Disclaimer : Kuroko no Basket © Fujimaki Tadatoshi

Warning: Semi-Canon, typo, OOC, & OC.

Inspired by R.L. Stine Goosebumps – The Girl Who Cried Monster (TV Series/Novel)

Pair : Kise Ryouta x Hasegawa Haruna(OC)

Haruna memandang buku catatannya yang penuh dengan tulisan dan juga gambar-gambar buatannya. Hari ini ia sudah menyelesaikan satu bukunya yang bercerita tentang seorang peri biru yang kehilangan sayapnya karena direnggut paksa oleh penyihir hutan sehingga ia tak bisa terbang. Si peri biru itu harus kehilangan sayapnya karena telah jatuh cinta pada Raja Hutan. Haruna ingin sekali membuat tokoh si Jendral –sebagai penyelamat peri biru- dikutuk terlebih dahulu oleh penyihir hutan. Tapi, yang membuat gadis itu kebingungan adalah harus menjadi apa si jendral itu?

Haruna memandang Kise yang tengah berlatih, lalu memilih keluar dari gym Kaijou berharap dengan berjalan-jalan sedikit ia akan mendapatkan inspirasi. Sambil berjalan, ia menulis dan mencoret beberapa kalimat yang tidak sesuai baginya.

Bruk.

Haruna termundur kebelakang dengan limbung sehingga ia melepaskan buku catatan kecil dan pensil mekanik miliknya. Ia cepat-cepat membungkuk mengambil barang-barangnya dan memandang orang yang ditabraknya itu. Dapat dilihatnya, seorang pemuda dengan surai dan mata berwarna hijau yang tajam balas memandangnya.

"Maaf." Kata Haruna sambil memandang dalam-dalam mata pemuda itu dengan mata abu-abunya.

"Kau tidak apa-apa?" Tanya pemuda itu.

Haruna menggeleng, masih tidak melepaskan pandangannya pada pemuda itu. Seketika itu pula, pemuda itu mengingatkannya pada seekor kodok hijau yang dulu dipelihara di akuarium di kelasnya saat ia masih bersekolah di Audene Chuugakou, dan ia memberi nama kodok itu Midori karena warnanya. Saat itu pula bayangan seekor kodok yang melindungi peri biru berkelebat di otaknya, dan dalam waktu singkat skenario yang disusunnya sejak kepergian Rei lengkap sudah, seperti kepingan puzzle terakhir yang diletakkan dengan tepat di tempat yang seharusnya.

"Lain kali hati-hatilah-nanodayo."

Haruna memiringkan kepalanya mendengar aksen itu. "Apa itu '-nanodayo'?"

"Midorima-cchi,"

Sebuah tangan memeluknya dari belakang dan lagi-lagi Haruna harus menghadapi kegelapan yang terasa nyaman dan membuatnya lupa akan nama seseorang yang selalu memeluknya seperti ini ketika ia mulai berkhayal. Bagian belakang tubuhnya yang melekat dengan bagian depan tubuh pemuda itu dan juga suara itu membuatnya seakan lupa segalanya, kecuali bayangan wajah pemuda pirang itu yang terekam jelas di kepalanya.

"Kise," suara pemuda yang ditabraknya tadi terdengar.

"Kise?" Haruna mengulang dengan pelan, sampai akhirnya ketika ia bisa melihat lagi, tubuhnya sudah dihadapkan pada pemuda yang mengisi hari-harinya itu.

"Bukan Kise, Haruna. Panggil aku Ryouta." Katanya dengan perlahan namun terdengar begitu lembut di telinga Haruna.

"Ryouta." Ulang Haruna perlahan.

"Gadis pintar." Tangan hangat Kise mengusap kepalanya. "Oya, jangan pergi lagi seperti tadi. Kau mengerti?"

Haruna mengangguk sambil bergumam mengiyakan.

"Yakusoku?" Kise menyodorkan kelingkingnya.

Haruna menyambut kaitan itu dan berjanji bahwa ia tak akan meninggalkan gym tanpa sepengetahuan Kise. Lagi pula, ceritanya kini sudah lengkap. Ia jadi tak sabar untuk cepat-cepat menyelesaikannya.

...

Kise menutup buku yang dibacanya. Ia sudah menyelesaikan bacaan sebelum tidurnya. Selelah apa pun, ia pasti akan membaca buku yang ditulis Haruna. Walaupun, setelah membaca dua paragraph ia akan langsung jatuh tertidur.

Kise teringat akan perkataan Manami, bahwa gadis itu sudah menulis beberapa buku sebelumnya. Cepat-cepat ia beranjak dan mencari Manami di ruang tengah, tempat biasa di mana wanita itu menghabiskan sebagian besar waktunya.

"Oneechan, apa kau punya buku Haruna yang lain-ssu?"

"Tentu saja." Katanya. "Carilah di rak buku yang ada di kamarku."

Kise lalu cepat-cepat ke kamar kakaknya dan mulai mencari. Tak lama kemudian, ia menemukan jajaran buku yang ditulis Haruna. Ada lima buah buku dan Kise mengambil acak salah satu buku dan membaca judul yang ada di sampulnya.

"'Yang berada di bawah tempat tidurku'?" Kise menelan ludah melihat gambar dan juga judulnya. Gambar cover depan itu bergambar seorang anak perempuan yang duduk di atas tempat tidur, dengan tubuh berbalut selimut sampai kepalanya dan di bawah tempat tidurnya yang gelap terlihat sepasang mata tajam. Cepat-cepat dikembalikannya lagi buku itu ke rak dan mengambil buku yang lain. Namun, lagi-lagi ia harus meneguk ludah membaca judulnya. "'Siapa yang ada di dalam lemari?'"

Kise melakukan hal yang sama pada ketiga buku yang lainnya dan memilih kembali ke ruang tengah dengan tangan kosong. Manami yang melihat wajah muram Kise mengernyit heran.

"Kenapa wajahmu seperti itu?"

"Judulnya menyeramkan-ssu." Komentarnya ikut duduk di seberang meja tempat Manami duduk dan bekerja dengan benda elektronik berukuran empat belas inchi.

Manami tertawa. Ia baru ingat bahwa Kise takut dengan hal-hal berbau horror seperti itu. "Bukankah sudah kukatakan padamu? Sebelum menulis bukunya yang kemarin, Haruna menulis cerita hantu anak-anak."

Kise menghela napas tak senang.

"Yah, karena kau sudah berniat membaca bukunya aku memiliki berita bagus untukmu."

"Ha? Apa itu-ssu?"

"Buku ke-tujuh Haruna akan terbit sebentar lagi."

"Eh? Benarkah itu?"

Manami mengangguk. "Kurasa minggu depan." Katanya.

"Wah, hebat sekali-ssu." Kata Kise. "Kali ini bagaimana ceritanya?"

"Er," Manami terlihat berpikir. "kau akan tahu, minggu depan nanti."

"Hidoi-ssu," gerutu Kise pada kakaknya yang serba berahasia.

Manami angkat bahu. "Tapi, sebagai hadiah…" Manami menggantungkan kata-katanya sambil menyodorkan kertas berupa gambar ke depan Kise. "kuperlihatkan ilustrasinya."

Kise memandang gambar-gambar itu yang memperlihatkan seorang peri yang menangis karena kehilangan sayapnya. Kise sedikit terperangah melihat gambar itu. Wajah si peri terlihat mirip Rei. Halaman berikutnya, seorang jendral perang yang terdampar di hutan dan bertemu penyihir hutan dan si penyihir mengutuk si jendral menjadi kodok. Wajah si jendral tidak diperlihatkan, karena Haruna hanya menggambar punggung jendral itu. Lalu gambar seekor kodok besar, dan pada halaman-halaman berikutnya si kodok selalu ada di setiap lembar di mana si peri terlihat. Sampai pada ilustrasi terakhir Kise memandang gambar itu tak berkedip.

Si kodok yang terkena sihir penyihir hutan akhirnya kembali ke wujud semula, kini bahagia bersama si peri yang sudah mendapatkan kembali sayapnya. "Midorima-cchi," gumam Kise melihat gambar si jendral perang yang memakai kacamata tersenyum sambil menggenggam tangan si peri yang melayang di sampingnya.

Kise menyapukan tangannya ke samping rambut sambil tersenyum mengagumi karya Haruna. Manami yang melihat Kise tersenyum seperti itu ikut tersenyum. Ia pernah mendengar dari Haruka bahwa Haruna pindah ke sekolah tempat Kise belajar, dan entah kenapa Manami merasa bahwa terjadi sesuatu antara adiknya dan Haruna.

...

"Haruna," sapa Kise begitu dilihatnya gadis itu berjalan sendirian di koridor yang sepi, sepulang sekolah.

"Ryouta." Ia berhenti dan menunggu.

"Mau ke mana-ssu?"

"Aku ingin ke klinik sekolah." Jawabnya singkat. "Menemui Takahashi Sensei."

"Oh begitu, mau kutemani?"

Haruna terlihat berpikir, lalu mengangguk. Setelah, mereka sampai di ruangan itu, dilihatnya Takahashi duduk di mejanya. Kise menyapa pria itu, sampai tiba-tiba Haruna tersandung ke depan dan buku yang dibawanya melayang lalu sukses menghantam kepala Takahashi.

"Haruna," Kise membantu Haruna berdiri. "kau tidak apa-apa?"

Haruna mengangguk singkat dan memandang Takahashi yang memegangi kepalanya yang terasa sakit. "Maaf," kata Haruna dengan nada kekanak-kanakan. "sepertinya aku kurang keras menjatuhkannya."

"Haruna!" seru Kise.

"Jadi, mohon terima buku itu." Katanya.

Takahashi membaca judulnya dan tersenyum. "'Peri Biru dan Jendral Kodok', eh?" katanya. "Terima kasih, Hasegawa-san."

Haruna mengangguk dan berbalik pergi. Kise yang masih berada di sana jadi tidak enak. "Maafkan dia Sensei." Katanya. "Kurasa Haruna masih sedih dengan kepergian Tanaka-cchi."

Takahashi tersenyum. "Tak apa." Katanya. "Aku memang pantas mendapatkannya."

...

Musim gugur hampir berlalu begitu saja, sampai Winter Cup sudah dimulai. Seperti biasa Saki akan mengajaknya menonton pertandingan itu. Entah mengapa Saki seperti tertarik pada basket dan selalu mengajak Haruna. Gadis itu terlihat baik-baik saja, namun terkadang ia berubah murung dan jadi pendiam. Seperti kali ini, Saki mengajak Haruna menonton pertandingan Seirin melawan Shuutoku. Saki tiba-tiba murung setelah menyapukan pandangannya ke kursi penonton lain.

"Seirin walau baru terbentuk dua tahun, tapi mereka tim yang cukup kuat." Jelas Saki setelah mereka memilih duduk. Wajah gadis itu tetap terlihat murung

Haruna hanya memandang Saki dalam diamnya.

"Haruna-chan,"

Haruna menoleh ke arah asal suara dan mendapati Rei tersenyum padanya. Gadis itu berlari ke arah Rei dan memeluknya dengan erat.

"Rei," katanya. "aku rindu."

Rei tertawa sambil mengusap kepala Haruna. "Aku juga merindukan Haruna."

Haruna melepaskan pelukannya dan memandang Rei. "Rei juga ingin menonton?"

Rei mengangguk. "Ya, hari ini ada seseorang yang ingin kulihat bermain."

"Ayo nonton bersama kami!" Ajak Haruna. Di sana Saki sudah menunggu dan berkenalan dengan Rei.

...

"Kami pergi dulu. Kapan-kapan kita bertemu lagi." Pamit Saki pada Rei.

"Hm." Angguk Rei. "Senang bertemu denganmu, Fujihara-san."

Setelahnya mereka pun beranjak pulang dan tak sengaja bertemu Kise yang menggendong seorang gadis berambut merah muda yang tak sadarkan diri di punggungnya. Saki yang melihat sepupunya membawa seorang gadis, cukup terkejut juga.

"Saki-cchi, Haruna," sapa Kise.

"He? Siapa gadis itu Ryou-chan?" Tanya Saki, sedangkan Haruna malah bersembunyi di belakang punggung Saki.

"Oh… ini Momoi Satsuki, manager klub basket di Chuugakkou dulu." Jawabnya. "Dia pingsan karena melihat Kuroko-cchi."

"Haa?" Saki hanya terbengong-bengong melihatnya. "Kukira kau tidak datang menonton pertandingan."

"Mana mungkin aku melewatkan kesempatan menonton pertandingan Midorima-cchi dan Kuroko-cchi." Katanya. "Kalau begitu, aku duluan ya. Aku harus mengantarnya pulang."

"Oh… ya." Kata Saki.

"Jaa na, Haruna." Kata Kise sambil memandang gadis itu dengan senyum cerianya. Haruna semakin menyembunyikan dirinya di belakang punggung Saki.

...

Haruna menenggelamkan kepalanya di bantalnya yang mulai basah karena air matanya. Entah mengapa melihat Kise menggendong gadis itu membuatnya sedih bukan main seperti ini. Rasanya sangat sakit, seakan-akan jantungmu ditusuk-tusuk oleh benda kasat mata.

"Haruna," panggil Haruka dengan lembut di ambang pintu kamarnya.

Haruna tetap menyembunyikan tubuhnya di balik selimut sambil cepat-cepat menghapus air matanya. Haruka lalu menghampiri Haruna dan duduk di bagian sisi tempat tidur putrinya dan menyingkap selimut tebal itu. Haruka memandang Haruna dengan khawatir.

"Kau kenapa, sayang?"

Haruna hanya diam sambil menggeleng.

"Ayo ceritakan pada Okaasan!"

Haruna terdiam selama beberapa saat, sampai akhirnya dengan perlahan ia menceritakan tentang pertemuannya dengan Kise setelah pertandingan tadi. Haruka yang menedengarnya terdiam selama beberapa saat lalu terkikik geli.

"Kenapa Okaasan tertawa?" Tanya Haruna sambil mengembungkan pipinya.

Haruka menggeleng. "Maafkan aku." Katanya. "Ternyata putri Okaasan hanya sedang cemburu."

"Cemburu?"

Haruka mengangguk.

"Seperti yang ada di dalam buku Okaasan?"

"Ya, seperti itu Haruna." Katanya pelan-pelan. "Itu tandanya kau menyukai Kise-kun."

Haruna terdiam. "Kise-kun bilang ia akan mengajariku cara menyukainya."

"Dia mengatakan itu?"

Haruna hanya mengangguk.

Haruka lagi-lagi tertawa. "Kurasa Kise-kun sudah mengajarimu banyak hal."

"Begitu ya?" gumamnya sambil setengah melamun.

"Haruna,"

Haruna mengangkat kepalanya dan memandang Haruka. "Hm?"

"Aku pernah bilang bukan, kalau aku tidak ingin menikah?"

Haruna mengangguk. "Aku sampai sekarang tidak pernah mengerti, kenapa Okaasan tidak mau menikah padahal Okaasan bilang Otousan tetap mengejar Okaasan sampai sekarang."

Haruka tersenyum. "Maafkan Okaasan. Okaasan saat itu lebih memilih menjalani hidup sendiri." Katanya. "Jika aku memilih menikah dengan ayahmu, aku merasa tak ada lagi kebahagiaan yang harus kucapai dalam hidupku. Hidupku akan terasa sempurna bila bersama ayahmu, dan aku akan melenyapkan mimpiku menjadi seorang penulis."

"Haruna masih tak mengerti." Kata gadis itu dengan bingung.

"Tulisanku adalah perwujudan dari mimpiku bersama orang yang kucintai yang belum tercapai." Jelasnya. "Karena itu, ayahmu bersedia menungguku sampai mimpiku yang sesungguhnya tercapai. Kurasa sekarang aku sudah siap untuk bersamanya dan kita bertiga," Haruka meraih Haruna ke dalam pelukannya. "akan selalu bersama."

sHaruna tersenyum dan balas memeluk Haruka sambil memejamkan matanya. Haruka tersenyum lalu menolehkan kepalanya ke arah pintu, di mana ayah Haruna berdiri dan memandang mereka sambil tersenyum lembut. Haruka balas tersenyum dan mengangguk meminta pria itu mendekat.

"Haruna, ayahmu ingin bertemu." Kata Haruka.

Haruna melepaskan pelukannya dan memandang pria yang menjulang di depannya. "Katsu Ojisan?"

Harasawa Katsunori tersenyum memandang putrinya. "Tadaima, Haruna."

Haruna terlonjak dan memeluk pria itu seperti anak kecil. "Otousan." Katanya dengan nada ceria.

Harasawa memeluk gadis itu sambil terkekeh. Haruka tersenyum sambil ikut berdiri dan mengusap kepala putrinya yang tengah gembira itu.

...

Haruna lagi-lagi diselimuti kegelapan begitu sebuah tangan hangat melingkar, memeluk bahunya dan menutup matanya. Ia begitu mengenali sentuhan hangat ini dan terdiam hanya untuk menikmatinya dalam diam.

"Udara mulai dingin Haruna." Bisik orang itu sambil tetap memeluk Haruna dari belakang.

Haruna tetap diam. Sejak hari di mana ia melihat Kise menggendong seorang gadis, Haruna menghindari pemuda itu. Tak mendapat tanggapan dari Haruna, orang itu lalu melepaskan pelukannya dan ikut duduk di samping Haruna.

"Ryouta, '-cchi' itu apa?" Tanya Haruna tiba-tiba.

"Eh? Kenapa kau menanyakannya?" Kise balik bertanya pada Haruna.

"Ryouta selalu menambahkan '-cchi' pada nama orang lain." Kata Haruna. "Tapi, tidak pada namaku. Kenapa Ryouta menganggapku berbeda?"

Kise memandang Haruna agak terkejut. "Haruna,"

"Apa Ryouta tidak menyukaiku?"

Kise semakin terkejut mendengarnya. "Aku mana mungkin tidak menyukaimu-ssu."

"Lalu… kenapa Ryouta memperlakukanku berbeda dengan yang lainnya?"

Kise menggenggam rambut di samping kanannya sambil memandang Haruna dengan senyumnya. Setelah itu, diangkatnya tubuh Haruna dengan mudah dan mengaturnya di pangkuan pemuda itu. Haruna memandang Kise dengan bingung.

"Aku menyukai Haruna." Katanya. "Jadi jauhkan pikiranmu dari itu."

"Ryouta menyukaiku?"

"Tentu saja-ssu." Katanya. "Itulah kenapa aku tidak menambahkan suffix '-cchi' pada namamu. Karena Haruna sangat istimewa, sehingga aku tidak ingin menyamakannya dengan yang lain. Aku menyukai Haruna seperti seorang pria yang menyukai wanita. Dan aku ingin selalu memiliki Haruna di sampingku untukku sendiri. Kau mengerti, Haruna?"

Haruna terdiam sambil berusaha mencerna kata-kata Kise. "Hm." Angguknya walau ia masih setengah tak mengerti.

"Jadi, apa kau sudah belajar bagaimana menyukaiku?"

Haruna mengangguk lalu menyandarkan kepalanya di bahu Kise sambil mencengkeram seragam sekolah abu-abu milik pemuda itu. "Ryouta sangat baik." Katanya dengan wajah yang merona. "Okaasan bilang aku menyukai Ryouta dan cemburu pada gadis yang waktu itu."

"Gadis yang waktu itu?"

"Gadis yang Ryouta bawa di punggung."

"Ah, Momo-cchi."

"Aku menangis semalaman karena Ryouta bersama gadis itu."

Kise tercengang mendengarnya. "Kau menangis?"

Haruna menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan rona merah di wajahnya. "Sedikit." Bisiknya.

"Maaf Haruna." Katanya dengan wajah sendu. "Aku tidak akan membuatmu menangis lagi."

Haruna memandang Kise lalu mengecup pipinya. "Arigatou, Ryouta."

Kise terperangah selama sesaat lalu menciumi Haruna dengan gemas. Haruna yang diperlakukan seperti itu, wajahnya mulai merona dan jantungnya berdetak tiga kali lebih cepat. Baru kali ini ia diperlakukan seperti ini oleh seorang laki-laki. Kise tidak berhenti, ia terus saja menciumi bibir itu seakan-akan jika ia berhenti, ia akan terasa tenggelam karenanya.

"Ryouta… uh… sesak." Kata Haruna.

Kise hanya terkekeh memandangi bibir Haruna yang memerah karena ulahnya. "Haruna, mau jadi kekasihku?"

"Eh? Apa itu?"

"Selalu menyukaiku, mencintaiku, dan jangan membiarkan dirimu disentuh oleh pria lain seperti tadi kecuali aku. Bagaimana Haruna?"

Haruna berusaha mencerna ucapan Kise, lalu tak lama kemudian mengangguk sambil tersenyum. Kise membalas senyumannya dan mengecup kening Haruna lalu memeluknya. Kise menyadari bahwa Haruna terkadang tidak mengerti akan hal-hal yang diucapkannya, tapi ia yakin Haruna nanti akan belajar banyak hal dengannya. Ia pun juga menyadari bahwa Haruna mungkin masih belum menyukainya, tapi ia memiliki keyakinan bahwa Haruna nantinya akan menyukainya sebesar rasa suka Kise kepada gadis itu. Walaupun dunia keduanya terlihat kontras, Kise selalu yakin bahwa mereka akan bisa belajar memahami dunia mereka satu sama lain.

Aku mencintaimu, Haruna.

Hanya itu yang dirasakan Kise pada Haruna.

Owari

Uh oh… trims sudah read, fave & follow story (Silvia-KI chan, sherrysakura99-san, Kaito Akahime-san, Kisasa Kaguya-san, Kuroizayoi-san). Maaf mengecewakan untuk ending-nya. Hehehe… cerita berikutnya mau nyeritain soal Saki. Tapi mungkin dalam bentuk oneshot. Semoga gak lama. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih.