I'm Not Doll Princess
Chapter 3 : Fissure
Balasan Review
Mey lovenolaven : Ya, Sasuke sedikit kasar tapi dia memiliki sisi baik yang tidak dibayangkan atau mungkin nanti jadi titik balik semuanya. Untuk tebakanmu? Ehm, sedikit benar tapi yang jelas Hinata berbeda bukan karena hal itu. Ada rahasia lain lagi.
Deandra : Iya, Nao update seminggu sekali biasanya di akhir pekan kalau tidak ada halangan. Sasuke? Entahlah, nanti saja lihat kelanjutannya. Dan ini pairing NaruHina kok tenang saja. Tapi untuk kissu nya Hinata? Hoh, aku juga suka kalau yang pertama milik Naruto.
NillaariezqysekarrSarry470 : Iya, salam kenal dan selamat datang di fic Nao. Pairing ganti? Tidak bisa sayang, karena Naruto sangat berperan disini dan semuanya berpusat pada dirinya.
Edachan02 : hehehe. Entahlah. Yang jelas kisah cinta antar karakter utama begitu rumit dan tak akan Nao katakan sekarang. Sedikit demi sedikit pasti kamu akan mengerti bagaimana jalan cerita ini mohon ikuti terus.
Kuromizukou Ryuuki : Terimakasih banyak. Maaf, Nao tidak punya kamus bahasa indonesia dan terlalu malas untuk sekedar googling. Maklum nilai bahasa indonesia Nao waktu sekolah selalu rendah. Dan selamat tebakan anda benar, mereka no . . . ya begitulah.
Namikazexo : Iya, ingin mencoba suasana baru dan belajar hal baru. Naruto? Entahlah yang jelas ia tidak sesadis Natsu. Nantikan saja bagaimana cara main Nao disini, dan mari kita nikmati ceritanya, ne?
Oortaka : pertama ada hal yang membuatnya berbeda. Dan masalah obat-obatan itu juga termasuk misterinya. Apa obat itu? nantikan saja kelanjutannya dan temukan kejutannya entah chapter berapa. Dan ya, mungkin Naruto akan jatuh cinta dengan Sakura, dan jadilah cinta segi empat?
Mawarputih : Hmm, iya kilat kok karena panjangnya chapter dan kesibukan Nao dengan lima hari kerja jadi akan update secepatnya akhir pekan.
Ana : yosh, anda tepat
Hinata hime : Makasih, jadi tersanjung Nao. Bukannya sombong tapi banyak yang bilang cerita Nao antimainstream. Ini NaruHina kok, tapi tentu diselangi dengan scene lain. Makasih sudah menyempatkan membaca cerita ini.
Tsukikohimechan : Ya, nikmati permainannya dan silahkan menerka-nerka. Masalah Naruto? Selamat membaca chapter ini dan temukan jawabannya.
Cemilan : sama-sama dan nantikan terus ya . . .
Akayuki1479 : terimakasih sudah kembali mau baca cerita Nao. Ya maklum, Nao suka yang baper baper jadi beginilah. Pokoknya nantikan dan ikuti kelanjutannya karena akan ada banyak misteri antara Naruto dan Hinata, tak terkecuali keluarga Uchiha, Hyuuga dan Namikaze?
Warning : Don't Like Don't Read
Rate : T
Genre : Drama, Romance, Hurt/Comfort
Pair : [Naruto N. Hinata H] Sasuke U, Haruno S
Naruto milik Masashi Kishimoto-sensei
Dari tempatnya, Naruto bisa melihat wajah Sasuke yang berada sangat dekat dengan Hinata. Siapapun yang melihatnya pasti tahu apa yang tengah dilakukan pemuda itu. Mata Naruto memanas karenanya hingga tak terasa dua buah minuman yang ia genggampun menjadi korban. Ia mencengkeram kedua gelas plastik itu, tak peduli jika isinya tumpah dan dinginnya es menyapa inderanya. Dadanyapun serasa dicubit tak kasat mata. Kecil namun sakit. Nafasnya juga mulai naik turun. Ia bahkan tak sadar kalau sosok disampingnya mengalami hal serupa. Namun bedanya Sakura sudah meneteskan air mata, menatap kedua sejoli itu yang tengah . . .
Berciuman.
"Bukahkah dia sudah berjanji tidak mengabaikan perkataanku? Bukankah dia berjanji untuk tidak berubah? Lalu kenapa? Apa dia ingin membangkang? Atau dia ingin bebas dari rantai ini?" kata Naruto dalam hati
...
Sasuke mendelik pada segerombolan anak seusianya yang hampir saja menabrak Hinata. Tapi perlu ditekankan, ini bukan simpati atau kepedulian. Tapi reflek. Ya, hanya reflek.
Dapat dirasakannya tubuhnya bergetar, tapi ia yakin kalau ia tidak sedang gemetar. Sasuke menunduk, dan ia menyadari kalau gadis yang berada dipelukannya inilah yang bergetar ketakutan. Seolah ia adalah malaikat maut yang datang untuk merenggut nyawanya. Dilepaskannya Hinata dengan kasar sekali lagi, dan naasnya banyak pasang mata langsung melihatnya.
"Tch" desihnya
Didekatinya Hinata sekali lagi. Ia menunduk mendekatkan wajahnya ke Hinata seraya berbisik . . .
"Diamlah atau aku akan membuatmu diam dengan cara yang tak kau bayangkan" kecam Sasuke tepat di depan wajah Hinata, ia bahkan tidak peduli kalau nafasnya menghembus wajah gadis itu dan bibirnya yang hanya berjarak beberapa senti saja
DEGH
Sebuah degup jantung terdengar diantara keramaian. Tak ada yang tahu degup milik siapa itu, yang jelas hal itu cukup untuk membuat Hinata diam dan mengalihkan pandangannya untuk menatap wajah Sasuke. Mata putih bak mutiara tersebut menatap Sasuke dengan pandangan antara takut dan terkejut, sementara mata Sasuke masih mengintimidasinya. Bibir Hinata terbuka, menyebabkan hembusan nafas lembut menerpa permukaan bibir Sasuke.
DEGH
Mata Sasuke membulat. Pasalnya tubuhnya mulai merasakan hal aneh. Seperti jantungnya yang kini serasa dipompa dengan pompa super, mempercepat aliran darahnya hingga ia bisa merasakan aliran tersebut. Begitu cepat, dan kini wajah stoic tersebut sudah memunculkan rona tipis meski hampir tak terlihat.
Hinata semakin membuka bibirnya, hendak merangkai kalimat untuk pemuda dihadapannya. Namun ketika kalimat tersebut sudah berada di ujung bibirnya, tiba-tiba sebuah tangan menarik dirinya ke belakang dengan sangat kasar. Memisahkan dirinya dari sang Uchiha yang shock ditempatnya.
"HINATA" panggil Naruto keras
Mata Hinata membulat. Pasalnya ia sangat mengenali suara itu. Suara baritone yang selalu memanggilnya dengan nada sayang. Namun kini yang ia dengar dari suara tersebut adalah nada amarah. Dengan cepat ia menoleh, memastikan dan berharap jika seseorang itu mungkin hanya memiliki suara yang sama saja. Dan hasilnya, percuma. Naruto sudah menatapnya dengan sangat tajam. Bahkan tatapan itu lebih tajam dari seorang Uchiha yang selalu mengintimidasinya. Jika Sasuke menatapnya dengan tatapan benci, maka Naruto memandangnya dengan pandangan marah, terluka, kecewa dan . . .
Cemburu?
Bibir Hinata bergerak, hendak menjawab panggilan sang kakak, namun tubuhnya tersentak tak kala . . .
"Diam" desis Naruto
Bahkan Naruto tak memberinya kesempatan untuk menjawab. Sebenarnya apa yang terjadi? Hinata tak mengerti. Dan dirinya semakin tak mengerti ketika Naruto sudah menariknya ke belakang punggungnya. Sang Namikaze tersebut memandang Sasuke dengan penuh selidik dan sarat akan menahan amarah. Sasuke yang tidak mengerti menatap Naruto dengan alis bertaut. Otaknya menduga, ketika dugaan itu sudah terangkai dalam kalimat, ia mencoba membuka suara menjelaskan apa yang terjadi.
"Naruto, ini tidak seperti yang kau –"
"Aku tak ingin mendengarnya, Sasuke" potong Naruto
"Ini benar-benar –" kata Sasuke dengan sulit
SETT
Naruto pergi begitu saja melewati Sasuke dengan menyeret Hinata. Bahkan pemuda itu juga tidak memberi kesempatan untuk sang sahabat menjelaskan. Sasuke menoleh dengan pandangan kesal, dapat dilihatnya Naruto dengan beringas menyeret sang adik dengan tidak berperasaan. Sasuke mendengus. Ia sungguh tak percaya seorang Naruto yang memiliki kecerdasan diatas rata-rata bisa berfikir secetek itu. Dan dapatkah kalian percaya jika dengusan sang Uchiha berubah menjadi kekehan? Ya, Sasuke terkekeh seraya menutup wajahnya dengan sebelah tangan. Ia jadi geli. Sikap Naruto seperti seorang pria yang kekasihnya direbut pria lain. Sungguh kekanakan dan memalukan? Padahal jelas-jelas mereka Saudara. Suatu saat jika waktunya tiba mungkin Hinata juga akan menikah. Meski Sasuke akui tak akan ada yang mau menikahi gadis gila macam Hinata.
Sakura yang sedari tadi berada disana, menyaksikan Drama yang tidak ia ketahui genre-nya namun membuat perasaannya terseret, segera menghapus air matanya yang dengan seenaknya keluar tanpa ia perintah. Hatinya sedikit teremas, menyadari Sasuke tak mengindahkan atau sekedar merasakan kehadirannya. Apakah memang eksistensi seorang Sakura hanyalah angin lalu? Bahkan pemuda itu bersikap tidak mengenalnya setelah menabraknya.
Setelah kiranya cukup terkekeh, Sasuke kembali diam. Ia kembali memasang wajah stoicnya. Diredamnya segala amarah dan kekesalan yang menggelayutinya dan merengek padanya. Ia menghela nafas sejenak, meski matanya masih mengkilap tajam. Dan disitulah ia menyadari keberadaan orang lain selain kedua Namikaze bersaudara tadi.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Sasuke dingin
"Tidak ada. Aku hanya kebetulan bersama Naruto tadi" jelas Sakura berusaha sebiasa mungkin
Sasuke mendekat, ia melangkahkan kakinya mendekati Sakura. Entah kenapa langkah Sasuke tersebut membuat Sakura merasa terancam. Sakura tersenyum janggal, sebelum ia mencoba untuk pergi. Namun dasar Uchiha, pemuda egois itu menahan pergelangan tangannya.
"Apa yang kalian lihat?" tanya Sasuke
"Apa? tidak ada" elak Sakura
"Jangan bohong. Kau melihatnya bukan?" tanya Sasuke lagi
"Kalau kau sudah tahu kenapa tanya?" tanya Sakura balik
SETT
Sasuke melepaskan tangan Sakura begitu saja. Ia menghela nafas kasar sebelum kembali menatap Sakura dengan senyuman miring.
"Lucu sekali. Kupikir takkan ada di dunia ini yang cukup idiot percaya kalau aku mencium gadis sepertinya" kata Sasuke
"Ap-apa?" Sakura tak percaya
"Jika aku menginginkan ciuman, tentu aku akan lebih senang melakukannya dengan gadis normal atau ya~" kata Sasuke tertahan
SETT
Mata Sakura terbelalak. Jari-jemari Sasuke sudah menyentuh dagunya, mengangkatnya hingga membuatnya mendongak menatap onyx hitamnya.
"Minimal sepertimu" kata Sasuke kemudian melepaskan Sakura begitu saja. Dan selanjutnya pemuda itu pergi. Meninggalkan Sakura dengan segala tanda tanya di kepalanya.
"Tunggu! Apa maksudnya?" tanya Sakura
Sementara itu, dilain pihak Naruto menyeret Hinata menuruni tangga kuil dengan langkah jenjangnya. Hinata yang notabane menggunakan yukata harus bersusah payah mengikutinya. Sudah berkali-kali nama sang kakak ia panggil, namun menoleh saja tidak. Yang ada genggaman tangannya semakin kuat dan kuat. Hinata merintih kesakitan.
Sasuke keluar dari kerumunan. Dengan langkah tergesa ia mendekati sang ibu yang tengah duduk seraya tersenyum dan meminum segelas jus jeruk yang entah ia dapat dari mana.
"Ibu, kita pulang" kata Sasuke melewati ibunya seraya berdecak kesal
"Sasuke, tidak minum dulu?" tawar Mikoto
"Lupakan" jawab Sasuke ketus. Bagaimana ia tidak ketus, disaat semua yang ia alami disini berawal dari permintaan sang ibu yang memintanya membeli minum sedangkan sekarang dengan wajah tanpa dosa ibunda tercintanya sudah menengguk jus bahkan membeli dua?
Mikoto mengejar si bungsu yang entah kenapa wajahnya berubah jadi masam dan sangat tidak bersahabat.
Dilain tempat.
Naruto terus menyeret Hinata, sementara di belakangnya gadis itu terseok-seok dan sesekali tersandung bahkan hampir jatuh. Mana peduli dia. Dadanya terlanjur panas. Ingatan akan masa lalu kembali memenuhi otak Naruto. Darah dimana-mana dengan tubuh yang tergeletak tak berdaya menghantamnya, teriakannya serta tangisnya. Naruto menggertakkan giginya kuat-kuat. Rahanyapun ikut mengeras, dan otot-otot lehernya sudah menyembul. Sarat kalau ia benar-benar berada pada puncak amarah dan kerentaannya. Hingga ketika mereka berada di pinggir sungai, ia menghentikan langkah.
"Hah, hah, Onii-chan" panggil Hinata seraya menetralisir nafasnya yang terengah
Naruto melepaskan genggamannya. Pemuda itu melepaskan jaketnya dengan kasar kemudian berbalik menghadap Hinata.
"Naruto-nii?" panggil Hinata lagi
Namun Hinata tak dapat melihat jelas wajah sang kakak. Kakaknya itu tertunduk dengan poni yang menutupi setengah wajah bahkan saphirenya. Baru saja Hinata hendak memanggil lagi, namun sapuan keras dibibirnya menghentikannya. Ya, Naruto mengusap bibir Hinata dengan jaketnya.
"Hapus" kata Naruto dingin
"Kau harus menghapusnya" lanjutnya dingin
Naruto mengusap bibir Hinata dengan sangat kasar, terus mengusap dan tidak peduli jika sang adik akan terluka. Hinata mencoba berontak. Namun tangan Naruto menahan tengkuknya. Pemuda itu semakin beringas. Tenaganya yang tidak main-main membuat lipstik merah merona Hinata menghilang dan bibirnya sudah terasa sangat perih diakibatkan gesekan tersebut.
"Hen-ti-khan" pinta Hinata
SREKK
"Diam! aku akan menghapusnya" jawab Naruto dingin
Naruto semakin menekan kain jaketnya dan menggesekkannya kasar di bibir sang adik. Matanya sudah benar-benar buta. Bahkan ia tak sadar kalau perbuatannya sudah membuat bibir Hinata bengkak dan lecet.
Dada Hinata terasa sesak. Amethysnya bergetar melihat sebetapa mengerikannya sang kakak. Ingin sekali ia lari dari sini. Melarikan dari sosok kejam tersebut namun ia tidak bisa. Janjinya sudah membuat rantai tak kasat mata diantara mereka. Dan Naruto-lah yang memegang kunci dan kendali. Bak seorang budak yang akan selalu terjerat dengan tuan yang sudah membelinya.
TES
Setetes cairan merah menetes dari bibir Hinata. Sontak saja tangan Naruto berhenti. Saphire kelam itu berangsur-angsur kembali seperti semula dan ketika kesadaran serta akal sehatnya sudah benar-benar pulih, barulah ia terbelalak. Ia mengarahkan mata saphirenya pada mata sang adik, begitu melihat buliran bening di sepanjang belahan pipi Hinata, tangan Naruto pun bergetar hebat.
"Hinata" panggil Naruto dengan suara parau sarat akan rasa bersalah dan ketakutan
"Hiks, hiks, sakit" isak Hinata
Dengan liar Naruto melihat bibir Hinata lagi, dan bagai disambar petir tubuhnya kaku seketika. Bibir sang adik yang mungil kini berubah menjadi tebal karena bengkak atas perbuatannya, dan tak luput dari itu darah kental sudah menetes dari sana. Dengan ragu, ia menyentuh bibir itu, Hinata tersentak dan hampir mengelak namun lagi-lagi dengan egois Naruto menahan tengkuknya kemudian mengusap darah di bibir Hinata menggunakan ibu jarinya. Kali ini, dengan sangat lembut. Matanya pun ikut berkaca-kaca.
"Maaf, maafkan aku" ucap Naruto parau
Mata Hinata semakin meneteskan cairannya. Hatinya yang semula teremas kini dipaksa untuk bangun. Puing-puing kekecewaan dan rasa sakit yang ditorehkan sang kakak belum pulih dan kini dengan paksa pemuda itu menyuapinya dengan obat tanpa segelas air. Pahit dan menyakitkan. Inilah Naruto. Sosok kakak yang selalu melindungunya. Sosok kakak yang sangat ia sayangi, bahkan meski sikapnya bisa kelewat kasar, hatinya takkan pernah bisa membencinya. Dan ia hanya bisa merapal dalam hati.
"Aku benci ini" kata Hinata dalam hati
"Maafkan aku" ulang Naruto
"Uhm" dustanya
Hinata masih terisak. Di bawah terangnya cahaya bulan, Naruto merengkuh tubuh sang adik. Sekali lagi ia mendekapnya, dalam kehangatan yang akan selalu membuat Hinata terbuai dan memaafkannya lagi. Dielusnya punggung Hinata, dikecupnya pucuk mahkota indigo itu dengan ciuman lembut nan membuat wajah Hinata memerah. Gadis itu membenamkan wajah ke dalam dada bidang itu. Meredam dentuman bak simfoni yang mengalun bertalu-talu di dadanya. Dan setahunya, jika hal seperti ini terjadi yang perlu ia lakukan adalah . . .
Diam dan pendam semuanya.
Keduanya akhirnya pulang. Naruto yang merasa bersalah menggendong Hinata di punggungnya. Gadis itu menautkan kedua tangannya di leher Naruto, berpegangan agar tidak jatuh. Sementara tangan Naruto yang menopang tubuhnya memegang sandal miliknya. Mereka berjalan tanpa ada satupun pembicaraan. Gadis itu masih terlalu canggung untuk memulai pembicaraan, karena setiap kali mereka bertengkar maka Narutolah yang berinisiatif mengembalikan suasana. Namun kali ini pemuda itu hanya diam. Dan disaat seperti inilah Hinata diam-diam menatap wajah sang kakak dari samping. Wajah dengan mata saphire, hidung mancung dan bibir tipisnya, serta tiga goresan yang menjadi tanda lahir sungguh membuat pemuda itu terlihat sangat tampan. Tak heran banyak yang tergila-gila dengan sang kakak. Menyadari itu, entah kenapa hati Hinata tiba-tiba merasa sesak.
"Seumur hidup mungkin aku hanya akan menjadi bayang-bayangmu" kata Hinata dalam hati
Hinata memejamkan mata, menyandarkan wajahnya di bahu sang kakak. Menghirup aroma khas seorang Naruto yang menenangkan. Ia membuka matanya lagi, dan kini amethys itu menatap kilauan bintang-bintang yang berada di atas sana.
"Sampai kapanpun, aku takkan melepaskanmu, Hinata. Tak ada yang boleh menyentuhmu. Tak ada yang boleh menyakitimu" kata Naruto dalam hati
Keduanya sampai dirumah. Beruntunglah Naruto karena sang ayah dan ibu sudah terlelap, kalau tidak pasti ia bisa babak belur karena membawa Hinata sampai selarut ini. Ia menggendong sang adik ke kamar, meletakkannya di ranjang dan menyelimutinya. Ia menatap sendu Hinata, jelas sekali kalau mata itu menyiratkan ketakutan yang dalam. Aneh memang disebut ketakutan karena pada kenyataannya Hinata masih berada disisinya.
Naruto mulai melepaskan ikatan rambut Hinata, rambut sang adik yang halus sangat mudah disisir meski tidak menggunakan sisir sekalipun. Ia mengambil kapas dan pembersih wajah, dan membersihkan wajah sang adik tentu dengan sangat hati-hati. Terlebih ketika ia membersihkan dagu Hinata, disana masih tercetak bekas darah yang sudah mengering. Naruto menggigit bibir bawahnya. Darahnya kembali memanas. Dibuangnya kapas itu dengan kasar. Kemudian ia mengacak surainya.
"Tch! Aku menyakitinya lagi" umpatnya
"Kakak macam apa aku ini?" tanyanya bermonolog
Naruto kembali menatap wajah Hinata yang kini sudah kembali normal. Gadis itu terlihat cantik tanpa make up anehnya, sangat cantik. Wajahnya yang putih mulus nyaris tanpa noda, hidung bangir, bulu mata lentik, dan bibirnya yang . . . Naruto kembali berdecih. Bibir mungil sang adik kini terlihat begitu mengerikan. Dan itu karena perbuatannya. Tak tahan, Naruto segera beranjak dari sana sebelum ia lepas kendali.
Di kamarnya, yang terletak disamping kamar Hinata ia sedikit membanting pintu. Dan beruntunglah ia karena setiap ruang di mansion tersebut kedap akan suara. Setelah menutup pintu dan menguncinya, Naruto berdiri berkacak pinggang seraya menetralisir nafasnya. Ingatan dimana Sasuke, sahabat yang ia percaya untuk menjaga sang adik malah mengkhianatinya. Dikeramaian seperti tadi, Sasuke berani mencium Hinata. Hinata yang harusnya tak boleh dijamah oleh orang lain. Hinata yang harus ia jaga dari segala ancaman dan mara bahaya.
"Sialan Sasuke" umpatnya
"Hiks, Hiks, sakit"
DEGH
Mata Naruto berubah, saphire itu tidak lagi mengkilat sarat akan amarah, melainkan menyendu mengingat rintihan kesakitan Hinata nan menyayat hatinya. Iapun menggigir bibir bawahnya, sedikit kasar hingga setetes darah keluar dari sana.
"Tch! Bahkan aku lebih sialan darinya" lanjutnya kemudian
"Brengsek dan tidak punya hati. Kakak yang gagal" lanjutnya mulai mengumpati diri sendiri
Naruto beranjak menuju nakas yang terletak disamping tempat tidurnya, ia membuka laci paling bawah dengan kunci yang ia selipkan dibawah kasurnya. Disana terdapat sebuah bingkai foto yang terbalik dan sebuah kotak. Diambilnya kotak itu dan percaya tidak percaya, sebuah belati tersemat manis disana. Ia memandang sendu belati itu dan menatap benci kedua tangannya yang sudah menyakiti sang adik.
"Tangan yang penuh akan dosa" rapalnya dingin
"Khe, tangan yang menjijikkan" katanya lagi
SRASH
Naruto menyayat telapak tangannya. Tak ada rintih kesakitan yang keluar dari bibirnya. Matanya berubah menjadi dingin dan menerawang jauh. Tak mempedulikan tetesan demi tetesan darah yang keluar dari telapak tangannya, membasahi lantai.
.
Malam itu, Naruto bermimpi setelah tertidur akibat kelelahan. Darah di telapak tangannya sudah berhenti menetes dan dibalut perban asal. Nafas pemuda itu terengah-engah, keringat dingin membasahi sekujur wajahnya.
Naruto's Dream
Naruto kecil menatap tubuh yang tergeletak tidak berdaya didepan sana. Tubuh kecil itu berlimpah darah dan tragisnya hujan mengguyur tubuhnya serta tubuh tak berdaya itu. Membuat kukunya memutih dan nyawanya seakan dicabut dari tempat. Naruto menangkupkan kedua tangan kewajahnya. Matanya membulat dengan mengerikan.
"TIDAAAKKKK!" teriaknya
Bayangan putih menyilaukan menghalau matanya, dan mimpi mengerikan itupun sirna.
Kini, Naruto kecil tengah memeluk gadis berambut indigo yang terbangun dari ranjang di sebuah ruangan bernuansa putih. Ia terisak, menangis tersedu-sedu dan mendekap gadis kecil itu dengan erat. Seolah tak mau kehilangannya sekali lagi. Gadis kecil itu hanya berkedip, tidak mengerti apa yang tengah terjadi. Namun ketika merasakan bahunya basah, matanya melembut dan iapun membalas pelukan tersebut.
Mimpi Naruto berlanjut. Dan kini Naruto kecil tengah menemani sang gadis kecil yang merupakan adiknya bermain. Gadis itu berpenampilan aneh. Dengan rambut dikucir dua, bedak tebal, bulatan merah di pipi dan bibir merah. Sungguh tak menampilkan kesan anak-anak. Aneh memang seorang anak kecil bersolek, namun Naruto tak peduli. Yang penting adiknya kini berada didepannya dan memanggilnya merdu dengan sebutan . . .
"Naruto-nii"
"Ya, Hinata" jawab Naruto kecil lembut disertai senyum
End of Naruto's Dream
Dan di dalam tidurnya, seorang Naruto meneteskan air mata di mata kanannya. Hanya setetes namun hal tersebut menerjemahkan bahwasanya ia menanggung beban atas kejadian tersebut, bahkan ketika tahun sudah berganti sekalipun.
Keesokan harinya. Tradisi di keluarga Namikaze masih sama seperti sebelumnya. Sarapan pagi. Naruto duduk disamping Hinata. Minato dan Kushina yang melihat bibir Hinata bengkak serta merta menatap si sulung dengan tatapan menyelidik, meminta penjelasan. Dan tentu saja sang sulung akan dengan mudah menjelaskannya dengan kebohongan yang tak sanggup Hinata bantah.
"Dia terjatuh, ibu. Maafkan aku" jelas Naruto penuh rasa bersalah
"Naruto-nii tidak salah, ibu" bela Hinata cepat-cepat
BOHONG
Hinata bahkan tidak tahu kenapa dirinya bisa berbohong seperti ini. Tapi melihat kakaknya yang tidak terlihat baik pagi ini, mau tidak mau ia ikut menutupinya. Karena bagaimanapun perlakuan kasar sang kakak akibat dirinya.
"Kalian menyembunyikan sesuatu?" tanya Kushina dengan menyeramkan
"Tidak baik mencurigai anak sendiri, Kushina" nasihat Minato dan membuat Kushina mau tidak mau diam
Naruto menghela nafas, ia mengangkat tangan kanannya dari balik meja dan kini ketiga orang di meja tersebut tersentak.
"Naruto, ada apa dengan tanganmu?" pekik Kushina
Hinata juga terkejut, dengan segera ia menyentuh tangan sang kakak namun dengan kasar pemuda itu malah menepisnya. Membuat Kushina dan Minato terdiam ditempat.
"Aku baik-baik saja. Aku hanya sedang mengantuk semalam jadi saat terbangun dan iseng mengupas apel tanganku tidak sengaja melakukannya" dusta Naruto
"Kenapa kau tidak membangunkan ibu atau pelayan?" tanya Kushina khawatir
"Untuk hal sepele? Aku tidak setega itu, ibu" jawab Naruto lembut
"Naruto-nii?" panggil Hinata yang dijawab senyuman Naruto
"Jangan khawatir, ini tak sakit Hinata. Tapi jangan menyentuhnya untuk sekarang ini" kata sang kakak mengusap pipi Hinata dengan tangannya yang lain
"Bukankah itu berarti sakit?" tanya Hinata
"Aku laki-laki, Hinata" jawab Naruto menenangkan
Kushina mendekat, dan tanpa mempedulikan apa yang baru saja diucapkan Naruto, ibu yang masih awet muda itu dengan cepat memukul tangan Naruto hingga pemuda itu memekik dan mendelikkan matanya pada sang ibu.
"Apa yang ibu lakukan? huh?" protes Naruto
"Kau bilang tak sakit, tapi nyatanya sakit. Jangan berbohong, Naruto. Dan Hime, kau juga. Bibirmu bengkak dan pecah-pecah. Jadi jangan pakai lipstik dulu setidaknya hari ini. Ayo ikut ibu, akan ibu bersihkan" ajak sang ibu yang diikuti Hinata
Naruto masih diam seraya mengelus-elus tangannya yang berdenyut. Sungguh sialan. Padahal ketika ia melakukannya semalam ia tak merasakan apapun.
"Kau juga, Naruto. Kalian takkan bisa makan dengan keadaan seperti itu" kata Kushina
Kushina membawa kedua anaknya ke ruang keluarga yang menghadap ke halaman. Dengan pintu geser yang terbuat dari kaca, membuat siapapun didalam sana bisa melihat betapa indahnya taman keluarga mereka. Taman yang dipenuhi dengan bunga matahari dan lilac ungu. Perpaduan yang manis dan sempurna. Ketiga anggota keluarga itu duduk dikarpet. Kushina mulai dengan mengambil kapas dan pembersih untuk membersihkan perona bibir Hinata. Setelah bersih, ia mengoleskan antiseptik. Gadis itu sesekali memekik tertahan dan merintih. Sementara diam-diam Naruto menatapnya dengan penuh penyesalan. Hinata pun melakukan hal yang serupa, sedari tadi amethysnya tak bisa lepas dari perban di tangan sang kakak. Sungguh, apa gerangan yang merasuki sang kakak hingga mengupas apelpun bisa terluka?
"Yosh, sekarang giliranmu, Naruto" kata Kushina dengan senyumnya
Naruto masih diam, ia masih sibuk mengamati wajah Hinata.
"Naruto?" panggil sang ibu menyadarkan Naruto
"Ya?" sahutnya
"Kemarilah" kata Kushina
"Tidak-tidak, aku bisa melakukannya sendiri" kata Naruto
"Kau yakin? Ibu sedang tidak ingin memarahimu, Naruto" pinta sang ibu
"Tentu ibu, apa aku sedang ingin membuat ibu marah? Tidak kan? jadi biarkan aku mengobatinya sendiri" jawab Naruto
"Baiklah jika itu maumu. Ibu akan pergi ambilkan sarapan untuk kalian" kata sang ibu seraya beranjak
Kini tinggallah ia dan Hinata seorang. Sang adik masih menatapnya dengan pandangan yang sama. Memandang khawatir telapak tangannya yang dibalut perban. Naruto pun menyembunyikan tangannya di balik punggung, ia beringsut mengambil kain kasa dan obat merah dengan tangannya yang lain namun langkahnya terhenti lantaran Hinata menyentuhkan tangan mungilnya di punggung tangan kirinya.
"Naruto-nii, biar aku saja" tawar Hinata
"Sudah kubilang, jangan sentuh untuk sekarang ini" kata Naruto kembali menegaskan dengan nada lembut
"Kenapa? kenapa aku tak boleh menyentuhnya?" tanya Hinata
"Apa karena aku ini menjijikkan? Atau karena aku hanyalah bakteri?"
NGIIINGGGG
Sebuah dengungan keras berdesis di telinga Naruto hingga kepalanya rasanya berdenyut kencang. Pandangannya berubah menjadi sedikit kabur, namun ia masih bisa melihat dengan jelas tatapan Hinata. Ia meredam dengungan itu, dan berusaha mengenyahkannya secepat yang ia bisa. Perkataan Hinata akhir-akhir ini entah kenapa selalu menyulut amarah serta segala kerapuhannya. Membuatnya secara tidak sadar akan terseret hingga berujung melukai sang adik. Teringat akan kejadian semalam, Naruto berusaha untuk tenang. Meski nyatanya ia menggertakkan giginya kuat-kuat.
"Siapa yang mengajarimu kosakata itu?" tanya Naruto dengan amarah tertahan
"Apa itu penting?" tanya Hinata balik
"Dan sejak kapan kau mulai bertanya disaat aku bertanya, Hinata?" tanya Naruto lagi
"Aku hanya ingin mengobatimu, tidak lebih" ucap Hinata
"Dan kalau aku tidak ingin, apa kau akan terus memaksa? Seingatku kau tak pernah seperti ini. Jangan buat aku marah padamu lagi, Hinata. Kumohon" pinta Naruto dengan suara seraknya
"Naruto-nii selalu memperhatikanku dan melindungiku. Apa kesalahan namanya jika aku memperhatikanmu?" tanya Hinata
"Ya, salah. Kau bukan pihak yang harus melindungi. Kaulah yang harus kulindungi" tegas Naruto seraya merampas kain kasa dan obat merah kemudian beranjak dari sana, meninggalkan Hinata dengan . . .
Mata berkaca-kaca.
Kediaman Uchiha. Pagi ini sang bungsu Uchiha tak mau beranjak dari kamarnya. Pemuda itu melingkarkan tubuhnya layaknya ulat yang tengah kedinginan. Matanya menerawang. Dan lihatlah kantung mata yang menghiasi wajah tampannya. Mungkin itulah alasan ia tak mau mengabsenkan diri. Akan jadi bahan olok-olokan ia kalau sampai sang kakak tahu. Sasuke berdecih, ia juga tak habis pikir kenapa sampai semalam sulit sekali tidur dan ia baru bisa tidur sekitar jam tiga.
Sebenarnya, hal yang sangat mengganggu Sasuke adalah bagaimana mata putih bak mutiara milik Hinata menatap dirinya dengan pandangan antara takut dan terkejut. Namun itu memiliki efek yang sangat luar biasa. Mata itu seakan menghipnotisnya, menggodanya untuk memasuki dan menyelaminya. Apalagi ketika bibir mungil merah merona Hinata terbuka, menyebabkan hembusan nafas lembut menerpa permukaan bibirnya. Jujur sata saat itu jantungnya seolah dipacu meski ia tidak mau mengakuinya. Ingin rasanya ia mengecap bibir itu saat itu juga namun otaknya masih waras untuk tidak melakukan hal itu terlebih pada gadis gila? Big No!
Pintu diketuk, diluar Itachi membawa nampan yang berisi roti dan segelas jus tomat kesukaan sang adik. Merasa tak ada sahutan, Itachi mencoba memutar knop pintu yan ternyata tidak dikunci. Ia masuk dan onyxnya melihat keadaan yang tidak biasa dari sang adik. Diletakkannya nampan di nakas sebelum bicara.
"Ada apa denganmu?" tanya Itachi sukses mengembalikan segala terawangan Sasuke
"Bukan urusanmu" ketusnya
"Kau tidak sedang mengidap penyakit yang orang timur sebut galau kan?" goda Itachi
BUAKHH
"Kau pikir aku ini perempuan! Baka Aniki" marah Sasuke seraya melempar bantal pada sang kakak
"Ups. Maaf saja, Sasuke tapi dari dulu aku memang tak pernah mengharapkan adik laki-laki" jawab Itachi asal
"Dan sayangnya aku laki-laki! Tch! Kau menyebalkan!" umpat Sasuke
Itachi malah terkekeh. Sasuke sudah duduk seraya membuang muka. Segaris rona merah menjalar di pipinya. Tapi tak ada siapapun di belahan dunia ini yang akan menyadari hal itu kecuali sang kakak. Hei asal kalian tahu, Itachi adalah dokter psikolog di rumah sakit keluarganya, hal macam ini sangat sepele. Ia juga bisa menangkap kantung mata hitam di mata Sasuke. Sebuah seringaian pun tersungging di wajahnya. Matanya sedikit menyipit menatap sang adik.
"Hoh, begitukah?" goda Itachi lagi membuat mata Sasuke memicing
"Jangan menatapku seperti itu, Sasuke. Kau seperti Sadako yang tengah dimabuk cinta saja" goda Itachi kemudian melesat pergi dan segera menutup pintu sebelum Sasuke melemparinya perabotan. Diluar kamar, iapun kembali berteriak
"Rona merah di pipimu itu menjelaskan semuanya, Sasuke" teriak Itachi dan kabur dengan kekehan yang menggelitik perutnya
Sepeninggalan Itachi, Sasuke mendengus. Wajahnya memerah, bukan karena malu. Tapi karena kesal tingkat akut. Sepertinya dirumah ini yang memiliki tingkat kewarasan maksimal hanya dirinya selain sang ayah. Karena kakak dan ibunya perlu dipertanyakan. Ia jadi heran kenapa bisa keluarganya mendirikan rumah sakit bahkan ayah dan kakaknya spesialis psikologi. Diusapnya wajahnya kasar, kalau saja bukan karena Hinata ia tidak akan jadi seperti ini. Semua salah Hinata.
"Aku benci dia" gumamnya
.
Hari senin. Konoha International High School. Naruto memarkirkan Aventador merahnya disamping Huracan Dark Blue yang sudah ia ketahui pasti siapa pemiliknya. Sasuke duduk di bagian depan mobil. Kedua tangannya dimasukkan kedalam kantung, dan hal yang tidak pernah absen darinya adalah headset putih yang selalu bertengger di sekitar lehernya. Onyx hitam itu menatap Naruto tajam. Naruto yang sudah berdiri di pintu jok belakang terdiam. Hinata yang tak mengerti membuka pintu mobil itu namun tiba-tiba Naruto sudah menutupnya kembali dengan kasar. Seolah tidak mengizinkannya untuk keluar. Naruto-pun mendekat ke arah Sasuke.
"Apa maumu?" tanya Naruto dingin
"Aku hanya ingin mengatakan apa yang belum kukatakan saja, tak lebih" jawab Sasuke datar
"Sudah kubilang aku tak mau dengar apapun kan" kata Naruto mengingatkan
"Tapi kau harus dengar. Jadi dengarkan aku" kata Sasuke
"Aku . . . tidak mencium Hinata" aku Sasuke
"Tch! Itu hak asasimu, Sasuke" desis Naruto sedikit kesal
"Hak asasi? Kenapa aku harus mengedepankan hak asasi untuk hal itu? kuingatkan sekali lagi, Naruto. Aku, tidak tertarik dengan adikmu. Se-di-kit-pun" jelasnya penuh penekanan mengundang tatapan tajam nan tidak suka dari Naruto.
"Jangan mengatakan hal macam-macam" ancam Naruto
"Apa aku pernah mengatakannya? Tidak kan? Jadi kau tak perlu sesensitif itu" kata Sasuke seraya berdiri dan memasangkan sebelah headsetnya
"Dan kusarankan satu hal padamu. Jangan terlalu kentara, kau akan membuat orang lain salah paham nantinya" kata Sasuke kemudian pergi
Naruto menatap kepergian Sasuke dengan penuh tanda tanya. Apa maksud dari perkataan sahabatnya itu? Kentara? Salah paham? Apa maksudnya? Bukankah niat awal pemuda itu hanya menjelaskan, kenapa jadi dia yang serasa dihakimi?
Kelas 2-1. Pelajaran berlangsung dan sejak tadi pagi datang, tak ada tegur sapa sedikitpun antara Naruto dan Sasuke. Shikamaru mengernyit bingung. Sesekali ia menatap kedua sahabat yang sudah berteman sejak bangku sekolah dasar itu bergantian. Naruto yang tenang dan Sasuke yang stoic. Memang sih biasa, tapi entah kenapa ia merasakan atmosfer berat diantara keduanya. Bahkan ketika bel berbunyi, Sasuke melesat pergi begitu saja tanpa seucap kata.
"Hei, ada apa dengannya?" tanya Shikamaru
"Entah. Dia memang seperti itu kan" dalih Naruto kemudian beranjak pergi juga tanpa mengajak sang adik
"Eh? Di-dia pergi begitu saja? bagaimana dengan Hinata?" tanya Shikamaru
"Hinata?" panggil Shikamaru
"Aku bawa bekal" kata Hinata lirih seraya menunduk
Naruto pergi ke greenhouse belakang sekolah. Ia masih memikirkan ucapan Sasuke tadi pagi. Jadi siang ini ia memilih menyendiri, jika Hinata bersamanya ia takut kalau-kalau ia menyeret sang adik ke dalam kekalutannya. Masalahnya kemarin dengan Hinata masih belum beres. Ia belum bisa bersikap normal sepenuhnya, meski ia sudah mencobanya. Pagi ini saja ia hanya berucap beberapa patah kata saja, bahkan untuk menatap mata mutiara itu rasanya ia belum sanggup. Naruto mengambil nafas, dan membuangnya kasar.
Hinata keluar dari kelas dengan membawa bekalnya. Awalnya Shikamaru mengajaknya ke kantin, namun dengan halus ia menolaknya yang mau tidak mau Shikamaru turuti. Sepanjang koridor, lagi-lagi semua pasang mata menatapnya. Dan jika boleh dikatakan, mereka menatapnya dengan pandangan risih dan jijik. Seolah ia adalah seonggok kotoran yang wajib disingkirkan.
"Hei, lihat-lihat. Dia sendiri. Tumben sekali"
"Doll Princess itu sepertinya kehilangan sang kakak"
"Hahaha, kakaknya pasti muak juga dengannya"
"Dia seperti anak ayam kehilangan induknya"
Berbagai cibiran demi cibiran Hinata dengar, cukup untuk membuat telinganya panas. Sedikit flashback, selama ini ia tidak terlalu memperdulikan omongan orang karena sang kakak selalu disampingnya. Dan ketika Naruto tidak ada, maka inilah yang ia dengar. Hingga Tiba-tiba perkataan Sasuke terngiang di kepalanya.
"Bodoh, dan tidak diinginkan. Sampah"
Hinata menunduk, menyembunyikan wajahnya di balik poni tebalnya, dan ia mempercepat langkahnya. Seiring itu pula, kalimat Sasuke terus terngiang, seolah mengejeknya lagi dan lagi. Meski hati kecilnya sedikit membenarkan, nyatanya logikanya menolak keras. Ia masih percaya kalau sang kakak tidak pernah bermaksud membuatnya bodoh. Naruto meninggalkannya karena suatu alasan. Meski alasan itu ia yakin dari dirinya juga.
Kini, dengan nafas terengah-engah Hinata tiba di sebuah pohon cukup jauh dari gedung sekolah. Daunnya yang lebat membuat siapapun yang berada di bawahnya akan merasa nyaman dan tenang. Begitupula dengan Hinata, gadis itu mendongak, menatap rerimbunan pohon yang bergoyang tertiup angin. Sedikit hawa lega menyeruak di benaknya. Ia merasa nyaman dan sedikit aman. Paling tidak ia tidak akan diganggu atau dicibir disini. Iapun mulai duduk di rerumputan. Membuka kotak bekalnya yang ternyata ada dua. Ditatapnya sendu kedua kotak bekal itu.
Tadi pagi, untuk memulai komunikasi dengan sang kakak ia berinisiatif membuat bekal meski sebagian besar karya sang ibu. Dan ia akan mengajak sang kakak untuk makan bersama dan bercengkrama. Namun ketika Naruto pergi begitu saja tadi, rasanya niatan itu sirna. Ia terlalu takut untuk meminta mengingat akhir-akhir ini sang kakak sering sekali marah. Ia menghela nafas, mengambil sumpit dan mulai memakan bekalnya.
Dari jauh, Shion dan komplotannya yang kebetulan sedang menuju kantin melihat Hinata duduk sendirian di bawah pohon besar yang sepi. Gadis bermata mirip dengan Hinata itu menyeringai, kemudian mengangkat jarinya dan mengkodekan temannya untuk mengikutinya.
Baru saja Hinata menghabiskan setengah bekalnya, tiba-tiba sebuah air mengguyurnya. Gadis itu gelagapan. Rambut dan seragamnya basah, begitupula dengan bekalnya yang bernasib sama. Shion dan teman-temannya sontak tertawa.
"Hahahaha. Maaf, aku hanya membantumu saja. Karena kulihat kau sulit sekali menelannya" kata Shion innocent
"Hah, hah" Hinata masih terengah-engah
Tak mendapat sahutan, sontak Shion menjadi kesal. Ditendangnya bekal Hinata hingga berhamburan.
"Aku bicara padamu, autis" gertak Shion
Hinata menatap nanar bekalnya yang sudah berhamburan. Ia mencoba untuk meraihnya namun tangannya langsung diinjak oleh Shion. Gadis itu merintih kesakitan, namun terlalu takut untuk melawan.
"Kau menghiraukanku? Apa kau tuli? Nona?" tanya Shion
SETTT
Shion menarik sebelah rambut Hinata yang dikucir ke atas. Teman-temannya juga tak tinggal diam. Mereka mengelilingi Hinata guna menyembunyikan aksi bejat mereka.
"Le-phas-khan-akh-ku" pinta Hinata
"Kau fikir aku mau? kalau kau janji melepaskan Naruto dan enyah dari hidupnya maka aku akan melepaskanmu dengan senang hati" kata Shion
"Aku, tidak akan meninggalkan Naruto-nii" jawab Hinata
"Kau menantang rupanya" geram Shion
PLAK
Shion menampar wajah Hinata hingga gadis itu tersungkur. Tatapannya penuh benci. Tak puas ia juga menginjak kaki Hinata, gadis itu memekik namun dagunya dicengkeram oleh teman Shion yang bernama Fuu.
Jauh dari mereka. Sakura dan Ino keluar dari ruang Osis setelah menerima jadwal baru dari Temari. Mereka mengobrol ringan. Atau lebih tepatnya Sakura membahas kenapa Ino meninggalkannya di festival. Gadis berambut pirang itu hanya nyengir tidak jelas dan meminta maaf seraya membungkuk sesekali. Sakura mau tidak mau mengangguk dan memaafkannya. Bagaimanapun Ino sahabatnya.
"Ah, aku lupa. Di festival aku sempat melihat Sasuke hlo" cerita Ino
DEGH
Sakura membulatkan mata. Tangannya yang menggenggam selembar kertas, mengerat. Perkataan Ino memancing ingatannya dimana Uchiha Sasuke, pria yang diam-diam ia kagumi dan sukai terlihat begitu mengerikan.
"Begitu ya?" gumam Sakura mencoba tertawa
Mereka kembali berjalan dan mata Ino tak sengaja melihat kelompok Shion tengah mengerubungi seseorang. Iapun menghentikan langkahnya.
"Ada apa?" tanya Sakura
"Hei, bukankah itu adiknya Naruto? Siapa ya namanya, Hi- ah pokoknya ada ta-ta-nya gitu" kata Ino
"Apa dia dibully?" gumam Ino lagi
SETTT
Sakura segera melesat, meninggalkan Ino yang terbengong bingung.
Ditempatnya, wajah Hinata sudah berantakan. Lipstiknya belepotan dan riasannya kacau. Rambutnya bahkan tak karuan dan beberapa helai sudah mengiasi rumput. Menunjukkan sebetapa mengerikannya Shion menganiaya dirinya. Air mata sudah membanjiri wajahnya namun tak ada rasa iba sedikitpun dari Shion. Dalam hati, ia memanggil, memanggil sang kakak.
"Naruto-nii, selamatkan aku" panggilnya dalam hati
"Aku takut" katanya lagi
"Hei, apa yang kalian lakukan!" gertak Sakura
Shion dan gengnya menoleh. Melihat sang ketua kelas, Shion berdecak kesal. Acaranya diganggu. Iapun beranjak, meninggalkan Hinata daripada ia harus kena imbas pukulan maut dari Sakura.
"Hei! Sialan! Jangan pergi kau!" umpat Sakura, namun ketika ia mau mengejar Shion, atensinya lebih memprioritaskan untuk menengok keadaan Hinata. Didekatinya Hinata dan matanya terkejut bahkan hampir menangis melihat keadaan mengenaskan gadis itu. Hell! Apa sebegitu tingginya egoisme di sekolah elite ini?
"Kau baik-baik saja?" tanya Sakura
"U-uhm" angguk Hinata dengan sulit
"Sakuraaa" teriak Ino mendekat, dan bisa ditebak bagaimana reaksinya. Ya, sama halnya dengan Sakura.
"Hei, hei apa yang terjadi? Bagaimana bisa? Oh astaga!" Ino berucap panik
"Kau harus ke UKS" kata Sakura menyentuh tangan Hinata
"Bekalnya" isaknya
"Bekal? Maaf, tapi sepertinya itu sudah tak bisa dimakan lagi" kata Sakura ikut sedih
"Tenanglah. Kami akan mengantarkanmu" kata Ino menangkan
Kedua gadis itu memapah Hinata menuju UKS. Dalam hati, Hinata merasa sangat sedih. Entah kenapa ia jadi mulai takut sekarang. Kalimat Sasuke yang mengatakan Naruto akan meninggalkannya seolah menjadi kutukan dan kini ia mulai bisa melihatnya. Semua nyata. Tapi kenapa ia baru bisa melihatnya sekarang? Kalau dunia terlalu kejam untuk gadis gila sepertinya. Mata Hinata bergetar, meski tangisnya sudah mereda, dadanya malah semakin sesak.
UKS. Ino celingukan mencari penjaga UKS, pasalnya Shizune-sensei yang biasanya stand by malah tak ada ditempat. Akhirnya daripada membuang waktu mencarinya, ia dan Sakura mulai mengobati luka Hinata. Tangannya lecet dan wajahnya sedikit membiru seperti bekas tamparan. Sakura mendudukkan Hinata di ranjang, ia mulai mencari obat merah dan kapas sementara Ino malah menggeledah laci pribadi Shizune-sensei. Sakura mendengus kesal, disaat seperti ini sahabatnya malah bertindak diluar keadaan.
"Namamu Hinata kan?" tanya Sakura hati-hati
Hinata menatap Sakura dengan pandangan terkejut. Baru kali ini ada orang lain yang bicara baik padanya selain Shikamaru di sekolah ini.
"Apa kau takut? Aku tidak akan menyakitimu, tenang saja" lanjut Sakura seraya tertawa garing
"Maaf, aku tidak bermaksud begitu" ucap Hinata lembut membuat Sakura terperangah
"Aaa~ ngomong-ngomong bagaimana mungkin kau tidak melawan saat Shion membullymu?" tanya Sakura namun Hinata hanya diam
"Maksudku aku tak berniat menekanmu. Tenang saja" kata Sakura buru-buru
"Yatta! Ini dia" kata Ino seraya mengacungkan pembersih wajah
"Ino, kau berisik. Tak tahukah kau kalau ini UKS?" geram Sakura tertahan untuk tidak menjitak kepala Ino
"Ups, maaf" Ino menutup mulutnya seraya nyengir kuda
"Ah iya, tapi ini sangat penting. Kau tidak akan bisa mengobati lukanya tanpa membersihkan wajahnya dulu, Sakura. Kau tahu kan kalau kosmetik dan antiseptik tidak boleh dicampurkan terlebih di wajah?" kata Ino kemudian mendekat
"Yosh, kita bersihkan dulu wajahmu" kata Ino memulai aksinya
"Ta-tapi. . ." Hinata terbata hendak mencegah namun melihat kesungguhan dan senyum bersahabat gadis yang bernama Ino jadi diam. Jarang sekali ia diperlakukan layak di sekolah.
"Katakan sakit kalau sakit ya" kata Ino seraya membersihkan wajah Hinata
Sedikit demi sedikit, bedak tebal yang menyelimuti wajah Hinata mulai tersapu. Gadis itu menggigit bibir bawahnya tak kala pipinya terasa sedikit perih. Ino mengernyit dan bergumam maaf, sementara Sakura menatapnya was-was. Ino terus menyapukan kapasnya, pipi, hidung, dahi, kelopak mata, dagu bahkan bibir. Mata Sakura terperangah, dan ketika Ino melepaskan bulu mata palsu Hinata dan karet yang mengikat rambutnya, kedua pasang mata itu membulat sempurna. Bahkan tangan Ino melemas hingga tak sadar kapas ditangannya terjatuh.
Satu kata . . .
Cantik.
Gadis yang berpredikat Doll Princess itu membuka matanya perlahan. Rambutnya yang halus tergerai sempurna meski kini sedikit bergelombang akibat karet yang telah menjeratnya. Wajah yang biasanya bermake up aneh itu telah tergantikan dengan kulit porselin. Putih bersih nyaris tanpa noda. Bulu mata aslinya lentik dan bibirnya berwarna peach. Sungguh sempurna. Bahkan kedua gadis itu mematung melihatnya. Baru kali ini mereka melihat seseorang secantik itu.
"Hi-hi-nat-ta" Sakura terbata
"Ka-kau-ca-can-tik" Ino ikut terbata
Sontak saja wajah Hinata memerah. Kedua pipi gembil itu merona dan sungguh, itu membuat Ino ingin memeluknya dan mencubitnya. Hinata benar-benar bak boneka berjalan. Jika Ino adalah laki-laki maka ia pasti akan langsung jatuh cinta pada Hinata. Terlebih sikap malu-malunya pasti akan membuat lelaki manapun gemas dengannya.
"Jangan menatapku seperti itu" gumam Hinata takut membuat Sakura dan Ino sadar dari lamunan mereka
"MARVELOUS! Kau cantik Hinata! Kau benar-benar cantik!" kata Ino antusias seraya memegang kedua pundak Hinata
"Ya, baru kali ini kami melihat gadis secanti dirimu. Jujur saja aku tak menyangkanya" sahut Sakura
"Kenapa kau menyembunyikannya? Kau tak tahu kalau wajahmu itu pasti akan membuat lelaki manapun bertekuk lutut padamu?" tanya Ino ambigu
"Tekuk? Lutut?" Hinata tak paham
PLAK
"Jangan bicara aneh-aneh, Ino. Dia masih suci. Jangan racuni dia dengan bisamu" kata Sakura setelah memukul kepala Ino
"Hei, aku mengatakan fakta" sangkal Ino
"Tapi, ngomong-ngomong kenapa bibirmu bengkak? Dan sedikit pecah-pecah?" tanya Ino
DEGH
Hinata tekejut. Perilaku sang kakak kembali teringat di otaknya dan iapun menunduk sedih. Ino langsung panik, ia tidak bermaksud menyinggung Hinata tentunya.
"Ak-aku terjatuh" dustanya
"Begitu ya" kata Ino seraya nyengir seperti biasanya
Sakura mengambil alih, ia mulai mengobati wajah dan tangan Hinata. Dan mulai bicara ringan agar gadis yang ia tahu memiliki gangguan mental itu rileks. Ia tahu tekanan bisa membuat gadis itu histeris terutama kejadian yang baru saja menimpanya.
"Yosh, selesai" kata Sakura
Tepat saat itu, bel berbunyi. Sakura dan Ino beranjak dari tempatnya. Tentu mereka tak ingin terlambat masuk kelas. Mereka menawarkan untuk mengantar Hinata ke kelas namun ditolak gadis itu.
"Kenapa?" tanya Sakura
"Aku tak mau kembali" jawab Hinata lirih
"Kakakmu pasti khawatir" kata Sakura
"Jangan beritahu dia kalau aku disini. Jangan beritahu juga apa yang terjadi" pinta Hinata sedikit menaikkan oktafnya, seperti menggertak Sakura. Gadis musim semi itu terkejut namun berikutnya ia mengerti maksud Hinata.
"Baiklah, tapi berjanjilah kau tidak kabur karena aku akan dapat masalah kalau kakakmu salah paham" kata Sakura
"Anou . . . Terimakasih banyak" kata Hinata seraya membungkuk namun kakinya terasa nyeri, dan ia baru sadar kalau ia terkilir
"Sama-sama" kata Sakura dan Ino bersamaan kemudian pergi dari UKS
Sepeninggalan keduanya, Hinata mencoba untuk duduk meski sulit. Ia kembali merintih dan menurunkan kaos kakinya dan terlihatlah kakinya yang merah dan membengkak. Ia kembali terisak. Satu demi satu liquid-pun berjatuhan membasahi lantai.
"Hiks, hiks, Naruto-nii" isaknya
Di bilik samping Hinata yang sedari tadi tertutup, seorang pemuda membuka matanya, memperlihatkan onyx hitamnya. Dilepaskannya headset yang mengalunkan musik kesukaannya. Ia berdecak kesal. Segera ia menyingkap tirai yang membatasinya dengan bilik sebelah.
"Tidak bisakah kau diam!" bentaknya
Hinata menoleh, dan ketika ia sudah menoleh sempurna, sepasang mata onyx itu membelalak sempurna.
Sasuke terdiam. Suara yang harusnya memaki gadis dihadapannya seakan direnggut dan pita suaranya seolah mati. Wajah itu, wajah putih bak porselin itu begitu terluka, dan mata mutiara itu begitu sayu. Liquid bening membasahi wajahnya dan bibirnya ia gigit guna menahan isakan yang semakin menjadi-jadi. Tidak hanya itu guncangan yang melanda batin seorang Sasuke, melainkan sebuah dengungan halus yang memanggilnya . . .
"Sasuke-kun"
Jam pelajaran terakhir berlangsung. Namun di kelas 2-1 dua orang siswa yang kebetulan berada di bangku yang sama tak ada ditempat. Naruto tentu merasa curiga, dan entah kenapa firasatnya tak nyaman. Ingin sekali ia keluar namun begitu ia berdiri, Mei-sensei sudah memelototinya, mengkodekan dirinya untuk duduk. Naruto menggigit bibir bawahnya dan dengan terpaksa duduk.
Sepulang sekolah. Naruto melesat begitu saja keluar kelas dan didepan kelas seorang gadis musim semi menghadangnya. Naruto menggeser tubuh Sakura namun tangannya langsung ditahan kuat oleh gadis itu.
"Apa urusanmu?" tanya Naruto
"Kau mencari adikmu kan?" tanya Sakura
"Dia terjatuh tadi dan sekarang istirahat di UKS" paparnya seraya melepaskan tangan Naruto
Naruto hendak pergi namun perkataan Sakura menghentikan langkahnya sejenak.
"Tunggu"
"Katakan padanya kalau kau mencarinya, jangan beritahu kalau aku yang memberitahu" lanjut Sakura
"Apa maksudmu?" tanya Naruto
"Dia, tidak ingin membuatmu khawatir" jawab Sakura kemudian Naruto melenggang pergi tanpa mengucapkan kata terimakasih
Sakura menatap kepergian Naruto dengan pandangan sulit diartikan. Tentu ia masih ingat akan keposesifan Naruto pada sang adik dan raut amarahnya saat melihat adiknya tengah berciuman dengan Sasuke meski sebenarnya itu kesalahpahaman. Sedikit ia mulai bertanya, apakah Naruto dan Hinata memang saudara kandung mengingat tak ada kemiripan fisik dari keduanya. Merasa otaknya sudah sedikit mengelana, Sakura segera menggelengkan kepala. Itu bukan urusannya. Yang penting ia sudah menyampaikan maksud baiknya.
UKS. Naruto membuka pintu dengan sedikit tenaga berlebih namun tidak kasar. Ia segera masuk dan mencari sang adik. Raut wajahnya yang serius kentara sekali menunjukkan kalau ia sedang panik dan khawatir. Kalimat Sakura yang mengatakan kalau Hinata tidak ingin membuatnya khawatir membuat dirinya semakin merasa bersalah. Kalau saja ia tidak egois dan tidak meninggalkan Hinata maka tidak akan seperti ini. Kilasan akan kecelakaan tragis kembali menggelayutinya, menyerangnya layaknya ia adalah penantang perang. Rasa cemas semakin melandanya tak kala tidak menemukan sang adik dimanapun. Yang ada diruangan bernuansa putih itu malah seorang gadis berambut indigo yang tergerai sempurna sedang membelakanginya. Mirip dengan sang adik atau memang adiknya? Naruto sedikit terhenyak menyadari hal itu.
Hinata menatap matahari yang mulai tenggelam dengan mata sayu. Sudah berjam-jam ia duduk disini. Sudah kesekian kali ia berhitung dalam hati, menghitung angka guna meredam perasaan sesaknya. Ia memegangi dadanya yang berdetak kencang saat ini hanya karena hal sepele.
Memikirkan sang kakak.
"Kenapa?" tanya Hinata
Dan detakan itu semakin cepat tak kala hidungnya mencium aroma citrus. Bunyi langkahnya dan suara deruan nafasnya. Hinata mengenalinya. Tangan mungilnya gemetar. Perilaku dingin sang kakak sejak kemarin menghantuinya. Terlebih dengan tega sosok itu tak ada saat ia membutuhkannya. Bibir yang selalu mengucap sumpah dan janji itu, mengingkarinya. Meninggalkannya layaknya ia ini sampah.
Sampah.
Badan Hinata semakin gemetar. Matanya mulai berkaca-kaca.
Naruto semakin mendekat, dan kini ia sudah berada didepan Hinata. Menghalau gadis itu untuk melihat pemandangan diluar sana. Mata Naruto menyelidik, memastikan keadaan sang adik meski gadis itu menyembunyikan wajahnya dengan cara menunduk. Dan terbelalaklah Naruto ketika menyadari perubahan yang amat kentara dari wajah itu.
Bukan luka, bukan juga memar yang sedikit kebiruan. Melainkan . . .
Wajah Hinata yang kini tanpa make up.
DEGH
"Hi-na-ta" panggil Naruto terbata
"Jangan lihat!" tegas Hinata semakin menyembunyikan wajahnya, matanya sudah berkaca-kaca dan siap menuangkan kembali liquidnya
Hinata menangkup wajahnya dengan kedua tangan. Menghalau sang kakak untuk melihat wajahnya.
"Jangan lihat aku" pintanya dengan suara serak
Naruto menggigit bibir bawahnya. Rahangnya mengeras dan iapun menggenggam kedua tangannya, mencengkeram bagian samping celananya hingga kusut. Sekali lagi dadanya bergemuruh, bak guntur yang membelah angkasa. Bergema hingga menggetarkan seluruh saraf dan nadinya. Mengusik sudut hatinya. Dapat ia rasakan suhu tubuhnya memanas, tentu bukan efek yang kebanyakan orang sebut dengan cinta, tapi hal lain yang tak dapat ia terjemahkan.
TES
DEGH
PLUK
Naruto menutup kepala Hinata dengan jas sekolahnya. Gadis itu semakin terisak. Sikap Naruto, sang kakak benar-benar membuat kerja jantungnya semakin aneh dan perasaan sesak serta sakit itu menjadi-jadi. Kemarin mengacuhkannya dan sekarang ia memperhatikannya. Sebenarnya kenapa dengan Naruto? Dan kenapa dengan dirinya?
"Maaf" ucap Naruto lirih namun tak ada sahutan dari sang adik
Satu detik, dua detik, tak ada sahutan. Hinata terus menangis.
Menyadari isakan Hinata semakin keras, Naruto pun geram. Ia menghela nafas kasar kemudian menarik kerah jas sekolahnya yang dipakai di kepala Hinata. Membuat kepala gadis itu tertarik hingga mendongak dan mau tidak mau wajahnya harus berhadapan dengan sang kakak yang berdiri. Naruto mendekatkan wajahnya sementara wajah Hinata ia sembunyikan di balik jas. Ditatapnya manik mutiara itu dengan pandangan melembut. Darah Hinata berdesir, bibirnya gemetar dan air matanya malah semakin menjadi-jadi. Mata Naruto menyipit, ia mendekatkan wajahnya ke Hinata, semakin dekat dan dekat hingga gadis itu dapat merasakan hembusan nafas memburu milik sang kakak menggelirik permukaan bibirnya. Dan secara perlahan-lahan mata Hinatapun mulai tertutup dengan lelehan bening yang senantiasa masih menemaninya.
Naruto menempelkan bibirnya ke mata kanan Hinata dengan lembut. Seolah mengatakan pada gadis itu untuk berhenti menangis. Namun hal itulah yang membuat lelehan demi lelehan air mata Hinata tak kunjung reda. Ciuman itu bak pemicu bom. Membobol pertahanan seorang Hinata, merusak sarafnya Hingga tanpa sadar bibirnya berucap . . .
"Naruto-kun?"
Dan dibalik pintu ruang kesehatan, Sasuke menyembunyikan diri. Pintu yang terdapat sebuah kaca tembus pandang itu menghantarkannya pada sebuah adegan yang harusnya tidak ia lihat dan suara yang harusnya tidak ia dengar.
"Naruto-kun?"
To Be Continue
WOAAAAA Mina-san. Entah kenapa Nao jadi histeris sendiri baca part ending chapter ini. Okey, abaikan.
Ehem. Bagaimana kabarnya semua? Baik kan? semoga selama kalian membaca chapter ini bahkan cerita ini kalian tak bosan. Karena beberapa part yang sengaja atau tidak disengaja diulang.
Maaf alur lambat, thypos, salah eja, atau kesalahan lain yang tak bisa disebutkan satu persatu. Yang penting kalian mengerti maksud Nao.
Sekedar informasi saja, ini cerita NaruHina. Nao sangat suka pair itu jadi jika disini ada scene SasuHina atau NaruSaku harap dimaklumi. Semua demi kelancaran cerita. Dan disini sudah sedikit Nao ulik keberbedaan Hinata atau kejanggalan dalam dirinya. Atau mungkin juga karakter lain?
Jujur saja Nao melting sendiri dengan karakter Naruto disini. Greget juga dengan karakter Sasuke. Kok bisa? Entahlah.
Sekian cakap-cakap dari Nao. Dan sekali lagi Nao ingatkan, bagi kalian para reader yang sudah membaca cerita, harap apresiasi karya tersebut dengan meninggalkan jejak berupa review, favorite atau follow. Karena disini author tidak digaji. Anggaplah itu sepele tapi bagi seorang author itu sangat teramat berarti untuk penyemangat.
Ingat, kami memikirkan bagaimana kelanjutan setiap cerita yang dibuat bahkan untuk Nao, saat kerja dikejar deadline masih bisa berfikir ini fic. Hehehe, harap jangan dicontoh.
Sekian and See you next week.
Best Regards
Nao Vermillion
