnya...
"Do-Dobe...!?"
"Te-Teme...!?"
Ternyata dia mengenal Naruto. Sebaliknya, Naruto juga mengenalnya.
Seseorang itu adalah gadis tsundere yang sangat bermusuhan dengan Naruto. Siapa lagi kalau bukan si Satsuki.
Mereka saling terkejut antara satu sama lainnya karena bisa bertemu secara tiba-tiba begini. Masih berdiri di gang di antara rak-rak yang dipenuhi barang-barang harian. Masih berpegangan tangan dengan erat.
Wajah Naruto sedikit memerah karena terlalu berdebar-debar. Begitu juga dengan Satsuki. Sampai Satsuki melirik ke arah tangannya yang masih dipegang Naruto.
"Uhm... Do-Dobe..."
"Y-Ya...?"
"Apa kau melupakan sesuatu?"
"Hm... Melupakan sesuatu? Maksudmu!?"
"Lihat ini."
Satsuki menunjuk ke arah tangan kanannya yang digenggam Naruto sangat kuat. Naruto yang bengong, melihat ke arah yang ditunjuk Satsuki. Kemudian, wajah Naruto menjadi pucat pasi.
'Gawat!'
KIIITS!
Sudut perempatan sudah muncul di kepala gadis berambut raven yang diikat ponytail itu. Tangan kirinya terkepal dan segera melayang ke arah wajah Naruto!
WHUUUUSH!
Saat itu juga, Naruto berteriak keras sangat menggelegar hingga mengguncang tempat itu.
"GYAAAAA! MAAF, TEME!"
BUAAAAAK!
.
.
.
Nasib yang malang menimpa Naruto di sore hari, tepat pada pukul 5 sore.
Pipi kanannya kini ditempeli kain perban dengan plester yang merekat kain perban agar tidak lepas. Barusan Satsuki yang membantu Naruto untuk mengobati pipi kanan Naruto yang terluka akibat tinju Satsuki yang terbilang sangat kuat.
Dengan wajah yang super sewot, Naruto masih melototi Satsuki. Satsuki hanya tersenyum sembari menawarkan minuman kalengan dingin padanya.
"Maaf, aku tidak sengaja melakukannya."
"Tidak sengaja, katamu!? Justru kau sengaja melakukannya!" Naruto mendelik sambil menyambar cepat minuman kalengan dingin dari tangan Satsuki."Karena ulahmu, pipi kananku terluka begini. Lalu aku harus mengganti rugi atas kerusakan barang-barang di minimarket itu. Kau benar-benar sangat menyebalkan, tahu!"
"Hn. Aku tahu itu. Akukan juga membantumu untuk membayar rugi barang-barang yang rusak itu. Jadi, maafkan aku ya Dobe."
"Ya, aku maafkan untuk kali ini saja. Huh..."
"Syukurlah."
Sekali lagi, Satsuki tersenyum dan segera meneguk kaleng minuman dingin miliknya. Naruto memperhatikannya sebentar lalu tersenyum simpul, ikut meneguk minuman kalengan dingin bersama Satsuki.
Hening sesaat.
Kini mereka berdua sedang duduk di sebuah bangku kayu yang ada di sebuah taman, dekat minimarket dimana Naruto berbelanja tadi. Usai berbelanja, Satsuki mengajak Naruto ke taman ini dan Satsuki mengobati luka di pipi kanan Naruto dengan kotak P3K yang sempat dibelinya di minimarket tersebut.
Barang-barang belanjaan mereka diletakkan di samping masing-masing. Mereka duduk sedikit berjauhan sembari memandang alam sekitar.
Cukup banyak orang yang terlihat mengunjungi taman kota sore ini. Suasana ribut dan bising disebabkan suara-suara sekelompok anak kecil yang sedang bermain bola di sebuah lapangan, tak jauh dari Naruto dan Satsuki duduk.
Menyadari keheningan yang berlangsung selama dua menit, Naruto mengeluarkan suaranya yang begitu keras sehingga memecahkan keheningan itu.
"Hei, Teme."
"Uhm...," Satsuki menoleh ke arah Naruto sambil memegang kaleng minuman di tangan kanannya."Ada apa?"
"Apa kau punya nomor telepon?"
"Punya. Memangnya kenapa?"
Tatapan Satsuki menajam. Naruto menyadarinya dan tersenyum maklum. Berkata dengan gugup.
"I-Itu... A-Apa aku boleh minta nomor teleponmu itu?"
"Untuk apa?"
"Su-Supaya kita bisa berkomunikasi, begitu."
"Oh, kalau begitu, mana ponselmu?"
"Po-Ponselku?"
"Iya. Cepat keluarkan!"
"I-Iya."
Dengan buru-buru, Naruto meletakkan kaleng minuman di sampingnya dan mengambil ponselnya yang terletak di dalam kantong jaket jingganya. Dia memberikan ponsel itu pada Satsuki dengan tangan kanannya.
BATS!
Dengan cepat, Satsuki menyambar ponsel itu dan segera mengetik di layar ponsel tipe touchscreen itu. Naruto memperhatikan aksi Satsuki dengan bengong.
Satu menit kemudian, Satsuki memberikan ponsel itu pada Naruto.
"Ini. Nomorku sudah kumasukkan ke dalam daftar teleponmu. Yang namanya Satsuki."
Naruto menerima ponselnya itu dari tangan Satsuki dan mengecek apa benar Satsuki sudah memasukkan nomor ponsel ke dalam daftar teleponnya. Seketika senyuman simpul terukir di wajah Naruto. Dia memasukkan kembali ponselnya ke dalam kantong jaket jingganya.
"Terima kasih, Teme."
"Hn...," Satsuki mengangguk sambil meneguk kaleng minumannya lagi."Lalu... Satu lagi... Kalau kau mau menghubungiku, hanya di jam 9 sampai jam 11 malam saja ya."
"Eh? Kenapa begitu?"
"Tidak bisa kuberitahu..."
"Hei, kau main rahasia padaku?"
"Memangnya kenapa?"
"Ayolah, kita ini teman sekelompok. Setidaknya kau mau memberitahukan alasan sebenarnya."
"Tidak mau. Itu bukan urusanmu, kan?"
"Itu urusanku juga. Karena aku mencin..."
Naruto menutup mulutnya dengan tangan kirinya dan segera membuang muka dari hadapan Satsuki. Dia memutuskan perkataannya sejenak karena hampir membeberkan perasaannya yang sebenarnya pada Satsuki. Satsuki keheranan melihatnya.
"Hei... Kenapa? Katakan saja apa yang ingin kau katakan padaku."
"Ah... Tidak. Bukan apa-apa."
Wajah Naruto sedikit memerah. Dia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal dengan tangan kanannya. Masih belum berani menunjukkan wajahnya pada Satsuki.
Tanda tanya hinggap di kepala Satsuki. Dia tidak mengambil pusing lagi, memilih cuek dan meminum minuman kalengan dinginnya sampai tandas. Setelah habis, dia melempar kaleng minuman itu ke arah tong sampah yang berseberangan dengannya, tak jauh darinya.
Aksi pelemparan kaleng minuman Satsuki itu terbilang sangat keren, sehingga mengundang perhatian anak-anak kecil yang melihatnya. Kaleng minuman itu sukses masuk ke dalam tong sampah itu. Spontan, menimbulkan kekaguman bagi orang-orang yang melihat aksinya.
"Wah, hebat!"
"Kakak cantik itu bisa memasukkan kaleng minuman ke dalam tong sampah sejauh itu."
"Bidikan yang tepat sekali!"
"Aku suka kakak cantik itu."
WAS! WES! WOS!
Semua anak kecil malah berkerumun dan mengerubungi Satsuki saat itu juga. Satsuki kewalahan menghadapi tingkah mereka yang sangat lucu. Sementara Naruto bengong melihatnya karena merasa diabaikan.
Tapi, Naruto senang melihat ekspresi Satsuki yang sangat berseri-seri. Bahkan Satsuki tertawa kecil saat memeluk seorang anak perempuan yang mencium pipi kanannya. Dia semakin cantik saja saat tertawa lepas seperti itu.
Terhipnotis dengan kecantikan sang bidadari, jantung Naruto kembali berdebar-debar. Dia tersenyum dengan penuh kehangatan.
Andai, dia memiliki keberanian untuk menyatakan cintanya sekarang. Andai, dia bisa mendekati Satsuki sekarang. Dia ingin mendapatkan hati Satsuki karena dia sudah mencintai Satsuki begitu sangat lama. Tapi, apakah Satsuki akan menerima cintanya nanti? Dan apakah Satsuki juga mencintainya?
Berbagai pertanyaan muncul di pikirannya. Hatinya yang ingin mencapai hati Satsuki malah menjadi terombang-ambing seperti ini. Bagaikan kapal cinta yang terombang-ambing di laut yang dilanda badai, belum bisa mencapai pelabuhan hati yang dituju. Padahal pelabuhan hati itu sudah ada di depan mata. Tapi, kapal cinta itu masih ragu-ragu akan berlabuh di pelabuhan hati atau tidak. Takut berlabuh di pelabuhan hati yang salah.
Begitulah perumpamaan yang terjadi di hati Naruto sekarang. Dia masih terpaku sampai Satsuki melambaikan tangan pada sekelompok anak yang telah pergi karena dipanggil oleh orang tua masing-masing.
"Sampai jumpa lagi, Nee-san!" seru beberapa anak kecil itu.
"Ya, sampai jumpa lagi!" balas Satsuki yang tersenyum.
Lalu kedua bola mata hitam kelam itu bergeser ke arah Naruto. Naruto masih saja terpaku dan membuat Satsuki heran melihatnya.
"Hei, kau kenapa, Dobe?"
Satsuki mengibas-ngibaskan tangan kanannya di depan wajah Naruto. Lamunan Naruto buyar seketika.
"Ah?"
"Hei, kau melamun ya?"
"Eh? Ti-Tidak."
"Masa?"
"Bukan apa-apa."
"Apa yang kau pikirkan sih?"
"Tidak ada."
"Oh, ya sudahlah."
Satsuki berwajah datar kembali dan langsung mengecek ponselnya yang baru saja diambilnya dari celana panjangnya. Naruto memperhatikannya dan bisa menangkap wajah Satsuki yang berubah drastis menjadi kusut.
"Ada apa?" tanya Naruto penasaran.
"Ah... Ada orang yang datang ke rumahku. Ayahku menyuruhku pulang sekarang," jawab Satsuki yang memasukkan ponselnya ke dalam saku celana panjangnya lagi.
"Oh. Siapa yang datang ke rumahmu?"
"..."
Satsuki terdiam sejenak dan sedikit menundukkan kepalanya. Dia pun menghelakan napasnya yang terasa berat.
"Itu... Bukan urusanmu."
DOOONG!
Begitulah jawaban dingin khas Satsuki yang sukses membuat wajah Naruto menggelap. Mulut Naruto ternganga lebar. Satsuki hanya tersenyum, meraih plastik putih yang berisi barang belanjaannya dan segera bangkit berdiri dari duduknya. Dia melenggang pergi begitu saja.
Naruto terperanjat dan memanggilnya dengan suara yang sangat keras.
"Teme! Tunggu!"
Dia menoleh dan melihat Naruto berdiri tak jauh darinya. Wajah Naruto tampak serius sekali.
"Bisakah kita bertemu sekali lagi? Aku ingin berbicara padamu mengenai apa saja. Karena aku belum mengetahui tentangmu yang sebenarnya. Aku ingin... Kita semakin dekat."
Mendengar perkataan Naruto itu, Satsuki terdiam. Wajahnya datar tapi kedua matanya mencerminkan sedikit kemurungan. Hatinya bergetar karena sangat mengerti dengan maksud yang diutarakan oleh Naruto.
Di markas Tentara itu, Sakura pernah mengatakan padanya bahwa Naruto sangat menyukainya. Tapi, dia tidak percaya dan menganggap semua apa yang dikatakan Sakura itu bohong. Tidak mungkin Naruto menyukainya. Karena dia menganggap Naruto sebagai musuh bebuyutannya selama ini.
Namun, kini, hal itu sudah berbalik. Musuh bebuyutannya sudah dianggapnya sebagai orang yang paling berarti di hatinya. Dia telah menyadari perasaannya itu. Dia sangat mencintai si Dobe yang kini ada di depan matanya.
Kekonyolan, keceriaan, kecerobohon, pantang menyerah, senyuman dan apa saja yang ada pada diri Naruto, Satsuki sangat menyukainya. Baginya, Naruto adalah teman dan rival yang tangguh darinya. Meskipun kadang kala Naruto itu sangat menyebalkan baginya karena mengundang sifat tsundere-nya bangkit lagi. Tidak kerap, dia akan mengamuk dan menembaki Naruto dengan senapan secara bertubi-tubi sehingga yang lainnya juga nyaris terkena tembakannya.
Selama ada Naruto di dekatnya, entah mengapa dia merasa bahagia. Tersenyum sendiri di kala mengingat kekonyolan Naruto yang begitu berkesan di hatinya. Naruto itu unik. Beda dari yang lainnya. Sungguh, membuatnya nyaman dan bisa melupakan semua beban yang ditanggungnya selama ini.
Tanpa disadarinya sendiri, perasaan nyaman itu pada akhirnya berubah menjadi cinta. Baru tiba di kota Konoha inilah, dia baru menyadari perasaannya itu.
Dia ingin perasaannya ini diketahui oleh Naruto, meskipun dirinya tengah terikat dengan cincin pertunangan. Dia tidak peduli lagi meskipun tindakannya ini akan menyakiti hati semua orang yang menyayanginya. Tapi, perasaan ini tidak dapat terbendung lagi. Pelabuhan hatinya tidak sabar menunggu kapal cinta itu datang.
Entah keberanian mana yang dia dapatkan hingga suaranya keluar dari tenggorokannya yang terasa kering. Dia mengatakan isi hatinya yang sebenarnya pada Naruto.
"Dobe..."
Naruto menyadari Satsuki yang datang mendekatinya lagi dan kaget sekali ketika mendapatkan pelukan erat dari Satsuki. Bersamaan Satsuki mengatakan kelanjutannya sambil menjatuhkan plastik berisi barang-barang belanjaan yang dipegangnya itu.
"Aku sangat mencintaimu."
DEG!
Jantung Naruto berdegub kencang mendengarnya. Kedua matanya membulat sempurna. Tubuhnya terasa membeku.
Dapat dirasakannya, Satsuki menangis. Tubuh Satsuki bergetar hebat.
'Teme... Menangis... Kenapa?' batin Naruto yang mulai menggerakkan kedua tangannya untuk membalas pelukan Satsuko.
Mereka saling berpelukan dengan erat. Orang-orang di sana, tidak terlalu memperhatikan mereka. Suasana semakin sepi karena sebagian orang memilih segera pulang.
Angin tidak bertiup di musim gugur ini. Hawa dingin terasa menerpa badan hingga merinding disko. Begitu menusuk kulit.
Dua insan yang saling berpelukan itu, memutuskan untuk melonggarkan pelukan masing-masing. Mereka saling menatap dalam jarak yang sangat dekat.
"Apa benar yang kudengar ini? Kau... Mencintaiku, Teme?"
Satsuki mengangguk pelan. Air bening menetes dan membasahi dua pipinya.
"Iya. Itu benar. Aku mencintaimu, Dobe baka."
Senyuman pun terpatri di wajah Naruto. Dia sangat senang mendengarnya.
"Aku juga mencintaimu, Teme payah."
"Naruto..."
"Satsuki..."
Mereka berdua berpelukan lagi. Naruto menepuk-nepuk pundak Satsuki untuk berusaha menghibur Satsuki agar tidak menangis lagi. Dia mengatakan sesuatu yang menggelikan sehingga membuat Satsuki tersenyum dan mendaratkan satu pukulan keras di bahunya.
Pada akhirnya, Satsuki tidak menangis lagi. Kini tangan kanannya digenggam Naruto dengan erat. Dia pun melihat Naruto yang tersenyum padanya.
"Jadi... Hari ini... Kita resmi berpacaran, kan?"
Terdiam sejenak. Kemudian Satsuki tersenyum simpul dengan rona merah tipis di dua pipinya.
"Iya."
"Hmmm... Aku tidak tahu apa jadinya kalau pihak Tentara di kota Suna, mengetahui hubungan kita ini. Kau tahu sesama angkatan Tentara dilarang saling jatuh cinta di sana, kan?"
"Aku tahu itu. Tapi, aku tidak peduli sama sekali."
"Oh ya, kau tidak takut dihukum berat atau dikeluarkan dari sana?"
"Tidak...," Satsuki menggeleng kuat."Yang penting, aku ingin selalu bersama Naruto. Aku juga rela berhenti menjadi Tentara, asalkan selalu ada di dekat Naruto seperti ini."
Satsuki mengatakannya dengan wajah yang sangat suram. Kedua matanya meredup sayu. Naruto dapat memahaminya dan memegang puncak rambut Satsuki.
"Aku tahu itu. Tapi, kau jangan pernah berhenti menjadi tentara. Kalau bisa kita rahasiakan hubungan ini dari semua orang, bagaimana?"
Memberikan solusi yang tepat, Satsuki mengangguk sekali lagi disertai wajah yang berseri-seri.
"Boleh juga."
"Baiklah... Kalau begitu, jawab pertanyaanku yang tadi?"
"Pertanyaan yang mana?"
"Apa kita bisa bertemu lagi? Hmmm... Maksudku, kita bisa berkencan begitu?"
Tanpa berpikir panjang lagi, Satsuki mengangguk disertai senyuman simpul.
"Bisa. Kapan?"
"Besok. Bagaimana?"
"Bisa."
"Sungguh?"
"Sungguh."
"Oke. Kita bertemu di... Taman ini saja. Jam... 12 siang saja. Bagaimana?"
"Bisa. Sekalian aku akan membuatkan bento untukmu."
"Hm, kau bisa memasak ya?"
"Bisa. Jangan meremehkan aku!"
"Oh ya, bisa aku lihat begitu di markas Tentara. Kau memang pintar cuma memotong bawang merah saja."
"Dobe baka! Jangan meledekku seperti itu!"
"Hei, tunggu... Ada sesuatu yang menempel di bibirmu..."
Naruto mendekatkan wajahnya ke wajah Satsuki. Padahal tidak ada sesuatu apapun yang menempel di bibir Satsuki. Itu hanya tipuan Naruto agar mengambil kesempatan untuk mencuri ciuman pertama Satsuki.
Tentu saja, Satsuki yang seorang Kapten, tidak bisa ditipu begitu saja. Dia pun menahan wajah Naruto dengan tangannya.
"Kalau sampai kau berani menciumku, aku akan menghajarmu sampai tulangmu patah. Kau mengerti, Naruto?"
Wajah Naruto pucat pasi seketika.
"Ta-Tapi... Kita inikan sudah berpacaran."
"Iya, aku tidak mau dicium olehmu."
"Jadi...?"
"Ya, aku tidak mau."
"Satsuki..."
BUAAAAK!
Perut Naruto sukses ditonjok dengan kepalan Satsuki yang begitu kuat. Naruto mengeluh kesakitan dan memegangi perutnya itu dengan kedua tangannya. Berteriak marah pada Satsuki yang dengan santainya pergi meninggalkannya.
"TEME PAYAH! SAKIT, TAHU!"
"Maaf. Aku tidak sengaja."
"JANGAN ULANGI KALIMAT YANG SAMA!"
"Kalau begitu, jangan marah ya."
Berbalik lagi, Satsuki mengambil barang-barang belanjaannya yang sempat dia jatuhkan tadi. Lalu dia sempat juga mencium pipi kiri Naruto sehingga membuat Naruto berhenti marah padanya. Melemparkan senyum manisnya disertai kedipan mata, sehingga sukses membuat Naruto membeku di tempat.
"Ya sudah. Sampai jumpa besok ya, Naruto. Aku pulang dulu."
Dia pun pergi meninggalkan Naruto dengan langkah yang begitu senang. Rambut ravennya yang panjang, bergerak ke kanan-ke kiri seiring dia berjalan di sepanjang jalan setapak taman itu. Hatinya begitu bahagia dan terasa melayang-layang bebas ke langit sana karena sudah mendapatkan cinta Naruto.
Sebaliknya Naruto terus membeku di tempatnya berdiri. Terdiam memandangi kepergian Satsuki. Hatinya sangat bergetar dan ingin meledak sekarang juga!
Betapa bahagianya tidak terkira karena sudah mencapai pelabuhan hati yang ditujunya. Pelabuhan hati itu telah menjadi tempat yang benar untuk dilabuhnya. Kapal cintanya merapat di dermaga pelabuhan hati. Merasakan ombak riang yang melompat senang di tepi dermaga pelabuhan hati itu.
Dengan senyuman yang terukir di wajah, Naruto memegang pipi kirinya itu. Merasakan hangatnya cinta yang diberikan Satsuki padanya.
"Satsuki...," ucapnya dengan nada yang lembut."Terima kasih karena kau memilihku menjadi pacarmu. Aku sangat senang dan tidak sabar memperkenalkanmu pada Paman dan Karin. Besok saja, aku mengajakmu pergi ke rumah Pamanku."
Itulah yang direncanakan Naruto.
Semoga saja, semua impiannya terwujudkan.
.
.
.
Memasak bersama itu memang menyenangkan. Itulah yang dirasakan Naruto.
Saat ini, dia sedang sibuk memasak bersama sang Paman. Pamannya sedang menggoreng ikan, sedangkan dia sedang memotong-motong daun bawang. Sesekali dia tersenyum sendiri dengan wajah yang kemerahan sehingga mengundang si Paman bertanya padanya karena heran.
"Hei, kau kenapa, Naru-chan? Dari tadi Ojisan perhatikan kau tersenyum sendiri seperti orang gila begitu. Ada apa gerangan?"
Sang Paman memasang wajah yang penuh curiga. Dia memandang Naruto yang berdiri di atas meja, tak jauh darinya.
Merasa malu karena gelagatnya diketahui si Paman, Naruto cuma tersenyum sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Kedua pipinya sedikit memerah.
"Ah, tidak ada apa-apa kok, Ojisan."
"Apa benar?" kedua mata Paman menyipit tajam."Sepertinya kau itu sedang jatuh cinta. Ojisan bisa menebaknya dari wajahmu yang memerah."
"Eh? Ma-Masa!? Wa-Wajahku tidak memerah kok."
"Nah... Kau malah gugup. Itu tandanya kau berbohong. Ayo, mengakulah... Siapa gadis yang kau sukai itu? Beritahu pada Ojisan-mu ini."
Si Paman mendekat dan menyenggol bahu Naruto dengan bahunya. Wajahnya terlihat sangat penasaran. Dia berusaha menggoda Naruto agar Naruto mau menceritakan semuanya. Naruto semakin merasa malu saja dibuatnya.
Pada akhirnya, Naruto mengakuinya.
"Ya, aku menyukai seorang gadis dan gadis itu sekarang menjadi pacarku."
"Eeeeeh!? Benarkah? Siapa dia?"
"Rekan seangkatanku di markas Tentara Kota Suna."
"Oh, siapa namanya?"
"Namanya... Uchiha Satsuki..."
"...!"
Tiba-tiba saja, kedua mata sang Paman terbelalak keluar. Dia terkejut setengah mati setelah mengetahui nama gadis yang dicintai Naruto. Pasalnya, dia tahu dengan gadis yang bernama Uchiha Satsuki itu.
'Tidak mungkin. Uchiha Satsuki itu adalah pacarnya Naru-chan. Lalu berarti Naru-chan tidak tahu tentang semua ini. Aku bingung... Apa yang harus kulakukan? Kasihan Naru-chan jika tahu bahwa pacarnya akan menikah dengan kakaknya,' batin sang Paman yang melihat foto Satsuki yang terpapang di layar ponsel Naruto.
Naruto menunjukkannya pada sang Paman dengan cengiran lebar khasnya. Wajahnya begitu berseri-seri. Membuat hati sang Paman menjadi iba karena tidak tega melihatnya.
Naruto kelihatan sangat bahagia karena sudah mendapatkan pujaan hatinya. Sang Paman tidak ingin empedu pahit lagi menimpa perasaan Naruto. Empedu pahit yang berarti kepedihan.
.
.
.
BERSAMBUNG
.
.
.
BALASAN REVIEW:
NS UchTie NS: oke, next nih.
ShiranuiShuichi: iya, nggak akan sad ending kok. Terima kasih ya.
Tectona Grandis: terima kasih banyak udah baca fic ini.
black campaign: oke, next. Ganbatte.
Hagoromo604: iya, sama-sama. Saya akan ingat ini.
666-username: oh, gitu. Tapi, saya lebih suka sasufemnaru.
Ikeda-chan: karena nama Satsuko lebih bagus daripada Satsuki.
Akairo Hoshi: oke, lanjut nih.
Shionner's: bukan homo. Sasuke-nya dijadiin cewek di sini. Saya nggak suka buat cerita tentang homo.
Guest: oke, makasih ya.
.
.
.
A/N:
YUPS, CHAPTER 3 UP!
Dua chapter lagi akan tamat.
Apa yang akan terjadi selanjutnya?
Nantikan di chapter 4.
Bye.
Rabu, 7 Juni 2017
