Disclaimer : Masashi Kishimoto
Warning : Typo, OOC, Gaje dan kesalahan di sana-sini, crack pair, alur lambat
Ide pasaran
Pair
SasuIno
.
.
.
.
.
Ino menguap berkali-kali, saat mendengarkan cerita Tenten tentang knight.
"Knight merupakan sekumpulan orang-orang populerdari kelas golden, dipimpin oleh Uchiha Sasuke pria yang terkenal dingin, kejam, dan sombong. Merupakan anak bungsu dari keluargaUchiha, anehnya banyak wanita yang tergila-gila dengannya bahkan anak kepala sekolah pun menyukainya" Ucap Tenten panjang .
Seperti biasa kelas mereka tidak ada gurunya. Tidak perlu di jelaskan kenapa? Kalian pasti sudah tahu. Kelas yang di huni oleh siswa-siswi biasa saja. Orang tua mereka hanya pegawai swasta. Jauh berbeda dengan platinum 1, yang masih mendapat perhatian dari guru-guru lainnya. Karena mereka dari kalangan berada.
"Anggota yang kedua Hyuuga Neji, terkenal karena begitu tampan, pintar dan jangan lupakan senyumnya yang begitu menggoda wanita mana pun" Ucap Tentenn dengan wajah yang berbinar
Ck
Ino hanya berdecak menanggapi ucapan Tenten yang terlalu berlebihan menurutnnya .
"Ketiga ada Sabaku no Garaa."Ino mulai memasang wajah tertarik. Ia mulai menajamkan pendengarannya.
"Pria yang sangat romantis, tetapi pendiam, dingin dan sangat tertutup. Gosipnya dia berpacaran dengan Hinata, tetapi. entahlah mereka sama sekali tidak mengumumkan hubungan mereka kepublik. Hanya Tuhan dan mereka yang tahu soal itu"
"Yang terakhir the one and only lady in Knight Hyuuga Hinata, gadis yang terkenal paling dekat dengan Garaa. Tidak hanya cantik dia gadis yang lembut dan ramah. Dia yang akan selalu menjadi penengah, jika ada salah satu murid yang membuat keributan dengan Knight."
"Hanya orang bodoh saja. Yang mencari keributan dengan mereka" Ungkap Tenten.
Kring, kringggggg
Tanda Bel pulang menggema keseluruh penjuru kelas. Ino dan Tenten memasukan barang-barang mereka kedalam tas.
Di sepanjang lorong sekolah tak henti-hentinya Tenten, masih mengoceh tentang para knight.
Membuat kepala Ino terus berkedut.
"Ohh tunggu! Aku hampir lupa ada sekumpulan wanita yang harus kau hindari."
Tiba-tiba Tenten memegang lengan Ino.
"Sudahlah besok saja, aku lelah Tenten" Ino mulai mengeluarkan protesannya.
Yang bahkan sama sekali tidak digubris oleh Tenten.
"Kau harus dengar. ini penting!" Ucap Tenten dengan nada yang di buat-buat serius
"Kelompok itu di ketuai oleh anak kepala sekolah yang menyukai Sasuke. Namanya Haruno Sakura.
Ahh itu mereka" Tenten menunjuk sekumpulan wanita yang tengah berjalan kearah mereka, lebih tepatnya parkiran.
Tenten menarik Ino kepinggir, untuk memberi jalan pada mereka.
"Queen of IHST itu julukan untuk Sakura, dia pernah mengeluarkan beberapa murid yang menurutnya pengganggu bahkan dia sering membully dan mempermalukan anak-anak yang tidak bersalah " Bisik Tenten.
"Hanya karena dia anak kepala sekolah dia selalu seenaknya saja" Gadis bercepol dua itu mendengus kesal.
"Padahalkan dia bukan pemilik sekolah ini"
"Memangnya siapa pemilik sekolah ini? oh aku tahu." Ino mulai menebak-nebak.
"Pasti para Knight" Ucapnya dengan antusias.
"Aishhh. Hanya karena mereka orang kaya, bukan berarti mereka pemilik sekolah ini" Tenten mengerucutkan bibirnya. Ino menghela nafas pasrah.
"Jadi…"Ino mengerutkan keningnya.
"Entahlah, aku juga tidak tahu siapa pemilik sekolah ini, benar-benar selalu ditutupi identitasnya"
"Aku jadi penasaran" Ino menganggukan kepalanya.
"Jangan kau. Bahkan aku dan seluruh penghuni sekolah juga penasaran."Tenten merangkul pundak Ino dan tersenyum lebar.
"Sudahlah ayo kita pulang! Tidak usah dipikirkan" Tenten menarik Ino tanpa melepaskan rangkulan nya,
"aishhh aku lupa" Tenten menepuk jidatnya
"Karena keasyikan mengobrol aku lupa tugas ku, aku harus ke kedai sekarang"
"Kedai?" Tanya Ino.
"Keluargaku punya Kedai ramen, aku berjanji pada Kaa-san untuk membantunya hari ini" Tenten menghampiri scooternya.
Ino hanya mengangguk tanda mengerti.
"Sebaiknya aku cepat pergi. kapan-kapan aku ajak kau ke kedai ku." Tenten mulai menyalakan mesin scooternya. tak lupa memakai helm kesayangannya berwarna pink yang senada dengan warna scooter miliknya.
Menengok sekilas kearah Ino yang sudah mendorong sepedanya. Melambaikan tangan kanannya
"Jaa.." Ino hanya tersenyum kecil.
.
.
.
.
Ino terus mengayuh sepedanya. Ia terhenti di kawasan apartement elit di Tokyo yang tak jauh dari sekolahnya.
Gedung Apartement menjulang begitu tinggi. Terdiri dari 30 lantai, dengan sistem pengamanan 24 jam.
Setelah memarkirkan sepedanya, Ino berjalan menuju lift tak lupa senyum menghiasi wajahnya saat bertemu staff apartement.
Di tekannya tombol 2 dan 4 dimana tempat tinggalnya berada.
Hanya ada beberapa orang yang memasuki lift, dan mereka semua sudah turun di lantai 20
Ting. Ting
Pintu lift terbuka di lantai 24, lantai itu hanya berisi 4 apartement .
Karena lantai 24 merupakan kelas eksekutif.
Ino berhenti di pintu pertama, di keluarkanya idcard kepemilikannya. Di geseknya pada layar kecil di samping kanan dekat pintu masuk.
Pintu terbuka menampilkan ruangan yang begitu luas terdiri dari 2 kamar utama, 2 kamar ukuran medium, 1 dapur yang berhadapan dengan meja makan, sedangkan di samping kiri dapur berisi meja tinggi dan kursinya di rancang seperti bar kecil. Tak lupa wine dengan merk mahal menjadi pajangan.
Ino melangkahkan kakinya ke ruang teve, dilihatnya sang adik yang tengah asyik bermain PSP di atas sofa, dengan teve yang masih menyala, makanan ringan berserakan dimana-mana.
"aishhh. Bocah apa yang kau lakukan?" Ino berkacak pinggang, matanya melotot melihat ruangan yang begitu berantakan.
Naruto menengok sekilas ke arah Ino, ia lebih memiliih kembali fokus pada PSP-nya.
Ino tersenyum licik, di rebutnya PSP milik Naruto.
"Akan ku kembalikan setelah kau merapihkan tempat ini." Dengan santai Ino melangkah menuju kamarnya setelah merampas PSP Naruto.
"Bibi, kembalikan PSP ku!" Naruto berusaha mengejar Ino
"Tidak akan, sebelum tempat itu kembali seperti semula"
"Aku tida.." bragggh. Dengan kerasnya Ino menutup pintu kamarnya, tepat di depan wajah Naruto..
"Awas kau bibi, tunggu pembalasan ku" Naruto berteriak kesal,
Dengan berat hati ia menjalankan perintah kakaknya. Terus mengumpat, sesekali menengok kearah kamar Ino. Tak terasa ruangan sudah kembali bersih seperti semula.
"Ahh aku memang anak rajin" Naruto tersenyum bangga melihat hasil kerja kerasnya.
.
.
.
.
Ino keluar kamar. Setelah menyelesikan ritual mandinya, ia berinisiatif untuk membuat makan malam untuknya dan Naruto.
Hari ini Deidara akan pulang larut, kakaknya memberitahu lewat telepon.
Dengan kepala yang masih di balut handuk, Ino melangkahkan kakinya menuju dapur, langkahnya terhenti saat melihat ruang TV yang begitu sunyi seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan.
Karena tidak menemukan objek yang di carinya. Ino bergegas ke ruang TV. Dia mendesah lega ketika melihat Naruto tengah meringkuk seperti bayi di atas sofa. Ino berjongkok mensejajarkan tingginya dengan Ino. Dengkuran halus keluar dari mulut Naruto seketika rasa jail menyelimuti gadis blonde itu.
Setelah puas dengan hasil karya tangannya, ia pergi menuju dapur untuk membuat ramen cepat saji.
Selama menunggu ramen pikiran Ino dipenuhi Gara dan Hinata.
Kenapa harus bertemu mereka di sini?Kami-sama aku masih belum bisa menghadapi mereka.
Masalah dengan orang itu saja membuat ku pusing sekarang orang dari masa lalu hadir kembali.
Seandainya aku masih berada di konoha.
Meski Hinata tak bersalah kenapa sangat sulit untuk memaafkannya.
Kesalahan kami adalah karena kami mencintai laki-laki yang sama, yah hanya itu.
Ino terus melamun, sampai-sampai tidak sadar jika Naruto sudah di hadapannya.
"Ini bagian ku?" Tanya Naruto Menunjuk ramen yang dekat jangkauannya, malas menanggapi Ino hanya mengangguk mengiyakan.
"Kau itu sudah jelek bibi, jangan suka meratapi nasib seperti itu" Ledek Naruto sambil terus memasukan ramen kemulutnya.
Ino terbelalak matanya melotot dengan sempurna. Di lihatnya Naruto duduk manis, tanpa rasa bersalah sedikit pun atas ucapannya.
"Apa?" Tanya Naruto dengan polos.
"aishh, kau…" Ino menunjuk Naruto, niat ingin marah pun tak jadi ketika melihat wajah sang adik yang di coret spidol hitam hasil ulahnya.
Ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya menahan tawa.
"Kenapa kau tertawa?" Tanya Naruto penuh selidik, ia memicingkan sebelah matanya menatap curiga sang kakak.
"Tidak apa. Lanjutkan makan mu! Aku akan makan di kamar saja" Ino mengambil langkah seribu sebelum adiknya menjadi marah besar padanya.
"Aku jadi lebih curiga padanya" Naruto bangun dari kursinya menuju westafel. Matanya membulat melihat wajahnya yang mempunyai kumis hitam.
"Akan ku bunuh kau bibi" Teriak Naruto.
Di kamar Ino tertawa pecah setelah mendengar teriakan Naruto.
"Mana mungkin kau ingin membunuh ku jika kau sangat menyayangi ku" Ucap Ino yang suaranya tak mungkin didengar oleh Naruto.
.
.
.
.
Suasana kantin School of Tokyo selalu ramai dan padat seperti biasa, membuat dua gadis cantik yang berbeda warna rambut itu harus berdesak-desakan untuk membeli makan siang mereka.
"Kita makan di taman saja Ino-chan" Usul Tenten, ketika sudah mendapat makanannya. Taman memang menjadi salah satu tempat favorite mereka, di sana tidak akan sesesak di kantin karena jarang sekali siswa-siswi yang menghabiskan waktu istirahat di sana.
"Cepatlah, sebelum para perusak telingan datang" Ucap Ino asal. Tenten yang mendengarnya tersenyum geli, ia mengerti yang di maksud Ino ialah para Knight dan para siswi akan menjerit histeris jika melihat mereka.
"Kyaaaa..." Tak lama jeritan sudah menggema ke seluruh kantin.
"Ku bilang juga apa"Ucap Ino, ia mulai memasangkan Ear phone yang menggantung di lehernya untuk menutup kedua telinganya.
Mereka berdua bersusah payah keluar dari kerumunan, Tanpa sengaja seseorang menubruk Tenten hingga membuat gadis bercepol dua itu kehilangan keseimbangan.
Brughh.
Tak sengaja minuman dan makanan yang ia pegang jatuh mengenai seseorang.
Suasana di kantin hening seketika, aura kegelapan mulai menyelimuti seluruh kantin.
"Gomen, aku tidak sengaja" Ucap Tenten, Kedua tangannya sibuk membersihkan baju orang yang ditabraknya.
"Singkirkan tangan kotor mu dari baju ku" Ucap pria itu dengan dingin, ia menepis tangan Tenten dengan kasar.
Semua orang terlihat menahan nafas dan menegang. Tenten mendongak menatap pria yang ia tabrak.
"Uchiha Sasuke" Lirihnya, raut wajahnya mengucapkan seribu penyesalan.
Meski Tenten telah menjadi siswi yang di takuti di kelasnya, tetapi nyalinya akan menciut jika berhadapan dengan Sasuke ia takut tak dapat menghirup udara segar lagi.
"Maafkan aku Uchiha-san" Ucap Tenten, gadis itu terus membukukan badannya berkali-kali.
Ino yang melihatnya mendengus sebal, tak suka Tenten yang merendahkan diri.
Sasuke tak bergeming, Onyx-nya menatap nyalang pada gadis di hadapannya. Tanpa di duga Tangannya mengambil minuman yang di pegang salah satu siswi di dekatnya.
Byurr.
Ia menumpah seluruh isi gelas itu ke Tubuh Tenten, seketika orang-orang tertawa melihat Tenten.
"Tenten" Ucap Ino panik mendekati temannya gadis pirang itu memberikan sapu tangannya pada Tenten.
"Sasuke-kun" Cicit Hinata, ia tak menyangka Sasuke akan melakukan hal itu.
Sedangkan kedua teman laki-lakinya hanya menatap bosan.
Pandangan Ino beralih pada Sasuke. Aquamarine bertemu onyx tatapan keduanya sangat tajam seolah-olah telah siap membakar seluruh kantin.
"Kau" Ino menunjuk Sasuke, tangan satunya terkepal erat.
"Bukankah Tenten sudah minta maaf? Kenapa kau menyiramnya?"Tanya Ino geram.
Sasuke mangangkat sebelah alisnya, melihat gadis di hadapannya yang tak takut sama sekali padanya.
"Dia mengotori baju ku" Ucap Sasuke tajam.
"Jangan menunjuk ku seperti itu, atau kau akan kehilangan tangan mu" Ancam Sasuke, suaranya begitu keras dan mengintimidasi.
Seolah ancaman itu hanya angin lalu, Ino tak peduli.
"Kau hanya laki-laki pengecut yang berani mengancam perempuan" Ino mendengus sebal, ia melirik keadaan temannya yang begitu menyedihkan rambut Tenten pasti lengket terkena minuman.
Sedangkan Sasuke semakin geram pada gadis di hadapannya berani-beraninya ia mempermalukan dirinya. Tak terima ia mengucap ultimatum pada semuanya.
"Untuk semuanya, pastikan kedua gadis ini merasakan apa yang namanya neraka" Ucapnya keras, semua yang mendengarnya terdiam sesat.
Tenten yang mendengar itu mulai berkaca-kaca, sedangkan Ino hanya tersenyum kecut mendapatkan firasat hidupnya tak akan berjalan baik setelah ini.
Setelah orang-orang mengerti ucapan Sasuke, mereka menjalankan aksinya. Mereka melempar makanan kearah Ino dan Tenten.
Kedua gadis itu meringis, sedang Sasuke tersenyum sinis melihatnya.
"Hentikan"Teriak Ino, tetapi ucapannya tak di dengar siapa pun.
"Sasuke-kun hentikan" Ucap Hinata, yang di hiraukan oleh Sasuke. Ia menatap sepupunya dan Garaa untuk meminta bantuan.
Dughh.
Ino menendang kursi di dekatnya, hingga terbentur dengan tembok sehingga kursi itu tergeletak rusak.
Semua orang menghentikan aksinya, Sasuke menatapnya seduktif.
Nafas Ino memburu, kesabarannya sudah habis kedua tangan terkepal erat sehingga tangan putihnya memerah.
"Berani kalian melempar makanan lagi, akan ku pastikan nasib kalian seperti kursi itu"Suaranya bergetar marah, mata nya menatap seluruh penghuni kantin tatapannya beralih pada sesosok laki-laki berambut raven.
"Makanan itu bukan untuk dibuang"Ucap Ino tenang, ia mengambil jus yang tergeletak di atas meja.
Menatap Sasuke penuh arti. Gadis blonde itu mengacungkan gelas berisi jus ke hadapan wajah Sasuke.
"Makanan itu untuk dimakan, dan minuman untuk diminum" Ino meneguk sebagian isi jusnya.
Sasuke terus menatap Ino, wajah stoicnya melihat gerak-gerik yang mencurigakan.
Byurr
Ino menumpahkan sisa jusnya ke wajah Sasuke.
"Apa yang kau lakukan gadis bar-bar?"Geramnya, tanganya siap melayang menampar Ino jika saja Garaa tak menghentikannya.
"Dia seorang perempuan" Ucap Garaa. Ia menatap Ino penuh arti ada kerinduan yang terpancar di dalam matanya.
"Aku tidak pernah butuhh bantuan mu" Ino menatap tajam Garaa
"Kau…" Desis Sasuke.
"Sasuke-kun sudahlah" Hinata menengahi.
"Kau memang seorang pengecut" Ucap Ino, ia tersenyum mengejek pada Sasuke.
Ino meninggalkan kantin di ikuti Tenten di belakangnya.
Sasuke tidak terima jika dirinya di permalukan, jangan katakan ia seorang Uchiha jika tidak bisa membuat gadis itu menderita.
"Tetap jalankan perintah ku atau kalian akan merasakan akibatnya" Sasuke mengucapkan ultimatum yang kedua. Setelah itu kakinya melangkah keluar di ikuti teman-temannya.
.
.
.
.
Ino dan Tenten membersihkan diri mereka di toilet. Keduanya tak membuka suara apa pun terlalu fokus dengan pikirannya masing-masing.
"Sepertinya kita harus pulang dengan baju kotor" Ucap Tenten pertama kali membuka suara.
"Maaf kan aku karena aku, kau juga terkena imbasnya"
"Kita teman bukan?" Ino tersenyum kearah Tenten
"Seorang teman yang baik harus membantu temannya yang sedang kesulitan"
"Terimakasih Ino" Tenten memeluk Ino, hatinya begitu sakit mendapat perlakuan buruk dari Sasuke.
Tubuh gadis penyuka beladiri itu bergetar menangis.
"Aku takut jika aku di keluarkan dari sekolah" Isak Tenten.
"Tidak akan ada yang bisa mengeluarkan mu dari sekolah ini, selama aku masih berada di samping mu" Ino menghapus air mata yang membasahi pipi temannya atau lebih epatnya kita sebut saja sahabat.
"Eheum" Tiba-tiba suara menginterupsi kegiatan mereka. Ino dan Tenten saling pandang melihat siapa yang datang.
"Anoo… Ini" Hinata memberikan dua seragam yang baru kepada dua gadis di hadapannya.
"Pakailah! Aku takut jika kalian akan sakit" Hinata tersenyum tulus meyakinkan.
"Terimakasih" Ucap Tenten. Sedangkan Ino hanya memandang kosong pada Hinata.
Keduanya saling menatap Hinata ingin sekali mengeluarkan kata-kata tetapi mulutnya seolah terkunci ketika melihat aquamarine Ino yang penuh dengan luka dan kebencian.
"Jangan pedulikan aku, anggap saja jika aku bukan Ino yang kau kenal dulu" Setelah mengucapkan kalimatnya Ino meninggalkan Hinata yang murung dan merasa bersalah.
Tenten yang tak tau apa-apa mengejar Ino
"Terimakasih sekali lagi Hyuuga-san" Teriak Tenten tangannya mengacungkan seragam pemberian Hinata.
Masih di dalam toilet Hinata menangis dalam diam
.
.
.
.
Ino telah sampai di kelasnya. nafasnya masih terengah tidak beraturan.
Menghindar adalah salah satu pilihan terbaik untuk saat ini dari Hinata
Sepanjang sisa jam sekolah Ino bertingkah berbeda dari biasanya, di sepanjang pelajaran berlangsung ia hanya gunakan untuk melamun
"Apa kau baik-baik saja?" Tenten bertanya lagi pada Ino.
"Sudah berapa kali aku bilang. Aku baik-baik saja Tenten" Ino berusaha keras meyakinkan Ino juga tahu Tenten pasti merasa malu hari ini, kemungkinan semuanya akan menjadi rumit. Kejadian di kantin tadi serta Hinata kini mendominasi otaknya.
Aahhh kenapa kepalaku akhir-akhir ini selalu migrain. Padahal belum genap sebulan aku disini hidup ku tidak akan tenang.
Aku tidak boleh berpikir yang tidak-tidak. Nanti kecantikanku tidak bersinar lagi.
Biarkan semuanya berjalan sesuai rencana Tuhan.
Tenten terus memperhatikan Ino yang asyik melamun. Terkadang ekspresinya berbeda-beda, Ino mengangguk-angguk seolah tengah mengerti tentang sesuatu. Terkadang ia mengelengkan kepalanya alisnya tanda kebingungan mungkin. Dan gumaman kecil kata andalannya.'Menyebalkan' atau 'ahh'
Itu semua membuat Tenten kebingungan
'Apa yang dia pikirkan sih? Jika di saat seperti ini. terkadang aku ingin sekali menjadi cenayang'
'Kenapa Ino berbicara kasar pada Hinata seolah-olah mereka telah kenal sejak dulu. Sudahlah itu bukan uusan ku'
Tenten kembali mengerjakan tugas math-nya. Guru pelajaran di jam terakhir tidak masuk kelas.
Wali kelasnya Matsuri, tadi memberitahu mereka. Gurunya sedang ada keperluan.
'ahh alasan klasik' Ino mengumpat kesal. Dia paling tidak suka guru yang seperti itu.
Kelas pun menjadi gaduh dan rusuh sepeninggalan Matsuri-sensei..
Tak sampai 20 menit. Ino sudah menyelesaikan tugas math-nya. Dia tak ingin membuang waktu yang menurutnya berharga
Sampai-sampai Tenten di buat melongo olehnya, sungguh takjub bukankah dari tadi Ino hanya melamun. Memang sesekali dia menulis kan sesuatu di bukunya. Tapi Tenten masih Tak habis pikir dengan Ino.
'Itu wajar saja. Dia kan murid beasiswa' Tenten menganggukan kepalanya, seperti orang linglung
"Apa ini benar-benar sudah selesai?" Tanya Tenten yang masih tak percaya. Dengan bodohnya dia membolak-balikan buku Ino
"Aku sudah selesai. Terserah kau mau melihatnya atau tidak" Dengan santainya Ino mengeluarkan Earphone plus i-pod kesayangannya.
Tentu saja Tenten girang dengan apa yang di ucapkan Ino. Tak membuang kesempatan yang ada ia mengangguk antusias.
Tenten menyalin tugas milik Ino Matanya begitu berbinar-binar. Seolah-olah dia baru mendapatkan lotre.
Ino mengalihkan pandangannya keluar jendela. Dilihatnya sekumpulan anak-anak yang memakai pakaian olahraga.
Sungguh sekolah yang aneh. Olah raga di waktu matahari begitu terik seperti ini.
Bagaimana jika kulit
mereka terbakar?
Mungkin mereka sudah memakai SunBlock.
Tetap saja itu 'menyebalkan'Ino terus menatap mereka. Hingga akhirnya kelas itu membubarkan barisan.
Sepertinya sudah selesai.
Tetapi tak sepenuhnya mereka membubarkan diri.
Ada yang melanjutkan bermain voli, adapula yang menuju kantin.
Dan mata Ino tertuju pada sosok yang tak asing baginya. Sesosok laki-laki dan perempuan. Mereka sedang duduk berdua di bawah pohon. menjauh dari kumpulan teman-temannya. Siapa pun yang melihat mereka pasti mengira sepasang kekasih.
Laki-laki itu menyodorkan sebotol minum pada sang gadis. Dengan senang hati gadis itu menerimanya, bahkan langsung habis dalam sekali tegukan.
"Wow" Gumam Ino
Entah apa yang mereka tengah bicarakan. Ino tidak bisa mendengar apapun. Ia hanya bisa melihat ekspresi gadis itu yang terkadang kesal, jengkel, sedih, memerah entah karna malu. Terkadang gadis itu mencubit pinggang si pria. Pria itu hanya meringis dan tertawa. gadis itu tersenyum dan ikut tertawa bersama laki-laki di sampingnya.
Mereka memang serasi, ahh kenapa rasana sakit sekali.
"Gaara" seorang laki-laki berambut panjang berteriak memanggil nama pria itu.
Yang di panggil hanya mengacungkan jempolnya. Dia beralih pada gadis di sampingnya. Sepertinya meminta ijin untuk bergabung dengan teman-temannya. Garaa menunjuk sekumpulan anak yang tengah bermain basket.
Ino mengalihkan pandangannya.
Deg
Sejenak pikiran Ino hening. Bibirnya terasa kelu. Pandangannya tak bergerak
ataupun beralih. Ino terpaku. pada seorang pria dengan mata onyx yang tengah melihat ke arahnya. Sinar mentari mempertegas wajah tampan sosok itu.
Wajahnya putih membuat sosok itu tampak misterius, mempesona, menusuk dan satu lagi Seksi.
'Sayang kau mempunyai sikap yang buruk'Ungkap Ino
Mereka tetap saling pandang kebencian terselip di pandangan kedua insan itu.
Sasuke bergumam sesuatau lalu melangkah pergi, Ino yang tak dapat mendengar suara Sasuke hanya mengangkat kedua bahunya tak peduli.
'
'
'
"Bersiaplah merasakan yang namanya neraka Namikaze Ino" Ucap pemuda berambut raven yang masih memandang Ino. Kedua tangannya terkepal didalam celana nya.
Ia lalu melangkah menjauh dari teman-temannya, senyum licik atau lebih tepatnya seringai yang kejam masih menghiasi wajahnya.
Semoga saja Ino selalu di berkahi keberuntungan sehingga ia dapat bertahan dari takdir rumit yang akan membelenggunya. Bersiap-siap lah menghadapi Uchiha bungsu yang tengah di selimuti kegelapan.
_TBC_
A/N: jangankan kalian aku aja gak ngerti ini cerita apa.
Maklum otak saya korselet, so yang baca fict ini semoga tetap normal..
#Peace
