Ketika permainan takdir membawa mereka pada memori masa lalu. Kerena koin itu mereka bertemu. Sekeping koin biasa yang sungguh berharga bagi keduanya.

The Coin

Naruto belong to Masashi Kishimoto

Story Written By RiokaRules

A SasuHina Fanfiction

Sasuke 25th|Hinata 23th|Itachi 30th

-Happy Reading-

"Ya, untuk sementara aku tidak bisa kembali ke London. Hm, Hinata? Sudah seminggu dia belum juga sadar. Tidak, aku tidak kerepotan menjaganya. Hinata memiliki banyak teman yang bersedia menjaganya, Chio juga aku tugaskan untuk menjaga Hinata." Hiashi nampak lelah, matanya menerawang memandang ke luar jendela dari kamar rawat Hinata. Cuaca terlihat gelap, padahal sepertinya beberapa jam lalu matahari baru saja terbit.

'Apakah paman baik-baik saja?' Suara di sebrang sana menginterupsi Hiashi.

"Aku hanya khawatir kejadian dahulu terulang, Neji. Aku tidak mau dia mengalami hal itu untuk kedua kalinya." Wajah Hiashi kian meredup.

"Paman tidak usah khawatir, Hinata pasti baik-baik saja. Terlebih ia ditangani langsung oleh Itachi." Neji tampak ingin menenangkan Hiashi. Walaupun tidak melihat secara langsung, tapi ia yakin pamannya sedang sangat tertekan. Hyuuga Neji tidak pernah mendengar nada suara pamannya yang seperti ini. Hening sesaat hingga Hiashi kembali berbicara.

"Ku rasa saat dia sudah sadar dan pulih nanti, aku akan segera melanjutkan rencana perjodohan Hinata. Baiklah kalau begitu, kau urus cabang London, paling tidak hingga Hinata pulih. Aku percaya kau bisa menangani semuanya, Neji."

"Ya, paman. Saya mengerti." Sambungan telpon pun terputus. Di sebrang sana, Neji menghela nafas, "Semoga ini keputusan yang terbaik untuk mu, Hinata."

.

.

Tangan Sasuke membeku pada knop pintu kamar rawat Hinata. Langkahnya terhenti begitu saja, bukan maksud tak sopan menguping pembicaraan orang lain, tetapi apa yang Hiashi katakan tadi masih berdengung dikepalanya, membuatnya tak bisa melangkah. 'Kejadian yang terulang? Perjodohan? Hinata akan dijodohkan dengan siapa? Apa maksudnya?' Akhirnya Sasuke memutuskan untuk berbalik pergi setelah menutup kembali pintu itu perlahan. Kalau saja Sasuke tetap memasuki kamar rawat Hinata, kalau saja Sasuke bertahan sedikit lebih lama, kalau saja Sasuke sempat menolehkan kepalanya kearah Hinata terbaring… maka ia akan melihat kelopak yang selama ini menyembunyikan manik lavender Hinata terbuka, menatapnya. Kalau saja waktu milik Sasuke berjalan sedikit lebih lambat, maka ia dapat menatap lagi mata bagai mutiara milik gadis itu, sedikit lebih cepat.

.

.

"O-otousan.." Suara gadis lavender itu terdengar lemah, Hiashi yang masih setia memandang keluar melalui jendela kamar rawat Hinata langsung menoleh.

"Hinata! Oh Kami-sama… syukurlah kau sudah sadar." Hiashi menghampiri ranjang Hinata, kemudian mengelus puncak kepalanya. 'Syukurlah kau tidak mengalaminya lagi, Hinata'

"A-apa yang terjadi t-tousan?" Tanya Hinata bingung.

Hyuuga Hiashi yang kaku, kini sedang tersenyum.

"Beberapa hari yang lalu kau mengalami kecelakaan di dekat taman kota, untung saja saat itu Uchiha Sasuke berada di sana. Dia yang membawamu kemari." Senyuman masih setia bertengger di bibir Hiashi.

"U-uchiha….Sa-sasuke?" Hinata berusaha mengingat kejadian yang dialaminya, dia hanya ingat saat itu ia sedang terburu-buru hendak membeli bunga untuk peringatan kematian ibunya. Kemudian koin yang dibawanya terjatuh, lalu dia berusaha mengejar koinnya yang menggelinding hingga keseberang jalan. Terakhir dia mendengar seseorang berteriak kemudia berganti dengan bunyi klakson dan decitan ban yang sangat memekakan telinga, 'Pria itu, mata itu.. tapi siapa Uchiha Sasuke?' Mendadak kepala Hinata merasakan pening yang sangat menyakitkan "I-ittaii!"

"Hinata! Kau kenapa nak?" Air muka Hiashi berubah panik, berkali-kali dia memencet tombol darurat yang terletak di dinding dekat ranjang Hinata. Hiashi berusaha menenangkan Hinata yang sedang mengerang sambil memegangi kepalanya, menahan sakit. Beberapa saat kemudian Itachi datang disertai dua orang suster.

"Apa yang terjadi dengan Hinata, Hiashi-sama?" Tanya Itachi sembari memeriksa.

"Aku tidak tau, beberapa saat yang lalu dia sadar, kemudian dia bertanya kenapa dirinya bisa ada di rumah sakit. Saat aku menceritakannya, tiba-tiba dia kesakitan seperti itu." Jawab Hiashi dengan terburu-buru, panik. Hilang sudah sikap tenang namun angkuh yang selama ini selalu ia tunjukan.

"Berikan dia pereda rasa sakit. Cepat!" Perintah Itachi kepada suster yang tadi datang bersamanya. Ia tak pernah bisa tenang jika hal itu menyangkut Hinata. Apapun dari Hinata, kesehatannya, keselamatannya… perasaannya.

Setelah disuntikan cairan pereda rasa sakit melalui selang infusnya, Hinata merasakan pening di kepalanya berangsur-angsur menghilang digantikan rasa kantuk yang menyerangnya kini. Akhirnya kelopak mata itu kembali menutup. Walaupun sesungguhnya Itachi ingin sekali memandang mata lavender itu lebih lama, namun ia tidak mungkin tega membiarkan Hinata menderita. Lebih baik ia menekan sedikit egonya, lagi.

"Sebenarnya apa yang terjadi dengan Hinata?"

"Sepertinya saat kecelakaan beberapa hari yang lalu, kepala Hinata mengalami benturan yang cukup keras. Kemungkinannya adalah beberapa syaraf di otaknya mengalami trauma, sehingga akan mengalami hal seperti tadi jika dia terlalu memaksakan kerja otaknya. Tapi saya harus memastikannya lebih lanjut saat Hinata siuman nanti, semoga ini tidak akan berlangsung lama." Penjelasan Itachi membuat Hiashi kembali suram.

"Apakah dia akan mengalaminya lagi?" Hiashi memandangi wajah Hinata yang sudah mulai bersih dari luka dan lebam. Itachi nampak terkejut dengan perkataan Hiashi, namun sedetik berikutnya wajahnya kembali (berusaha) tenang.

"Tidak Hiashi-sama, dia hanya mengalami sedikit guncangan. Namun saya berani menjamin bahwa Hinata tidak akan mengalaminya lagi. Saya rasa kondisi syarafnya akan kembali normal setelah menjalankan beberapa terapi nanti." Jawaban Itachi sungguh membuat hati Hiashi berangsur tenang.

"Hm, syukurlah. Berapa lama ia akan kembali sadar?"

"Sekitar empat atau lima jam lagi, sebaiknya anda pulang dan beristirahat Hiashi-sama. Kesehatan anda juga penting. Anda tidak perlu terlalu khawatir, saya akan terus memantau perkembangannya."

"Baiklah, beritahu aku bila ada kabar mengenai Hinata."

"Hai, saya mengerti."

Hiashi beranjak keluar dari kamar, meninggalkan Hinata dan Itachi. Sepeninggal Hiashi, Itachi hanya bisa termenung memandangi Hinata.

"Sepertinya permohonan mu sudah terwujud, ne, Hinata. Hanya saja kau belum menyadarinya. Tapi, apa yang harus aku lakukan? Pilihan manakah yang dapat membuatmu bahagia secara utuh, Hime?"

Terkadang, Itachi sama sekali tak mengerti bagaimana permainan takdir bekerja. Tadinya ia ingin menjadi manusia egois dengan berusaha memanfaatkan keadaan yang, dilihat dari sisi manapun, jalas-jelas memihaknya. Tapi keinginannya goyah lantaran permohonan sederhana dari gadis lavender itu, permohonan yang Hinata ceritakan pada Itachi, bukan untuk Itachi.

.

.

.

Entah sudah berapa jam Sasuke, seorang Uchiha tulen yang sungguh pandai menjaga emosi, duduk melamun di sebuah bar yang nampak sepi. Oh, kau pasti sudah dapat menebaknya bukan? Jelas si Uchiha bungsu ini yang menyebabkan bar itu sepi. Tentu saja manager bar tersebut tidak akan marah. Karena Sasuke telah menyewa seluruh bar tersebut hanya untuk dirinya sendiri, terlebih sang manager merupakan sahabat dari Uchiha Sasuke. Di balik meja bar, seorang bartender sedang meracik minuman pesanan Sasuke untuk yang ke sepuluh kalinya. Jemari Sasuke memainkan gelas kosong di depannya, otak Sasuke tak berhenti mengulang perkataan Hiashi yang tak sengaja didengarnya tadi. 'Dijodohkan…dijodohkan..Hinata akan dijodohkan?' Sasuke kembali menenggak minuman yang telah disajikan bartender. Kemudia dia menyeringai. "Hah, persetan! Siapa perduli kalau dia sudah dijodohkan! Aku adalah Uchiha, aku mendapat akan, ah, tidak..tidak. Aku harus mendapat apa yang aku mau! HEI! Kenapa kau diam saja?! Mana minumanku?!" Sang manager yang mendengar bentakan Sasuke, kemudian menghampirinya.

"Dasar teme, kau sudah mabuk berat begini. Akan kupanggilkan sopir untuk mengantar mu pulang."

"Berisik kau dobe! Aku sudah menyewa tempat ini, aku bebas memutuskan kapan aku akan pulang."

"Hah, ada apa dengan mu sih? Benar-benar tak seperti biasanya." Naruto, manager bermata safir itu hanya menggelengkan kepala, kemudian memutuskan untuk duduk di samping Sasuke. "Mungkin kau bisa bercerita kepada ku teme, ada apa sebenarnya?"

"Urusai! Berikan saja minuman pesanan ku sekarang!"

"Tidak sampai kau bercerita."

"Hn, terserah kau saja." Sasuke memilih beranjak bangun dan mengambil kunci mobilnya, kemudian berjalan dengan susah payah menuju tempat mobilnya terparkir.

"Kau pikir aku akan membiarkan mu mati konyol karena mengemudi sambil mabuk?" Naruto merebut kunci dari genggaman Sasuke dan menyuruhnya duduk di kursi penumpang, sementara ia yang akan mengemudi. Sasuke tak berkomentar apapun, memutuskan untuk menuruti si baka Naruto yang telah masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesinnya.

.

.

.

Naruto memutuskan untuk membawa Sasuke ke apartemen pribadi milik pria onyx itu, bukan ke rumahnya. Uchiha Fugaku merupakan alasan utama yang membuat Naruto mengambil keputusan seperti itu. Lagipula apartemen Sasuke letaknya tidak terlalu jauh dari bar miliknya, lebih praktis dan aman dari murka Uchiha Fugaku tentunya.

Lift yang berisikan Naruto dan Sasuke berhanti di lantai 22. Saat pintu lift terbuka, nampak Itachi yang tadinya akan memasuki lift mengurungkan niatnya setelah melihat Sasuke dan Naruto. Terlebih melihat kondisi Sasuke yang…sangat tidak Uchiha.

"Dia mabuk?" Itachi mengajukan pertanyaan retoris kepada Naruto sambil membantu memapah Sasuke menuju room apartemennya.

"Iya Itachi-nii, tadi dia nyaris meminum gelasnya yang ke sebelas." Toh Naruto masih menjawab pertanyaan retoris Itachi.

Setelah Naruto masukan passcode pintu kamar bernomor 1993 itu, mereka membawa Sasuke menuju kamar dan membaringkannya di atas ranjang meninggalkannya untuk beristirahat.

"Apa kau mau secangkir kopi atau otcha hangat?" Tawar Itachi pada Naruto yang sedang berada di ruang santai.

"Tak perlu repot Itachi-nii, cukup bir kalengan saja." Naruto menjawab sembari memasang senyum lima jarinya. Tetapi Itachi tetap menyuguhkan Naruto segelas otcha hangat. "Haaah, dokter." Keluh Naruto, Itachi hanya tersenyum simpul. "Em, Itachi-nii aku ingin menanyakan sesuatu." Naruto memasang wajah serius, setelah menyeruput otcha miliknya, dia melanjutkan. "Apakah Sasuke sedang dekat dengan seseorang? Gadis tentu saja."

Itachi mengernyit "Seseorang? Entahlah. Memangnya kenapa?"

"Saat Sasuke mabuk, dia seperti menyebutkan sesuatu tentang perjodohan seseorang dan apalah itu. Apakah itu alasan Sasuke minum banyak sampai mabuk?" Kalau saja Itachi sedang memegang gelas, mungkin saat ini gelas itu sudah terjatuh atau kalau saja Itachi sedang minum mungkin sekarang dia sedang tersedak. Sayangnya Itachi sedang fokus pada pemandangan kota saat malam yang tersaji dari jendala kaca besar di apartemen Sasuke. Hanya ekspresi Itachi yang berubah selama 3 detik, tentu saja luput dari perhatian Naruto yang memang tidak peka. Detik ke empat, Itachi sukses mengembalikan ekspresinya seperti semula.

"Begitukah? Tapi aku tidak mengetahui sesuatu tentang hal itu, Naruto. Sepertinya aku harus menanyakannya kepada Sasuke saat dia bangun nanti." Suara Itachi diatur tenang, santai, dan lancar ditambah dengan senyum simpul meyakinkan milik Itachi. Tentu saja Naruto yang, sekali lagi, tidak peka itu langsung percaya begitu saja. Pengendalian diri a-la Uchiha memang sangat mengesankan.

"Hmm, baiklah kalau begitu. Sebaiknya aku harus segera kembali ke bar. Ah ya, nanti kalau Sasuke bangun, tolong katakan aku tidak tahu apa-apa tentang passcode apartemennya. Jaa ne Itachi-nii!" Naruto melambaikan tangan sembari memasang wajah (sok) inosennya, kemudian berjalan keluar.

"Hn, pantas saja dia bisa tau passcode apartemen ini. Entah dengan cara apa dia mengatahuinya, dasar Naruto." Itachi sedikit tersenyum. Setelahnya, perkataan Naruto tentang alasan Sasuke mabuk lah yang terus mengisi pikirannya.

-tbc-

Hai minna! Sebelumnya, Rioka mau minta maaf karena update terlalu lama jujur saja, Rioka sempat kehilangan inspirasi bagaimana melanjutkan fic ini, mungkin karena sedang bermasalah dengan tugas yang cukup menumpuk dan kondisi badan yang kurang fit. Belum lagi masalah ngasih makan modem, duh sedih yaa~ #curcol

Oh ya, bagaimana dengan chapter ini? Semoga tidak mengecewakan. Rioka akan terus berusaha untuk memperbaikinya, mohon kritik dan sarannya yaa. Rioka juga mau mengucapkan terima kasih untuk yang sudah mau membaca, mereview, memfollow, dan memfavoritkan fic Rioka ini. Hontouni arigatou

Semoga readers suka dengan fic ini, review dari kalian adalah semangat Rioka buat nulis ^^

Salam hangat, Rioka.