Hatsukoi (Cinta Pertama)
DISCLAIMER : Masashi K. I do not own Naruto
WARNING : OOC(?), SEMICANON, TYPO(S), GAJE, SPOILER GAARA HIDEN, etc.
.
.
.
.
.
.
Just enjoy the story ^.^
Don't Like? Don't Read, Simple kan? :D
.
.
.
.
.
.
.
Chapter 3
Pria dengan jubah merah itu terus memacu langkahnya di atas pasir. Ia tak peduli jika tubuhnya teramat lelah setelah melewati pertarungan dengan musuh yang cukup kuat. Mantan murid ayahnya sendiri. Tapi dia adalah seorang kazekage, tidak akan menyerah hanya karena keadaan fisik yang sedang tidak stabil. Sabaku Gaara terus memacu langkahnya menuju kembali ke desa yang ia pimpin.
Gaara tak sendiri, ia diikuti oleh kakak tertuanya beserta tunangannya – Nara Shikamaru yang ternyata membawa beberapa shinobi menyusul Gaara yang nekat mengejar tunangannya seorang diri. Tetapi sesampainya di sana keduanya sudah terlambat. Gaara telah melenyapkan musuh mereka sekaligus calon istrinya. Temari dan Shikamaru terkejut mendengar pengakuan Gaara, jika ia telah membunuh keduanya. Ketika Temari meminta penjelasan tentang apa yang sebenarnya terjadi, adik bungsunya itu mengatakan akan menceritakan semuanya ketika tiba di Suna.
Pria dengan tato 'Ai' di dahinya tiba di Suna dengan selamat. Beberapa Jounin dan Anbu bahkan sudah menyambutnya di depan gerbang dengan banyak pertanyaan. Terutama tentang keadaan pemimpinnya itu. Tapi sekali lagi Gaara tak peduli dengan kondisinya, ia merasa dirinya baik-baik saja. Hanya beberapa luka kecil ditubuhnya.
"Dimana Matsuri di rawat?"
Bagai ditodong senjata, petugas yang berada di bagian informasi rumah sakit Suna terkejut pemimpin mereka tiba-tiba datang berkunjung dan malah menanyakan mantan muridnya.
"Dimana?" tanya Gaara dengan nada suara tak sabaran melihat petugas rumah sakit itu masih terbengong-bengong.
"Eh…i..itu, Matsuri-san baru saja di pindahkan ke paviliun kaktus nomer 405, Gaara-sama." Jawabnya tergagap.
Tanpa mengucapkan terima kasih, Gaara kembali melangkahkan kakinya tergesa menuju pavliun kaktus seperti yang dibilang petugas rumah sakit itu. Bahkan ia tak menghiraukan sapaan para pegawai di sana. Yang ada dipikirannya saat ini hanyalah Matsuri. Mengingat keadaan terakhirnya sekarat karena terkena racun saat berusaha melindunginya. Tapi jika Matsuri sudah dipindahkan ke pavilun, itu artinya petugas IGD sudah berhasil menangani racunnya.
Gaara mengurungkan niatnya untuk langsung masuk ke dalam ruangan ketika mendengar suara seorang pria dari dalam kamar tempat dimana Matsuri dirawat. Ia mengintip dari celah pintu yang tak tertutup sempurna. Kedua matanya menyipit saat mengenali sosok pria yang tengah duduk di samping ranjang mantan muridnya itu. Dia adalah salah seorang Anbu yang diutusnya untuk segera membawa Matsuri kemari.
"Segeralah sadar Matsuri-san." Pemuda bernama Rei itu mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna hitam. "Aku tidak sabar untuk segera melamarmu." Ia mengakhiri dengan terkekeh kecil sembari mengeratkan genggaman tangan kanannya pada telapak tangan Matsuri yang masih belum sadarkan diri.
Tanpa sadar Gaara mengepalkan kedua tangannya yang berada di kedua sisi celananya. Ia merasa ada sesuatu yang bergejolak di dadanya. Ia merasa marah sekaligus sedih. Seharusnya ia tak merasakan hal ini, tapi kita tak bisa mengatur perasaan bukan?
Akhirnya Gaara memilih mundur dan menyingkir dari situ untuk menghilangkan gemuruh tak terdefinisi di dadanya.
.
.
.
.
- oOo -
Disinilah letak perbedaan dirinya dan orang lain. Disaat orang lain bebas mengekspresikan bagaimana perasaan mereka, ia ditahan untuk itu. Sekali lagi dia adalah kazegake. Untuk itulah kendali penuh pada emosinya diperlukan untuk menyelesaikan masalah desa.
Pertunangannya adalah salah satunya. Kali ini ia tak akan menjadi orang angkuh dan tak peduli lagi seperti dirinya di masa lalu. Gaara masih ingat kata demi kata yang diucapkan oleh Shigezane di saat terakhirnya, karena itu ia harus bisa mengesampingkan perasaannya. Ini saatnya perannya sebagai Kazekage kembali lagi.
Gaara menatap sesaat ruang rapat yang biasa ia gunakan rapat bersama para petinggi. Ia menarik napas lalu menghembuskannya perlahan. Lalu membuka pintu ruang rapat itu.
"Kankuro-nii"
Kakak keduanya menoleh mendengar panggilan dari adik bungsunya sambil menyeringai. Ya, tentu saja ada hal yang ingin ia sombongkan pada adiknya itu.
"Cepat sekali kau datang? Masalah di sana sudah selesai?" tanya Kankuro santai. Gaara mengangguk.
Pemimpin Suna itu berjalan mendekat ke arah salah satu tetua yang menatap takut padanya. Sesuai dengan rencananya, penangkapan tetua yang selama ini selalu mendukungnya – Toojurou. Gaara selalu berusaha untuk percaya pada seseorang setelah sekian lama ia tak dapat mempercayai siapapun. Tapi ia tetap tidak bisa menghilangkan sifat waspadanya.
Toojurou – salah satu tetua Konoha yang sangat mengenalnya ternyata menghianatinya.
"Ga..Gaara kau juga terlibat? Kau menjebakku?!" teriak Toojurou marah besar.
Kankuro tertawa keras. "Bukan hanya terlibat, tetapi dialah yang merencanakan semua ini. Toojurou-sama."
"Pemungutan pajak secara illegal, pertunangan palsu, dan juga rencana pembunuhan terhadap kazekage. Hukuman apa yang lebih pantas dari sebuah kematian. Benar kan Gaara?" Kankuro melirik Gaara yang sedari menatap datar Toojurou.
"Aku tahu kesalahanku di masa lalu masih tidak terbayarkan meski aku menjadi kazekage seumur hidup. Tapi seorang shinobi harus bisa mengendalikan emosinya, rasa kebenciannya. Rasa kehilangan memang menimbulkan kebencian. Dan aku tidak menyalahkanmu atas hal itu." Ucap Gaara mengambil jeda sesaat.
"Tapi…" kilatan tajam terlihat dikedua jade-nya, "Aku tidak bisa membenarkan perbuatanmu terhadap warga Suna, lebih tepatnya klan Houki. Kau merancang seseorang agar mau melaksanakan rencanamu dengan mengorbankan kebebasan mereka."
"Aku mengerti." Ucap Toojurou menundukkan wajahnya, "Aku hanya begitu bodoh karena tak bisa mempercayakan Suna pada generasi baru hanya karena kalian tak cukup pengalaman. Seharusnya aku tak melakukan itu."
Kankuro memutar bola matanya bosan. Sedangkan Gaara memanggil beberapa Anbu yang berada di depan ruangan untuk masuk dan membawa Toojurou ke dalam ruang interogasi sebelum mendapat putusan hukuman dari pengadilan Suna.
"Terima kasih kak…" ucap Gaara tersenyum tipis pada Kankuro
"Tak perlu berterima kasih. Kau adikku." Jawab Kankuro terkekeh, lalu menepuk bahu Gaara, "lalu bagaimana dengan tunanganmu?"
Gaara menggeleng lemah. "Dia kekasih orang lain Kankuro-nii. Aku tidak akan mengambil apa yang jadi milik orang lain. Jadi…"
"Jangan bilang kalau kau membunuhnya?" Kankuro tergelak.
Gaara tersenyum kecil, lalu menggeleng. "Tidak sepenuhnya benar. Aku memang membuat seolah aku telah membunuh mereka. Aku hanya membuat mereka tersembunyi di dalam pasirku dan memindahkannya."
"Gaara, jawab aku dengan jujur." Kata Kankuro dengan ekspresi wajah serius. Gaara mengangguk. "Apa kau…menyukai Hakuto? Menyukai uh…kau tahu maksudku kan?"
Gaara mengangguk paham. "Ya, aku tahu. Tapi tidak. Aku tidak menyukainya."
Mata kankuro menyipit, membuat Gaara tersenyum geli. "Sungguh aku tidak menyukainya seperti itu. Aku….sepertinya menyukai orang lain." Ada rona merah samar di pipi Gaara.
"APA?! Siapa? Apa aku mengenalnya? Apa dia wanita di desa ini? Katakan padaku, Gaara." Cerca Kankuro heboh.
"Kau akan tahu nanti." Tukas Gaara.
"Tahu apa?"
Sahut seseorang dari arah pintu ruang rapat. Ya, Temari dan Shikamaru baru saja tiba.
Kankuro langsung beringsut mendekat ke arah Temari, membuat Shikamaru hampir terjungkal karena Kankuro menyerobot posisinya.
"Ck. Mendokusai…apa-apaan ini?" keluh Shikamaru.
"Hei, jawab pertanyaanku Gaara, apa yang tidak aku tahu?" tanya Temari penasaran.
"Adik kita ini ternyata menyukai orang lain. Padahal kupikir dia benar-benar jatuh cinta pada Hakuto itu." Perkataan Kankuro sukses membuat Temari terbelalak.
"Benarkah? Tapi siapa?" Gaara akan menjawab tapi Temari bertanya lagi, "sebelum itu, apa kau benar-benar melenyapkan tunanganmu?"
Gaara mendesah. "Kita ke ruanganku saja. Aku akan ceritakan apa yang terjadi di sana."
.
.
.
.
- oOo -
Gadis berhelaian cokelat itu tak menyadari sedari tadi ada seseorang yang tengah mengawasinya dari luar ruangan sambil bersidekap dan tersenyum melihat segala gerak-geriknya. Hari ini tepat satu minggu sejak kejadian penculikan tunangan pemimpin negaranya itu, Matsuri yang mendapat luka cukup serius harus di rawat di rumah sakit hingga satu minggu lamanya. Sebenarnya ia sudah sadar tiga hari setelah koma, tetapi pihak rumah sakit tidak memperkenankannya untuk meninggalkan rumah sakit sebelum masa pemulihan selesai. Sekarang saja ia sudah termasuk melanggar saran dari dokter yang menyuruhnya beberapa hari lagi berada di sini, tapi dia sudah benar-benar tidak tahan dengan bau obat di rumah sakit. Dengan segala cara ia yakinkan dokter yang merawatnya bahwa ia benar-benar merasa sudah sehat.
"Perlu kubantu, Matsuri-san?"
Matsuri menoleh kaget saat tengah memasukkan pakaian terakhirnya ke dalam tas, mendapati seorang lelaki menegurnya. Ia memicing menatap aneh lelaki yang tengah berjalan mendekat ke arahnya. Mencoba mengingat, apakah ia mengenal orang ini?
"Kau…siapa?"
"Ugh! Kau menyakitiku Matsuri-san. Kau tidak bisa mengingat orang yang telah menyelamatkanmu? Itu sungguh perbuatan tidak terpuji." Sindirnya dengan nada bercanda sambil mencengkram erat dada kirinya, seolah merasakan rasa sakit yang luar biasa di sana.
Matsuri memutar matanya. "Maaf sebelumnya jika aku menyinggungmu, Tuan. Tapi aku sungguh-" Matsuri tersentak mengingat sesuatu, pemuda itu menyeringai, "K-Kau Anbu aneh yang bersamaku kan?"
Dia tertawa keras sebelum akhirnya menjawab, "Aku senang akhirnya kau mengingatku, tapi…" ia mencebikkan bibirnya, "kenapa kau menyebutku Anbu aneh sih?"
"Itu karena kepribadianmu yang tidak seperti Anbu pada umumnya." Matsuri mulai jengah menghadapi pria aneh menurutnya ini, memutuskan untuk segera menyambar tasnya dan keluar dari ruangan ini.
"Aku memang unik, beda dari yang lain, Matsuri-san." Sahutnya merebut tas yang dibawa Matsuri dan dengan santainya membawanya keluar.
"Hei?! Mau kau apakan tasku?" Matsuri mengejarnya dengan tergesa, berusaha merebut tasnya dari pemuda itu.
"Rei. Namaku Okuzaki Rei, Nona. Tolong ingat itu." Rei terkekeh melihat Matsuri yang tidak peduli saat ia mengucapkan namanya, sibuk merebut tasnya kembali.
Matsuri mendecak kesal. Sambil berkacak pinggang Matsuri berseru,"Kembalikan cepat!"
Rei menggeleng. "Kau baru saja sembuh, jadi biar aku membantu membawakan tasmu, oke?"
"Aku tidak selemah itu! Lagipula aku merasa sudah sangat sehat."
Rei terus melenggang tanpa mempedulikan Matsuri yang terus memprotes meminta tasnya.
Matsuri menghentikan langkahnya dan menyeringai, "Memangnya kau tahu dimana rumahku?"
Rei menghentikan langkahnya membuat Matsuri kegirangan. Dalam hati ia mendesah lega karena pria aneh di depannya ini akhirnya berhenti juga. Tapi tak selang berapa lama kemudian Matsuri menahan napasnya, saat Rei mendekat dengan sangat cepat. Hingga jarak wajah keduanya hanya terpaut beberapa senti saja. Matsuri bermaksud menjauh tetapi punggungnya berbenturan dengan dinding rumah sakit.
Rei menyeringai, "Lebih dari yang kau duga, Nona." Rei berbalik dan kembali berjalan, meninggalkan Matsuri yang masih tercengang dengan kejadian barusan.
"Mau sampai kapan di situ? Kau harus segera istirahat, Matsuri-san." Matsuri mengerjab lalu menatap tajam Rei yang terkekeh melihat ekspresinya.
"Kau! Ck…menyebalkan!" Matsuri tak lagi ambil pusing dengan tas yang di bawa oleh Rei. Ia hanya ingin segera sampai di rumah dan bisa menjauh dari Anbu aneh satu ini.
Matsuri menatap takjub pada pemuda di depannya. Ia tidak membual mengatakan bahwa ia tahu dimana gadis berpangkat Jounin itu tinggal. Setelah sampai Matsuri bermaksud mengusir Rei secara halus, tapi sepertinya kecerdasaannya sebagai seorang Anbu mampu bersilat lidah, hingga Matsuri akhirnya mengalah dan membiarkannya mampir sebentar di rumahnya.
"Wah…tempat tinggalmu minimalis dan nyaman ya?" Rei memandang takjub ke sekeliling ruang tamu Matsuri.
Matsuri tak menanggapi pujiannya dan berjalan ke arah pantry untuk membuat dua gelas ocha hangat menjamu tamu tak diundangnya ini.
"Terima kasih, Matsuri-san." Ucap Rei dengan senyum tulus saat Matsuri menghidangkan ocha hangat dan beberapa tusuk dango yang sempat dibelinya dalam perjalanan pulang.
"Seharusnya aku yang mengucapkan terima kasih karena kau sudah menolongku waktu itu dan membantuku membawakan tasku." Matsuri menundukkan kepalanya sejenak.
Rei menggeleng, tersenyum geli. "Ya, sama-sama. Sekarang kita impas ya?"
Matsuri terkekeh geli menatap pria jenaka yang duduk di sampingnya ini. Hingga saat ini ia masih saja sulit percaya jika Rei adalah salah satu anggota Anbu dibawah kendali Kankuro. Sebenarnya ia merasa kesal dengan perlakuannya yang seenaknya sendiri, tapi anehnya ia malah merasa senang pria ini begitu baik padanya.
"Ah iya, aku lupa menanyakan bagaimana keadaan Gaara-sama dan tunangannya. Apa berhasil diselamatkan dari penculik itu?" tanya Matsuri setelah menyesap ocha-nya.
Wajah Rei seketika berubah serius, "Hm…sebenarnya aku sendiri tidak tahu apa yang terjadi Matsuri-san, karena ketika kau terluka Gaara-sama memerintahkanku untuk segera membawamu kemari. Tapi dari yang aku dengar dari salah satu teman Jounin-ku, Gaara-sama melenyapkan tunangannya sekaligus kekasihnya."
Onyx Matsuri membelalak, "APA?! Ke..kekasih tunangan Gaara-sama?"
Rei mengangguk sekali lagi. "Kau ingat yang dikatakan komplotan di daerah klan Houki itu?" Matsuri mengangguk cepat, "mereka mengatakan pemimpin mereka bernama Shigezane. Dia adalah kekasih nona Houki. Mereka memang berencana menghianati Gaara-sama."
Matsuri tak bisa menahan keterkejutannya. Ia tak menyangka jika tunangan yang dipilihkan tetua itu berencana menghianati Gaara. Ia tidak tahu harus merasa marah atau sedih mendengar berita ini. Ia yakin mantan sensei-nya itu sedang sangat terluka sekarang, tapi tetap saja mengeksekusi begitu saja tanpa melakukan pengadilan juga tidak dibenarkan kan?
"Aku tidak menyangka jika Gaara-sama akan mengalami hal ini. Tapi kenapa ia bertindak gegabah dengan langsung membunuh keduanya?" ada kilatan marah di kedua netra hitamnya menatap Rei.
"Aku tidak bisa menyalahkan Gaara-sama, karena dihianati orang yang kita cintai bukan sesuatu yang bisa dengan mudah dimaafkan. Mungkin Gaara-sama sedang sangat emosi saat itu hingga ia tidak peduli lagi dan-"
"ITU NAMANYA EGOIS!" potong Matsuri dengan wajah memerah marah, napasnya sampai tersengal menahan emosinya, "Aku tidak menyangka Gaara-sama akan kembali seperti dulu lagi. Kupikir waktu akan mengubah tabitatnya, ternyata aku salah…"
Rei menatap nanar wajah Matsuri yang terlihat begitu kecewa dan terluka. Ia tahu Matsuri adalah bawahan Gaara yang begitu mengaguminya. Dan berita ini pasti membuatnya sangat terpukul. Saat Rei berniat menarik Matsuri yang menunduk dalam rengkuhannya, ia mengurungkan niatnya mendengar Matsuri kembali berbisik lirih.
"…tapi aku begitu bodoh masih mencintainya." Matsuri tak bisa lagi menahan air matanya. Dalam hati ia menertawakan dirinya sendiri yang begitu menyedihkan. Tak peduli Gaara berbuat apapun, dalam hatinya sudah terukir dengan jelas nama sensei-nya itu. Ia jatuh hati pada Gaara, tanpa peduli meski pada akhirnya dia akan terluka.
Pemuda berambut perak disamping Matsuri membisu, tanpa Matsuri sadari Rei mengepalkan tangan kanannya. Tanpa sadar Matsuri tengah mengakui perasaannya untuk Gaara pada orang lain, yang ironisnya memiliki perasaan lebih terhadapnya.
Rei berpikir ia sudah tahu segalanya tentang Matsuri, ternyata ia salah besar. Ia pikir Matsuri hanya mengagumi atasannya itu, ternyata perasaannya lebih dari sekedar mengagumi.
Matsuri cepat-cepat menghapus air matanya ketika menyadari kebodohannya mengatakan mengenai perasaannya pada orang lain. Ia tertawa hambar, "Eh…kenapa aku jadi bicara melantur begini ya? Lupakan yang aku katakan barusan, aku hanya bercanda. Hehehe…."
Pemuda Anbu itu memaksakan senyum di wajahnya, dan memberanikan diri menangkup wajah Matsuri dengan tangan kanannya. Matsuri cukup terkejut, tapi ia tak mengelak. Ia menatap dalam wajah cantik gadis di depannya. "Aku bisa membantumu melupakannya."
"A..apa? apa maksudmu?" tanya Matsuri terbata-bata. Rona merah mulai menjalar di wajahnya seiring semakin terkikisnya jarak di antara mereka.
Rei menyunggingkan senyum. "Sudah lama aku menyukaimu, Matsuri-san. Dan aku tidak bohong mengenai aku mengetahui banyak hal tentangmu. Aku akan membantumu melupakannya, bagaimana?"
Matsuri terbelalak mendengar pengakuan Rei. Ia tak menyangka pemuda yang baru beberapa hari dikenalnya ini ternyata menaruh perasaan padanya sejak lama. Dan ia bingung harus berkata apa?
Terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri hingga Matsuri baru menyadari jika rasa kenyal dan dingin di bibirnya adalah bibir Rei yang menempel. Rei telah mencuri ciuman pertamanya.
.
.
.
.
- oOo -
"Kau masih di sini?"
Gaara mendongakkan kepalanya, menatap ke arah pintu ruangan kerjanya yang dibuka kakak keduanya – Kankuro, menatapnya heran karena waktu menunjukkan pukul 8 malam. Biasanya Temari pasti sudah mengomel menyuruh adik bungsunya itu segera pulang.
"Ya, sebentar lagi selesai." Gaara mulai merapikan mejanya, tapi Kankuro menghentikan pergerakan tangannya.
"Jadi siapa?" tanya Kankuro membuat Gaara mengeryit tak paham, "Ck…gadis yang membuatmu seperti ini Gaara? Kau masih tidak mau mengatakannya pada kakak-kakakmu ini."
Gaara mendesah lelah. Ia tahu lagi-lagi pertanyaan ini yang ditanyakan kedua kakaknya. Mereka berdua mendesak Gaara untuk segera mengenalkan gadis yang ia sukai itu. Tapi keadaan tak semudah itu. Dia belum menyatakan perasaannya pada gadis yang telah mencuri hatinya.
"Memangnya aku kenapa?" jade Gaara menatap malas Kankuro.
"Sudahlah! Berhenti mengalihkan pembicaraan Gaara." Kankuro mulai kesal dengan tingkah Gaara yang tak biasanya.
"Aku belum bisa mengatakan pada kalian siapa dia, sebelum aku…" Gaara berdehem mengurangi kegugupannya. Maklum ia baru pertama kali jatuh cinta pada seorang wanita. "Aku menyatakan perasaanku."
Wajah Kankuro yang tadinya murung berubah menjadi menyeringai, lalu ia menepuk bahu Gaara. "Kami berdua selalu mendukungmu, kau tahu? Jadi jangan seperti dulu lagi. Menyimpan masalah sendiri."
Gaara mengulum senyum, mengangguk. "Arigatou, Nii-san."
Pemimpin Suna itu sedikit merasa lega karena kedua kakaknya mempercayai apapun keputusan yang akan dia buat kelak mengenai pendamping hidupnya. Yang terpenting adalah kebahagiaan Gaara. Sekarang saatnya ia menyatakan perasaannya pada Sang mantan murid – Matsuri. Gaara tak peduli apapun jawaban Matsuri nanti yang terpenting dia akan jujur mengatakan perasaannya.
Pemuda berambut merah itu menghentikan langkahnya saat mendengar suara dentingan kunai dan shuriken di tempat pelatihan para calon genin, pelan tapi pasti ia berjalan menuju tempat latihan itu dan betapa terkejutnya mendapati Matsuri dengan peluh yang menetes di wajahnya sedang latihan sendiri? Saat menjelang malam begini?
"Matsuri"
Matsuri menghentikan lemparan kunainya pada sasaran saat mendengar suara yang familiar ditelinganya.
"Ga-Gaara-sama?" Matsuri berusaha menetralisir kegugupannya dengan menunduk memberi hormat pada pemimpin negaranya itu.
"Hm…sebenarnya aku sendiri tidak tahu apa yang terjadi Matsuri-san, karena ketika kau terluka Gaara-sama memerintahkanku untuk segera membawamu kemari. Tapi dari yang aku dengar dari salah satu teman Jounin-ku, Gaara-sama melenyapkan tunangannya sekaligus kekasihnya."
Matsuri menggeleng kuat ketika mengingat perkataan Rei padanya.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Gaara berjalan mendekat, tapi reaksi Matsuri yang justru menjauh darinya membuatnya terkejut.
"Aku uh…maksud saya. Saya sedang latihan Gaara-sama." Jawab Matsuri masih menghindari menatap wajah mantan gurunya itu.
"Menjelang malam seperti ini?"
"Ya." Sahut Matsuri cepat membuat Gaara menatapnya curiga.
"Apa kau sedang ada masalah?" Gaara kembali berjalan mendekat, dan lagi-lagi Matsuri memberikan reaksi yang sama. Sayangnya Gaara tak membiarkan Matsuri kembali menjauh. Ia membentuk dinding pasir tanpa sepengetahuan Matsuri.
"Ga-Gaara-sama…a..apa ini?" Matsuri terkejut mendapati dinding pasir membentang dibelakang tubuhnya. Matsuri semakin ketakutan memeluk tubuhnya sendiri lalu berteriak, "Kumohon berhenti Gaara-sama!"
Gaara membelalak mendengar ini pertama kalinya Matsuri terlihat ketakutan padanya bahkan berteriak padanya.
"Kumohon jangan bunuh aku! Kumohon…" pinta Matsuri dengan derai air mata. Semakin erat memeluk tubuhnya sendiri.
"Apa? Ka..kau bilang aku ingin membunuhmu? Apa maksudmu?!" ucap Gaara setengah berteriak. Ia tak bisa menahan gejolak kemarahan saat Matsuri menuduhnya tanpa alasan.
Hening masih menyelimuti mereka. Tapi beberapa saat kemudian Matsuri mulai memberanikan diri menatap cinta pertamanya itu.
"Apa hanya karena Hakuto-san menghianati Anda, lalu Anda membunuhnya begitu saja tanpa peradilan? Meski dia adalah warga biasa bukan berarti Anda bisa membunuhnya begitu saja?" cerca Matsuri dengan nada suara penuh emosi.
Gaara masih diam menatap Matsuri yang berdiri tak jauh darinya. Ia mulai memahami apa yang membuat mantan muridnya itu menjadi seperti ini.
"Apa ini karena semua tidak berjalan sesuai kehendak Anda, jadi Anda kembali seperti dulu lagi? Kenapa Gaara-sama?" Matsuri tidak tahu apa yang membuatnya memiliki keberanian membentak pemimpin Suna itu. Tapi ia tak bisa menahan kekesalannya atas tindakan tidak adil Gaara pada tunangannya.
"Jadi hanya karena itu?"
"Hanya? Hanya Anda bilang?!" sahut Matsuri kesal. Tanggapan Gaara terkesan menyepelekan tindakannya.
Gaara mengisyaratkan pasirnya membawa Matsuri mendekat padanya dengan cepat. Lalu tiba-tiba saja pasir itu berubah bentuk menyelimuti keduanya.
Gaara menatap Matsuri tajam, mencengkram bahu Matsuri sedikit keras untuk menahannya tak menghindarinya lagi, dan Matsuri membalasnya tak kalah nyalang. Ia tak peduli jika saat ini menjadi akhir hidupnya. Ia tak akan menyesali jika harus mati di tangan orang yang "sial"nya masih dicintainya.
"Berapa lama kita saling mengenal Matsuri?" tanya Gaara dengan suara tenang namun tegas. Matsuri diam mengalihkan tatapan matanya. "Ini pertama kalinya kau menatapku takut seolah aku ini monster seperti dulu."
"Kau bahkan menuduhku tanpa bukti yang jelas. Apa kau tahu kau bisa dihukum atas tuduhan ini?"
Matsuri melirik dan tertawa sinis pada Gaara. "Aku sudah siap meski harus kehilangan nyawaku, Gaara-sama."
Gaara tersenyum licik. Ia masih ingat ia tersenyum seperti ini saat dulu sudah mendapatkan "mangsa"-nya. "Kau akan dihukum seumur hidup tanpa pengampunan, Matsuri. Kau siap menerimanya?"
"Ya" Gaara tak melihat sedikit pun keraguan di kedua netra indah Matsuri.
Raut wajah Gaara berubah lebih rileks dari sebelumnya. Sebenarnya ia ingin tertawa tapi ini bukan saat yang tepat. Ia tak ingin membuat Matsuri makin marah padanya.
"Aku membuat Hakuto dan kekasihnya terkurung dalam pasirku." Gaara terkekeh mengingat itu, "lalu…aku yakin kau tahu apa yang akan terjadi pada mereka bukan?"
Matsuri diam menahan amarahnya. Gaara tahu kedua tangan Matsuri terkepal erat. Lalu dia mendekatkan wajahnya ke telinga Matsuri membisikkannya hal yang mengejutkan.
"Aku membuat mereka terlihat telah terbunuh. Karena sebenarnya mereka telah ku pindahkan ke tempat lain, yang lebih aman."
Iris hitam Matsuri terbelalak. "APA?!"
Gaara menjauhkan wajahnya dari Matsuri dan kembali menatap dalam cinta pertamanya itu. "Yang mengetahui hal ini hanya beberapa orang saja, dan sekarang bertambah satu yaitu dirimu."
Matsuri menggeleng tak percaya. "Aku…aku masih tidak mengerti ini."
"Pertunangan palsu itu direncanakan oleh Toojuro-sama. Dia melakukannya berharap dengan itu akan menggulingkanku dengan mudah. Dia bahkan memanfaatkan putri dari klan Houki dalam rencananya, padahal dia jelas-jelas tahu jika Hakuto telah memiliki kekasih." Jelas Gaara panjang lebar.
Gaara mengernyit menerima tatapan curiga Matsuri. "Kau tidak mempercayai mantan gurumu ini?"
"Tapi…jika Anda tahu Hakuto-san telah memiliki kekasih kenapa Anda mau ditunangkan dengannya? Apa…" Matsuri menundukkan wajahnya yang memerah karena malu dan takut, "Apa Anda menyukainya?"
Gaara tertawa kecil. "Aku sengaja bersikap seolah aku masuk perangkap Toojuro. Agar lebih mudah menangkapnya."
Matsuri hanya bisa menundukkan wajahnya yang memerah karena malu luar biasa sudah menuduh pemuda berambut merah itu tanpa bukti. Tapi disatu sisi ia merasa lega ternyata Gaara tidak kembali menjadi pribadi mengerikan seperti dulu lagi.
"Maafkan aku Gaara-sama."
"Kata maaf saja tidak cukup, Matsuri." Kata Gaara menyeringai tipis.
Matsuri mengangguk lesu. "Ya, Gaara-sama."
.
.
.
.
- oOo -
Kedua Sabaku bersaudara itu menatap heran adik mereka yang auranya berubah dari biasanya. Wajah datar Gaara menjadi lebih sering tersenyum meski tipis, lalu lingkar mata hitam dibawah matanya tidak semakin menghitam dan itu artinya pola tidurnya mulai membaik.
"Gaara" panggil Temari lembut dengan senyum lembut layaknya seorang kakak.
"Ya kak?"
"Kau…baik-baik saja kan?"
Gaara mengangguk mantap. "Apa ada yang salah denganku?"
"Ya, ada yang salah denganmu." Sahut Kankuro, "aku yakin kau salah makan. Ada apa dengan wajahmu itu?" tanya Kankuro sarkastik.
"Memang apa yang salah dengan wajahku?" tanya Gaara datar.
Temari memutar kedua bola matanya. "Kau bisa terus berkilah Gaara. Tapi kita hidup bersama sudah dua puluh tahun, dan itu cukup untuk menghafal peringaimu."
Gaara menyunggingkan senyum tipis. "Ya, kalian benar. Ada hal yang membuatku berubah. Hal yang membuatku menyadari bahwa aku memang butuh seseorang untuk melengkapiku."
Mendengar penjelasan Gaara yang panjang lebar itu Temari dan Kankuro mau tidak mau saling berpandangan heran. Tapi itu tak berlangsung lama, kemudian Temari menatap adik bungsunya itu dengan senyuman lebar.
"Aku senang akhirnya kau benar-benar sudah tumbuh dewasa. Kau tahu apa yang orang dewasa butuhkan, tidak seperti adikku yang lain." Ucapnya sambil melirik Kankuro.
"Apa maksudmu? Memangnya kenapa kalau aku tidak tertarik dengan pernikahan? Kedewasaan seseorang tidak ditentukan lewat pasangan tahu!" protes Kankuro. Temari balas mencibir.
"Jadi siapa gadis beruntung itu?" Kankuro masih sangat penasaran. "Jangan bilang 'kau akan tahu nanti'!"
Gaara tersenyum. "Salah seorang jounin bawahanmu. Matsuri."
"Astaga! Bagaimana aku bisa tidak menyadarinya ya?" gumam Kankuro tak habis pikir.
"Itu karena kau terlalu sibuk dengan kugutsu-mu." Celetuk Temari. Kankuro merengut mendengar ungkapan sinis kakak sulungnya itu. Jade Temari kembali menatap Gaara, "Hei, Gaara. Kau tidak usah pikirkan apapun tentang persiapan pernikahan, biar aku dan kankuro yang mengurus semuanya."
Gaara mengangguk lalu tertawa kecil melihat pertengkaran kedua saudaranya yang masih berlanjut. Ia tak menyangka jika kakaknya menilainya telah mencapai kedewasaan karena sudah menentukan pilihan teman yang akan mendampinginya seumur hidup. Dia memilih Matsuri bukan juga karena pengaruh perjodohan palsu yang disusun oleh mantan tetuanya, tetapi ia baru menyadari jika ada bagian di dalam hatinya yang masih terasa kosong. Dan terisi begitu saja oleh Matsuri. Tak pernah terpikir olehnya untuk mencari seorang istri sebelumnya, tetapi begitu keinginan memilikinya ada, hanya Matsuri satu-satunya yang ia pikirkan.
Bungsu Sabaku itu menatap langit-langit ruangan kerjanya. Pikirannya kembali pada kejadian beberapa waktu lalu dimana ia melamar Matsuri.
"Kata maaf saja tidak cukup, Matsuri." Kata Gaara menyeringai tipis.
Matsuri mengangguk lesu. "Ya, Gaara-sama."
"Aku tidak akan memaksamu menerima hukuman ini. Kau boleh menolak atau menerimanya." Ucap Gaara tenang.
Alis Matsuri mengerut. "Maksud Anda?"
Gaara mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah maroon, kemudian membukanya dan memberikankan isinya pada Matsuri seraya berkata, "Kalau kau bersedia menerimanya, kau bisa memakai ini di jarimu. Tapi jika tidak, kau boleh mengembalikannya padaku."
Matsuri terpaku menatap bingung Gaara dan cincin itu. Ia masih butuh waktu untuk mencerna ini semua. Bukannya seharusnya hukuman penjara yang di dapatnya? Tapi ini kenapa malah sebuah….lamaran?
Matsuri menggeleng kuat. "Aku…aku benar-benar tidak mengerti Gaara-sama. Apa maksud semua ini?"
Gaara mendesah. Ia tahu ia bodoh dalam hal merangkai kata romantis, tapi ia tak pernah main-main dengan apa yang diucapkannya. "Aku sedang melamarmu Matsuri. Dan aku akan memberikanmu waktu untuk-"
"Melamar? Bukankah seharusnya Anda menghukumku?" potong Matsuri cepat.
"Menghukummu atas kesalahan yang tidak kau lakukan?"
"Tapi aku sudah menuduh-"
"Aku sama sekali tidak marah karena hal itu, Matsuri. Kemarahanmu padaku menunjukkan bahwa kau peduli dengan keadaan orang lain. Meski kau belum mengetahui kejadian yang sebenarnya." Sergah Gaara.
Matsuri menundukkan wajahnya yang sudah memerah karena malu dan bahagia. Bagaimana tidak? Ini seperti mimpi saja. Orang yang kau cintai dan kagumi menyatakan perasaanmu tanpa kau duga sebelumnya. Dan ternyata dia memiliki perasaan yang sama dengannya. Matsuri hanya mampu membisu.
"Aku…sebelumnya aku minta maaf karena ini memang terlalu mendadak. Tapi aku hanya tidak ingin kehilangan kesempatan untuk mengatakannya." Gaara mendesah, "maaf seharusnya aku tidak mengatakan ini padahal kau sudah memiliki kekasih."
Matsuri mendongak, menatap kaget Gaara. "Kekasih? Aku tidak memiliki kekasih Gaara-sama."
Raut wajah Gaara berubah cerah seketika. "Jadi Anbu yang menjengukmu kemarin di rumah sakit bukan kekasihmu?"
Matsuri terkejut bukan main saat Gaara mengetahui Rei menjenguknya di rumah sakit. Ia berusaha menyembunyikan keterkejutannya dengan mengangguk kaku. Matsuri berharap Gaara tidak melihat kejadian saat Rei menciumnya juga.
"Dia hanya rekan misi saja." Kata Matsuri sambil mengulum senyum, lalu ia memakai cincin pemberian Gaara di jari manisnya tanpa ragu, "karena…sebenarnya aku menyukai orang lain. Ah…tidak, aku mencintai orang lain." Lanjutnya menatap Gaara tersipu malu.
Gaara kehilangan kata-kata, ia hanya mampu tersenyum menatap kedua netra hitam Matsuri.
Perasaannya terbalaskan.
.
.
.
.
- oOo -
Warga Suna saat ini sedang bersuka cita. Sebuah acara megah tengah di gelar di sebuah gedung serba guna di dekat kantor Kazekage. Acara pernikahan pemimpin mereka tengah berlangsung hikmat. Sebelumnya mereka sempat bersedih karena pertunangan pemimpin Suna itu batal begitu saja tanpa ada yang tahu pasti apa penyebabnya, tetapi semua terbayarkan dengan pernikahan yang terbilang mengejutkan juga.
Seorang gadis yatim piatu, Jounin asuhan Kankuro, sekaligus pengawal pribadi Gaara sendiri adalah gadis beruntung itu. Pernikahan ini memang mengejutkan karena sebelumnya Gaara sama sekali belum terlihat dekat dengan wanita selain dengan mantan tunangannya – Hakuto. Meski terjadi pro dan kontra sebelumnya diantara para tetua karena status Matsuri, tapi semua bisa teratasi karena Gaara tetap bergeming bahwa dia tidak akan menikahi gadis lain selain Matsuri.
Beberapa kejadian sebelum terlaksananya pernikahan ini tak menjadikan berkurangnya hikmatnya jalannya pernikahan. Hari ini Temari menangis haru melihat penampilan adik bungsunya yang terlihat tampan dan gagah dengan balutan tuxedo berwarna gelap yang kontras dengan warna rambutnya yang merah menyala. Sedangkan pengantin wanitanya terlihat sangat cantik dan anggun dengan balutan furisode berwarna merah jambu dengan ukiran ranting pepohonan dan kanzashi yang tersemat di surai coklat gelapnya.
Para tamu yang hadir memberikan tepuk tangan meriah saat Gaara dan Matsuri telah resmi menjadi sepasang suami istri. Mereka secara bergantian mengucapkan selamat kepada sepasang pengantin baru itu, tak terkecuali Rei. Pemuda yang pernah menyatakan perasaan pada Matsuri.
"Selamat atas pernikahan Anda, Gaara-sama." Rei menunduk hormat pada Gaara.
Gaara mengangguk menepuk lembut pundak Rei. "Terima kasih telah memenuhi undanganku. Dan…terima kasih juga karena kau telah menyelamatkan istriku dulu." Gaara sengaja menekankan kata 'istri' dalam pengucapannya.
Rei memaksakan senyum di wajahnya. Sangat terlihat bahwa ia masih sangat terluka atas penolakan Matsuri waktu itu. Tapi ia akan belajar menghapuskan perasaannya pada gadis yang kini telah menjadi istri pemimpin negaranya itu.
"Semoga Anda bahagia, Matsuri-san." Ucap Rei tulus.
Entah mengapa Matsuri merasakan sedih juga dihatinya ketika melihat raut wajah terluka Rei. Pria yang telah menolongnya dan banyak berbuat baik padanya. Tapi hati kecilnya tak bisa dibohongi, ia hanya bisa mencintai Gaara. Pria yang kini telah sah menjadi suaminya.
"Terima kasih, Rei-san."
Matsuri menatap pantulan dirinya di cermin dan menghela napas dalam. Wajahnya terlihat lesu karena serentetan adat pernikahan harus dijalaninya seharian ini. Beberapa hari sebelum menikah ia juga menjalani beberapa ritual yang sudah turun temurun dilaksanakan keluarga kazekage. Benar-benar melelahkan. Tapi tetap saja tak mengurangi rasa syukur dan bahagianya.
Matsuri menghentikan aktivitasnya melepas hiasan rambut ketika mendengar suara pintu yang terbuka. Sontak membuat Matsuri berdiri dan memberi hormat pada pemimpin sekaligus suaminya.
"Eh….selamat datang, Gaara-sama."
Gaara mendengus pelan, ia berjalan perlahan mendekat pada istri tercintanya. "Apa kau akan memanggilku seperti itu meski kita telah menikah?"
Matsuri menundukkan pandangannya menutupi rona merah di wajahnya. "Maaf…Ga..Gaara-kun"
Bungsu Sabaku itu tersenyum lega. "Begitu lebih baik."
Ia berdiri tepat di depan Matsuri yang masih berusaha menghindari tatapan suaminya itu. Maklum…ini adalah malam pertama mereka sebagai sepasang suami istri. Matsuri masih belum terbiasa dengan keadaan ini.
"Biarkan aku membantumu melepas hiasan-hiasan ini, Matsuri." Kata Gaara mulai melepaskan satu per satu aksesoris yang menempel di rambutnya. Matsuri hanya mengangguk menurutinya.
Dengan jarak sedekat ini Matsuri bisa mencium aroma maskulin tubuh suaminya. Membuat darahnya berdesir hebat dan jantungnya berdetak tak beraturan. Ia tak pernah merasakan debaran seperti ini sebelumnya. Gaara memang telah mengambil alih hatinya.
"Matsuri" Gaara mengangkat dagu istrinya pelan hingga kedua jade dan onyx mereka bertemu.
Untuk sesaat mereka membiarkan hanya bunyi denting jam dinding yang terdengar. Matsuri menelan ludah susah payah saat Gaara mengikis jarak diantara keduanya. Ia hanya bisa memejamkan kedua matanya saat suaminya mendekatkan wajahnya.
Tapi tiba-tiba saja bayangan saat Rei menciumnya muncul dan membuat Matsuri memalingkan wajahnya dan memundurkan tubuhnya. Gaara terperangah melihat reaksi Matsuri seperti ini (lagi).
"Matsuri, ada apa?" tanya Gaara cemas.
"Ma..maafkan aku. Aku…ingin membersihkan diri dulu. A..aku hanya merasa lelah, jangan khawatir."
Belum sempat Gaara menanggapinya, Matsuri sudah berlari masuk ke dalam kamar mandi. Dalam hati ia merasa kecewa sekaligus khawatir, karena ia tahu Matsuri menghindarinya lagi. Ia tak mengerti mengapa istrinya itu melakukan ini? Apa Matsuri masih meragukan perasaannya?
Setelah membersihkan diri selamat hampir dua puluh menit, Matsuri memberanikan diri menampakkan diri. Ia menatap nanar suaminya yang telah tidur dengan lelapnya di ranjang mereka berdua.
Matsuri menggigit bibir bawahnya untuk menahan tangisnya tapi gagal. "Maafkan aku Gaara-kun…Sungguh aku tidak bermaksud menolakmu." Kata Matsuri lirih.
.
.
.
.
- oOo -
"Gaara"
Gaara menghentikan kegiatannya saat kakak keduanya memanggilnya. "Ada apa kak?"
Kankuro mendesah. "Bukankah seharusnya aku yang bertanya begitu?"
Gaara terdiam dan kembali melanjutkan pekerjaannya tanpa menjawab pertanyaan Kankuro. Hal ini membuat yakin jika adiknya sedang menyembunyikan masalah. Tapi ia tak tahu apa itu. Dan Kankuro memutuskan untuk ikut diam, ia memberikan waktu Gaara untuk menjelaskan padanya.
Hening.
Hening lama.
Kankuro menggeram."Cukup! Sebenarnya ada apa denganmu sih? Wajahmu seperti tidak dapat 'jatah' saja dari istrimu."
Gaara menatap tajam Kankuro, membuat Kankuro menelan ludah kasar. Lalu Gaara membuang pandangannya pada jendela ruang kerjanya. Ia bukan lagi seorang bocah polos yang tidak tahu makna dari kata 'jatah' yang dimaksud kakaknya. Tapi yang menjadi permasalahan bukan itu. Sudah satu minggu lebih ia dan Matsuri saling berdiam diri. Matsuri memang menyiapkan segala kebutuhannya tapi tidak dengan bicara. Dan cara pandangan istrinya yang ketakutan membuatnya tidak nyaman.
"Aku bahkan belum menyentuhnya sejak kami menikah." Kata Gaara lirih tapi masih terdengar di telinga Kankuro.
"APA?!" pekik Kankuro tanpa bisa ditahan. "Ta..tapi kenapa? Kalian tidak menikah karena terpaksa kan?"
Gaara menggeleng, menghela napas dalam. "Kami memiliki perasaan yang sama, tapi aku tidak tahu apa yang membuatnya ragu padaku."
Kankuro memijat pelipisnya, kepalanya terasa berdenyut nyeri. Sayangnya, Temari sedang dalam misi kalau tidak pasti kakak perempuanya itu bisa membantu Gaara.
"Aku tidak mengerti cinta apalagi wanita. Tapi satu hal yang aku mengerti, bahwa diam tidak akan menyelesaikan masalah." Kankuro menepuk pundak Gaara, "Bicaralah padanya di saat yang tepat, jangan terlalu menuntut dan dengan nada yang tinggi. Mungkin dengan begitu istrimu akan mengatakan sejujurnya apa masalahnya."
Gaara termenung mendengarkan ucapakan Kankuro. Mungkin tidak ada salahnya mencoba. Ia tidak bisa membiarkan situasi canggung ini terus berlarut-larut.
Malam hari pun tiba, ini saat Gaara dan Matsuri hanya berdua saja. Dan menurut bungsu Sabaku ini adalah saat yang tepat untuk membicarakan masalah ini.
Pemuda bersurai merah itu duduk bersandar di kepala ranjang sambil membaca buku. Ia menurunkan buku bacaannya ketika merasakan gerakan di ranjang mereka. Matsuri baru saja selesai mandi dan duduk di ranjang mereka bersiap untuk tidur.
"Matsuri" suara panggilan Gaara membuat Matsuri mengurungkan niatnya menarik selimut.
"Ya, Gaara-kun." Sahut Matsuri menatap takut Gaara.
"Apa kau membenciku?" tanya Gaara to the point.
Kedua iris kelam Matsuri membola. "Apa? Ti..tidak. tentu saja tidak Gaara-kun."
Jade Gaara masih setia menatap istrinya. "Lalu apa kau marah padaku?"
Matsuri lagi-lagi menggeleng.
Gaara mendesah, memegang kedua pundak Matsuri dengan lembut. "Aku tahu aku tidak begitu mengerti wanita, tapi…aku tahu kalau aku mencintaimu. Karena itu aku menikahimu."
Matsuri tak bisa menahan lagi bulir-bulir kristal dari matanya.
"Apa karena aku tidak pernah mengatakan ini, kau meragukanku?"
"Tidak" Sahut Matsuri cepat, matanya yang berkaca-kaca balas menatap Gaara. "Maafkan atas sikapku…aku…aku hanya merasa kalau aku telah menghianatimu Gaara-sama."
"Apa maksudmu?" tanya Gaara tetap berusaha tenang meski ia cukup terkejut dengan yang didengarnya.
"Aku…sebelum ini Anda pernah menduga jika aku memiliki hubungan dengan Anbu yang telah menyelamatkanku, dan itu tidak benar. Hanya saja…" napas Gaara tertahan, "dia pernah menyatakan perasaannya padaku dan…dan menciumku Gaara-kun." Matsuri kembali terisak, "Aku selalu merasa bersalah karenanya hmmpff…"
Gaara memotong kata-kata Matsuri dengan menyatukan bibir mereka, dan melumatnya lembut.
"Kau tidak bersalah dalam hal ini. Setiap orang memiliki masa lalu, dan aku menerimamu dengan masa lalumu" ucap Gaara setelah melepas tautan bibir mereka.
"Kalau kau bisa menerima yang dulu seorang monster dan pembunuh sepertiku. Kenapa tidak denganku?" Gaara mengelus pipi gembil Matsuri dengan ibu jarinya.
"Gaara-kun…" Matsuri menatap haru suaminya.
Gaara menyatukan kening keduanya. "Jangan pejamkan matamu, Matsuri. Aku ingin membantumu melupakan kenangan buruk itu."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
- oOo -
1 tahun kemudian
Matsuri membantu Sang suami mengenakan jubah kage-nya, menata penampilan suaminya yang akan pergi ke Kumogakure untuk 2 hari kedepan. Setelah selesai, ia mengajak Gaara untuk menuju meja makan menyantap sarapan pagi bersama kedua saudara Gaara yang lainnya.
"Gaara, kau harus sarapan yang banyak karena ini semua adalah masakan istrimu." Ucap Temari mengerling pada Matsuri.
Gaara menatap tajam istrinya, "Bukankah sudah kubilang jangan bekerja?"
"Aku hanya memasak, tidak bekerja." Kilahnya.
Gaara menghela napas lelah. Istrinya begitu keras kepala, "Aku tidak mau kau kelelahan."
"Aku baik-baik saja. Justru aku bosan jika tidak berbuat apa-apa sama sekali." Jawab Matsuri dengan senyum lebar.
"Kau tidak perlu khawatir, Gaara. Aku disini untuk mengawasi istrimu jika bekerja berlebihan." Timpal Temari.
"Aku akan batalkan kepergianku ke Kumo."
Kankuro tersedak sarapan paginya mendengar keputusan sepihak Gaara. "Hei..hei..Kau tidak bisa membatalkan seenaknya pertemuan penting ini Gaara."
"Istriku juga penting kak…" sahut Gaara menatap tajam kakaknya.
"Anata" Matsuri memegang lembut lengan Gaara sambil tersenyum, "Aku baik-baik saja. Di sini ada Kak Temari dan banyak pelayan yang akan membantuku jika aku butuh sesuatu. Pergilah…"
Untuk sesaat Temari dan Kankuro membiarkan Gaara dan istrinya saling bertatapan. Kedua Sabaku itu tahu sekarang hanya Matsuri sendiri yang bisa meluluhkan hati suaminya itu.
Gaara menghela napas. "Baiklah, jaga dirimu baik-baik." Matsuri mengangguk, lalu Gaara mengalihkan pandangannya pada perut Matsuri yang membuncit mengelusnya penuh kasih sayang, "jaga dia juga untukku."
Matsuri mengangguk. "Pasti."
Akhirnya Gaara tetap berangkat bersama rombongan meski setengah hati. Ini memang bukan pertama kalinya ia pergi ke Negara lain, tapi ini pertama kalinya ia pergi jauh sejak istrinya dinyatakan hamil. Selama ini Gaara selalu berusaha mengurangi intensitasnya di kantor dan meluangkan waktunya lebih banyak di rumah. Dan ia selalu mewakilkan tugas pergi ke desa lain pada Kankuro atau Temari. Tapi tidak dengan pertemuan kali ini, karena ini pertemuan aliansi.
Matsuri duduk di kursi balkon kamarnya sambil mengelus perutnya yang membuncit berisi buah cintanya bersama Gaara. Sejujurnya ia merasa sedih karena suaminya pergi meninggalkannya di saat hari kelahiran penerus Sabaku akan segera tiba, tapi ia tak ingin menjadi penghalang tugas suaminya. Ia sudah siap dengan resiko seperti ini. Suaminya bukanlah warga desa biasa, ia adalah pemimpin Sunagakure.
Matsuri mengerang saat merasakan sakit luar biasa di bagian bawah perutnya. Ia berusaha bangkit dari tempat duduknya dan berjalan sambil berpegangan pada dinding untuk mencari bantuan.
"Kak Temari…argh…sakiiit…Kak Temari.." panggil Matsuri lirih.
Temari yang melihat Matsuri merintih kesakitan bersandar pada dinding langsung panik dan memanggil pelayan rumah dan beberapa pengawal Gaara untuk membantu membawa Matsuri ke rumah sakit.
Ia tidak menduga bahwa perkiraan dokter minggu lalu yang menyatakan jika Matsuri akan melahirkan 2 minggu lagi salah. Perkiraan manusia memang tidak sepenuhnya benar. Kedua kaki Temari terasa kebas karena terlalu banyak mondar-mandir di depan ruangan persalinan. Teriakan Matsuri yang cukup kencang membuatnya merinding. Ia tak menyangka jika persalinan akan sesakit itu. Dalam hati ia hanya bisa berdoa semoga Matsuri dan calon keponakannya bisa lahir kedunia dengan selamat.
1 jam
2 jam
"Kami-sama?! Apa melahirkan selama ini!" keluh Temari panik. "Kenapa tangisannya belum terdengar ju-"
BRAK!
"Temari-sama!" Naomi – dokter yang menangani persalinan Temari keluar dari ruangan dalam keadaan panik luar biasa.
"Ada apa?! Bagaimana Matsuri dan keponakanku? Kenapa tangisannya belum terdengar?!" cerca Temari.
"Posisi bayinya melintang, Temari-sama. Saya sudah menyarankan pada Matsuri-sama untuk operasi tapi beliau bersikeras akan melahirkannya secara normal, bagaimana ini? Jika diteruskan bisa membahayakan keduanya." Jelas Naomi panjang lebar.
Temari memijat pelipisnya. "Seharusnya aku tidak biarkan Gaara pergi tadi." Gerutunya kesal.
"KAKAK!"
Temari nyaris tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Adik bungsunya yang seharusnya dalam perjalanan menuju Kumogakure sedang berlari kencang ke arahnya.
"Ga..Gaara?! Kenapa kau bisa ada di sini? Lalu bagaimana dengan Kankuro?" tanya Temari tak habis pikir.
"Apa yang terjadi pada istriku dokter?" Gaara tak menghiraukan pertanyaan Temari, yang ia simak hanya penjelasan dokter mengenai istrinya.
Setelah menjelaskan semuanya, akhirnya Naomi memutuskan untuk membiarkan Gaara menemui istrinya.
"Matsuri…"
"Ga..Gaarah-sammah…" ucap Matsuri terengah-engah. "Kenap-"
"Jangan pikirkan itu dulu. Konsentrasi saja pada kelahiran anak kita." Gaara menggenggam erat tangan Matsuri. "berjuanglah…aku di sisimu."
Matsuri tak bisa membendung air mata bahagianya lagi, lalu mengangguk lemah. Setelahnya ia kembali merasakan sakit kontraksi yang luar biasa.
"Matsuri-sama, mengejanlah yang kuat. Sangat kuat. Aku sudah melihat kepalanya." Seru Naomi yang berada diantara kedua kaki Matsuri.
Tak lama kemudian tangis bayi pertama Gaara dan Matsuri itu pun pecah. Nyaring memenuhi ruangan persalinan itu hingga terdengar juga oleh Temari yang berada di luar ruangan meneteskan air mata bahagia atas kelahiran keponakan pertamanya.
"Bayinya laki-laki dan sehat." Ucap Naomi sambil menggendong buah hari Gaara. Dengan perlahan ia menyerahkannya pada Sang ibu – Matsuri yang duduk bersandar di ranjang.
"Anakku…" ucapnya lirih menciumi putranya yang baru lahir ke dunia ini, kulitnya masih kemerah-merahan. Ia benar-benar copian dari Sang ayah kecuali warna rambutnya yang mengikuti sang ibu.
"Putraku…" Gaara tersenyum bahagia melihat anak pertamanya lahir dengan selamat dan sehat. Ia mencium dahi putranya membuat bayi yang tengah tertidur itu membuka matanya perlahan. Memperlihatkan jade yang sama seperti miliknya.
"Kau akan menamainya apa?" tanya Matsuri menatap Sang suami.
"Kouichiro. Sabaku Kouichiro." Jawab Gaara tanpa mengalihkan pandangannya pada Sang putra.
"Selamat datang Kou…" sapa Matsuri tertawa melihat Kou yang menguap lucu.
"Jadi keponakanku bernama Kouichiro?"
Temari masuk ke dalam ruangan sambil tersenyum bahagia mendekat pada pasangan suami istri itu. "Wah…ini sih benar-benar salinan Gaara. Selamat ya Matsuri kau sekarang sudah jadi ibu."
Matsuri tertawa kecil mendengarnya. "Terima kasih kak…"
"Jadi sekarang bisa jelaskan kenapa kau ada di sini? Lalu bagaimana dengan nasib kakakmu yang lain?" tanya Temari dengan tatapan mengintrogasi pada Gaara.
"Tenang saja. Pertemuannya akan tetap berjalan semestinya." Jawab Gaara tenang masih sibuk memainkan jari-jari kecil putranya.
Dahi Temari mengerut, beberapa saat kemudian akhirnya ia mengerti maksud Gaara.
"Kau benar-benar nekat meninggalkan bunshin-mu untuk pertemuan aliansi." Sindir Temari.
"Benarkah itu, Anata?" tanya Matsuri menatap suaminya penasaran. Tapi Gaara tidak menjawabnya malah…
"Matsuri" Gaara mengalihkan pandangan dari putranya pada istrinya. Lalu mengecup dahinya yang masih lembab sekilas. "Terima kasih untuk segalanya…"
Matsuri tersenyum haru, mengangguk. Sedangkan Temari yang melihat tingkah pasangan itu bersyukur dalam hati bawasannya adik bungsunya sudah berhasil menjadi pemimpin, suami sekaligus ayah yang baik.
.
.
.
.
.
.
Tamat
A/N:
Hahaha saya selalu merasa gagal bikin ending yang mengharukan ;'( hiks :D
Pertama-tama, maaf buat yang sudah menunggu lama cerita GAJE saya ini hehehe… akhirnya saya mutusin buat come back lanjutin cerita yang udah saya up di FF. salah satunya ini. Alhamdulilah selesai satu Fic :D
Mohon maaf jika jalan ceritanya kurang sesuai dengan ekspektasi para pembaca sekalian. Tapi inilah kapasitas author. Dan sekali lagi makasih banyak udah baca, review, fav, follow fic ini.
See you….
