Anime Boy

Pair: V-Kim Taehyung, Jeon Jungkook

Romance/Friendships/Schoolife

YAOI, BL, BOY X BOY, TYPHOS, ABAL, OOC

DLDR! RnR!

Chapter 3: Fall in Love With Senpai

.

.

Yes you're my only girl neoneun naege choego

neoui harureul algo sipeo, neoui hansumi doego sipeo

yeonghwa sogeseona isseul geosman gatdeon geu saram

nalssimajeo ttag joheunde neowaneun ttag indeushae nan

gati georeobolkka hamkke georeobolkka

.

.

Demi apapun Jungkook membenci ini dan ia menyesali keterlibatan Kim Taehyung dalam hidupnya.

Seperti hari ini, Jungkook harus mati-matian menahan perasaan malunya dengan menundukkan kepala dalam-dalam sepanjang ia berjalan di koridor untuk menghindari beratus pasang mata yang memandangnya dengan campuran rasa aneh dan penasaran.

Reaksi yang wajar sebetulnya jika ada seorang pangeran alien(?) berambut oranye mengikutimu kemana-mana seharian tanpa suara seperti anak anjing minta dipungut.

"Bisakah kau berhenti mengikutiku brengsek?" Jungkook memutar tubuhnya kesal ketika ia tiba di koridor yang lebih sepi dan yang didapatnya hanyalah raut wajah datar Kim Taehyung.

"Kau tidak pernah datang ke klub."

"Dengar, aku tidak pernah benar-benar mau bergabung ke klub absurdmu itu. Aku menyetujuinya hanya agar kau berhenti mengikutiku." Jungkook berkata sedikit tegas, wajahnya kembali panas mengingat kejadian yang Taehyung lakukan padanya kemarin. "Dan aku juga sudah mencucikan hoodiemu, ingat?" ia menunjuk hoodie hitam yang kini melekat sempurna di tubuh kurus Taehyung.

"Itu saja tidak cukup. Kalau kau setuju bergabung kau harus datang juga ke klub." Taehyung membalas. Nada bicaranya begitu tenang dan raut wajahnya tak berubah sedikitpun, namun ini justru membuat Jungkook lebih kesal.

Ia mendengus."Tidak mau." Jungkook kembali melanjutkan berjalan, berusaha mengacuhkan Taehyung yang masih saja bersikukuh mengikutinya.

"Oh ayolah, kami hanya butuh satu anggota lagi untuk penggenap." Taehyung tak mau menyerah, menjajarkan langkahnya dengan Jungkook.

"Tidak."

"Kau hanya tinggal duduk, tersenyum manis, dan melayani penggemar yang datang."

"Pasang wajah maksudmu? Enak saja, itu terdengar murahan." Jungkook mencibir.

"Murahan? Kita melayani. Lagipula kita bagi hasil."

"Apalagi. Aku tidak mau mendapatkan uang dengan cara seperti itu."

"Tapi kau sudah setuju mau bergabung."

Jungkook menggeram kesal. Astaga ia tak menyangka berhadapan dengan Taehyung sungguh membuatnya frustasi begini.

Ia menghentikan langkah geram dan menoleh pada sunbaenya. "Aku tidak mau breng.."

"Jungkookiee~ ayolah bantu klubku!" Taehyung menghentak-hentakkan kakinya seperti anak kecil sambil memajukan bibirnya.

Dan Jungkook hanya bisa speechless.

Apa-apaan ini?

Kim Taehyung beraegyo? Bukannya tidak cocok sih tapi..

Sialan ini terlalu manis! Jungkook bahkan memiliki keinginan aneh untuk menggapai bibir merah muda yang mengerucut itu. Mengecup, menjilat, menggigit, kemudian meluma.. TUNGGU APA-APAAN YANG KAU PIKIRKAN JEON JUNGKOOK SIALAN?!

Jungkook memalingkan kepalanya lagi dan mengusap wajahnya yang merah padam keras-keras. Sial, bisa-bisanya dia punya pikiran laknat seperti itu.

"Jungkookie? Kau mau pergi ke klub?" Panggilan Taehyung refleks membuat Jungkook mengalihkan perhatian kearahnya. Dan GOD, ternyata Taehyung masih juga belum berhenti melakukan aegyo sialannya.

"Ah, baiklah sunbae aku pergi sekalian mencari Jimin." Jungkook menggaruk tengkuknya canggung dan segera berjalan mendahului sunbaenya.

Sementara Taehyung, tanpa diketahui Jungkook menyunggingkan seringai kemenangannya.

"The power of aegyo!" batinnya girang. Tapi jangan salah, dia tetap berada di posisi seme walaupun beraegyo seperti tadi. Eh memangnya Jungkook bersedia jadi uke ya? -_-*author digampar* oke lupakan, Taehyung seme sejati.

...

Jungkook mengedarkan pandang bingung ke ruangan minimalis yang dipenuhi banyak siswi itu. Apa benar ini ruang musik sempit tak terpakai yang dikunjunginya kemarin?

"Sunbae." Jungkook memanggil Taehyung di sebelahnya.

"Hm?"

"Ini klub anime yang kemarin kan?"

"Tentu saja." Taehyung menyeringai.

"Tapi menurutku ini lebih mirip fanmeeting." Jungkook mengerutkan dahinya.

Bagaimana ruangan ini diatur dengan para siswi yang mengantri pada beberapa lelaki yang duduk berderet di belakang meja panjang dan memberikan berbagai pelayanan sungguh mengingatkannya akan acara fansign idol. Jungkook sempat melihat Yoongi duduk bersebelahan dengan Jimin tapi ada dua siswa asing yang tak dikenalnya, satu berambut merah tua dan satunya lagi berambut silver. Sepertinya anak kelas tiga juga jika dilihat dari garis wajah keduanya yang *uhuk* tua. Mungkinkah mereka juga anggota klub?

"Ayo, jangan diam saja!" Taehyung menarik lengan Jungkook.

"T..Tapi sunbae bagaimana caranya kita berjalan sampai ke meja?" Suara Jungkook sedikit teredam oleh pekikan para siswi yang sangat antusias.

"Gampang saja." Taehyung nekat menelusupkan tubuh kurusnya di antara kerumunan para murid perempuan dan Jungkook hampir kehabisan oksigen jika saja Taehyung tak menariknya sambil berlari. Hell, tubuh Jungkook kan tidak sekecil Taehyung.

"Itu Taehyung oppa!"

"Taehyung oppa! Taehyung oppa!"

Oke sekarang telinga Jungkook yang sakit. Sehebat itukah memangnya popularitas Kim Taehyung?

"Hei Taehyung oppa bersama seorang namja?"

Tunggu, apakah sekarang mereka membicarakan Jungkook?

Jungkook ikut bergabung duduk di sebelah Taehyung. Dan ajaibnya semua siswi yang semula mengantri tampak bosan langsung memenuhi sisi Taehyung, dengan raut wajah yang tampak jelas diliputi antusiasme dan obsesi berlebihan. Astaga Taehyung itu magnet atau apa sih?

Jungkook mengetuk-ngetuk meja di depannya jengah, ia tidak tahu harus berbuat apa meskipun beberapa gadis yang tengah mengantri pada Taehyung di sebelahnya berkali-kali meliriknya penuh minat.

"Taehyung oppa apa anak itu anggota baru?" Seorang gadis bername tag Tzuyu yang tengah menunggu Taehyung menandatangani buku catatannya bertanya penasaran ketika ia bertemu pandang dengan Jungkook.

"Iya benar, donsaeng kelas satu yang sangat baik hati." Taehyung tersenyum miring dan mengacak surai gelap Jungkook yang hanya memutar bola matanya malas.

"Hee anak kelas satu? Manisnya.." komentar gadis lain yang mendengar percakapan mereka.

"Jeon Jungkook, aku sering dengar tentangnya."

"Manis sekali, mungkin dia tidak punya wajah anime tapi dia sempurna."

Semakin banyak yang membicarakan Jungkook bahkan beberapa siswi mulai mengantri di sisinya. Sementara Jungkook? Yah, dia hanya bisa tersenyum manis kegirangan, puas karena belum pernah ada perempuan yang memujinya seperti ini.

"Apakah kau berteman dengan Taehyung oppa?" Gadis berambut pirang yang akhirnya datang untuk berselca bersama Jungkook bertanya membuat orang yang bersangkutan menghentikan kegiatannya dan melirik lelaki berambut oranye di sebelah dengan kening berkerut.

Teman?

Well, Jungkook tidak pernah merasa berteman dengan Taehyung mungkin juga sebaliknya lagipula mereka baru 'berkenalan' kemarin.

"Tidak, sepertinya kami bukan teman." Jungkook menjawab dengan kedua alis saling bertautan.

"Sepertinya? Bukankah kalian akrab sekali. " Gadis tadi mengulangi bingung.

What the hell is this!

Jungkook menyumpah-nyumpah sendiri dalam hati. Bagian mananya yang terlihat akrab?! Jungkook bahkan tak sudi terlibat apapun dengan Taehyung kalau bisa. Jangan bilang yang dimaksud gadis itu adalah saat dimana Taehyung menyeretnya kemarin sepanjang koridor? Astaga konyol sekali mana mungkin kan.

"Tidak, kami sama sekali tidak seperti itu.." Kerongkongan Jungkook tiba-tiba tersumbat saat sebuah lengan merangkul bahunya intim begitu mendadak.

Jungkook spontan menolehkan kepala ke samping dan GOD DAMN IT hidungnya bertabrakan dengan hidung lancip Taehyung yang entah sejak kapan sudah berada begitu dekat dengannya. Terdengar jelas beberapa siswi berteriak kegirangan.

"Kenapa? Kau tidak lanjut bicara hah, Jungkookie?" Taehyung berbisik serak dengan bibir menyeringai yang sialnya telinga laknat Jungkook menangkap suara berat itu terdengar sangat seksi.

Shit. Shit. Shit.

Baru kali ini Jungkook dibuat mati kutu begini oleh lelaki selain ayahnya sendiri. Jarak mereka yang sangat dekat membuat Jungkook dapat melihat jelas wajah tampan bak karakter anime milik Taehyung yang terpahat begitu sempurna dan tanpa cela juga kedua mata tajamnya yang membara di bawah polesan eyeliner tebal.

Jungkook tidak berani menggerakan tubuhnya sedikitpun, bibir mereka hanya terpaut satu inci dan sekali saja gerakan ceroboh mungkin ia dan Taehyung bisa ber.. ARRRGHHH SADAR JEON JUNGKOOK!

"KISSEU! KISSEU! KISSEU! KISSEU!"

Hah?

Oh baiklah apalagi sekarang? Para siswi mulai bersorak menyemangati Taehyung untuk ber.. ehm, berciuman dengan Jungkook begitu antusias dengan kamera ponsel siap di tangan. Ini menggelikan sungguh, tapi Jungkook sendiri juga merasa sangat tersiksa untuk mati-matian menahan godaan amat besar pada bibir tipis merah muda Taehyung yang kini berada tepat di depan wajahnya.

"KISSEU! KISSEU! KISSEU! KISSEU!"

Tidak Jeon Jungkook, kau masih menyukai wanita.

"KISSEU! KISSEU! KISSEU! KISSEU!"

TAHAN DIRIMU JEON JUNGKOOK SIALAN!

Erangan kecewa para siswa terdengar jelas menggema di ruang musik yang sempit ketika Taehyung menjauhkan tubuhnya. Jungkook juga mendesah lega namun ia sendiri ragu harus benar-benar merasa lega atau kecewa seperti para siswa di hadapannya.

TUNGGU, MEMANGNYA KENAPA JUNGKOOK HARUS KECEWA?! MEMANGNYA DIA MENGHARAPKAN AKAN BER.. ASDFJKKLJLKLJJDAHFAG DENGAN TAEHYUNG SIALAN ITU?! Batin si lelaki bergigi kelinci begitu nelangsa.

"Oppa kenapa dihentikan?" Seorang yeoja bertanya protes yang hanya membuat Taehyung melebarkan cengiran bocahnya.

"Kalian benar-benar akrab, Jungkook bilang kalian bukan teman?" Tzuyu melirik Jungkook.

Taehyung menatap Jungkook sejenak membuat yang ditatap salah tingkah sendiri dan menggaruk tengkuknya canggung.

"Itu benar karena sebenarnya kami.. lebih dari sekedar teman." Taehyung menaikkan sudut bibirnya ke atas membentuk seringai mempesona dan sebelum Jungkook sadar dari keterkejutannya Taehyung sudah menarik lehernya hingga pipi mereka bersentuhan.

GOD Jungkook bisa merasakan wajahnya terbakar parah di tengah ledakan hiruk pikuk teriak kegirangan para siswi yang langsung menghujaninya dan Taehyung dengan kilatan lampu blitz bersahutan dari kamera ponsel di tangan masing-masing. Jungkook bahkan melihat ada siswi yang sampai pingsan dan mimisan di tempat. Heol, itu berlebihan.

"Jauhkan wajahmu brengsek." Jungkook mendesis di telinga Taehyung karena pipi mereka masih saling menempel. Lama-lama ia merasa malu juga kalau terus-terusan begini.

"Kenapa? Ini fanservice Kook, fanservice! Ayo senyum." Taehyung mendesis balik dan mengulas senyum cemerlang pada bibir kotaknya sambil membentuk V sign dengan kedua jari dan mengedipkan sebelah mata yang sialnya itu semua dilakukan begitu dekat dengan wajah Jungkook sehingga lelaki bergigi kelinci itu dapat melihat semuanya dengan sangat jelas yang lagi-lagi membuatnya berpikiran asdfghjkkl #$#$%^$%^ sialan.

Suara bel khas yang menandakan jam istirahat telah selesai terdengar dari sound system di sudut ruangan membuat kehebohan di ruang musik mereda. Jungkook pun memanfaatkan kesempatan itu untuk membebaskan diri dari Taehyung secepatnya.

"Ah, aku puas sekali hari ini. Tolong buat lebih banyak lagi fanservice, oppa!" seorang gadis bermata bulat mengelap darah yang merembes dari hidungnya dan meletakkan lembaran uang sepuluh ribu won di meja Taehyung. Jungkook melotot.

"Tentu saja, terimakasih Mina-ssi." Taehyung tersenyum dan membiarkan adik kelasnya itu mengambil fotonya sekali lagi sebelum keluar dari ruangan.

Semakin banyak siswa yang keluar satu persatu dari ruangan setelah sebelumnya meninggalkan uang mereka di meja dan menyapa atau memberi kesan pada para anggota klub. Yang paling banyak didatangi adalah meja Jungkook dan Taehyung, semua kesan yang diberikan pada mereka juga paling absurd dan ambigu dibanding anggota lainnya.

Misalnya saja seperti,

"Lain kali buatlah moment yang lebih hot."

Atau pertanyaan paling ambigu yang membuat Jungkook merinding sendiri sementara Taehyung hanya menanggapinya dengan cengiran,

"Kapan hubungan kalian resmi?"

WHAT THE HELL IS THIS!

Resmi yang dimaksudkan si gadis maksudnya pacaran begitu? Menjadi sepasang kekasih?

Jungkook dengan Tae...?

Jungkook mengacak rambut gelapnya sendiri dan menenggelamkan wajahnya yang memanas di meja. Hentikan. Hentikan berpikiran seperti itu kau masih menyukai wanita! Ia mengulang-ulang kalimat itu dalam benaknya sendiri bagai mantra, berusaha meyakinkan bahwa dirinya masih bisa disebut normal.

"Hey Kook, apa-apaan sikapmu? Kau mulai gila eoh?" Taehyung berbicara dengan normal di sebelahnya.

Jungkook langsung mengangkat wajahnya yang masih panas. Kali ini panas karena amarah. Ia menatap sinis lelaki berambut oranye yang lebih tua dua tahun darinya yang hanya memberikan pandangan bingung.

"Kau brengsek bajingan $#$#%46^&*! Apa-apaan yang tadi itu hah?! Kau $%^&^*#(!"

Taehyung membelalak dan menjauhkan wajah kaget saat adik kelasnya itu menarik kerah seragamnya begitu mendadak seperti yang dilakukannya kemarin. Hanya saja ini sedikit mencekik. Ouw, Taehyung bisa merasakan benar aura gelap menguar dari Jungkook yang masih saja setia menyerukan umpatan pedas nan tajam dari bibir mungilnya itu. Namun lagi-lagi ia hanya bisa nyengir tanpa dosa.

"Wow, ruangan sudah sepi begini kalian masih saja mesra."

"Tenanglah sedikit."

Jungkook dan Taehyung menolehkan kepala bersamaan. Empat orang, termasuk Jimin dan Yoongi bersama dua siswa lain berambut merah marun dan silver tadi kini berdiri di depan meja yang masih ditempati Taehyung dan Jungkook.

"Woah Jungkookie tak kusangka kau akhirnya punya kekasih juga setelah enam belas tahun." Decakan kagum Jimin yang berdiri di belakang Yoongi membuat Jungkook tersadar dan segera melepaskan cengkramannya pada kerah kemeja sekolah Taehyung.

"Kami tidak pacaran, Park bantet Jimin." Oke, Jungkook mulai emosi ini bahaya.

"Atau setidaknya belum." Taehyung berkata nyengir dan buru-buru membuat tameng dengan menyilangkan kedua lengan di depan wajahnya ketika Jungkook mendeath glarenya horror siap mencekik.

"Kalian benar-benar tidak pacaran?" Si lelaki berambut silver yang bertubuh lebih tinggi bertanya heran. "Aku dan Seokjin yang benar-benar pacaran saja tidak semesra kali.. ah sakit hyung! He he maaf.." ia buru-buru menjauh untuk menghindari cubitan kedua dari lelaki berambut merah yang tampak marah di sebelahnya.

Mata bulat Jungkook lagi-lagi melebar. Pacaran? Jadi mereka berdua.. ehm, kedua lelaki di hadapannya ini pacaran?

"Ah maaf, kami juga anggota klub. Namaku Kim Seokjin, kelas tiga. Aku sekelas dengan Yoongi di kelas 3-4." Si lelaki berambut merah tersenyum cerah. Struktur wajahnya tidak semirip karakter anime dibandingkan Taehyung, tapi dia punya wajah tampan sekaligus manis yang tampak menyenangkan.

"Dan aku Kim Namjoon kelas tiga yang sekelas dengan Taehyung di 3-3. Kekasih sejati Seokjin." Lelaki berambut silver mengedip, namun lagi-lagi ia mengerang karena Seokjin menyikut pinggangnya begitu keras.

"Tak perlu tambahkan itu!"

"Well, fanservice TaeKook bagus sekali. Para fujoshi sepertinya benar-benar puas." Yoongi menghitung lembaran uang yang tersebar di meja dengan girang.

"T..TaeKook katamu hyung?" Jungkook menaikkan alisnya bingung.

"Itu nama couplemu dan Taehyung. Setiap couple di sini punya nama khas sendiri. Misalnya Namjoon dan Seokjin itu NamJin, aku dan Jimin YoonMin. Tergantung bagaimana penggemar memberikan namanya sih, mungkin nama seme di depan." Yoongi menjelaskan kalem.

"Puh,yakin orang sepertimu jadi seme?" Namjoon mendengus tertawa namun ia buru-buru sembunyi di balik punggung kekasihnya(re: Seokjin) melihat Yoongi bersiap melepas sepatunya.

"Aku juga tidak mau jadi uke! Yoongi hyung terlalu cantik." Jimin protes.

"Wah, wah ada yang blushing rupanya." Taehyung terkikik dan benar saja Jungkook dapat melihat jelas wajah Yoongi dirambati rona merah tipis.

"Sudahlah kalian cepat jadian saja, siapa tahu akan punya banyak shipper." Seokjin ikut-ikutan. Mungkin bosan digelayuti terus oleh Namjoon.

JADIAN? JIMIN DAN YOONGI? LELAKI DAN LELAKI?!

Tunggu sebentar, rasanya ini terlalu..

"Jim, ayo kembali ke kelas." Jungkook berkata pada sahabatnya.

"Eh bukankah terlalu cepat?" Jimin kelihatan tak senang.

"Iya santai dulu disini." Namjoon menyarankan.

"Setelah ini kita juga masuk kelas." Seokjin memberi tatapan garang membungkam kekasihnya.

"Kita sudah bolos satu jam. Ini pelajaran Kyuhyun seongsaenim si guru killer." Jungkook berjalan ke pintu keluar. Bohong deh, sebenarnya dia hanya ingin cepat-cepat keluar dari klub yang menurutnya terlalu absurd ini.

"Ahh, tapi aku masih mau bersama Yoongi hyung." Jimin memajukan bibirnya sok imut. "Ewh, tidak bakat aegyo saja jatuhnya malah membuat orang mual." Jungkook membatin sambil bergesture pura-pura muntah. Dan yes, Yoongi menggeplak kepala Jimin dengan tumpukan lembaran uang di tangannya. Sepertinya ia berpikiran sama seperti Jungkook.

"Menjijikan bodoh." Yoongi berkata dengan raut wajah dingin selagi Jimin meringis, tapi tetap saja merona. Dasar munafik.

"Kalau tidak mau balik sekarang, aku duluan." Jungkook menyeringai.

"Yak yak jamkkaman Kook, kau ini jahat sekali! Mana berani aku menghadapi Kyuhyun seongsaenim sendirian?!"

Jungkook tak peduli, ia sudah cukup stress berada terlalu lama berada di ruangan ini. Tangannya telah menggengam kenop pintu, bersiap keluar namun lagi-lagi gangguan dengan lengan kurus yang bertengger seenaknya di bahunya sok akrab.

"Apa breng.."

"Temanmu benar! Dasar murid teladan, ayo bolos sampai jam pulang!" Lagi-lagi senyum mematikan itu. Astaga bisakah sekali saja Taehyung berhenti membuat jantung Jungkook berolahraga terlalu keras?

"Jangan konyol, brengsek." Jungkook menepis kasar tangan Taehyung. "Aku kembali ke kelas." Ia dengan cepat membuka pintu ruang klub dan berjalan keluar.

"Ah, Jungkookie tunggu aku!" Mau tak mau Jimin mengikuti sahabatnya. "Hei, kau emosi sekali hari ini." Dengusnya begitu berhasil mengimbangi langkah panjang Jungkook.

Jungkook menghela nafas. "Ini semua gara-gara klub absurd dan si brengsek Kim.."

"Jungkookie!"

Jungkook dan Jimin berhenti berjalan dan menoleh pada seruan suara berat itu dengan kening berkerut.

"Aku akan menunggumu sepulang sekolah!" Taehyung berteriak dan nyengir sambil melambai-lambaikan tangannya seperti bocah.

"Wow, ada yang sedang kasmaran rupanya." Jimin nyengir sambil menepuk-nepuk bahu Jungkook.

"Bajingan itu.." Jungkook menggeram tertahan. Astaga, wajahnya tak bisa lebih merah dari ini.


Dan sepulang sekolah Taehyung benar-benar menepati janjinya. Ia mencegat Jungkook di depan gerbang sekolah dengan cengiran bodohnya yang biasa.

"Aku sudah janji dengan Jimin." Jungkook beralasan. Tentu saja bohong.

"Tapi sepertinya dia sibuk dengan Yoongi." Taehyung mengarahkan telunjuknya di belakang punggung Jungkook.

Benar saja, saat Jungkook memutar tubuhnya Jimin dan Yoongi tengah berbisik-bisik dengan saling mendekatkan kepala. Wajah keduanya sama-sama merona. Aish, paling-paling ajakan kencan. Dasar pasangan bantet.

"Ya sudah, aku mau pulang saja." Jungkook menghela nafas dan berjalan lemas.

"Ayo kita pulang bersama!" Taehyung nyengir dan merangkul bahu Jungkook. Beberapa siswi yang lalu lalang memekik. Fujoshi lagi.

"Berhenti menyentuhku, brengsek!" Jungkook membebaskan diri cepat. Sial, dia tidak mau tiap kali berhadapan dengan Taehyung wajahnya terus-terusan terasa terbakar seperti ini.

"Hei hei kau kelas satu kan?"

Jungkook bergidik. Suara serak Taehyung berbisik rendah tepat di telinganya. Kenapa tiba-tiba auranya berubah begini?

"Kau tahu kan seharusnya kau memanggilku dengan lebih hormat?" Taehyung menaikkan sudut bibirnya ke atas. Ya Tuhan, godaan ini terlalu besar bagi Jungkook.

"Lalu?" Jungkook balas menyeringai. Untuk apa takut? Ia akan balas menantang.

"Panggil aku dengan lebih hormat, dan juga.." Taehyung mendekatkan wajahnya. Jungkook menahan nafas. "..lebih akrab."

"Misalnya?" Jungkook menelan ludah. Sial, jarak ini terlalu dekat.

"Hmm.." Taehyung menjauhkan wajah dan memiringkan kepalanya. Astaga apakah dia mencoba beraegyo lagi. "Senpai!" bibir tipis itu tertarik menjadi sebuah senyum kecil.

"Se..Senpai? bukankah sama saja dengan sunbae. Kenapa tidak hyung saja?" Jungkook mengerutkan dahinya.

"Tidak, hyung panggilan yang sudah umum kau melakukannya pada Yoongi. Senpai adalah.. panggilan khusus hanya kau yang boleh memanggilku begitu." Cengiran bocah lagi.

Dan Jungkook hanya bisa speechless.

"Jadi mulai besok kau akan memanggilku begitu, arrachi Jungkookie? Ah tidak, mulai sekarang!" Taehyung tersenyum lebar hingga bibirnya berbentuk kotak.

"Ta..Taehyung..senpai?" Jungkook memiringkan kepalanya. Lidahnya terasa gatal mengucapkan embel-embel itu. "Eh?"

Taehyung menjerit kegirangan sendiri dalam hati, wajah animenya tampak dirambati rona kemerahan. Astaga anak ini manis sekali kalau begini terus kejadian kemarin bisa-bisa terulang lagi!

"Maaf, tapi aku sudah sampai di rumahku." Jungkook menghentikan langkahnya dan menunjuk bangunan apartemen bertingkat di depan mereka.

"Eh? Aku juga tinggal di apartemen ini." Taehyung menjawab agak blank.

"Oh ya?" Jungkook melangkah masuk diikuti Taehyung. "Kau di lantai berapa?"

Apartemen ini memang memiliki empat tingkat, dan di setiap lantai ada beberapa kamar.

"Lantai dua."

"Aku juga. Kamar berapa?" Jungkook menaiki tangga yang cukup pendek dan berjalan menyusuri setiap kamar. Berhenti di depan pintu bernomor angka delapan. Kamarnya sendiri.

"Aku nomor sembilan."

"Eh?" Jungkook menoleh dan mendapati Taehyung yang sama terkejut sepertinya di sisi kirinya.

"Jadi kita ini.."

TBC

A.N:

Ahh akhirnya update T_T maaf kalau tidak memuaskan rencananya saya mau update pas tanggal 30 ulang tahunnya si alien, tapi yasudahlah mungkin kelamaan. Oh ya katanya Taehyung dan Yoongi sakit sampai tidak bisa ikut konser di jepang ya? Semoga cepat sembuh ya..

Terimakasih untuk semua yang sudah review/fav/follow fic gaje inih untuk yang pakai akun saya balas lewat PM ya maaf kalau ada yang kelewatan.

Tolong putuskan mau pair Yoonmin/Minyoon karena saya bingung dan masih newbie untuk couple ini. Suara terbanyak akan dipakai mulai chapter depan.

Annyeong~