'Hei senja, mungkinkah ini awal dari harapanku?'

Hah.

Pemuda pirang itu kembali menghela nafas.

Netra biru langitnya tampak sedikit berair yang membuat kedua matanya bengkak-memerah.

Hah.

Namikaze Naruto bukannya tak tau jika menghela nafas dapat memperpendek umur atau mengurangi keberuntungan, namun, hanya itu yang dapat ia lakukan saat ini menurut otaknya.

Saat ini pelajaran tengah berlangsung yang membuat koridor sekolah tampak sepi. Netra biru langitnya menyusuri halaman depan sekolahnya yang ditumbuhi beberapa pepohonan yang tengah menggugurkan daunnya mengingat bulan ini adalah awal musim gugur.

Tidak. Naruto bukanlah siswa berandal yang kerap membolos. Ini bahkan menjadi hari pertama sepanjang 17 tahun kurang hidupnya melakukan kegiatan tak terpuji seperti ini. Tapi, dosakah ia yang membutuhkan waktu sendiri tanpa gangguan Kiba yang kepo dan fisika yang memcekik otaknya.

Ia hanya butuh waktu sendiri. Memikirkan apa yang baru saja ia alami sehinngga membuat air matanya tumpah ruah.

Ia hanya ingin sendiri. Menyalahkan diri sendiri bahwa seharusnya ia tak semelankolis itu meninggalkan pemilik hatinya yang diam mematung-menatapnya aneh.

Ia hanya mencari ketenangannya sendiri. Menyesal telah membuat kesan pertama yang tidak mengenakkan kepada Uchiha bungsu.

Hah.

Narutopun kembali menghela nafasnya.

Salahkan saja hatinya yang terlalu lembek ketika Uchiha Sasuke membentaknya dan memanggilnya dengan panggilan menyebalkan itu.

Ya, salahkan saja dirinya sendiri yang tak mampu menahan air matanya sendiri dan berteriak disertai debuman pintu yang keras layaknya drama-drama kesukaan Kaa-san sehingga membuatnya terlihat seperti wanita.

Hell.

Arrrgh. Jika begini, bagaimana caranya untuk bertemu lagi dengan Sasuke? Atau lebih tepatnya, bagaimana caranya ia menyembunyikan malunya ketika berhadapan dengan pujaan hatinya itu?

Naruto menundukkan wajah manisnya yang membuat beberapa helai rambut pirangnya menjuntai menutupi kening pemuda tan trsebut. Ia tengah berfikir sekaligus berharap agar waktu dapat ia putar ulang sehingga ia dapat memperbaiki segalanya-

-memperbaiki pertemuan pertama mereka. Bisakah?

.

.

.

.

.

.

.


.

AKAMI

Disc: Mbah Massashi yang Terhormat.

Rated: T

Pair: Sasunaru

Warning: Shounen-ai, BL. Ooc chara. EYD berantakaan, typo bertebaran, humor garing dan tema kacangan. Cute Naru.

Don't read if u dislike a boy love, k?


.

.

.

.

.

Kyuubi Namikaze melipat kedua tangannya didepan dada layaknya bos. Kedua matanya terpejam akibat dari lagu instrumen yang kini menggema di kedua telinga pemuda beriris ruby yang tertutupi oleh earphone putih susu.

Tak banyak yang tau memang jika sulung Namikaze ternyata memiliki selera musik halus dan menganggumi beethoven dengan segala keagungannya. Yeah, sangat kontras memang dari dandanannya serta sikap punky bringasnya. Ck.

Segelas capuchino yang kini mulai mendingin terlihat apik diatas meja cafe yang tengah ia kunjungi. Angin musim gugurpun menggelitik tubuh pemuda tampan tersebut walau ia duduk didalam cafe yah faktor tempat duduknya yang tepat disebelah jendela.

Ya, terlihat sangat tenang keadaan tokoh ini. Namun, tak adakah yang ingin tau untuk apa pemuda berambut merah itu repot-repot untuk datang ke cafe dan menghabiskan uangnya ketika ia bisa tertidur pulas diranjang king sizenya yang empuk?

Ssttt, salah satu rahasia Kyuubi, ia sangat amat terlampau irit. Bahkan untuk air mineral gelas yang tak lebih dari 500 perak.

Detik demi detik terus berlalu namun Kyuubi masih khidmat dengan dunianya sebelum sebuah tepukan di bahu kiri sang pemuda menyadarkannya. Kyuubipun membuka matanya refleks lalu kedua iris miliknya menangkap bayangan pemuda cantik berambut pirang yang tengah tersenyum lebar.

"Apakah kau tersesat dijalan bernama kehidupan yang membuatmu harus terlambat 5 menit, Namikaze?" sinia Kyuubi. Iapun menatap tajam pemuda dihadapannya.

Satu lagi yang kita tau dari Kyuubi, ia tak suka menunggu. Tidak, bahkan untuk sedetik pun.

Emm...kecuali untuk adik manisnya itu. Uh,

Oke, juga untuk Kaa-san cantik namun galak. Huft.

Tapi, tetap saja ia benci menunggu. Titik.

Si pirang kembali mengeluarkan cengiran lebarnya. "Ayolah Kyuu-nii kau kan tau jika tempatkj kesini membutuhkan waktu 30 menit." ujarnya. Lalu, iapu mendudukkan dirinya dan meminum capuchino dingi milik Kyuubi.

"Tak punya sopan santun, heh?" Kyuubi merebut capuchino miliknya yang tinggal setengah sembari menyumpah jerapahi pemuda dihadapannya ini tentang betapa beratnya ia mengeluarkan uang hanya untuk membeli secangkir capuchino yang kini bahkan tinggal setengah. "Beli sendiri, sana!"

"Huh, menyebalka ." pemuda cantik tersebut bersidekap. "Untuk apa Kyuu-nii menyuruhku untuk kemari?"

Kyuubi hanya cuek lalu meminum sisa capuchinonya. "Kenapa kau membolos?"

"Kau serius? Aku mengebut dari jarak lumayan jauh sehingga mengancam nyawa orang lain dan terancam akan dihukum mati hanya untuk menjawab pertanyaa bodohmu?"

"Jawab saja, bocah!"

"Menyebalkan!" pemuda cantiktersebut mengembungkan pipinya yang suskes membuat Kyuubi menghadiahi deathglare seram. "Aku sedang capek, okey? Pekerjaanku sebagai anggota klub seni membuatku harus diam sampai matahari terbenam disekolah. Belum lagi, tugas-tugas dari sensei kesayanganku, huh." ia mengendus lalu menyandarkan tubuhnya.

"Sampai matahari terbenam?"

Si pirang menggangguk.

"Jadi, kau tau apa alasan adik manisku berdiam diri disekolah sampai matahari tenggelam sepertimu?"

"Naru di sekolah sampai senja?"

"Ya. Sebulan belakangan ini."

Pemuda pirang menegakkan tubuhnya. "Aku tak tau, sudah kubilang kan jika aku sibuk mengurusi klubku?"

Kyuubi mendengus.

"Aku serius Kyuu-nii!" si pirang memutar bola matanya. "Tapi, mungkin saja ini ada hubungannya dengan Uchiha Sasuke."

"Uchiha?"

"Ya. Dia adalah presiden council di sekolahku dan juga kapten basket. Dia selalu pulang paling akhir karna tugasnya. Hm, mungkin saja sih, tapi menurutku begitu karna aku pulang selangkah lebih awal daripadanya."

"Lalu, apa hubungannya?"

"Entahlah." si pirang mengendikkan bahunya. "Ku rasa, hanya kami bertiga yang pulang paling akhir. Naru, aku dan Sasuke. Jika aku tak tau apa urusan Naru, mungkin saja Sasuke tau karna ketika aku pulang, aku selalu melewati tempat parkir dan melihat sepeda motornya masih disana."

Kyuubi diam.

"Nii-san, kau tau jika Naru sudah besar dan ia bisa menjaga dirinya sendiri."

"Menjaga dirinya sendiri, huh? Ia bahkan sempat akan di-

"Kurama-nii." pemuda cantik itu menatap Kyuubi dalam. Ya, jika seseorang memanggil Kyuubi dengan nama Kurama, itu artinya orang itu sedang serius. "Itu sudah sangat lama. Kini, Naru bahkan tumbuh tinggi dari sebelumnya. Yah, walaupun masih pendek juga sih tapi tetap saja ia berbeda. Ia pasti bisa melindungi dirinya sendiri, nii-san. Percayalah padanya."

Kyuubi mengehela nafas. Ya, pemuda di hadapannya ini benar. Ia harus percaya pada adik manisnya.

"Jagalah sepupu mu itu, Dei. Awasi dan jaga dia. Bantulah aku untuk menjaganya-

-Namikaze Deidara."

Deidara tersenyum manis. "Pasti."


Sasuke mendengus. Entah mengapa, ia tak mengerti mengapa ia repot-repot merasakan perasaan bersalah terhadap pemuda pirang yang ia lempari bola basket. Ia Uchiha. Uchiha tidak pernah merasa bersalah.

Pemuda raven tersebut sedari tadi berdiam diri taman belakang ditemani dengan headset yang terpasang rapi di kedua telinganya. Tubuh atletisnyapun kini tersembunyi oleh dedaunan mengingat posisinya yang berada diatas pohon.

Adakah yang terkejut?

Tidak elite memang, tapi ini merupakan salah satu hobi unik yang dimilki oleh Sasuke jika ia sedang merasa tertekan atau tak nyaman.

Mungkin, si chiken-butt nih tak sadar akan perasaan tak nyaman itu dan malah mengingkarinya. Bukankah ia kini terlihat seperti orang bodoh?

Oke-oke, si tampan Sasuke hanya ingin menjunjung tinggi nilai Uchiha. Bukankah ia sudah katakan dengan sangat jelas jika Uchiha tak pernah meminta maaf, namun adakah yang ingin menyadarkan pemuda ini akan ego yang dimilikinya, huh?

.

.

.

.

.

Naruto menyusuri lorong sekolahnya hingga sampai di taman belakang sekolah. Di tangannya, kini telah bertumpuk berbagai macam snack ditambah ramen instant yang terlihat mengepulkan asap. Ia bukannya tak tau jika waktu istirahat telah lama berakhir yang berarti sekarang seharusnya ia berada dikelas. Duduk dengan tenang di bangkunya dan mencatat apa yang diterangkan oleh sang sensei.

Ekhem. Naruto tidak sedang bolos, oke? Ia hanya butuh sendiri seperti yang di katakannya diatas.

Tapi, mengapa harus membawa banyak makanan?

Jawabannha hanya satu. Dia lapar. Namikaze muda belum makan ditambah lagi dia mengeluarkan energinya untuk menangis tadi. Tambah laparlah dia.

Omong-omong soal pindah tempat -coretboloscoret-menyendiri, ia hanya berfikir taman belakang yabg sepi dan terlupakan merupakan tempat yang nyaman. Bukannya atap tak nyaman, hanya saja kan malas jika ia harus membawa makanan sambil menaiki tangga dan jika ada yang bertanya kenapa tidak kantin, ia belum mau jika kepergok basah bolos sambik makan oleh Anko sensei, guru bp galak yang senang sekali memukul muridnya dengan penggaris kayu jika ketauan bolos.

Jadi, bisakah kalian diam dan membiarkan pemuda tampan ini untuk makan dengan tenang dan nikmat?

Batin Naruto narsis tak sadar diri.

"Nyam...nyam. Ramen memang yang terbaik, ttebayo!" teriaknya setelah menelan suapan ramennya yang pertama.

"Nyam nyam...nyammmm."

"Nyam...nyammm"

Huh, kenapa gaya makanmu sangat berisik sih, Naru?

BRUK!

Uchiha Sasuke melompat dari persembunyian-tidur-nya yang nyaman akibat dari suara kunyahan seseorang yang sangat menganggu. Tidak taukah dia jika Uchiha muda ini tidak ingin di ganggu oleh dan dengan apapun. Garis bawahi apapun.

Tap

Tap

Tap

"Bisakah kau makan dengan tenang?" ucapnya datar plus dingin yang bikin merinding.

Namikaze Naruto yang memang telah hapal dengan pemilik suara ini hanya dapat terdiam membantu. Mengapa doanya cepat sekali terkabul, sih?!

"Tuli, heh?"

MAMPUS KAU NARUTO!

Teriak Naruto dalam hati. Pemuda berkulit tan itu meneguksalivanya kasar lalu menaruh ramennya dan berdiri namun tetap memunggungi sang Uchiha.

Sasuke menaikkan alisnya bingung. Mengapa pemuda pirang ini terlihat aneh dan... Familiar?

Oh! Sasuke tau siapa pemuda ini. Diam-diam, pemuda berkulit putih itu menunjukkan smirknya yang mampy membuat para kaum hawa menjerit. Huh, lebay.

Lain Sasuke, lain pula dengan Naruto. Pemuda pirang itu tengah mengatur nafas lalu kemudia iapun lari terbirit meninggalkan pemuda raven yang menatapnya geli.

Dan?

Sasukepun mengejar si pirang dengan langkah cepat karna lari sangat tidak elite menurutnya. Hah.

.

.

.

.

"MAU APA KAU, TEME?!" jerit Naruto. Saat ini posisi mereka benar-benar membuat jantungnya berdetak tidak tenang. Bayangkan saja, bagaimana mau tenang jika ia tengah berada dalam kunkungan si raven yang memojokkannya di dinding ditambah lagi jarak mereka yang terlalu dekat bahkan hidung mereka hampir bersentuhan.

"Hn dobe."

Naruto berusaha keras untuk menunjukkan sikap garangnya. Ia tak mau dicap cengeng atau lemah dihadapan sang pujaan hati. Iapun mengarahkan tatapan nyalangnya kepada pemuda beriris onyx dihadapannya ini walau dalam hati memuja. "Berbicaralah yang jelas, teme! Aku tak mengerti bahasa alienmu!"

Hening.

Hening.

Sasuke menatap pemuda yang tengah ia kurung ini dengan pandangan tak dapat ditafsirkan.

"Teme?"

"Jadilah pacarku."

"HAHHH?!"

ToBeCountinued...

A/n: AHHHHH OBS KEMBALIII~ maafkan obs yang update cerita sangat lama, ne? Hehe, waktu obs ketik story nih banyak banget rintangannya dari rl obs yang ada sesuatu gak mengenakkan sampe gada feel. Huh. Gomen, maafkan obs ya! *bungkuk-bungkuk* obs juga ngerasa jika chap kali ini tidak memuaskan dan banyak typonya hiks! Tapi obs udah berusaha semaksimal mungkin, ciyus deh._. Obs ucapkan banyak terimakasih atas review kalia , serius obs baca berkali-kali saking senengnya. Maaf ya kalo obs gasempet bales review huhu, maafkan obs yang penuh kekurangan ini u,u. Terima kasih juga untuk senpai yang sudah memberi saran dan mengingatkan obs, love u full! Ya, semoga chap depan lebih baik lagi. Hehe^^ obs mohon review dan sarannya, ne?^^ arigatou saranghae!

Review jangan lupa, oke?^^

Ketjup, obs29.