Chapter 3 : Come Back

Ia sudah memantapkan hatinya. Ia akan menyerahkan syal ini sekarang juga. Lebih cepat lebih baik. Hubungan yang selama ini renggang, akan diperbaikinya agar menjadi seperti dulu. Mula-mula langkahnya kencang, namun menjadi lamban, lalu cepat lagi, dan kemudian pelan lagi. Begitulah seterusnya sampai Sai bisa melukis gambar burung, bukannya huruf M yang dibawahnya diberi garis.

"Hee?" Tiba-tiba seseorang yang sedang asyik bersama kanvasnya mengorek telinganya dalam. "Apa ada seseorang yang menyebutku?"

Ah, abaikan saja manusia itu. Mari kita kembali ke komplek Hyuuga. Hinata mungkin sedang labil. Memikirkan ya atau tidak, memprediksi apa yang akan terjadi jika salah satu keputusan diambil. Dia bukan tipe wanita yamato nadeshiko, memberikan sebuah syal tentu terlihat aneh. Tapi jika ia tak memberikannya sekarang, hubungannya dengan Menma akan seperti ini terus. Gah! Kenapa harus ada konflik batin tiap kali ingin memulai sesuatu?

"Nee-sama," Seseorang memanggilnya di tenga frustasi yang melanda. Yang memanggilnya tadi adalah Hanabi, adiknya. Kau bisa lihat dari wajah mereka yang mirip, yang berbeda hanyalah warna rambut mereka. "Etto... Ano...,"

"Ck," Kadang sifat malu-malu adiknya ini membuatnya gerah. "Katakan saja,"

"A.. ano... Ganbatte ne,"

"He?"

"Kau akan memberi syal itu, kan? Ja.. jadi semangatlah. Se..semoga hubunganmu dengan Me..menma-nii..,"

"Darimana kau tahu aku buat syal?" potong Hinata tiba-tiba.

"Karena.. ki..kita saudara bukan?,"

Feeling seorang adik, huh?

.

.

.

.

THE FIRST

CHAPTER 3 : KENANGAN

A NARUTO FANFICT

DISCLAIMER : KISHIMOTO MASASHI

FICT BY SASSHI KEN

WARNING : TYPO DETECTED, AMATIRAN, RTN WORLD, ALTERNATIVE UNIVERSAL,

CHARACTER BASED ON ROAD TO NINJA : NARUTO THE MOVIE,

ADAPTASI DARI THE LAST : NARUTO THE MOVIE

HOPE U LIKE IT...^^

.

.

.

.

Misi dimulai di tengah dinginnya musim ini. Dari atas elang kuchiyose Sasuke, tampak jelas dari atas tanah-tanah yang ditutupi putihnya salju. Saat ini penerbangan mereka sudah melewati perbatasan Konoha.

"Di sini!" teriak Sasuke sambil menunjukkan lokasi dengan tangannya. "Disini aku kehilangan jejak penculik itu!"

"Berarti di sekitar sini mereka sudah menyadari kehadiranmu," argumen Sakura yang dijawab dengan anggukan mungkin Sasuke.

"Kita berpencar!" instruksi Chouji dengan lantang. Semua mengangguk. Segeralah mereka berpencar dengan burung tunggangan mereka masing-masing. Sasuke dengan elang kesayangannya, Chouji dan Sakura juga yang menunggangi burung yang berbeda, serta Menma dan Hinata.

Dalam waktu singkat setelah mengaktifkan byakugannya, Hinata mendarat di hamparan salju luas. Tindakan ini disusul juga oleh temannya yang lain.

SRUK SRUK

Mengamati sang Hyuuga yang sedang menggali salju, dan tak tahu apa yang dicari perempuan itu, sampai ketika ditemukannya sebuah kunai di dasar galian itu. "Kunai?"

"Ini kunai Hanabi. Hanabi memberi gantungan pada kunainya," jawab Hinata. Pewaris klan Hyuuga itu menatap pusara adiknya dengan mata berkaca-kaca. Ditahannya air mata yang memberontak untuk keluar. "Gantungannya lucu, ya"

"Hn?"

"Ah! Kenapa aku...jadi... Akh! Chouji! Ini barang bukti!" Dan setelah itu Hinata menyembunyikan air matanya.

'Hanabi, tunggu aku!'

.

.

.

"Feeling saudara, huh?" Dua saudara duduk di anak tangga rumah mereka. Kepala dipangku oleh tangan, menatap lantai bawah. "Kalau begitu, aku merasa kau akan memiliki pertarungan nanti," jawabnya asal.

"Benarkah?" tanya Hanabi tanpa jawaban. "Ka..kalau begitu, aku bisa menggunakan kunai ini," Gadis muda itu lekas merogoh kunai di kantungnya. Kunai itu ditatapnya dengan penuh kasih sayang. Disana, tergantung mainan kecil berwarna jingga yang lucu.

Sedang Hanabi menatap mainannya dengan riang, Hinata menatap aneh pada adiknya. "Ayolah, itu kunai! Bukan mainan! Memangnya kau tega melempar kunai itu ke musuhmu?!" tegurnya.

"A... Etto.. ano... ini spesial,"

"Spesial?" Pertanyaan itu dibalas dengan anggukan pelan Hanabi. Ada rona merah samar di pipinya.

"A... Aah!" Mata sang hyuuga sulung membulat. Kaget dengan logika yang dibuatnya sendiri. "Kunai itu... dari Udon?"

"Bu.. bukaann!" Wajah Hanabi makin memerah.

"Konohamaru!?"

"TI..TIDAK! I..INI BU..BUKAN...,"

"Ya yah. Ternyata kau jatuh cinta. Ciiee..." potong Hinata. Lucu juga melihat tingkah adiknya. Hahh.. Ternyata Hanabi sudah makin dewasa. Berat rasanya ia harus melepaskan Hanabi ke pelukan lelaki lain. Tunggu, kenapa ia malah berbicara seperti ini?

.

.

.

Beragam laporan telah diterima. Dan kini saatnya bagi mereka untuk melanjutkan perjalanan di tengah dinginnya cuaca. Hinata masih asyik dengan byakugannya, berkonsentrasi penuh melihat apa yang didepan.

"Jadi, apa yang ada disana?" tanya Sakura.

"Ada... danau di balik air terjun itu,"

"He?" Dalam kebingungan mereka terbang menuju tempat itu. Ada sensasi tersendiri kala air terjun menyentuh kulit mereka yang dingin. Namun, rasa dingin itu terbayarkan ketika mereka telah masuk. Di depan ada sebuah danau kecil yang mana ada uap yang mengepul. Ini terlihat seperti pemandian air panas. Jika ditanya siapa yang lebih dahulu menghampiri kolam itu, maka jawabannya adalah...

"Wohoo... Rasanya aku ingin segera berendam!"

"Wo..Woi! Tunggu, hoi!"

... Sasuke. Secepat kilat ia menceburkan diri kedalam kolam. Yah, biarkanlah dia menikmati waktu-waktunya. Beralih ke yang lain, saat ini Hinata masih mengaktifkan byakugannya untuk menyelidiki dasar danau itu. "Aku tak bisa melihatnya. Pandanganku seolah dihalangi,"

"Dihalangi? Apa mungkin ada Kekkai dipasang?" argumen Sakura. Chouji mengangguk, sambil memasang pose berpikir.

"Hoy!" Sasuke berteriak, membuat yang lain menoleh ke arahnya. "Lihat! Bajuku sama sekali tak basah! Padahal aku berendam, lho," Sebagai testimoni, ia bangkit dari berendamnya, dan meminta rekan-rekannya untuk menyentuh bajunya. "Tidak basah, kan?"

Benak mereka mengatakan kalau ini adalah kolam yang aneh. Sangat aneh.

"Ya sudah. Mari kita selidiki kolam ini!" Intruksi Chouji. Semua mengangguk. Yang lain bercebur setelah Chouji yang duluan. Namun sebelum berenang, Menma menyimpan syal yang dipakainya ke ransel.

.

.

Sekalipun misterius, tapi tempat ini sangat indah. Di dalam kolam, ada ratusan gelembung dengan bermacam ukuran menemani air yang tak membasahi apapun. Semua menatap kagum, tak terkecuali Menma. Tangannya berangsur memegang permukaan gelembung itu. Memegang, sampai tak sengaja gelembung itu diletuskannya.

PLOOP

"Hyaaaakkhh!" Menma berteriak dengan kencangnya. Nafasnya terengah-engah. Rasanya sakit dan begitu panas. Tangan dan kakinya diikat oleh lilitan rantai yang kuat.

Sedari tadi chakra merah tak putus-putus memasuki tubuhnya.

"Hokage-sama! Tolong hentikaann!" Wajah lemasnya menatap sang Ibu yang tengah menangis terisak. Kushina berusaha untuk berlari, menerjang di depan, dan memeluk anaknya. Namun para tetua desa menghadangnya. Air mata Menma ikut menetes melihat Kushina menangis. Melirih ia memanggil ibunya. Berharap ada seseorang yang menolongnya dari sesuatu yang sangat tidak dimengertinya sekarang ini.

Dari samping, kembali menatap ke depan. Ada ayahnya yang tengah merapalkan suatu jurus, dan para anbu serta Hokage yang membentuk formasi. Sama dengan Kushina, bedanya Minato tak mengeluarkan air mata. Kepala Namikaze itu menggigit bibir bawahnya saja. Namun dengan melihat ekspresinya saja, justru rasa sedih dan penyesalannya lebih besar dibanding sang istri.

"A...Ayah...Tolong aku..,"

"Maaf, Menma..."

SRUUSSHH

"GROOAAA!"

Chakra merah yang mengalir dari tadi, kini makin deras alirannya.

PLOOP

Beberapa hari sebelumnya, Menma tak pernah memikirkan hal itu. Sebagai anak 8 tahun, semua ia anggap indah.

"Ne, tidurlah yang nyenyak-ttebane," Kushina menyelimuti Menma yang akan terlelap. Tak lupa ia juga mengusap-usap wajah anaknya. "Apapun yang terjadi, Ayah dan Ibu akan selalu bersamamu,"

Oke, ini benar-benar aneh. Ia tak mengerti pada apa yang dilakukan Ibunya akhir-akhir ini. Semacam.. begitulah. Pernah ia bertanya, tapi si Ibu tak menjawab.

"Minato... Kenapa harus anak kita? Kenapa tak aku saja? Hiks..."

"Kushina... Aku juga tak menginginkan hal ini terjadi...,"

"Hiks.. Hiks..,"

"Sudahlah, Kushina. Pokoknya setelah ini, kita harus selalu bersamanya,"

Sayup-sayup percakapan itu didengarnya sebelum matanya terpejam menuju alam mimpi.

PLOOP

Apa.. Apa yang dia lakukan? Tidak mungkin kan, tangan kecilnya ini membuat sang Ibu koma?

"Tidak... Aku.. Kenapa..."

"Kau yang melakukannya,bocah,"

DEGG

"Siapa kau?"

"Khukhukhu..."

"Kenapa... kenapa aku di sini?!"

"Apa kau ingat saat tanganmu dirantai, sementara yang lain hanya memperhatikanmu saja?"

"..."

"Tak tahukah kau, kau hanya dianggap sebagai benda?"

"TIDAK! Kau pembohong! Tidak mungkin! Ayah dan Ibu takkan..."

"Lalu bagaimana dengan teman-temanmu?!"

"I..Itu..."

"Hnn?!"

Menma tak mempu berkata-kata. Perasaannya campur aduk.

"Ya, teruskan. Bencilah pada keadaan yang membuatmu seperti ini. Balaslah mereka. Seperti kau menghancurkan wanita Uzumaki tadi,"

"Haah.. Haahh...TIDAAAAKKK!"

PLOOP

"Berikutnya, Uchiha Sasuke melawan Namikaze Menma,"

Suatu siang di akademi ninja. Para murid diminta untuk saling bertarung. Hanya pertarungan biasa, tidak lebih. Ketika nama Sasuke disebut, para fangirlnya langsung bersorak sorai. Mereka meneriakkan 'Sasuke-kun', 'Semangat', 'Aku menyayangimu' dan sebagainya. Sasuke memang primadona sekolah, dan untuk mengapresiasi para penggemarnya, ia melambaikan tangan seraya kiss jauh ala artis.

"Ck, Cepatlah, Sasuke! Lawanmu sudah menunggu dari tadi!" teriak Iruka. Ada rasa iri pada Sasuke, mengingat anak 7 tahun itu sudah bisa menebar pesona sementara dirinya... yah begitulah. Iruka terus mencari cara agar bisa populer di antara kunoichi Konoha. Siapa tahu bisa dapat jodoh.

"Hai, Hai. Maaf, sensei," Tangan Sasuke telah membentuk Wakai no In. "Wah... Aku tak menyangka bisa bertarung dengan teman tercintaku ini~~"

"..."

Keduanya sudah siap, dan setelah itu Iruka memberi aba-aba mulai. Pertarungan berlangsung singkat, dapat ditebak siapa yang memenangkannya.

"Pemenangnya adalah Namikaze Menma!"

"Yayy! Menmaa! Keren!" Mereka yang menonton secara obyektiflah yang meneriakkan ini. Terutama pada seorang gadis lavender yang sangat kencang berteriak 'Menma' dari tadi meski teman perempuan yang lain berlawanan. Perempuan ini menonton secara obyektif... dan subyektif, mungkin.

"Curaangg!" teriak bocah Uchiha itu. "Sensei, ulangi lagi pertandingannya! Tidak asyik! Dasar tidak tau suasana! Sok hebat! Dasar kau..."

WUSSHH

Menma seketika berbalik, dan menghajar Sasuke. Menindih Sasuke, sambil mencekiknya. Seluruh penonton kaget, apalagi Sasuke. Ia benar-benar ada di bawah tindihan Menma. Menma memang diam saja. Namun sorot matanya begitu tajam. Itu tidak terlihat seperti Menma yang biasanya.

"U.. Ukh.." Cekikan Menma makin kuat, nyaris membuat Sasuke tak bisa bernafas. "Me..Menma, kenapa kau? Kau se..seperti ukh... mo... monster!"

DIING

Menma menarik tangannya. Kalimat tadi membuatnya tersadar pada apa yang dilakukannya. Mungkin terdengar biasa saja bagi orang biasa, tapi tidak untuk Menma yang mengetahui dirinya sendiri.

'Tidak, tidak mungkin. A.. aku bukan monster!'

PLOOP

Bukan tanpa alasan ia bersikap seperti ini. Ia menjauh, karena takut akan melukai kawannya. Ia menyendiri, karena tak mau siapapun tahu. Ia diam, agar tak ada apa-apa. Ketahuilah, sesungguhnya ia merasa iri melihat teman-temannya yang lain saling bermain bersama, saling bertukar tawa, dan saling berkumpul. Ingin dirinya bergabung, namun ia takut. Lebih baik begini saja.

Biarlah ia memendamnya.

Karena ia amat menyayangi teman-temannya.

PLOOP

"Kekuatan masa muda yang takkan pernah luput! Namaku Hatake Kakashi! Salam kenal semuaa!"

Mungkin Menma harus bersabar mendapat tim genin dengan jounin pembimbing seperti ini. Yah, meski gayanya aneh begini, tapi jangan sepelekan Kakashi. Kakashi dulu adalah murid dari ayahnya dan seseorang yang sangat dipercayai ayahnya.

Setelah mengenalkan diri, Kakashi meminta ketiga genin yang akan dibimbingnya itu untuk mengenalkan diri, mengatakan hal yang disukai dan tidak disukai, serta cita-cita mereka.

"Namaku Uchiha Sasuke. Yang kusukai adalah senyuman wanita! Yang tak kusukai adalah ratapan sedih wanita yang tersakiti. Aah.. membayangkannya saja aku tak kuat,"

Playboy kamu, mas.

"Dan impianku adalah... Yah, selain menaklukkan hati wanita, terutama..uhuk..uhukk..wanita di sebelahku ini uhukk.. Aku ingin melampaui kakakku, Itachi! Aku akan tunjukkan bahwa Sasuke jaauuhhh lebih hebat dari Itachi!"

Kakashi manggut-manggut. "Menjadikan saudara sendiri sebagai rival akan memacu semangatmu. Bagus, bagus!"

"Namaku Haruno Sakura. Yang kusukai...umm...eheheh.."Sakura menatap Menma dengan wajah memerah penuh, membuat Sasuke meresa jealous. Dasar cewek ABG labil. "Dan yang tidak kusukai adalah ketika orang-orang terus memanggilku Putri Hokage Pahlawan. Bukan berarti aku tak senang, tapi rasanya aku seperti kelhilangan jati diri yang sebenarnya. Karena itu aku memiliki keinginan untuk bisa menjadi ninja hebat. Aku ingin orang menatap Sakura sebagai Sakura itu sendiri, bukan Sakura sebagai putri pahlawan,"

"Sangat dalam. Aku terhaaruuuuu..." Kakashi mengeluarkan tangisan haru masa mudanya.

"Namaku Namikaze Menma. Yang kusukai...entahlah, mungkin ramen, terutama yang banyak menmanya. Yang tak kusukai mungkin ketika Ibu mengamuk. Dan impianku..."

Kalimatnya terhenti sesaat. Berlarut dalam pemikirannya. Membuat pendengar disana makin penasaran

"...Aku juga tak tahu. Bisa hidup tenang, mungkin. Entahlah..."

Apa-apaan itu. Mana masa mudamu?

Itulah Menma apa adanya. Tidaklah punya impian yang jelas dan tekad yang kuat. Jika ada versi dirinya di dunia paralel, mungkin akan dikatakannya bahwa ia memiliki cita-cita jelas, ingin menjadi Hokage, dan bertingkah dengan konyol saat menjawabnya.

Eh, tunggu. Dirinya versi dunia paralel itu 'kan dunia cannonnya.

PLOOP

"Menma!" Hinata berteriak dari kejauhan sambil berlari. Menma berhenti. Ia menunggu orang yang memanggilnya itu menyusulnya. Tanpa kalimat, Menma menanyakan 'ada apa' dengan ekspresi wajah saja.

"E.. Etto... Waktu ujian chuunin kemarin..." Hinata berucap pelan sambil melangkah mendekati Menma. Menma berpikir mungkin gadis ini akan berterima kasih dan sejenisnya. Namun nyatanya bukan itu.

"APA YANG KAU LAKUKAN SAAT ITU HAA?! PADAHAL AKU INGIN MENGHABISI SI PAYAH ITU DENGAN TANGAN KOSONGKU! KENAPA KAU MELERAIKU SIIHH!?"

"?!"

Baiklah, sebaiknya Menma menenangkan diri dulu. Hyuuga itu tiba-tiba memarahinya, menarik kerah lehernya, dan mendorognya sampai jatuh di permukaan tanah. "Seharusnya kau berterima kasih padaku, kan. Jelas-jelas aku menyelamatkanmu,"

"Tapi aku ingin membuktikan pada Neji! Kalu aku... tunggu! Tadi kau bilang kau menyelamatkanku?!"

"Hn," ucap Menma. Sesaat kemudian ia baru tersadar. "Ma.. maksudku aku hanya kasihan saja. Aku.. bukan maksudku... kau jangan salah paham dulu!"

Ah, melihat Menma yang bingung seperti ini sangat menggemaskan. "Tciihiii, ternyata kau masih puinya hati! Apalagi kau menolongku! Kyaa... kau begitu maniiss,"

Menma makin risih melihat tingkah Hinata. Memangnya dia bayi? Untuk dipuja-puja manis seperti itu? "Lepaskan aku!"

"Tidak!" tolak Hinata.

"Ayolah!Aku bisa terlambat!" Menma makin menggerutu.

"Ck, kau ini!" Pada akhirnya Hinata mengalah. Ia bergegas berdiri dengan muka masam di wajahnya. "Sudah lama kita tak sedekat ini. Terakhir kali aku merasa dekat denganmu justru saat awal pertemuan kita,"

Si Namikaze melangkah pergi menuju tujuannya. Hatinya saat itu sedang tak tertarik dengan apa yang diucapkan Hinata. Sedangkan itu, si Hyuuga makin merasa sebal dengan apa yang dilakukan orang di depannya. Pergi tanpa mengucapkan apapun. Seperti tak menganggap dirinya apa-apa.

"Sejak di akademi kau tak pernah berbaur dengan kami! Susah payah kami terus mengajakmu bermain bersama!" Perempuan itu teriak, mengekspresikan kekesalannya. "Kenapa sifatmu tertutup sekali, sih?!"

PLOOP

Beberapa minggu sebelumnya, suasana begitu tegang di ujian chuunin. Ini adalah pertempuran dua Hyuuga. Sangat menarik untuk ditonton.

"Menyerahlah, Hinata-sama. Takdirmu bukanlah menjadi ninja," Neji, dari golongan bawah Hyuuga berkata dengan dingin. Mendengar itu membuat lawannya berang. Hinata, dari golongan atas Hyuuga, berlari menyerang meski tubuhnya terhuyung-huyung.

"Diam kau!" Namun belum sempat menyerang, ia terjatuh duluan. Neji mendekat kemudian menendang tubuh lemah itu yang bersimbah darah.

Beberapa menjadi simpati pada Hinata. Seperti Sakura, yang menatap Hinata yang penuh darah dengan prihatin. "Hinata itu kuat, namun Neji jauh lebih kuat," Sasuke ikut mengomentari setelah mendengar ucapan pelan Sakura.

Dua orang itu saling bertukar pandangan, sedangkan anggota mereka yang satu lagi menggenggam erat pegangan besi di depannya. Giginya menggigit bibir bawah, dan pandangannya begitu tajam kepada lelaki yang ada di battle itu. "Ck,"

Menma meraih saku senjata di belakangnya, kemudian melemparkan sebuah kunai ke arah Neji.

"!?" Kunai itu akan mengenai kepala Neji, jika saja Neji tidak menghindar. Para penonton, bahkan juripun kaget. Semua menoleh ke arah pelempar. Neji dan Menma saling bertukar pandang. Seperti ada kilatan listrik di antara mereka.

"Siapa kau? Beraninya mengganggu pertarungan orang!" desis Neji yang dapat didengar oleh Menma.

"Huh. Kau masih mau melanjutkannya? Apa kau tak malu? Berbuat seperti itu pada seorang wanita? Apalagi sepupumu sendiri?" Menma balas bersinis.

"Apa bedanya lelaki dan wanita? Aku melakukannya karena ini sudah takdirnya,"

Perseteruan makin panas. Guy, Kakashi, dan Kurenai selaku jounin pembimbing mencoba meleraikan mereka. Namun, sebelum usai, mereka bercakap sebelum dipisahkan.

"Kau orang yang menarik. Aku jadi ingin mematahkan lehermu di pertarungan besok,"

"Silahkan saja. Mari kita lihat siapa yang berhasil. Kau.. atau aku,"

Hinata yang terkapar di arena melirih sambil menatap seseorang yang melempar kunai itu. "Me... Menma...,"

PLOOP

Pertarungan babak selanjutnya. Namikaze Menma melawan Hyuuga Neji. Sebagai konsekuensi akibat pertemuan terakhir mereka dengan penuh kilat nafsu menghabisi, maka atmosfer pertarungan kali ini sangat tegang. Pertarungan bisa dikatakan sejauh ini hampir seri. Tapi kondisi Neji sedikit di atas Menma. Karena di pertarungan kali ini Menma lebih banyak bertahan dari pada menyerang. Entah apa taktik yang dipakainya kali ini.

"Kau kalah dariku, Menma. Ini sudah takdirmu. Tak ada yang bisa kau lakukan lagi," Takdir, takdir, takdir. Apa itu saja yang ada dipikirannya sekarang.

"Begitukah? Ini takdirku?" Dalam keadaan terduduk Menma mengatkannya. Sesaat kemudian ia bangkit, mengeluarkan sesuatu dari saku senjatanya. Kunai dikeluarkan lalu dilemparkan ke arah Neji.

Dengan mudah Neji menangkap dengan tangannya. Tunggu, bukan kunai kosong yang dilemparkannya. Tapi ada gantungan kertas-kertas yang mengait di ujung pegangan kunai. Bagaimana bisa sedari pelemparan tadi ia tak melihat ada kertas menggantung disana. Bom kertas? Tidak kertasnya lebih tebal. Dengan keadaan tegang ia menoleh dan melihat isi kertas itu perlahan.

CRUUTT

Neji mimisan.

CRUUTT

Darah yang dikeluarkan dari hidung makin banyak. Apa ini kertas pembuat mimisan?

"I..ini..." Neji bergumam. Penonton di studio dibuatnya penasaran.

"Ini takdirmu, Neji.."

BUAGGGHH

Tanpa diduga Menma sudah berada sangat dekat di depan Neji. Dan dengan sekali pukulan sang Hyuuga itu K.O. Yang tadi itu hanya pengalih fokus, pemirsa. Keren Menma, kau melawannya degan kelemahan paling memalukan yang dimiliki Neji.

Tau apa isi kertas itu? Photopack ultra langka model gravure berdada besar favorit Nej! Dengan bikini berenda-renda yang dipakai di tepi pantai!

"Boleh... aku memilikinya?" Persetan dengan kalah di ujian. Yang penting si Hyuuga itu dapat kesukaannya sekarang.

Sakarepmu.

PLOOP

"Aku terharu Menma! Ka..KAU MENJADI CHUUNIN! MASA MUDAMU SUNGGUH INDAAAAHH!" Seorang pria bermasker baru saja berteriak sambil mengeluarkan air mata tak jelasnya di luar gedung Hokage. Orang lain yang berlalu lalangpun menatapnya dengan aneh disertai sweatdrop yang meluncur. Yang namanya disebut orang itu, hanya bisa berdo'a dan memohon agar harga dirinya tak kenapa-kenapa.

"Kyaa... Menma! Kau memang hebat!" Sosok perempuan pink di sebelahnya juga ikut-ikutan berteriak sambil mencari celah untuk menggandeng tangannya. "Kau menghajar musuh dengan keren!" Ah, mulai lagi. Yang begini membuat laki-laki yang satu lagi mendengus sebal.

"Honey! Aku juga keren melawan bocah pasir itu," rajuk lelaki dengan lambang kipas di bajungya. Dan setelah mengucapkan itu, ia langsung mendapat deathglare mematikan.

"Siapa yang kaupanggil honey, ha? Lagipula kau kalah di pertarungan itu,"

"Huuuhh,"

PLOOP

Ini adalah dunia yang sulit untuk mengerti satu sama lain. Ini adalah dunia dimana kau harus menyerang atau diserang. Sunagakure makin menggila. Mereka telah menusuk Konoha dari belakang. Beberapa bulan setelah ujian chuunin, mereka menyerang Konoha. Konoha tak tinngal diam. Pertarunganpun tak dapat dielakkan.

Baik pemula maupun yang muda mengerahkan seluruh kemampuannya. Sasuke, Sakura, dan Menma, termasuk pemula yang mencoba melawan seorang shinobi Suna. Namun sayang, Sakura dan Sasuke tak mampu. Keduanya pingsan, dan ditawan oleh lawannya yang ternyata seorang jinchuuriki.

"Heh, berikutnya kau!" jinchuuriki Suna itu berteriak. Setengah tubuh manusianya telah hilang, digantikan dengan bentuk monster Shukaku. Tubuh monsternya bertubi-tubi menyerang Menma yang saat ini keadaannya berbalik dengannya.

Lelaki yang baru chuunin itu terhempas ke tanah. Tubuhnya penuh luka lebam. Sesungguhnya ia tak mampu lagi bertarung, namun ketika melihat ke arah temannya yang tergolai lemah, ia tak bisa berhenti. Rasanya seperti ingin balas dendam, rasanya benar-benar benci, dan...

...Rasanya sama seperti saat Hinata dihabisi Neji.

Ia benar-benar muak!

"GRROOAAA...!" Perlahan tubuhnya diselimuti chakra merah.

"Kalian para ninja Konoha, bertekuk lututlah di bawah Suna,"

"DIAM KAAUU!" Kulitnya seperti terbakar.

"Huh, apa kau jinchuuriki desa ini? Bagus sekali. Aku dapat banyak keberuntungan hari ini!"

"HYYAAAKKKHH!" Ketika ia berteriak, gigi taringnya mulai memanjang dan meruncung. Detik berikutnya ia menyerang membabi buta, pikirannya sudah gelap, dan tak menyadari dari belakang telah datang bala bantuan.

PLOOP

"RASENGAN!"

DRUSSHH

Ia berhasil menciptakan lubang di pohon, dan ia masih belum puas dengan jurus barunya. Ia ingin lebih. Ia ingin rasengan yang lebih besar. Menma menciptakan bunshin lagi, mengadahkan tangan, dan kemudian konsentrasi.

Matanya terpejam, berfokus pada satu titik. Semua pikiran dikosongkan.

"Menma?"

Sial, kenapa malah terbayang ingatan itu.

"Kau tak apa, kan?"

Tolonglah otak, singkirkan bayang-bayang Hinata!

"Soal penyerangan kemarin, waktu itu aku melihatnya dengan byakuganku. D..Dan, aku baru menyadari ka..kalau ada chakra besar di tubuhmu. Aku tak tahu itu apa, tapi chakra itu sangat menyeramkan,"

Pusaran chakra di telapaknya perlahan mengecil dan hilang. Nampaknya pilihan untuk mengingat kembali lebih besar dibanding mengembangkan jurus.

"A..aku tak bermasuk begitu. Tak apa kalau kau tak mau menjelaskannya,"

Saat itu Menma masih tak mau mengatakan kalau ada monster di tubuhnya.

"Kau sering menghindar dari kami dulu. Kami ingin sekali mengajakmu, tapi kau selalu cuek. Saat kami mencoba mendekat, kau malah memperjauh jauh jarak diantara kita,"

Itu memang dirinya. Ia tak munafik.

"Meski begitu, aku sangat yakin, dalam hatimu kau masih menyayangi teman-temanmu, kan?"

Apa ia akan munafik lagi?

"Saat aku bertarung dengan Neji, kau terlihat marah. Kau langsung melindungiku tak peduli konsekuensinya. Saat si tebar pesona dan si rata itu juga... kau menolong mereka sampai emosimu meluap-luap,"

Sang penyuka oranye itu bungkam, tak mampu berkata-kata.

"Jangan sembunyikan dirimu lagi, Menma. Bermainlah bersama kami. Jangan tutupi dirimu lagi. Terbukalah kepada kami...,"

Hembusan angin meniup helai rambutnya. Membuat wajahnya mendongak dan menatap langit.

"Karena kami temanmu, kami akan selalu bersamamu... bodoh,"

Tanpa sadar, ia menarik ujung bibirnya. "Ck, cewek aneh,"

PLOOP

"Siapa yang cewek aneh?"

"!" Kaget ia. Ia menoleh dan mendapati kalau tadi itu ayahnya. Minato lekas mengambil posisi duduk di sebelah anak muda itu dan memberikan segelas air mineral.

"Siapa yang kaupikirkan? Apa kau sedang jatuh cinta?" Buru-buru Menma membelakangi wajah ayahnya sambil berseru tidak. Minato terkikik geli. Ah, anaknya mulai puber. "Sudah-sudah, minumlah itu dulu,"

Menma tak segera meminumnya. Wajahnya seperti menimang-nimang sesuatu. Agak lama sampai akhirnya ia buka suara. "Ayah,"

"Hm?" Pria tiga puluh delapan tahunan itu bergumam di sela-sela kegiatan minumnya.

"Ajari aku menjadi kuat!"

"Tentu saja!" Meneguk, berkata, kemudian minum lagi.

"Dan juga mengendalikan kyuubi!"

FUURRRT

Minato menyemprot.

PLOOP

Latihan demi latihan ditempuhnya. Berbagai misi dijalankan bersama tim dan seniornya. Dan kini ia telah menapaki tangga usia 16 tahun. Banyak yang telah berubah. Badannya semakin tinggi, jambang rambutnya memanjang, dan pangkatnya yang kini adalah Jounin. Suatu prestasi yang hebat, bukan?

"Yakiniku! Aku datang!"

"Ooy! Itu bagianku! Jangan diambil, Oy!"

Kedai yakiniku sedang penuh. Berberapa mejanya dipakai untuk pesta perayaan pengangkatan seseorang menjadi jounin. Siapa lagi kalau bukan Menma. Dan, yak! Tambahan satu lagi perubahannya. Hubunganya dengan teman-teman tak lagi sejauh dulu. Mulai sekarang ia harus bersikap lebih terbuka.

Kurang lebih tiga tahun ia berlatih intensif. Keinginannya untuk menjadi kuat dapat diraih. Minato, Kushina, Hokage Kelima, dan beberapa anbu turut membimbingnya. Dengan bantuan mereka, serta... err informasi yang dicuri dari Kumogakure, remaja itu mampu mengendalikan Kyuubi yang ada di tubuhnya, meski belum sepenuhnya.

Kekuatan ini bukan untuk menyakiti, tapi untuk melindungi. Asas itu yang selalu dipegangnya.

"Menma, katanya ada pengumuman penting yang ingin kau bilang? Ada apa?" orang disebelahnya, Sasuke, bertanya dengan tatapan ingin tahu. Sebenarnya sih bukan ingin tahu, tapi tatapan penuh tajam dan seolah berkata 'aku akan mengunggulimu nanti tunggu saja tanggal mainnya'. Seperti itu, sih.

"Ah!" ucap Menma dengan perubahan ekspresi yang tak terlalu. Iapun memanggil teman-temannya dan seketika menjadi pusat perhatian. Semua menyimak satu per satu ucapan yang keluar dari mulutnya. Ekspresi mereka yang semula tenang dan riang, berubah menjadi kaget. Ada kaget, rasa tak percaya, dan tak bisa diungkapkan.

"Serius?"

"Jadi kau bakal setahun tidak di sini?"

"Apaa?! Kenapa kau meninggalkanku?"

"Hoy! Sempat-sempatnya kau mengambil kesempatan!"

Ah, masih banyak lagi reaksi dari teman-teman yang lain. Memangnya apa yang pirang itu katakan?

Dia bilang kalau dirinya akan dilatih oleh Jiraiya sang Legenda Sannin Ninja. Selama setahun ia akan berkelana dengan pertapa katak itu. Ini adalah latihan yang lebih serius dan intensif lagi.

PLOOP

"Serius kau bakal pergi sekarang?" tanya perempuan beriris lavender yang dijawab dengan anggukan serta dengungan dari lawannya. Kemudian Hinata itu lanjut bicara, "Hanya setahun, kan? Tidak lebih, kan?"

"Ck," Menma memutar kedua bola matanya bosan. "Apa masih banyak pertanyaan lagi?"

"Bodoh! Kau tak tahu ya, rasanya berpisah? Padahal kau baru akan pergi, tapi aku sudah kangen. Bagaimana nantinya..."

"Kalau aku bodoh, kenapa aku bisa jadi jounin?" Oke, lelaki pirang ini begitu mudah membalikkan keadaan, membuat lawannya bungkam.

"Baiklah, baiklah. Aku kalah. Tapi, lihat saja nanti! Saat kau kembali ke desa, aku akan menjadi jounin! Dan mungkin aku akan memiliki tim genin! Ya! Pasti! Aku pasti akan mengalahkanmu!" Semangat Hinata itu membuat lelaki beriris safir itu tersenyum simpul. "Akan kutunggu..."

Namun sesaat kemudian ia berdiri dan pamitan pada temannya. Ia berdiri setelah melihat kode seseorang dari kejauhan. "Tu..tunggu!" Hyuuga itu lekas mengejar sang lelaki. Ia berhenti saat telah berada di belakang punggung orang itu. Menggigit bibir bawahnya sejenak, dan sejurus kemudian melingkarkan tangannya di pinggang pemuda itu. Memberi pelukan dari belakang.

"Kembalilah dengan cepat. Seriuslah berlatih. Jangan sampai kau kenapa-kenapa. Kalau kau sampai membuat masalah, aku akan menghajarmu,"

Diam. Tak ada lagi ucapan yang keluar. Yang ada hanyalah suara tangisan kecil, dan suara endusan hidung akibat menangis.

Yang dipeluk memegang tangan orang yang memeluk di perutnya. Ia melepaskan cengkraman itu, dan kemudian berbalik ke belakang, menghadap si perempuan. Menggerakkan tangan, dan kemudian menghapus air mata yang tumpah dari manik lavender yang cantik itu. Dari pipi, tangannya beralih ke bagian bibir berlapis lipstik. Ia menggosokkan jempolnya untuk menghapus lipstik merah yang ada di sana.

"Kau tahu? Tanpa make up ini sepertinya kau terlihat lebih cantik,"

"Apa!?"

"Ti..tidak ada apa-apa!" Sadar atas apa yang dilakukannya, sang Namikaze berbalik lagi, dan lanjut berjalan ke arah gerbang. "Sudahlah, aku pergi dulu!"

Pemuda itu menjauh, bersama seorang pria tua berambut putih dalam kegelapan malam.

PLOOP

"Haaakkhh... Ha...Ha" Deru nafas memburu dari Menma. Dirinya kini terengah-engah karena pertarungan tadi, serta karena tarikan yang mengisap chakranya. Sebentuk chakra berbentuk tinta hitam gurita menyelimuti tubuhnya. Melilit tubuhnya dan tinta itu terhubung dengan penggunanya di seberang sana. Om-om berkulit gelap dan berotot dengan kacamata hitamnya. Shinobi dari Kumogakure. Kau dapat melihatnya dari ikat kepala yang dipakainya.

"Yo nak. Sebagai sebagai sesama jinchuuriki aku sebenarnya merasa bersalah padamu. Tapi demi desa, aku harus melakukan ini. Terima saja, ya,"Ucap si om-om dengan wajah penuh konsentrasi. Tidak, dia tidak berbicara sambil ngerap. Yang hobi ngerap itu saudaranya sang Raikage.

Tcih, semua demi desa. Demi desa sendiri. Demi kepentingan sendiri. Sampai kapan dunia menjadi egois ini? Kira-kira seperti itulah rutukan Menma di sela-sela perjuangannya lepas dari rasa sakit ini.

"Jangan beri belas kasihan, B-sama. Konoha telah lancang mencuri top secret Kumogakure. Aku rasa dengan mengambil chakra Kyuubi yang mereka miliki itu akan impas. 'Senjata' Konoha telah kita permainkan. Haha," Seorang lelaki di belakangnya berkata dengan wajah serius. Dia adalah bawahan dari om-om yang dipanggilnya B-sama. Darui namanya.

Senjata Konoha katanya.

Haha. Menma ikut tertawa hambar dalam hati. Bagaimanapun juga di mata orang lain ia hanyalah alat Konoha. Tubuhnya hanyalah wadah. Jinchuuriki memang menyedihkan, eh?

"Haahh... Kenapa aku jadi bosan..." Berbeda dengan Darui. Seorang bawahan B satu lagi, Karui jiwanya saat ini tidak sesemangat rekannya. Yang dilakukannya hanya mengemut lolipop manisnya. "Oy,Karui semangat dong!Masa cuma aku doang yang semangat disini?!" Sepertinya perseteruan mereka kana bermula. Sungguhpun mereka kuat, sifat mereka masihlah kekanakan.

Menma yang sepertinya diabaikan disini, dengan mata setengah terpejam menatap tiga orang dari Kumo yang masih berdiri. Sementara di tanah bergelimpangan mayat..mungkin tidak semuanya mati, hanya pingsan saja, ninja-ninja Kumogakure berlevel elit yang teronggok disitu. Sementar di pihak yang berseberangan dengan Kumo, ninja dari Konoha hanya lelaki Namikaze itu yang masih bertahan. Sementara ninja Konoha lainnya juga terkapar di tanah. Pingsan, setengah pingsan, serta ditawan, bersamaan dengan lawan mereka. Dan tahukah kamu, ninja-ninja Konoha yang dimaksud itu tak lain adalah rekan-rekan seangkatannya sendiri.

Ini adalah pertarungan pancingan. Rekan-rekannya dipancing keluar, berhadapan dengan ninja Kumogakure yang entahlah ia tidak tahu awal kejadiannya, lalu sesaat setelah itu ia bergegas menyusul untuk membantunya. Sepertinya ia kemari tanpa pikir panjang. Kumo nyatanya menjadikan temannya itu sebagai umpan agar sang 'ikan' keluar. Tanpa diduga sesungguhnya di antara mereka ada seorang jinchuuriki Hachibi dan bawahannya yang berambisi menyerap chakra Kyuubi milik Konoha. Kumo ingin mencoba memadukan chakra Hachibi dengan Kyuubi, mengulang sejarah yang sama seperti duo Gin-Kin, serta ada niatan balas dendam karena Konoha telah mencuri top secret mereka dalam mengendalikan bijuu. C'mon dude...

Sedikit kesal bercampur sesal berpadu di hatinya. Menma merasa berslah karena dirinya, temannya harus seperti ini. Mana janji pada dirinya sendiri? Saat ia bilang akan melindungi teman-temannya dengan kekuatan 'unik'yang dimiliki, justru temannya tersakiti karena kekuatan ini. Bagaimanapun rasa sayang kepada mereka sangat besar dari hati lelaki itu.

"Haaah.. Haaaa..." suara lemahnya terucap. Apa ini akhir dari ceritanya? Apa tak ada sesuatu yang bisa dilakukannya? "Minn...naa... G..go..meehnn..."

"Berhenti!"

Suara itu mengagetkan sekitarnya. Teriakan yang bersal dari salah seorang yang terbaring disana. Penuh darah bersimbah di badannya, bahkan wajah mulusnya. Perempuan itu mencoba mendirikan tubuhnya, berjalan tergopoh-gopoh dengan sedikit kekuatan yang bersisa."Ja..ngan.. sakiti.. Menma.. b..brengsek!"

Sambil berkata kasar ia mendekati para Kumogakure dengan tatapan meremehkan tertuju dirinya. Lain halnya dengan beberapa Konoha yang walau raganya tak bisa bergerak, namun jiwanya masih mampu sadar menatap kaget dan heran pada si perempuan itu. Kiba, Sasuke, bahkan Sakura menatapnya dengan iba sambil berdoa dalam hati agar sang teman tidak apa-apa dengan sikap tak diduganya itu.

'Hi.. Hinata...' Menma melirih pelan, menyebut nama yang dimiliki si perempuan Hyuuga itu.

FUUTT

Sepercik chakra biru muncul di tangannya, mendekati para Kumo dan bersiap untuk melancarkan taijutsu khas Hyuuga. Setidaknya ini yang bisa dilakukannya sekarang. Entahlah ia juga tak tahu apa yang dilakukannya saat ini. Kemungkinan besar akan dikalahkan.. Meski fakta itu disadari, tapi kakinyabtak mau diam. Ingin terus melangkah. Setidaknya telah mencoba.

"Heiiaaa..."

DASSSTT

Dan benar saja, pukulan itu tak berpengaruh apa-apa. Yang ada Hinata terhempas ke belakang sebagai akibat dari perlawanan si lawan. Menambah luka di tubuhnya. Tubuhnya terjatuh persis di sebelah Menma. Menatap ke bawah, Menma bertanya mengapa Hinata melakukan itu

"Bo..bodoh... Jelas dengan kondisimu saat ini kau takkan menang. Kau tidak berkontribusi banyak dalam melawan mereka..."

"Tidak.. Setidaknya aku sudah... menunjukkan padamu kalau..kalau aku tidak menyerah.."

"Kau melakukannya hanya untuk pamer? Apa pikiranmu benar-benar sempit? Bagaimana kalau seandainya serangan itu fatal. Kau bisa mati!"

"Kalau kau menangisi kematianku maka aku akan bahagia setelah mati..."

"Bodoh! Bodoh! Seharusnya dari tadi kau diam saja! Biar aku sendiri yang mengatasi ini!"

"Berhenti berkata seperti itu! Aku benci ketika kau bilang akan menanggung semuanya sendiri? Memangnya siapa kau? Kau anggap aku... tidak.. kami ini apa?"

Tertegun. Menma tak mampu berkata.

"Kau.. Sejak dulu aku memperhatikanmu... Kau itu misterius dan sulit ditebak. Tapi entah kenapa di mataku kau terlihat begitu keren. Kau selalu memimpin kami, dan aku sudah terlalu sering melihat punggungmu. Aku lelah. Aku tak ingin berada di belakangmu lagi. Aku ingin berada di sampingmu..."

"Hinata..."

"Saat aku menggenggam tanganmu, aku ingin kau membalasnya juga. Saat aku memelukmu, aku ingin kau memelukku juga. Kadang kau telihat cuek, tapi sebenarnya dalam hatimu itu, kau hangat. Kau sangat memerdulikan orang-orang di sampingmu, dan hal itu membuatku makin menyukaimu..."

"Aku menyukaimu, Menma,"

"..."

"Jadi pekalah, bodoh! Semua yang kulakukan hingga saat ini, agar kau menoleh padaku! Karena aku suka padamu!"

"...Bodoh. Kenapa orang yang kau sukai harus aku... Bodoh..."

PLOOP

"Kau kedinginan 'kan? Pakai saja syal ini. Anggap itu sebagai permintaan maafku,"

Ingatannya tertarik lagi ke masa yang sudah jauh lampauannya. Ini dirinya, tapi hanya bayang-bayang. Dan sekarang ia berada di ingatannya saat kecil. Sejujurnya dia tak ingat ingatan saat kapan dan apa peristiwanya. Menoleh ke lawan bicara Menma kecil, didapatinya sosok muda dari seseorang yang sangat dikenalinya.

'Hinata?'

"Ngomong-ngomong...Namaku Namikaze Menma,"Dirinya saat kecil berlari dan berpisah dengan Hinata yang ditolongnya."Sampai jumpa..."

Oh, jadi ia sudah pernah bertemu Hinata jauh sebelum masuk akademi? Tersenyum kecil sudut bibirnya.

"Namikaze... Menma?" Hinata kecil bergumam sendiri. "Menma ya..." Genggaman pada syal yang diberi makin erat. Hinata merasa hangat, baik di tubuh luar maupun hati di dalam. Senyum mengembang di wajah mudanya.

Jangankan tahu ada senyunan setelah kepergiannya, ingat memori ini saja tidak. Sesaat Menma terkesima. Menatap Hinata kecil yang masih tersenyum.

Wajah bahagia masih ada, sampai pada Hinata menoleh dan menatap wajah Menma dewasa di seberangnya, masih tersenyum sambil menyebut, "Menma..."

'Eh?'

PLOOP

Dirinya ditarik beberapa langkah ke depan. Di masa ujian chuunin diadakan. Saat Hinata dengan tanpa berdosanya dihajar Neji. Dari balkon penonton terlihat saat itu dirinya saat genin tanpa babibu turun kebawah, menolong Hinata dan mengancam Neji.

Menma ingat ini. Tapi masih bertanya kenapa ia melakukan hal ini secara tiba-tiba. Entahlah rasanya saat itu dia marah, marah pada Neji yang melukai Hinata.

"Itu artinya kau suka pada Hinata,"

'?'

Sosok Sasuke kecil yang ikut menonton mengatakan itu padanya. "Kau madah saat ada yang melukai dia. Itu artinya kau peduli. Kau peduli pada seorang wanita. Dan pedulimu seperti itu merupakan bukti bahwa kau suka dia,"

Eh?

"Ayolah..." Sosok Sasuke genin terganti menjadi Sasuke saat ini dengan perawakan lebih dewasa. "Apa kau benar-benar tidak paham perasaan wanita?"

TUKK

Sasuke mengetok jidatnya dengan kedua tangannya. "Cari tau sendiri perasaanmu. Bye!" Lalu mendorong Menma dengan tangan itu di jidatnya.

PLOOP

"Kau masih menyukainya, kan?"

"Ck. Aku tak tahu,"

"Ayolah! Belum dibalas bukan berarti Menma menolakmu. Sebaiknya kau utarakan lagi perasaanmu!Ganbatte ne!"

"Yah, begitu... UAAPPPAAAA?!"

Obrolan perempuan di suatu meja di kafe. Sosok Menma memperhatikan mereka dari balik kaca. Membuatnya makin tertegun.

PLOOP

"Jika dunia berakhir besok, maka dengan siapa kau akan menghabiskan hari terakhirmu?"

"Dunia berakhir? Bagaimana bisa?"

"Kalau begitu, kuharap yang jatuh itu makanan, mainan, dan uang~~"

"HAHAHAHA..."

"Sudah, hentikan. Ayo tulis jawaban kalian!"

Tarikan waktu yang membawanya kembali ke akademi. Hari dimana sebuah mereka harus menjawab pertanyaan yang begitu ambigu. Ditolehkan pandangannya, mendapati Hinata kecil yang menjawab pertanyaan itu. Ada sebuah nama tertulis di kertas itu.

Namikaze Menma. Itu namanya. Namanya ditulis Hinata.

"Hinata..."

PLOOP

"Menma! Bagaimana make-upku? Apa..sudah terlihat lebih baik bagimu?"

"Ha?"

"Itu.. Dulu kau pernah bilang 'kan, kalau aku lebih baik dengan wajah yang natural. Jadi, aku memakai warna yang tidak terlalu mencolok dan lebih soft. Bagaimana?"

"Ka..kapan aku pernah bilang?Mau begini mau begitu..kau tetap terlihat sama saja,"

"Ee? Benarkah? Benarkah?"

"O..Oy! Wajahmu terlalu dekat! Ka..kau.."

"Oke, oke aku akan mundur. Yah, bagaimanapun juga, akan kulakukan apa saja agar kau bertekuk lutut! Hehee..."

PLOOP

"Saat aku bertarung dengan Neji, kau terlihat marah. Kau langsung melindungiku tak peduli konsekuensinya. Saat si tebar pesona dan si rata itu juga... kau menolong mereka sampai emosimu meluap-luap,"

"..."

"Jangan sembunyikan dirimu lagi, Menma. Bermainlah bersama kami. Jangan tutupi dirimu lagi. Terbukalah kepada kami...Karena kami temanmu, kami akan selalu bersamamu... bodoh,"

PLOOP

"Baiklah, baiklah. Aku kalah. Tapi, lihat saja nanti! Saat kau kembali ke desa, aku akan menjadi jounin! Dan mungkin aku akan memiliki tim genin! Ya! Pasti! Aku pasti akan mengalahkanmu!"

"Akan kutunggu..."

"Tu..tunggu!"

"...?"

"Kembalilah dengan cepat. Seriuslah berlatih. Jangan sampai kau kenapa-kenapa. Kalau kau sampai membuat masalah, aku akan menghajarmu,"

PLOOP

"Apa?"

"Kau mau pulang?"

"Lepaskan tanganku!"

"Aku bertanya padamu!"

"Lepaskan tanganku!"

"Tidak!"

"Kenapa?"

"Karena aku ingin bersamamu!""

Hee, tunggu dulu. Dua percakapan terakhir itu tak pernah terjadi di dunia nyata. Ingatan sesaat sebelum Toneri memunculkan dirinya. Ia ingat itu, tidak pernah Menma bilang kalimat 'aku ingin bersamamu'. Tidak, tidak ada.

"Mengaku sajalah..."

Dan sosok Sakura tiba-tiba muncul di sebelahnya, mengucapkan kalimat itu dengan nada sinis.

PLOOP

"Hinata..."

"Saat aku menggenggam tanganmu, aku ingin kau membalasnya juga. Saat aku memelukmu, aku ingin kau memelukku juga. Kadang kau telihat cuek, tapi sebenarnya dalam hatimu itu, kau hangat. Kau sangat memerdulikan orang-orang di sampingmu, dan hal itu membuatku makin menyukaimu... Aku menyukaimu, Menma,"

Menma...

Menma...

"...Oy! Menma! Bangun! Ini genjutsu!"

Matanya refleks terbuka. Kesadarannya dikumpulkan menuju dunia nyata. Sasuke membangunkannya, mengatakan sesaat setelah masuk ke kolam tadi, semua masuk ke alam genjutsu. Untung sudah berakhir, kini mereka melanjutkan pikirannya kembali.

"Kau kenapa?" Sang Uchiha bertanya, mendapati temannya yang terlihat seperti kebingungan. Yang dilakukan orang itu sekarang adalah menatap sekitar dan memperhatikan rekannya satu per satu. Tatapannya berlangsung singkat kala melihat rekan-rekannya, tapi tiak ketika menatap Hinata. Durasinya lebih panjang.

"Tidak, hanya saja genjutsu tadi membuatku sedikit pusing,"

"Hee..sudahlah tak usah pikirkan yang tadi-tadi. Sekarang, ayo lanjutkan misinya!" Sakura menyemangati, mereka lantas lanjut berenang melintasi kolam ini. Kali ini lebih waspada. Kali ini lebih berhati-hati. Kali ini...

...lebih sering Menma menatap Hinata.

.

.

Dari Konoha, tepatnya di gedung Hokage, Kakashi menatap pemandangan langit Konoha dari kaca jendela kantornya. Dengan penuh harapan berharap agar misi yang dijalankan Menma dan kawan-kawan berhasil. Ini misi yang sangat berarti, mempertaruhkan hidup mereka, dan tentunya ini misi yang mahal.

Iya mahal, mahal di harga informasinya.

Informasi ini didapat dari Akatsuki, lalu Akatsuki menjualnya ke berbagai desa, salah satunya Konoha. Emang sih, informasi yang mereka dapat itu kualitasnya nomor wahid, wajar mahal. Tapi kali ini harganya lebih mahal dari yang biasanya.

"Apa tidak bisa harganya dikurangi?" Kakashi mulai mencoba menawar. Transaksi mereka lakukan via video-call. Di pihak pembeli ada Kakashi dan asistennya. sementara di pihak penjual ada Kakuzu dan Yahiko di layar.

"Ya gak bisa, dong. Udah harga pas itu. Ini susah lho nyarinya. Temen kami aja sampai nyaris mati buat dapetin ini," Kakuzu, sebagai bendahara Akatsuki menolak mentah-mentah tawaran itu.

"Masa gak bisa sih. Bisa lah,ya? Kan kami udah sering belanja informasi di sini. Masa gak ada harga pelanggan tetap?" Kakashi tetep ngotot nawar.

Sebagai penjual, Yahiko mencoba mengalah."Kalu gitu mau nawar berapa?"

"180457290"

"Gak, gak bisa. 47534r787u aja deh. Udah saya murahin itu dari harga normal,"

"Ah masih mahal itu. Kurangi sedikit dong. Tau sendiri, kan anggaran Konoha sekarang lagi kurang. Kepakai buat biaya buat pelayanan kesehatan,"

"Yah mana saya tahu. Urusan situ mah bukan urusan saya,"

"Ya terus gimana?"

"Emm.. gini aja, gimana kalo kredit aja? Jadi bayar DPnya dulu, baru dapat informasi. Abis itu sebulan sekali dalam jangka waktu lima tahun bisa cicil. Tapi selain lima tahun, ada jangka waktu nyicil tgujuhtahun, sepuluh tahun juga lho. Aatu kalau yang mau lebih singkat waktunya, juga ada. Mau dikirim daftar cicilannya?"

"Lho, bisa?"

"O iya, Akatsuki, dong! Eh tapi gini, sebagai jaga-jaga, harus ada jaminannya,"

"Ah, gak jadi deh, gak jadi. Mending cash aja. Gue ngegadaiin desa? Apa kata rakyat gue nanti,"

"Ya kalo cash jangan ditawar lagi dong, mas,"

Dan begitulah upaya transaksi gaje mereka. Karena itu Kakashi sangat berharap banyak pada mereka yang menjalani misi ini.

.

.

.

.

.

SUDAH BERAPA LAMA KUHIATUSKAN FANFICT INIII?! MAAFKAN DAKUUU! GILA BERAPA TAHUN INI YA AMPYUUUNNN SEMOGA MASIH ADA YANG MEMBACANYAA , maaf kalo kualitasnya menurun, maaf baru dapat hidayah sekarang setelah sekian lama. Read and review minna...