Tsuna's day out

[part III: Inspektur Hibari]

Summary: TSUNA DICULIK! Dan Papa Giotto tahu siapa pelakunya. Komisaris Besar CEDEF, Alaude dan asistennya Inspektur Hibari mengejar sang pelaku penculikan yang sudah pasti tak dapat ditangkap dengan mudah!

Pairing: G27, 1869, GxAla, DaeAla, Dae69, 10027, 100xAla, 10018

Rating: K menjurus ke T

Disclaimer: KHR punya Amano Akira. Hibari punya saya #digigit ampe mokad#

Warning: OOC dosis tinggi, typo (mungkin), abal, alay, gaje, jayus, tidak memenuhi kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar, mengandung beberapa ucapan yang secara (tidak) sengaja menghina beberapa pihak yang bersangkutan, dapat menyebabkan ambeien(?), mual, muntah, stress ringan dan kebosanan kronis. Don't like don't read.

.

.

.

.

.

.

.

.

"kufufufufufufufufuuu….dia moe sekali." si nanas biru itu berkufufu-ria samba memangku Tsuna yang tak sadarkan diri. "aku jadi ingin me-rape-nya."

"nufufufu…aku juga. Gimana kalo kita threesome-an aja?" sambung si semangka yang masih memarkikan mobil timor itu.

"eeeh! Ndak boleeeeeh!" Byakuran langsung menyambar Tsuna yang masih dibius kedalam pelukannya. "kalian, nanas dan semangka mesuuuum!"

"oya, oya! Aku bercanda, Byakkun." Ucap si nanas.

"oya, oya! Aku juga." Kata si semangka juga.

"oya, oya! Kau sungguhan ingin melakukannya, Daemon!"

"oya, oya. Sudah kubilang aku bercanda, Mukuro."

"oya? Kau sungguhan."

"nu…" Daemon menghela nafas. "oya, katakan sekali lagi atau kau yang aku rape."

"ku…." Si nanas yang telah diketahui bernama Mukuro kalah telak. "oya? Kau memangnya berani? Dasar uke."

"oya, oya. tentu saja, uke-nya uke."

Ini lama-lama judulnya jadi oya-oya.

"aaaaah!" Byakuran yang stress berteriak frustasi. "oya, oya, kufufu, nufufu! Berisik sekali kalian berdua ini! kalian tidak tahu bahwa tidur siang sangat bagus untuk anak TK?"

Baik Daemon maupun Mukuro terdiam. Mereka memasuki sebuah apartemen murah yang diketahui milik Mukuro dan menidurkan Tsuna diatas ranjangnya yang beralaskan seprai bergambar chibi nanas dan meninggalkannya begitu saja. Byakuran menggeledah isi kulkas mukuro dan memakan beberapa butir apel sambil duduk selonjoran disofa terdekat.

"Daemon, buat apa sih kau culik anak kecil innocent itu?" tanya Byakuran heran.

"oya, bukan anaknya. Tapi ayahnya." Daemon ber-nufufufu-ria sambil menyalakan televisi. "kalau dia menyayangi anaknya dia pasti akan kembali lagi dalam pelukanku. Nufu…"

"entah kenapa aku jadi kasian dengan si ayah itu." Mukuro sweatdrop. "pernah jatuh cinta padamu."

"nufufu….dia mantan terindahku."

"CLBK, dong?" Byakuran menyela.

"apa itu?"

"cinta lama belum kelar ^^. Jangan paksakan dirimu, daemon. Nyata-nyatanya sekarang lelaki itu telah menyadari kodratnya dan menikah seorang wanita dan sekarang menjadi imam dan kepala keluarga yang sakinah, mawadah dan warohmah."

Daemon melempar Byakuran dengan barang yang paling dekat dengan dirinya. Karena cukup mengerikan maka tidak akan dideskripsikan.

"hentikan ceramahmu itu, Byakuran! Mukuro, urusi anak itu. aku ada sedikit perhitungan bersama teman kita yang satu ini. oya, dan jangan di rape."

"kufufufu…akan ku usahakan."

Mukuro memasuki kamarnya dan disana si-anak-teka-tidak-beruntung-yang-sedang-diculik-om-om-homo-mantan-pacar-ayah-angkatnya-yang-diketahui-memiliki-wajah-yang-kawaii-dan-moe-yang-dapat-menyebabkan-pendarahan-berat-dihidung (baca: Tsuna) sudah bangun dan menatap seseorang yang sedang ber-kufufu-ria sambil nyender dipinggir pintu seperti tokek #disodok trident# anak itu menatap mukuro dengan pandangan berbinar dan decak kagum seakan-akan mukuro adalah Justin B*eber.

Tsuna masih menatap Mukuro.

Mukuro menatap Tsuna tak mengerti.

Tsuna menunjuk Mukuro.

"nanaaaaaaaassss!"

JEDEEEEEERRRRR!

Mukuro merasa kepalanya ditiban batu-bata seberat 3 kuintal. Meskipun mirip nanas, mukuro tidak pernah sudi dipanggil nanas.

"aku bukan nanas, aku bukan nanas, aku bukan nanaaaaasss!" ucapnya dalam hati meyakinkan dirinya sendiri sambil membenturkan kepalanya berkali-kali ketembok. lalu mukuro merekahkan senyuman seme-nya dan dengan lembut duduk disebelah Tsuna.

"kufufufu, dear! Aku bukan nanas."

Merasa kecewa, Tsunapun tertunduk. "yaaah, =3=. Terus apa, dong kalau bukan nanas? Terong belanda?"

"ku..kufufufu, mau nanas, terong belanda, dua-duanya bukan. aku mukuro. Temannya byakuran. Tadi saat kau mau diajak makan eskrim kau malah tertidur. Jadilah kau dibawa kesini."

"ooh, gituuuu." Tsuna manggut-manggut mengerti. "sekarang om nanas mau ngapain disini?"

"kufufufu, sudah kubilang aku bukan nanas!" geram Mukuro geregetan. "aku disuruh mengurusmu sementara ini."

"mengurusku. Oh, oh! Om nanas mau bacakan aku buku cerita, nggak?"

"oya, cerita apa? Tiga babi kecil, Hansel-gretel, sleeping beauty?"

"iniiiii!" Tsuna mengorek tasnya dan menemukan sebuah buku. Ia memberikannya pada Mukuro. "bacakan aku ini, om nanas!"

THE DA VINCI CODE

JEDEEEERRR!

Mukuro merasa kepalanya ditiban batu kali seberat tiga ton.

"ku..kufufu, dear! Ini bukan buku cerita anak-anak." Mukuro berusaha menahan batas kesabarannya.

"masa? Gokudera-kun baca buku ini, kok!"

"siapa itu Gokudera-kun?"

"anaknya G-sensei, seumurku juga. Dia yang mengajari aku membaca, menulis, berhitung, bernyanyi, fisika, kalkulus, logaritma, kimia, melukis, menyetir mobil sampai nyolong jambu dari pohon milik apartemen sebelah."

Itu anak TK atau Professor dari galaksi sebelah sana?

Mukuro sweatdrop. "ba…..baca ceritanya nanti saja, ya! bagaimana kalau kita ganti baju dulu, lalu minum susu?"

"mauuu!"

Mukuro mengambilkan celana kodok, kaus oblong berwarna oranye dan kaus kaki serta sepatu ukuran anak-anak yang muncul entah dari mana; mungkin daemon spade yang membelikannya (niat amat mau culik anak orang?) dan berlutut didepan Tsuna. Anak TK itu merentangkan tangannya keatas dan mukuro mulai membukakan bajunya.

"ku…"

Tsuna menatap mukuro yang entah kenapa perlahan tumbang kebelakang dengan darah mengucur deras dari hidungnya seperti gelombang laut samudra atlantik. Ekspresi wajahnya yang mesum sangat tidak pantas dipertontonkan didepan anak-anak dibawah umur dan sudah selayaknya mendapat sensor dan kecaman keras.

"om nanaaaaas?" Tsuna memanggilnya, namun tidak dijawab. Yang dipanggil malah kejang-kejang ringan dengan seringaian mesum yang bisa disetarakan lebarnya dengan jembatan suramadu.

"yah, om nanasnya pingsaaaaan….=A= kayak papa aja sih suka pingsan sambil mimisan. Ganti baju sendiri deeeh TAT "

Tsuna, si anak TK itupun akhirnya mengganti bajunya sendiri dan kemudian turun dari ranjang. Ia melihat TV masih menyala, dan keadaan apartemen murah ini sangat berantakan. Tsuna berjalan lebih jauh dan menemukan kulkasnya masih terbuka. Ia berjinjit untuk menggapai sekotak susu yang tadi dijanjikan mukuro, lalu meminumnya. Beberapa tetes susu menetes melalui bibir, dagu, dan tumpah sedikit ke bajunya.

"yah, tumpaaaaah!" Tsuna mengelap bibirnya dengan tangan dan kemudian menaruh kotak karton bergambar sapi itu diatas meja. Lalu ia menjelajahi rumah ini.

Diatas sofa ada sebuah remote TV, sebuah apel yang setengah tergigit. Sementara diatas meja ada banyak gelas-gelas bekas minum, piring-piring bekas makan dan satu kotak pizza yang baru dimakan setengah. Sementara dilantai banyak barang-barang yang bertebaran. Remahan biscuit, botol plastik bekas kemasan minuman dan benda-benda lain seperti pakaian kotor.

Apartemen ini sepi sekali.

Melihat pizza nganggur diatas meja, Tsuna merasa lapar. Dan lagi, ini sudah jam makan siang. anak TK yang kawaii dan moe itu melongok kearah kotak pizza yang terbuka dengan indahnya itu. Pizza dengan topping mayoritas daging, paprika, jagung manis, bawang Bombay dan ditutupi dengan lelehan keju mozzarella. Kelihatannya enak, dan Tsunapun mengambil satu potong.

"masih bagus nggak nih?" pikirnya sambil mengendus pizza itu.

Baunya seperti sari ketek supir kopaja yang sudah tidak mandi berminggu-minggu.

"eeeuuuuhhhh!" Tsuna melempar pizza itu, dan sangat tidak beruntungnya—nyangkut diatas TV.

"aaah! Byakuran oji-san manaaa? Katanya mau teraktir eskriim. Apa aku minta cheeseburger aja kali ya?"

Akhirnya Tsuna berkeliling apartemen itu dan mengenali sebuah suara yang diidentifikasi sebagai suara Byakuran (?). suara itu ada dalam sebuah kamar, dan saat Tsuna mendorong pintunya, ternyata terkunci.

"da…daemon….aa…aaaaaahhh! He..hen..hentikaaaaaannnhhh. iya, iya aku akan….a…nggghhhh…ah…aaaaaaahhhh!"

Merasa bete dan tidak diperhatikan dengan layak, Tsuna menggembungkan pipinya kuat-kuat.

"nggak Byakuran oji-san, nggak om nanas, semuanya tegaaaaa! Pulang aja, aaaah!"

Dan Tsunapun keluar dari apartemen itu tanpa tahu dia ada dimana sekarang.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Inspektur Hibari mendesah sebal. Ia menoleh kekanan-dan kiri. Sang Inspektur sipit itu sekarang tengah berada disebuah mall; memperhatikan setiap anak kecil yang kira-kira tidak bersama orang dewasa yang kelihatan mendampinginya. Ia berjalan dengan resah, toleh kanan dan kiri.

"huu….hiks…"

Hibari melirik dengan ekor matanya. Ada seorang anak kecil berambut merah yang diwajah dan tubuhnya banyak sekali plester yang memakai pakaian serba hitam dan aksesoris lainnya yang lumrahnya dipakai oleh seorang rockstar. Mungkin anak ini bakal jadi penganut aliran emo suatu hari nanti melihat gaya dandan dan mukanya yang mellow itu.

Nggak mungkin ilang, mungkin abis di bully temen-temennya. Sebodo, ah. Gue sibuk, kagak sempet jadi superhero buat ntu anak. Batin hibari dalam hati.

"HUAAAAAAAAAAA! HUUUU…HUAAAAA!"

Hibari menghela nafasnya pelan-pelan. Ini anak kenapa nangisnya tambah kencang? Atau cuma perasaannya saja? sedikit penasaran, Hibari mundur dua langkah meski tidak menoleh.

"huuuu…huuu…" perlahan tangis anak itu mereda. Lalu hibari maju lagi tiga langkah.

"HUAAAAAAAAA!" semakin kencang, geram hibari dalam hati. Masih belum percaya, ia mundur lagi sampai berada disebelah anak itu.

"hiks…" anak itu menatap Hibari dengan pandangan tidak berdaya.

Kesimpulan yang ditangkap otak hibari adalah: anak ini kayaknya ilang.

Tunggu, sejak kapan seorang Inspektur CEDEF yang terkenal ganas itu jadi lemot begini? Apakah ini efek dari kecanduan J.C*?

Lupakan.

"ngapa nangis, dek?" tanya Hibari kurang peduli.

"pa..papaaaaa…."

Melihat anak ini menangis dengan mata yang berbinar-binar mengingatkan sang inspektur CEDEF ini pada anak TK yang sedang dicarinya. Mungkin anak ini satu nasib dengan Tsunayoshi Sawada itu. Bantu sebisanya sajalah. Pikir hibari lagi.

"papamu?" Hibari berjongkok didepan anak itu agar tinggi mereka setara, bukan karena mules dan males nyari WC terdekat #dicium tonfa#

"ta….tadi, papaku….lagi…..hiks. te..te..terus aku lupa papaku dimanaaaaa?"

"papamu dimana awalnya?"

"nggg…" anak itu menggelengkan kepalanya. "aku lupa."

"yaudaaah." Hibari menghela nafasnya. "namamu siapa?"

Anak itu menatap Hibari dengan takut.

"tenang. Aku Inspektur CEDEF dan sedang menangani kasus penculikan. Meskipun kamu bisa aku ekspor jadi TKI ke Arab Saudi buat nambah penghasilanku tapi aku takkan melakukannya. Jadi, kasih tahu siapa namamu. Biar aku carikan papamu."

"E…Enma. Kozato Enma."

"baiklah." Hibari menggendong Enma dengan lembut. "sambil menunggumu ingat, bagaimana kalau kita makan J.C*?"

Anak itu tidak banyak bicara, mungkin masih shock karena kehilangan papanya. Sungkan-sungkan, anak itu mengambil sepotong donat bertabur gula icing dan memasukkannya dalam mulut mungilnya.

"gayamu oke banget, nak." Ucap Hibari sambil menyeruput ice blended yang dipesannya.

"ini…." Enma menarik kain kausnya. "ajaran papa."

Mungkin bapaknya ini bocah anak motor kali ye, batin hibari lagi. ia mengambil satu donat berlapis cokelat putih dan almond lalu mengunyahnya bulat-bulat. Enma menatap takjub sang Inspektur CEDEF yang kali ini mengunyah dua donat sekaligus.

"waaaah. Kereeeeen!"

"heh." Hibari menyunggingkan senyum puas. "bukan apa-apa."

"kakak suka J.C*, ya?"

"lumayan." Hibari mengangguk. "aku baru pertama kali makan. Kombes brengsek atasanku di kantor tidak memperbolehkan kami makan donat kalau kami belum menyelesaikan semua pekerjaan kami selama satu tahun penuh."

"ooh. Aku juga sukaaaa! Berarti kita sama, doooong!"

"hm."

"kakak Ispektur mau temenan sama aku?"

Hibari menatap Enma yang mengulurkan kelingking kanannya yang berlumur gula halus. Ada beberapa butiran gula menempel disudut bibirnya, berjajar dengan senyum polos khas anak kecil.

"boleh." Hibari menautkan kelingkingnya pada jari kelingking Enma yang mungil.

"E..Enma-kun?"

Anak kecil berambut merah itu menoleh. Hibari hampir tersedak sebuah donat utuh yang sedang dikunyahnya ketika melihat seorang pria tinggi dengan bahu tegap, dada bidang, dan rambut merah yang menghampiri mereka. dandannya sangar luar biasa, dengan jaket kulit yang aduhai kerennya, kaus gaul, jeans baggy, sepatu boot hitam dan aksesoris metal. Enma menoleh dan berlari kearah si lelaki itu.

"papaaaaa!"

Jadi ini bapaknye?

Papa rock n roll. Batin hibari.

"ada kakak Ispektur yang nolongin aku…" Enma menunjuk-nunjuk hibari yang mengelap sudut bibirnya yang berlumur cokelat.

"oh, yeah?" si papa metal ini menghampiri Hibari sambil menggendong Enma dalam pelukannya yang nemplok seperti hewan abu-abu pemakan daun eucalyptus dari Australia itu #dilempar ke black hole#

"well, thanks, bro!" ucap si papa metal sambil meninju pelan pundak hibari. "euh, salaman?"

"Inspektur CEDEF, Hibari Kyoya." Ucap hibari sambil menunjukkan lencana resminya.

"okay. Kalo Inspektur mau nonton konser saya….itu bisa diatur. Apa Hibari-san suka lagu-lagu saya?"

"lagu apa?"

"laguku. Tentu saja." si papa metal mengerutkan dahinya. "Hibari-san tidak tahu?"

"bahkan aku tidak yakin pernah melihat artis yang bentuknya sepertimu."

"oh…iya. Hibari-san pasti sangat sibuk sampai tidak sempat nonton TV. Okay, saya Cozart Shimon. Vokalisnya Gun n Roses."

Tunggu,

SEJAK KAPAN COZART SI TUKANG GALAU ITU JADI VOKALISNYA GUN N ROSES?

"mungkin nanti. Aku sibuk." Hibari membalikan badannya tidak peduli.

"euh….Hibari-san!"

Hibari menoleh lagi. Cozart membetulkan posisi Enma dalam gendongannya, sedikit membuka mulutnya dengan canggung seakan-akan yang akan dikatakannya nanti sangat-sangatlah absurd.

"ka..kalau aku bisa membantu Hibari-san, apapun itu, katakan saja."

Sejenak berpikir, Hibari menyeringai dan membisikkan selintas ide dipikirannya kepada papa metal itu.

"uhm, oke. kurasa bisa diatur."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"nufufufufufufufu….sudah menyerah, Byakuran?"

"ah…aaaaaahhhh…..AHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAAAAAA! SUDAH, SUDAH, CUKUP DAEMOOOON! AMPUUUUN!"

Byakuran tertawa ngakak bahkan hingga ompol membasahi celananya. Daemon mengikatnya tubuhnya dikasur dan mengelitiki telapak kakinya dengan menggunakan sehelai bulu burung hantu. Si semangka tidak menyadari bahwa rekannya si om nanas a.k.a terong belanda itu sedang pingsan sambil mimisan yang darahnya sudah dapat digunakan untuk mengisi kolam renang apartemen.

"iya..iya…aku takkan mengataimu lagi.. ihihi…" ucap Byakuran sambil berusaha meredakan tawanya.

"nufu…bagus. Sekarang coba kau tengok anak manis itu. kalau dia berusaha kabur, rape saja."

"gampang." Byakuran mengangguk sambil berusaha merentangkan tubuhnya. "aku cek yaaaa!"

Byakuran berjalan menuju kamar mukuro dan menemukan lelaki berambut biru gaya nanas itu sedang pingsan dengan ekspresi wajah bejat yang menyiratkan kenistaan sang pemilik wajah. Dengan jijik level tinggi, ditendangnya kepala mukuro hingga terbentur pintu yang setengah terbuka.

"dimana anak itu, nanas bodoh?"

"kufufufufufu….oya, tidak perlu sampai menendang segala, kan? Anak itu masih aman kok. di sana."

Mukuro menunjuk kasurnya. Yang ada disana hanyalah baju seragam dan tas sekolah Tsuna.

"dimana?"

"disini!" mukuro dengan bangga menunjuk kasurnya.

"mana?"

"disini." Mukuro masih keukeuh menunjuk kasurnya.

"ehm….kau yakin?" tanya Byakuran ragu. Jangan-jangan mimisan tadi sudah meluruhkan setengah dari kecerdasan mukuro #ditrident#

"ta..tadi aku ambil baju…." Mukuro memperagakan reka adegan saat dia hendak menggantikan baju tsuna. "lalu dia duduk disini."

"dan…" Byakuran melipat lengan didepan dadanya, mulai merasa kesal. "bagaimana ceritanya kau bisa ada dilantai?"

"entahlah." Mukuro mengangkat bahu. "ketika anak itu membuka bajunya, semuanya jadi cerah ^^"

Daemon dan Byakuran bertatapan.

Satu menit.

Dua menit.

Tiga menit.

Krik.

Krik.

Krik.

An error has occurred.

"KEJAR, BEGO, KEJAAAAAAARRRR! JANGAN SAMPE NTU ANAK KABUR!" teriak daemon murka sambil lari tunggang langgan keluar apartemen mukuro.

.

.

.

.

.

.

.

.

Giotto: author-san. Jc*-nya mana?

Author: JC* LAGI, JC* LAGI? J.C* MULU! KERJA LO!

Giotto: = =a nggeh, ndoro.

Author: masya allah. Sayang aja ganteng, kalo blangsak juga udh gue pecat kali.

Tsuna: a…author-san!"

Author: APA? JC* LAGI? MAKAN MULU BISANYA! DASAR CHARA NGGAK TAHU DIRIIII!

Tsuna: bukan JC*. Mukuro mimisan beneraaaaan!

Author: DEMI APE?

Tsuna: demikian sekilas info ^^

Author: CEPETAN SUMPEL SEBELOM KITE SEMUA KELELEP! CEPETAN SUMPEEEEEEEEL!

Tsuna: ha..haiiik! *bawa-bawa ember dan tambelan panci*