(A/N) Update kilat! Aslinya chap ini nyambung sama chap 2, tapi karena word count-nya 2 kali lipat dari yang sebelumnya, kubagi 2 deh!
DISCLAIMER : Vocaloid and Rin Kagamine's song, Abstract Nonsense is not owned by me.
However, I owned this fanfic/songfic although it's based on Abstract Nonsense.
Warning! Typo(s), gak jelas, dan lain-lain...
Onward to the story!
Chapter 2 – Newbie and Incoming Dilema II
"Hei!" terdengar suara dari arah timur. Seseorang memanggil Rin.
Rin melihat ke sumber suara. "Ada apa ya?"
Orang yang tadi memanggilnya memiliki rambut pirang yang lurus dan tertata dengan rapi. Orang tersebut berjalan menghampiri Rin dengan seseorang lagi yang berambut dirty-blonde berjalan di belakangnya.
"Namaku adalah Lily." kata perempuan berambut pirang itu.
"Kalau aku Galaco!" kata si rambut dirty-blonde. "Remember that." gumamnya pelan.
"So... kau kembarannya Len ya?" tanya Lily.
"Yaah...begitulah." jawab Rin dengan datar sambil mengeluarkan sebuah majalah dari dalam tasnya.
"You know, Rin, kembaranmu itu cukup terkenal di kelas 10 ini! Apakah kau juga akan terkenal?" tanya Galaco dengan nada yang bisa dibilang meremehkan.
"Ahahahaha... Aku tidak tau... Sepertinya tidak." jawab Rin dengan gugup.
"I doubt that! Kau pasti akan menjadi terkenal... Ya kan, Lily?" Galaco tersenyum sinis ke Lily.
"Tentunya." jawab Lily sambil membalas senyuman sinis temannya dengan senyuman sinis miliknya. "Karena kau baru masuk ke dalam kelas ini dan belum punya teman. Erhm... Maksudku belum ada teman dekat, bagaimana kalau kita menjadi teman dekatmumu?" tanya Lily sambil tersenyum manis.
"Boleh dong! Maksudku, yaa, mengapa tidak?" sorak Rin dengan kebahagiaan yang menggunung.
'Step one, completed!' pikir Galaco.
Seorang siswi berambut ungu yang dikepang dua yang duduk di depan tempat duduk Rin dan mendengar semua dialog itu hanya terdiam.
"So, Rin, sampai ketemu nanti!" Lily dan Galaco berjalan meninggalkan ruangan kelas bersama beberapa anggota kelas lain untuk istirahat.
Tidak perlu menunggu semenit untuk membuat kelas yang tadinya ramai karena penghuninya, hampir kosong. Siapa di antara mereka yang mau meninggalkan waktu makan? Tentunya hanya beberapa orang saja, dan itu pun karena ada urusan penting.
Rin membolak-balik halaman majalah yang ia sempat terlantarkan akibat mengobrol dengan Lily dan Galaco. Rion Tone, perempuan berambut ungu yang duduk di depan Rin menengok ke arah Rin dengan muka masam.
"Hei." sapanya.
"Haii!" Rin menyapa balik.
"Jadi, kau sudah berteman dengan Lily dan Galaco?" tanya Rion.
"Yaaa... begitulah. Ada apa?"
"Hnnh..! Mereka berdua selalu merebut temanku atau orang yang akan menjadi temanku." gerutu Rion sambil melipat tangannya.
"Tenang saja, kau masih bisa menjadi temanku kok!" kata Rin sambil tersenyum tulus kepada Rion.
"Dari sisi pandangmu mungkin mereka berdua itu penyelamatmu di hari pertama sekolah yang setia, baik, menyenangkan, dan peduli kepadamu. Cih! Tapi disisi pandang orang lain... Hih!" cibir Rion sambil berjalan pergi.
Rin tidak menanggapi kata-kata Rion. Ia membuka resleting tasnya dan mengeluarkan bekalnya. Setelah selesai meresleting kembali tasnya, ia berlari keluar kelas sambil membawa majalah dan bekal makan siangnya untuk makan siang bersama Len. Sayang sekali, Rin terlalu ceroboh. Baru saja ia berlari 14 langkah keluar kelas, ia menabrak seseorang. Dan hal tersebut berhasil membuat majalah yang dipegangnya kurang erat jatuh ke lantai.
"HEII! APAKAH KAU PUNYA MATA? BISAKAH KAU MELIHAT KALAU AKU SEDANG BERJALAN DI SINI?" bentak orang itu.
"Oh... Maaf, aku sedang bergegas mencari seseorang." Rin memungut majalah itu. Tetapi saat ia menghadap ke arah orang yang tadi ia tabrak... "Eh? Lily?" panggil Rin dengan kaget.
"Oh? R-rin? Ya, ya ampun, ternyata kau. Maaf tadi aku, ehm... membentakmu..." kata Lily dengan bingung.
"Oh, tidak. Tidak masalah sama sekali. A-aku memang suka tidak fokus saat berjalan." kata Rin dengan senyum yang dipaksakan.
"Maaf Rin! Aku sedang kesal gara-gara ... Uh... gara-garaaa..." Lily bingung mencari alasan yang tepat.
Tetapi, beruntunglah kau Lily, karena sahabatmu, Galaco menyelamatkanmu.
"Maaf Rin! Ia lupa membawa bekal siangnya. Jadi dia menjadi kesal seperti ini..." jelas Galaco.
"Oh, wajarlah kalau kau kesal. Sudah, kau tidak bersalah kok!" Rin menganggukkan kepalanya dengan pelan. "Aku duluan yaa, bye!" kata Rin kali ini sambil berlari.
"Huff... Hampir saja!" gumam Lily yang menghembuskan nafasnya.
"Sandiwaranya hampir terbongkar tau!" sahut Galaco.
"Kayak kau tidak!" balas Lily sambil menjulurkan lidahnya ke Galaco.
Dan Rion yang berdiri di depan pintu kelas yang terbuka hanya dapat menatap mereka dengan dingin dan segera beranjak pergi.
Rin tiba di sebuah koridor di lantai bawah dan bertemu dengan Miku dan Gumi.
"Hai Rin! Bagaimana hari pertamamu?" tanya Miku.
"Baik sekali! Aku pun sudah mempunyai dua teman." jawab Rin.
"Oh? Begitukah? Kau beruntung sekali Rin. Tapi itu masih kurang lho!" Gumi terdiam sebentar seraya memikirkan kalimat apa yang sebaiknya ia katakan. "Siapa mereka berdua itu? Apakah aku mengenal mereka?" lanjut Gumi.
"Nama mereka adalah Lily dan Galaco. Kalian kenal?" kata Rin.
"Wow... Selamat ya Rin!" Miku dan Gumi terlihat senang akan keberhasilan saudara mereka itu.
"Eh.. tunggu... Lily? Galaco? Kau yakin Rin?" tanya Gumi dengan ragu-ragu.
"Ada yang salah ?"
Gumi dan Miku menggelengkan kepala.
"Tidak apa-apa. Tidak ada masalah, Rin."
"Yasudah... kita sambil jalan ke cafetaria dan cari Len, yuk!" ajak Rin.
"Oke!"
Koridor sekolah yang leluasa itu terlihat sangat ramai. Bagaimana tidak? Beberapa murid terlihat sedang mengobrol dengan kawannya. Kalian juga bisa melihat seorang murid yang mengejar murid lain yang terlihat seperti membawa pergi tasnya. Selain itu, anda juga dapat melihat seorang murid―sepertinya kelas 11―berlari kesana-kesini sambil membawa kamera―plus temannya yang membawa tumpukkan manga. Di belakang orang itu, ada seseorang lagi yang membawa tumpukkan doujin buatannya. Menengok ke kiri, kau akan melihat beberapa murid bermain bola bekel. Menengok ke kanan, kau akan meilhat beberapa murid yang dengan tidak jelasnya sedang berjoget ria dan menyanyi. Sebuah pemandangan yang biasa di sekolah tersebut. Bahkan ada yang bermain 'Donal bebek mundur tiga langkah, satu dua tiga~' Yap, suara nyanyian yang mengiringi permainan mereka terdengar dengan jelas. Hal-hal yang biasa dikerjakan murid-murid sekolah itu. Mungkin koridor sekolah berhasil menjadi tempat yang berada di top-list survei 'Tempat Paling Nyaman untuk Hangout' anggota Newspaper Club.
Rin berlari ke orang berambut pirang yang mengenakan jaket berwarna biru tua dengan angka '02' dibelakangnya. Orang itu tampak berbicara kepada 2 orang lain.
"Hei! Lenny! Woy! Shota! Cepat kesini dengan segera!" Rin berteriak memanggil Len, menambah suara heboh di koridor tersebut.
Pipi Len langsung memerah semerah tomat ketika ia mendengar Rin memanggilnya shota. Dengan perasaan kesal, Len menghampiri Rin. Ia menarik nafas. Dan...
"Rin, kau ini bagaimana sih? Seenaknya memanggilku SHOTA! Kan aku sudah bilang JANGAN dan bahkan TIDAK BOLEH! Bukannya kita sudah rahasiakan itu? Dan bisakah kau berhenti menggangguku kalau aku sedang berbicara dengan orang lain? Selain itu JANGAN PANGGIL AKU LENNY! Dan mengapa tadi pagi kau, Gumi, dan Miku meninggalkanku, HAH?! Kembali ke topik, aku BUKAN Shota! Jangan sampai kulindas kau dengan Road Roller. Mengerti?" omel Len dengan cepat.
"Ya, ya. Whatever deh..." kata Rin. "Dan... Hei, Len? Siapa mereka?" melirik ke 2 perempuan yang tadi berbicara dengan Len. Kedua perempuan tersebut langsung menoleh ke arah Rin karena merasa terpanggil.
"Aku barusan berkenalan dengan mereka tadi pagi." Mendengar pernyataan Len, Rin langsung berkenalan dengan kedua orang tersebut yang ternyata bernama IA dan SeeU.
Tanpa diketahui atau disadari Rin, ternyata dari tadi ada yang mengintai Rin secara diam-diam, sembunyi-sembunyi, profesional.
"Sebenarnya kita lagi ngapain sih?" tanya Galaco.
"Shhhhh! Kita sedang mengobservasi Rin dan mengetahui sifat-sifatnya agar kita dapat membuat rencana dengan tepat!" jelas Lily.
"Gak gitu juga kali..." Galaco memutar bola matanya. "Lagipula, rencana apa?"
"Nanti kuberitahu setelah semua rencana sudah fix!"
(A/N) Hooo, apa yang direncanakan Lily? Selain itu, maaf banget kalau kalian gak suka kalau Lily dan Galaco dijadiin antagonis disini... Hint doang sih... tapi kedepannya mereka bener-bener jadi antagonis! Dan sebagai pahlawan kita harus― Hiraukan saja yang tadi...
Thanks for reading and mind to review? Aku bener-bener membutuhkan pendapat kalian tentang song-fic ini.
