.
.
.
From The Beginning
Disclaimer :
Bleach © Tite Kubo
Pair :
Hitsugaya Toshirou dan Rukia Kuchiki
Genre :
Romance, Adventure, Mystery, and Drama
Warning :
Alternative Universe; Out Of Character; TYPO; Alur kecepatan; dan masih banyak lagi.
Diharapkan untuk menyiapkan obat sakit kepala dan kantong muntah sebagai pertahanan sebelum membaca fic ini.
.
.
.
Summary :
Rukia Kuchiki adalah seorang gadis yang berasal dari kalangan menengah atas, tetapi ia lebih senang hidup sederhana. Namun ketika ayah tercintanya mendadak jatuh sakit dan meninggal dunia, ia harus menyelamatkan nama baik keluarganya serta mencari harta warisan yang ditinggalkan kedua orangtuanya. Dengan bantuan pengacara muda, ia akan menjelajahi dunia untuk mencari harta itu. Apakah ia dapat menemukan harta itu?
.
.
.
Don't Like. Don't Read!
.
.
.
# Chapter 2 #
"Buku catatan?" Gumam Rukia sambil meneliti buku yang ada di tangannya sekarang. Hitsugaya kembali melihat kedalam brangkas itu, namun hasilnya nihil. Hitsugaya yang tidak menemukan apa-apa dari brangkas itu kemudian menutupnya.
"Aku rasa itu buku harian bukan buku catatan." Hitsugaya membuka suaranya setelah menutup pintu brangkas itu.
"Benarkah?" Rukia menatap Hitsugaya dengan pandangan serius. Yang dipandangi hanya memandangi buku yang ada di tangan sang pemandang dengan serius. Adegan saling pandang dengan perantara buku ini terjadi selama 5 menit lamanya. Entah apa yang mereka pandangi. Kalau Rukia sih bisa dimaklumi karena ia memandangi Hitsugaya, pengacara muda yang keren dan tampan. Tapi apa yang Hitsugaya itu tidak wajar. Sebuah buku berbentuk persegi panjang dengan gambar 4 musim sebagai sampulnya. Walau harus diakui sampul buku itu menarik.
"Tidak kusangka ayah suka menulis buku harian." Rukia terkikik pelan setelah merasa mereka terlalu lama terdiam. Untuk mencairkan suasan juga tentunya.
Hitsugaya mengambil buku itu dari tangan Rukia dan membukanya. Ia membolak-balikan buku itu berkali-kali sampai akhirnya ia mengatakan, "Ini bukan milik ayahmu."
"Apa maksudmu?" Rukia yang terkikik kembali menatap Hitsugaya dengan wajah penuh tanda tanya.
"Seingatku, tulisan ayahmu tidak seperti ini." Ungkap Hitsugaya. Rukia yang penasaran juga ikut mengintip isi buku itu dan benar saja, itu bukan tulisan ayahnya. Tulisan yang ada didalamnya lebih feminim dan halus.
"Benar juga sih. Tulisan ini lebih mirip seorang wanita daripada pria." Jelas Rukia seraya mengambil buku itu dari tangan Hitsugaya dan meneliti tulisannya dengan cermat. Jika buku itu dapat berbicara, mungkin kita sudah mendengar eluhan buku itu karena selalu dipindah tangankan oleh kedua orang ini dalam kurun waktu 15 menit.
"Bagaimana kalau kita kembali? Kita periksa ini di rumah." Rukia mengangguk menyetujui ide Hitsugaya.
Setelah mereka keluar dari Bank Nasional Tokyo dan berjalan di trotoar selama beberapa menit, akhirnya mereka sampai pada sebuah halte tempat orang menunggu taksi. Ternyata tidak hanya bus saja yang memiliki halte, namun taksi juga memiliki halte.
"Taksi?" Rukia mengenyitkan alisnya. Ia masih ingat kejadian yang baru menimpanya 2 hari yang lalu.
"Tenang saja. Ada aku disini." Rukia yang mengerti maksud dari Hitsugaya hanya bisa tersenyum kecil. Ia merasa nyaman berada disamping pengacara yang satu ini padahal baru bertemu beberapa hari saja.
Hitsugaya dan Rukia duduk di kursi penumpang belakang, "Ke apartemen di jalan N2-27."
Sang supir mangangguk dan memacu taksinya dengan kecepatan stabil. Selama perjalanan tidak ada yang berani berbicara. Mereka sibuk dengan kegiatan yang mereka lakukan. Keheningan yang menyelimuti Hitsugaya dan Rukia akhirnya terpecah setelah sebuah tikungan tajam baru saja mereka lewati. Sepertinya, ketika sang supir taksi ingin berbelok, mobil yang ada didepan mereka berhenti mendadak. Rukia yang terlempar ke kanan menubruk Hitsugaya yang punggungnya sudah menabrak pintu taksi.
"Te-terima kasih." Balas Rukia sambil memposisikan dirinya di tempatnya semula.
"Tak apa." Hitsugaya membalasnya.
Mobil itu kembali berjalan normal di jalan raya yang sedang macet itu. Ketika lampu menyala merah, taksi itu berhenti. Hitsugaya melirik kaca spion sebelah kanan taksi itu. Sedaritadi mobil avanza hitam dibelakang taksi yang mereka naiki itu selalu mengikuti mereka. Sebenarnya Hitsugaya menyadari bahwa ada yang mengikuti mereka sejak mereka keluar dari Bank Nasional Tokyo. Saat mereka baru berjalan, Hitsugaya mengira bahwa itu adalah mobil biasa, namun seiring berjalannya waktu ia merasa ada yang aneh. Perasaan tidak enak menggerogotinya. Seperti ada sesuatu yang aneh.
"Hei, kita sudah sampai." Suara Rukia membawa Hitsugaya kembali ke alam nyata dan Hitsugaya juga baru menyadari bahwa mereka telah sampai jalan yang ia sebutkan saat memasuki taksi ini.
"Terima kasih, pak." Hitsugaya memberikan sejumlah uang dan turun dari taksi itu. Rukia hanya mengikuti Hitsugaya dari belakang. Ternyata mereka berada diujung jalan apartemen Hitsugaya. Mereka berjalan menuju apartemen itu dalam keheningan. Sesekali Hitsugaya melirik kebelakang dengan ekor matanya. Ia masih melihat mobil avanza hitam itu. Kaca mobilnya dibuat sulit untuk melihat dari luar. Rukia yang berjalan disebelahnya juga merasa perasaan yang sama. Sepertinya ada yang membakar punggungnya dengan tatapan. Rukia yang tidak memerhatikan Hitsugaya yang juga dalam kondisi tidak enak menoleh kebelakang sebentar.
Hitsugaya yang menyadari tingkah Rukia segera menarik tangan gadis itu dan berjalan agak cepat menuju apartemennya. Setelah sampai di apartemennya, Hitsugaya menggiring Rukia untuk menaiki lift. Didalam lift itu hanya ada mereka berdua. Setelah pintu lift itu menutup, Rukia dan Hitsugaya menghembuskan nafas lega.
"Kau menyadari mobil avanza hitam itu juga?" Tanya Hitsugaya sambil bersandar di dinding kaca lift tersebut.
"Tidak, tapi aku merasa ada seseorang yang menatapku dengan intens. Punggungku seperti terbakar karenanya." Tutur gadis Kuchiki yang satu ini.
Ting!
Tidak berapa lama, pintu lift itu terbuka dan mereka keluar dari sana. Mereka berjalan di koridor yang sepi itu. "Hei, sebenarnya di koridor ini ada orang tidak sih? Kenapa sepi sekali?" Tanya Rukia yang penasaran.
Klik!
Pintu rumah Hitsugaya terbuka dan mereka memasuki rumah itu. Hitsugaya lalu menjawab pertanyaan Rukia, "Tentu saja ada."
Rukia menghempaskan tubuhnya keatas sofa empuk yang ada disana. Matanya ia pejamkan untuk merilekskan pikirannya yang penat akibat orang aneh yang membuntutinya terus. Belum pernah ia rasakan hal ini sebelumnya.
"Ini!" Hitsugaya melempar sebuah minuman kaleng kepada Rukia. Rukia segera membuka mata dan menangkapnya dengan lihai, sehingga kepalanya tidak bersentuhan dengan kaleng itu.
"Hei, itu berbahaya tahu!" Rukia menatap Hitsugaya dengan alis yang menukik keatas tanda ia sedang marah. Hitsugaya yang sedang berdiri dihadapannya sambil meminum isi dari kaleng itu hanya menyambutnya dengan pandangan datar nan dingin yang terkenal itu.
"Sudahlah!" Rukia kembali menghempaskan tubuhnya keatas sofa yang empuk itu dan membuka minuman bersoda itu. Ia teguk isinya dengan rakus.
"Jadi," Hitugaya duduk disebelah Rukia sambil mengambil remote TV yang ada di meja bundar didepannya itu, "apa isi buku itu?"
"Belum ada yang menarik sejauh ini. Jika sudah menemukan hal yang menarik, baru aku akan memberitahumu." Rukia meletakan tas selempangannya diatas meja bundar itu bersebelahan dengan kedua minuman kaleng yang tinggal sedikit isinya.
Hitsugaya hanya diam sambil menekan tombol-tombol yang ada di remote itu seolah-olah ia tidak menganggapi pernyataan gadis disebelahnya itu. Tanpa sengaja ia melihat acara berita favoritnya. Ia berhenti dan menonton acara itu.
"Jadi bagaimana perasaan Anda setelah menjadi CEO baru dari Kuchiki.corp?" Seorang pembawa acara berpakaian jas lengkap mewawancarai seorang gadis berambut cepol dengan iris hazel. Rukia melirik televisi itu dan meninggalkan apa yang sejak tadi ia kerjakan.
"Saudaramu." Ucap Hitsugaya yang lebih mirip pernyataan daripada pertanyaan. Rukia hanya mengangguk pelan sambil menonton acara itu.
"Aku harap ia dapat menjalankan bisnis itu dengan baik." Tanpa Rukia sadari, ia bergumam pelan.
"Sebenarnya aku ingin kakak yang mengurus ini, tapi karena ia tidak pandai berbisnis mungkin ayah memutuskan untuk memberikanku warisan berupa perusahaan ini." Rukia hanya menonton TV 40 inch itu dengan tatapan yang tidak dapat diartikan.
"Lalu dimana kakakmu sekarang?" Pembawa acara tadi kembali bertanya.
"Kuharap aku tahu itu." Hinamori menjawab dengan ekspresi sedih. Tiba-tiba saja televisi itu berganti channel menjadi channel musik.
"Hei!" Pekik Rukia sambil menatap tajam Hitsugaya yang menikmati lagu yang diputar acara yang sedang berjalan.
"Ada apa?" Hitsugaya melirik Rukia dengan tatapan yang pura-pura tidak tahu apa-apa.
"Kenapa kau ganti?" Rukia menautkan kedua alisnya. Ia masih ingin melihat acara TV itu. Hitung-hitung mendengar komentar Hinamori mengenai dirinya dan perusahaan.
"Karena itu membosankan." Jawab Hitsugaya acuh tak acuh.
"Aku kira seorang pengacara sangat menyukai berita." Rukia mengejek Hitsugaya.
"Hei, walaupun aku seorang pengacara, aku juga bisa bosan dengan berita. Lagipula umurku ini masih 25 tahun!" Hitsugaya melirik Rukia dengan tatapan menantang.
"Dua puluh lima?" Rukia menoleh cepat kearah Hitsugaya, "Lebih tua 2 tahun dariku." Bisiknya sepelan-pelannya agar Hitsugaya tidak mendengar itu.
Ting tong!
Suara bel terdengar. Hitsugaya bangkit berdiri dari sofa dan berjalan menuju pintu rumahnya itu, sedangkan Rukia hanya melirik pintu berwarna hitam itu dari balik punggung Hitsugaya. Seorang pria berkacamata terlihat bediri didepan pintu itu. Hitsugaya dan pemuda berkacamata itu bercakap-cakap sebentar sebelum akhirnya Hitsugaya mempersihlakan pemuda itu masuk.
"Buatkan dua cangkir teh dan bawa ke ruanganku." Rukia menaikan sebelah alisnya. Belum sempat bertanya apa maksudnya memerintah Rukia seperti itu, Hitsugaya dan pemuda itu menghilang dibalik pintu yang terletak dibelakang TV 40 inch itu.
Rukia menghela nafas dan berjalan menuju dapur. Disana ia membuatkan dua buah cangkir teh hangat. Untungnya di dapur yang bagus itu memiliki teh, walau masih tradisional sih karena teh yang dimaksud masih dalam bentuk daun-daun kecil, bukan teh celup yang biasa ia minum.
"Merepotkan." Rukia membawa kedua cangkir teh itu menuju ruangan dimana Hitsugaya dan pemuda berkacamata itu berada.
Tok. Tok. Tok.
Rukia mengetuk pintu berwarna hitam itu sambil membawa nampan berisi dua buah cangkir teh yang baru saja ia buat. Setelah dipersihlakan masuk oleh Hitsugaya, Rukia membuka pintu hitam itu dan memasuki ruangan tersebut. Rukia berjalan mendekati sebuah meja kaca yang terletak ditengah ruangan itu. Di kedua sisi dari meja kaca itu terdapat sebuah sofa berwarna merah marun. Di masing-masing sofa itu terlihatlah Hitsugaya dan pemuda berkacamata sedang berbincang-bincang. Rukia meletakan kedua cangkir berisi teh buatannya itu diatas meja dan segera undur diri dari ruangan itu.
Setelah Rukia pergi, Hitsugaya memulai percakapan mereka, "Sihlakan diminum tehnya."
"Terima kasih." Pemuda berkacamata dengan rambut biru tua itu mengambil salah satu cangkir dan meminum isinya.
"Jadi apa yang membawa Anda kemari, Tuan..." Hitsugaya menaikan sebelah alisnya.
"Ishida." Jawab pemuda itu sambil menegakan kacamata yang bertengger di hidungnya itu, "Ishida Uryuu."
"Jadi apa yang membawa Anda kemari, Tuan Ishida?" Ulang Hitsugaya.
"Aku perlu jasa seorang pengacara. Aku dengar dari temanku kau adalah seorang pengacara yang hebat." Ishida meletakan cangkir teh yang telah ia minum setengahnya.
"Kasus apa yang ingin Anda selesaikan?" Hitsugaya melakukan hal yang sama.
"Sebenarnya ini bukan kasus biasa, karena ini berhubungan dengan perusahaan besar." Ishida menunduk.
"Perusahaan besar?" Hitsugaya menyipitkan kedua matanya. Sementara itu, diluar ruangan, Rukia sedang berusaha menguping pembicaraan mereka. Ia dekatkan telinganya di pintu yang berwarna hitam itu. Nampan yang ia gunakan untuk membawa cangkir teh tadi ada di pelukannya.
"Ya, ayahku, Ryuuken Ishida bekerja sebagai dokter pribadi Byakuya Kuchiki selama lima tahun." Hitsugaya menaikan sebelah alisnya, "Tapi, ayahku tiba-tiba saja dipecat secara tidak wajar oleh CEO baru perusahaan itu dan aku juga mendengar ayahku meninggal 2 hari setelah CEO lama meninggal."
Diluar sana, Rukia membulatkan matanya sempurna. Ia tahu siapa ayah dari pemuda berkacamata tadi. Seingatnya, ayahnya memang mempunyai seorang dokter pribadi dan kalau tidak salah ingat lagi, dokter itu berada di rumah sakit tempat ayahnya dirawat sebelum meninggal. Ditambah lagi, sepertinya yang menenangkannya saat menangis disamping ranjang ayahnya waktu itu adalah orang yang sama.
"Seharusnya ayahku mendapatkan dana pensiun, tetapi perusahaan Kuchiki sama sekali tidak mau memberikan dana pensiun itu." Rukia menutup mulutnya karena terlalu terkejut. Ayahnya bukanlah tipe orang yang akan menunda dana pensiun kepada orang yang telah bekerja padanya.
"Jadi?" Hitsugaya menghela nafas. Ia tidak akan menyangka bahwa ia akan kembali berurusan dengan perusahaan itu setelah Rukia datang kedalam kehidupannya yang tenang ini.
"Aku mohon! Selesaikanlah kasus ini. Aku tidak berharap uangnya tetapi kami hanya membutuhkan alasan mengapa CEO baru itu memecat ayahku tanpa pemberitahuan sebelumnya." Ishida menunduk dalam didepan Hitsugaya tanda ia benar-benar meminta pertolongan.
"Baiklah." Hitsugaya menghela nafas panjang, "Rukia!"
Rukia yang sedang menguping, terlonjak kaget dan segera membuka pintu, "A-ada apa?" tanya Rukia tergagap. Apa ia ketahuan menguping?
"Tolong ambilkan formulir yang ada di rak nomor dua." Hitsugaya menunjuk sebuah rak yang terletak dibelakang sofa yang didudukinya dengan ibu jarinya.
"B-baiklah!" Ternyata dugaan Rukia meleset. Ia kira Hitsugaya tahu bahwa ia sedang menguping pembicaraan mereka. Rukia mengikuti perintah Hitsugaya dan membuka rak yang dimaksud dan mengambil selembar kertas yang ada didalamnya. Rukia meletakan formulir dan sebuah pena yang ia dapatkan didekat rak tadi diatas meja kaca itu, "Tolong isi formulir ini." Tutur Hitsugaya kepada pemuda berkacamata itu, "Dan kau bisa kembali keluar." Tuturnya pada Rukia.
Rukia menautkan kedua alisnya. Setelah membuatnya terkejut setengah mati dan diminta mengambil hal sepele yang dapat ia lakukan sendiri, sekarang ia malah diminta keluar. Walaupun memang kesal namun ia masih mengikuti perintah Hitsugaya dan keluar dari ruangan itu.
"Apa-apaan sih dia?!" umpat Rukia setelah ia keluar dari ruangan itu. Ia berjalan menuju dapur dan meletakan nampan itu.
Rukia kembali ke sofa yang berada di ruang tamu. Ia mengambil iPod yang baru saja ia beli sebelum datang ke Jepang. Ia pasang earphone di telinganya dan memutar sebuah lagu. Seiring lagu diputar, ia mengantuk-antukan jarinya ke sofa seraya menikmati dentuman musik itu. Tak lama kemudian, pintu ruang kerja Hitsugaya terbuka. Seorang pemuda yang mengaku bernama Ishida Uryuu itu keluar bersama Hitsugaya. Mereka berjalan menuju pintu keluar. Hitsugaya mengantar pemuda itu pergi sebelum kembali duduk di sofa sebelah Rukia.
"Kau sudah mendengar percakapan kami, bukan?" Hitsugaya duduk disebelah Rukia seolah-olah ia mengatakan hal yang tidak memalukan. Mungkin baginya itu tidak memalukan, namun bagi Rukia itu sangat memalukan karena ia ketahuan menguping.
"E-eh? A-apa mak-maksudmu?" Tanya Rukia tergagap.
"Jangan berbohong. Kau menguping kan tadi?" Hitsugaya tepat sasaran. Sekarang Rukia terpojok. Wajahnya agak memerah karena malu. Siapa yang tidak malu jika ketahuan menguping?
"Memangnya kenapa?" Rukia berbicara dengan nada yang dibuat-buat sombong, "Aku kan penasaran. Bukankah itu wajar?"
Hitsugaya menghela nafas, "Untuk apa menguping? Pada akhirnya aku akan memberitahumu juga."
"Kenapa begitu?" Tanya Rukia dengan polosnya.
Hitsugaya menepuk keningnya sebentar sebelum menjawab pertanyaan Rukia, "Duh! Kau ini adalah asistenku, jadi kau akan tahu semua yang akan aku kerjakan."
Rukia bungkam. Hitsugaya diam. Mereka terjebak dalam keheningan.
"Hei!" Rukia menoleh kearah Hitsugaya yang memanggilnya, "Kita akan menemui pemuda itu besok. Dia tinggal di apartemen ini juga, jadi lebih mudah. Tapi sepertinya ia akan meminta kita kembali ke Inggris untuk mengurus masalahnya."
"Kembali ke Inggris? Tapi..." Perkataan Rukia terputus.
"Kalau kau tidak mau juga tidak apa-apa. Aku akan kesana sendiri." potong Hitsugaya dingin.
"Tapi..." Rukia langsung bungkam untuk kedua kalinya. Ia bingung. Apa ia harus ikut atau tinggal?
"Pikirkan baik-baik. Aku tidak akan memaksamu." Hitsugaya mengambil buku catatan yang baru saja mereka temukan dan membaca isinya.
Rukia tenggelam dalam pikirannya, sedangkan Hitsugaya membaca buku catatan itu dengan teliti. Mereka untuk kesekian kalinya terjebak dalam keheningan. Namun yang membedakan adalah pikiran mereka. Mereka tenggelam dalam pemikiran mereka masing-masing.
"A-aku..." Rukia menoleh kearah Hitsugaya yang membaca buku itu dengan serius, "Aku akan ikut!"
Hitsugaya menoleh kearah Rukia. Pandangannya sedingin es di kutub utara, "Apa kau yakin?"
"Ya! Aku sudah sangat yakin! Tapi..." Rukia melirik kearah Hitsugaya dengan lirikan licik.
"Tapi...?" Hitsugaya menaikan sebelah alisnya.
"Aku akan menyamar." Rukia tersenyum lebar sampai menunjukan deretan gigi putihnya.
"Menyamar?" Hitsugaya menoleh kearah Rukia dengan cepat. Mulutnya terbuka sedikit, namun sebelum mengeluarkan sepatah katapun, Rukia langsung melanjutkan kalimatnya.
"Iya. Aku tidak mungkin tampil didepan Hinamori kan?" Rukia tersenyum kecil.
"Ya." Hitsugaya menatap Rukia dengan dingin, namun Hitsugaya tahu maksud dari senyuman itu.
"Terima kasih telah membantuku!" Rukia tersenyum cerah.
"Hn." Balas Hitsugaya pendek.
.
.
.
Burung-burung bernyanyi untuk memuji nama Tuhan. Angin musim gugur yang agak dingin membuat orang-orang tidak ingin meninggalkan kasur dan selimutnya yang hangat walaupun matahari diluar sana bersinar cerah. Daun-daun yang menguning mulai terlepas dari dahannya karena tiupan angin musim gugur yang kencang. Namun keheningan di pagi yang damai dan indah ini dipecahkan oleh sebuah teriakan seorang wanita.
"KYAAAAAA!"
Segerombolan orang yang kebetulan lewat atau mendengar suara teriakan wanita itu langsung berlari menuju lokasi. Langkah-langkah kaki yang jumlahnya tak terhitung itu menghampiri seorang gadis dengan kacamata berbingkai merah. Gadis itu berdiri didepan pintu yang terbuka lebar. Mata gadis itu menyiratkan rasa takut yang luar biasa. Tangannya ia gunakan untuk menutup mulutnya agar ia tidak muntah di tempat. Orang-orang yang ada berusaha menenangkan gadis itu namun hasilnya nihil. Di antara salah satu orang yang ada disana segera menelepon polisi. Didalam ruangan itu terlihatlah seorang pemuda dengan rambut biru tua dan kacamata yang masih bertengger di matanya terkapar tidak berdaya di lantai. Darah berada disekitar bagian kepala pemuda itu. Mata pemuda itu terbuka seolah-olah ia terkejut.
Tidak lama kemudian, beberapa orang yang memakai pakaian kepolisian sampai dan meminta orang-orang yang ada membuka jalan. Dua diantara mereka memasang garis polisi disekitar lokasi kejadian, sedangkan yang seorang sedang menggiring gadis yang berambut pendek itu keluar dari lokasi kejadian. Gadis itu telah melihat apa yang seharusnya tidak ia lihat.
Diantara polisi-polisi itu, ada seorang pria dengan jas lengkap dan rambut oranye yang mencolok. Pria itu memerintahkan beberapa tim medis yang ia bawa saat menuju apartemen itu. Dengan cekatan, tim medis segera mengangkat tubuh pemuda itu dengan hati-hati. Pria berambut oranye itu memeriksa bekas korban pembunuhan itu dengan teliti. Dengan sarung tangan putih, ia mulai mencari petunjuk disekitar lokasi kejadian dibantu oleh rekan-rekannya sesama polisi.
Di tempat yang tidak jauh dari lokasi, Hitsugaya dan Rukia berjalan menuju tempat Ishida tinggal. Ketika mereka sampai, mereka melihat beberapa orang mengerumuni ruangan itu bagaikan semut yang menemukan sumber gula. Rukia dan Hitsugaya saling berutkar pandang sebelum berlari ke tempat itu. Tempat itu sangat ramai sehingga Hitsugaya dan Rukia sulit memasuki ruangan yang sudah bisa mereka pastikan adalah tempat Ishida tinggal.
Rukia yang tidak berhasil menyelip diantara kerumunan orang-orang itu kembali kebelakang, sedangkan Hitsugaya sudah sampai dibagian depan kerumunan orang-orang itu. Rukia menghela nafas sebentar sebelum mencolek pria yang ada didepannya.
"Permisi Tuan, apa yang terjadi?" tanya Rukia kepada seorang pria berkumis yang berdiri didepannya.
"Terjadi sebuah pembunuhan. Korbannya adalah pria pemilik kamar ini." jelas pria itu.
"Pembunuhan?!" Rukia membulatkan matanya. Tangan kanannya menutup mulutnya.
Baru saja kemarin ia melihat pemuda yang bernama Ishida itu, sekarang ia sudah meninggal. Yang lebih kejam adalah ia meninggal karena dibunuh. Rukia hanya bisa berdoa untuk arwah Ishida agar ia diterima di sisi Tuhan Yang Maha Esa. Rukia yang sudah selesai berdoa berusaha menyelip lagi dan kali ini usahanya berhasil karena ia sudah sampai didepan kerumunan orang itu. Ia mencari-cari Hitsugaya dari belakang garis polisi yang terpasang. Tidak berapa lama akhirnya ia melihat rambut putih yang familiar. Ya, itu adalah Hitsugaya. Ia sedang berbicara dengan seorang pemuda yang memiliki tinggi yang ehem cukup berbeda dengan Hitsugaya. Mereka terlihat serius. Dan di detik berikutnya Hitsugaya menoleh kearahnya dan melakukan jestur yang mengatakan untuk kesana. Polisi yang berjaga didekat sana agar kerumunan orang-orang itu tidak masuk ke lokasi kejadian memberikan izin Rukia.
Setelah ia sampai disana ia dikenalkan kepada pria berambut oranye itu, "Ini adalah inspektur Ichigo Kurosaki. Ia yang menangani kasus mengenai Ishida."
"Namaku Rukia. Salam kenal." Rukia mengulurkan tangannya untuk jabat tangan dan inspektur yang mengaku bernama Ichigo itu melepas sarung tangan putihnya lalu menjabat tangan Rukia.
"Jadi bagaimana, Kurosaki? Apa kau menerima tawaranku?" Tanya Hitsugaya yang sedaritadi hanya melihat interaksi diantara asistennya dengan inspektur ini.
"Boleh saja." Jawab Ichigo dengan nada menantang.
Rukia yang tidak mengetahui apa-apa hanya memandang dua pria itu dengan tatapan bingung. Ia tidak seluk beluk perkara yang mereka bicarakan sama sekali. "Er..sebenarnya kalian ini membicarakan tentang apa sih?"
"Aku menawarkan bantuanku untuk memecahkan kasus pembunuhan ini." Jawab Hitsugaya santai, sedangkan Rukia menatap Hitsugaya dengan pandangan tidak percaya. "Ishida adalah client dan sebagai pengacara, aku memiliki hak." Lanjutnya.
"Oh." Rukia tidak tahu harus berbicara apa jadi ia hanya menjawabnya dengan singkat.
"Kalau begitu, bisa kita bicarakan ini semua di kantorku?" Tawar Ichigo.
"Eh? Bagaimana dengan semua ini?" Tanya Rukia sambil melihat lokasi kejadian. Garis putih yang mirip bentuk tubuh manusia terlihat di lantai dekat tempat ia berdiri.
"Biar anak buahku saja. Kita akan membicarakan hal yang lebih penting lagi." Ichigo mengibaskan tangannya didepan wajahnya sambil memejamkan matanya.
"Pak, mobil sudah siap digunakan." Salah seorang polisi mendekati mereka dan berbicara pada Ichigo.
"Terima kasih. Kau bisa lanjutkan pekerjaanmu." Titah Ichigo dan polisi itu menunduk singkat lalu kembali ke pekerjaannya.
"Ayo kita jalan." Ichigo berjalan keluar dari loksi kejadian menuju lantai satu diikuti oleh Hitsugaya dan Rukia dibelakangnya.
.
.
.
Mobil polisi itu berjalan stabil di jalanan kota Tokyo. Tanpa terasa, mereka sudah sampai di gedung tempat polisi bekerja. Gedung itu sangat besar dan didominasi oleh warna biru muda. Mereka turun dari mobil polisi dan berjalan menuju gedung itu. Ketika memasuki gedung itu, banyak orang yang berpakaian polisi member hormat kepada Ichigo dan Ichigo hanya membalasnya sekenanya saja. Lalu mereka dibawa ke sebuah ruangan yang cukup besar namun berantakan, di lantai dan diatas meja beserakan banyak ketas, yang ditafsirkan sebagai ruang kerja Ichigo.
"Sihlakan duduk." Ichigo menunjuk sebuah sofa ditengah ruangan itu yang tidak tertutupi oleh kertas sama sekali. Hitsugaya dan Rukia menurutinya. Mereka memposisikan diri di tempat yang nyaman.
"Baiklah," Ichigo duduk di kursinya yang berada di belakang meja kerjanya, "mari kita bicarakan kerja sama kita."
"Mudah saja." Hitsugaya duduk di sofa yang tersedia di tempat itu dan Rukia duduk disebelahnya. "Aku akan ikut dalam kegiatan detektif yang menangani kasus ini." Hitsugaya melirik inspektur berambut oranye itu.
"Boleh saja. Tapi.." Ichigo yang duduk dengan santai di kursi kerjanya melirik Hitsugaya dengan tatapan yang tidak dapat diartikan Rukia, "apa kau bisa menjadi detektif? Aku takut kau menghalangi anak buahku ketika mereka bekerja."
Hitsugaya menarik bibirnya keatas. Ia tersenyum kecil dan angkuh. "Jangan remehkan aku, inspektur Kurosaki."
Rukia seperti melihat sisi lain dari pengacara muda kepercayaan ayahnya ini. Sisi dimana pengacara itu menjelma menjadi seorang pangeran yang angkuh. Rukia menggeleng sebentar karena pikirannya sudah mulai ngelantur.
Tok. Tok. Tok.
Suara ketukan pintu terdengar. Semua orang yang ada didalam ruangan itu langsung mengalihkan perhatiannya kearah pintu yang diketuk itu. Setelah diizinkan untuk masuk, seorang pria masuk kedalam ruangan itu dan memeberitahu apa yang ia inginkan.
"Maaf, pak!" Pria itu memberi hormat kepada Ichigo yang hanya menanggapinya dengan anggukan kecil, "Ada seorang gadis ingin menemui Anda."
"Gadis?" Ichigo menaikan sebelah alisnya.
"Betul. Ia mengaku sebagai teman dari korban pembunuhan yang baru saja terjadi." Pria itu berbicara dengan nada yang lantang sehingga membuat Rukia ingin menutupi telinganya yang malang. Namun alih-alih menutup telinganya, ia hanya membiarkannya saja. Sebuah hal yang tidak sopan jika ia benar-benar menutup telinganya.
"Persihlakan ia masuk." Suara lantang pria itu digantikan oleh suara berat Hitsugaya.
Pria yang memberi informasi itu melihat kearah Ichigo dengan tatapan heran. Namun semua pertanyaan itu hanya ditelan pria itu dalam tenggorokannya ketika Ichigo menyetujui perkataan Hitugaya. Pria itu memberi hormat lagi sebelum undur diri. Selang beberapa detik, pintu itu kembali terbuka dan menampakan seorang gadis berambut pendek sepundak dengan warna merah gelap dan kacamata yang bertengger di hidungnya.
"N-namaku Chizuru Honzo." Gadis itu menunduk tanda hormat, "Aku teman dari Ishida Uryuu sekaligus orang yang menemukan mayatnya."
"Sihlakan duduk." Ichigo mempersihlakan gadis yang bernama Chizuru itu duduk di sofa yang masih ada.
Rukia memerhatikan gadis itu baik-baik. Wajah gadis itu sendu dan terlihat sedih. Matanya memandang ke lantai yang ada. Selama sesi tanya jawab yang berlangsung didalam sana, Chizuru menceritakan asal mula ia menemukan jasad Ishida dan hubungannya dengan pemuda berkacamata itu. Ternyata mereka adalah teman kecil.
"Apa ada yang kau curigai?" Hitsugaya bertanya kepada Chizuru dengan gambling. Yang ditanya langsung mendongak dan melihat Hitsugaya. Ichigo yang sedaritadi ikut andil hanya cengo melihatnya. Rukia juga hanya bisa menepuk jidatnya pelan.
"A-aku tidak tahu." Jawab Chizuru takut-takut. Melihat kejadian itu, Rukia segera bangkit berdiri dan berjalan mendekati Chizuru kemudian duduk disebelah gadis itu. Ia menggenggam tangan gadis itu agar ia tidak takut lagi.
"Santai saja." Dengan suara pelan, Rukia membisikan kata-kata penguatan itu. Chizuru yang menatap Rukia mengangguk mantap.
Sesi tanya jawab itu berlangsung selama 1 jam. Ichigo dan Hitsugaya memborbardir gadis malang itu dengan banyak pertanyaan, sedangkan Rukia hanya membantu Chizuru untuk menghilangkan rasa takutnya. Setelah selesai, Chizuru pulang ke rumahnya diantar polisi yang merupakan anak buah Ichigo.
Didalam ruangan itu, Ichigo dan Hitsugaya sedang mengolah informasi yang baru saja mereka dapatkan dan Rukia hanya bisa menggelengkan kepalanya karena sifat 2 pemuda yang sudah dewasa itu. Mana bisa seorang gadis yang baru saja melihat kawannya tewas dibunuh ditanyakan berbagai pertanyaan yang membutuhkan kesabaran dan kekuatan untuk menjawabnya? Rukia tidak habis pikir.
Suara pintu kembali terdengar. Orang-orang yang sedaritadi sibuk dengan pikirannya masing-masing segera mengalihkan perhatian mereka ke pintu yang diketuk itu. Setelah diizinkan, pria yang tadi membawa Chizuru langsung masuk dan memberitahu tujuannya.
"Kami berhasil menangkap pencuri yang mencopet turis-turis asing." Pria itu berbicara dengan suara lantang. Ichigo langsung berdiri dari kursinya, Hitsugaya menatap pria itu, dan Rukia langsung menoleh kearah pria itu.
"Dimana dia?" Ucap ketiga orang itu secara bersama-sama. Pria yang dilontarkan pertanyaan langsung ciut seketika sebelum menjawab pertanyaan itu dengan suara yang kecil.
Ketiga orang itu saling berpandangan sebelum berjalan keluar dari ruangan itu. Dengan langkah bagai kaki rusa, ketiga orang itu menyusuri kantor polisi untuk mencapai tempat tujuannya. Setelah sampai, Rukia melihat 2 orang pria yang sangat ia kenali.
"Kalian?!" Rukia menunjuk kedua pria itu sebelum berderap maju dan mencengkeram kerah baju salah satu pria tersebut. "Dimana koperku?!" ucap Rukia geram.
"Nona, apa kau salah satu korban mereka?" tanya salah satu polisi yang bertugas menangani kedua pria itu.
"Benar." Jawab Rukia mantap.
"Cobalah cari koper Anda disalah satu tumpukan koper yang berhasil kami selamatkan." Polisi itu menunjuk beberapa koper yang ada dibelakangnya. Rukia segera berjalan menuju tempat itu dan mencari kopernya. Ia agak kesulitan mencari kopernya karena hampir semua koper yang ada berwarn hitam. Setelah beberapa menit akhirnya ia menemukan kopernya.
"Cih. Akhirnya ketemu." Hitsugaya berkomentar. Rukia yang akhirnya menemukan kopernya memeriksa kelengkapan isinya sebelum membalas pernyataan Hitsugaya.
"Terima kasih, pak." Rukia menunduk hormat sambil tersenyum. Ia tersenyum seperti seseorang yang memenangkan lotre keliling Eropa.
"Itu sudah tugas saya." Polisi itu membalasnya dengan senyuman.
"Jadi kau korban pencopetan?" Ichigo bertanya penuh selidik.
"Iya. Memang kenapa?" Rukia bertanya balik dengan ketus.
"Tidak apa-apa." Rukia menaikan alisnya ketika mendengar jawaban ambigu itu.
"Sudah selesai kan?" Hitsugaya bertanya sambil memasukan kedua tangannya ke saku celananya, "Aku mau pulang."
"Ok."
Hitsugaya dan Rukia berjalan keluar dari ruangan itu dengan Rukia yang menarik kopernya. Ichigo yang baru tersadar dengan kejadian yang ada hanya cengo dengan kedua orang itu. Ia hanya bisa bergumam, "Mereka tinggal seatap?"
.
.
.
Di sebuah ruangan yang hanya ditemani dengan lampu di meja operasi, 4 orang yang berpakaian jubah operasi yang berwarna hijau merapat ke dinding ruangan tersebut. Salah seorang diantara mereka berusaha memanggil security yang berjaga dengan alat komunikasi khusus yang ada di ruangan itu, sedangkan ketiga orang lainnya hanya menatap ngeri apa yang ada dihadapan mereka.
Seseorang berpakaian serba hitam dengan penutup mulut berwarna senada membawa katana di tangan kanannya. Mata orang itu menatap mereka dengan tatapan yang tidak dapat dibaca. Inginnya mereka keluar dan meminta pertolongan, namun naas, pintu yang ada disana sudah dikunci dari luar dan sepertinya pelaku yang mengunci pintu itu ada di hadapan mereka saat ini. Dapat dilihat diatas meja otopsi, sebuah jenazah yang sudah tidak berbentuk lagi. Mereka, orang-orang yang berpakaian putih, dipaksa melihat mutilasi secara langsung. Tangan dan kaki jenazah itu sudah terpisah dari tempatnya. Isi lambung dan usus orang itupun sudah keluar kemana-mana.
Orang yang menjadi pelaku pemutilasian jenazah itu berjalan mendekati mereka dengan katana yang berlumuran darah. Ia angkat katana itu sedikit untuk mengambil ancang-ancang menusuk lawannya. Keempat orang itu terkurung. Mereka tidak bisa lari kemanapun lagi. Mata orang itu memincing sambil melihat keempat calon korbannya.
"...ha...lo..." Suara terdengar menggema di ruangan itu. Ternyata orang yang sedaritadi mengutak-atik alat komunikasi itu telah berhasil tersambung dengan security yang berjaga mala mini. Suara yang terdengar dari alat komunikasi itu seperti telepon genggam yang sedang mengalami gangguan sinyal.
Ketika mendengar suara itu, sang pelaku langsung berlari cepat menuju 4 korbannya dan menebas kepala mereka dengan cepat. Tidak ada suara jeritan sedikitpun. Yang ada hanyalah suara ayunan pedang khas samurai Jepang itu dan bau amis darah serta suara darah merah itu keluar dari tubuh yang tidak bernyawa lagi sehingga mengotori lantai dan dinding yang dijadikan tumpuan hidup mereka untuk yang terakhir kalinya.
.
To Be Continued
.
Author Note :
Saya sudah tidak tahu lagi mau dimasukan ke rate apa fic ini sebenarnya. Ini T plus plus lah karena adegan terakhir yang menurut saya kurang feel-nya. Lempari saya tomat sekarang!
