My Partner
Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto
Chapter 3
Bagaimana mungkin ini bisa terjadi ?
Sakura mengetukkan jari pada meja yang ditempatinya. Ia tidak menyangka jika nasibnya akan seburuk ini. Setelah mengatakan maksudnya kepada Sasuke, Sakura langsung pergi menuju ruang guru. Dan ternyata Kurenai-sensei tidak berada di tempat selama satu minggu.
Apa yang harus aku lakukan ? Menunggu Kurenai-sensei kembali masuk dan mengutarakan maksudku atau ... ah satu minggu itu mungkin sudah terlambat untuk pertukaran partner. Tidak mungkin Sasuke mau menunggu selama itu.
"Hey Sakura! Ayo pulang! Jangan bengong saja di kelas seperti itu," kata Ino.
Sakura yang terbangun dari pikirannya segera menarik tas dan menyusul Ino. Seperti biasa mereka berjalan menuju hall sekolah untuk bertemu Hinata dan Tenten. Dan ternyata di sana sudah tidak terlalu banyak siswa.
"Apa aku terlalu lama termangu di kelas ?" tanya Sakura. Ino memandangnya heran. "Ya, kau menghabiskan hampir 15 menit di dalam kelas bahkan setelah Kakashi-sensei membubarkannya."
"Sakura-chaaaaaaaaaaan." Sakura merasakan bahunya ditepuk dari belakang. Dan benar seperti yang diduga, disana berdiri Naruto dengan cengiran lebarnya.
"Naruto ! Jangan mengagetkanku seperti itu !" seru Sakura, sedangkan Naruto hanya tertawa lebih lebar lagi.
"Maaf, maaf. Kalian belum pulang?" tanya Naruto.
"Gara-gara nona tukang melamun di sini aku jadi pulang terlambat," ucap Ino sambil menunjuk gadis serba pink di sebelahnya.
"Heee, kau melamunkan apa Sakura-chan? Aku ya? Aku kan? Hehehe," tanya Naruto lagi dengan sangat senang. Ino dan Sakura saling berpandangan dan menatap aneh bocah laki-laki pirang di depannya.
"Itu tidak mungkin. Sudahlah Naruto aku mau pulang," ucap Sakura sambil berusaha menyingkirkan tubuh Naruto. Namun Naruto seperti tidak memperhatikannya. Tiba-tiba senyum milik anak laki-laki itu semakin lebar.
"SASUKE !" teriak Naruto sambil melambaikan tangan. Ino menoleh ke belakang dan benar Sasuke sedang berjalan menuju arah mereka. Sedangkan Sakura berdiri membeku di tempatnya. "Kau sudah mau pulang ?" lanjut Naruto ketika Sasuke sudah dekat dengan mereka bertiga.
"Hn."
"Oh, kakakmu sudah datang menjemput ?"
"Hn." Sekali lagi Sasuke mengangguk.
"Baiklah, hati-hati di jalan ! Salam untuk Itachi-nii," ujar Naruto sambil menepuk pundak temannya itu. Sasuke mengangguk dan meninggalkan mereka bertiga. Naruto dengan senyum 'super' riangnya, Ino dengan wajah heran, dan Sakura yang menghembuskan nafas lega.
"Apa-apaan itu? Dasar tidak sopan. Bagaimana mungkin dia tidak lihat kalau di sini ada tiga orang yang sedang berdiri? Dan lihat jawaban singkatnya itu? Ukh tidak heran dia tidak punya teman," cibir Ino. Sakura mengiyakan semua perkataan Ino. Bagaimana mungkin Sasuke mengacuhkan Sakura juga. Maksudnya bukankah saat ini Sakura masih tercatat sebagai partner-nya.
Naruto memandang mereka dengan wajah tidak percaya. "Well, aku tahu perasaannya. Sasuke itu bukan tipe yang akan menyapa orang lain. Bahkan dia tidak pernah menyapaku. Tapi Sasuke itu orangnya sangat baik. Jadi jangan hanya melihatnya dari luar saja."
Ino dan Sakura tertegun mendengar perkataan Naruto, orang yang sehari-harinya bersikap bodoh dan onar, bisa-bisanya berucap seperti itu. "Kenapa kau mau berteman dengannya sih, Naruto ?" tanya Sakura penasaran.
"Ah itu simpel. Karena kami sama. Oya, Sakura-chan bukankah kau partner Sasuke di tugas bahasa Inggris?" tanya Naruto tiba-tiba. Sontak Sakura kembali membeku. Ternyata semua orang sudah tahu. Yah, apa boleh buat. Itu semua berkat namanya yang terpampang di papan pengumuman sekolah.
"Ne, aku hanya ingin bilang tolong jangan sakiti Sasuke lebih dalam lagi, termasuk dalam pergantian partner itu. Bukankah ini hanya tugas sekolah? Kau kan tidak harus berteman dengannya, hanya mengenal seperti apa Sasuke itu dan menulisnya dalam narasi."
Perkataan Naruto bagai tamparan keras di pipi Sakura. Bagaimana mungkin Naruto bisa tahu mengenai hal ini? Setahu Sakura ia hanya berbicara berdua dengan Sasuke saat itu, tanpa orang lain. Bahkan Ino saja tidak tahu.
"Apa maksud perkataanmu Naruto?" tanya Ino bingung.
"A-apa Sasuke mengatakan itu kepadamu?" Sakura sudah mengepalkan tangannya siap memukul orang saat itu. Naruto menggeleng dan tetap tersenyum padanya.
"Aku mendengarnya. Aku tidak bermaksud menguping. Waktu itu uangku tertinggal di kelas, jadi aku kembali saat kau berbicara padanya, Sakura-chan. Aku hanya minta tolong itu saja. Sudah ya aku harus pulang sekarang." Naruto menyelesaikan pembicaraannya dan pamit kepada kedua gadis itu.
"Sebenarnya apa yang terjadi di sini ?" tanya Ino masih bingung dengan keadaan. Sakura meninggalkannya dan berjalan keluar. Ia bahkan melewati Hinata dan Tenten tanpa menoleh. Sakura hanya ingin cepat pulang ke rumah dan mengeluarkan amarahnya.
.
.
"Apa sekolah hari ini menyenangkan, otouto ?" tanya Itachi.
Uchiha Itachi, anak pertama dan pewaris utama klan Uchiha. Di usianya yang masih 19 tahun, ia berhasil mengelola seluruh aset milik Uchiha dengan baik, bahkan lebih sukses daripada para pendahulunya. Hanya satu hal yang tidak dapat dilakukan oleh Itachi saat ini, yaitu mengembalikan adik tersayangnya ceria seperti dulu lagi.
Itachi memandang Sasuke yang tidak menjawab dari sudut matanya. Bocah yang terpaut 5 tahun dari dirinya itu duduk dan asyik membaca buku miliknya. Tapi Itachi tahu bahwa Sasuke akan berpura-pura membaca jika sedang tidak ingin menjawab pertanyaannya.
Sungguh benar bahwa Itachi sangat merindukan adiknya yang dulu, Sasuke yang selalu mengikutinya dan berteriak aniki ini aniki itu kepadanya. Tapi Sasuke tidak mungkin melakukan itu lagi kepadanya sekarang bukan? Dia sudah besar dan bukan anak kecil imut yang selalu mengidolakan kakaknya sendiri.
"Itachi kau dapat salam dari si bodoh itu," kata Sasuke tanpa mengangkat wajahnya. Itachi sudah tahu siapa si bodoh yang dimaksudkan adiknya ini. Tapi ia selalu sedikit kesal jika Sasuke hanya memanggilnya Itachi, seolah mereka bukan saudara dan tidak memiliki ikatan apapun.
Uh dimana Sasuke-ku yang lucu dan manis itu ? Tolong kembalikan dia Tuhan..
.
.
BRAK! Sakura melemparkan tas miliknya ke lantai kamar. Hatinya panas, rasanya seperti ingin menyemprot orang dengan amarahnya itu. Bagaimana mungkin Naruto bisa berkata hal seperti itu, seolah menggurui Sakura. Baiklah, Sakura memang tidak menyukai partner-nya tapi bukan berarti Naruto harus berkata seperti itu bukan? Sekarang perasaan malu, marah dan rasa bersalah bercampur aduk di dalam hatinya.
"Sakura, kau tidak apa-apa? Apakah terjadi sesuatu di sekolah?" tanya seseorang di balik pintu kamarnya. Sakura membukakan pintu dan menemui ibunya yang terlihat khawatir.
"Tidak ada apa-apa, kaa-san," jawab Sakura. Tidak puas dengan jawaban anaknya, wanita itu memaksa Sakura agar menceritakan apa yang terjadi. Sakura sangat dekat dengan ibunya sehingga wanita itu tahu jika Sakura sedang dalam masalah.
"Jadi begitu.. Dan yang lebih buruk lagi Kurenai-sensei tidak berada di tempat selama seminggu," ucap Sakura yang terduduk di kasurnya.
"Hm, untuk apa kau menemui Kurenai-sensei ?" tanya Ibu Sakura.
"Tentu saja untuk meminta pergantian partner, kaa-san. Sayangnya satu minggu itu terlalu lama. Aku kan sudah cerita kalau 'orang itu' termasuk salah satu orang aneh di sekolah. Jika si mulut besar sudah tahu aku berpasangan dengan 'orang itu', apalagi seisi sekolah. Mungkin aku akan ditertawakan besok."
"Ditertawakan karena ?"
"Ukh, tentu saja karena berpasangan dengan 'orang itu',kaa-san. Kenapa Tuhan memberiku nasib sejelek ini? Lagipula kenapa Dia harus menciptakan orang sepertinya sih?"gerutu Sakura yang semakin frustasi.
"Karena mungkin Tuhan beranggapan tidak ada yang salah padanya," jawab Ibu Sakura dengan tenang.
"Tapi riwayat mengatakan dia itu gila!" raung Sakura.
"Dia tidak gila, sayang. Sasuke hanya trauma berat. Well, itu yang dikatakan suster ditempat ibu bekerja. Suster itu yang menangani Sasuke saat itu," kata Ibu Sakura.
"Tapi..."
"Mungkin akan sangat baik jika kau ditertawakan besok," ucap Ibu Sakura tiba-tiba.
"A-apa maksudmu, kaa-san ?" Sakura tidak percaya dengan apa yang dikatakan ibunya saat ini. Bukan ingin bermaksud manja, tapi seharusnya seorang ibu itu mendukung anaknya, kan? Sakura pikir dengan menceritakan ini ibunya akan pergi ke sekolah dan meminta pihak sekolah untuk menjauhkan Sakura dari Sasuke, seperti yang dilakukan orang tua murid lainnya.
"Kau jadi tahu bagaimana perasaan anak-anak yang kau sebut aneh itu jika mereka ditertawakan," ucap Ibu Sakura sambil berdiri dari kursi belajar Sakura.
"Bukan aku yang mengatakannya. Tapi seluruh sekolah!" seru Sakura.
"Seluruh sekolah berarti kau juga ada di dalamnya."
"Kaa-san seharusnya membelaku! Seharusnya kaa-san melarangku untuk berpasangan dengan 'orang itu' layaknya orang tua yang lain!"
"Sayangnya okaa-san bukan orang tua yang lain." Ibu Sakura berjalan meninggalkan kamar Sakura. Akan tetapi, sesampainya di pintu kamar ia berhenti dan membalikkan badan memandang Sakura. "Dan Sakura, 'orang itu' punya nama. Dan namanya adalah Uchiha Sasuke." Dengan begitu ibu Sakura meninggalkan anaknya yang masih terduduk memandang jejak yang ditinggalkan oleh sosok ibunya itu.
TBC
.
.
.
Finiiiiissssshhhh :D
Saya berharap bisa update chapter berikutnya lebih cepat lagi :)
Sekali lagi terima kasih sudah membaca.
-petitewinsy-
Reply to reviewers:
kikihanni : Em, memang aku sengaja bikin karakter Sakura seperti itu. Apa terlihat OOC ? Hehehe tapi mungkin Sakura bisa berubah dan bisa mengubah Sasuke-kun :) Arigatoo for the review and keep reading this fic, ya.. Hehehe :D
tobaru : terima kasih reviewnya tobaru-san :) Ia yah waktu aku lihat chapter 2-ku lagi aku jadi berpikir kenapa Sakura begitu jahat kepada Sasu-kun :( Jadi merasa serba salah. Semoga chapter 3 ini sedikit memperbaiki deh. *ngeliat chapter 3* *sepertinya Sakura masih tetep jahat* *kabur sebelum kena jotos Sakura*
Sslove : Salam kenal juga (em aku manggil apa yah ?) hehehe. Iya aku berusaha agar Naru tetap menjadi sahabat Sasu. Sepertinya hanya Naru yang bisa paham perasaan Sasu. Semoga Sakura bisa menyusul. Hehehe.. Btw, thanks for the review and please enjoy this fic :D
Li-chan SasuSaku : Arigatoo Li-chan :D Iya aku terlalu jahat sama Sasu-kun yah ? Hm, mungkin aku belum menjelaskan semua tentang dia. Aku harap bisa segera bikin chapter yang nerangin si Sasu-kun deh :)
