tbh aku gak tau jadwal kegiatan pembalap motoGP tuh gimana wkwk

tau sih urutannya dari latihan bebas, terus kualifikasi sampe balapan

tapi jelasnya gatau huahahaha enjoy guys!

.

.

.

Losail menjadi tujuan pertama untuk MotoGP dilaksanakan. Masih ada waktu lima hari lagi sebelum kompetisi dimulai. Jongin beserta timnya sudah sampai di sana, yang berarti, Kyungsoo juga. Lelaki itu menjadi sedikit lebih pendiam daripada sebelumnya—sebelum rumor berkencannya dengan Jongin tersebar luas. Sedikit dia merasa beruntung, karena anggota timnya mayoritas warga negara non-Korea, jadi mereka tidak tahu-menahu dengan gosip yang sedang menjadi perbincangan seluruh kalangan di negara asalnya tersebut.

Jongin sendiri masih sedikit santai, karena latihan bebas pertama masih akan dilaksanakan dua hari lagi. Dia lebih memilih untuk bersantai di hotel, mungkin berolahraga di gym, berdiskusi dengan Jongdae untuk balapnya akhir pekan nanti, atau kegiatan terakhir yang ia lakukan dengan intens akhir-akhir ini, mengintai Kyungsoo yang sedang sibuk. Seperti hari itu, Jongin yang sedang tidak punya kegiatan apapun itu memutuskan untuk pergi ke sirkuit, melawan cuaca panas Qatar, dan duduk santai sembari melihat kru sibuk membetulkan dan merangkai motor yang akan ia gunakan. Berlagak seperti supervisor, iya begitu.

Melihat Jongin yang duduk santai sembari menjilati es krim, Jongdae angkat bicara, "Sedang apa kau di situ?" tanyanya dengan wajah masam.

Jongin tersenyum—cukup untuk membuat Jongdae ingin melemparkan papan dada yang ia bawa sekarang, "Melihat kalian bekerja, Hyung. Memangnya tidak boleh?"

"Selama aku bekerja denganmu, aku tidak pernah melihat kau duduk dan melihat kami bekerja," Jongdae melirik dengan wajah curiga, "kau ada modus tertentu, bukan?"

"Tidak. Tidak begitu. Aku hanya—memangnya terlihat begitu?"

Jongdae mengangguk, "Kau tidak benar-benar mendekati—"

"Tidak! Yang benar saja—tapi ide bagus."

"YA!" Jongdae menepukkan papan dadanya di kepala Jongin, "Jangan macam-macam atau ku bunuh kau!"

Jongin mengernyit. Menyadari bahwa kepala krunya itu selalu melakukan kekerasan fisik padanya. Tapi Jongin tidak bisa mengelak, Jongdae benar-benar ia butuhkan kapan saja. Toh lelaki itu selalu membantunya kapanpun juga.

"Hyung, sakit—okay, okay. Aku pergi." ucap Jongin yang kemudian mulai berdiri dari tempat duduknya.

Jongdae mengerutkan alis, "Ke mana?"

"Kenapa kau ingin tahu?"

"YA!" Jongdae menepukkan papan dada itu lagi, "Bisa-bisanya kau berkata begitu padaku."

"Jika aku gegar otak kau akan menanggungnya, Hyung," Jongin mulai melangkahkan kakinya pergi, "aku ke hotel dulu. Kalau ada apa-apa hubungi aku, Hyung." ucapnya yang kemudian berlalu meninggalkan Jongdae yang masih bersungut-sungut.

Jongin merasa dirinya sangat tidak berguna jika begini. Tidak ada yang bisa ia lakukan. Dia juga sudah bosan untuk sekadar merebahkan dirinya di hotel. Dia tidak punya kegiatan lagi. Jika hari-hari kemarin dia masih bisa mengganggu krunya yang bekerja di hotel, saat ini tidak lagi. Mereka sudah sibuk di area sirkuit dan itu membuat Jongin merasa kesepian. Jika musim lalu, dia akan bersama Hyejoo di hotel melakukan hal-hal yang tidak senonoh—yang sudah bisa diprediksi sebenarnya—maka saat ini tidak lagi. Hyejoo sudah tidak menjadi bagian dari tim, dan itu sempat membuat beberapa krunya bertanya-tanya mengapa Hyejoo tidak ikut berangkat bersama mereka.

Gosip jika Jongin sudah mengakhiri hubungannya dengan Hyejoo sebenarnya juga sudah terdengar di telinga beberapa kru yang ada di sana. Namun melihat pribadi Jongin yang agak sulit disentuh, maka mereka tidak berani bertanya langsung. Menghindari untuk mendapatkan jawaban tidak menyenangkan sebenarnya—karena Jongin seringkali memberikan wajah tidak suka kepada orang yang terlalu ingin tahu tentang kehidupan pribadinya.

Mobil yang Jongin tumpangi sudah berbelok ke hotel. Ia memutuskan untuk kembali ke kamarnya dan berencana untuk menonton film yang ada di komputer jinjingnya. Hanya itu yang bisa ia lakukan. Walaupun pada akhirnya, setelah masuk ke dalam kamar, ia hanya membuka ponsel dan mulai melihat-lihat apa yang ada di sosial medianya. Wajahnya yang semula berekspresi datar dan bosan berubah ceria ketika melihat akun favoritnya baru saja mengunggah sebuah insta story.

DohKyungchuu, baru saja mengunggah foto kaleng cola yang berembun dengan latar belakang padang pasir yang memang ada di sekeliling sirkuit. Di foto itu terdapat sebuah tulisan, 'Panas, dan Bosan'. Kyungsoo baru saja mengunggah foto itu mungkin empat menit sebelumnya, dan Jongin yakin jika lelaki itu masih dalam keadaan online. Sehingga dengan sigap, Jongin membalas insta story tersebut.

'Did you eat already?' balasnya.

Hanya beberapa detik, dan Kyungsoo membalas pesan Jongin tersebut, 'Sudah. Sedang di mana? Bukannya tadi di sirkuit?'

Melihat Kyungsoo yang cepat membalas, Jongin merasa lebih semangat lagi, 'Jongdae Hyung mengusirku, padahal aku diam saja di sana.'

Jongin yang sedang menggelepar di ranjang itu memilih untuk menyalakan televisi dan mencari acara apa yang bagus. Untung saja televisi kabel di sana menyediakan film yang menurutnya cukup bagus, jadi paling tidak ada yang membunuh rasa bosannya saat ini. Hingga akhirnya, ponsel miliknya berbunyi sekali lagi.

'Jongdae Hyung sedang sensitif. Beberapa dari kru ada yang melakukan kesalahan. Jadi dia sedang tidak ingin diganggu nampaknya. Aku saja sedikit takut.'

Jongin mendengus; merasa bahwa dia menjadi korban kekerasan Jongdae padahal dia tidak melakukan apa-apa. Namun dia bisa memaklumi Jongdae yang sedang marah begitu. Tanggung jawab Jongdae sangat besar. Apalagi untuk kesuksesan dan keselamatan Jongin di balapan perdananya musim ini. Apalagi masih minggu pertama, tentu akan menentukan minggu-minggu berikutnya.

'Pantas saja dia marah padaku. Kau tidak menjadi korbannya, 'kan?'

Kyungsoo membalas dengan banyak emotikon dan membuat Jongin tertawa, 'Tidak, Jongin. Tidak perlu khawatir. Dia tidak akan bisa memarahiku. Aku harus bekerja dulu, Jongin! Sampai bertemu nanti!'

Balasan Kyungsoo yang berisi sebuah izin untuk bekerja lagi membuat Jongin sedikit kesal. Karena dia berakhir dengan kesendirian lagi. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain menonton televisi dan memainkan ponsel sesekali. Beberapa kali ada notifikasi yang tidak ia inginkan membuatnya sedikit kesal—namun selebihnya Jongin tidak peduli. Ia lebih memilih untuk meletakkan ponselnya sembarang tempat, menatap langit-langit kamar hotelnya beberapa detik, sebelum akhirnya memejamkan mata dan menyambut dunia mimpinya.

.

.

.

Rasa bosan Jongin makin menjadi ketika malam hari datang. Ia yang baru saja menyelesaikan makan malamnya pukul setengah 12 malam itu—karena Jongin tidur terlalu lama sebelumnya. Rasa kantuknya juga sudah hilang karena tidurnya terlalu lama, jadi dia memutuskan untuk sekadar berkeliling di lingkungan kamarnya. Meskipun akhirnya, dia memilih untuk duduk di balkon dan mulai mengeluarkan batang rokoknya. Ketika dia akan menyalakan api untuk rokoknya, perhatiannya tersita ke satu sudut pelataran taman hotel yang ia tinggali.

Di lantai dasar, ia melihat seseorang sedang duduk di tepian kolam renang. Jongin, yang menginap di lantai tiga, tentu bisa melihat sosok itu dengan sangat jelas. Obyek tatapan mata Jongin sedang duduk dan menggerakkan kakinya yang berada di dalam air sesekali. Sosok itu memainkan ponselnya dan sibuk dengan dunianya sendiri. Dikarenakan rasa bosan yang sudah menggunung, Jongin memutuskan untuk pergi dan melupakan batang rokok yang sudah bertengger di antara bibirnya itu. Dia memutuskan untuk pergi menyusul orang itu; orang yang sedang menikmati kesendiriannya di luar sendiri.

Jongin berjalan sendirian. Sudah sangat sepi memang, dan dia merasa sedikit bergidik karena lingkungan hotel yang sangat sunyi. Langkah kaki Jongin terasa sangat ringan ketika melihat punggung itu. Ia sempat terkekeh, menyadari bahwa pundak orang itu sangat sempit untuk ukuran seorang pria. Dan keberadaan sosok itu membuat rasa bosan Jongin secara tiba-tiba menguap begitu saja.

"Sedang apa?" tanya Jongin yang saat ini berdiri di belakang orang itu.

Malangnya, orang itu terkejut. Karena refleksnya yang buruk, ponsel yang sedari tadi ada di tangannya terlempar ke dalam air. Wajar memang, di malam hari begitu dikagetkan oleh suara yang tiba-tiba muncul di belakangnya.

"Ponselku!"

Jongin hanya bisa terdiam ketika melihat orang itu melompat ke dalam air dan berusaha mengambil ponsel yang hampir menyentuh dasar kolam. Sejujurnya Jongin tidak tahu harus berbuat apa. Semua terjadi dengan sangat cepat sehingga dia tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Sebelum akhirnya, orang itu muncul ke permukaan dengan wajah memelas. Jongin meraih tangan orang itu dan masih belum berkata apapun. Meskipun beberapa saat kemudian dia menjadi sasaran orang itu—dengan kekesalannya.

"KAU! Kenapa harus mengagetkanku begitu, Jongin?" serunya dengan alis berkerut—sudah berada di titik di mana dia akan menangis sebenarnya.

"Kyungsoo Hyung, maaf, aku tidak bermaksud mengagetkanmu—"

"Ponselku mati sekarang! Aku basah kuyup pula—astaga, sial sekali!" gerutunya dengan wajah sudah di ambang tangisannya. Tentu saja, dia juga tidak tahu harus berbuat apalagi.

Jongin terdiam sebentar melihat Kyungsoo yang saat ini sedang berusaha setengah mati untuk menyalakan ponselnya meskipun percuma. Benar-benar percuma.

"Hyung, maaf…" gumam Jongin dengan rasa bersalah. Kali ini dia benar-benar merasa bersalah.

Kyungsoo mendengus, "Ya sudah, mau bagaimana lagi—" dia mendelik ke arah Jongin dengan wajah super kesal sebelum beranjak mengambil handuknya yang ada di salah satu kursi di sana, "aku pergi." ucapnya sebelum bergegas.

Jongin mengikuti Kyungsoo dari belakang. Memberikan jarak beberapa meter. Dia tidak berani mengajak Kyungsoo berbicara terlebih dulu, atau bahkan mungkin berjalan di samping lelaki itu. Tapi sejujurnya Jongin ingin meminta maaf walaupun dia sangat yakin Kyungsoo tidak akan memperdulikannya.

Langkah Jongin berhenti ketika Kyungsoo berdiri di depan sebuah kamar. Lelaki bermarga Do itu terlihat mengetuk pintu beberapa kali, walaupun akhirnya ia terlihat sangat kesal dan berjongkok di depan kamar tersebut. Sempat Jongin juga melihat lelaki itu membanting ponselnya sendiri setelah dengan percuma berusaha menyalakannya lagi. Kyungsoo berusaha untuk mengetuk pintu tersebut beberapa kali lagi, namun usahanya memang berujung percuma.

Melihat Kyungsoo yang tidak bisa masuk ke kamarnya, Jongin mendekat. Dia sudah mempersiapkan mentalnya untuk mendapatkan caci maki dari Kyungsoo, namun Jongin tidak peduli. Ia lebih mengedepankan rasa bersalahnya—dan rasa tidak tega—pada Kyungsoo yang basah kuyup dan hanya menutupi badannya dengan sebuah handuk yang cukup besar untuk membungkus punggungnya yang kecil itu.

"Hyung—"

Kyungsoo menoleh. Matanya mendelik dan dia sempat mendengus dengan keras, "Ini karena dirimu, Kim Jongin—"

Jongin mengangguk, "Aku tahu. Tapi—siapa teman sekamarmu?"

Lelaki bermata bulat itu terlihat menimang jawabannya sebentar. Dia masih bingung harus memilih egonya—yang berarti dia harus tetap marah pada Jongin—atau menyudahi kesialannya pada malam itu.

"Jongdae Hyung." jawabnya singkat dan dengan mata yang tidak menatap ke arah lawan bicaranya tersebut.

Jongin mengangguk, "Okay, aku akan meneleponnya sebentar." ia mengeluarkan telepon genggamnya dan berusaha menghubungi kepala krunya tersebut. Setelah beberapa saat dan tidak mendapatkan jawaban, Jongin memutar otaknya dan memberikan Kyungsoo pilihan yang lain.

"Kita pergi ke kamarku dulu, dan kau bisa mengganti pakaianmu." katanya yang kemudian menyudahi usahanya untuk menghubungi Jongdae.

"Tidak mau! Aku mau tidur! Lagipula pakaianku ada di kamar!" seru Kyungsoo penuh nada menuduh.

"YA! Kau sudah menggigil begitu! Jongdae Hyung juga tidak mengangkat teleponnya!" jawab Jongin dengan nada yang tiba-tiba meninggi.

"Aku tidak mau! Kau yang membuatku basah kuyup begini, tapi kau malah memberikan solusi yang tidak-tidak—"

Jongin memutar bola matanya, "Aku tidak akan melakukan apapun padamu!"

"Tapi kau tidak tahu nanti!"

Jongin menghela nafasnya, "Ya sudah, kalau itu maumu. Tidur saja di luar. Kalau kau besok sakit, kau tidak usah datang ke sirkuit. Aku tidak mau ada kru sakit dan merepotkan yang lainnya." Jongin memberikan nada kesalnya sebelum memutar balik arah badannya sekarang. Sungguh, dia yang semula merasa iba tiba-tiba berubah kesal karena Kyungsoo menaruh rasa curiganya begitu.

Baru beberapa langkah, dia merasa ada yang menarik ujung kaosnya. Ketika berbalik, dia mendapati Kyungsoo dengan wajah memelas menatap dirinya. Bahkan dengan sembarangan Kyungsoo memberikan puppy eyesnya dan membuat Jongin menghentikan jejak kakinya lagi.

"Apalagi?" tanya Jongin ketus dan sedikit meninggikan nada bicaranya.

"Dingin, Jongin…" gumam Kyungsoo dengan bibir membiru dan menggigil.

Jongin menghela nafasnya. Dengan sedikit kasar dia meraih tangan Kyungsoo dan menggenggamnya. Sungguh, dia bisa merasakan bagaimana tangan Kyungsoo yang sudah dingin karena basah. Lagipula jika malam hari angin Qatar berhembus dengan cukup kencang. Jadi bukan sesuatu yang salah dan keliru untuk Kyungsoo merasa dingin seperti itu. Jongin sendiri menggenggam tangan Kyungsoo dengan sedikit memaksa, dengan harapan suhu tubuhnya menular walaupun tampaknya sedikit percuma.

Jongin menyadari kepribadian mereka hampir sama. Terkadang bisa merendah layaknya orang tidak bisa apa-apa, namun sedetik kemudian mereka bisa meninggi dengan emosi yang tidak terkendali. Walaupun begitu, Jongin tahu dia masih harus mempelajari banyak hal dari Kyungsoo—meskipun separuh dari dirinya bertanya mengapa ia perlu tahu kepribadian dari diri Kyungsoo lebih dalam lagi.

Mereka berdua berhenti di depan kamar Jongin. Kamar dengan kelas yang berbeda dari milik Kyungsoo dan kru lainnya. Kamar yang tentu lebih nyaman dan lebih mahal. Gedung dari kamar mereka juga berbeda, karena gedung yang ditempati oleh Jongin berisikan kamar dengan harga lebih mahal daripada gedung lainnya. Ketika menyeberangi gedung satu dengan gedung lainnya, Jongin sempat mengecek apakah Kyungsoo lebih menggigil lagi—karena angin luar sempat menerpa dengan cukup kencang.

Jongin mempersilakan Kyungsoo masuk. Walaupun setelahnya ia merasa heran karena Kyungsoo hanya berdiri di depan pintu tanpa bergerak lagi.

"Sedang apa kau di situ?" tanya Jongin dengan nada datar.

Dengan wajah yang memucat, Kyungsoo bertanya pada Jongin, "A-apa yang harus ku lakukan?"

Jongin menghela nafasnya. Sekali lagi ia menarik Kyungsoo ke dalam kamarnya. Ketika sudah sampai di dalam kamar, Jongin segera membuka kopernya dan memberikan beberapa helai baju untuk Kyungsoo pakai.

"Mandi dengan air hangat, dan ganti bajumu dengan ini."

Kyungsoo menatap Jongin ragu. Sejujurnya lebih ke arah memelas. Dan Jongin menahan dirinya dengan susah payah untuk tidak berteriak gemas.

"Terima kasih." jawab Kyungsoo lirih.

"Wait—" Jongin mengambil handuk yang baru dan mendaratkannya di rambut Kyungsoo yang sudah setengah mengering itu, "Gunakan handuk yang ini."

Kyungsoo mengangguk dan masuk ke dalam kamar mandi. Setelah itu Jongin merasa tidak ada yang bisa dilakukan lagi. Ia memilih untuk merebahkan badannya di ranjang. Sesekali ia mengecek notifikasi ponselnya, dan mengingatkan dirinya sendiri untuk mengganti ponsel Kyungsoo yang terjatuh ke dalam air sebelumnya. Tidak lupa ia memasang alarm lebih pagi dari seharusnya, karena Kyungsoo harus bangun sangat pagi dan pergi ke sirkuit lebih awal darinya. Ia juga mengirimkan pesan pada Jongdae dan mengatakan bahwa Kyungsoo bersamanya malam itu.

Ia menghela nafas sembari melempar ponselnya sembarangan di ranjang. Matanya menjelajah ke arah langit-langit kamarnya. Selama beberapa menit ia bertahan seperti itu; sesekali merutuki dirinya sendiri karena rasa kantuk yang tidak kunjung muncul di saat hari sudah berganti. Hingga kemudian perhatiannya tersita pada Kyungsoo yang keluar dari kamar mandi. Jongin segera mendudukkan dirinya. Ia meneliti Kyungsoo yang saat ini memakai pakaiannya. Terlihat sedikit tenggelam karena kaosnya yang lebih besar dari badan Kyungsoo sendiri.

"A-aku bisa kembali ke kamar Jongdae Hyung—"

Jongin menggeleng, "Nah. Aku sudah mengirimkan pesan pada Jongdae Hyung kalau kau di kamarku."

"AH," Kyungsoo mengangguk kikuk, "aku bisa tidur di sofa depan—"

Si pembalap menghela nafasnya. Ia berdiri dan meraih tangan Kyungsoo. Sekali lagi ia menariknya; entah sudah berapa kali ia menarik tangan lelaki bermarga Do tersebut. Ia mendudukkan Kyungsoo di ranjangnya, dan memberikan tatapan bosan padanya.

"I won't do anything. Tidur saja. Kau bisa mengambil sisi yang sini, dan aku akan mengambil sisi sana." ucap Jongin yang kemudian merebahkan dirinya lagi.

Kyungsoo menggigit bibir bawahnya. Ia masih terduduk di pinggiran ranjang sembari melirik ke arah Jongin yang menutup matanya dengan lengan tangannya saat ini.

"But I'm so cuddly, Jongin… Kau tahu itu—"

Jongin mengalihkan tangannya, membuka matanya sekali lagi dan menatap Kyungsoo dengan wajah bosan—lagi-lagi, "Apakah aku terlihat mempermasalahkan itu sekarang? Tidur, atau kau tidak akan berada di sirkuit dan mendapatkan amarah dari Jongdae Hyung."

Lelaki bermarga Kim itu sempat melihat Kyungsoo mengerucutkan bibirnya sebentar sebelum akhirnya menenggelamkan dirinya di ranjang. Ia memberikan punggungnya pada Jongin dan berusaha tidak peduli dengan eksistensi Jongin di sana. Melihat Kyungsoo yang meringkuk di sebelah kirinya, Jongin tersenyum kecil—tanpa sepengetahuan Kyungsoo tentu saja.

Jongin mematikan lampu dan menggantinya dengan lampu tidur sebelum memulai memejamkan matanya. Menunggu rasa kantuknya datang menjemput. Suasana kamar itu juga sangat hening. Walaupun beberapa menit kemudian keheningan itu terpecahkan oleh Jongin sendiri.

"Sorry, Hyung." gumam Jongin.

Tidak ada jawaban beberapa detik setelahnya. Jongin sempat tertegun karena Kyungsoo tidur begitu cepat. Tapi gerakan badan dari lelaki itu membuyarkan spekulasi Jongin baru saja.

Kyungsoo membalikkan badannya. Kemudian ia menatap Jongin dengan mata yang sangat bulat dan polos. Di remang lampu tidur kamar itu Jongin bisa melihat kerlingan mata Kyungsoo yang sangat berbinar.

Lelaki tersebut mengangguk, "It's okay, Jongin," ia tersenyum sebentar, "Good night."

Jongin membalas senyuman itu dengan sebuah anggukan kecil, "Good night."

Tidak Jongin tahu jika rasa kantuknya datang lebih cepat daripada yang ia kira sebelumnya.

.

.

.

Seperti yang Kyungsoo prediksi sebelumnya, saat ini Kyungsoo meringkuk ke arah Jongin dan memeluk pinggang sang pembalap itu. Parahnya, ketika Jongin membuka mata, wajahnya tepat berada di depan wajah Kyungsoo. Hanya berselisih beberapa sentimeter saja. Jadi jika Jongin melakukan gerakan yang salah, maka akan beresiko cukup besar.

Namun Jongin memilih untuk memperhatikan wajah itu. Sebuah hal yang aneh untuk dilakukan olehnya. Ia meneliti bagaimana bibir tebal itu sedikit terbuka, hidung yang menghembuskan nafasnya teratur, dan mata bulat yang terpejam sempurna. Ia mengagumi bagaimana lekuk wajah Kyungsoo yang bisa dikatakan cantik untuk seorang pria, namun terlalu tampan untuk dikatakan feminin. Beberapa kali ia melihat bulu mata lelaki itu bergerak kecil; dan membuat Jongin sedikit panik karena takut jika lelaki tersebut terjaga. Walaupun beberapa menit kemudian, pagi Jongin disambut dengan wajah kantuk dari Kyungsoo, yang dengan malasnya menatap wajah Jongin saat ini.

"Morning." ucap Jongin singkat.

Kyungsoo membelalakkan matanya, "Aku tahu ini akan terjadi—sorry, Jongin." gumamnya yang kemudian melepas pelukannya.

Jongin mengangguk, "Kau bisa mandi sekarang. Masih ada banyak waktu untuk sarapan dan segala macam—kau bisa kembali ke kamar Jongdae Hyung dengan baju itu."

"Maaf, Jongin…"

"Tidak apa—" ia menguap sebentar, "kau sebaiknya mandi dan aku akan memesan sarapan—sebelum Jongdae Hyung membunuh kita berdua."

Lelaki itu mengangguk. Ia segera membangunkan badan malasnya dan bergegas ke kamar mandi sesuai saran Jongin sebelumnya. Sang empunya kamar tersebut masih bermalasan-malasan di atas ranjang. Sebelum akhirnya alarm ponselnya berbunyi; dan menandakan bahwa setengah delapan pagi sudah menyapa dirinya. Sedikit geraman kesal terdengar dari mulutnya, meskipun dia tetap membangunkan dirinya dari ranjang setelah itu.

Dengan wajah malas dan rambut yang berlarian ke sana kemari, Jongin menyeret kakinya keluar dari kamar setelah memesan room service untuk dia dan Kyungsoo sarapan pagi itu. Ia mendudukkan dirinya di sofa luar kamar dan menyalakan televisi ruang tengah tersebut. Jongin mendecak kesal karena ia menggulirkan saluran TV dan tidak menemukan acara yang menarik. Bahkan dia menghela nafasnya sedikit keras karena mendengar bahasa Arab yang tidak ia ketahui sama sekali—kecuali ucapan salamnya.

30 menit kemudian, perhatian Jongin beralih ke arah Kyungsoo yang keluar dari kamarnya. Jongin bergeming, dan berbuat seakan tidak peduli—meskipun dia tidak bisa memahami fakta bahwa pipi Kyungsoo selalu memerah setelah terguyur air.

"Kita akan menunggu sarapan datang dan kau bisa pergi. Aku akan menelepon Jongdae Hyung jika sarapan selesai." ucap Jongin yang kembali menggulirkan saluran televisi hotel.

Kyungsoo mengangguk, "Thank you."

"Tidak apa. Toh aku yang bersalah kemarin," Jongin mengerutkan alisnya dan mengalihkan perhatiannya pada Kyungsoo setelah itu, "Ngomong-ngomong, kenapa kau ada di pinggir kolam renang semalam?" tanya Jongin penasaran.

"Aku?" Kyungsoo mengedipkan matanya beberapa kali; seakan memikirkan jawaban apa yang akan ia keluarkan, "Aku sedang sangat suntuk, Jongin. Aku tidak bisa tidur dan merasa bosan. Jadi aku memutuskan untuk pergi keluar dan duduk di tepi kolam renang."

"Kenapa kau tidak meneleponku—atau menghubungiku?"

Kyungsoo mengerutkan alisnya, "Untuk apa?"

Jongin tertegun. Pertanyaan Kyungsoo baru saja menohok dirinya. Benar juga, mengapa Kyungsoo harus menghubunginya? Lagipula untuk apa? Dan Jongin merasa sangat bodoh setelah mendengar pertanyaan tersebut.

"Hmm, y-ya mungkin kau butuh teman atau apa? Aku juga merasa bosan semalam—" racau Jongin dengan suara yang terbata.

"Oh! Aku tidak tahu," Kyungsoo mengerucutkan bibirnya sesaat, "mungkin aku akan menghubungimu nanti—eh, aku tidak punya ponsel lagi…" gumam Kyungsoo dengan wajah kesal.

"Aku akan—"

Pintu kamar Jongin diketuk beberapa kali. Jongin yang belum menyelesaikan ucapannya itu segera berdiri dari tempat duduknya. Tidak lupa ia mengambil dompet miliknya dan membuka pintu. Dengan wajah yang berantakan tentu saja. Tapi dia tidak peduli. Walaupun akhirnya dia sempat panik karena petugas room service meminta foto bersamanya di saat dia berwajah seperti gelandangan begitu. Bisa ia bayangkan bagaimana reaksi Sehun dan Chanyeol jika tahu foto tersebut.

Jongin segera menata makanan di meja depan televisi, "Aku tidak tahu kau ingin makan apa jadi aku memesan ini." ucapnya yang kemudian menyodorkan sepiring nasi beserta lauknya—yang demi Tuhan Jongin sudah lupa apa namanya.

"Aku bisa makan makanan kru sebenarnya."

Jongin mendecakkan bibirnya, "YA! Badanmu kurus kering begitu."

Kyungsoo mendelik, "Enak saja."

"Ya, ya, ya. Selamat makan." jawab Jongin tidak peduli.

Mereka berdua makan dengan tenang. Jongin sendiri sedang menonton siaran F1 yang dilaksanakan di Australia. Ia sedang berkonsentrasi dengan pembalap bernomor 81, Wonshik, yang merupakan sahabat masa kecilnya. Walaupun akhirnya konsentrasi Jongin terpecah karena ponselnya yang berdering. Jongin segera menghentikan kegiatannya ketika melihat nama Kim Jongdae muncul di layarnya.

"Halo, Hyung." sapa Jongin.

"Apa yang sudah kau lakukan?!" seru Jongdae di seberang.

Jongin memutar bola matanya. Sudah sangat hafal dengan tabiat kepala krunya yang selalu berteriak jika keadaan tidak berpihak padanya.

"Kyungsoo ada di sini. Sudah dalam keadaan bersih dan sedang makan pagi," ia melirik ke arah Kyungsoo dan tersenyum mengejek—pada Jongdae sebenarnya, "kau sendiri yang tidak membuka pintu dan tidak menjawab teleponku."

Jongdae yang sebenarnya terdengar baru bangun dari tidurnya itu menghela nafas, "Kau tidak melakukan apapun, bukan?"

"Aman terkendali, Bos Besar."

"Good. Suruh dia pergi ke kamar jika sudah selesai sarapan."

Jongin terkekeh, "Siap laksanakan, Bos Kim."

Mendengar percakapan Jongin dan Jongdae, Kyungsoo menggelengkan kepalanya. Merasa bahwa Jongin yang tidak tersentuh itu bisa bercanda dan bertindak bodoh juga.

Jongin menutup sambungan telepon dan meletakkan di meja sebelum berkata, "Senang rasanya membuat Jongdae Hyung kesal begini."

"Jangan membuatnya marah. Nanti kami yang akan menjadi sasarannya."

Lelaki bermarga Kim itu menggelengkan kepalanya, "Dia hanya kesal padaku. Bukan marah. Jadi santai saja. Aku tahu siapa dirinya." ucap Jongin yang menjelaskan tentang lelaki yang bermarga sama dengannya tersebut.

.

.

.

Pembalap bernomor 88 itu melakukan putaran ke empatnya malam itu—setelah melakukan persiapan sejak pagi hari. Dia datang di siang hari dan melakukan diskusi hingga sore, sehingga baru melakukan latihan bebas pada malam hari. Angin yang sangat kencang menyapa dirinya. Dan masih berusaha untuk memfokuskan dirinya di jalanan yang ia rasa aspalnya lebih keras daripada yang ia rasakan di Jepang—tempat ia biasanya berlatih.

Setelah melakukan satu atau dua putaran berikutnya, Jongin menepikan motornya ke arah paddock di mana timnya berada. Ia segera masuk ke dalam paddock dan membiarkan timnya membereskan motornya. Ia duduk di kursi dan menghela nafasnya sejenak. Ia bersumpah bahwa memakai baju balapan selalu membuatnya sesak nafas.

"Ada masalah?" tanya Jongdae.

Jongin menggeleng, "Nope, aman."

"Good. Tapi nampaknya kau harus lebih stabil ketika di belokan ini, Jongin—" Jongdae menunjuk sebuah tikungan yang memang Jongin tidak sukai, "jika sudut putaranmu terlalu lancip, kau akan terjatuh di sini. Kau tahu sendiri ban untuk tahun ini berbeda dari tahun kemarin." ucapnya.

Jongin mengangguk, "Aku akan membiasakannya, Hyung."

Tidak lama setelahnya, Kyungsoo datang, "Kau tampaknya menjadi yang kedua di latihan pertama hari ini, Jongin."

"Siapa yang pertama?" tanya Jongin.

"Daniel."

Lelaki berkulit tanned itu mengangguk, "Tidak buruk nampaknya. Mungkin aku benar-benar harus membiasakan diri di tikungan tersebut agar bisa lebih baik lagi besok. Berapa kecepatan maksimalku?"

"297 kilometer per jam." jawab Kyungsoo pasti.

Jongin mengangguk lagi, "Benar-benar bukan hal yang buruk. Aku yakin bisa lebih baik nanti."

Latihan bebas itu selesai satu jam kemudian. Malam hari sudah benar-benar menyapa mereka. Bahkan sudah hampir tengah malam, dan mereka semua sudah bersiap untuk kembali ke hotel—dan beberapa kru menginap di paddock mereka. Jongin seharusnya kembali lebih dulu—dan itu tidak dipermasalahkan karena ia tidak butuh koordinasi lagi. Namun malam itu dia menunggu di parkiran mobil sembari menyalakan batang rokoknya. Ia sedikit kesal sebenarnya, karena rokoknya habis lebih cepat karena angin yang berhembus kencang.

Penantian Jongin selama beberapa menit itu terbayarkan ketika melihat Kyungsoo keluar dari lokasi sirkuit. Jongin segera mematikan puntung rokoknya dan berlari ke arah pria tersebut. Dan mendapati sang kru monitor membelalakkan mata padanya. Jongin berharap Kyungsoo akan menyambutnya dengan sebuah senyuman, namun yang ia dapatkan adalah wajah yang merengut tidak suka.

"Mengapa kau begitu?" tanya Jongin.

Kyungsoo menatapnya tajam, "Berapa batang?" tanyanya yang langsung Jongin pahami.

"Hmm… empat?" ucap Jongin ragu. Karena sebenarnya ia berpikir bahwa ia menghabiskan lebih dari itu.

"Pantas saja."

Jongin mengerutkan alis, "Kenapa?" tanyanya bingung.

"Kau bau asap sekali," Kyungsoo membuka tas ranselnya dan mengeluarkan sebuah botol dari dalamnya, "pakai ini. Kau benar-benar bau rokok dan membuatku sedikit mual."

Jongin menghela nafas tidak percaya ketika Kyungsoo menyerahkan sebotol parfum kepadanya. Ia benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran Kyungsoo yang suka memerintah dan bossy. Bahkan terkadang ia bertindak penuh intimidasi—pada kru lainnya sekalipun. Tapi yang membuat Jongin heran adalah Kyungsoo yang bisa berubah lemah ketika sedang terpojok. Dan itu 180 derajat berbeda dengan Kyungsoo saat ini. Meskipun Jongin sedikit kesal, namun ia menuruti apa yang Kyungsoo perintahkan. Ia menyemprotkan beberapa kali ke arah badannya.

"That's better." ucap Kyungsoo yang mengambil botol parfum tersebut dari tangan Jongin.

"You are unbelievable, sometimes." gerutu Jongin yang membuat Kyungsoo memutar kedua bola matanya.

"Aku hanya mengingatkan untuk kebaikanmu sendiri. Kupikir itu bukan hal yang berlebihan," ia berjalan ke arah mobil kru dan diikuti Jongin di belakangnya, "ngomong-ngomong, ada apa?" tanyanya pada Jongin.

"Ah! Kau kembali ke hotel bersamaku saja!" seru Jongin.

Kyungsoo menghentikan langkahnya dan mengerutkan alis, "Untuk? Kru lain akan melihat aneh ke arahku jika begitu—"

"You are my umbrella boy, though. Di mana salahnya?"

Ucapan Jongin baru saja sukses membuat pipi Kyungsoo merona merah. Mungkin ia tidak mengira Jongin membalas pernyataannya dengan pertanyaan begitu.

"Tapi aku seorang kru—"

"Kyungsoo Hyung, mereka tahu kau adalah umbrella boy-ku dan mereka sudah menyimpulkan bahwa kau adalah kekasihku. Jika kita tidur satu kamar pun mereka tidak akan heran—ACK!" racau Jongin yang diakhiri seruan kesakitan karena Kyungsoo memukul lengannya dengan keras.

"Jongdae Hyung akan membunuhmu!"

"Jangan membawa Jongdae Hyung di sini. Lagipula malam ini dia berjaga di paddock sehingga kau kembali ke hotel sendiri."

Kyungsoo membelalakkan matanya dan menundukkan pandangannya malu, "Bagaimana kau tahu?" gumamnya lirih.

"Dia mengatakannya padaku. Apapun. A-PA-PUN. Jangan menceritakan rahasia padanya jika kau tidak ingin rahasia itu aku ketahui."

"Jongin!"

Jongin terkekeh. Ia lebih memilih untuk menarik tangan Kyungsoo. Lagi-lagi ia melakukannya. Ia membawa Kyungsoo ke arah mobilnya. Bahkan ia memaksa Kyungsoo untuk duduk di bangku penumpang yang ada di sampingnya. Anehnya, Kyungsoo hanya menuruti permintaan Jongin tanpa melancarkan protes sedikitpun—sama sekali tidak.

"Sebentar," Jongin yang duduk di kursi pengemudi itu kemudian mengambil sesuatu di kursi bagian belakang, "ini untukmu."

Kyungsoo yang melihat apa yang disodorkan oleh Jongin itu menarik nafasnya terkejut. Matanya membulat dua kali lebih besar dari sebelumnya.

"Ini tidak perlu, Jongin." ucapnya.

Jongin menghela nafasnya, "Jangan menolaknya. Aku merusakkan ponselmu kemarin. Jadi aku harus menggantinya. Aku harus berkeliling daerah sini pagi hari tadi untuk mencarinya. Dan aku mendapatkan ini untukmu. Jadi jangan menyia-nyiakan usahaku untuk mencarinya. Ambil, Do Kyungsoo." ucapnya menuntut.

"Tapi ini model terbaru, Jongin—"

"Kau ini," Jongin mengambil tangan kanan Kyungsoo dan memaksa lelaki itu untuk memegang ponsel yang ia bawa sebelumnya, "aku tidak peduli."

"Ini mahal, Jongin…"

"Untukmu, tapi tidak untukku."

Kyungsoo memutar kedua bola matanya, "Oh iya, aku lupa." gerutunya ketika mendengar kesombongan Jongin kembali sepersekian detik kemudian.

Jongin yang tertawa kecil itu mulai menyalakan mesinnya. Ia segera mengendarai mobilnya ke arah di mana hotel tempat mereka menginap berada.

"Kau dan aku punya ponsel yang sama sekarang. Ah, aku sudah menyelamatkan nomor ponselmu kemarin dan aku sudah memasukkannya di ponsel itu. Kau bisa memberikan pengaturannya sesuai dengan apa yang kau inginkan. By the way, maaf jika aku membelikan warna merah padamu."

"Kenapa kau melakukan ini, Jongin? Aku bisa menabung dan membeli yang baru—"

"Tapi bukan yang itu. Sudahlah, jangan menolak. Aku tidak suka jika pemberianku ditolak. Lagipula aku tidak ingin dihantui rasa berdosa karena sudah merusakkan ponselmu kemarin."

Kyungsoo terdiam. Lelaki itu memilih untuk menatap sang pembalap beberapa detik tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.

"Kau baru menyadari aku tampan?" tanya Jongin yang masih berkonsentrasi dengan jalanan Qatar yang dikelilingi padang pasir tersebut.

Kyungsoo mendengus, "Aku heran mengapa kau memiliki sifat seperti itu."

Sang pembalap tertawa, "Kau masih belum menemui kepribadianku yang lain. Kau harus bersiap-siap jika menemukan hal aneh dariku. Kau harus terbiasa, tentu."

"Untuk apa?" tanya Kyungsoo dengan nada menggoda.

Jongin menggerakkan pundaknya dan tersebut, "Entah. Jika kau ingin mengenalku lebih, mungkin?"

"YA!" seru Kyungsoo yang membuat Jongin tergelak kemudian.

"Ah, by the way, Hyung. Aku sudah memasukkan nomorku di sana. Di speed dial juga."

Kyungsoo terlihat mengotak-atik ponselnya sebelum menarik nafas terkejut, "Bagaimana bisa kau memasukkan nomormu di speed dial nomor satu—" racaunya dengan nada emosi.

Jongin tertawa puas ketika mendengar ucapan Kyungsoo tersebut, "Itu sudah menjadi keputusan dariku. You will need me the most, later." godanya yang sukses membuat Kyungsoo mendelik kesal seketika.

Namun Kyungsoo tidak mengubahnya sama sekali.

.

.

.

TBC.


Awal yang baik untuk Jongin karena ia menyelesaikan balapan di posisi kedua. Dia tidak bisa menyalip Richard di track lurus terakhir. Benar-benar disayangkan sebenarnya, namun dia bisa mempelajari apa yang menjadi kesalahannya hari itu. Meskipun begitu, dia sangat bersyukur karena bisa finish di posisi kedua.

Dia yang baru saja selesai selebrasi di podium dan konferensi pers segera berlari ke arah paddock dan disambut dengan senyum dari para krunya. Hasil yang memuaskan tentu saja. Terutama untuk Jongin yang tergolong baru di kelas MotoGP. Ia mendapatkan tepukan di pundak dari para krunya. Mereka akan melakukan evaluasi nanti setelah Jongin mengganti baju, dan tentu saja, Jongin segera berlari untuk melepas baju berpunuk untanya tersebut. Ketika selesai, Jongin segera bergabung dengan yang lainnya di tengah paddock. Jongin mendaratkan dirinya di sebelah Kyungsoo yang sejak tadi lebih banyak diam. Tidak bercengkrama dengan kru lain seperti biasanya—meskipun Kyungsoo memang cenderung diam.

Evaluasi berjalan cepat karena sejujurnya balapan pertama hari itu berjalan dengan sangat lancar. Bahkan bisa dibilang tidak ada kesalahan sama sekali. Mereka mengakhiri evaluasi dengan lebih cepat juga sebelum membereskan barang-barang yang ada di sana.

Namun perhatian Jongin tersita pada Kyungsoo yang sedari tadi diam dan tidak mengatakan sepatah katapun—bahkan pada Jongin sekali pun. Sehingga Jongin mendekatinya dan berhenti di sampingnya.

"Kau… ada apa?" tanya Jongin.

Kyungsoo menoleh ke arahnya dengan wajah kesal dan memerah. Seketika membuat Jongin tidak mengerti tentu saja.

"Kau! Kau membuatku sangat malu, Jongin." gerutu Kyungsoo yang diakhiri dengan sebuah rengekan.

"Ada apa?" tanya Jongin dengan alis yang mengerut.

"Mereka—semua kru—menggodaku karena aku menjadi umbrella boy tadi!"

"Eh? Tapi seingatku kau melakukannya dengan baik? Tidak ada masalah?"

Kyungsoo mendengus, "Bukan karena itu! Tapi karena kau menjadi runner up hari ini!"

"Eh? Aku tidak mengerti—"

Belum selesai Jongin menanyakan hal lain pada Kyungsoo, Jongin merasakan pundaknya ditepuk oleh Lucas, kru yang berasal dari China, "Selamat, Bro. Sepertinya kau bisa mengharapkan sesuatu dari umbrella boy-mu malam ini. Kau mengerti apa yang aku maksud, bukan?" ucapnya yang kemudian berjalan pergi.

Jongin mengerutkan alisnya tidak mengerti. Dia menatap ke arah Kyungsoo yang menutup wajahnya malu. Ketika Jongin sudah tahu apa maksudnya, ia tertawa terbahak-bahak.

Saat Jongin melihat Lucas sedang membereskan peralatan kerjanya, Jongin memanggil, "Lucas!"

Lucas menoleh dan tersenyum, "Oi!"

Tanpa jawaban apapun, Jongin hanya mengedipkan sebelah matanya. Dan kelakuan sang pembalap itu sukses membuat Kyungsoo memukul Jongin berkali-kali hingga mengaduh.