Unforgotten love
-Chapter 3-
Disclamair : Masahi Kishimoto
By : Karayukii
Pair: NaruSasu
Rat: T
WARNING: OOC, BL (YAOI)
.
"Kepalanya mengalami benturan keras saat tabrakan, menyebabkan kerusakan pada otaknya, dan berakhir pada kehilangan beberapa bagian memorinya." Dokter menjelaskan sambil memeriksa catatan di filenya. "Ingatan yang terkahir diingatnya adalah kejadian tiga tahun yang lalu" Sang dokter menatap Naruto, yang berbaring diruangannya dari balik pintu lalu mengalihkan pandangannya ke Minato dan Sasuke.
"Apa ingatannya akan kembali?" Tanya Sasuke. Dia tidak ingin mendengar penjelasan dokter secara lebih rinci. Dia ingin mendengar solusi dari permasalahan ini.
Dokter tidak langsung menjawab. Wajahnya menggambarkan ketidakyakinan. "Aku tidak tahu."
"Apa maksudmu tidak tahu!" Sergah Sasuke marah. Bagaimana mungkin sang dokter tidak tahu. Jika dia tidak tahu lalu siapa lagi yang bisa menjawabnya. "Dia tidak mengingatku!" Katanya dengan frustasi.
Minato berusaha menenangkan Sasuke, "Sasuke lebih baik kau tenangkan dirimu dulu. Biar aku yang bicara."
Sasuke ingin protes, dia masih belum selesai. Tapi merasakan emosinya meluap-luap, Sasuke terpaksa memilih untuk mengikuti perintah Minato. Dia tidak akan bisa berpikir dengan jernih untuk saat ini.
"Kurasa aku akan pulang dan mengambil beberapa keperluan Naruto." Putusnya akhirnya.
"Ya, pergilah." Minato mengelus punggung Sasuke lembut. "Kau butuh udara segar. Kushina akan menemani Naruto."
Sasuke meninggalkan Minato. ia sedikit mengintip ke dalam kamar untuk melihat keadaan sang pemuda blonde. Tapi dari sudut pandangnya ia tidak bisa melihat Naruto.
Sasuke menggeleng lalu berbalik dan berjalan menjauh. Bukan hanya dirinya yang harus menenangkan diri, tapi Naruto juga pasti butuh waktu. Bahkan mungkin, Naruto jauh lebih tertekan darinya. Pemuda itu pasti sangat shock.
Sasuke menggertakkan giginya, rasanya sulit sekali menghilangkan ekspresi wajah Naruto tadi saat memandangnya. Apa dia terlihat begitu menjijikkan?
Baru setahun Sasuke tinggal di rumah kecilnya dengan Naruto. Rumah yang hanya dilengkapi dengan satu kamar, ruang makan plus dapur, dan ruang tv. Naruto adalah orang yang memaksa untuk tinggal di tempat yang tidak terlalu besar bersama dengannya.
Sasuke masuk ke dalam rumah dan menyadari ada banyak piring kotor di tempat cuci piring. Ia mendesah seraya melipat lengan kemejanya dan mulai mencuci piring. Sasuke jarang pulang karena pekerjaannya. Ia seorang pianis yang cukup terkenal. Punya jadwal konser di beberapa negara. Alhasil hanya Naruto yang biasa mengisi rumah itu.
Ngomong-ngomong tentang konser.
Sasuke merasakan ponselnya bergetar di saku celananya dia mengambilnya dan melihat nama Hyuuga Neji tertera di layar ponselnya.
"Sasuke, apa yang terjadi?" Suara khawatir pria itu terdengar dari ujung sana. "Gaara mengatakan bahwa Naruto—"
"Naruto baik-baik saja." Balas Sasuke. ia menjepit ponsel ke bahunya dan kembali mencuci piring. "Mengenai konserku hari sabtu nanti, apa kau bisa membatalkannya?"
"Ya, ya tentu saja." Balas Neji. "Kau tidak perlu khawatir aku akan mengurus semuanya. Kau lebih baik fokus dengan Naruto saja."
"Ya, thanks, Neji." Balas Sasuke.
"Tidak masalah, aku akan menjenguknya saat masalah disini selesai." Kata Neji lagi.
Sasuke kemudian menutup telponnya dan meletakkan gelas bersih yang sudah dicucinya ke tempat piring. Sasuke kembali merapikan lengan kemejanya dan berjalan menuju kamarnya.
Hampir sama dengan keadaan dapur, kamarnya dengan Naruto terlihat sama berantakannya. Selimut tidak di lipat dan piyama kotor Naruto berceceran di lantai. Ini pertama kalinya ia melihat rumah seberantakan ini. Sasuke sebenarnya jarang bersih-bersih, ia terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Membuat bersih-bersih bahkan memasak menjadi urusan Naruto.
Tapi kali ini pemuda blonde itu lupa membersihkan rumah.
Sasuke mendengus dengan pemikirannya itu. Lupa membersihkan? Dia bahkan lupa pada dirinya.
Tapi ini lebih baik. Jika Sasuke menyibukkan diri, ia tidak perlu memikirkan Naruto untuk sementara waktu.
Setelah selesai Sasuke mengambil tas jinjingnya dari dalam lemari, lalu mulai mengisinya dengan beberapa barang. Seperti pakaian Naruto, sikat giginya, beberapa buku, dan… Sasuke menatap album foto pernikahannya dengan Naruto. disana penuh dengan kenangan mereka.
Tangan Sasuke sudah bergerak untuk memasukkannya, tapi kemudian ia menariknya keluar lagi.
Bukankah lebih baik dilakukan secara bertahap? Naruto terlihat kesakitan tadi. Dengan enggan Sasuke mengeluarkan kembali album itu dan mengancing tasnya menutup. Ia kemudian berjalan keluar dari rumahnya dan menuju ke mobilnya.
Setibanya di rumah sakit, Sasuke sedikit ragu untuk melangkahkan kakinya ke kamar. Ia berdiri di depan pintu cukup lama, berusaha mendengarkan apa yang dibicarakan Naruto di dalam sana. Tapi ia tidak bisa mendengarkan apapun, pintu itu sepertinya kedap suara.
Sasuke menunggu, walau tidak mengerti apa yang sedang ditunggunya.
Sampai akhirnya ia merasa tidak nyaman dengan pandangan orang-orang yang menatapnya dengan aneh, barulah ia memutuskan untuk membuka pintu kamar.
Saat Sasuke masuk, Naruto langsung menoleh padanya dengan antusias, tapi saat menyadari kalau itu adalah dirinya, pemuda blonde itu langsung mengalihkan pandangannya lagi dan memilih menatap langit-langit rumah sakit. Berbaring dalam diam.
Sasuke bersikap seakan-akan tidak terjadi apa-apa.
Ia menarik kakinya berjalan ke meja di dekat sofa dan meletakkan tas Naruto disana.
Kushina sedang duduk disisi Naruto, sibuk memotong-motong buah untuk Naruto. Wanita berambut merah itu memberikan tatapan memperingati pada Naruto saat ia menyuapi putranya.
Sasuke membelakangi kedua orang itu. ia mengeluarkan barang bawaannya satu persatu ke atas meja.
Lalu kemudian ia bisa mendengarkan suara Naruto tengah berbisik pada Ibunya.
"Aku benar-benar harus menghubunginya!" Bisikan Naruto sampai dengan jelas ke telinga Sasuke.
"Tidurlah kau perlu istirahat Naruto." Balas Kushina. Ia tidak berbisik, tapi suaranya terdengar menegur. Wanita berusia hampir lima puluhan itu sadar bahwa Sasuke bisa mendengarkan mereka.
"Hanya sebentar, aku butuh ponsel ibu." Kata Naruto lagi.
"Kan sudah ku bilang, ponsel ibu mati!" Kushina berbicara dengan nada membentak.
Sasuke berhenti dari kegiatannya. Ponsel? Pikirnya dalam hati. Dengan masih membelakangi Naruto, ia menarik ponselnya keluar dari saku celananya. Ia baru akan membalikkan tubuhnya dan menawari ponselnya pada Naruto ketika pemuda itu tiba-tiba kembali berbicara.
"Aku tidak akan tenang sebelum aku bisa menghubungi Hinata!" Kata Naruto dengan memohon. "Hanya sebentar!"
Tangan Sasuke terhenti mendadak. Ia menatap ponselnya dalam diam, kemudian memutuskan untuk memasukkannya kembali ke sakunya.
Ia melanjutkan kembali kegiatannya, mengeluarkan barang-barang, seakan-akan tidak terjadi apa-apa.
"Istirahatlah Naruto." Bujuk Kushina.
Naruto berdecak sebal, tapi akhirnya ia diam.
"Kau darimana Sasuke?" Kushina menyahut kepada Sasuke.
Sasuke menoleh, berhati-hati untuk tidak melihat Naruto. "Rumah, mengambil beberapa keperluan." Ia memberitahu.
Kushina mengangguk sambil melirik tas yang dibawa Sasuke. "Kalau begitu, aku lebih baik pulang." Kata Kushina sambil beranjak. "Aku harus menyusul Minato." Ia meletakkan piring buahnya ke meja kecil di dekat ranjang. "Aku akan datang lagi besok."
"Eh, sudah mau pulang?"
Bukan Sasuke yang berbicara tapi Naruto. Pemuda blonde itu menatap Ibunya agak khawatir. Ia masih tidak nyaman ditinggal berdua dengan Sasuke.
Tapi Kushina sudah mengambil tasnya dan berjalan menuju pintu. Ia sudah sadar diri, bagaimanapun ia tidak ingin terlibat dalam urusan rumah tangga kedua pemuda itu. Walau Naruto adalah putranya.
"Aku akan menjengukmu lagi besok." Ulang Kushina kepada Naruto. "Istirahatlah. Sasuke, aku titip Naruto padamu."
Sasuke mengangguk kaku. Saat Kushina keluar dari kamar, dan meninggalkan mereka berdua. Ruangan tiba-tiba menjadi sunyi.
Sasuke menatap pintu dimana Kushina menghilang, kemudian menoleh pada Naruto yang sedang menatap langit-langit kamar dengan sedikit canggung.
Sasuke menarik nafas berusaha untuk menguatkan dirinya. Ia meletakkan buku yang masih dalam genggaman tangannya ke atas meja dan berjalan mendekati ranjang Naruto.
"Kau baik-baik saja?" tanya Sasuke, ia menatap selimut Naruto yang sedikit berantakan. tangannya gatal ingin merapikannya, tapi karena terlalu takut dengan reaksi Naruto. ia memilih untuk mendiamkannya.
"Ya." Jawab Naruto pendek.
Sasuke mengangguk. ia menarik kursi lalu duduk di dekat ranjang menggantikan Kushina. Mereka diam selama beberapa saat, sampai akhirnya Naruto menarik nafas lalu menatap Sasuke dengan satu kerlingan mata.
"Jadi kita benar-benar menikah, huh?"
Sasuke mendongakkan kepalanya pada Naruto. ia tersenyum tipis dan mengangguk.
"Bagaimana bisa kita menikah?" Tanya Naruto lagi.
"Hmm, ceritanya terlalu panjang." Sasuke bingung harus menceritakannya dari mana. Dia juga merasa aneh menceritakan kisah cinta mereka berdua, terutama pada Naruto, si pelaku sendiri.
"Maaf, tapi aku benar-benar tidak bisa mengingatmu." Kata Naruto. "Aku sudah berusaha tapi sepertinya sulit sekali untuk menemukanmu di dalam ingatanku. Aku tidak bisa mengingat apapun."
"Tidak apa-apa. Kau akan mengingatnya suatu saat nanti. Jangan terlalu memaksakan diri." Balas Sasuke, merasa lebih hangat mendengar Naruto yang berusaha mengingat siapa dirinya.
Mau seperti apapun, Naruto sebenarnya adalah sosok yang baik hati. dia tetap sama. Tiba-tiba saja Sasuke merasa tidak apa-apa untuk merapikan selimut Naruto. dia beranjak lalu mengulurkan tangan meraih selimut sang pemuda blonde, tapi diluar dugaan, Naruto berjengit dan melemparkan pandangan kaget padanya.
Tangan Sasuke langsung berhenti di udara kosong. Ia cepat-cepat menariknya kembali, lalu menyeka lehernya dengan canggung.
"Apa ada yang kau inginkan?" Tanya Sasuke kaku. Onyxnya memilih untuk menatap ke tempat lain selain Naruto sementara wajahnya sedikit memerah.
"Tidak usah, kurasa aku hanya ingin istirahat sebentar." Kata Naruto.
Sasuke mengangguk lalu kembali duduk. Dia mengawasi kedua kakinya sendiri dalam keheningan, lalu Naruto tiba-tiba berdeham dan Sasuke menoleh lagi padanya.
"Maksudku, aku ingin sendirian." Bibir Naruto melengkung menunjukkan senyuman yang tidak mencapai matanya.
"Oh." Sasuke sedikit terpanah. Dengan perlahan dia bangkit lalu berjalan keluar ruangan tanpa mengatakan apapun. Ia menutup pintu kamar Naruto, terdiam sebentar disana.
Dengan perlahan tangannya bergerak menyentuh dadanya. Hatinya bergemuruh, perih.
-TBC-
