Hay minna..

Ketemu lagi dengan Zie.

Semoga kalian tidak kecewa dengan fict lanjutan Zie ini.

Oke, sekarang Zie mau jawab pertanyaan kalian terlebih dahulu.

Apa Iruka jadi guru kelas atau pelayan Naruto? Apa itu typo?

Jwb : itu bukan typo guys. Kalian tau kan kalau kakaknya Naruto aka Sasori sangat sayang pada adiknya. Jadi, ia menyuruh Iruka untuk mengawasi Naruto. Sasori memang sering pergi keluar kota untuk menjalankan kewajibannya sebagai pangeran mahkota.

Apa 'sosok' yang menggoda Naruto itu Sasuke? Kok OOC?

Emang Zie buat OOC, tapi hanya di dekat Naruto. Zie suka Sasuke yang OOC. Kyaaaaaaaaa #ditampared

Kenapa Naruto gak sadar pas gak pake baju? Kenapa mandi gak pake baju dalam?

Namanya aja mandi. Lagipula Naruto pikit tidak ada orang yang akan melihatnya. Namanya aja hutan. Lagipula Naruto ada scene luluran. Jadi gak mungkin pake baju dalam.

Pemberitahuan lagi, Kushina gak mati. Dan ada beberapa misteri item yang akan terungkap sedikit demi sedikit kenapa Naruto memakai marga Akasuna. Kenapa Naruto menyamar dan lainnya.

Tentang kekuatan Naruto, yah! Itu rahasia.

Wajah dan penampilan Naruto sebagai gadis cupu dan sebagai Akasuna Naruto beda. Jika Akasuna Naruto itu selalu memakai jaket hitam dan bersikap cool, terus matanya hitam dan rambutnya merah menyala. Ia juga memiliki tekanan cakra dan bau yang berbeda dengan Naruto.

Tentang kekuatannya juga beda lho!

Terus, Naruto cupu dengan Naruto versi mandi di danau cukup mirip. Yang membedakannya adalah kumis. Naruto cupu gak punya kumis (karena make up) dan kuping rubah.

Btw, biasanya Zi bisa selesai bikin fict 3 hari. Itu sudah mencakup edit ulang dan pemeriksaan typo. Tapi Zi itu sering males update karena harus ngenet dulu.. jadi, kalau nanti Zi hiatusnya lamaaaa banget kalian bisa ngingetin Zi di fb Zifue Putri atau BBM 5217DA48. Mempererat tali silaturahmi sesama reader and author gak apa-apa kan?

Thanks to:

Kaname, pororokkamj, kaarikirin Kalukatoderi, HiNa devilfujoshi, Guest, akamira, Himawari, aichan14, Narudesu, Akasia Cheonsa, Memo, Millkie, Princes aurel, Arum Junnie, annisa,ajja.39, aegyeo789, Ceei SanaRier, Kyuuuuu, Hanazawa kay, zadita uchiha, Guest, Kagaari, xxxSN, aiko Michishige, yui, Uzumaki Prince Dobe-Nii, dragon, sapphire always for onyx, aretabelva, zukie1157

….

….

Topeng punya Zie06

Naruto punya Masashi Kishimoto

M, T+

SasufemNaru slight Itakyuu, SasuSaku, GaafemNaru

Romance, supernatural, fantasy, hurt, dll.

Semuanya hanyalah topeng. Tidak ada yang nyata di dunia ini. Karena semuanya hanyalah palsu. Aku pun sama. Kau pun sama. Mereka pun sama. Kita hanya pemain dalam drama dengan topeng yang menyembunyikan jadi diri kita sebenarnya.

Abal, gaje, gila, stress, aneh, ajaib, gender bender, yaoi, yuri (?), straight, dll.

Happy reading minna-san

09.10

Suasana kelas saat ini terlihat begitu berbeda seperti biasanya. Jika di hari biasanya kita dapat melihat pemandangan setengah dari siswa di kelas ini tertidur, seperempatnya bermain secara sembunyi-sembunyi dan sisanya memakan cemilan yang disembunyikan di dalam meja, khusus untuk hari ini semuanya tidak ada.

Sama sekali tidak ada.

Bahkan, Chouji, pemuda tambun yang tidak suka dipanggil gendut yang hobinya makan cemilan di dalam kelas pun untuk hari ini tidak memakan cemilannya. Wajah gemuknya bahkan sudah mengucurkan berliter-liter keringat dingin. (author lebay di kalimat ini)

Namun, hal itu tidak berlaku pada gadis manis yang berperan sebagai gadis cupu yang saat ini lebih memilih untuk tidur di atas mejanya dengan beralaskan lengannya sendiri. Kertas jawaban dan soal yang seharusnya ia kerjakan tertata rapi, dengan bentuk menyerupai berbagai macam hewan origami di sampingnya.

Sebuah dengkuran halus dengan punggung yang naik turun memasok udara menandakan bahwa ia sedang asik-asiknya bermain di alam mimpinya. Ia bahkan sama sekali tidak memperdulikan tatapan heran Iruka yang memang sejak awal pertemuan mereka di kelas satu —saat itu Iruka menjadi wali kelasnya—, ia sudah bersikap seperti itu.

"Bisikan kematian kalian tinggal 20 menit lagi" teriakan Iruka yang menggema di dalam kelas D itu bukan semakin membuat semuanya tenang karena ujian hampir berakhir, malah sebaliknya. Suara kertas dibuka tidak sabar serta bisikan lirih semakin riuh.

"Sial, mati aku"

"Kami-sama, tolong hambamu ini"

"A atau B sih"

"Sial! Aku lupa belajar bagian ini"

"Zzzzzzzzzz" (Naruto)

Well, selamat berjuang kelas D dan selamat tidur, Naruto.

….

….

Jika tadi kita sudah melihat keadaan mengenaskan dari kelas D, sekarang mari kita beralih ke kelas terbaik di Uchiha Academy.

Kelas SA.

Kelas yang untuk pertama kalinya dalam 1 tahun ini lengkap, yaitu 10 murid.

Berbeda dengan semua kelas yang kemungkinan besar heboh karena tingkat kesulitan soal yang tahun ini meningkat secara tiba-tiba, kelas SA kita satu ini tampak begitu tenang mengerjakan soal. Saking tenangnya, Shikamaru bahkan sudah menyelami dunia mimpi sejak satu jam yang lalu, Kiba yang sudah asik bermain dengan Akamaru yang lagi-lagi ia bawa meskipun sudah mendapat teguran dari beberapa temannya.

SRET!

"Sensei, saya sudah selesai" ujar seorang gadis dengan jaket hitam yang menutupi kemeja putihnya serta tudung yang cukup besar sehingga melingkupi setengah dari wajahnya tenang.

Tsunade, kepala sekolah merangkap pengawas ujian khusus kelas SA menatap gadis itu tenang. "Oh, Kau sudah selesai Akasuna Naruko? Taruh di atas mejamu. Nanti sensei akan mengambilnya" ujarnya sebelum meminum segelas sake dingin yang memang sengaja ia bawa tadi.

"Boleh saya keluar, sensei?" ijin Naruko sopan. Ia sudah sangat bosan berada di kelas ini. bahkan, sofa selembut awan berwarna merah gelap tidak mampu membuatnya betah berada di kelas ini.

Tsunade menoleh ke Naruko sejenak sebelum menegak sake dalam gelasnya tandas. "Tentu"

….

….

"Akhirnya" desahan lega meluncur dari bibir tipis Tenten. Saat ini, mereka berada di taman depan sekolah yang selalu penuh dengan murid ketika jam istirahat berlangsung. Barisan bunga cantik yang berwarna warni dan barisan pohon hijau yang rindang menjadi daya tarik taman ini. Tidak heran, taman yang luasnya seluas lapangan bola itu langsung dipenuhi oleh para murid sesaat setelah bel istirahat dibunyikan.

Suara gelak tawa ataupun teriakan frustasi terdengar silih berganti, seiring dengan banyaknya murid yang datang di taman ini. Wajah yang tadinya pasi kini sudah berwarna kembali.

Contohnya saja Tenten. Gadis yang memang sejak awal sudah frustasi akhirnya bisa tersenyum lega dan duduk tenang sseperti biasanya. Di samping Tenten, tampak Matsuri —murid kelas A, peringkat 18— dan Shion —murid kelas A, peringkat 15— duduk tenang, menyeruput ocha yang mereka beli di kantin sekolah.

Sedangkan Naruto, ia sudah sibuk membaca sebuah buku dengan huruf yunani kuno sejak pertama kali duduk di bangku taman tersebut.

"Naru"

Merasa ada yang memanggil, Naruto menoleh ke samping. Menatap ketiga temannya dengan tatapan bertanya. "Ada apa?"

"Masalah ujian tadi, aku rasa tingkat kesulitannya bertambah. Bagaimana menurutmu?"

Naruto terdiam. Telunjuk kirinya ia letakkan di dagu dengan pose detektif. "Entahlah" Naruto mengedikkan bahunya cuek sembari membenarkan letak kacamata botol sapinya yang melorot. "Bagaimana menurutmu, Shion?" Tanya Naruto lagi.

"Eh, menurutku memang lebih sulit. Dan aku rasa untuk ujian praktek kita kali ini juga" balas gadis berambut pirang dengan iris mata ungu muda itu, melirik Naruto yang kembali membaca bukunya tanpa mempedulikan lirikan penuh arti dari ketiga temannya.

"Kau benar, pasti akan sangat sulit" timpal Tenten dengan suara yang sedikit ia besarkan, sengaja menyenggol Naruto agak keras sehingga cukup membuat kegiatan membacanya terganggu. Mendelik kesal ke arah ketiga temannya itu.

"Apa?"

"Naru. Kau tidak akan bermalas-malasan lagi, kan?" Tanya Tenten dengan senyuman angel miliknya yang malah terlihat seperti seringai iblis bagi Naruto.

Naruto menghembuskan nafas berat. "Ya, ya. Aku mengerti. Untuk semester ini aku akan serius" ucapnya yang menuai pekikan senang ketiga sahabatnya karena mereka tahu jika Naruto tidak akan bermain-main dengan ucapannya.

….

FIRST DAY

….

Keesokan harinya, rombongan murid kelas dua yang seharusnya berjumlah 200 murid —minus Karin dan Tayuya yang masih koma di rumah sakit— berkumpul di area luar hutan kematian barat. Hutan kematian barat adalah salah satu dari 4 hutan kematian di kerajaan Uchiha. Hutan yang terkenal akan hembusan anginnya yang selalu berhembus tidak tentu arah dan monsternya yang kebanyakan bertipe angin. Meskipun ada juga monster tipe tanah, api, dan air di sana.

Jam sudah menunjukkan pukul 7 lebih 15 menit. Itu berarti 15 menit lagi pembukaan dari kepala sekolah dimulai. Naruto yang saat ini berada di barisan paling belakang —bersandar di pohon— ujung kanan hanya menghela nafas berat ketika dua teman kelasnya Chouji dan Tenten yang terlihat begitu bersemangat pagi ini. Ia bahkan harus menahan diri untuk tidak menjitak kepala kedua teman kelasnya itu ketika mereka mengetahui jika ujian kali ini dilaksanakan di hutan kematian barat.

Tahun lalu, ujian dilaksanakan di hutan kematian timur yang dipenuhi dengan bukit terjal yang kadang menyemburkan air panas secara tiba-tiba yang mampu membuat kulit siapapun terbakar. Tahun yang lalunya lagi, dilaksanakan di hutan kematian selatan yang penuh dengan lumpur hisap serta monster ikan yang menjijikkan.

Sehingga, Naruto pun cukup senang ketika mengetahui jika ujiannya dilaksanakan di hutan kematian barat. Itu berarti tidak ada lumpur, ikan, ataupun semburan api panas yang merepotkannya. Terlebih lagi sebagai pengguna elemen angin yang mengandalkan kecepatan —meskipun Chouji menggunakannya untuk menggembungkan tubuhnya— mereka memang cukup diuntungkan dalam hal ini. Meskipun mereka harus mengeluarkan cakranya lebih besar daripada biasanya agar kekuatan serangan mereka bisa mengena ke lawan mereka.

Menyerah akan tingkat ababil kedua temannya itu, mata biru Naruto kini beralih ke barisan kelas lain yang memang masih sepi. Apalagi dengan anggota kelas SA yang berada di ujung lainnya yang hanya diisi oleh Sasori, Naruko, Sakura dan Sasuke.

Hal ini disebabkan oleh jam berkumpul yang ditetapkan sekolah terlalu pagi sehingga tidak heran banyak murid yang belum datang. Bahkan Sasori yang baru saja datang beberapa menit yang lalu terlihat sesekali menguap ngantuk dengan matanya yang sedikit memerah. Naruto mendesah pelan, merasa jika kakaknya itu terlalu memaksakan dirinya untuk ikut tes fisik hari ini. Padahal, meskipun tidak ikut juga anggota SA pasti akan lulus, bukan?

Kemudian, matanya beralih ke samping Sasori. Di sana, ia melihat Sasuke dan Sakura yang berdiri menempel layaknya perangko dengan Sakura yang tampak asik menceritakan sesuatu dan Sasuke yang menanggapinya acuh. Sesekali gadis itu terkikik geli dengan raut yang memang cukup lucu jika diperhatikan. Hanya saja, sikapnya yang sering menyebalkan dan ucapan 'pedas'nya membuat sisi lucunya hilang di mata Naruto.

"Selamat datang di hutan kematian barat"

Sebuah suara lantang dan tegas mengalihkan perhatian Naruto. Di sana, di atas podium tinggi terlihat seorang wanita berdada besar dengan rambut pirang dan mata hijaunya yang cantik. Di belakangnya, berdiri seorang wanita berambut hitam pendek yang tengah menggendong seekor babi berwarna pink.

"Hari ini, kalian akan melakukan ujian fisik sebagai tanda bahwa kalian siap masuk ke kelas tiga. Ujian untuk kelas dua ini berbeda dengan ujian kelas 1 yang hanya mengalahkan Troiya saja. Ujian kali ini lebih dari itu. Ujian ini adalah ujian penentu kalian layak di sebut murid Uchiha academy apa tidak. Kalian akan berada di hutan kematian selama 3 hari. Setelah waktu habis, kalian akan diteleportasi secara paksa. Misi kalian adalah mendapatkan poin sebanyak-banyaknya. Kami sudah mendata semua monster yang hidup di sini dan meletakkan monster poin. Tugas kalian adalah mendapatkan monster poin sebanyak-banyaknya dalam waktu tiga hari. Kalian mengerti?" teriak Tsunade berapi-api. Sudah menjadi rahasia umum jika Tsunade adalah kepala sekolah yang menjunjung tinggi nama Uchiha Academy.

"Monster di sini ada 4 macam. Troiya tipe angin poin 5, parelka tipe api poin 7, lumia tipe air poin 10, Rotia tipe tanah poin 15. Kami akan membentuk kelompok acak beranggotakan 2 orang" Lanjut Shizune, asisten Tsunade tenang diikuti dengan suara oing-oing yang entah berarti apa dari babi pink kecil di lengannya itu.

Sontak, bisikan pelan bermunculan bak jamur di musim hujan. Ada yang protes, terpekik senang ataupun hanya diam tanpa terpengaruh massa sedikitpun. Yang paling mendominasi objek dalam pembicaraan mereka tentu saja anak kelas SA yang terkenal kuat dan memiliki paras rupawan. Membayangkan jika akan bersama dengan salah seorang murid SA selama 3 hari membuat mereka semakin bersemangat, sampai melupakan keberadaan Tsunade dan Shizune yang bersweetdrop ria.

"Kyaaa, Sasuke-sama"

"Mudah-mudahan aku bersama Sakura-sama"

"Hei, Kiba-sama lebih keren"

"Kau gila! Shikamaru-sama lebih keren."

Well, sebaiknya kita SKIP saja yang tidak penting.

…..

….

'Sudah jam 7.15 menit' batin Shikamaru dalam hati. Melirik Kiba —partnernya— sejenak sebelum memutuskan untuk tidur sebentar. Namun, sebelum ia memasuki dunia mimpi suara derak pintu yang dibuka mengejutkannya diikuti dengan kemunculan Itachi yang memakai pakaian hitam khas pangeran.

"Apa kalian lelah menunggu?" tanyanya berbasa-basi setelah duduk berhadapan dengan mereka.

Shikamaru memutar bola matanya malas. Menunggu selama 2 jam sudah pasti membuatnya lelah. Apalagi jika saat ini ia ditemani oleh partnernya yang memang sangat anti dengan kata sepi. Sejenak mereka terdiam sebelum Shikamaru melirik ke arah Kiba yang langsung dibalas dengan anggukan singkat.

"Itachi-sama" panggil pemuda jabrik dengan tanda taring di masing-masing pipinya itu. Mata coklatnya menatap Itachi dengan tatapan serius.

"Apa terjadi hal buruk?"

Kiba —partner Shikamaru— kembali melirik Shikamaru takut. Tidak mengindahkan tatapan tidak sabar Itachi. Gigi taringnya menggigit bibir bawahnya keras. Meredam rasa takut yang menusuk ulu hatinya.

Sementara Shikamaru hanya terdiam, meskipun hatinya ragu. Setelah lama mereka terdiam, akhirnya Shikamaru menghela nafas panjang. Ia tidak boleh menunda-nunda pekerjaannya. "Kami sudah tau siapa pelakunya"

Sementara di hutan kematian.

Sepasang siluman berbeda fisik dan kelamin tampak hampir berjalan beriringan dengan aura tidak nyaman keluar di antara mereka.

Sasuke, pemuda tampan dengan hakama putih dan obi ungunya berjalan begitu cepat. Sejak 20 menit setelah ia memasuki hutan kematian, tidak ada sepatah katapun yang keluar dari bibirnya. Ia bahkan tidak melirik partner yang akan hidup bersamanya selama 3 hari sedetik pun. Ia bahkan sama sekali tidak memperdulikan partnerrnya yang kesulitan menyamakan derap langkah kaki Sasuke yang lebar.

Sedangkan Naruto, gadis cupu yang moodnya sebelas-duabelas sama dengan Sasuke hanya mengikuti langkah cepat Sasuke dari belakang dengan agak berlari kecil tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Ia hanya terlalu kesal dengan Dewi Fortuna yang tidak memihaknya pagi ini. Harus bersama dengan pangeran brengsek, sombong macam Uchiha Sasuke selama tiga hari di hutan kematian merupakan cobaan terbesar baginya.

Padahal, ketika saat gilirannya mengambil slot tadi, ia sudah sangat berharap dipasangkan dengan Sasori, Tenten atau Chouji sekalian. Siapapun itu kecuali tidak dengan pemuda brengsek macam Sasuke yang entah kenapa memiliki ribuan penggemar yang mengerikan. Ia bahkan sudah mendapatkan perlakuan buruk dari gadis maniak pink yang hampir membuat nyawanya terbang ke alam barzah jika tidak ditahan oleh boneka Sasori lengkap dengan tatapan setajam silet dari Sakura yang seolah-olah mengatakan jauhi-Sasuke-kun-atau-kau-mati yang sama sekali tidak membuatnya takut, malah semakin membuatnya benci terhadap segala sesuatu tentangnya.

Lagipula, ayolah! Siapa juga yang mau merebut Sasuke yang notabene sangat ia benci. Membayangkan ia bersama, menghirup udara yang sama dengannya saja sudah membuatnya muak. Apalagi harus menjadikan Sasuke sebagai kekasihnya. Hell!

Kresek!

"Aw!" Naruto yang terlalu sibuk mengutuk Sasuke dan Sakura tampaknya tidak menyadari akan Sasuke yang tiba-tiba berhenti sehingga tabrakan kecil tidak bisa ia hindari. Seraya mengelus dahinya yang terantuk pundak lebar Sasuke, mata birunya menatap keadaan sekitar.

Kresek!

"Jangan bergerak!" suara baritone yang berat menyapa indera pendengaran Naruto. Mengangguk patuh, Naruto pun terdiam dengan Sasuke yang melangkah maju ke depannya.

Dari semak-semak, muncullah seekor monster Troiya jenis angin. Berbeda dengan troiya jenis api yang tubuhnya dua kali lebih besar dari singa jantan, Troiya jenis angin lebih kecil dan ramping. Dengan warna putih belang biru. Kukunya dua kali lebih besar dan panjang. Sebuah benda menyala berbentuk persegi berwarna biru dengan angka 5 melayang di atas kepalanya.

"Itu Troiya" bisik Naruto pelan yang masih dapat didengar Sasuke.

"Hn" balas Sasuke ambigu sebelum menghilang dan muncul di belakang Troiya tersebut.

"Chidori" rapal Sasuke dengan pola melingkar berwarna biru bertuliskan huruf kuno muncul di telapak tangan kanan Sasuke. Yang sedetik kemudian berubah menjadi aliran listrik yang mengeluarkan bunyi bising.

BLAST!

"GOARRR"

Suara aungan yang cukup memekakkan telinga terdengar memenuhi hutan, mengejutkan gagak yang bertengger tidak jauh dari sana dan langsung terbang menjauh dari tempat SasuNaru berada.

…..

…..

Di sisi hutan yang jauh dari pasangan SasuNaru, terlihatlah pasangan lain yang cukup serasi menurut author. Pasangan itu adalah Haruno Sakura dan Akasuna Sasori.

"Argh, dasar menyebalkan"

Sasori, pemuda ma—tampan yang sedari tadi berjalan beberapa meter di belakang Sakura bergidik ngeri melihat pohon besar yang kini tumbang akibat pukulan bertenaga monster Sakura. Sebelas-dua belas dengan nasib sang adik, Sasori yang notabene pencinta kedamaian harus mendapatkan partner merepotkan macam Sakura yang bahkan sebelum acara berburu dimulai sudah membuatnya begitu kerepotan. Ia bahkan sudah hampir membunuh adik tercintanya.

Alasannya? Sakura tidak rela Sasuke bersama dengan gadis cupu aka Naruto.

Ia bahkan hampir saja merenggang nyawa akibat melerai Sakura yang hampir memukul telak Naruto jika saja ia tidak sigap mengeluarkan salah satu boneka kugutsunya untuk menahan pukulan tersebut.

Jika tidak, bisa dipastikan nyawa sang adik tercinta sudah melayang ke langit ketujuh dan bisa saja ia pun menyusul tidak lama kemudian. Mengingat sifat Sakura yang terlalu possesif terhadap Sasuke.

"Dasar merepotkan" keluh Sasori sepelan mungkin. Ia tidak mau ada pertempuran tidak perlu di antara mereka.

GOARR!

Sasori dan Sakura tersentak kaget. Kini, di depan mereka berdiri satu troiya tipe angin dan lumia tipe air yang berdiri tenang di atas permukaan sungai.

Lumia adalah monster tipe air dengan tubuh mirip manusia tetapi berwarna biru tanpa rambut. Matanya besar berwarna biru tua dengan jemari panjangnya yang disatukan oleh kelenjar mirip kaki bebek. Sedangkan kakinya menyatu dengan air. Tubuhnya transparan sehingga Sasori bisa melihat organ tubuhnya dengan cukup jelas. Giginya cukup tajam dan kuat untuk mengoyak daging segar dengan taring yang sedikit mencuat. Sebuah monster poin warna putih dengan nomor 10 bergantung di kepalanya.

Melihat dua monster yang bertipe beda itu sontak membuat Sasori berlari ke depan Sakura, mengeluarkan boneka tipe api yang mirip laba-laba tetapi memiliki 2 pasang tangan cepat. Mata hitamnya menatap awas dua monster itu silih bergantian.

GOAR!

Manik hitamnya terbelalak kaget ketika Troiya itu menghilang, Kemudian muncul di depannya dengan cepat.

NYIT!

Sasori segera menarik bonekanya. Menghalangi gigi monster itu yang siap menghancurkan tempurung kepalanya dengan sepasang tangan paling atas bonekanya. Sepasang tangannya yang lain memegang tangan monster itu kuat.

"Katon : Fire burning" mulut boneka itu terbuka dengan corong besi mencuat dari mulutnya. Seketika itu, pola sihir berwarna merah muncul dan berubah menjadi semburan api merah yang langsung membakar wajah monster di depannya itu cepat.

Sasori menghela nafas berat. Mata hitamnya melirik Sakura yang berdiri di belakangnya.

"Sakura, ka—"

GOARRR!

Duak!

Tiba-tiba, tubuh Sasori yang tidak siap menerima serangan terhempas ke belakang keras, menyebabkan ia memuntahkan cairan merah hangat dari mulutnya. Kedua tangannya reflex memegang perut kanannya yang terkena serangan air Lumia. Ia tidak menyangka jika monster di depannya itu bisa menyerangnya duluan. Setahunya, monster Lumia merupakan monster yang tenang. Ia tidak akan menyerang sebelum diserang terlebih dahulu.

"Ini aneh" batinnya.

"SANNARO"

Sakura berlari cepat, menghantam tubuh monster Lumia dengan tangannya yang diselimuti sinar coklat tua.

DUAR!

Monster itu terpental cukup jauh tetapi masih bisa berdiri. Sakura tersenyum lebar. Sihirnya memang berfungsi seperti pengeras. Elemen air yang seharusnya tidak mempan dengan semua perlawanan fisik mengingat sifat air yang tembus ketika disentuh maka akan berbeda ketika bertemu dengan sihirnya. Seperti yang dikatakan tadi, sihirnya berfungsi untuk mengeraskan sifat air itu sehingga ia dengan mudah memukulnya.

GOAR!

Monster itu berteriak marah. Tubuhnya yang terbuat dari air meleleh dan masuk bersatu ke dalam sungai.

"Sial" maki Sakura kesal seraya matanya menatap liar ke segala arah.

BLUB!

Sakura membelalakkan matanya ketika air yang berada di bawahnya memerangkap kakinya. Bergerak cepat menuju ke seluruh tubuhnya untuk menelannya hidup-hidup meskipun ia sudah berusaha untuk memukulnya dengan 'SANNARO' miliknya.

"Sial!" Sakura semakin memberontak keras. Air yang memerangkapnya sudah mencari pinggul. Sampai—

NYIT!

Sebuah boneka yang berbentuk ular melilit tubuhnya, berusaha menariknya dari jeratan air yang lebih lengket dari lem itu cepat.

"Sial. Belum bisa ternyata. Bagaimana kalau ini" Sasori membuka scrool penyimpanan miliknya dan -poof- sebuah boneka mirip undur-undur muncul.

NYIT!

Sasori kembali menggerakkan jemarinya lihai, mengendalikan dua bonekanya sekaligus. Boneka mirip undur-undur itu melesat cepat, memposisikan dirinya di belakang Sakura yang mulai kesusahan bernafas akibat air yang sudah mencapai kepalanya.

NYIT!

Perut boneka itu tiba-tiba terbuka lebar yang kemudian menelan Sakura hidup-hidup. Lembaran bertulis huruf aneh tertempel di sekujur tubuh boneka tersebut.

"Lepas"

Perut boneka itu sedikit berguncang sekali diiringi teriakan Sakura yang menggema di perut boneka Sasori.

….

….

Naruko dan Shikamaru —kelompok terakhir yang masuk ke hutan kematian karena Shikamaru telat— tampak berjalan beriringan. Tidak seperti pasangan SasuNaru yang saling berjalan menyusul atau pasangan SasoSaku yang saling menjaga jarak, pasangan ShikaNaruko tampak akur. Meskipun, aura canggung di antara mereka tidak bisa dielakkan.

Naruko yang saat ini memakai jaket hitam tanpa lengan dengan celana panjang berwarna senada tampak begitu cantik tapi boyish dengan tudung jaket yang sengaja ia lepas, menampilkan rambut merah dan mata hitam indahnya.

Sementara Shikamaru hanya memakai pakaian coklat dengan celana ninja panjang, dengan pedang kecil yang menggantung di pinggangnya. Sama sekali tidak terlihat siap untuk melakukan perburuan. Ia bahkan menguap lebar ketika dua ekor Troiya dan seekor parelka menghalangi jalan mereka.

Parelka adalah monster tipe api. Tubuhnya mirip troiya tipe api tapi berwarna merah menyala atau merah gelap. Kumpulan api berbentuk melingkar mengelilingi tubuhnya yang akan semakin membesar ketika ia marah dan meredup ketika ia lemah atau tertidur.

"Hoam" Shikamaru menguap bosan. Mata kuacinya menatap malas ke arah tiga ekor monster yang sudah bersiap menerkam mereka. Menggaruk tengkuknya sebentar sebelum melirik Naruko yang baru saja membuka pedangnya.

"Katon : Shinigami no jutsu scan"rapal gadis itu nyaris berbisik. Sebuah cincin berukuran kecil muncul di depan mereka —diantara ShikaNaruko dan monster— dan membesar hingga mencapai tubuh ketiga monster itu dan mereka berdua. Menyeringai kecil, Naruko mencabut pedangnya dan dengan cepat menebas secara vertical udara di depannya.

BLAST!

GOAR!

"Merepotkan" trademark Shikamaru yang mampu menyaingi kepopuleran trademark Sasuke di fandom Naruto meluncur mulus di bibirnya ketika ketiga monster itu mati dengan tubuh yang terpotong dua secara vertical dan hangus terbakar menjadi abu.

Siapa yang mau steak? #didampared.

….

Setting malam hari

….

Matahari yang terik tergantikan dengan bulan yang bersinar terang. Di sebuah gua yang tidak terlalu besar, terlihatlah sebuah cahaya api yang bersinar terang. Di sana, sepasang siluman berbeda gender tampak menikmati kehangatan api yang sesekali meliuk akibat hembusan angin malam hutan kematian yang semakin menderu kencang di luar sana.

Naruto, gadis cupu berambut pirang duduk nyaman dengan kedua tangannya terjulur ke depan api. Sedangkan Sasuke, pemuda tampan berambut raven yang duduk tidak jauh dari Naruto tampak tenang dengan pandangan terarah lurus ke api yang tengah sibuk membakar ikan hasil tangkapan Sasuke sebagai makan malam mereka.

KRIUK!

Sejenak, Sasuke terdiam masih dengan ekspresi datar sebelum melirik Naruto yang memerah malu. Sontak, senyuman geli menghiasi wajahnya.

"Kau lapar?" tanyanya datar sembari mencomot setusuk ikan bakar yang tampaknya lebih matang dibandingkan ikan lainnya. Membalikkan ikan itu berkali-kali untuk memastikan jika ikan tersebut memang benar-benar matang sebelum menatap Naruto dengan tatapan mengejek. Sukses, membuat Naruto menggeram marah. Menyumpah serapahi makhluk Tuhan paling brengsek di depannya ini.

Apa perlu ditanyakan lagi?. Berjalan —berlari kecil— terus menerus selama berjam-jam sudah membuatnya sangat lapar dan tingkah menyebalkan Sasuke di depannya sudah membuatnya kesal setengah mati. Ia memang tidak berguna sejak pagi tadi. Ia bahkan bisa dikatakan hanya menjadi penganggu yang beberapa kali membuat Sasuke meneriakinya 'dobe' akibat sikapnya yang kadang-kadang melanggar perintah Sasuke. Meskipun niat awalnya adalah untuk membantu Sasuke yang selalu bertarung seorang diri melawan monster.

"Ti—

KRIUK!

—dak"

Wajah Naruto semakin merona merah, mengutuk cacing brengsek di perutnya yang tidak tahu waktu dan kondisi. Sasuke yang mendengar itu kembali tersenyum geli. Tidak menyangka jika gadis cupu yang dipanggilnya 'Dobe' itu terlihat begitu manis jika malu.

Eh, manis?. Sasuke segera menggelengkan kepalanya keras. Baru sadar jika ia sudah berbuat kesalahan dengan memanggil gadis itu manis. Bagaimana bisa ia menganggap gadis cupu dan ketus yang selalu membuatnya kesal ini manis? 'Aku perlu udara segar' pikirnya yang kemudian beranjak dari duduknya.

"Ikan yang di sana milikmu. Untuk malam ini, aku yang berjaga" tukasnya sebelum pergi keluar dari gua meninggalkan Naruto sendirian.

…..

SasoSaku side

Setelah pertempuran kecil melawan monster tadi siang, Sakura dan Sasori yang terluka cukup parah memutuskan untuk bermalam di dalam gua kecil yang tidak sengaja mereka temukan sejam sebelum matahari tergelincir di ufuk barat.

"Ugh" Sasori mengeluh sakit, menatap dinding gua yang asing baginya. Mata hitamnya menoleh ke arah Sakura yang membelakanginya. Tubuhnya yang penuh luka sekarang sudah bersih dengan perban dan aroma dedaunan memenuhi indera penciumannya.

"Masih sakit?" suara lembut langsung menghampiri pendengarannya. Ia kembali menoleh dan mendapati mata emerald itu kini tengah menatapnya. Mata emerald yang indah dan sendu.

"Apa yang terjadi?" tanyanya pelan, mencoba bangkit dari tidurnya yang langsung saja ditahan oleh Sakura.

"Berbaringlah. Lukamu masih parah. Setidaknya biarkan obatnya bekerja" saran Sakura pelan. Sejenak mereka terdiam sebelum akhirnya Sakura membuka suaranya. "Tadi, kau pingsan sesaat setelah kita memasuki gua. Lukamu parah. Dan…" Sakura menggigit bibir bawahnya keras. Matanya menatap lantai gua. "…terimakasih telah menolongku tadi"

Sasori tersenyum lemah. Ia ingat bagaimana ia memaksakan tubuhnya untuk menyelamatkan gadis itu. Ia bahkan rela menghambiskan hampir seluruh cakranya.

"Hm" balas Sasori ambigu. "Tidurlah. Kau juga membutuhkan istirahat, Sakura" Ujarnya lemah. Tanpa sadar jika wajah gadis itu memerah merona mendengar ucapan Sasori.

Eh, apakah itu cinta yang tumbuh? (author: siapa yang setuju pair SasoSaku? #teriakpaketoamasjid)

Shikamaru – Naruko

…..

Berbeda dengan dua pasangan inti di atas, Shikamaru dan Naruko lebih memilih untuk bermalam di tempat terbuka. Dengan api unggun dan tulang ikan yang bertumpuk di samping api unggun, mereka menghabiskan malam itu dengan diam. Sebuah penghalang tipis melingkupi mereka, melindungi dari angin hutan kematian yang berhembus cukup kencang malam ini.

Naruko yang pada dasarnya pendiam lebih memilih untuk membaca buku yang sengaja ia bawa dengan tenang. Sedangkan Shikamaru, ia sudah tidur pulas setelah selesai makan malam.

SRET!

Lama mereka terdiam sebelum akhirnya Naruko menutup bukunya. Beranjak dari duduknya dan menatap wajah damai Shikamaru yang tertidur sejenak sebelum akhirnya menghilang dalam pusaran api kecil yang seolah-olah membakarnya.

ARGH!

WUSS!

Naruko menundukkan tubuhnya, menghindari lemparan bola api dan lempengan tanah yang melesat cepat ke arahnya. Memijakkan kakinya ke pohon besar di belakangnya dan menjadikannya sebagai tumpuan untuk melesat ke arah dua monster Parelka dan Rotia yang tadi menyerangnya.

BLAST!

Hanya dalam 5 detik, ketiga monster itu sudah menjadi onggokan daging yang berbau menyengat.

Naruko mengibaskan pedangnya asal, membersihkan darah yang menempel di pedangnya. "Masih 7 monster lagi" gumamnya malas. Itu berarti ia baru membunuh setengah dari jumlah monster yang ia lawan.

"Katon : Hanabi no jutsu scan" Naruko membentuk segel tangan dan menghentak keras tanah di bawahnya dengan sebuah pola aneh terbentuk di sekitarnya. Menyala terang berwarna hitam kemerahan di kegelapan malam. Pola itu membesar dan melingkari Naruko. Lalu, ia mengangkat tangan kanannya ke udara dan muncullah bola api yang semakin lama membesar di atas telapak tangannya.

Bola api besar itu kemudian terbang melayang ke atas monster tersebut dan setelah agak tinggi Naruko menggenggam tangannya sehingga bola api itu mengecil yang semakin lama semakin bersinar terang. Sedetik kemudian bola itu pecah dan memencar menjadi bagian yang lebih kecil seperti kelereng. Menghujani tujuh monster tersebut.

ARGH!

GRRRR!

Teriakan para monster yang kesakitan karena api yang menghujani tubuh mereka tidak luput dari pandangan Naruko. Begitu indah, batinnya yang kemudian bangkit dan menyarungi pedangnya tenang.

Kresek!

Naruko sudah akan beranjak pergi ketika suara semak-semak tertangkap oleh telinganya. Ia sudah bersiap menebas apapun yang datang dengan pedangnya jika saja ia tidak mendengar suara tepuk tangan seseorang.

"Jutsu yang hebat" puji Shikamaru yang muncul dari semak-semak.

Naruko mendengus pelan. "Mau apa kau?" tanyanya datar. Matanya menatap Shikamaru yang malah berdiri menyandar di pohon. Menguap pelan tanpa menjawab pertanyaan Naruko. "Jika kau tidak menginginkan apapun, sebaiknya kembalilah ke tenda. Aku sibuk" tukasnya sembari berjalan menjauhi Shikamaru.

Namun, sebelum Naruko berjalan terlalu jauh, Shikamaru yang sedari tadi menatap intens Naruko tiba-tiba menghilang dari tempatnya bersandar dan muncul di depan Naruko dengan pedang kecil yang bersinar biru yang siap menebas Naruko kapan saja.

Naruko yang cukup terkejut dengan serangan Shikamaru hanya mampu menghindar beberapa detik sebelum mata pedang itu menyentuh tubuhnya dan bersalto ke belakang. Mata hitamnya menatap tajam Shikamaru yang malah membalasnya dengan seringai.

"Apa yang kau lakukan, hah?" bentak Naruko keras. Tidak terima dengan serangan mendadak Shikamaru yang menyebabkan bajunya sedikit robek di bagian depan akibat sayatan pedang Shikamaru.

"Tidak ada. Hanya memastikan sesuatu" balas Shikamaru tenang. Menyiapkan kuda-kuda untuk kembali menyerang Naruko. Pedang kecilnya menipis dengan ujung pedangnya yang semakin memanjang dan menajam. Tipe pedang elemen angin.

WUSSS!

Shikamaru kembali muncul di hadapan Naruko yang tentu saja langsung disambut dengan ayunan pedang dari Naruko. Suara pertemuan dua pedang terdengar. Saling beradu ketajaman. Pedang api dan angin yang saling bertolak belakang. Kedua mata yang sama-sama bermanik hitam saling beradu pandang.

TRING!

Naruko dan Shikamaru meloncat ke belakang. Masih dengan pedang yang siap untuk menebas. Untuk masalah kecepatan, Shikamaru sedikit diunggulkan karena memiliki elemen angin. Tetapi, untuk masalah stamina, elemen api jauh berada di atas elemen angin. Terlebih lagi, angin yang bergerak tidak menentu membuat cakra yang dikeluarkan Shikamaru harus jauh lebih banyak dibandingkan biasanya.

Karena jika angin bertemu dengan angin, maka angin yang lemah akan dikalahkan oleh angin yang lebih besar karena perbenturan udara. Sedangkan, elemen lain juga harus mengeluarkan cakra yang cukup besar supaya jutsu yang mereka rapalkan tidak gagal diakibatkan benturan dua elemen yang berbeda. Intinya, jika Naruko mengeluarkan jutsu apinya yang lebih rendah kekuatan cakranya dibandingkan kekuatan angin di sekitarnya, maka jutsunya akan hilang. Seperti lilin di tengah pusaran angin.

(p.s : anggap saja begitu lah. Namanya saja imajinasi)

Back to the story.

Naruko mengerutkan alisnya. Ia sama sekali tidak mengerti dengan ucapan Shikamaru. "Memastikan apa maksudmu?" Tanya Naruko tenang. Namun, Shikamaru hanya terdiam membisu dan itu membuatnya geram. Ia tidak suka dengan sesuatu yang berbau rahasia dan pemuda Nara itu sedang menyimpan rahasia darinya.

Naruko berlari cepat, mengayunkan pedang hitamnya yang langsung di sambut dengan senang hati oleh Shikamaru. Tidak sampai di situ, Naruko kembali mengangkat pedangnya dan mengayunkannya lebih cepat ke arah Shikamaru. Begitu juga dengan Shikamaru.

TRANG! TRANG! TRANG!

Bunyi pedang beradu terus berbunyi. Angin yang berhembus kencang seperti angin lalu bagi mereka karena lawan dihadapan mereka jauh lebih penting daripada harus menghawatirkan masalah angin. Mereka saling berbagi luka sayatan, tendangan sampai—

Gotcha!

Shikamaru yang cukup kewalahan melawan Naruko yang lebih ahli dalam permainan pedang tanpa sadar memberikan sedikit celah yang tentu saja tidak disia-siakan oleh Naruko. Dengan cepat Naruko menunduk, menghindari tebasan pedang Shikamaru dalam detik-detik terakhir sehingga hanya beberapa helai rambutnya yang tertebas dan secepat kilat mencodongkan tubuhnya ke depan dan meninju ulu hati Shikamaru kuat.

DUAK!

Shikamaru yang menerima pukulan super keras itu tentu saja terpental jauh, menabrak beberapa pohon di belakangnya keras sampai terhenti di pohon ketiga dengan retakan besar. Darah segar yang memaksa keluar dari mulutnya membuat ia terbatuk berkali-kali. Belum sembuh dari rasa sakit di perutnya, Shikamaru masih harus mendapatkan tendangan keras tepat di pipinya sehingga ia harus kembali terlempar ke samping untuk kedua kalinya.

"Ara, hanya itu kemampuanmu, Nara-san?" Tanya Naruko sing a song. Senyuman sinis menghiasi wajah manisnya. Rambut merah darahnya yang tergerai bebas bersinar di bawah sinar bulan di atas sana.

"Kusso" rutuk Shikamaru, berusaha untuk bangkit dari jatuhnya. Namun, sebuah kaki menahannya untuk tetap berada di sisinya.

"Diam dan jawab pertanyaanku!" perintah Naruko tenang, masih dengan kakinya yang semakin menekan punggung Shikamaru.

Shikamaru tersenyum kecut. Ia memang tidak terlalu hebat dalam menggunakan pedang, tetapi ia tidak menyangka bisa dikalahkan dengan begitu mudahnya. 'Andai saja aku menggunakan Kagemane no jutsu tadi' sesalnya yang tentu saja sudah terlambat mengingat lukanya yang cukup parah.

"Apa yang kau inginkan?" Tanya Shikamaru tenang. Ia tidak berniat untuk melawan yang hanya akan menambah luka baru di tubuhnya.

"Apa yang kau inginkan dariku?"

Shikamaru tersenyum lemah sebelum menjawab "Hanya ingin memastikan sesuatu"

"Apa itu?"

"Pelaku penyerangan Uzumaki Karin dan temannya Tayuya"

Naruko menaikkan alisnya. "Bukankah pelakunya monster buas?"

Shikamaru tersentak kaget. "Darimana kau tahu?"

Naruko mengangkat bahunya cuek. "Tentu saja aku tau. Teman pamanku berkerja sebagai kepala Yard (semacam polisi). "

"Begitulah. Yard memang telah menangkapnya beberapa hari yang lalu" jawab Shikamaru cuek.

"Jika kau sudah tau, mengapa kau berfikir jika aku pelaku penyerangan Karin dan Tayuya"

"Karena aku yakin kau adalah dalang dari penyerangan itu"

Naruko terkekeh pelan. "Jadi kau berfikir aku melepas monster itu untuk melukai mereka?" tanyanya santai.

Shikamaru tersenyum kecil. "Mungkin" balasnya pendek. "Tapi aku rasa tidak mungkin. Seorang gadis terhormat sepertimu tidak mungkin melakukan hal rendah seperti itu." Lanjutnya.

Naruto mengerutkan dahinya. "Lalu?"

Shikamaru kembali memamerkan senyumannya. Tidak peduli dengan kaki Naruko yang menekan tubuhnya keras. "Aku rasa kau yang melakukannya, bukan monster itu. Memang benar jika dilihat dari luka tubuh mereka yang mirip potongan pisau elemen angin, semua orang pasti menduga monster elemen angin yang melakukannya. Tapi, jika dilihat dengan pasti, bukan dia pelakunya"

Naruko mendengus geli. "Aku elemen api, ingat? Bukan elemen angin" balasnya mantap.

"Akasuna Hitori-sama memiliki elemen api dan ibumu Akasuna-Uzumaki Sara-sama memiliki elemen angin dan umurmu masih 17 tahun kurang. Itu berarti kau bisa saja mempunyai dua elemen sebelum elemen itu memilihmu ketika kau berumur 17 tahun meskipun persentase kau memiliki dua elemen hanya 2 persen" jelas Shikamaru tenang.

Naruko tersenyum kecil membenarkan alibi pemuda Nara tersebut. "Kau benar. Jika kita mempunyai orangtua berbeda elemen, maka kemungkinan kita memiliki dua elemen ada meskipun ada juga yang memiliki satu elemen sejak mereka lahir atau jika tidak beruntung mereka akan memiliki dua elemen yang kebanyakan dari mereka mati karena pertentangan dua elemen dalam tubuh mereka. Butuh latihan khusus untuk mengendalikan dua elemen yang berbeda dengan seimbang" ucapnya santai, menyingkirkan kakinya untuk membiarkan pemuda Nara itu bangkit.

"Apa kau mengakuinya?" Tanya Shikamaru.

"Tidak" balas Naruko tenang. "Sayang sekali aku bukan pelakunya. Aku hanya memiliki elemen api. Bukankah ketika penerimaan murid kita sudah diperiksa?"

"Aku tahu. Tapi, kesalahan dalam pemeriksaan itu hampir 1 persen. Lagipula, ketika pemeriksaan TKP Kiba mencium bau khas klan Uzumaki di sana meskipun samar-samar. Dan klan Uzumaki yang sekolah di sana selain Karin hanyalah kamu, Naruko"

"Ah" Naruko tersenyum manis. "Apa kau yakin itu bukan aroma dari Karin?"

Shikamaru menggeleng pelan. "Apa kau lupa? aroma seorang Uzumaki pureblood dengan aroma uzumaki halfblood berbeda. Menyerahlah Naruko. Tidak ada gunanya kau mengelak" ucap Shikamaru sedikit kesal. Ia tidak habis pikir. Bukankah semua bukti mengarah jelas ke arahnya?.

Naruko mengangkat bahunya cuek. "Terserah kau mau mengatakan apa. Tapi, aku bukan pelaku yang kau cari. Jika kau tidak percaya, kita bisa membuktikannya besok setelah perburuan ini selesai. Jika aromaku sama dengan yang kalian cari, aku akan menyerahkan diri. Jika tidak, kalian harus menyerah. Deal?"

"Deal"

Mereka pun saling berjabat tangan dengan tekad tidak mau mengalah di antara mereka.

Apakah rahasia Naruto akan terbongkar?

Itachi, pemuda tampan 24 tahun yang digandrungi banyak wanita dan waria ehem Uke tengah berjalan menelusuri lorong bercat putih cream yang panjang di salah satu mansion klan Namikaze tergesa-gesa. Sebutir keringat turun dari dahinya, menetes dari bawah dagunya dengan selamat sentosa. Namun, ia sama sekali tidak mempedulikannya. Dipikirannya saat ini hanya satu, yaitu—

DUAR!

—Kyuubi

"Sial" mengumpat kesal, ia segera mempercepat langkahnya. Dua kali lebih cepat dari tadi. Mata hitam kelam turunan dari klannya bergerak gelisah. Mencari hal janggal yang tertangkap retina matanya.

Sampai suatu ketika matanya terpaku ke arah pintu yang seharusnya berwarna putih kini berwarna hitam gosong. Engsel di pintu tersebut bahkan sudah meleleh lepas. Entah terkena apa, Itachi tidak tau pasti. Tetapi, apapun itu pasti tidak akan jauh dari kata Kyuubi dan penemuannya yang merepotkan.

Kekasih ca-tampannya itu memang sangat hobi membuat jantung siluman lain copot. Ia bahkan harus melakukan pengecekan kesehatan jantung setidaknya seminggu sekali ke dokter pribadi ahli jantung kerajaan gara-gara shock yang sering ia alami ketika melihat hasil penemuan Kyuubi yang jauh dari kata menyenangkan.

Ia bahkan sangat ingat ketika Kakashi, pelayan pribadi Sasuke yang dulunya memiliki rambut hitam rapi khas pelayan pribadi pada umumnya berubah 180 derajat setelah mendapatkan hadiah ulang tahun dari Kyuubi berupa shampoo ajaib yang katanya berasal dari negeri seberang laut merah. Yang katanya lagi dapat membuat rambut seseorang itu tumbuh kuat, sehat, indah dan bersinar.

Tentu saja Kakashi yang menerima hadiah untuk pertama kalinya dari sang pangeran pewaris tahta kerajaan ketiga itu menerimanya dengan senang hati. barang gratis kok ditolak, pikirnya mungkin.

Namun, bukannya mendapatkan rambut indah dan bersinar, rambut Kakashi malah berubah putih keperakan mirip kakek-kakek dengan rambut yang mencuat ke atas, seolah-olah tidak ingin mematuhi hukum gravitasi yang sudah ditetapkan ribuan tahun yang lalu. Untung saja, Kakashi tidak mengamuk —meskipun sempat shock beberapa hari dan histeris ketika melihat kaca— dan melaporkannya ke kantor Yard terdekat.

(P.S : jangan bayangkan wajah Kakashi yang berambut hitam dan kehisterisannya.)

Ia juga ingat ketika percobaan Kyuubi yang terjadi seminggu yang lalu. Ketika itu, Itachi yang selalu membawakan hadiah ketika bertamu ke kediaman sang Kekasih membawakannya seekor rubah manis berwarna orange kemerahan untuk 'rubah' manisnya. Tentu saja Kyuubi menerimanya dengan senang hati, tanpa didahului dengan bentakan, tendangan atau usiran seperti biasanya.

Hal itu, sontak membuat Itachi bingung sekaligus senang karena untuk pertama kali hadiahnya diterima oleh sang kekasih. Namun, kesenangan itu hanya bertahan beberapa detik sesaat setelah Kyuubi menyuntikkan cairan berwarna biru tua yang bergelembung mendidih ke dalam lengan sang rubah. Dengan raut kesakitan yang begitu kentara dan suara protes yang mungkin bisa diartikan lepasin-gue-dokter-gila dari sang rubah, Kyuubi akhirnya menurunkan rubah manis itu di atas meja lengkap dengan seringai iblis miliknya.

1 menit. Belum ada perubahan. Itachi menatap Kyuubi dan rubah malang itu bergantian.

2 menit. Masih belum. Tetapi, melihat senyuman yang mirip seringai dari Kyuubi, membuat Itachi yakin akan ada hal yang menyenangkan —menurut Kyuubi— dan merepotkan —menurut Itachi— yang akan segera terjadi.

3 menit. belu— Itachi membelalakkan matanya sampai batas maksimal sehingga terlihat OOC sekali ketika tubuh rubah kecil itu membesar diiringi warna bulunya yang menghitam. Taring runcing nan besar tumbuh cepat. Sedikit mengingatkannya dengan kartun buatan manusia yang berjudul Despicable Me 2 yang pernah ia tonton setahun yang lalu bersama author gila satu ini.

OMG! Ini bukan fict super hero atau semacamnya, kan?

Back to the story!

Uhuk! Uhuk!

Itachi yang baru menyadari jika ada seseorang yang berada di dalam, tanpa pikir panjang langsung melesat memasuki kamar tersebut yang memang tidak bisa dianggap sebuah kamar lagi mengingat betapa hancurnya kamar tersebut.

Mata hitam kelamnya bergerak cepat, menelusuri seluruh sudut ruangan yang gelap. "Kyuu, kau dimana?" teriaknya keras. Berharap pemuda jingga tersebut dapat mendengarnya.

"Kyuu!" teriaknya lagi. Ia benar-benar khawatir. Puluhan pikiran negative berterbangan di sekitar kepalanya.

'Bagaimana jika Kyuubi mati'

'Mati? Bagaimana aku bisa hidup tanpa rubah manisku?'

"Aku bahkan belum melakukan *tiiiit* dan *tiiiit* pada Kyuubi" panik Itachi yang untungnya tidak ada orang yang melihatnya.

"Chi" seberkas siluet berjalan menghampirinya.

"Kyuubi" teriak Itachi lega, tidak sadar dengan dirinya yang berteriak. Direngkuhnya tubuh pemuda itu yang penuh dengan kotoran hitam memenuhi tubuhnya. bahkan, kemeja putihnya sudah bolong dengan bau gosong yang begitu tercium.

"Apa yang sudah kau lakukan, Kyuu?" Tanya Itachi kesal. Ia sangat khawatir dengan keselamatan nyawa Kyuubi yang setiap saat bisa menghilang.

Kyuubi tersenyum senang. Tidak peduli dengan tatapan kesal Itachi. "Aku berhasil Chi" pekik Kyuubi senang, memperlihatkan sebotol cairan berwarna merah menyala di depan Itachi.

Itachi menaikkan alisnya. "Berhasil?"

Kyuubi menyeringai senang. "R-A-H-A-S-I-A" ejanya dengan seringai yang semakin melebar di bibirnya.

Glup!

Tanpa sadar, Itachi meneguk ludahnya paksa. Entah karena ekspresi Kyuubi yang terlihat begitu menggoda, atau suaranya yang terdengar seksi atau bahkan keduanya, membuatnya membayangkan beberapa adegan dewasa yang bahkan belum terpikirkan oleh author sendiri.

Ia bahkan tidak sadar ketika Kyuubi sudah berjalan meninggalkannya. "Keriput. Ayo! Nanti kita terlambat" teriak Kyuubi, menatap sang seme jengkel.

Itachi yang baru sadar dari lamunannya menatap Kyuubi bingung. "Kemana Kyuu?"

"Tentu saja ke hutan kematian barat. Aku sudah tidak sabar untuk mencoba hasil temuanku, keriput." balas Kyuubi kesal.

Sontak, mata Itachi melebar. Astaga, bisa hancur hutan kematian barat jika Kyuubi datang. Ia belum siap diberikan ceramah panjang dari ketua klan dan ayahnya karena menghancurkan asset berharga kerajaan Uchiha. "Tunggu, Kyuu! Kau tidak boleh ke sana" cegahnya.

Kyuubi yang sudah beranjak pergi, terdiam sesaat. Membalikkan tubuhnya menghadap Itachi dengan tatapan tajam. "Kenapa?" tanyanya dengan aura hitam yang menguar dalam tubuhnya. Demi Tuhan, ia sudah menghabiskan waktu 6 bulan hanya untuk penemuannya ini. Dan keriput menyebalkan ini melarangnya. Aura hitam yang menguar dari dalam tubuh Kyuubi semakin pekat.

Glup.

Itachi menelan ludahnya gugup. Aura menakutkan Kyuubi selalu mampu membuatnya berkeringat dingin. Bayangan monster berekor 9 menyerangmu dan menyayat tubuhmu sampai hancur bukan sesuatu yang patut dibanggakan.

Perlahan, Itachi menormalkan rasa takutnya. "Selain penguji, tidak ada yang boleh ke hutan kematian Kyuu. Termasuk kau" peringat Itachi sengaja menekankan kata terakhirnya.

Kyuubi yang terkenal akan kekeras kepalaannya, langsung menyedekapkan tangannya di dadanya. Menatap Itachi dengan tatapan yang tidak bisa diartikan lengkap dengan seringai licik di bibirnya. "kalau begitu kau harus membuatkanku izin sebagai penguji. Bukankah kau adalah penanggung jawab Uchiha Academy?"

Gawat!

Itachi kembali menelan ludahnya. "T-tapi Kyuu, itu tidak semudah membalikkan telapak tangan" elak Itachi gugup. Terlebih lagi ketika tatapan mengintrogasi Kyuubi menelanjanginya. "Lagipula, kau perlu istirahat Kyuu. Aku takut jika kau pergi ke sana, kau bisa terluka Kyuu" ucap Itachi perhatian.

Translate : Aku takut jika kau pergi ke sana, semua murid bisa tewas, Kyuu.

"Cih" Kyuubi mendecih pelan, seraya memalinkan wajahnya ke samping. Wajahnya menghangat hanya karena mendengar ucapan Itachi.

Itachi yang melihat wajah merona Kyuubi menyeringai senang. Ia tahu jika Kyuubi menyukainya. Hanya saja harga dirinya yang terlampau tinggi itu membuatnya begitu sulit untuk jujur pada hatinya. "Ne, lebih baik kita kembali ke kamar dan tidur. Aku akan me'nidurkan'mu kalau kau mau" lanjut Itachi dengan maksud kembali menggoda Kyuubi yang tentu saja mendapatkan—

DUAK! DUAR! BUK!

Kecupan manis dari Kyuubi.

"Keriput brengsek. Mati saja kau!" teriak Kyuubi kesal setengah mati dengan sikap mesum kekasihnya itu. Dengan aura hitam yang kembali menguar dalam tubuhnya, Kyuubi langsung melesat menuju hutan kematian barat meninggalkan Itachi yang pingsan dengan darah yang menggenang di sekitar tubuhnya. poor Itachi.

..…..

Yosh, selesai juga fict chapter ketiga dengan penuh perjuangan dan kerja keras dari author yang untuk pertama kalinya kelimpungan menulis fict. Zi kelabakan karena kehilangan inspirasi pas nulis pair ItaKyuu.

Huwaaaaaaa! Gomen GAJE banget.

Sumpah, Zi aja yang bikin sweetdrop sendiri pas baca ulang. Emang kalau lagi ada pikiran gaje, Zi pasti ngetiknya cepat. Mengalir begitu saja. Pas selesai baru sweetdrop sendiri baca hasil ketikan.

Untuk bertarungnya, Zi emang tidak berbakat menulis fict bertarung. Ketika scene bertarung otaknya ke fairy tail mulu #fansfairytail.

Yosh, gomen ItaKyuu dikit. Hari pertama Zi bikin dikit. Chapter selanjutnya adalah flashback kehidupan Naruto.

Untuk ItaKyuu lagi gak mood! Kalau ada mood atau ada tuntutan cerita baru Zi keluarin.

Chapter besok akan ada banyak rahasia yang terbuka. Ada yang mau nge-ritik masalah tiga pasangan utama di atas?

ADA YANG USUL PAIR LAIN?

Review, kritik dan saran serta usulan jalan cerita Zi buka.

See you!

RnR?