MALAIKAT
.
.
.
Sore hari yang cerah ditaman, dan semua orang yang ada disana tampak menikmati waktu senggang mereka bisa dilihat dari sebagian pria dan wanita dewasa tengah bersantai; sebagian dari mereka adalah orangtua yang mengawasi anak-anak mereka bermain bersama anak lainnya ditempat bermain yang tersedia ditaman tersebut.
Ada juga sebagian pasangan yang menikmati waktu kencan mereka.
Disana ada seorang pemuda yang tengah duduk dekat dengan air mancur taman seorang diri, dengan buku yang dibaca dalam genggamannya sembari menikmati angin sore yang menyapu helai rambut kecoklatannya.
Wajah manisnya yang focus membaca deretan kata dengan bola mata bulat indahnya masih sempat mempesona orang yang tanpa sengaja meliriknya atau berada disekitarnya, kadang dia akan menggelengkan kepalanya sambil mengerucutkan bibirnya saat salah satu dari kata yang dibacanya tidak masuk akal oleh pemikirannya, membuatnya terlihat semakin imut.
Kadang akan ada tawa kekehan yang keluar dari dua belah bibir merah muda-nya, memperlihatkan gigi kelincinya serta tersenyum yang akan membuatnya terlihat cantik.
Mungkin semua orang yang ada ditaman itu akan menganggap makhluk indah yang duduk dibangku taman seorang diri dengan dunianya sendiri itu adalah seorang perempuan, jika saja mereka tidak memperhatikan bentuk tubuhnya yang bisa dilihat sedikit terbentuk itu dalam balutan kaos putih yang dipakainya dipadu dengan kameja merah juga celana jins ketat.
Pemuda itu bernama Jeon Jungkook yang menjadi pusat perhatian diam-diam sebagian orang yang ada ditaman, bahkan tanpa disadarinya seseorang yang tak jauh darinya terus memperhatikannya bahkan mengikutinya jauh sebelum dirinya sampai ditaman ini.
.
.
.
.
.
.
(KIM TAEHYUNG POV)
.
.
.
Aku terus mengamatinya, dia jeon jungkook , seseorang yang selalu menjadi obsesi jiminie ku.
Meski jiminie tidak pernah secara gamblang mengatakannya, tapi aku tau dari caranya bercerita tentangnya, bagaimana dia bertanya seperti …
.
"tae, apa kau tau kookie sangat menyukai boneka kelinci seperti ini, aku akan membelinya, apa menurutmu dia akan suka jika aku yang memberikannya?" mata jiminie berbinar menatap boneka yang ada disalah satu toko yang kami lewati di mall.
"tentu, jika itu kamu yang memberikannya, siapapun juga akan senang bahkan jika dia bukan jungkook" jujur siapa orang yang akan menolak pemberian dari makhluk seindah jiminie.
"hmm tae, aku tidak akan pernah membeli sesuatu halyang berharga untuk orang lain selain kookie ku, apapun itu" jawabnya bahkan tanpa memikirkan perasaanku yang terasa teriris, hal yang sudah terlalu biasa karna aku hanya akan tersenyum sebagai jawabannya sembari membawa belanjaannya juga boneka kelinci yang dibelinya untuk jungkooknya.
.
Semenjak jimin menyelamatkanku dari jalanan, aku berhutang hidup untuknya. Aku yang sebatang kara diperbolehkan tinggal dirumah mewah nya.
Jiminie yang hanya tinggal bersama para pelayannya, karena kedua orang tuanya tinggal di California dengan bisnis yang sukses disana, mereka menerima keputusan jiminie yang memilih tinggal di Negara kelahirannya dengan alasan ingin melanjutkan kuliah di universitas ternama di seoul dan hidup mandiri.
Meski aku tau alasan utamanya adalah dia yang tidak ingin pergi jauh dari jungkook. Sebab setiap malam akan selalu diisi dengan jiminie yang bercerita tentang jungkook nya.
.
"tae, hari ini seseorang ada yang berani menyakiti kookie, dia membuat kookie menangis, kookie ku terluka tae dan tidak ada seorangpun yang boleh hidup tenang dengan membuat kookie ku bersedih, kau tau apa yang harus kau lakukan kan?"
"kau ingin aku membuatnya menderita?"
"ya.. pastikan dia tetap hidup tae, buat dia tersiksa hingga berfikir mungkin kematian akan lebih baik baginya"
Apa yang diinginkan jiminie adalah sebuah keharusan untukku. Ini bukan bentuk balas budi sebagaimana kebaikannya yang diberikan untukku, tapi karna aku yang kotor ini mencintainya lah aku melakukan semuanya untuknya.
Aku yang sudah lama hidup dijalanan, terbiasa dengan segala kejamnya dunia untuk bertahan hidup, tindakan criminal apapun bukan hal baru bagiku sejak usia 10 tahun ketika ayahku yang dengan begitu tega membuangku dijalanan.
Sebelumnya, Ibuku bahkan pergi meninggalkkan kami dulu saat aku berusia 8 tahun dengan pria lain yang lebih baik dari ayahku, yang seorang pengangguran katanya tanpa sedikitpun niatan untuk mengajakku.
Dan saat aku sudah lelah menjalani hidup hingga mengharapkan kematian mungkin lebih baik, jiminie datang memberiku begitu banyak harapan. Tepat dihari ulangtahun ku yang ke 19 tahun waktu itu, jiminie adalah hadiah yang terindah yang pernah tuhan berikan padaku.
"taeeee … seseorang dengan beraninya mengatakan suka pada kookie ku, dia berani merebut kookie dariku tae ! perempuan itu, jalang sialan yang sudah resmi jadi kekasih kookie. Dia bahkan berani mengumbar kemesraan dihadapanku seolah mengejekku ! lakukan sesuatu tae, aku tidak suka siapapun yang berani merebut kookie dariku !"
"kau ingin aku menyakitinya?"
"tidaaak hanya menyakitinya tae…. Aku ingin kau membunuhnya ! singkirkan dia dari hidup kookie selamanya !"
Jiminie ku tersenyum begitu indah, bagai malaikat.
Maka aku harus dengan cepat menyingkirkan perempuan jalang yang sudah membuat jiminie ku kesal.
"berikan informasi tentangnya jiminie, aku akan mengakhiri hidupnya dengan sangat menyakitkan", aku berucap semua itu dengan penuh ketulusan.
Jiminie menatapku masih dengan senyumannya yang indah.
Mendekaitiku perlahan, "aku semakin menyayangimu, kau selalu bisa aku andalkan tae, dan tidak pernah mengecewakanku", seketika tubuhnya sudah ada dalam pelukanku.
Dan aku tak bisa untuk tidak tersenyum bersamanya.
.
Membunuh bukan hal yang baru lagi untukku, itu juga sudah biasa aku lakukan untuk bertahan hidup dijalanan.
Tapi semenjak bersama jiminie, aku tidak lagi membunuh untuk alasan bertahan hidup, karna selama 2 tahun aku tinggal bersama jiminie, membunuh ataupun melukai seseorang untuk jungkookie nya sudah menjadi bagian dari tugasku.
Karena tangan jiminie begitu bersih sedang tanganku sudah biasa ternoda, menjadi keharusanku menyingkirkan siapapun penghalang jiminie untuk mendapatkan jungkook nya.
Jiminie ku begitu sangat menginginkan jungkookie nya.
Bukankah itu artinya jiminie terobsesi padanya?
Ah ya, selain itu bagaimana pula jiminie selalu menceritakannya setiap kali bahkan setiap detik yang dihabiskan bersama orang semenyedihkan diriku. Seolah di otaknya hanya ada nama jungkookie nya, bahkan disetiap desahan yang keluar dari dua belah bibir cherry nya di sela-sela saat kami bercinta, nama jungkook selalu tersebut oleh mulutnya tanpa sadar.
Aku akan berbohong jika aku mengatakan bahwa aku tidak terluka, tapi memang siapa aku yang harus merasa cemburu?
Dimata jiminie aku tidak lebih dari sebuah bonekanya, bukankah aku ini orang yang kotor sedangkan jiminie bagai malaikat bersayap tentu saja jiminie akan mencintai makhluk suci yang saat ini sedang ada dalam jangkauan padanganku.
aku memperhatikannya untuk kesekian kalinya…
disana jungkook yang masih focus tanpa peduli orang yang sesekali meliriknya bahkan mengaguminya, harus diakui, jungkook memang sosok yang indah, sama indahnya dengan jiminie meski bagiku jiminie lebih indah.
Tapi…
Apa yang membuat jiminie begitu sangat mencintainya ?
Apa itu karena jungkook terlihat begitu sangat tidak ternoda? Terlihat begitu rapuh meski dia adalah sabuk hitam ditempat karatenya? Karena itu jiminie selalu ingin melindunginya?
Mengapa jiminie begitu sangat menginginkannya ?
Apa karna tubuhnya yang terbentuk sempurna bagaikan dewa yunani? Begitu menggoda hingga setiap orang yang melihatnya ingin mencoba menyentuhnya? Apa karna bibirnya yang selalu mengukir senyum manis pada setiap orang dan selalu berucap kata-kata yang menyenangkan hati? Atau karna memang dirinya seorang jeon jungkook yang diinginkan semua orang?
Berbagai pertanyaan mengisi pikiranku selama aku mengawasi makhluk bermarga jeon itu.
Pernyataan seperti jeon jungkook yang suka sekali makan terutama makanan manis
Jeon jungkook yang terlihat dewasa tapi masih sangat manja pada orang terdekatnya
Jeon jungkook yang mudah tertawa bersama sahabat dekatnya
Jeon Jungkook yang kurang pandai bergaul tapi setiap orang menginginkan untuk menjadi dekat dengannya
Jeon jungkook yang selalu berlaga sok kuat dihadapan semua orang
Jeon jungkook yang lebih memilih menangis diam-diam agar tidak membuat semua orang khawatir padanya
Dan jeon jungkook yang tidak mau menjadikan pusat perhatian orang-orang tapi tanpa sadar selalu menarik atensi semua orang untuk mengaguminya.
Semua hal itu berputar dikepalaku membuatku sedikit pening. Satu hal yang selalu mengganjal pikiranku semenjak pertama kalinya jiminie menceritakan orang yang bernama jeon jungkook itu
.
Apa istimewanya seorang jeon jungkook ?!
.
Saat aku ingin kembali memperhatikannya lagi, tanpa sadar mataku bersitatap dengan matanya.
Ini pertama kalinya...
Dan aku baru sadar, selama ini bola matanya bukan berwarna coklat seperti perkiraanku tapi hitam. Bagai blackhole, sesaat aku merasa terhisap didalamnya .
kenapa aku merasa waktu serasa terhenti?
Hanya beberapa detik yang terasa seperti selamanya.
Dia orang yang memutuskan kontak mata kami,sedang aku masih menatapnya.
Dia segera menutup buku yang sedari tadi dibacanya lalu bangkit berdiri meregangkan anggota badannya yang mungkin pegal akibat membaca diposisi yang sama selama 2 jam di bangku taman. Memasukkan buku novelnya kedalam tas lalu melangkah pergi yang aku tau pasti pulang menuju apartementnya tanpa menoleh kebelakang. Atau kearahku.
Sudah menjadi kegiatanku selama 2 bulan ini untuk mengawasi jungkook. Bukan, -ini bukan karna aku ingin atau sangat penasaran terhadapnya, tapi ini keinginan jiminie untuk memastikan jungkookienya aman dalam 'artian' yang diinginkan jiminie.
.
.
Melihat jungkook sudah pergi menjauh dari taman, aku segera bangkit berdiri dan mengikutinya kembali diam-diam. well... aku masih harus tetap memastikan jungkook benar-benar sampai di apartementnya.
Siapa yang tau jika nanti ada orang yang mendekatinya dan menjadi ancaman baru jiminie, sebelum itu terjadi bukankah akan lebih baik kalau aku bisa bertindak lebih dulu tanpa membuat jiminie sedih setidaknya jiminieku tersayang akan senang dengan apa yang aku perbuat untuknya.
