Disclaimer

Naruto

Masashi Kishimoto

Story 'Waiting' punya aku!

JJ Cassei.

Warning: typo, ooc, dan lain sebagainya terdapat di sini?

.

.

.

.

.

Crak,.. Srekk,.. Brak!

Syut... Syut..

Di ruangan bernuansa caramel, Seorang pemuda berambut merah terlihat sedang mencari-cari sesuatu, terliat dari suasana kamar yang rapi berubah menjadi berantakan.

Seprei kasur tergeletak di lantai, begitu juga dengan bantal dan guling. Buku-buku berserakan, lemari pakaian yang terbuka. Sungguh kamar yang tadinya rapi dan enak dipandang mata, menjadi kamar bak kapal pecah! Sungguh bukan tipe Sasori yang menyukai kerapian.

Dok.. Dok.. Dok..

"Sasori! kau berisik sekali, sedang apa? " Ketukan pintu dan suara sang Ibu, Tsunade membuat si pemilik kamar, Sasori menghentikan kegiatannya, membuka kamarnya dan hanya melogokkan kepalanya.

"Ah, Kaa-san ... "

"Sedang apa? Berisik sekali, " Tsunade menengok kamar Sasori, Namun Sasori segera keluar dan menutup pintu kamarnya.

Sasori mengusap tengkuknya, "Tidak, hanya ... sedang ... " Sasori menggantung kalimatnya,

"Sedang apa? " Tsunade menaikkan alisnya dan melipat tangannya di dada.

"Sedang ... merapikan kamar. Yah ... aku ... sedang merapikan kamar, hahaha ... "

Tsunade mengernyitkan dahinya, "Hmm, Kaa-san harus ke Rumah Sakit, dan sepertinya Tou-san juga tidak pulang, kalian hati-hati di rumah! "

"Ah, wakatta ... " Sasori menganggukkan kepalanya mengerti.

"Hmm ... " Tsunade berbalik dan menuruni tangga rumahnya.

"Haahh ... " Sasori masuk ke kamarnya, berkacak pinggang.

"Ck ... dimana sebenarnya gelang itu? " Mengacak surai merahnya sebentar, Sasori melihat keadaan kamarnya.

"Benarkah ini kamarku? "

.

.

.

.

"Astaga! Aku kesiangan, " Sakura berlari menuju gerbang sekolah KHS. Surai merah mudanya bergoyang ke kanan dan ke kiri mengikuti gerakan Sakura yang berlari.

"Hah ... ya ampun, kenapa gerbangnya ditutup? " Sakura berdiri di depan gerbang, napasnya masih ngos-ngosan habis berlari. Sakura mendekat kearah gerbang besi.

Tek.. Tek.. Tek..

"Oji-san bukakan pintunya! " Sakura mengetuk kunci pagar.

"lihat jam berapa sekarang Nona, kau terlambat, " Satpam sekolah segera membukan gerbang.

"Arigatou, Ji-san ... " senyumnya seketika merekah begitu gerbang dibukakan.

"Hn, oiya kau liat sekumpulan orang siswa di sana? " Satpam sekolah menunjuk kumpulan siswa yang berdiri di lapangan.

"Hmm.. " Sakura menoleh dan mengikuti arah yang satpam tadi tunjuk dan mengangguk mengerti.

"Kau kesana! karena kau terlambat, kauharus meminta ijin untuk mengikuti pelajaran. "

"Ha'i " Sakura berlari menuju lapangan yang ditunjuk oleh Satpam tadi.

.

.

"Nah, karena kalian datang terlambat, sebagai hukuman kalian harus membersihkan lingkungan sekolah. " Kotetsu, sebagai dewan kebersihan memberikan instruksi kepada siswa/siswi yang datang terlambat untuk membersihkan lingkungan sekolah.

"Ha'i. " Semua siswa mengangguk mengerti. Mereka langsung mengambil alat kebersihan.

.

Srek srek srek..

Begitulah suara sapu lidi yang diayunkan Sakura untuk menyapu lapangan voli. Daun-daun yang kering berserakan di lapangan voli, dan Sakura mendapat tugas hukuman karena keterlambatannya, yaitu menyapu lapangan voli bersama siswa lainnya.

Sakura berhenti sejenak, dan memandang sekelilingnya, terlihat siswa yang lain juga sedang menyapu seperti dirinya, ada yang mencabuti rumput, ada yang menyirami tanaman. Ini pertama kalinya Sakura terlambat, salahkan Sasori yang tidak mau membangunkannya, biasanya Ibunya yang rutin membangunkan Sakura, tapi karena Tsunade semalam di Rumah Sakit, dan pulang pagi ketika Sakura akan berangkat ke Sekolah, dan tidak ada yang membangunkannya jadilah Sakura terlambat ke Sekolah, dan ketika Sakura bertanya ke Sasori kenapa tidak membangunkannya, dan dengan seenak jidat Sasori menjawab "Aku lupa, kukira kau sudah bangun. "

"Huh, " Sakura mendengus mengingat kejadian tadi pagi, ketika Sakura akan melanjutkan menyapu, matanya tidak sengaja menatap pemuda bersurai merah sedang menyapu seperti dirinya, kemudia Sakura menghampiri pemuda tersebut.

"Gaara. " Pemuda yang sedang menyapu membelakangi Sakura, berhenti dan membalikan badan menengok siapa yang memanggilnya.

"Kau? "

"Hmm, kau juga terlambat? " Sakura mengganggukkan kepalanya.

"Seperti yang kau lihat, " Gaara melanjutkan menyapu, "Bukankah kau juga dihukum, kenapa kemari? "

"Eh? ano aku melihatmu, jadi aku menghampirimu. "

Plak!

"Ah! " Gaara terkejut dan berhenti menyapu ketika seseorang menjitak kepalanya.

"Otouto! Kau terlambat! dasar, bahkan semalam kau tidak pulang. " Gadis berambut pirang dikucir empat, Sabaku Temari ketua Kedisiplinan terlihat memarahi Sabaku Gaara sang adik.

"Nee-san. " Gaara memandang kakak perempuannya dengan datar.

"Eh, Temari-senpai. "

Temari mengalihkan perhatiannya dari Gaara dan memandang seorang gadis bersurai pink di depan Gaara. "Kau juga terlambat? "

Sakura menganggukan kepalanya, Temari memperhatikan Sakura. "Kaos kakimu terlalu pendek, kuberi kau kesempatan hari ini! "

"Eh? H'ai. " Sakura melirik kaos kakinya.

"Dan kau! pakai dasimu! " Temari menatap Gaara dan kemudian pergi meninggalkan mereka berdua.

"Ano, sebaiknya kaupakai dasimu Gaara, nanti kau bisa kena marah lagi oleh Temari-senpai. Yasudah kalau begitu aku kembali ke tempatku ya? " Sakura segera kembali ke tempat dimana dia menyapu. Dan Gaara hanya memandangnya saja, kemudian melanjutkan menyapu.

.

.

"Haah ... akhirnya selesai juga hukumannya. " Selesai sudah Sakura melaksanakan hukumannya, Menghela napas lega Sakura berjalan menuju kelasnya.

Dari jauh Sakura bisa melihat Sasuke sedang berjalan membawa tabung-tabung kimia dengan nampan. Wajahnya datar dan tatapannya fokus ke depan. Agaknya kelas Sasuke akan melakukan praktik kimia.

Sakura melambatkan lahkahnya. Ia hanya bisa memandangnya dari jauh, pemuda yang telah mencuri perhatiannya, ialah Sasuke. Pemuda yang sudah lama Sakura sukai. Kini hubungannya dengan Sasuke juga tidak tahu, Sasuke jadi lebih dingin dengannya.

Detik berikutnya membuat mata Sakura terbelalak! Sebuah papan ring basket yang sedang dipasang oleh 3 siswa itu terlihat oleng dan jatuh menimpa ...

Sasuke

Brukk!

Semuanya kaget, siswa yang memasang papan basketpun kaget, seketka wajah mereka menjadi pucat pasi dan keringat bercucuran.

Sontak, Sakura segera berlari dan menghampiri Sasuke yang jatuh terduduk memegangi lengannya. Nampan berisi tabung-tabung kaca kimia jatuh dan pecah berkeping-keping.

"Sasuke-kun daijoubu? " Sakura mendekat dan melihat keadaan Sasuke.

"Nande mo nai. " Sasuke meringis merasakan sakit di lengannya ketika akan berdiri. Sakura yang meyadarinya segera membantu Sasuke berdiri.

"Papannya hanya mengenai sedikit lenganku. " jelas Sasuke yang kini sudah berdiri dan memandang papan ring basket yang hampir saja mengenai dirinya. Beruntunglah Sasuke, papan ring basket tersebut hanya mengenai lengan Sasuke, namun itu tidak membuat dia baik-baik saja. Papan yang mengenai Sasuke ternyata terdapat paku yang menancap miring dan sukses merobek lengan Sasuke yang sekarang telah mengalir darah segar berwarna merah.

"Sasuke lenganmu! " Sakura memandang ngeri lengan Sasuke. Sasuke mengikuti arah pandang Sakura kearah lengannya.

"Ayo ke UKS, kauharus segera diobati! "

"Tidak perlu. "

"Darahmu keluar banyak, kau yakin tidak apa-apa? ayo! " Sakura segera meraih tangan Sasuke untuk dibawa ke ruang UKS. Sasuke diam saja ketika Sakura meraih tangannya, kemudian matanya menatap lengannya yang berdarah. 'sepertinya aku tidak baik-baik saja' kemudian akhirnya ia menurut ketika Sakura membawanya ke ruang UKS.

"Ah, Uchiha-san! " langkah Sakura dan Sasuke berhenti ketika ada yang memanggil Sasuke. 3 siswa menghampiri Sasuke, rupanya meraka adalah siswa yang tadi memasang papan ring basket.

"Gomenasai. " 3 siswa tersebut membungkuk maaf pada Sasuke.

"Gomen atas keteledoran kami Uchiha-san. " Sasuke hanya menatapnya datar. Rasa nyeri di lengannya semakin menjadi.

"Hn. Lain kali hari-hati. Bereskan pecahan tabung kimia yang tadi kubawa dan jelaskan pada Darui-sensei. " Setelah mengatakan itu Sasuke segera meninggalkan 3 siswa tersebut yang masih membungkuk.

"Ha'i Uchiha-san. "

Nyeri di lengan Sasuke semakin terasa sakitnya, itu sebabnya Sasuke tidak ingin membuat masalah menjadi panjang atas kejadian barusan.

.

.

.

Sakura dengan cekatan segera mencari alcohol, kapas, obat merah dan perban. Setelah menemukannya Sakura membawanya ke arah Sasuke yang duduk di kursi dekat kasur. Sakura meraih lengan Sasuke yang berdarah dan memebersihkannya dengan alcohol terlebih dahulu.

"Ssshhs, ah! " Sasuke meringis merasakan begitu perihnya cairan alcohol menyentuh lukanya.

"Tahan Sasu, aku akan melakukannya dengan pelan. " dengan telaten Sakura meneteskan obat merah ke luka Sasuke dengan pelan, takut menyakiti Sasuke. Setelah meneteskan obat merah, Sakura meraih perban dan dengan hati-hati melilitkan perban di lengan Sasuke. Sakura mencoba mengesampingkan perasaannya terhadap Sasuke, yang kalau boleh dikatakan saat ini dirinya sangat gugup. Jantungnya dari tadi berdetak menggila kala tangan yang lebih kecil dari Sasuke itu bersentuhan dengan kulit pemuda di depannya. Membuat perasaan aneh hinggap di hatinya, namun Sakura segera sadar bahwa saat ini Ia harus fokus untuk menolong Sasuke mengobati lukanya. Jangan sampai Ia bertingkah dan berfikir aneh.

Sasuke memandangnya dengan diam saat tangan Sakura bergerak lincah melilitkan perban di lengannya. Kemudian pandangnannya beralih ke arah Sakura, memperhatikan gadis di depannya.

"Kau ... terlambat? " Sasuke berucap dengan tenang, sepertinya lukanya agak mendingan.

"Eh? " Sakura berjengit mendengar suara Sasuke.

"Tasmu. " Sakura menoleh ke belakang menatap tas gendongnya.

"Hehe, iya aku terlambat. " tersenyum canggung ketika Sasuke menatapnya.

"Nah, sudah selesai. Ini hanya pertolongan pertama, sebaiknya kau ke rumah sakit untuk penanganan selanjutnya. " jelas Sakura yang kini telah selesai mengobati luka Sasuke.

"Hn. " Sasuke meraba lengannya yang sudah diperban oleh Sakura, kemudian bangkit berdiri. Sakura yang menyadari Sasuke berdiri ikut berdiri. Mereka saling menatap. Iris mata hitam Sasuke bertemu dengan Iris hijau teduh Sakura, mereka saling diam.

"Terima kasih. " Sasuke memutuskan kontak mata diantara mereka.

"Eh? " Sakura mengerjapkan matanya.

"Sekali lagi terima kasih. " Sasuke berbalik dan melangkah keluar dari ruang UKS.

"Dia mengucapkan terima kasih ... padaku? " Sakura memandang punggung tegap Sasuke yang kini telah menjauh dari ruang UKS. Matanya berkaca-kaca, sejurus kemudian senyuman manis bertengger indah di bibirnya.

"Tidak apa-apa, yah tidak apa-apa. Walaupun hanya 'terima kasih' aku cukup senang kau masih mau berbicara denganku. Sasuke-kun. " Sakura mengusap air mata yang ternyata sudah di ujung matanya.

"Arigatou Kami-sama. " Sakura tersenyum, dan segera merapikan kotak obat.

.

.

.

"Jidat? ada apa denganmu? Dari tadi senyum-senyum terus. Apa terlambat membuatmu bahagia? " Ino, teman sebangku Sakura menatap dengan tangan yang ditopangkan di dagu.

"Eh? Apa sih Ino! " senyum Sakura luntur gara-gara Ino menganggunya. Sejak Sakura tiba di kelasnya setelah menolong Sasuke tadi, Sakura terus saja tersenyum mengingat ketika Sasuke mengatakan 'terima kasih' padanya.

"Kenapa kau sampai terlambat? Tumben-tumbenan. " Kini Ino lebih memilih memandang kuku-kukunya.

"Sudahlah jangan bahas itu, ini semua gara-gara Sasori-nii. " Sakura tambah badmood ketika mengingat Sasori dan memilih mengeluarkan buku catatannya.

"Ppffttt, hahaha ... jadi gara-gara Sasori-nii? Memang nii-sanmu kenapa? Dia memintamu untuk menjadi pacar bohonganmu lagi? Atau bagaimana? " Ino terkikik geli. Setau Ino kakak Sakura a.k.a Sasori selalu meminta Sakura untuk menjadi pacar bohongannya agar tidak ada lagi gadis yang mengejarnya (resiko orang tampan), dan paginya Sakura akan curhat ke Ino betapa sebalnya Sakura karena harus menjawab pertanyaan dari para gadis yang mengejar Sasori.

"Bukan itu, sudahlah! " Sakura menggembungkan pipinya.

" Baik-baik. " Ino mengangguk dengan masih terkikik.

"Ah, Sai-kun! " kikikan Ino berhenti kala matanya melihat Sai, kekasihnya berjalan sendirian membawa buku paket di depan kelas mereka. Ino berdiri dan langsung menghampiri Sai. Sai menghentikan langkahnya dan tersenyum seperti biasa saat tahu bahwa Ino yang memanggilnya.

"Semalam kenapa tidak mengangkat telponku? "

"Hmm, sepertinya aku ketiduran. " Sai masih tersenyum.

"Lalu, kemarin seharian kau kemana? Kenapa tidak memberi kabar padaku? " Ino menatap Sai lembut.

Sai terdiam, matanya menatap Ino yang juga tengah menatapnya, namun detik berikutnya ia kembali tersenyum.

"Aku menemani Shin, kakakku jalan-jalan ke Iwa. Maaf aku lupa memberitahumu. "

"O-oh, begitu yaa. " Ino mengalihkan pandangannya dari Sai ke buku yang sedari tadi di bawa Sai.

"Nanti pulang bersama kan? " Ino kembali menatap Sai penuh harap.

"Sepertinya tidak bisa, aku ada rapat Osis sepulang sekolah. Ino pulang saja dulu, tidak usah menungguku. " Sai mengusap kepala Ino.

"Sudah yah, aku harus kembali ke kelasku. " Setelah mengusap kepala Ino, Sai tersenyum dan membalikkan tubuhnya melangkah menuju kelasnya.

Ino hanya diam saja ketika Sai mengusap kepalanya, Ia sedang memikirkan sesuatu. 'kenapa aku merasa senyummu itu berbeda Sai?' gumam Ino dalam hati, melihat Sai yang berjalan menjauh.

.

.

.

Gadis berambut merah panjang dan memakai kaca mata, Uzumaki Karin sedang melakukan latihan chers bersama teman-temannya. Karin adalah anggota grup chers Konoha High School dengan diketuai oleh Shion, gadis berambut pirang panjang dengan poni rata di dahinya. Gerakan pinggul dan hentakan kaki menjadi pedoman penting dalam formasi yang sedang mereka lakukan. Perlu keberanian kuat dan rasa percaya diri untuk bisa bergabung di tim chers. Tak hanya pandai menari, team chers juga terkenal dengan kecantikannya setiap member dan anggotanya yang juga pintar seperti Shion dan Fuyuki, walaupun Karin tidak sepintar Shion dan Fuyuki namun mereka berlima cukup populer dikalangan antar sekolah. Sementara 2 member lain Kumori dan Inari selain cantik mereka juga aktif di berbagai kegiatan sekolah.

"Kita istirahat dulu. " Shion mematikan tape dan duduk di lantai sembari meminum air mineralnya.

"Kurasa gerakan kita tadi cukup bagus, mungkin aku akan menambahkan lagi gerakannya bagaimana? " Fuyuki, gadis bersurai orange berdiri menatap satu per satu rekannya.

"Ide bagus! " Kumori mengiyakan.

"Kurasa gerakan kita juga masih kurang, " begitu juga Inari.

"Bagaimana Shion, Karin ? " 3 pasang mata menatap Shion dan Karin yang sedang menenggak air mineral.

"Boleh juga, / yeah! " jawab Shion dan Karin berbarengan.

"Ok, biar aku nanti yang menambahkan gerakannya. " Fuyuki menjentikan jarinya.

"Oiya Karin, Sasuke kecelakaan ya? Tadi aku sempat berpapasan, kasihan sekali. " Fuyuki melirik Karin yang berdiri menyandar di tembok.

Gerakan Karin yang sedang mengusap keringat di lehernya terhenti dan menatap Fuyuki.

"Benarkah? Kapan? "

"Hah? Kau tidak tau Karin? menurut siswa yang bergosip di toilet mengatakan, Sasuke-kun tertimpa papan ring basket ketika melewati lapangan basket. Aku juga sempat melihatnya, perban di lengannya. " Inari ikut menimpali obrolan Fuyuki.

"O-oh begitu, aku belum bertemu dengannya sejak pagi. " Karin sempat berkata gugup, namun hanya sebentar dan melanjutka lagi mengusap keringat di lehernya dengan handuk.

"Kekasihmu terluka masa kau tidak tau Karin, bahkan seisi sekolah sudah hebok sejak pelajaran ke 2 melihat pangeran tampan mereka terluka, " Shion bangkit dan merapikan tasnya, kemudian keluar meninggalkan ruang latihan.

"Aku duluan girls. "

Karin hanya diam tak menanggapi omongan Shion. Kenapa Shion malah menyalahkannya, memang benar ko' kalau dia belum bertemu dengan Sasuke sejak pagi.

"Haah, menyusahkan saja. " Gumam Karin dengan suara rendah.

.

.

.

"Tadaima ... "

"Okaeri, kau sudah pulang Saku? " Tsunade menghampiri putrinya yang berjalan menuju tangga.

"Hmm, hari ini guru sedang rapat jadi semua murid pulang cepat. "

"Kau mau makan dulu? Kaa-san sudah memasak untuk kalian, "

"Nanti saja Kaa-san, Saku mau ganti baju dulu, "

"Hm, baiklah. "

Sakura kembali berjalan menaiki tangga menuju kamarnya, kemudian sesorang menepuk kepalanya, Sakura menolehkan kepalanya dan seketika raut wajahnya menjadi cemberut.

"Oh, kau sudah pulang? " Sasori berjalan di samping Sakura.

"Jangan bicara padaku! Aku kan masih marah denganmu, " Sakura mendengus dan memegang gagang pintu kamarnya ketika sampai di kamarnya,

"Memang apa salahku? " Sasori ikut berhenti dan merendahkan wajahnya mendekati wajah Sakura dan bermuka polos, Sakura yang ditatap seperti itu seketika berwajah merah, bukan karena merona tapi karena marah,

"Hentikan! Kau menyebalkan Sasori-nii! " Sakura menjauhkan wajah Sasori darinya, dan menginjak kaki Sasori.

Duk!

"Aw! "

Brak! Sakura segera membuka piktu kamarnya dan dengan cepat menutupnya meninggalkan Sasori yang kesakitan memegangi kakinya yang diinjak Sakura.

.

.

.

.

Kringgg!

Telepon dalam ruangan kantor Presdir perusahaan Senju Group berdering dengan nyaring, membuat Hashirama yang sedang menandatangani sebuah dokumen menghentikan kegiatannya dan mengangkat telepon.

"Ya, "

" ... "

"Apa?! "

" ... "

"Lakukan yang terbaik, aku serahkan padamu. "

" ... "

"Ya, jika ada apa-apa segera hubungi aku. "

Trek, Hashirama menutup telponnya, tangannya saling bertautan di bawah dagunya, pandangannya menjadi datar.

.

.

.

.

.

TBC

Wakatta : Baiklah

Nande mo nai : Tidak apa-apa.

Tadaima : aku pulang.

Okaeri : selamat datang.