-5cm...
4cm...
3cm...
2cm...
1cm...
BRAKK-
.
.
.
.
"ANNYEONGHASEO!"
Sontak mereka menjauhkan tubuh mereka masing-masing yang juga di sertai rona merah pada wajah masing-masing. Persetan dengan ini semua -'
"YAK HOSEOK HYUNG ! KAU MENGAGETKAN KU !"
"Hehehe maaf~ aku hanya sedang bersemangat sore ini. Kita akan mendapat koreografi baru." Ucap hoseok antusias.
"Masa bodo." Ucap jimin pelan.
"Apa? Apa kau berkata sesuatu ?" Tanya hoseok memastikan.
"Ani."
"Oh.. baiklah dan.. ah.. siapa ini? Apa dia member baru di grup kita itu?"
"Nde.. aku member baru disini jeon jungkook imnida." 'Jadi ini yang namanya hoseok hyung, cih aku tidak bisa membanyangkan jika nanti dia bersama v hyung. Akan jadi apa dunia ini ? Membayangkannya saja aku sudah takut.' Ucap jungkook dalam hati.
"Aaa.. baiklah jungkook-ah. Perkenalkan.. jung hoseok imnida kau bisa memanggil ku hoseok jhope jeyop jihop jhorse atau tatsma, Terserah kau."
"Tatsma ? Nama apa lagi itu hyung. Heol." Ucap jimin bingung.
"Tatsma itu... TATSMA BADEHHHH BADEHHHHHH." Ucap hoseok seraya joget ala touch my body milik girl band sistar.
Jungkook dan jimin yang menyaksikan-nya pun hanya bisa terperangah dengan indahnya dan sesekallil melirik satu sama lain seakan berkata.
'Dia orang?' 'Apa dia memiliki urat malu?' 'Mengapa dia seperti kuda.' 'Kapan dia wafat.' Dan masih banyak lagi.
Dan.. hell. Tunggu dulu. Jimin melupakan sesuatu.
"YAK! JUNGKOOK ! KAU BERGABUNG DENGAN CLUB DANCE ? SEJAK KAPAN?"
"Nde aku bergabung sejak tadi siang, mengapa? Apa tidak boleh?"
"Ti-" omongan jimin terputus di tengah jalan.
"OH TENTU BOLEH! KAU TAMPAN , TARIAN MU JUGA KUYAKINI BAGUS DAN TERLEBIH KAU... tinggi." Kata-kata 'tinggi' di ucapkan sedikit berbisik. Sebenarnya untuk menghina jimin. Heis orang ini.
"YAK ! hyung bisa tidak kalau berbicara tidak usah teriak! Itu mulut apa toak ?" Ucap jimin sebal sambil menyilangkan tangannya di depan dada serasa memajukan bibirnya lucu.
Jungkook yang melihatnya tak habis fikir bagaimana bisa orang seperti dia memiliki wajah se imut ini. Jika tidak ada hoseok habis pasti jimin di tangan jungkook.
"Eiyy.. sudahlah.. oh iya hoseok hyung, aku belom terlalu pandai dalam bidang tari. Bisa kah jimin hyung yang mengajariku nantinya? Tariannya sangat bagus."
Jimin yang mendengar itu pun langsung melotot ke arah jungkook dan yang hanya di balas tatapan 'Apa yang salah?' Dari jungkook.
"Tentu saja boleh kenapa tidak." Ucap hoseok enteng.
"Yak! Sirreo ! Aku tidak mau mengajarkan Anak ini!" Ucap jimin tak membantah.
"Yak park jimin kau berani melawan ku eoh? Mau mau kusuruh push up 150 kali lagi hah?"
Jimin bergidik ngeri dengan ancaman hoseok hyungnya ini.
"Haaah... arraseo arraseo."
"Gomawo jiminie hyung." Ucap jungkook seraya tersenyum manis pada jimin.
"NDE? APA KAU BILANG TADI? BERHENTI MEMANGGIL KU SEPERTI ITU!"
"wae? Itu terdengar manis hyung."
"Manis dari mana? Itu menjijikan."
Jungkook terdiam. Rasanya sakit. Ternyata ini yang di rasakan jimin waktu itu pantas saja ia menangis. Rasanya seperti di tetesi oleh lelehan plastik. Perih.
Jimin yang melihat perubahan sikap jungkook itu langsung merasa bersalah.
"Ba..baik.. baiklah.. kau bebas memanggilku apa saja. Dan Jangan menampilkan wajah menyedihkan seperti itu lagi!" Titah jimin.
"Nde baik hyung. Aku tak akan bertingkah seperti itu lagi. Yakso !" Ucap jungkook seraya mengembangkan senyuman menyodorkan jari kelingkingnya ke hadapan jimin.
Jimin hanya menatap jari itu. Tidak berniat membalasnya sama sekali.
"Baik kalau begitu. aku ingin ke kantin dulu. Aku lapar. Hyung apa kau ingin menitip sesuatu?" Ucap jimin serasa mengacuhkan acungan kelingking jungkook.
Jungkookpun menurunkan jarinya senyuman yang awalnya terlihat manis sekarang tergantikan dengan senyuman pahit.
"Ani jimin-ah aku sudah makan tadi." Ucap hoseok yang sedang mengotak-atik handphone kesayangannya.
"Baiklah. Kau.. apa ada yang ingin kau titip?"
"Ani hyung, aku tidak lapar." Jawab jungkook dengan senyuman yang di buat-buat.
"Yasudah aku kekantin dulu."
Sudah 2 bulan jungkook berada di club dance ini dan sudah 2 bulan juga jungkook berusaha mendekati jimin lagi. Tapi hasilnya tetap nol besar. Jimin sama sekali tidak terlihat ingin kembali kepada jungkook. Sudah berbagai cara ia lakukan agar jimin hyungnya itu kembali. Bahkan hoseok dan v sudah berpacaran sekarang.
"Ish.. mengapa mendapatkan mu itu sulit sekali sih?" Ucap jungkook frustasi.
"Liat saja jika nanti aku mendapatkan mu. Aku tak akan lernah melepaskan mu lagi."
'
'
'
"HYUNG! JIMINIE HYUNG!"
Yang di panggilpun menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya.
"Ada apa?" Ucap jimin singkat.
"Mm.. apa kau ada acara sore ini?" Tanya jungkook ragu.
"Sepertinya iya.. ada apa?" Ucap jimin masih tidak acuh.
Tersirat ekspresi kekecewaan pada wajah jungkook.
"Ku tanya ada apa ?" Ulang jimin, kali ini sambil menatap jungkook.
"Ah.. itu.. aku ingin mengajak hyung ke suatu tempat."
"Suatu tempat? Dimana? Apa?"
"Aku belom bisa memberitahu mu sekarang hyung, kapan kau ada waktu kosong?"
"Entah."
"Ayolah hyung, kumohon.. kali ini... saja." Ucap jungkook memohon.
"Baiklah, rabu sepertinya aku tidak ada acara." Jawab jimin santai.
"Yeay ! Terimakasih hyung." Ucap jungkook saraya memeluk jimin erat.
"Ekhm.. Hei anak muda ini di tempat umum kau paham tidak." Ucap salah seorang penjaga sekolah mereka.
Jimin pun langsung melepaskan diri dan pergi dengan rona merah yang lekat pada wajahnya seraya meninggalkan jungkook yang masih setianya memasangan senyuman yang tegolong idiot tingkat dewa ini.
.
.
hari berlagsung dengan dengan cepat, tidak terasa tanggalan sudah jatuh pada hari rabu tepatnya tanggal 12 bulan 12 tahun 2012 (flashback dikit ya gaez wkwk:v)
Dan disini lah mereka di perumahan yang terbilang mewah di kota busan. Mereka berjalan beriringan dengan di temani semenandung kecil yang keluar dari bibir jungkook. Namun mereka sama sekali tidak bebicara. Sedikitpun.
"Sampai." Ucap jungkook tiba-tiba.
"Sampai? Dimana?" Tanya jimin bingung.
"Rumah ku. Kajja."
Jimin pun mengikuti pergerakan jungkook masuk kedalam rumahnya.
Megah.
Itulah yang bisa jimin gambarkan dari rumah jungkook. Jimin tidak pernah menyangka anak seperti dia memiliki rumah dan harta yang berlimpah. Karena dari penampilan jungkook terlihat biasa saja. Tidak seperti orang kaya yang bergelimang harta.
"Kau ingin minum apa?" Tanya jungkook seraya melihat ke arah jimin. Dia tersenyum kecil melihat tingkah hyungnya yang menurutnya sangat amat menggemaskan, bagaimana tidak, lihat lah dia sekarang sedang membuka mulutnya berseta matanya yang sipit seakan mengagumi setiap inci dari rumah ini dan jangan lupa jari telunjuk yang berada tepat pada bibir bawahnya yang semakin memberikan kesan imut yang sungguh ekstrim. 'Benar-benar menggemaskan.' Ucap jungkook dalam hati.
"Hyung?" Jungkook melambaikan tangannya di depan wajah jimin, namun nihil jimin masih asik dengan fantasinya. Dan..
Cup~
Jungkook mencium pipi jimin lama. Jimin yang kagetpun lantas menoleh dan mendapati wajah mereka hanya berjarak kurang dari 5cm. Bahkan sekarang jimin maupun jungkook bisa merasakan hembusan nafas masing-masing.
Jimin masih tidak habis pikir dengan apa yang dia alami. Dia mengedipkan matanya lucu dan great dia membuat jungkook semakin ingin menyantapnya detik ini juga.
Cup~
Dan benar saja. Jungkook sudah mencium bibir jimin. Awalnya hanya menempel karena merasa tidak ada perlawanan akhirnya jungkook pun mulai melumat bibir jimin lembut. Hanya ciuman yang menggambarkan kasih sayang. Tanpa ada unsur'nafsu' di dalamnya. Ciuman mereka berlangsung lumayan lama sampai akhirnya jungkook menyudahi aksinya di karena kan jimin yang sudah memukul dada bidangnya pelan, yang menandakan bahwa dia sedang butuh oksigen.
Jungkook tersenyum manis melihat jimin yang tersipu dan menundukan kepalanya dalam. Jungkook menarik dagu jimin agar mereka bertatapan dan juga jungkook membersihkan sisa-sisa saliva yang berada di sekitar bibir jimin dengan ibu jarinya.
"Bibirmu manis sekali."
BLUSH
Hancur sudah pertahanan jimin saat ini. Dia sudah tidak tahu lagi apa warna wajahnya saat ini. Yang pasti dia sangat malu.
"Kau.. Menyebalkan!" Ucap jimin sambil berputar membelakangi jungkook dan menyilangkan tangannya, seperti bisa jika ia sedang ngambek posisi itu adalah andalannya.
Jungkook yang melihatnya semakin merasa gemas akan tingkah manusia satu ini. Jungkook memeluk jimin dari belakang. Membendamkan wajahnya pada ceruk leher jimin. Sang empunya hanya bisa menggeliat kecil pertanda bahwa dia merasa geli.
"Yak jungkook-ah lepaskan!" Ucap jimin seraya menarik jari-jari jungkook agar ia melepaskan pelukannya.
"Tidak. Kau wangi hyung. Aku selalu suka wangi mu. Memabukan." Ucap jungkook tepat di depan telinga jimin dan mengecupnya singkat.
"Yak! Apa yang kau lakukan! Lepaskan !" Kali ini jimin memberontak dengan kuat, tetapi jungkook tetap pada posisinya dan malah menciumi leher jimin.
"Yak! Lepaskan! Hiks.."
Jungkook menghentikan aksinya ketika merasa bahwa tubuh jimin bergetar. Ya dia menangis. Great jeon jungkook kau selalu bisa membuatnya menangis.
Dengan cepat ia membalik tubuh jimin sehingga menangkup kedua pipi jimin dan menatapnya sendu.
"Maaf kan aku. Aku tidak bermaksud. Aku.. aku bodoh. Maaf.. maafkan Aku hyung. Kumohon." Ucap jungkook. Dia tidak tega melihat orang yang ia cintai ini menagis.
Setelah beberapa kali di bujuk oleh jungkook akhirnya jimin berhenti menangis. Lalu jungkook menghapus air mata jimin dengan ibu jarinya. Mencium matanya bergantian lalu turun ke hidung dan berakhir dengan kecupan singkat pada bibir manis jimin.
"Apa yang sebenarnya ingin kau tunjukan?" Tanya jimin sendu.
"Mm.. ikuti aku." Jungkook mengaitkan jarinya dengan jari jimin seakan tidak ada yang boleh melepasnyanya. Jungkook membawa jimin ke belakang rumanya. Terdapat taman bunga yang cukup luas dengan bunga yang sangat indah. Mereka menelusuri semak-semak bunga tersebut. Dan disinilah mereka berdiri diatas gundukan tanah serupa dengan bukit. Jungkook mendudukan dirinya disana. Ia juga menarik tangan jimin agar jimin duduk di pangkuannya.
'Pemandangan yang luar biasa' batin jimin. Bagaimana tidak sekarang mereka sedang duduk diatas sebuah gundukan tanah yang di bawahnya memamerkan pemandangan danau yang berbatasan langsung dengan laut terlebih saat ini sudah senja langit berwarna oranye yang menambah kesan cantik pada ciptaan tuhan ini.
"Indah kan hyung?" Ucap jungkook.
Jimin hanya mengangguk dan merebahkan kepalanya di dada bidang jungkook. Dan mereka melihat sunset bersama-sama. Romantis bukan?
Hari sudah gelap matahari sudah lelah seharian menyinari kota busan. Dan sekarang tinggal lah bulan dan bintang yang bertaburan di kota busan ini.
"Kau tunggu sini hyung." Ucap jungkook serasa meninggalkan jimin sendiri.
"Yak! Jungkook-ah kau kemana? Aku takut."
Tidak ada jawaban.
"Disini gelap sekali." ucap jimin takut.
"Yak! Jungkook-ah jangan mempermainkan ku! Hiks.." dan untuk sekali lagi jimin menangis. Oh tuhan.
Saat jimin asik menangis dia merasa ada cahaya yang berterbangan di sekitarnya. Seketika matanya pun berbinar melihat jutaan kunang-kunang terbang di sekitarnya. Dan tidak sampai disitu kini danau yang awalnya gelap berubah menjadi penuh warna. Jimin menitik kan air matanya saat ia melihat tulisan yang tertera pada danau tersebut.
'PARK JIMIN SARANGHAE' kurang lebih itulah tulisan pada danau itu.
"Jiminie hyung." Panggil seseorang.
Saat jimin menoleh untuk mestikan siapa yang memanggilnya. Matanya di buat terbelalak sekali lagi dengan apa yang ia lihat. Jungkook.. ia membawa boneka teddy bear dan berdiri diantara jutaan bunga yang warna-warni akibat lampu-lampu yang terpasang di sisi-sisinya yang ternyata membetuk pola 'hati' ini.
"Jimin hyung ! Aku tau aku bodoh telah menyia-nyiakan dirimu selama ini. Tapi aku sadar, setelah insiden waktu itu kau meninggalkan ku begitu saja, dan sampai sekarang kau masih saja mengacuhkan ku, aku.. aku merasa kehilangan hyung. Aku sungguh-sungguh merasakan bagaimana rasanya sakit hati. Dan maaf kan aku atas perlakuan ku dulu kepadamu hyung. Seharusnya aku tak memperlakukan mu seperti itu. Aku sungguh sangat amat menyesal."
Jimin menghampiri jungkook yang masih tetap pada posisinya.
"Jungkook-ah."
"Hyung, aku mencintai mu, sungguh."
Air mata jimin meleleh lagi. Ia terharu dengan semua yang jungkook lakukan kepadanya.
"Mau kah kau menjadi pacarku ?"
Jimin tertunduk. Entah apa yang ia pikirkan.
"Maaf. Aku tidak bisa."
Jimin berlari meninggalkan jungkook yang masih terpaku dengan apa yang ia dengar. Sedetik kemudian jungkook berlari menyusul jimin. Ia berhasil meraih tangan jimin dan memeluknya erat. Jimin memberontak namun jungkook tidak memperdulikannya.
"Ke.. kenapa hyung?"
"Maafkan aku jungkook-ah. Aku tidak bisa."
"Tapi kenapa ?"
"Aku sudah memiliki pacar."
DEG
Hancur sudah hati jungkook, rasanya perih mendengar itu. Tak terasa air matanya jatuh tapi ia tetap tidak melepas pelukannya pada jimin.
"De..dengan.. siapa?"
"Walaupun aku beri tahu kau juga pasti tidak akan tahu."
"Katakan namanya hyung."
"Yoongi."
"Y..yoongi? Mi.. Min yoongi maksudmu?"
-TBC-
Hmhmhm…. Maaf kalo latarnya maksa ya—' abis bingung mau bikin yang romantic kek gimana haftttt..
dan maaf long update karena kuota bolt abis dan kucoba ganti pake kartu 3 malah ga bisa buka ffn huhu u,u
sekian~
Review guys ^^
